cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
PENCEMARAN PESTISIDA PADA PERAIRAN PERIKANAN DI SUKABUMI- JAWA BARAT Imam Taufik
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.802 KB) | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.69-75

Abstract

Penggunaan pestisida merupakan salah satu sumber pencemar yang potensial bagi sumberdaya dan lingkungan perairan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran pestisida pada lahan perikanan budidaya di Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian diawali dengan penentuan lokasi, dilanjutkan dengan pengambilan contoh (air, sedimen, biota air), preparasi, identifikasi, dan analisis data, serta pelaporan. Analisis contoh menggunakan alat Gas Chromatograph (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lahan perikanan air tawar di daerah Sukabumi terdapat residu pestisida dari golongan organoklorin, organofosfat, piretroid, dan karbamat dengan konsentrasi di bawah Batas Maksimal Residu (BMR). Jenis dan konsentrasi residu pestisida tersebut yang terbesar terdapat pada ikan, kemudian di dalam tanah dan yang terakhir adalah dalam air. 
KAJIAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KAWASAN MINAPOLITAN KABUPATEN SUMBAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT Erlania Erlania; I Nyoman Radiarta
Media Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.87 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.1.2014.65-71

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat pada Full PDF Kabupaten Sumbawa Barat telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan untuk pengembangan komoditas rumput laut. pelaksanaan program minapolitan membutuhkan dukungan data dan informasi yang terbaru mengenai profi, potensi, dan kondisi daya dukung lingkungan.
PEMILIHAN DAN PEMBANGUNAN TAMBAK UDANG BERWAWASAN LINGKUNGAN Purnamawati Purnamawati; Eko Dewantoro
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1663.061 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.107-112

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang paling produktif untuk digunakan sebagai tambak udang. Untuk memanfaatkan potensi tersebut harus berpegang pada azas ramah lingkungan agar terjaga kelestarian ekosistemnya. Setelah memperhatikan tipe kawasan pantai, pemilihan lokasi untuk pem-bangunan tambak perlu mempertimbangkan sumber air, amplitudo pasang surut dan ketinggian elevasi, topografi, kualitas tanah, vegetasi, jalur hijau dan kawasan penyangga, kondisi iklim, ketersediaan sarana penunjang, ketersediaan sarana produksi dan kemudahan pemasaran, tataguna lahan, dan kebijakan pemerintah. Prototipe tambak berwawasan lingkungan yang dapat diterapkan meliputi tiga tipe, yaitu disain konstruksi tambak pola empang parit tradisional, disain konstruksi tambak pola empang parit yang disempurnakan, dan disain konstruksi tambak pola komplangan. Ketiga prototipe di atas dapat digunakan pada sistem budi daya mina wana.
KEGUNAAN EKSTRAK DAUN MENIRAN (Phylanthus niruri) BAGI PENGENDALIAN PENYAKIT IKAN AKIBAT INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Hambali Supriyadi; Dein Iftitah
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.625 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.54-58

Abstract

Penyakit ikan merupakan salah satu masalah serius yang selalu dihadapi oleh para pembudi daya ikan. Penyakit akibat infeksi bakteri terutama yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila telah menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Penanggulangan penyakit infeksi bakteri dengan menggunakan antibiotika telah banyak dilakukan. Namun cara seperti ini apabila dilakukan dengan tidak hati-hati akan menimbulkan banyak masalah, di antaranya adalah terbentuknya bakteri yang resisten dan residunya dalam daging ikan. Cara lain yang dipertimbangkan lebih aman adalah dengan cara pencegahan yaitu dengan penggunaan vaksin dan bahan lain yang dapat menimbulkan kekebalan tubuh. Tanaman meniran (Phyllanthus niruri L.) telah banyak digunakan sebagai obat baik pada manusia maupun pada binatang ternak. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang efektivitas ekstrak tanaman meniran terhadap bakteri Aeromonas hydrophila baik secara in-vitro maupun secara in-vivo yang diaplikasikan bagi pengobatan terhadap ikan yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.
BUDIDAYA PEMBESARAN KEPITING BAKAU Scylla tranquebarica (Fabricius, 1798) HASIL PEMBENIHAN PADA LOKASI TAMBAK YANG BERBEDA Muhammad Nur Syafaat; Gunarto Gunarto
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.786 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.21-30

Abstract

Kegiatan pembesaran kepiting bakau hasil pembenihan di tambak masih terbatas dan pada umumnya masih merupakan kegiatan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan, sintasan, produksi, dan membuat analisis usaha pembesaran krablet kepiting bakau hasil pembenihan pada beberapa lokasi tambak tradisional. Penelitian dilakukan di tiga lokasi tambak yaitu Maros, Pangkep, dan Polewali Mandar (Polman). Tambak yang digunakan pada setiap lokasi merupakan tambak tradisional berkonstruksi tanah dengan sistem penggantian air berdasarkan pasang surut. Krablet kepiting bakau dengan kisaran bobot 0,05-0,1 g/ekor ditebar dengan kepadatan 0,24 ekor/m2 dan 0,27 ekor/m2 untuk Kabupaten Pangkep dan Polman secara berurutan sedangkan pada Kabupaten Maros dengan kepadatan 0,53 ekor/m2. Jenis pakan yang diberikan yaitu ikan rucah atau ikan liar yang ada di sekitar lokasi tambak dengan dosis 5%-10% dari biomassa dan diberikan dua atau tiga hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kepiting bakau di tiga lokasi pada bulan ketiga diperoleh bobot akhir rata-rata dengan kisaran 131,05-199,50 g/ekor (163,17 ± 34,42); sintasan 22%-36,94% (30,41 ± 7,65); dan produksi 79,25-272,12 kg/ha (176,07 ± 96,43). Keuntungan tertinggi diperoleh pada lokasi Maros yaitu Rp5.454.750,00/ha/siklus dan terendah di lokasi Polman yaitu Rp317.150,00/ha/siklus. Nilai R/C rasio untuk semua lokasi menunjukkan lebih besar dari satu yang berarti bahwa usaha pembesaran kepiting bakau di tambak menggunakan krablet asal hatchery merupakan usaha yang layak. Ketersediaan pakan yang cukup, keberadaan shelter, pergantian air secara rutin dan kondisi kualitas air yang optimal merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produksi pada ketiga lokasi di samping meningkatkan kepadatan sampai 1 ekor/m2.The grow-out cultures of hatchery-produced mudcrab seed in pond are rare and mostly part of research activities. The purpose of this study was to determine the performance of growth, survival rate, production, and develop a business analysis of mudcrab (S. tranquebarica) grow-out culture in different pond locations using hatchery-reared seed. The study was conducted in three pond areas in Maros, Pangkep, and Polewali Mandar (Polman). The ponds used in each location were traditional soil ponds with sufficient tidal system for water exchange. Crablets with a weight range of 0.05-0.1 g were reared in the ponds located in Pangkep, Polman and Maros with stocking densities of 0.24, 0.27 and 0.53 ind./m2, respectively. The feed used was trash fish or locally caught wild fish and given 5%-10% of the total crab biomass once every two or three days. The results showed that the average final weight of mudcrab in the three locations during three months rearing period was 131.05-199.50 g/ind. (163.17 ± 34.42) with survival rates of 22%-36.94% (30.41 ± 7.65), and crab production of 79.25-272.12 kg/ha (176.07 ± 96.43). The highest profit was obtained by grow-out culture in Maros location (IDR 5,454,750/ha/cycle) followed by Pangkep location (IDR 4,624,400/ha/cycle) and the lowest at Polman location (IDR 317,150/ha/cycle). The R/C ratio for all locations was greater than one which means that mudcrab culture in pond using seed from hatchery is economically feasibility.
KELENTURAN FENOTIPIK (Phenotypic plasticity) UDANG GALAH TERHADAP SALINITAS: STRATEGI BARU PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDI DAYA Wartono Hadie; Nurbakti Listyanto
Media Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.652 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.2.2006.49-54

Abstract

DOWNLOAD DI FILE PDF
SEKILAS TENTANG BEBERAPA JENIS IKAN HIAS AIR TAWAR YANG DILARANG MASUK KE INDONESIA Bambang Priono; Darti Satyani
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2552.025 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.102-108

Abstract

Sebagai negara yang kaya akan keragaman hayati khususnya biota perikanan air tawar, memberikan peluang usaha yang sangat baik, di antaranya usaha budidaya ikan hias. Jenis-jenis ikan hias air tawar yang diusahakan jumlahnya sangat banyak dan beragam, baik yang berasal asli Indonesia maupun introduksi dari negara lain. Perolehan nilai ekonomi dari usaha ikan hias cukup besar sehingga mengakibatkan terjadinya perdagangan ikan hias yang kadang tidak memperhatikan aspek kelestariannya di masa mendatang. Akhir-akhir ini banyak muncul berbagai jenis ikan hias air tawar impor yang secara ilmiah ikan-ikan tersebut dapat merugikan kesinambungan usaha ikan hias. Para pengusaha seolah melupakan bahwa pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai jenis-jenis ikan yang dilarang masuk ke Indonesia. Untuk itu, tulisan ini sengaja dilakukan agar para pelaku menyadari betapa berbahayanya membudidayakan ikan-ikan hias impor yang termasuk kategori dilarang.
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN UCENG (Nemacheilus fasciatus) DALAM PEMELIHARAAN DI AKUARIUM Vitas Atmadi Prakoso; Jojo Subagja; Anang Hari Kristanto
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.471 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.2.2017.67-74

Abstract

Ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) merupakan salah satu spesies ikan air tawar di Indonesia dengan nilai ekonomi cukup tinggi yang ketersediaannya masih mengandalkan penangkapan di alam, sehingga diperlukan upaya domestikasi untuk menjaga kelestariannya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengamati biologi reproduksi dan pola pertumbuhan ikan uceng di lingkungan buatan (akuarium). Ikan uceng hasil tangkapan alam dari Sungai Progo, Temanggung, Jawa Tengah (panjang total 5,55 ± 0,53 cm; bobot 2,49 ± 0,24 g) diadaptasikan selama 12 bulan di akuarium (40 cm × 30 cm × 30 cm) dengan sistem air mengalir yang dilengkapi dengan aerator. Ikan uceng diberi Tubifex, hingga sampai akhirnya dapat beradaptasi dengan pakan komersial. Pakan komersial yang diberikan yaitu sebesar 3% per hari dari biomassa tubuh dengan frekuensi dua kali sehari. Data biologi reproduksi diperoleh melalui koleksi data panjang total, bobot badan, bobot gonad, fekunditas, diameter telur, dan indeks kematangan gonad. Data pola pertumbuhan diperoleh dengan koleksi data panjang, bobot, dan sintasannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk betina yang gonadnya berkembang mempunyai warna bintik hitam yang jelas, sebaliknya induk jantan warna bintik hitam memudar. Indeks kematangan gonad (IKG) yang diamati pada ikan uceng setelah 12 bulan pemeliharaan yaitu berkisar antara 0,007-0,027 pada jantan dan 0,13-0,25 pada betina. Kisaran diameter telur yang diamati yaitu berkisar antara 0,61-0,68 mm, dengan fekunditas 680-4.198 butir. Sedangkan pola pertumbuhannya menunjukkan bahwa ikan uceng betina dan jantan memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif (b= 2,739 pada betina; b= 2,895 pada jantan). Nilai faktor kondisi Fulton (K) pada ikan uceng yang diamati yaitu 0,44-1,07 (rata-rata ± SD: 0,70 ± 0,11) pada betina dan 0,37-0,72 (rata-rata ± SD: 0,60 ± 0,06) pada jantan. Dari pengamatan ini ditemukan bahwa proses perkembangan kematangan gonad ikan uceng di akuarium lebih lambat dibandingkan ikan uceng di habitat aslinya.Barred loach (Nemacheilus fasciatus) is one of native fish species in Indonesia with high economic value, where their availability still depends on wild capture. Thus, domestication is needed to maintain its sustainability. The purpose of this study was to observe the reproductive biology and growth pattern of barred loach reared in aquarium (artificial environment). Fish were collected from Progo River, Temanggung, Central Java (total length of: 5.55 ± 0.53 cm; body weight: of 2.49 ± 0.24 g). The fish were reared for 12 months in aquarium (40 cm × 30 cm × 30 cm) with flowthrough system and equipped with aeration. The fish were fed with Tubifex until they accepted commercial feed. Then, the fish were fed twice a day at a ratio of 3% from the total fish biomass. The reproductive biology data were collected by measuring their total length, body weight, gonad weight, fecundity, egg diameter, and gonadosomatic index. Growth pattern were measured from length, weight, and survival. The results showed that matured female had shown black spot and male had inconsistent formation of black spots on their body. The gonadosomatic indexes ranged between 0.007-0.027 for male and ranged between 0,13-0,25 for female. The egg diameters ranged between 0.61-0.68 mm, with the fecundity of 680-4198 eggs. The result of observation on growth pattern showed that female and male had negative allometric growth (b= 2.739 for female, b= 2.895 for male). The value of Fulton condition factor (K) in the observed fish was 0.44-1.07 (mean ± SD: 0.70 ± 0.11) on female and 0.37-0.72 (mean ± SD: 0.60 ± 0.06) on male. From this study, it was found that gonad maturity development of barred loach reared in aquarium was slower than those in their natural habitat.
IKAN HIAS LAUT: TANTANGAN BUDIDAYA DAN PELUANG BISNIS Anjang Bangun Prasetio; Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.266 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.84-87

Abstract

Indonesia mempunyai potensi ikan hias laut cukup besar, selain ikan yang unik, baik warna, bentuk, dan tingkah laku, serta sifat-sifat lain yang dimilikinya, juga potensi jenis yang cukup banyak di alam. Hal ini cukup menarik untuk peluang bisnis, karena tidak hanya bagi para pencinta ikan hias (hobiis) akan tetapi para pemula juga mulai menggemari ikan hias. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus terkait ikan hias laut ini sehingga upaya untuk memproduksi benih dan induk dari hasil budidaya sudah harus digalakkan, mengingat banyak jenis-jenis budidaya ikan hias laut yang potensial untuk dikembangkan berdasarkan permintaan pasar baik domestik maupun internasional. Beberapa dukungan kebijakan yang dapat dilakukan terkait status budidaya ikan hias laut, antara lain pengembangan ke arah budidaya, industrialisasi budidaya, serta penataan sistem perdagangan.
Beberapa Teknik Penentuan Variasi Genetik pada Ikan untuk Proses Pemuliaan Mulyasari Mulyasari
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2266.722 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.177-182

Abstract

Penurunan keragaman genetik ikan dari hasil perbenihan dapat mengakibatkan lambatnya laju pertumbuhan dan rendahnya ketahanan ikan terhadap serangan penyakit serta perubahan lingkungan. Metode untuk mengetahui keragaman genetik pada ikan adalah melalui penentuan  karakter morfologi dan karakter genotip. Penentuan berdasar karakter genotip dapat dilakukan dengan beberapa teknik antara lain: teknik alozim/isozim, DNA mitokondria, Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD), dan DNA mikrosatelit. Penentuan karakter morfologi tekniknya mudah dikerjakan, biaya murah, dan hasilnya lebih cepat diketahui. Keterbatasan teknik ini yaitu akurasinya lemah dan pada beberapa kasus tidak dapat dilakukan. Penentuan karakter genotip memiliki kelebihan yaitu akurasi dan sensitivitas yang lebih tinggi, mampu membedakan antara individu yang homozigot dan heterozigot dalam satu generasi tanpa melakukan tes progeni dan hasilnya tidak dipengaruhi lingkungan seperti fluktuasi musim dan asal geografis. Namun demikian metode ini memerlukan biaya dan peralatan yang lebih mahal.