cover
Contact Name
Febri Desman M.Hum
Contact Email
febri.desman54@gmail.com
Phone
+628116624777
Journal Mail Official
red.jurnallagalaga@gmail.com
Editorial Address
red.jurnallagalaga@gmail.com
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 24609900     EISSN : 25979000     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/lg
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Sinopsis : terbit dalam dua kali setahun. Jurnal Laga-Laga merupakan Jurnal Ilmiah Berkala tentang Seni Pertunjukan pengelolaan Jurnal Laga-Laga berada di dalam lingkup Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni padangpanjang
Articles 158 Documents
PERTUNJUKAN TARI FALUAYA DI BAWÖMATALUO KECAMATAN FANAYAMA KABUPATEN NIAS SELATAN PROVINSI SUMATERA UTARA : DALAM KAJIAN ESTETIKA Serlin Damaiyanti Haria; Surherni Surherni; Erlinda Erlinda
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3115

Abstract

Penelitian ini ini bertujuan untuk  mengkaji tari Faluaya di Bawömataluo dalam kajian estetika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis yaitu memaparkan dan mendeskripsikan seluruh data yang didapat di lapangan kemudian dianalisis sesuai dengan permasalahan. Untuk membahas dengan permasalahan estetika digunakan pendekatan yang diketengahkan oleh Deni Junaedi dan analisis nilai estetik akan menggunakan teori yang dikemukakan oleh The Liang Gie didukung dengan konsep ciri-ciri sifat benda estetik oleh Manroe Beardsley. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka dan studi lapangan (observasi, wawancara dan dokumentasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Faluaya memiliki nilai estetik karena dari sudut pandang yang mampu diserat oleh inderawi yang memiliki nilai bentuk dan di dalamnya menghadirkan nilai-nilai kehidupan pada masyarakat Bawömataluo. This study aims to examine the Faluaya fare in Bawömataluo in an aesthetic study. The method used in this study is a qualitative research method with descriptive analysis, which describes and describes all the data obtained in the field and then analyzed according to the problem. To discuss the usability problems of the approach  proposed by Deni Junaedi and the analysis of the aesthetic value of the theory proposed by The Liang Gie, it is supported by the concepts of aesthetic object properties by Manroe Beardsley. The data collection technique used is literature study and field study (observation, interview and documentation). The resultof the study show that the Faluaya Dance has aestetic value because from the point of view that it is able to be absorbed by the senses which has a from value and in it presents the values of life in the Bawömataluo community.
KOMPOSISI TARI DI BAWAH 35°C KLASIFIKASI GEJALA HIPOTERMIA DALAM PENGGARAPAN TARI TUNGGAL KONTEMPORER Dini Indah Putri; Riswani Riswani; Syahril Syahril
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3108

Abstract

Karya tari ini berjudul Di Bawah 35°C terinspirasi dari sebuah fenomena yang dialami oleh penanjak gunung yaitu hipotermia. Hipotermia adalah keadaan suhu tubuh yang turun di bawah 35°C yang menyebabkan fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya mengalami gangguan. Gejala yang terjadi pada penderita hipotermia yang menjadi ketertarikan dan fokus pada karya ini. Untuk menggarap konsep menjadi sebuah karya tari maka pengkarya meggunakan salah satu metode untuk penggarapan karya yaitu pengumpulan data atau observasi, pengolahan data, studi pustaka, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, pembentukan dan evaluasi melalui konsep pendekatan inovasi dan interpretasi. Karya Di Bawah 35°C terdapat tiga bagian. yaitu bagian pertama hipotermia dengan klasifikasi ringan dengan gerak bergetar dengan postur mengecil atau menringkuk menggunakan musik iringan suara angin dan piano, bagian dua hipotermia dengan klasifikasi sedang, tubuh kaku, postur tubuh tegang dengan tenaga yang kuat menggunakan musik pengiring suara hujan, petir dan cello, pada bagian tiga yaitu hipotermia dengan klasifikasi berat, kesulitan bernafas, menggunakan gerak-gerak kontrek menggunakan musik iringan suara elektrocardiogram, alunan suara wanita, dan suara angin. Karya ini di pertunjukkan di pentas arena gedung Boestanul Arifin Adam dan menggunakan rias cantik panggung melalui rias korektif dengan kostum jaket bulu berwarna ungu, baju kaos turtleneck berwarna ungu, celana cargo panjang berwarna hitam, sarung tangan berwarna hitam, kaos kaki berwarna hitam mengkilap dan ungu. Kata kunci : Gejala, hipotermia, klasifikasi.
PENGENDALIAN EMOSIONAL TERHADAP TEKANAN KARYA TARI KENDALI Yogi Afria M. Yusuf
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3120

Abstract

Karya tari kendali sebuah tawaran bagaimana mengatur emosional terhadap tekanan sosial yang menekan terus menerus mengganggu emosional untuk mengikuti atau melawan pendapat seseorang. Kendali berasal dari kata kekang yang berarti tali (kulit dan sebagainya) untuk mengendalikan kuda, yang diinterpretasikan suatu emosional mengendalikan sebuah tekanan.Karya tari tersebut menggali ide gagasan empiris sendiri dan muncul suatu kesadaran dalam melakukannya sebagai keputusan pendapat yang mengganggu emosional menjadikan sebuah pijakan untuk menciptakan karya tari saat ini dengan meeksplorasi ketubuhan. Oleh karna itu mewujudkan karya tari Kendali tersebut digarap dalam warna baru dengan metode penciptaan konseptual. Melalui karya tari ini penonton mendapat perenungan diri terhadap tawaran untuk melakukan dalam kehidupan.Kata kunci : Kendali; Empiris; Ketubuhan.
MAKNA TARI PIRING GELAS PADA MASYARAKAT KABUPATEN MUSI RAWAS PROVINSI SUMATERA SELATAN Ica Elisa Ramadayanti; Irdawati Irdawati; A A.I.A Citrawati
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3109

Abstract

 Penulisan ini bertujuan untuk membahas makna tari Piring Gelas pada masyarakat Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Dalam hal ini, metode kualitatif bersifat deskriptif analisis digunakan untuk memaparkan dan mendeskripsikan data yang dilihat di lapangan secara nyata dan apa adanya yang kemudian dianalisis. Teori yang digunakan tentang bentuk oleh Soedarsono dan teori tanda, penanda dan petanda oleh Ferdinand De Saussure. Penulisan tari Piring Gelas membahas tentang makna yang berkaitan dengan tanda, penanda dan petanda. Tanda, penanda dan petanda pada tari Piring Gelas terdapat pada penari, gerak salam, gerak selyang, gerakmengangkat piring, gerak naik piring, gerak berputar, gerak transisi, kostum, dan media pendukung. Tanda, penanda dan petanda itu mempunyai makna dan pesan bahwa seorang wanita Kabupaten Musi Rawas harus memiliki sikap keberanian, ketenangan, dan keteguhan  dalam menjalani kehidupan.Kata Kunci :Tari Piring Gelas; makna; masyarakat  ABSTRACTThis writing aims to discuss the meaning of the Piring Gelas dance in the people of Musi Rawas Regency, South Sumatera Province. In this case, the descriptive qualitative method of analysis is used to describe and describe the data seen in the field in real terms and what is then analyzed. The theory used about form by Soedarsono and the theory of sign, signifier and signified by Ferdinand De Saussure. The writing of the Piring Gelas dance discusses the meaning associated with signs, markers and signifieds. Signs, markers and markers in the Piring Gelas dance are found in dancers, greetings, selyang motion, plate lifting motion, plate-up motion, rotating motion, transitional motion, costumes, and supporting media. The signs, markers and signs have meaning and message that a woman in Musi Rawas Regency must have an attitude of courage, calm, and determination in living life.Keywords: Piring Gelas Dance; meaning; society 
MEMBANGUN HARMONISASI EDUKASI MELALUI PEMBELAJARAN TARI JAWA, BALI DAN SUNDA Suci Hasmita; Hardi Hardi; Ernida Kadir
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3121

Abstract

Tulisan ini membahas tantangan dan upaya membangun harmonisasi melalui edukasi dan apresiasi tari Jawa, Bali dan Sunda di Program Studi Seni Tari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Penulis menggunakan metode penelitian kulitatif deskriptif analisis. Dilandasi dengan teori kreativitas dan strategi pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik yaitu mampu membuat suatu strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif di dalamnya agar target yang ingin di capai dapat maksimal. Berkaitan hal tersebut hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka dari itu evaluasi dan kontroling sangat dibutuhkan antara dosen dengan mahasiswa. Keberhasilan proses pembelajaran tari Jawa, Bali dan Sunda yaitu dengan metode yag sesuai dengan mahasiswa yang mayoritas budaya Melayu. Tujuan penelitian ini gunanya untuk mengetahui kendala dalam proses pembelajaran tari Jawa, Bali dan Sunda yang dibuktikan dari hasil belajar mahasiswa. Kata kunci: strategi pembelajaran; harmonisasi; inovatif
PEMERANAN TOKOH TUAN DURAN DALAM NASKAH KEMATIAN YANG DIRENCANAKAN KARYA AUGUST STRINBERG TERJEMAHAN JOKO KURNAIN Ikhsan Satria Irianto; Hendri Jihadul Barkah; Yuniarni Yuniarni
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3110

Abstract

ABSTRAKPemeranan Tokoh Tuan Duran dalam Naskah Kematian yang Direncanakan karya August Strinberg terjemahan Joko Kurnain merupakan kerja kreatif pemeranan yang pemeran jalani untuk mewujudkan karakter tokoh Tuan Duran dari realitas naskah menjadi realitas teater. Proses perwujudan tokoh Tuan Duran tersebut bertitik tolak pada analisis penokohan. Tahapan kerja dari analisis penokohan tersebut dimulai pada analisis tokoh, kemudian relasi antar tokoh dan yang terakhir relasi tokoh dengan struktur naskah. Hasil dari analisa tokoh dan naskah, menjadi pijakan pemeran dalam proses perwujudan tokoh. Proses perwujudan tokoh tersebut berpedoman pada metode akting Stanislavsky.Kata Kunci:Pemeranan; Kematian yang Direncanakan; Tuan Duran; Stanislavsky.  ABSTRACTThe role of Tuan Duran in the Planned Death Manuscript by August Strinberg, translated by Joko Kurnain, is a creative work of acting that the actors undertake to realize the character of Tuan Duran from the reality of the script into a theatrical reality. The process of realizing the character of Tuan Duran is based on the analysis of characterizations. The work stages of the characterization analysis begin with character analysis, then the relationship between characters and finally the character's relationship with the structure of the script. The results of the analysis of the characters and the script, become the basis for the actors in the process of realizing the characters. The process of embodiment of the character is guided by Stanislavsky's acting method.Keywords:Actor; Premeditated Death; Mr Duran; Stanislavsky. 
MAKNA PROSESI MARARAK ANAK PANCE DALAM UPACARA PERKAWINAN DI KECAMATAN KUANTAN HILIR, RIAU Septi Angriana Gusma
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3122

Abstract

Penelitian ini membahas tentang makna prosesi mararak anak pance dalam upacara perkawinan di Kecamatan Kuantan Hilir  Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui makna prosesi mararak anak pance dalam upacara perkawinan.Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi.Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Ritus Arnold Van Geneep dan Teori Interpretatif Simbolik dalam pemikiran Clifford Greetz. Adapun temuan dalam penelitian ini adalah ketika seorang anak dari kerabat laki-laki menikah disebut dengan anak pance akan di arak oleh bako dan dilaksanakan  dengan cara berjalan kaki di pinggir jalan raya dengan barisan berbanjar kebelakang posisi paling depan ditempati pengantin diiringi pihak bako dengan membawa rantang dan manjujuong sisampek. Prosesi mararak  anak pance diawali dengan penentuan hari pelaksaan mararak anak pance oleh bako, kemudian persiapan sebelum mararak anak pance dan hari pelaksanaan mararak anak pance. Dalam prosesi mararak anak pance semua biaya ditanggung oleh pihak bako. Serta semua yang akan dipersiapkan pihak bako yang melakukannya. Adapun makna dilaksanakanya mararak anak pance yaitu sebagai pemberitahuaan kepada masyarakat, mempererat persaudaraan, mengakrabkan hubungan antara pasangan anak pance dengan bako, mengakrabkan hubungan antar  orang pesukuan, sebagai kebanggaan  bako, meningkatkan rasa kebersamaan keluarga bako, menunjukkan status sosial dan ekonomi bako.Kata kunci: Mararak anak pance; perkawinan; makna
Tradisi Arak-Arakan Si Muntu dan Strategi Pengembangannya dalam Perspektif Kepariwisataan di Sumatera Barat Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda; Dede Pramayoza; Fresti Yuliza
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 9, No 1 (2023): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v9i1.424

Abstract

Penelitian ini mengambil objek tradisi arak-arakan Si Muntu yang terdapat di Sumatera Barat. Tradisi Arak-arakan Si Muntu umumnya merupakan sebagai sarana kolektif masyarakat yang merupakan bagian dari alek Nagari atau upacara adat.Tradisi Arak-arakan Si Muntu memiliki potensi yang begitu besar dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan menemukan dan memetakan potensi tradisi arak-arakan Si Muntu dalam perspektif kepariwisataan berkelanjutan. Menggunakan analisis secara deskriptif dari data-data kepustakaan yang didapatkan, maka dapat digambarkan potensi pemetaan tersebut yang memiliki relasi terhadap ekosistem industri kreatif. Antaralain, tradisi arak-arakan Si Muntu memiliki potensi sebagai pengembangan pariwisata, penghasil sumber ekonomi, dan memiliki peluang dalam pengembangan industry kreatif.
Interpretasi Ritual Kabaji Dalam Penciptaan Karya Tari Babaleh Tikam Rahmah Nadiati Nami; Wardi Metro; Riswani Riswani
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 9, No 1 (2023): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v9i1.1086

Abstract

 Karya yang berjudul “Babaleh Tikam” ini terinspirasi dari salah satu praktek gaib dan ilmu hitam yang ada di daerah MinangKabau khususnya di Kabupaten Pasaman Barat. Kabaji adalah guna-guna untuk membuat hubungan suami istri, usaha, atau persahabatan hancur dan rusak sehingga saling membenci, biasanya dengan menggunakan ramuan dan mantra. Biasanya  faktor penyebab kabaji adalah dendam, iri, dengki. Ramuan yang biasa digunakan seperti kain putih (kafan), benang tiga warna (merah, kuning,hitam), tanah orang mati kecelakaan, air mayat, jarum, rambut mayat. Dalam kehidupan ini ada hukum yang berlaku seperti pribahasa “apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai” yang artinya apa yang kita perbuat itu yang akan kita dapatkan. Jika kita ­berbuat baik, maka akan mendapatkan kebaikan, begitu juga sebaliknya,  jika kita  berbuat jahat maka akan mendapatkan kejahatan pula, secara umum yang kita kenal sebagai Karma. Pengkarya tertarik dari pengertian kabaji yang diinterpretasikan kepada pelaku atau pengirim yang mendapatkan balasan atas apa yang telah di perbuat (karma). Pada karya ini menggunakan tema non literer dan tipe abstrak. Metode yang digunakan pada karya ini adalah observasi, ekplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya ini terdiri tiga bagian, bagian pertama menggambarkan pelaku yang mulai  menunjukan sikap iri, dengki, dan dendam dan memilih praktek ilmu hitam sebagai tindakannya, bagian dua menggambarkan bagaimana orang yang dikendalikan oleh kabaji, bagian tiga menggambarkan bagaimana perbuatan yang telah dilakukan akan berbalik kepada dirinya sendiri.Kata Kunci: Kabaji; Babaleh Tikam; Ritual; Karya Tari 
Aplikasi Teknik Pizzicato Dalam Repertoar Spain Dan Donna Lee “Performance Of Bass” Mhd. Zulfikri Wanas; Sastra Munafri; Zainal Warhat
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 9, No 1 (2023): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v9i1.790

Abstract

Pizzicato is a technique of playing a stringed instrument by plucking, which is playing the tone by plucking the strings using your fingers. This technique is generally played with the right hand, but can also be played with the left hand depending on the user. This technique is played in the presentation of Spanish and Donna Lee songs. Spain is an instrumental song by Jazz genre by Chik Corea. This work was made in 1971 in Spain. The title of this work is in accordance with the place of manufacture, namely Spain and in Indonesian is called Spanish. Donna Lee is a bebop Jazz instrumental song popularized by Charlie Parker. This composition was born in New York City, USA. In the beginning, this song was recorded by Charli Parker Quintet on May 8, 1947. Performance of Bass was the title of the performance. This show presents several repertoires, namely: Spain, Donna Lee, and several complementary repertoires of the show. The purpose of this show is to present a different musical performance to the audience with the aim of presenting something new through different repertoires. The methods used in this performance include the preparation stages, the training process, and the techniques used.Keywords: Pizzicato; Spain; Donna Lee; Performance of BassPizzicato adalah teknik memainkan alat musik dawai dengan cara di petik, yaitu memainkan nada dengan cara memetik senar dengan menggunakan jari.  Teknik ini umumnya dimainkan dengan tangan kanan, akan tetapi dapat juga dimainkan tangan kiri tergantung penggunanya. Teknik ini dimainkan dalam penyajian lagu Spain dan Donna Lee. Spain adalah lagu instrumental bergenre Jazz karya Chik Corea. Karya ini dibuat pada tahun 1971 di Spanyol. Judul dari karya ini sesuai dengan tempat pembuatannya yaitu Spain dan dalam bahasa Indonesia disebut Spanyol. Donna Lee adalah lagu instrumental bergenre bebop Jazz yang dipopulerkan oleh Charlie Parker. Komposi ini lahir di New York City, Amerika. Pada awlanya, lagu ini di rekam oleh Charli Parker Kuintet tanggal 8 Mei 1947. Performance of Bass adalah judul pertunjukan yang dilaksanakan. Pertunjukan ini menyajikan beberapa repertoar, yaitu: Spain, Donna Lee, dan beberapa repertoar pelengkap pertunjukan. Tujuan dari pertunjukan ini adalah menyajikan sebuah pertunjukan musik  yang berbeda kepada audiens dengan tujuan menampilkan sesuatu hal yang baru melalui repertoar yang berbeda-beda. Metoda yang dilakukan dalam pertunjukan ini diantaranya adalah tahapan persiapan, proses latihan, dan teknik yang digunakan.Kata Kunci: Pizzicato; Spain; Donna Lee; Performance of Bass