cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 388 Documents
KEMUNCULAN DAN TINGKAH LAKU PESUT (Orcaella brevirostris (Owen in Gray 1866) SEBAGAIMAMALIATERANCAMLANGKA DI PERAIRANKUBU RAYADANKAYONGUTARAKALIMANTAN BARAT Regi Fiji Anggawangsa; Dharmadi Dharmadi; Nunik Sulistyowati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.188 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.2.2014.63-68

Abstract

Pesut atau Irrawaddy dolphin (Orcaella brevirostris) merupakan salah satu spesies mamalia air yang populasinya semakin terancam. Sedikitnya informasi keberadaan pesut di Kalimantan Barat, menyebabkan upaya konservasi dan pengelolaannya belum optimal. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan tingkah laku pesut yang terdapat di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kegiatan pengamatan menggunakan metode jelajah dengan bantuan teropong binokuler dilaksanakan pada bulan April2013. Selama pengamatan hanya diketahui terdapat satu kelompok pesut sebanyak 4-6 individu yang terdiri dari pesut muda dan dewasa. Kelompokan itu dijumpai di muara Sungai Bumbun pada kedalamanan perairan 11 meter. Tingkah laku yang teramati menunjukkan gerombolan pesut umumnya memburu kelompokan ikan dan sesekali menyemburkan air dari blowhole nya. Berdasarkan ciri-ciri morfologi dan tingkah laku yang teramati serta kondisi lingkungan perairan setempat maka perairan di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Kayong Utara yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat diduga merupakan perairan yang potensial sebagai habitat pesut (Orcaella brevirostris).Irrawaddy dolphins (Orcaella brevirostris (Owen in Gray 1866)) is one of aquatic mammals species who populations are increasingly threatened. The lack information about population of Irrawaddy dolphins in West Kalimantan waters makes the conservation of this species and its management were still not optimized yet. This research aims to identify the characteristics and behavior of dolphins found in Kubu Raya and Kayong Utara waters of West Kalimantan. The observation was held on April 2013, exploring coastal waters and estuaries which are expected to be the habitats of Irrawaddy dolphins using binoculars. There are 4-6 individuals of Irrawaddy dolphin found at the mouth of Bumbun River. A group consist of young and adults dolphins at the depth of 11 meters. The observed behavior is chasing schooling fish and occasionally spitting water from his blowhole. Based on morphological character and fish behavior observed, and environmental condition parameters, indicated that the water surrounding of Kubu Raya and Kayong Utara District were potential habitat for Irrawaddy dolphins.
JENIS IKAN LAUT DALAM YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA SAMUDERA HINDIA Suprapto Suprapto; Mas Tri Djoko Sunarno
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.483 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.5.2009.237-248

Abstract

Pada periode tahun 2004-2005, Pusat Riset Perikanan Tangkap (Badan Riset Kelautan dan Perikanan-Departemen Kelautan dan Perikanan) bekerjasama dengan pemerintah Jepang (OverseasFishery Cooperation Foundation) telah melakukan pengkajian sumber daya ikan laut dalam di perairan zona ekonomi eksklusif Indonesia Samudera Hindia dengan menggunakan K.R. Baruna Jaya IV (1.219 GT). Kapal ini dilengkapi sarana alat tangkap jaring pukat dimodifikasi khusus untuk perairandalam. Jenis ikan yang tertangkap di perairan selatan Jawa terdiri atas 337 spesies yang mewakili 99 famili, sedangkan di perairan barat Sumatera terdiri atas 215 spesies, mewakili 82 famili. Macrouridae salah satu famili yang memiliki kekayaan jenis terbanyak, menyusul famili lain Alepocephalidae, Ophidiidae, dan Myctophidae. Berdasarkan pada bobot total laju tangkap, komposisi jenis yang mendominansi di perairan selatan Jawa spesies Lamprogrammus niger (Ophidiidae)dan Plesiobatis sp.1 (Plesiobatididae-kerabat ikan pari). Sedangkan di barat Sumatera selain spesies Plesiobatis sp., spesies Diretmoides pauciradiatus dari famili Diretmidae juga mendominansi hasil total bobot hasil tangkapan di perairan ini. Sebaran laju tangkap secara horisontal yang tertinggi diselatan Jawa yang terkonsentrasi di sekitar perairan selatan Yogyakarta, sedangkan untuk kawasan barat Sumatera terkonsentrasi di sekitar perairan Banda Aceh sebelah barat dan perairan Pulau Enggano (Bengkulu). Sebaran laju tangkap secara vertikal cenderung menurun mulai dari kedalaman200-900 m, namun pada kedalaman melebihi 900 m, laju tangkap sangat tinggi.
PARAMETER POPULASI IKAN TONGKOL KRAI (Auxis thazard) DI PERAIRAN SIBOLGA DAN SEKITARNYA Hety Hartaty; Bram Setyadji
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.129 KB)

Abstract

Tongkol krai (Auxis thazard) merupakan salah satu jenis ikan pelagis dengan nilai ekonomis tinggi di Indonesia, khususnya di perairan Sibolga dan sekitarnya. Eksploitasi terhadap spesies ini terus meningkat sepanjang tahun dan umumnya tertangkap oleh alat tangkap pukat cincin. Tingkat eksploitasi yang intensif terhadap spesies ini tidak disertai dengan studi kajian stok seperti penentuan parameter populasi. Tujuan dari penelitian adalah menentukan beberapa parameter populasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pengelolaan perikanan tuna neritik di perairan Sibolga dan sekitarnya. Pengumpukan data yakni data bulanan ukuran panjang dan berat individu ikan dilakukan di PPN Sibolga selama bulan Januari – Desember 2013. Parameter populasi dihasilkan dari analisa berbasis data panjang menggunakan perangkat lunak FAO-ICLARM Stock Assessment Tools II (FiSAT-II). Hasil penelitian menunjukkan panjang ikan tongkol krai yang tertangkap berkisar antara 19 - 45 cmFL atau  panjang rata-rata 32,91 cmFL. Panjang asimtotik (L∞) sebesar 47,9 cmFL dengan koefisien laju pertumbuhan (K) sebesar 0,58 per tahun dan umur pada saat memijah (t0) sebesar -0,246 tahun. Nilai mortalitas alami (M) sebesar 1,08 per tahun, mortalitas akibat penangkapan (F) sebesar 0,63 per tahun dan mortalitas total (Z) 1,71 per tahun. Laju eksploitasi (E) relatif rendah yaitu 0,37 sehingga eksploitasinya berpeluang untuk ditingkatkan sekitar 30% dari tingkat exploitasi aktual tangkapan saat sekarang untuk mencapai pemanfaatan optimum (E = 0,5). Frigate tuna (Auxis thazard) considered as one of the high-valued fish in Indonesian market, especially in Sibolga and its adjacent waters. The exploitation of this commodity is increasing every year and mainly contribued by purse seiners. However, there is lack of proper stock analysis such as determining of biological population parameters. The objective of this study was to obtain several biological population parameters based on length data. Size data was collected by enumerators based at PPN Sibolga from January to December 2013. The results showed that frigate tuna distributed from 19-45 cmFL with an average length of 32.91 cmFL. Asymptotic length (L∞) was estimated about 47.9 cmFL, growth rate (K) was 0.58 year-1 and the age in early condition (to) was -0.246 year. Total mortality (Z) was 1.71 year-1, natural mortality (M) was 1.08 year-1 and fishing mortality (F) was 0.63 year-1. The exploitation rate (E) of frigate tuna considered relativelly low (E=0.37). There is possibility to increase fishing effort about 30% of actual level.
BIOMASSA DAN KEANEKARAGAMAN IKAN DI PERAIRAN ANCOL, TELUK JAKARTA Karsono Wagiyo; Sri Turni Hartati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1848.911 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.3.2006.83-87

Abstract

Dampak reklamasi pantai di Ancol menghasilkan lingkungan yang tampak lebih bersih indah dan asri. Keadaan ini belum tentu diikuti peningkatan fungsional kondisi perairan dalam mendukung sumber daya perikanan, sehingga perlu diketahui kondisi sumber daya perikanan.
PARAMETER BIOLOGI LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) DI PERAIRAN TABANAN, BALI Duranta D. Kembaren; Pratiwi Lestari; Renny Ramadhani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 1 (2015): (April 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.81 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.1.2015.35-42

Abstract

Penelitian tentang aspek biologi lobster pasir (Panulirus homarus) di perairan Tabanan dilakukan pada periode Maret - Desember 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi lobster pasir meliputi nisbah kelamin, sebaran panjang, kematangan kelamin, hubungan panjang berat dan faktor kondisi. Pengamatan dan pengukuran aspek biologi dilakukan di tempat pengumpul lobster dengan sistem sampling acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin lobster pasir berada pada keadaan seimbang. Hasil tangkapan lobster didominasi oleh lobster berusia muda dengan panjang karapas antara 47,5-52,5 mm. Pemijahan terjadi sepanjang tahun dan puncak musim pemijahan lobster pasir diduga terjadi pada bulan Oktober. Persamaan hubungan panjang dan berat lobster jantan adalah W = 0,0021 L2,769 dan betina adalah W= 0,0016 L2,841. Sifat pertumbuhan lobster pasir adalah allometrik negatif. Faktor kondisi relatif rendah pada saat musim pemijahan dan semakin menurun seiring dengan bertambah panjangnya ukuran karapas lobster. Rata-rata ukuran lobster yang tertangkap lebih kecil dari ukuran matang kelamin. Oleh karena itu disarankan untuk menetapkan ukuran minimum yang boleh ditangkap yaitu diatas 68,52 mm.
BIOLOGI REPRODUKSI TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) YANG TERTANGKAP DI SAMUDERA HINDIA Ria Faizah; Budi Iskandar Prisantoso
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1595.436 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.2.2010.129-137

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai aspek reproduksi ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) di perairan Samudera Hindia. Sebanyak 42 contoh gonad dari ikan tuna mata besar yang tertangkap perairan Samudera Hindia antara bulan Maret sampai Oktober 2008 digunakan dalam penelitian ini. Pengamatan meliputi struktur morfologi gonad ikan, perkembangan gonad, diameter telur, dan fekunditas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ikantuna mata besar yang tertangkap memiliki tingkat kematangan gonad I, II, dan IV. Nilai gonado somatic index rata-rata tuna mata besar semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad. Musim pemijahan untuk tuna mata besar diduga terjadi pada bulan Oktober. Tuna mata besarmemiliki fekunditas antara 8.163.715-10.365.317 butir dan memiliki pola pemijahan berganda. The objective of this research is to study the reproductive biology of big eye tuna (Thunnus obesus) from Indian Ocean. A numbers of 42 gonad samples were taken from fresh individuals captured in the Indian Ocean during period of March until October 2008. The observation comprised of morphological structure of gonad, gonad development, oocytes diameter, and batch fecundity. The results showed that the gonad maturity stages of big eye tuna were ranged from immature (the gonad maturity stage of I and II) to mature (the gonad maturity stage of IV), and the gonado somatic index value increase along with increase of gonad maturity. Spawning season for big eye tuna estimated was in October, range of fecundity were 8.163.715-10.365.317 oocytes, and the spawning type waspartial spawned.
PEMANTAUAN STATUS POPULASI PESUT (Orcaella brevirostris) DI SUNGAI PELLA (DAERAH ALIRAN SUNGAI MAHAKAM), KALIMANTAN TIMUR Dian Oktaviani; Aisyah Aisyah; Dharmadi Dharmadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.889 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.6.2007.209-214

Abstract

Populasi pesut (Orcaella brevirostris) saat ini dikatakan mengalami penurunan setiap tahun dan dalam status terancam kepunahan. Sungai Pella merupakan sungai yang menghubungkan antara Danau Semayang dengan Sungai Mahakam dan dikenal sebagai tempat pesut beraktivitas sepertimencari makan dan bermain. Penelitian mengenai status monitoring populasi pesut dilakukan pada bulan September 2004 dan Oktober 2005. Metodologi yang digunakan yaitu purposif untuk penentuan lokasi dan penghitungan langsung populasi dengan analisis secara deskriptif. Lokasi penelitian diSungai Pella terletak pada posisi 116°33’03,0" BT 00°14’09,9" LS-116°33’55,2" BT 00°14’25,2" LS. Hasil penelitian menunjukkan populasi pesut yang muncul di Sungai Pella antara 2 sampai dengan 12 ekor. Status populasi pesut di Sungai Pella adalah tetap dibandingkan dengan penghitungan pada tahun 1999 dan 2002.
KARAKTERISTIK BIOLOGI CUMI-CUMI DI PERAIRAN LAUT JAWA Reny Puspasari; Setiya Triharyuni
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.459 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.2.2013.103-111

Abstract

Cumi-cumi merupakan hasil tangkapan sampingan bagi sektor perikanan di Laut Jawa, namun memiliki nilai ekonomi cukup penting. Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi cumi-cumi mencakup komposisi jenis, morfometrik, rasio kelamin dan tingkat kematangan gonad yang tertangkap di perairan utara Jawa di sekitar periaran Rembang, Cirebon dan Belanakan Subang. Ada empat jenis cumi-cumi ditemukan dalam pengamatan ini yaitu Loligo duvauceli sebagai jenis dominan, disusul oleh L. edulis, L. chinensis dan L. singhalensis.  Hubungan panjang mantel dan berat jenis L. duvauceli menunjukkan nilai koefisien pertumbuhan b sebesar 2,003 untuk jantan dan 1,942 untuk betina. Hasil tangkapan individu jantan pada bulan Juni dan Oktober lebih tinggi.  Pengamatan tingkat kematangan gonad menunjukkan bahwa cumi-cumi memijah sepanjang tahun. Karakteristik biologi cumi-cumi di perairan Rembang tidak berbeda nyata dengan cumi-cumi di perairan Cirebon dan Subang, serta memiliki karakteristik yang sama dengan cumi-cumi yang tertangkap di Selat Alas dan perairan India, kecuali waktu puncak pemijahan yang lebih lambat di perairan Rembang dan Cirebon dibandingkan dengan di lokasi lainnya.Squid are not the main target of cath fiesheries in the Java Sea, but it has high economic value. The aim of this observation is to study the biological aspect of squid, such as species composition, morfometric, sex rasio and maturity which were caught in Rembang, Cirebon and Subang. There are four species of squid were recorded during sampling dominated by Loligo duvauceli while the others were L. edulis, L. chinensis and L. singhalensis. The Length-weight relatioship of L.duvauceli showed that the growth coeffiicient were 2,003 and 1,942 for male and female respectively. Male were found common in June and October compare to female. Squid were spawned all over the year. There were no significant differences among squid caught in the waters around Rembang, Cirebon and Subang, and it seems also the same biological characters with squid in Alas Strait Nusa Tenggara Barat (NTB) and Indian waters, but the peak of spawning season in Rembang and Cirebon was late than others.
PERKEMBANGAN LARVA DAN EKOLOGI IKAN “SIX-BANDED TIGER BARB” (Desmopuntius hexazona Weber & de Beaufort, 1912) DI CAGAR BIOSPHERE BUKIT BATU, RIAU Melta Rini Fahmi; Siti Zuhriyyah Musthofa; Asep Permana; Mohammad Zamroni; Redy Ginanjar
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.069 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.2.2016.65-76

Abstract

Ikan hias, Desmopuntius hexazona merupakan salah satu ikan yang mendiami perairan gambut di wilayah Asia Tenggara, dari Mekong hingga Malay Peninsula, Sumatra dan Borneo. Sebagai ikan hias D. hexazona telah diperdagangkan secara internasional, namun ketersediaanya masih mengandalkan hasil tangkapan alam, disisi lain upaya budidayanya sangat minim dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan larva D. hexazona hingga ukuran benih dan faktor lingkungan yang mempengaruhi pemijahan sebagai data dukung penelitian ini juga melakukan kajian ekologi ikan D. hexazona. Koleksi dan studi ekologi D. hexazona dilakukan di hutan gambut propinsi Riau pada Agustus2014, sedangkan proses pembenihan dan pengamatan perkembangan larvanya dilakukan di laboratorium dengan menggunakan mikroskop cahaya yang terhubung dengan sistem komputer. Pemijahan ikan D. hexazona terjadi pada media pemeliharaan dengan kandungan bahan organik 200-300 ppm. Proses ontogeni D. hexazona pada suhu 28-30oC terjadi sebanyak 12 fase (stage) perkembangan selama 31 hari yaitu fase bintik mata, fase gelembung renang, fase bukaan mulut, fase penyempurnaan organ mulut, fase membran sirip mereduksi, fase terbentuk dua bagian gelembung renang, fase pita hitam (bar), fase sirip belakang (anal fin), fase sirip perut (pectoral fin) dan fase terakhir yaitu perkembangan larva. Pada hari ke 31 panjang total larva mencapai ±10,17 mm. Organ pencernaan mulai sempurna seiring dengan berkurangnya volume kuning telur yaitu pada hari kesembilan setelah menetas. Perkembangan sirip larva dimulai dari sirip dorsal dan anal selanjutnya sirip ventral dan sirip caudal dan terakhir sirip pectoral. Pigmen pita (barb) mulai terbentuk hari kesembilanbelas setelah menetas dan mulai sempurna pada hari ke-27 setelah menetas. Secara ekologi ikan D. hexazona ditemukan di zona penyangga dan zona inti yaitu perairan gambut dengan kualitas air sebagai berikut; pH: 3,69-3,85; DO: 0,7-4,7 ppm; TDS: 292-346 ppm; konduktifitas: 96-134 µS/L; NO3: 7,4-20,3 ppm dan kandungan bahan organik berkisar antara 200 hingga 400 ppm.Desmopuntius hexazona, or six-banded tiger barb, is a cyprinid fish that inhabits peat swamps and associated with black water streams. This species native to the Southeast Asia, from the Mekong drainage basin to the Malay Peninsula to Sumatra and Borneo. As ornamental fish, D. hexazona has been traded in the international market, but still rely on catches from the wild. Therefore, their sustainability was questionable. This research aims to examine the larvae development of D. hexazona and its associated environmental factors. Data collection and ecology conducted in the peat swamps in Riau Province. While, study of larva development was conducted in the Research and Development Institute for Ornamental Fish Culture. The careful observation of the process embryonic development larval six-barb carried done by using light microscope. The ontogeny process of D. hexazona on normal conditions (28-30oC) allowed into 12 stages based on diagnostic features of the developing embryos for 31 days and total body length 10.17 mm. Bio-ecological studies D. hexazona showed this fish inhabiting the waters with high total organic material content (200-400 ppm).
BEBERAPA JENIS CUCUT BOTOL (squalidae) YANG TERTANGKAP PANCING RAWAI DASAR DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA DAN ASPEK BIOLOGINYA Dharmadi Dharmadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.255 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.2.2006.65-69

Abstract

Terdapat 9 jenis cucut botol yang tertangkap dengan pancing rawai dasar di perairan samudera Hindia yaitu Squalus sp 1; Squalus sp 1 b; Sgualus sp 2, Squalus sp 2b; Squalus sp 2c; Squalus sp 3: Squalus sp 3b; sgualus sp 4: dan squalus sp 4b; Nisbah kelamin cucut botol jantan dan betina 36.65 Sedangkan tingkat kematangan kelamin jantan cucut botol yang dijumpai dibedakan menjadi 3 kategori, yairu krasper yang belum bensi atau belum mengandung kapur (nol carsification), klasper yang telah berisr sebagian zat Kapur (full calsification).

Page 8 of 39 | Total Record : 388


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue