cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
KAJIAN RISIKO IKAN-IKAN ASING DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT Agus Arifin Sentosa; Ernik Yuliana; Lismining Pujiyani Astuti
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.2.2022.105-118

Abstract

Waduk Cirata telah terindikasi terdapat ikan-ikan asing, namun belum terdapat kajian risikonya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko keberadaan ikan-ikan asing di Waduk Cirata. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2021 hingga Februari 2022 di enam stasiun pada Waduk Cirata, Jawa Barat dengan metode survei lapangan. Analisis data dilakukan dengan indeks relatif penting dan penilaian risiko berdasarkan Pedoman Analisis Risiko Spesies Asing Invasif. Hasil menunjukkan bahwa teridentifikasi sebanyak 17 spesies ikan asing (65,38%) dari total 26 jenis ikan yang tertangkap di Waduk Cirata selama periode penelitian. Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki kelimpahan yang tertinggi (34,70%) diikuti oleh ikan oskar (Amphilophus citrinellus) sebesar 11,86%. Risiko keberadaan ikan-ikan asing di Waduk Cirata terdiri atas 29,4% termasuk ikan asing kategori berisiko tinggi dan sisanya (70,6%) memiliki risiko sedang. Ikan asing berisiko tinggi adalah ikan oskar. Keberadaan ikan-ikan asing dengan tujuan introduksi tertentu diperbolehkan setelah melalui kajian risiko. Ikan-ikan asing yang invasif, berbahaya dan/atau merugikan yang perlu dilakukan pengendalian populasi hingga pemusnahan di Waduk Cirata adalah: Amphilophus citrinellus, Cichlasoma trimaculatum, Hemichromis elongatus, Mayaheros urophthalmus, dan Parachromis managuensis.Cirata Reservoir has indicated the presence of exotic fishes, but there has been no risk assessment. This study aimed to identify the risk of alien fishes in the Cirata Reservoir. The research was conducted from December 2021 to February 2022 at six stations in the Cirata Reservoir, West Java, with a field survey method. Data was analyzed by relative importance index and risk assessment based on the Guidelines for Risk Analysis of Invasive Alien Species. The results showed there are 17 alien fish species (65.38%) from 26 fish species caught during the study. The Nile tilapia (Oreochromis niloticus) had the highest abundance (34.70%) followed by the Midas cichlid (Amphilophus citrinellus) at 11.86%. The risk of the alien fishes in the Cirata Reservoir comprised 29.4% of the high risk and 70.6% of the moderate risk. The high risk of alien fishes was the Midas cichlid. Alien fish introduction for certain purpose was allowed after having a risk assessment. The invasive, dangerous and/or harmful alien fishes that need to be controlled and eradicated in the Cirata Reservoir were: Amphilophus citrinellus, Cichlasoma trimaculatum, Hemichromis elongatus, Mayaheros urophthalmus, and Parachromis managuensis.
NISBAH KELAMIN DAN UKURAN PERTAMA KALI MATANG GONAD KEPITING BAKAU, Scylla serrata (Forskal, 1775) DI PERAIRAN SUNGAI SANRANGANG KABUPATEN TAKALAR I Wayan Kantun; Sri Wulandari Wulandari; Husni Angreni Angreni
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.2.2022.57-67

Abstract

Aktifitas pemanfaatan kepiting bakau di perairan sungai Sanrangang Kabupaten Takalar telah dilakukan secara intensif sehingga dikhawatirkan sudah terjadi penangkapan berlebih dan penurunan ukuran secara reproduksi. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG) dan ukuran pertama kali matang gonad kepiting bakau (Scylla serata). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus tahun 2020 di Sungai Sanrangang, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode experimental fishing untuk membandingkan efisiensi dan efektivitas tiga jenis bubu yakni bubu lipat, rakkang dan bubu velg, dengan menggunakan umpan ikan mujair. Data yang diperoleh pada penelitian ini diolah dengan uji non parametrik Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jumlah hasil tangkapan kepiting bakau untuk bubu lipat, rakkang dan bubu velg secara berturut-turut adalah 120; 107; dan 110 ekor. Nisbah kelamin kepiting bakau jantan dan betina untuk bubu lipat, rakkang dan velg masing-masing sebesar 1,67:1,00; 1,81:1,00 dan 1,50:1,00. Tingkat kematangan gonad yang ditemukan mulai tingkat I hinggaV yang didominasi fase matang gonad untuk bubu lipat sebesar 47,50%, rakkang 68,22% dan bubu velg 51,82%). Ukuran kali pertama matang gonad kepiting bakau jantan untuk bubu lipat, rakang dan velg masing-masing pada lebar karapas sebesar 80,13 mm, 77,15 mm dan 77,52 mm sedangkan untuk betina berturut-turut pada lebar karapas 82,54 mm, 76,10 mm dan 85,16 mm. Nisbah kelamin dalam keadaan seimbang dengan kondisi kepiting bakau jantan lebih awal mengalami matang gonad. Ukuran lebar karapaks kepiting bakau yang diperoleh pada penelitian ini di bawah 12 cm dan tidak memenuhi syarat Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16/PERMEN-KP/2022.Mud crab utilization activities in the Sanrangang river waters, Takalar Regency have been carried out intensively so that it  tends that overfishing has occurred and  decrease in reproductive size. This study aimed to  analyse sex ratio, gonads maturity  stage ( GMS) and the width of first maturity of mud crab (Scylla Serata). This research was conducted from June to August 2020 in the Sanrangang River, Takalar Regency, South Sulawesi Province,  used an experimental fishing method to compare the efficiency and effectiveness of three types of traps, namely folding, rakkangs and velg, using mozambique tilapia  as bait. The data obtained were processed by Chi Square non-parametric test. The results indicated that the number of mud crabs for folding trap, rakkangs and velg trapwere 120; 107; and 110 individuals, respectively. The sex ratio of male and female for folding trap, rakkangs and velg trap were 1.67:1’00; 1.81:1.00 and 1.50:1.00. The gonad maturity stage showed that was starting from stage  I-V which dominated by the mature stages for folding trap 47.50%, rakkang 68,22% and velg trap 51.82%. The width at first maturity of male for folding trap, rakkangs and velg trap respectively for carapace width were 80.13 mm, 77.15 mm and 77.52 mm, while for females were 82.54 mm, 76.10 mm and 85.16 mm. The sex ratio was in balance with the condition of the male mud crabs earlier matured.  The width of the mud crab shell obtained in this study was below 12 cm or 120 mm that  did not meet the requirements of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation Number 16/PERMEN-KP/2022.
ISI LAMBUNG DAN BIOLOGI REPRODUKSI MADIDIHANG (Thunnus albacares) HASIL TANGKAPAN PANCING ULUR DI LAUT BANDA Budi Nugraha; Khairul Amri; Thomas Hidayat; Nur’Ainun Muchlis; Yoke Hani Restiangsih; Enjah Rahmat
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.2.2022.69-78

Abstract

Laut Banda memiliki peran penting dalam perikanan tuna di Indonesia. Pengetahuan dasar mengenai analisis isi lambung dan aspek biologi reproduksi dari madidihang merupakan upaya untuk mendukung pengelolaan sumber daya ikan tersebut, yang masih jarang dilakukan. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi di atas, yaitu. menganalisa isi lambung dan aspek biologi reproduksi madidihang yang meliputi nisbah kelamin, ukuran pertama kali matang gonad, tingkat kematangan gonad dan musim pemijahan di perairan Laut Banda. Penelitian dilaksanakan di tempat pendaratan ikan yang terletak di Ambon dan Masohi (Pulau Seram) pada Januari-Oktober 2016. Pengamatan isi lambung dan gonad dilakukan secara visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi lambung madidihang didominasi oleh cumi-cumi. Nisbah kelamin betina dan jantan berada pada kondisi yang tidak seimbang dimana betina lebih sedikit dibandingkan jantan dengan perbandingan 1:1,42. Madidihang yang tertangkap pancing ulur di perairan Laut Banda didominasi oleh ikan yang diindikasikan sudah matang gonad. Musim pemijahan madidihang di Laut Banda diperkirakan pada Mei-Juni. Hasil kajian ini dapat dijadikan dasar pengelolaan perikanan madidihang di perairan Laut Banda dengan membuat aturan larangan menangkap madidihang di lokasi yang diduga sebagai tempat memijah ikan tersebut pada saat musim pemijahan dan penggunaan ukuran mata pancing yang lebih besar agar ikan yang tertangkap memiliki ukuran layak tangkap (dewasa).The Banda Sea has an important role in tuna fisheries in Indonesia. Basic knowledge of stomach contents analysis and reproductive biology aspects of yellowfin tuna is an effort to support the management of these fish resources, which is still rarely done. The research was conducted to obtain the above data and information, ie. analyzed stomach contents and reproductive biology aspects of yellowfin tuna, included sex ratio, length at first maturity, gonadal maturity level and spawning season in the Banda Sea waters. This study aims to analyze the stomach contents and obtain information about the reproductive biology of yellowfin tuna which includes sex ratio, size at first gonad maturity, gonad maturity level and spawning season in Banda Sea waters. The study was carried out at fish landing sites located in Ambon and Masohi (Seram Island) in January-October 2016. Observation of stomach contents and gonads were carried out visually. The results showed that the stomach contents of yellowfin tuna were dominated by squid. The sex ratio of females and males is in an unbalanced condition where there are fewer females than males with a ratio of 1:1.42. Yellowfin tuna caught by handline in the Banda Sea waters were dominated by fish which are indicated to have mature gonads.The spawning season for yellowfin tuna in the Banda Sea is estimated from May to June. The results of this study can be used as a basis for the management of yellowfin tuna fisheries in the Banda Sea waters by making regulations prohibiting the catching of yellowfin tuna in locations suspected of being spawning grounds for the fish during the spawning season and using larger hook sizes so that the fish caught are of a suitable size (adult size).
ANALISIS POPULASI IKAN BAWAL HITAM (Parastromateus niger Bloch, 1795) BERDASARKAN KERAGAMAN DAN JARAK GENETIK DI WPPNRI 718 Nurnaningsih Nurnaningsih; I Wayan Kantun; Sri Wulandari
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.3.2022.149-159

Abstract

Ikan bawal hitam (Parastromateus niger) merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar ikan bawal hitam sebagai ikan konsumsi yang terjadi secara kontinyu menyebabkan peningkatan intensitas penangkapan di alam. Kondisi ini menyebabkan jumlah dan ukuran ikan bawal hitam di alam mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur populasi, mencakup keragaman dan jarak genetic dan dugaan pohon filogeni ikan bawal hitam (Parastromateus niger) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 718. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2022. Sampel ikan bawal hitam berasal dari ikan tangkapan di Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor. Penelitian ini dilakukan melalui metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) untuk menganalisis keragaman dan jarak genetik ikan bawal hitam dengan menggunakan tiga primer yaitu OPA-8, OPA-9, dan OPA-10. Data di analisis menggunakan software DARwin 6.0. Hasil menunjukkan ada variasi genetik antar populasi; analisis dendogram memperlihatkan diperoleh dua sub populasi ikan bawal hitam baik berdasarkan ukuran maupun lokasi. Dapat dibedakan kelompok ukuran ikan bawal berukuran kecil yang terpisah dari kelompok berukuran sedang dan besar; sedang beradasarkan lokasi pengambilan sampel terlihat sub populasi Laut Aru terpisah dengan subpopulasi Laut Arafuru dan Laut Timor yang mengelompok.  Berdasarkan dendogram bahwa sub populasi dengan karakteristik yang sama dikelola dengan model yang sama dan yang memiliki karakteristik berbeda dikelola secara terpisah.Black pomfret fish (Parastromateus niger) is a demersal fish that has high economic value. The market demand for black pomfret fish as a consumption fish that occurs continuously causes an increase in the intensity of fishing in nature. This condition causes the number and size of black pomfret fish in nature to decrease. This study aims to determine the genetic diversity and distance of the black pomfret fish (Parastromateus niger) population in the State Fisheries Management Area of   the Republic of Indonesia (WPPNRI) 718. The time of the study was carried out from March to May 2022. The black pomfret fish sample came from the Aru Sea population, the Sea Arafuru, and the East Timor Sea which landed at the Nizam Zachman Ocean Fishing Port, North Jakarta. This study used the Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) method to analyze the genetic diversity and distance of black pomfret fish using three primers, namely OPA-8, OPA-9, and OPA-10. The data were analyzed using DARwin 6.0 software and the results showed genetic variation between populations. The results of the dendogram analysis showed that there were two sub-populations of black pomfret fish based on size, namely the small pomfret sub-population and the medium and large-sized sub-population. Likewise, two sub-populations were obtained based on the sampling location, namely the Aru Sea sub-population with the Arafuru Sea and the Timor Sea sub-population. Based on the dendogram, sub-populations with the same characteristics are managed using the same model and those with different characteristics are managed separately.
PEMODELAN KESESUAIAN HABITAT IKAN PELAGIS BERBASIS KONDISI OSEANOGRAFI DI PERAIRAN PALABUHANRATU Gilar Budi Pratama; Tri Wiji Nurani; Mustaruddin Mustaruddin; Yeni Herdiyeni
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.3.2022.161-171

Abstract

Palabuhanratu merupakan pusat kegiatan potensial perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi. Salah satu tangkapan ikan yang dominan didaratkan di lokasi ini adalah kelompok jenis ikan pelagis. Kelompok jenis ikan pelagis memiliki sifat bergerombol (schooling) dalam bermigrasi. Sebaran dan kelimpahannya dipengaruhi oleh beberapa parameter oseanografi seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil- a, salinitas, arus hingga kedalaman perairan. Keberhasilan upaya penangkapan ikan sangat tergantung pada ketepatan dalam memprediksi daerah penangkapan. Pendugaan daerah penangkapan ikan, dapat dilakukan dengan pemahaman terhadap kondisi parameter oseanografi. Data parameter oseanografi selain berasal dari hasil pengukuran in-situ juga dapat memanfaatkan data hasil pantauan sensor satelit penginderaan jauh. Penelitian ini mengkaji kesesuaian habitat ikan pelagis berbasis kondisi oseanografi hasil pengukuran sensor satelit penginderaan jauh. Analisa kesesuaian habitat menggunakan pemodelan Maximum Entropy (Maxent).  Hasil analisa kemudian ditransformasikan untuk menduga zona potensial penangkapan ikan dalam bentuk model. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai uji kontribusi dan jackknife yang menyatakan salinitas sebagai parameter oseanografi yang memiliki tingkat informasi paling tinggi dalam pembangunan model. Response curve menunjukkan parameter klorofil-a yang optimal bagi ikan pelagis pada rentang 0,015 mg/m3 hingga 0,25 mg/m3, suhu optimal pada rentang 26,3 oC hingga 27,7oC, kecepatan arus yang optimal pada 0,37m/s, salinitas yang optimal berkisar 32,15 PSU hingga 32,5 PSU dan batimetri yang optimal pada kedalaman 200 hingga 5000 meter.Palabuhanratu is a potential activity for capture fisheries in Sukabumi Regency. One of the dominant fish catches landed at this location is the pelagic fish species. The pelagic fish species has a schooling characteristic in migrating. Their distribution and abundance are influenced by several oceanographic parameters such as sea surface temperature, chlorophyll-a concentration, salinity, currents, and depth of the waters. The success of fishing efforts is very dependent on the accuracy in predicting the fishing area. Estimation of fishing areas can be done by understanding the condition of oceanographic parameters. Apart from in-situ measurement results, oceanographic parameter data can also utilize data from monitoring by remote sensing satellite sensors. This study examines the suitability of pelagic fish habitat based on oceanographic conditions measured by remote sensing satellite sensors. Habitat suitability analysis using Maximum Entropy (Maxent) modeling. The results of the analysis are then transformed to estimate potential fishing zones in the form of a model. The results obtained show the contribution and jackknife test values which state salinity as an oceanographic parameter that has the highest level of information in model development. The response curve shows the optimal chlorophyll-a parameters for pelagic fish in the range of 0.015 mg/m3 to 0.25 mg/m3, optimal temperature in the range of 26.3oC to 27.7oC, optimal current velocity of 0.37m/s, Optimal salinity ranges from 32.15 PSU to 32.5 PSU and optimal bathymetry at depths of 200 to 5000 meters.
STATUS STOK DAN LAJU EKSPLOITAS IKAN RED DEVIL (Amphilophus spp.) SEBAGAI DASAR PENGENDALIAN IKAN INVASIF DI WADUK SERMO, YOGYAKARTA Dimas Angga Hedianto; M. Mukhlis Kamal; Taryono Taryono; Amula Nurfiarini
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.3.2022.119-134

Abstract

Ikan red devil (Amphilophus spp.) merupakan ikan introduksi yang berasal dari Amerika Tengah yang cenderung bersifat invasif di perairan darat Indonesia. Waduk Sermo yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta adalah perairan darat yang memiliki dominansi tinggi dari dua jenis red devil, yaitu A. citrinellus dan A. labiatus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status stok terkini dan dinamika populasi ikan red devil (Amphilophus spp.) sebagai dasar untuk pengendalian ikan asing invasif. Analisis data dilakukan terhadap 4.806 ekor ikan red devil (Amphilophus spp) yang terdiri atas 2.204 ekor A. citrinellus dan 2.602 ekor A. labiatus yang tertangkap menggunakan jaring insang percobaan dengan mata jaring 0,75-2,50 inci (interval 0,25 inci) pada Agustus 2021-Januari 2022. Analisis populasi ikan red devil dilakukan untuk jenis A. citrinellus, A. labiatus, dan gabungan keduanya (Amphilophus spp.) sebagai pertimbangan pengendaliannya. Hasil analisis menunjukkan Amphilophus spp. memiliki pertumbuhan dengan persamaan Lt = 19,3 [1-e0,31(t+0,61)] dari ELEFAN SA (Simulated Annealing) melalui paket TrophfishR. Ikan A. citrinellus memiliki L∞ lebih besar daripada A. labiatus. Laju eksploitasi ikan red devil menunjukkan tingkat pemanfaatan yang optimum (E=0,52). Ratio potensi pemijahan ikan red devil melalui analisis LB-SPR adalah sebesar 29% yang menunjukkan status stok masih dalam kondisi baik. Pengendalian ikan red devil perlu dilakukan dengan penambahan mortalitas penangkapan (F) sebesar 37,5% dari yang ada saat ini dengan estimasi SPR sebesar 19% (titik acuan SPR<20%) sebagai titik acuan batas dan penambahan F sebesar 69,2% (SPR10%) sebagai titik acuan target.Red devil (Amphilophus spp.) is a non-native species originating from Central America which tends to be invasive in inland waters of Indonesia. Sermo Reservoir, located in Kulon Progo Regency, Yogyakarta, is an inland water with high dominance of two species of red devil: A. citrinellus and A. labiatus. This study aims to analyze the current stock status and population dynamics of red devil fish (Amphilophus spp.) as a basis for controlling the invasive species. Data analysis was carried out on 4,806 red devil fish (Amphilophus spp.), consisting of 2,204 A. citrinellus and 2,602 A. labiatus that were caught using experimental gillnets with mesh size 0.75-2.50 inches (0.25 inch per each of intervals) which recorded monthly from  August 2021-January 2022. Analysis of red devil fish populations was carried out for A. citrinellus, A. labiatus, and a combination of those two species (known as Amphilophus spp.) as a consideration for controlling. The analysis resulted in the VBGF of Amphilophus spp. was Lt = 19.3 [1-e0.31(t+0.61)] from ELEFAN SA (Simulated Annealing) which analysis through the TrophfishR package. A. citrinellus has a larger L∞ than A. labiatus. The exploitation rate of the red devil shows the optimum level of exploitation (E=0.52). The spawning potential ratio through LB-SPR analysis was 29% which indicated that stock status is still in good condition. The controlling of invasive red devil fish needs to be done by increasing fishing mortality (F) by 37.5% from current F,  with 19% of estimated SPR (reference point of SPR<20%) as a limit reference point and an increasing F of 69.2% (SPR10%) as a target reference point.
STUDI KARAKTERISTIK HABITAT PENELURAN PENYU DI PANTAI SINORANG, DESA SINORANG, KECAMATAN BATUI SELATAN, KABUPATEN BANGGAI SEBAGAI DASAR KELESTARIANNYA Samsu Adi Rahman; Sri Sukari Agustina; Yanti Mutalib; Abdul Gani; Frederik Dony Sangkia; Lady Diana Khartiono; Akram Akram; Siswadi Sululing; Muh. Ikbal Trisaputra; Mohammad Syakir; Cut Desy Ariani; Iwan Gunawan; Nana Sutisna; Atma Agus
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.3.2022.173-185

Abstract

Penelitian ini tentang karakteristik habitat penyu di Pantai Sinorang dengan tujuan untuk mengetahui jenis penyu dan mengetahui karakteristik habitat penyu. Penelitian dilaksanakan di sepanjang Pesisir Pantai Sinorang pada bulan Juli-Oktober 2020 dengan mengumpulkan data lokasi peneluran penyu, suhu dan kelembaban pasir, lebar pantai, kemiringan permukaan pantai, tutupan vegetasi pantai, lamun, dan karang. Metode yang digunakan adalah teknik observasi lapangan dan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi penyu ditemukan dua jenis, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricate Linnaeus, 1766) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea Eschscholtz, 1829). Karakteristik habitat penyu berupa vegetasi pantai di dominasi tumbuhan bulu babi (Spinifex littoreus), stasiun yang sering didatangi penyu untuk mendarat dan bertelur, adalah pantai yang berkategori agak curam, landai, dan sangat landai, pantai yang lebar. Ditemukan di stasiun 3 dengan rataan lebar pantai 179 m, stasiun 0,1,2,dan 3 dengan masing-masing lebar pantai yang berukuran sedang dengan rataan lebar pantai 33.6 m, 18.1 m, 13.85 m; pasir pantai tersusun atas dominansi partikel berukuran sedang, kelembapan pasir rata-rata sepanjang lokasi berkisar 19.9%-27.2% dengan kelembaban rata-rata sebesar 24%, Suhu pasir pada kedalaman 35-40 cm pada bulan Juli 26-26.6ºC, Agustus 29.3-30.3ºC, September 30.8-32.0ºC, Oktober 33-36.5ºC. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa habitat penyu di Pantai Sinorang berada pada tingkat kelayakan untuk mendarat dan bertelur. Kawasan Sinorang Pantai dapat dilakukan pengelolaan penyu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui ekowisata penyu, dan serta tetap menjaga kelestarian penyu.This study examines the characteristics of turtle habitat in Sinorang Beach. The purpose of this study was to determine the type of turtle and to determine the characteristics of the turtle habitat in Sinorang Beach. The research was carried out along the Sinorang Beach in July-October 2020 by collecting data on turtle nesting locations, sand temperature and humidity, beach width, beach surface slope, beach vegetation cover, seagrass, and coral. The method used is field observation technique and data analysis is done by qualitative descriptive analysis. The results of the identification of turtles found two types, namely the hawksbill turtle (Eretmochelys imbricate Linnaeus, 1766) and the olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea Eschscholtz, 1829). The characteristics of the turtle habitat in the form of coastal vegetation are dominated by sea urchins (Spinifex littoreus) at stations frequented by turtles to land and lay eggs, the beach is categorized as rather steep, sloping, and very sloping, the largest beach width is at station 3 with an average of 179 m, the width of the medium-sized beach is at stations 0, 1, and 2 with an average beach width of 33.6 m, 18.1 m, 13.85 m, beach sand is composed of a dominance of medium-sized particles, the average sand humidity throughout the location is around 19.9% -27.2% with an average humidity of 24%, Sand temperature at a depth of 35-40 cm in July 26-26.6ºC, August 29.3-30.3ºC, September 30.8-32.0ºC, October 33-36.5ºC, and coral cover category at station 0 as much as 32.25% are still in the medium category. The results of this study can be concluded that the turtle habitat in Sinorang Beach is still at the level of feasibility for landing and laying eggs. In the Sinorang Beach area, turtle management can be carried out to improve the community's economy and maintain the sustainability of turtles.
INDEKS KELIMPAHAN DAN KARAKTERISTIK DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN MADURA Achmad Fachruddin Syah; Nurul Lailatul Fitriyah; Ainul Yakin; Andika Yoga Ramadana; Febri Cahyani Putri; Pinka Natasya Laksmi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.3.2022.135-148

Abstract

Perairan Madura merupakan salah satu daerah penangkapan rajungan (Portunus pelagicus) yang ada di Jawa Timur. Parameter oseanografi dipercaya dapat mempengaruhi distribusi rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hasil tangkapan rajungan dan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi rajungan yang ada di Perairan Madura. Data lokasi dan hasil tangkapan rajungan diperoleh dengan cara ikut secara langsung nelayan yang melakukan penangkapan rajungan di perairan Madura. Parameter oseanografi (suhu permukaan laut, salinitas, dan kedalaman) diperoleh dari oceancolor website (https://oceancolor.gsfc.nasa.gov/), Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) website (http://marine.copernicus.eu/), dan General Bathymetric Chart of the Oceans (Gebco) melalui website (https://www.gebco.net/data_and_products/gridded_bathymetry_data/). Data diproses dengan menggunakan SeaDas package ver. 7. 4 and ArcGIS 10.2. Pengaruh parameter oseanografi terhadap distribusi rajungan digunakan habitat modelling, maximum entropy model. Hasil menunjukkan bahwa indeks kelimpahan di Bangkalan (6.28 kg/trip) paling tinggi dibanding Pamekasan (2.21 kg/trip) dan Sumenep (3.09 kg/trip). Secara umum jumlah rajungan betina (52%) yang tertangkap lebih banyak dibandingkan rajungan jantan (48%). Berdasarkan beratnya, sebanyak 77% rajungan yang tertangkap merupakan rajungan yang layak tangkap (lebih besar dari ukuran legal minimum), sedangkan berdasarkan lebar karapas, 72% rajungan yang tertangkap layak tangkap. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa bathimetry mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap distribusi rajungan dikuti oleh suhu permukaan laut dan salinitas. Aktivitas penangkapan rajungan banyak dilakukan pada kedalaman 5 – 10 m. Selain itu,  hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa rajungan menyukai selang suhu permukaan laut antara 30 – 32°C dan salinitas antara 27 – 32 ppt. Madura waters is one of the fishing areas for blue swimming crab (Portunus pelagicus) in East Java. Oceanographic parameters are believed to affect the distribution of crabs. This study aims to understand the catch of crabs and the factors that influence the distribution of crabs in the Madura Strait. Location data and crab catches were obtained by direct participation of fishermen who caught crabs in the Madura waters. Oceanographic parameters (sea surface temperature, salinity, and depth) were obtained from the oceancolor website (https://oceancolor.gsfc.nasa.gov/), the Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) website (http://marine.copernicus.eu/), and General Bathymetric Chart of the Oceans (Gebco) through the website (https://www.gebco.net/data_and_products/gridded_bathymetry_data/). The data was processed using the SeaDas package ver. 7. 4 and ArcGIS 10.2. The effect of oceanography on the distribution of crabs, the maximum entropy model, was used. The results showed that the abundance index in Bangkalan (6.28 kg/trip) was the highest compared to Pamekasan (2.21 kg/trip) and Sumenep (3.09 kg/trip). In general, the number of female crabs (52%) was caught more than the male crabs (48%). Based on the weight, 77% of the crabs caught were suitable for catching (greater than minimum legal size), while based on the width of the carapace, 72% of the crabs caught were suitable for catching. The modeling results showed that bathimetry has the greatest influence on the distribution of crabs followed by sea surface temperature and salinity. Many crab catching activities are carried out at a depth of 5-10 m. In addition, the results of this study also showed that the crabs prefer the sea surface temperature between 30 - 32°C and salinity between 27 - 32 ppt.
POTENSI LESTARI IKAN LAYANG (Decapterus spp) YANG DIDARATKAN DI PEMANGKAT, KALIMANTAN BARAT Dona Setya; Dewi Susiloningtyas; Nurulludin Nurulludin
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.33-40

Abstract

Ikan layang merupakan jenis ikan yang paling banyak tertangkap di Laut Natuna Utara dan didaratkan di PPN Pemangkat. Perkembangan produksi ikan layang yang di daratkan di Pemangkat mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2009 sampai tahun 2017 (Data Produksi PPN Pemangkat). Usaha penangkapan ikan layang di Laut Natuna Utara menunjukkan kearah over fishing dengan produksi semakin menurun tetapi upaya penangkapan meningkat. Tujuan penelitian ini untuk menyusun opsi  pengelolaan terbaik pada perikanan purse seine di Pemangkat dengan menggunakan  Model Fox pada Surplus produksi dan data 10 tahun dari PPN Pemangkat. Hasil perhitungan surplus produksi Model Fox menunjukkan besaran Maximum Suistainable Yield (MSY) pada Laut Natuna Utara yaitu 2.412.016 kg dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 1.929.612 kg/tahun dan upaya optimumnya sebesar 18.170 upaya.Ukuran rata-rata mata jaring di PPN Pemangkat yaitu 1cm dan belum sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Pengawasan pemerintah terhadap penggunaan dimensi alat tangkap yang dilarang oleh PERMEN-KP No.18/ 2021 perlu terus ditingkatkan. Pengelolaan terbaik lainnya dengan pengaturan upaya penangkapan dan alat tangkap seperti tahun 2010 yaitu 32 kapal dengan trip 388 kali per tahun.
Front Matter April 2023 Kasim, Muh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Front Matter April 2023

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue