cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,065 Documents
EFEKTIFKAH DAERAH PERLINDUNGAN LAUT (DPL)MENGKONSERVASI IKAN KARANG?STUDI KASUS DI KABUPATEN BIAK-NUMFOR DAN SUPIORI, PAPUA Sam Wouthuyzen; Jonas Lorwens; Frensly D. Hukom
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.181 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.4.2016.271-284

Abstract

 Sumber daya ikan karang (SDIK) dari salah satu ekosistem tropika wilayah pesisir yang sangat produktif, namun hingga kini belum diketahui stoknya, sehingga menyebabkan pengelolaan berkelanjutan sulit dilakukan,meskipun kawasan konservasi perikanan (Daerah Perlindungan Laut, DPL)sudah banyak didirikan. Tujuan kajian ini adalah mengetahui keefektifan DPL dalam konservasi SDIK di Kabupaten Biak-Numfor, dan Supiori melalui pembandingan stok SDIK dalam bentuk densitas ikan (ekor/m2) di DPL dan di luar DPL. Hasil kajian menunjukkan bahwa SDIK (ikan Target, Indikator dan Mayor) menurun drastis hampir di semua lokasi kajian, akibat pemanfaatan yang tidak ramah lingkungan pada 1995, 2001 dan 2010-2012.Perbandingan densitas SDIK di luar DPL pada 2010-2012 dan di 20 lokasi DPL tradisonal yang didirikan masyarakat di wilayah kerja Coremap LIPI pada 2008 menunjukkan bahwa densitas SDIK ikan Target, Indikator dan Mayor di DPL masing-masing lebih tinggi 3-4 kali, 3-5 kali dan 2-3 kali. DPL tradisional terbukti efektif mengkonservasi SDIK, oleh karenanya pendirian DPL perlu terus dilanjutkan di banyak lokasi, seperti target pemerintah yang akan mendirikan 20 juta ha DPL hingg 2020. DPL yang telah ada juga perlu dipantau dan dirawat secara periodik agar efektif mengkonservasi SDIK. The reef fishes resources produced from one of productive tropical ecosystem in the coastal zones have not well known yet. Thus, it is difficult to conduct sustainable management on reef fishes, desipite there are many sanctuaries (DPL) have been established in Indonesia waters. This paper aims to assess the effectiveness of DPL in the Biak-Numfor and Supiori Districts by comparing the reef fish stocks expressed as fish density (individuals/m2) between areas inside and outside DPL. Results show that the reef fish stocks (Target, Indicator and Major group) were drastically decreased in almost of study sites due to over exploitation and environmentally unfriendly fishing practises during 1995, 2001 to 2010-2012. Comparison of reef fishes density between outside DPL in 2010-2012 and inside of the 20 locations of traditional DPL established by local communities in 2008 within the Coremap LIPI working areas indicated that the density of reef fishes are 3-4, 3-5 and 2-3 times higher for Target, Indicator, and Major fish groups, respectively. Traditional DPL proves its role and its effectiveness as one of conservation tool to increase the reef fish stocks abundance Threfore, it is needed to estabish more DPL which have been targeted by government to reach 20 million ha of DPL by 2020. The exsisting DPL should be always be maintained in order they are effective in protecting the reef fish resources. 
MODEL PRODUKSI DAN LAJU TANGKAP KAPAL BOUKE AMI YANG BERBASIS DI PPN KEJAWANAN, CIREBON JAWA BARAT Setya Triharyuni; Wijopriono Wijopriono; Andhika Prima Prasetyo; Reny Puspasari
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.287 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.135-143

Abstract

Jaring bouke ami merupakan alat tangkap yang diklasifikasikan sebagai jaring angkat (lift Net) dengan target tangkapan cumi-cumi. Cirebon merupakan salah satu tempat pendaratan ikan yang didominasi kapal bouke ami. Penelitian model produksi dan laju tangkap kapal bouke ami yang berbasis di PPN Kejawanan Cirebon dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2011. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil tangkapan, model dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan serta laju tangkap kapal bouke ami. Analisis model produksi yang digunakan adalah model Cobb Douglas. Data yang dikumpulkan meliputi data spesifikasi kapal, produksi per jenis ikan, jumlah kapal dan total tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan utama dari jaring bouke ami adalah cumi-cumi, dengan komposisi hasil tangkapan rata-rata sebesar 60,51% dari total hasil tangkapan. Analisis model produksi menunjukkan bahwa variable ukuran kapal (GT) berpengaruh secara signifikan (P<0,1) terhadap hasil tangkapan dengan persamaan  (Fhitung = 2,111> F tabel=2,073) dan nilai  koefisien determinasi  (R2)  sebesar  0,53. Rata-rata laju tangkap jaring bouke ami tahun 2006-2010 adalah sebesar 6,72 ton/trip dengan laju tangkap cumi-cumi sebesar 3.907,5 kg/trip  atau sebesar 58,5% dari total laju tangkap. Stick held dip net, classified as lift net is one of fishing gears used to catch squid as target species. Cirebon is one of fishing port for stick held dip net. The number of stick held dip net landed at Kejawanan Fishing Port is dominant. A study aimed to reveal information about catch, production factors that affecting the catch and  catch  rate  of  stick held dip net has been conducted in June and August 2011. Vessel specification, production by species and the number of vessel data were collected. Production model of the stick held dip net was analysed using Cobb Douglas model. The results showed that catch composition was dominated by squids with an average catch of squid reached up to 60,51% of the total catch. The model production showed that the variable size of the vessel (GT) was significantly affected the catch (P <0,1) following the equation   (F value=2,111> F table =2,073, R2=0,53. An average catch rate of stick held dip net in the period 2006-2010 was 6,72 ton/trip with an average catch rate of squid was 3.907,5 kg/trip or 58,5% from the total catch rate. 
KERAGAAN TEKNIS JTEDs PADA ALAT TANGKAP ARAD DI PEKALONGAN Tri Wahyu Budiarti; Mahiswara Mahiswara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.957 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.2.2009.161-169

Abstract

Peningkatan kebutuhan dasar hidup para nelayan di Pekalongan menyebabkan mereka mengembangkan alat tangkap serupa mini bottom seine (arad). Hal ini dapat mengganggu kelangsungan hidup sumber daya ikan di masa mendatang karena banyaknya hasil tangkapan sampingan ikan berukuran kecil yang belum layak tangkap. Menyikapi hal tersebut, telah dilakukan uji coba alat pereduksi ikan muda dan sampah dengan alat tangkap tangkap arad yang menggunakan perangkat JTEDs (Juvenile and Trash Excluder Devices) yang diopersikan dengan menggunakan kapal nelayan berdimensi 8,80 m panjang, 2,80 m lebar dan 1,10 m dalam di perairan utara Pekalongan pada akhir Juli 2006. Sebagai perlakuan digunakan JTEDs dengan lebar kisi-kisi 17,5 mm dengan bagian atasnya dibuat terbuka dan diberi cover net berbentuk kantong untuk menampung ikan yang lolos. Rata-rata hasil tangkapan ikan dalam condend adalah 5.774 kg dengan variasi total tangkapan per stasiun 2.630–10.250 kg. Rata-rata ikan yang masuk cover net adalah 10.241 kg dengan variasi total tangkapan per stasiun 5.640–14.340 kg. Hasil tangkapan dalam cover net menunjukkan bahwa ikan-ikan yang lolos tergolong ikan muda dan berukuran kecil. Selektivitas arad untuk ikan kuniran (Upenus sulphureus), petek (Leiognathus splenden dan L. decorus) masingmasing terjadi pada ukuran panjang 89,17 mm dan (67,43 dan 67,47 mm). The increase of basic live need of fishers in Pekalongan causes them to develop a gear like mini bottom seine (arad). This gear might disturb survival of fish resource in the future because of a large number of juvenile and trash fish caught. Therefore, the experiment on gear reducer for juvenile and by catch as well using JTEDs (Juvenile and Trash Excluder Devices) set in mini bottom seine operated by fisher’s fishing vessel with dimension size of 8.80 m in length, 2.80 m in body wide and 1.10 in depth, respectively was carried out on end of July 2006 in east coast water of Pekalongan. The treatment was JTEDs having 17.5 mm in grid equipped by cover net on the top side to hold small fish (juvenile) caught. The juvenile catch in the cod end averaged 5774 kg with variation from all stations of 5,640 – 14,340 kg. Total catch in cover net showed that un-seined fish was juvenile having small size. Selectivity of mini bottom seine (arad) for kuniran (Upenus sulphureus), petek (Leiognathus splenden and L. decorus) was observed for their total length of 89.17 mm, 67.43 and 67.47, respectively.
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN ENDEMIK RAINBOW SELEBENSIS (Telmatherina celebensis Boulenger) DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN Syahroma Husni Nasution; Sulistiono Sulistiono; D. S. Sjafei; G. S. Haryani
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.664 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.2.2007.95-104

Abstract

Rainbow selebensis (Telmatherina celebensis) adalah salah satu jenis ikan endemik di Danau Towuti. Ikan tersebut memiliki warna tubuh yang indah dan berpotensi sebagai ikan hias air tawar yang bernilai ekonomis. Dikhawatirkan akan terjadi penurunan populasi ikan tersebut di alam akibat perubahan lingkungan dan penangkapan ikan yang intensif. Penurunan kualitas lingkungan tersebut secara tidak langsung berkaitan dengan penebangan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial dan temporal ikan Rainbow Selebensis. Penelitian dilakukan di perairan Danau Towuti dari bulan Maret 2002 sampai dengan April 2003. Ikan ditangkap menggunakan jaring insang eksperimental (experimental gill net) dengan 4 ukuran mata jaring yaitu ¾, 1, 1¼, dan 1½ inci di 4 stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Rainbow selebensis berdistribusi luas di perairan Danau Towuti mulai dari wilayah litoral sampai dengan ke tengah danau. Jumlah ikan yang diperoleh lebih banyak dan ukuran ikan juga lebih bervariasi di stasiun yang terdapat tanaman air (stasiun I dan IV) dibandingkan di stasiun yang tidak terdapat tanaman air (stasiun II dan III). Distribusi ikan secara spasial dipengaruhi oleh kedalaman air dan tanaman air, sedangkan secara temporal dipengaruhi oleh ketinggian muka air, oksigen terlarut, dan pH. Puncak kelimpahan ikan ini ditemukan pada bulan Nopember. Rainbow selebensis (Telmatherina celebensis) is an endemic species in Lake Towuti. This species has excellent body color, which is commercialized as ornamental fishes. Concerning will be decress fish population due to change of environment and intensive fishing. Degradation of the environmental quality indirectly related the deforestation. The aim of this research is to obtain information on spatial and temporal distribution of Rainbow Selebensis in Lake Towuti on March 2002 until April 2003. The fish was captured with experimental gill net mesh size 0.75; 1; 1.25; and 1.5 inches at four stations. The result shows that Rainbow Celebensis has wide distribution in Lake Towuti from litoral zone until the middle of lake. At station where there are aquatic plant (station I and IV), the number and size of the fish were high and various compared to station where there were aquatic plant (station II and III). Spatial distribution of Rainbow selebensis was influenced by depth of water and existence of aquatic plant, while temporal distribution was influenced by water level, dissolved oxygen, and pH. The peak season abundance of the fish was in November.
KARAKTERISTIK REPRODUKSI INDUK IKAN BAUNG (Mystus nemurus) GENERASI PERTAMA STOK JATILUHUR Ningrum Suhenda; Atmadja Hardjamulia; Ongko Praseno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2250.258 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.2.2004.41-45

Abstract

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa ikan baung stok Jatiluhur mempunyai kualitas relatif lebih baik dari pada stok Cirata, Wadaslintang, dan Wonogiri dalam hal pertumbuhan maupun kemampuan reproduksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan induk generasi pertama dan mengevaluasi karakteristik reproduksinya serta pertumbuhan dan sintasan benih yang dihasilkan.
PENGARUH PENGKAYAAN ROTIFER DENGAN BEBERAPA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP SINTASAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN KERAPU BEBEK ( Cromileptes altiveIis) Ketut Maha Setiawati; Suko Ismi; Wardovo Wardovo; J.H. Hutapea
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3649.087 KB) | DOI: 10.15578/jppi.5.2.1999.1-5

Abstract

Keberhasilan Dalam Pembenihan Ditunjang Oleh Kualitas Pakan ALam Yang Digunakan.
PATOGENISITAS BEBERAPA BAKTERI Vibrio YANG DIISOLASI DARI SEDIMEN TAMBAK TERHADAP UDANG WINDu, penaeus monodon Mulian Muliani; Muharijadi Atmomarsono; Nurhidayah Nurhidayah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5135.38 KB) | DOI: 10.15578/jppi.6.3-4.2000.44-50

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat patogenisitas beberapa bakteri Vibrio yang diisolasi dari sedimen tambak terhadap udang windu , Penaeus monodon. penelitian dilakukan di Laboratorium Basah Balai Penelitian Perikanan Pantai yang meliputi beberapa tahapan kerja yaitu: (1) lsolasidan identifikasi bakteri vibrio dari sedimen tambak, (2) perbanyakan bakterivibiio hasil identifikasi menggunakan nutrient broth, (3) Infeksi buatan dengan bakteri V. alginotyticus, V. costicola, V. harueyi, atau V. mimicus dengan kepadatan 102, 104, dan 106 cfu/ml kedalam wadah pemeliharaan udang windu, dan (4) Pengamatan perkembangan populasi bakteri Vibrio oan mortalitas udang windu.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI SPONGE DI PERAIRAN PULAU BARRANGLOM PO SU LAWESI SEI.ATAN Suharyanto Suharyanto; Andi Parenrengi; Machluddin Amin; Emma Suryati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5918.228 KB) | DOI: 10.15578/jppi.7.4.2001.1-8

Abstract

Pengamalan beberapa aspek biologi sponge telah dilakukan pada dua stasiun pengamatan yakni sebelah tenggara dan barat laut Pulau Barranglompo
PRODUKSI PERIKANAN TUNA HASIL TANGKAPAN RAWAI TUNA YANG BERBASIS DI PELABUHAN BENOA, BALI Irwan Jatmiko; Bram Setyadji; Dian Novianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.606 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.1.2016.25-32

Abstract

Perikanan tuna merupakan salah satu primadona perikanan di Indonesia dengan total produksi mencapai 1.297 ton dari tahun 2004 hingga 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan kisaran panjang hasil tangkapan tuna dari kapal rawai tuna yang berbasis di Pelabuhan Benoa, Bali. Pengumpulan data dilakukan dengan metode sampling pada 16 unit perusahaan pengolahan ikan tuna di Pelabuhan Benoa pada periode 2010-2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dimana penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada perikanan rawai tuna dan hasil tangkapannya. Total sebanyak 4.406 kapal tuna longline yang melakukan pendaratan hasil tangkapannya di Pelabuhan Benoa, Bali pada periode 2010-2014. Rata-rata persentase ekspor tertinggi adalah jenis ikan tuna mata besar sebesar 68% diikuti oleh madidihang (52%) dan tuna sirip biru selatan (31%). Ukuran panjang ikan madidihang berfluktuasi dengan rata-rata 130 cm dan kisaran panjang antara 121-135 cm. Panjang tuna mata besar cenderung stagnan dengan rata-rata 122 cm dan kisaran panjang antara 119-126 cm. Sedangkan panjang rata-rata tuna sirip biru selatan cenderung menurun dengan rata-rata 167 cm dan kisaran panjang 162-171 cm. Ketiga spesies ini rata-rata telah melakukan pemijahan sebelum ditangkap. Hal ini baik untuk menjaga stok tuna karena ikan yang tertangkap telah melakukan pemijahan sehingga dapat mendukung kelestarian sumberdaya tuna di Samudera Hindia. Tuna fishery is one of the important fisheries in Indonesia with total production reached 1,297 tons from 2004 to 2011. This study aims to determine the production and length frequencies of tuna catches from tuna longline vessels based in Benoa Port, Bali. Data collection was conducted using enumeration method in the 16 units of tuna fish processing company in Benoa Port in the period 2010-2014. The method used in this research is descriptive method in which the research is intended to describe the phenomenon that occurs in longline tuna fishery and the catch. A total of 4,406 tuna longline vessels were landed their catch in Benoa Port, Bali in the period 2010-2014. The highest average percentage for catch export is big eye tuna with 68% followed by yellowfin tuna (52%) and southern bluefin tuna (31%). The length of yellowfin tuna were fluctuated with average 130 cm and range from 121-135 cm. The length of bigeye tuna tends to stagnant with average 122 cm and range from 119-126 cm. While the length of the southern bluefin tuna tends to decrease with an average length of 167 cm and the range of 162-171 cm. All three species were assumed to have spawned before being caught. It is assure to keep stock of fish on the save level because maintain the regeneration to support the sustainable of tuna resources in the Indian Ocean.
PEMETAAN ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN CAKALANG PERIODE APRIL-JUNI DI TELUK BONE DENGAN TEKNOLOGI REMOTE SENSING Mukti Zainuddin; Alfa Nelwan; St Aisjah Farhum; Najamuddin Najamuddin; M.A. Ibnu Hajar; M. Kurnia; Sudirman Sudirman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.757 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.3.2013.167-173

Abstract

Satelit penginderaan jauh dapat memberikan informasi sistematis tentang kondisi oseanografi. Penelitian ini bertujuan memetakan zona potensial penangkapan ikan (ZPPI) cakalang di Teluk Bone selama April-Juni 2012 menggunakan citra suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a yang dikombinasikan dengan data penangkapan pole and line.  ZPPI dipetakan menggunakan teknik sistem informasi geografis yang dikonstruksi dari hasil analisis fungsi distribusi kumulatif empiris dan generalized additive model (GAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama bulan April-Juni di Teluk Bone, ZPPI cenderung berada pada area 120.5-121.5° BT dan 3.5-5° LS. Lokasi dengan nilai Catch per unit effort (CPUE) yang tinggi tersebut diindikasikan dengan kondisi SPL dan konsentrasi klorofil-a masing-masing antara 28.75-31.5° C dan antara 0.10 dan 0.2 mg m-3.  Kombinasi nilai preferensi faktor oseanografis tersebut diduga kuat merefleksikan kondisi kelimpahan makanan yang cukup tinggi dimana zona tersebut pada gilirannya menjadi daerah tempat berkumpulnya gerombolan ikan cakalang dan menjadi zona target bagi penangkapan pole and line di Teluk Bone. Satellite remote sensing provides systematically important information on oceanographic conditions. Sea surface temperature (SST) and sea surface chlorophyll-a concentration (Chl-a) derived from Aqua/ Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) data together with skipjack catch data during April-June 2012 were used to map potential fishing zones for skipjack tuna in the Bone Bay.  Geographic information system was then employed to map out of the potential fishing zones generated by non-linear model (Generalized Additive Model/GAM) and the empirical cumulative distribution function (ECDF) analyses.  Results indicated that the highest catch per unit efforts (CPUE) mostly occurred in areas of 120.5-121.5° E dan 3.5-5° S. These areas were significantly associated with SST and chlorophyll-a concentration ranged from 28.75- 31.5°C and 0.10 - 0.20 mg m-3, respectively.  The locations of occurrence of the preferred oceanographic factors suggested the area where feeding opportunity for skipjack schools enhanced and then provided potential fishing grounds for pole and line fishery in Bone Bay.

Page 10 of 107 | Total Record : 1065


Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue