cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 388 Documents
HUBUNGAN PANJANG-PANJANG, POLA PERTUMBUHAN DAN KONDISI IKAN NYALIAN, Barbodes binotatus (VALENCIENNES, 1842) DI EMPAT DANAU DI PULAU BALI I Nyoman Yoga Parawangsa; Prawira Atmaja Tampubolon; Nyoman Dati Pertami
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.14-24

Abstract

The relationship between length type, length-weight relationship and condition factors is an initial approach to fisheries management. Research related to that issue on spotted barb (Barbodes binotatus) in four lake ecosystems in Bali has never been published. This study aims to reveals information related to the relationship of length character, growth patterns and conditions of B. binotatus in four lake ecosystems in Bali. Fish sampling was carried out from August 2017 to July 2018 at Tamblingan Lake, Buyan Lake, Beratan Lake and Batur Lake which were carried out alternately. The results of this study revealed that the total length (TL), fork length (FL) and standard length (SL), each type of measurement can be used to estimate the weight of B. binotatus, but standard length was the most suitable type of measurement in estimating weights. This fish species has a positive allometric growth pattern (b>3) with an estimated condition that is in good condition.
Back Matter April 2023 Muh Kasim
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter April 2023
PERAN KERANG PENYARING PARTIKEL TERHADAP KERAGAMAN MAKROBENTHOS DI AGGREGASI KERANG Medy Ompi; Farnis B. Boneka; Erly Y. Kaligis; Stella T. Kaunang
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.1-13

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi jenis, kelimpahan, keragaman, dan kesamaan makrobenthos yang berada di dalam posisi aggregasi di lokasi berbeda.  Observasi telah dilakukan di 2 stasion Tiwoho dan Blongko, selama April, 2021. Makrobentos diambil dengan meletakan ‘Core’ (PVC) dengan diameter 15 cm pada posisi tengah dan pinggir aggregasi besar, serta aggregasi kecil di 2 lokasi.  Materi yang ada di dalam ‘Core’ diangkat, dimasukkan di dalam plastik yang berlabel, selanjutnya disortir, diidentifikasi, dihitung, dan foto di laboratorium.  Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali sebagai ulangan pada posisi aggregasi yang berbeda.  Jumlah jenis dan individu makrobenthos dianalisa dengan menggunakan 2 Arah ANOVA, di mana posisi dalam aggregasi dan stasion adalah sebagai faktor utama.  Mengetahui keragaman dilakukan melalui perhitungan Indeks ‘Simpon’ dan kesamaan dengan Indeks ‘Evenness’.  Hasil menunjukkan bahwa jumlah jenis dan jumlah individu (kelimpahan) makrobenthos bervariasi di antara posisi dalam aggregasi kerang, namun tidak dipengaruhi oleh baik posisi dalam aggregasi dan stasion.  Keragaman dan kesamaan jenis makrobenthos dikategorikan tinggi, walaupun baik ‘Indeks Simpson’ dan ‘Evenness’ bervariasi dan tidak konsiten di antara posisi dalam aggregasi dan stasion.  Jumlah individu (kelimpahan) makrobenthos nampak bebeda di antara posisi aggregasi di lokasi Blongko berdampak pada perbedaan stabilitas makrobenthos untuk kedua lokasi. 
UKURAN PERTAMA KALI TERTANGKAP DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN UDANG DOGOL MENGGUNAKAN JARING ARAD DI PERAIRAN BREBES Donwill Panggabean; Mario Limbong; Riena F. Telussa; Desi Fatmawati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.25-32

Abstract

Keterbatasan data yang tersedia di Kabupaten Brebes menyebabkan sulitnya menduga potensi dan status stok sumber daya udang. Upaya yang dapat dilakukan untuk menduga status sumber daya udang dan strategi pengelolaannya adalah dengan pendekatan aspek biologi dan rasio potensi pemijahan. Sampel udang dogol yang ditangkap menggunakan jaring arad diambil di Kabupaten Brebes selama 2 bulan. Panjang karapas udang dogol yang diukur berjumlah 1.004 ekor dengan menggunakan jangka sorong. Penelitian dilakukan untuk melihat komposisi hasil tangkapan, ukuran pertama kali tertangkap, serta rasio potensi pemijahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan jaring arad di perairan Brebes didominasi hasil tangkapan sampingan (80,10%), hasil tangkapan utama (16,98%), dan hasil tangkapan lainnya yang dibuang ke laut (discard) sebanyak 2,92%. Hasil tangkapan utama yang paling banyak tertangkap adalah udang dogol dengan kisaran panjang karapas sekitar 30,1 – 56,0 mmCL. Ukuran karapas pertama kali tertangkap udang dogol berada di atas ukuran pertama kali matang gonad. Selektivitas alat tangkap jaring arad yang digunakan untuk menangkap udang dogol sekitar 40,87 mmCL. Status sumber daya udang dogol berdasarkan nilai rasio potensi pemijahan tergolong baik sehingga penangkapan udang dogol dengan jaring arad masih berkelanjutan.
HUBUNGAN PANJANG-BOBOT, POLA PERTUMBUHAN DAN FAKTOR KONDISI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN SUKABUMI DAN LEBAK Taufiq Ahmad Romdoni; Taryono Taryono; Charles PH Simanjuntak; Arif Munandar; Seplina Nurfaiqah; Sisilia Eka Aisyah Lisamy
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.41-52

Abstract

Perairan Lebak, Banten dan Sukabumi, Jawa Barat yang merupakan bagian dari WPPNRI 573 adalah daerah penangkapan ikan pelagis. Kajian mengenai hubungan panjang-bobot serta faktor kondisi ikan pelagis kecil di kedua daerah tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan panjang-bobot, pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan pelagis kecil di perairan Sukabumi dan Lebak. Ikan pelagis kecil yang dijadikan sampel meliputi kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan layang (Decapterus macarellus). Sampel ikan diperoleh dari tiga pendaratan ikan yaitu PPI Binuangeun, PPN Palabuhanratu dan PPI Ciwaru dari bulan Juli-Desember 2022. Persamaan hubungan panjang-bobot ikan kembung lelaki adalah W=0,0000075.L3,125 (R2 = 0,93), sedangkan pada ikan layang adalah W=0,0000059.L3,136 (R2 = 0,96). Pola pertumbuhan ikan kembung lelaki dan ikan layang diperoleh alometrik positif. Hasil kondisi relatif (Kn) ikan kembung lelaki berada pada kisaran 0,91-1,06, nilai paling rendah ditemukan pada bulan Agustus dan nilai paling tinggi ditemukan pada bulan Desember. Sementara itu nilai faktor kondisi relatif ikan layang berkisar antara 0,87-1,06, dengan nilai terendah saat bulan Juli dan tertinggi saat bulan Desember. Pola pertumbuhan alometrik positif dan faktor kondisi yang tinggi mengindikasikan bahwa status ikan kembung lelaki dan ikan layang di perairan Sukabumi dan Lebak berada dalam kondisi yang baik.
KARAKTERISTIK PERIKANAN DAN KEBERAGAMAN JENIS IKAN DEMERSAL HASIL TANGKAPAN NELAYAN GILI IYANG KABUPATEN SUMENEP Halim, Arif Rahman; Wahyu, Yus Isnainita
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.2.2023.53-65

Abstract

Kabupaten Sumenep sebagai salah satu kabupaten yang berada di WPP 712 memiliki nilai hasil perikanan terbesar. Pulau Gili Iyang di Kecamatan dungkek merupakan salah satu kecamatan yang mempunyai potensi terbesar. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi tentang gambaran umum, jenis, dan proporsi ikan hasil tangkapan nelayan Gili Iyang. Data Primer diperoleh dengan cara melakukan observasi langsung dan wawancara kepada nelayan, sedangkan data sekunder dari literatur yang relevan dengan judul penelitian. Penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling terhadap 17 nelayan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif. Nelayan di Pulau Gili Iyang tergolong nelayan tradisional skala kecil menengah dengan ukuran kapal 4-10 GT, menggunakan alat tangkap dropline, lama melaut 3-7 hari, jumlah ABK 2-4 orang, modal dalam sekali melaut 1-5 juta rupiah dengan rata-rata total tangkapan 300-500kg. Daerah penangkapan ikan di WPP 712 dan 713 dengan kedalaman air ≥100meter. Nelayan Pulau Gili Iyang tergolong kategori dedicated, periode aktif melaut dalam setahun adalah 7-8 bulan. Metode pembagian upah merupakan bagi hasil antara pemilik kapal dan pekerja. Hasil penelitian mengidentifikasi 17 jenis ikan demersal yaitu Lutjanus malabaricus 20%, Lutjanus erythropterus 15%, Lutjanus sebae 4%, Lutjanus argentimaculatus 5%, Lutjanus johnii 1%, Lutjanus vitta 2%, Pinjalo pinjalo 4%, Pristipomoides mutidens 17%, Pristipomoides typus 3%, Epinephelus areolatus 6%, Epinephelus bleekeri 1%, Cephalopholis sonnerati 5%, Plectropomus maculatus 3%, Plectropomus leopardus 2%, Lethrinus lentjan 4%, Gymnocranius grandoculis 2%, Argyrops spinifer 2%, dan ikan jenis lain 4%. Manajemen perikanan tangkap perlu ditingkatkan untuk akses permodalan, bantuan fasilitas dan teknologi, serta kebijakan yang memihak terhadap nelayan.
POPULATION PARAMETERS OF RED SNAPPER (Lutjanus malabaricus) IN ARAFURA SEA FMA 718 Ayuningtyas, Okky Arista; Kasim, Kamaluddin; Imran, Zulhamzah; Kodiran, Taryono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.2.2023.76-87

Abstract

The utilization of red snapper (Lutjanus malabaricus) in Arafura waters is already at its optimum point and is classified as over-exploited. Information on population parameters is needed so that management can be sustainable. This study aims to determine several aspects of population parameters (Lc, Lm, L, t0, K, Z, M, F, E). The data collection method uses red snapper sampling including sex, length, and total weight in the 2021-2022 fishing period at PPP Mayangan, Probolinggo. The total number of red snapper samples was 3,077 with the smallest length being 19 cm and the largest being 89 cm. The results showed a relationship between length and weight W = 4,106.10-2 L1,730 with a value of b = 1,730, meaning that b < 3 indicates a negative allometric growth pattern. Average length caught (Lc = 50 cmTL) < Average length at maturity (Lm = 52 cmTL). Based on the Von Bertalanffy model formula, the growth parameter values are obtained, namely asymptotic length (L∞) = 96 cm, growth coefficient (K) = 0.72 per year, and age at zero length (t0) = -0.789. The growth equation is Lt = 96[1-e-0,72 (t-(-0,789))]. The value of natural mortality (=M) is 1.04 per year and the value of mortality due to fishing (=F) is 1.39 per year so the total mortality (=Z) is 2.43 per year. The exploitation value/utilization rate (=E) is 0.57. This shows that the utilization level has experienced more capture and reached the optimum level.
HABITUS COMPARASION, GROWTH PATTERN AND CONDITION OF CONVICT CICHLID (Amatitlania nigrofasciata GUNTHER, 1986) IN THREE LAKES ECOSYSTEMS IN BALI Parawangsa, I Nyoman Yoga; Tampubolon, Prawira Atmaja; Saputra, Dewa Gde Tribodhi; Pertami, Nyoman Dati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.2.2023.66-75

Abstract

Convict cichlid (Amatitlania nigrofasciata) belonging to the Cichilidae family has inhabited in Tamblingan Lake, Buyan Lake and Beratan Lake. The existence of this fish species is suspected due to accidental introduction activities. The aims of this study ware to reveal differences in habitus, growth patterns and conditions of convict cichlid in the three lakes on the island of Bali. Samples of convict cichlid were taken by bubu traps, that placed in the littoral zone of the lake. 19 morphometric characters were measured using a digital caliper, then each fish sample was weighed. The growth pattern and condition of convict cichlid are known by using the equation of the length-weight relationship and the condition factor. There were 888 individuals of convict cichlid caught during this study, consisted of 385 fish from Tamblingan Lake, 371 fish from Buyan Lake, and 132 fish from Beratan Lake. Moreover, 108 fish consisting of 36 fish from each lake were further analyzed by measuring 17 additional morphometric characters. The results of measuring the morphometric characters of the observed convict cichlid had different variations for the characters of head length and predorsal length. There was diversity for several morphometric characters of the convict cichlid in Buyan Lake which are a collaboration of characters between the convict cichlid in Tamblingan Lake and in Beratan Lake, namely on the basic characteristics of the anal fin, dorsal fin base, body length, postorbital length, and tail height. The growth pattern of this species in the three lakes was negative allometric and the condition of this fish species was in good condition with the average value of condition factor ranging from 0.95–1.05.
DINAMIKA POPULASI IKAN BELOSO (Glossogobius sp) DI PERAIRAN DANAU TEMPE SULAWESI SELATAN, INDONESIA Hadijah, Siti; Wamnebo, Muhammad Ikhsan; Kasmawati, Kasmawati; Bakhtiar, Bakhtiar; Poltak, Hendra
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.2.2024.77-87

Abstract

Ikan beloso (Glossogobius sp) merupakan spesies endemik di Danau Tempe yang kini langka, hampir tidak ditemukan dalam tangkapan di danau tersebut. Faktor penyebab kelangkaan ini antara lain perubahan fungsi Danau Tempe menjadi kawasan wisata, penggunaan jalur transportasi perahu motor, tekanan pertumbuhan penduduk, serta eksploitasi ikan beloso yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji inamika populasi ikan beloso di Danau Tempe. Metode survei digunakan untuk menangkap ikan beloso, yang kemudian dihitung jumlahnya dan diukur panjangnya menggunakan papan ukur ikan dengan ketelitian hingga 1 mm. Struktur populasi ditentukan melalui pengelompokan frekuensi ukuran panjang menggunakan metode Bhatacharya berdasarkan data yang diperoleh. Hasilnya menunjukkan bahwa dari 1974 ekor ikan yang tertangkap, panjangnya berkisar antara 82 mm hingga 231 mm. Persentase tangkapan terbesar ada pada nilai tengah dengan panjang total 127 mm, yaitu 19,50%, sementara yang terkecil dengan panjang total lebih dari 127 mm, sebanyak 0,15%. Sebaran ukuran menunjukkan variasi dari ikan berukuran kecil dengan nilai tengah panjang 84,5 mm hingga ikan berukuran besar dengan nilai tengah panjang 214,5 mm. Kelompok umur pada ikan beloso terdiri dari 3 kelompok pada jantan dan gabungan, serta 2 kelompok pada betina. Parameter panjang maksimum (L”), koefisien pertumbuhan (K), dan usia teoritis (to) ikan beloso masing-masing adalah 325 mm, 0,53 per tahun, dan -0,1595 (gabungan); 321 mm, 0,53 per tahun, dan -0,1560 (jantan); serta 320 mm, 0,48 per tahun, dan -0,1780 (betina). Tingkat mortalitas total (Z), mortalitas alami (M), laju mortalitas penangkapan (F), dan laju eksploitasi (E) pada ikan beloso telah dihitung masing-masing sebesar 4,66, 0,60, 4,06, dan 0,87 untuk gabungan; 3,67, 0,61, 3,06, dan 0,83 untuk jantan; serta 4,01, 0,57, 3,44, dan 0,86 untuk betina. Berdasarkan analisis yang menunjukkan kelompok umur rendah dan tingkat eksploitasi yang sangat tinggi, dapat disimpulkan bahwa kondisi ikan beloso sudah terancam. Diperlukan regulasi dan pengelolaan yang baik untuk menjamin keberlanjutannya.
VARIASI DAN KELIMPAHAN PLANKTON DI PERAIRAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN Handayani, Muliawati; Nuzapril, Mulkan
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.1.2024.1-10

Abstract

Keberadaan plankton di suatu perairan digunakan sebagai indikator kuliatas air dan produktivitas primer perairan. Perairan Brondong dikenal sebagai salah satu penghasil ikan dari sektor perikanan tangkap di Pesisir Utara Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi dan kelimpahan plankton serta kualitas air di Perairan Brondong, Lamongan. Sampling dilakukan pada 10 titik yang perairan sejajar dengan garis pantai menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif untuk identifikasi plankton dan parameter fisika kimia perairan serta analisis PCA untuk mengetahui korelasi antar variabel. Ditemukan 32 genus jenis fitoplankton dan 11 genus zooplankton. Ceratium adalah genus yang paling banyak ditemukan pada komunitas fitoplankton. Kelimpahan Ceratium yang tinggi di suatu perairan mengindikasikan kuaitas air yang tercemar. Sedangkan genus zooplankton dengan kelimpahan tertinggi adalah Nauplius. Nauplius merupakan hewan kecil dari yang sedang mengalami perkembangan stadia, biasanya berasal dari golongan Copepoda.  Indeks komunitas fitoplankton berada pada keanekaragaman yang sedang, sedangkan zooplankton tergolong keanekaragaman yang rendah. Indeks keseragaman keduanya tergolong kategori labil dan indeks dominasi tergolong rendah. Faktor utama yang memiliki korelasi erat dengan kelimpahan baik itu fitoplankton maupun zooplankton adalah parameter suhu, DO dan pH. Pemanfaatan pesisir dengan aktivitas yang beragam diduga berpengaruh terhadap kualitas air dan kelimpahan plankton.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue