cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 388 Documents
EFEK EKSTRAK DAUN Rhizophora mucronata PADA IMUNITAS Cyprinus rubrofuscus YANG TERINFEKSI Aeromonas hydrophila Mulyani, Laily Fitriani; Dwiyanti, Septiana; Diniariwisan, Damai
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.36 - 45

Abstract

Aeromoniasis yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila merupakan salah satu penyakit bakteri yang berdampak signifikan pada budidaya ikan Cyprinus rubrofuscus. Penggunaan bahan alami sebagai imunostimulan telah banyak dikaji untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek ekstrak daun Rhizophora mucronata terhadap respons imun dan tingkat kelangsungan hidup Cyprinus rubrofuscus yang terinfeksi A. hydrophila. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan beberapa perlakuan dosis ekstrak KN (kontrol tanpa ekstrak + infeksi NaCl), KP (kontrol tanpa ekstrak + infeksi bakteri), P1 (ekstrak dengan dosis 0,5% + infeksi bakteri), P2 (ekstrak dengan dosis 1% + infeksi bakteri), dan P3 (ekstrak dengan dosis 2% + infeksi bakteri) yang diberikan melalui penyuntikan. Parameter yang diamati meliputi eritrosit, leukosit, hemoglobin, hematokrit, fagositosis, total bakteri dan tingkat kelangsungan hidup ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun R. mucronata secara signifikan meningkatkan respons imun ikan, ditandai dengan peningkatan jumlah leukosit, aktivitas fagositosis, dan tingkat kelangsungan hidup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelangsungan hidup ikan juga lebih tinggi pada kelompok yang diberi perlakuan ekstrak dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulannya, ekstrak daun R. mucronata berpotensi sebagai imunostimulan alami yang efektif dalam meningkatkan ketahanan C. rubrofuscus terhadap infeksi A. hydrophila.
HUBUNGAN PANJANG-BERAT, POLA PERTUMBUHAN, FAKTOR KONDISI IKAN LAYANG (Decapterus russelli) DI KEPULAUAN KEI, MALUKU, INDONESIA Tapotubun, Elizabeth Juleny; Riyanto, Mochammad; Wahju, Ronny Irawan; Trilaksani, Wini; Uju, Uju; Picaulima, Simon Marsholl
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.15 - 21

Abstract

Potensi ikan layang di perairan Kepulauan Kei menunjukan peluang signifikan sebagai sumberdaya perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan metode penangkapan menggunakan alat tangkap pukat cincin, bagan dan pancing tonda. Purseine memungkinkan penangkapan dalam jumlah besar secara efisien, sedangkan bagan dan pancing tonda memberikan alternatif bagi nelayan dengan tingkat selektifitas yang berbeda. Meskipun potensi tangkapan cukup besar, eksploitasi berlebihan dapat mengancam kelestarian stok ikan layang dan ekosistem laut setempat. Oleh karena itu, keberlanjutan sumber daya ikan layang perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pertumbuhan, faktor kondisi, dan tingkat penangkapan perikanan ikan layang yang didaratkan di Ohoi Sathean,  Selayar, Namar, Dian Pulau, Dunwahan, Ohoiren, Mastur dan Banda ely di Kepulauan Kei dari Desember 2023 hingga Mei 2024. Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan dengan pengamatan langsung  terhadap 502 ekor sampel secara acak, data sekunder mengenai hasil tangkapan dan usaha penangkapan selama lima tahun terakhir dikumpulkan dari nelayan melalui wawancara dengan Teknik purposive sampling. Analisis meliputi distribusi panjang ikan, hubungan panjang-berat (nilai b = 2,36 menunjukan pertumbuhan alometrik negatif), faktor kondisi (K = 1,00–1,08 menandakan kondisi fisiologis kurang optimal), tingkat penangkapan serta daerah penangkapan. Tingkat penangkapan tertinggi ditemukan pada pukat cincin dengan fluktuasi selama 6 tahun terakhir, bagan dan pancing tonda relatif stabil. Hubungan upaya penangkapan terhadap tingkat penanngkapan menghasilkan nilai determinasi (R²) = 0,5275 dengan persamaan regresi Tingkat Penangkapan (CPUE) = 2332,8 - 0,5098E, yang menunjukkan hubungan negatif antara peningkatan upaya tangkap dengan hasil per unit usaha. Temuan ini menjadi dasar ilmiah untuk kebijakan pengelolaan perikanan layang berkelanjutan di Kepulauan Kei.
PAREMETER POPULASI IKAN KEMBUNG PEREMPUAN (Rasteliger brachysoma ) DI PERAIRAN UTARA JAWA Hidayat, Thomas; Widiyastuti, Heri; Fauzi, Moh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.3.2024.114 - 123

Abstract

Ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dalam perikanan Indonesia. Data dan informasi terkini sangat dibutuhkan karena aktifitas penangkapan sudah dilakukan sejak waktu yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui parameter populasi yang dapat dijadikan masukan pengelolaan perikanan kembung perempuan di Laut Jawa. Penelitian dlakukan bulan April hingga November 2021, pengukuran panjang ikan dikumpulkan di Pekalongan, Jawa Tengah. Perangkat lunak FAO-ICLARM Stock Assessment Tools II (FiSAT-II) digunakan untuk menyusun parameter populasi dari analisis berbasis data panjang. Hasil penelitian menunjukkan distribusi Panjang ikan kembung perempuan 9-20 cmFL dengan modus 16 cmFL. Panjang asimtotik (L∞) 21,53 cmFL per tahun, laju pertumbuhan (K) 1,2 pertahun. Kematian total (Z) adalah 5,57 pertahun, kematian alami (M) adalah 2,28 pertahun dan kematian akibat penangkapan ikan (F) adalah 3,29 pertahun. Tingkat eksploitasi (E) adalah 0,59. Laju eksploitasi ikan tenggiri di Laut Jawa sudah tereksploitasi secara penuh, maka penangkapan ikan perlu dikelola dengan hati-hati, sehingga perlu dilakukan adalah pembatasan jumlah alat tangkap.
PERIKANAN PELAGIS BESAR DENGAN JARING INSANG DI PERAIRAN TARAKAN KALIMANTAN UTARA FISHERIES OF LARGE PELAGIC BY GILLNET IN THE WATERS OF TARAKAN NORTH KALIMANTAN Yusuf, Helman Nur; Natsir, Moh; Permana, Sofyan Muji; Baihaqi, Baihaqi; Noegroho, Tegoeh; Sepri, Sepri; Mahiswara, Mahiswara
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.01 - 14

Abstract

Sumberdaya ikan pelagis besar yang tertangkap dengan jaring insang di perairan Tarakan Kalimantan Utara berkontribusi terhadap produksi perikanan sebesar 16,03%. Penelitian ini dilakukan bulan Januari hingga Novemver 2021, bertujuan mengetahui jenis ikan pelagis besar yang tertangkap, serta distribusi panjang cagak tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal terbuat dari kayu bertonase 3 - 5 GT dengan mesin motor 14 PK, jaring dioperasikan pada kedalaman 6 -15 m baik didasar dan pertengahan perairan. Tawur jaring sebanyak 10 -15 pertrip selama 3 - 5 hari. Hasil tangkapan diperoleh sebanyak 27 jenis, yaitu 21 kelompok demersal, 3 jenis pelagis besar, 2 pelagis kecil dan 1 ikan karang. Komposisi jenis didominasi ikan kakap putih (Lates calcarifer) 30,4%, merah (Lutjanus johni) 21,9%, kurau (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, kerong kerong (Pomadasys kaakan) 5,5%, tenggiri papan (Scomberomorus guttatus) 4,4%, bambangan (Lutjanus malabaricus) 4,0%, kerapu (Epinephelus magniscuttis) 3,2%, sebelah (Psettodes erumei) 2,7%, tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 2,2%, merah taring (Lutjanus lemniscatus) 2,0%, bawal putih (Pampus argenteus) 1,1%, kakap hitam (Macolor niger) 1,0% dan lainnya kurang dari 1%. Hasil tangkapan tertinggi pada Januari sebesar 7.336,8 kg dan terendah Oktober sebesar 2.699,2 kg dengan rata-rata sebesar 4.544,0 kg perbulan. Upaya penangkapan tertinggi pada Januari sebanyak 474 trip dan terendah Oktober sebanyak 148 trip. Kelimpahan tertingi pada Agustus sebesar 24,5 kg/trip dan terendah September sebesar 14,6 kg/trip. Daerah penangkapan terdistribusi pada 03°61’254’’LU - 117°70’254’’BT hingga 03°16’293’’LU -117°99’113’’BT dan Panjang pertama kali tertangkap (Lc) tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) 38,65 FLcm dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 43,48 FL cm. The large pelagic fish resources caught with gillnets in the waters of Tarakan, North Kalimantan, contribute 16.03% to fisheries production. This study was conducted from January to November 2021, aiming to identify the species of large pelagic fish caught, as well as the fork length distribution of Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) and Korean mackerel (Scomberomorus koreanus). The results showed that the fishing vessels were made of wood with a tonnage of 3 - 5 GT, powered by 14 HP engines. The gillnets were operated at depths of 6 - 15 meters, both at the bottom and mid-water levels. Each trip involved setting the nets 10 - 15 times over a duration of 3 - 5 days. A total of 27 species were caught, comprising 21 demersal species, 3 large pelagic species, 2 small pelagic species, and 1 reef fish species. The species composition was dominated by: Barramundi (Lates calcarifer) at 30,4%, Golden snapper (Lutjanus johnii) 21,9%, Fourfinger threadfin (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, Javelin grunter (Pomadasys kaakan) 5.5%, Indo–pacific king mackerel (Scomberomorus guttatus) 4,4%, Malabar snapper (Lutjanus malabaricus) 4.0%, Spotted grouper (Epinephelus magniscuttis) 3.2%, Indian halibut (Psettodes erumei) 2.7%, Spanish mackere (Scomberomorus koreanus) 2,2%, Darktail snapper (Lutjanus lemniscatus) 2.0%, Silver pomfret (Pampus argenteus) 1.1%, Black and white snapper (Macolor niger) 1.01% Other species made up less than 1%. The highest catch was recorded in January at 7,336.8 kg, while the lowest was in October 2,699.2 kg, with an average monthly catch of 4,544.0 kg. The highest fishing effort occurred in January with 474 trips, while the lowest was in October with 148 trips. The highest abundance was observed in August at 24.5 kg/trip, and the lowest in September 14.6 kg/trip. The fishing area was distributed between the coordinates 03°61’254’’N - 117°70’254’’E and 03°16’293’’N - 117°99’113’’E. The length at first capture (Lc) for Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) was 38.65 cm FL, and for Korean mackerel (Scomberomorus koreanus) was 43.48 cm FL. 
KAJIAN KARAKTERISTIK BIOLOGI IKAN SIDAT (Anguilla bicolor ) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN KOTA BENGKULU Wardani, Firdha Iresta; Lestari, Dian Fita; Sugara, Ayub Fita; Agustini, Nella Tri; Nabiu, Nur Lina Maratana; Maharani, Made Dwipa Kusuma
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.3.2024.124 - 135

Abstract

Sidat merupakan ikan katadromus yaitu ikan yang memiliki fase dewasa berada di sungai atau danau tetapi setelah matang gonad akan beruaya ke laut lepas dan memijah disana. Perjalanan yang jauh dan membutuhkan waktu yang lama dengan berbagai rintangan. Sidat memiliki gizi yang tinggi yang kaya akan permintaan akan ekspor. Permintaan yang tinggi juga berdasal dari budidaya pembesaran sidat yang meningkatkan penangkapan sidat akan benih dari alam. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran karateristik biologi dan penangkapan ikan sidat di beberapa sungai di Kota Bengkulu. Karateristik yang dimaksud adalah distribusi panjang, hubungan panjang berat, nisbah kelamin, gambaran gonad ikan sidat, indeks kematangan gonad dan indeks hati. Hasil penelitian menunjukan distribusi panjang ikan sidat terbesar berasal dari Sungai Muara Jenggalu dan yang terkecil dari Sungai Hitam. Pola pertumbuhan berbeda tiap lokasi sungai yaitu allometrik negatif untuk ikan yang berasal dari Sungai Hitam dan Muara Bangkahulu. Pola pertumbuhan isometrik didapatkan dari lokasi Muara Jenggalu. Nisbah kelamin yang ada didominasi oleh ikan yang intersex. Indeks kematangan gonad dan indeks hati menunjukan trend kenaikan berat hati mengikuti tren pertumbuhan panjang.
KEBIASAAN MAKAN DAN KONDISI EKOLOGI KEPITING VAMPIR (Geosesarma hagen) DI LERENG PEGUNUNGAN MENOREH KULON PROGO Aji, Muhammad Tri; Saputra, Suradi Wijaya; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanti, Suryanti
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.3.2024.149 - 160

Abstract

Pegunungan menoreh menyimpan banyak keanekaragaman hayati, salah satunya kepiting hias air tawar yang di duga vampire crab dari jenis Geosesarma hagen. Kepiting ini pertama kali ditemukan di wilayah Cilacap. Informasi spesifik mengenai G. hagen terbatas pada morfologi dan sangat sedikit pada ekologinya. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan informasi ekologi dan kebiasaan makan dari G. hagen yang ditemukan di wilayah pegunungan menoreh. Penelitian dilakukan pada Juni 2023 sampai dengan Mei 2024. Sampel kepiting vampir ditangkap dengan menggunakan tangan kosong (hand picking), Identifikasi sampai tingkat jenis untuk penentuan jenis vampire crab di kulon progo di lakukan juga di laboratorium zoology BRIN. Kebiasaan makan kepiting ditentukan dengan gabungan metode frekuensi kejadian dan metode volumetrik selanjutnya dievaluasi dengan Indeks Of Preponderance. Hasil identifikasi morfologi menunjukan kepiting vampir yang ditemukan di lereng pegunungan menoreh merupakan spesies Geosesarma hagen yang sama ditemukan di Cilacap. Tetapi antara G. hagen yang ditemukan di lereng pegunungan menoreh dan Cilacap memiliki ketinggian berbeda yang dapat mempengaruhi karakteristik ekologi habitatnya. Hasil index of preponderance menunjukan bahwasannya makanan utama kepiting vampir ialah debris (51%) dan kayu (30%), kemudian makanan pelengkap kepiting vampir ialah daun (19%), dan makanan tambahan kepiting vampir yakni cacing (0,32%)
STRATEGI PENANGKAPAN TUNA (Thunnus spp.) DAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) PADA AREAL RUMPON UNTUK MENDAPATKAN UKURAN LAYAK TANGKAP MENGGUNAKAN PANCING ULUR Rumpa, Arham; Asia, Asia; Krisnafi, Yaser; Syamsuddin, Muhidin; Rasdam, Rasdam; Pontoh, Peggy; Kasim, Muh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.22 - 35

Abstract

Pengetahuan tentang perilaku kelompok jenis tuna dan cakalang pada areal rumpon merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai strategi penangkapan optimal untuk mendapatkan ukuran ikan layak tangkap. Pengumpulan data di mulai tahun 2020-2024 dengan mengacu pada Prosedur Protokol Sampling untuk Pancing Tuna Artisanal Indonesia yang dikembangkan oleh United States Agency for International Development – Indonesia Marine and Climate Support (USAID-IMACS) bekerjasama dengan enumerator dari Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Kriteria ukuran tuna layak tangkap dianalisis berdasarkan length at first maturity (Lm). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosentase hasil tangkapan dan ukuran layak tangkap pada areal rumpon menggunakan pancing ulur didominasi oleh tuna madidihang (Thunnus albacares) 76,32% dengan ukuran yang layak tangkap sebesar 44,27%, tuna mata besar (Thunnus obesus) 10,05% dengan ukuran layak tangkap 55,60%, dan cakalang (Katsuwonus pelamis) 5,09%  dengan ukuran layak tangkap 48,40%.  Sedangkan hasil tangkapan pancing ulur tanpa menggunakan rumpon atau di luar area rumpon berbeda jauh prosentase proporsi ukuran layak tangkapnya, yaitu 87,7%  untuk tuna madidihang; 97,65 %  tuna mata besar; dan cakalang layak tangkap sebesar 90,00%. Untuk mengurangi prosentase tertangkapnya ikan ukuran tidak layak tangkap, selain dengan strategi tanpa menggunakan rumpon juga dapat menerapkan metode pengaturan kedalaman penurunan alat tangkap, pengaturan waktu penangkapan, dan pengaturan ukuran mata pancing. Informasi ini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan spesies tuna dan cakalang secara berkelanjutan khusunya untuk penangkapan pada areal rumpon.
KARAKTERISTIK GENETIK DAN FILOGENETIK SPESIES IKAN LAYANG (Decapterus sp) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN BITUNG Saranga, Rudi; Santoso, Heru; Manohas, Jul; Kasim, Nurdin; ismail, Ismail; Sarianto, Deni; Lie, Gretyo Eduard Dara; Gomair, Givensius
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.46 - 55

Abstract

Sumberdaya kelompok ikan Layang di perairan Bitung memiliki nilai ekonomis sehingga perlu dilakukan pengelolaan berdasarkan nama spesies ikan yang valid. Salah satu ciri khusus perikanan tangkap di Indonesia adalah multispesies dan multigear dan dalam pencatatan ikan hasil tangkapan hanya menggunakan nama kelompok ikan, sehingga untuk satu nama kelompok ikan dapat terdiri dari beberapa spesies ikan. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi spesies ikan layang yang tertangkap di perairan Bitung secara genetik untuk mendapatkan spesies yang valid. Untuk mendapatkan karakteristik genetik dan filogenetik dari 4 sampel ikan layang dilakukan ekstraksi DNA, Polymerase Chain Reaction (PCR), penyuntingan DNA dan analisis filogenetik dan evolusi molekuler menggunakan program MEGA versi X. Hasil penelitian mendapatkan bahwa secara genetik ikan layang anggur Bitung merupakan spesies Decapterus smithvanizi dan ikan layang biru dengan ukuran kecil, sedang dan besar merupakan spesies Decapterus macarellus. Filogenetik D. smithvanizi Bitung memiliki jarak kekerabatan yang dekat dengan jenis yang sama dari perairan Philipina, sedangkan D. macarellus Bitung memiliki kekerabatan yang dekat dengan jenis yang sama dari perairan Vietnam. Perlu dilakukan kajian aspek biologi D. smithvanizi untuk melengkapi informasi yang belum tersedia saat ini.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue