cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 2: Agustus 2025" : 26 Documents clear
Teologi kerja sebagai solusi stres, kesejahteraan sekolah, dan performa kerja guru Kristen pendidikan anak usia dini Simamora, May Rauli; Winarti Agustina; Nababan, Marina Letara; Lumbantobing, Rosalina Apriliani; Lumban Gaol, Samuel Perdana
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/t0ttjz87

Abstract

Christian Early Childhood Education teachers have a dual role that not only provides academic education but also moral and spiritual education in accordance with Christian teachings. This study examines the correlation between school well-being and work stress and their effects on the work performance of Christian PAUD/kindergarten teachers in North Tapanuli, North Sumatra. The results of quantitative research involving 106 Christian PAUD/kindergarten teachers were then examined through a theology-of-work perspective that positions work as integral to divine calling, rather than merely an economic activity or a worldly obligation. Improving work performance based on a theology of work perspective can be realized by prioritizing: 1) loving, having, being, and health to improve teachers' school well-being; 2) good stress management through rest, prayer and reflection, and accepting help from counselors; 3) diligence and patience in work; 4) resilience in workplace suffering; 5) compassion and honesty in relationships with others in the workplace. The practical implications of these findings include policy recommendations to improve school well-being and effective stress-management strategies for Christian PAUD/kindergarten teachers, or the acceptance of professional help, such as counseling services.   Abstrak Guru Kristen anak usia dini memiliki peran ganda yang tidak ha-nya memberikan pendidikan akademik tetapi juga pendidikan moral dan spiritual sesuai dengan ajaran Kristen. Penelitian ini mengeksplorasi ko-relasi kesejahteraan sekolah dan stres kerja terhadap performa kerja guru Kristen tingkat PAUD/TK di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Hasil pene-litian kuantitatif dengan melibatkan 106 guru Kristen PAUD/TK kemudi-an dikaji menggunakan perspektif teologi kerja yang menempatkan kerja sebagai bagian integral dari panggilan ilahi, bukan sekadar aktivitas eko-nomi atau kewajiban duniawi. Meningkatkan performa kerja berdasarkan perspektif teologi kerja dapat diwujudkan dengan mengutamakan: 1) loving, having, being, dan health untuk meningkatkan kesejahteraan sekolah guru; 2) pengelolaan stres yang baik melalui istirahat, doa dan refleksi, serta menerima bantuan konselor; 3) ketekunan dan kesabaran dalam pe-kerjaan; 4) ketahanan dalam penderitaan di tempat kerja; 5) kasih sayang dan kejujuran dalam relasi dengan orang lain di tempat kerja. Implikasi praktis dari temuan ini mencakup rekomendasi kebijakan untuk mening-katkan kesejahteraan sekolah dan strategi mengatasi stres yang efektif bagi guru PAUD/TK Kristen, atau menerima bantuan professional seperti konselor.
Pendampingan pastoral dan kesehatan mental: Sebuah ikhtiar integratif dalam perspektif Alfred Adler Poluan, Alvonce; Nugroho, Fibry Jati
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1212

Abstract

Amid the global mental health crisis, conventional psychotherapy often fails to address the spiritual-existential dimensions of humanity. This study constructs an integrative Pastoral-Adlerian model that bridges Alfred Adler's individual psychology and pastoral theology to provide holistic mental health services. Through a critical literature review, the research synthesizes Adler's concepts—inferiority complex, teleology, and social interest—with Christian theological principles of grace, imago Dei, and vocation. Analysis reveals substantial compatibility: feelings of inferiority are reframed as spaces in which grace operates, while social interest manifests as the restoration of God's image. The model formulates four cyclical transformative stages: building empathic relationships, exploring life narratives, reorienting meaning and purpose, and community reintegration. This Pastoral-Adlerian integration signifies an ethical approach to comprehensively heal injured humanity, converting counseling environments into sanctuaries where faith and psychology collaborate to restore human dignity.   Abstrak Di tengah krisis kesehatan mental global, psikoterapi konvensional sering gagal menyentuh dimensi spiritual-eksistensial manusia. Penelitian ini mengonstruksi model integratif Pastoral-Adlerian yang menjembatani psikologi individual Alfred Adler dengan teologi pastoral untuk menghadirkan layanan kesehatan jiwa holistik. Melalui studi pustaka kritis, penelitian mensintesiskan konsep Adler—inferiority complex, teleologi, dan social interest—dengan prinsip teologi Kristen tentang anugerah, imago Dei, dan panggilan hidup. Hasil analisis menunjukkan kompatibilitas substantif: perasaan inferioritas dimaknai sebagai ruang bagi kasih karunia, sementara kepedulian sosial sebagai pemulihan gambar Allah. Model ini diformulasikan dalam empat tahapan siklik: membangun relasi empatik, eksplorasi narasi hidup, reorientasi makna tujuan, dan reintegrasi komunitas. Integrasi ini merupakan respons etis untuk merawat kemanusiaan yang terluka secara utuh.
Ekoteologi kontekstual: Sintesis tondi dalam Batak Toba dengan tubuh Allah menurut Sallie McFague berdasarkan pemikiran Stephen B. Bevans Sihombing, Jhon Ferdinand
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1331

Abstract

The ecological crisis demands a theological response rooted in local cultural contexts. This study constructs a contextual ecotheology of Batak Toba by dialoguing the concept of tondi in Batak Toba tradition with Sallie McFague's metaphor of the Body of God, employing Stephen B. Bevans' synthesis model. Using a qualitative, literature-study approach, this research examines tondi as a life-giving element that unites humans with all creation within the framework of Debata Mulajadi Nabolon (DMN) and McFin, which understands the universe as God's body, where God is immanently present through the Spirit and Christ. The dialogue reveals four conclusions: first, the Batak Toba community possesses a high ecological consciousness through tondi; second, ecological awareness emphasizes hope for the sustainability of life; third, Batak Toba culture shows an imbalanced attention toward tondi, prioritizing human tondi over nature's; fourth, McFague emphasizes an imaginative relation while tondi emphasizes an ontological one. This study calls for a paradigm shift from anthropocentrism to cosmocentrism.   Abstrak Krisis ekologi menuntut respons teologis yang berakar pada konteks budaya lokal. Penelitian ini mengonstruksi ekoteologi kontekstual Batak Toba melalui dialog konsep tondi dalam tradisi Batak Toba dengan metafora tubuh Allah menurut Sallie McFague, menggunakan model sin-tesis Stephen B. Bevans. Dengan metode kualitatif melalui studi kepustakaan, penelitian ini mengkaji tondi sebagai unsur penghidup yang menyatukan manusia dengan seluruh ciptaan di bawah Debata Mulajadi Nabolon (DMN), serta pemahaman McFague bahwa alam semesta adalah tubuh Allah di mana Allah hadir secara imanen melalui Roh dan Kristus. Dialog ini menghasilkan empat kesimpulan: Pertama, masyarakat Batak Toba memiliki kesadaran ekologis yang tinggi melalui tondi; kedua, kesadaran ekologis menekankan pengharapan akan keberlanjutan kehidupan; ketiga, budaya Batak Toba menunjukkan perhatian yang tidak seimbang terhadap tondi, dengan memprioritaskan tondi manusia di atas tondi alam; keempat, McFague menekankan relasi imajinatif, sedangkan tondi menekankan sifat ontologis. Penelitian ini menyerukan pergeseran paradigma dari antroposentrisme menuju kosmosentrisme.
Implementasi kasih persaudaraan melalui tarian bonet: Studi teologis 1 Petrus 3:8 dalam bingkai masyarakat Atoni Pah Meto Silalahi, Junior Natan; Harefa, Fenieli; Zai, Odaligo
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1412

Abstract

This study examines the application of Christian theological teaching on brotherly love through an analysis of the Bonet Dance in the Atoni Pah Meto community in East Nusa Tenggara. Drawing on 1 Peter 3:8, which emphasizes unity, empathy, and humility, the research examines how these values are embodied in cultural practices through the Bonet Dance. A qualitative ethnographic method is employed to observe and participate directly in the dance, and to engage with the community to document its symbolism and embedded values. The findings reveal that the Bonet Dance effectively reflects the values of brotherly love, strengthens social bonds, builds collective identity, and serves as an educational medium for the younger generation. This dance is not only a cultural expression but also an essential instrument for reinforcing Christian values among the Atoni Pah Meto people, despite challenges posed by social changes that affect its implementation.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi penerapan ajaran kasih persaudaraan dari teologi Kristen melalui analisis Tarian Bonet dalam masyarakat Atoni Pah Meto, Nusa Tenggara Timur. Mengacu pada 1 Petrus 3:8, yang menekankan kesatuan, empati, dan kerendahan hati, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana nilai-nilai ini diterjemahkan dalam praktik budaya melalui Tarian Bonet. Metode kualitatif etnografi digunakan untuk mengamati dan berpartisipasi langsung dalam tarian serta interaksi dengan komunitas guna mendokumentasikan simbolisme dan nilai-nilai yang terkandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tarian Bonet secara efektif merefleksikan nilai-nilai kasih persaudaraan, memperkuat ikatan sosial, membangun identitas kolektif, dan berfungsi sebagai media pembelajaran bagi generasi muda. Tarian ini tidak hanya sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai alat penting dalam memperkuat nilai-nilai ajaran Kristen di kalangan masyarakat Atoni Pah Meto, meski ada tantangan dari perubahan sosial yang mempengaruhi penerapannya
Relasi hostipitalitas masyarakat multikultural dan multireligi: Sebuah upaya mendaratkan moderasi beragama Rantung, Djoys; Batlajery, Agustinus M. L.
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1419

Abstract

Multicultural and multireligious relations in Indonesia, particularly in Minahasa, display a dual nature: hospitality and hostility. Jacques Derrida refers to this as a relationship of hospitality. The Jaton and Werdhi Agung communities are real-life examples of how relationships are built on hospitality. Still, at another level, there are relationships of power, determination, and hostility toward adherents of other religions. That is why the idea of religious moderation has emerged as an alternative to hospitality, intended to foster a more hospitable relationship. Using a descriptive qualitative analysis, this study draws on books, articles, and interviews to conclude that the concept of religious moderation offers an alternative framework for intercultural and interreligious peacemaking.   Abstrak Relasi masyarakat multikultural dan multireligi di Indonesia, khususnya Minahasa, menampilkan hubungan yang berwajah ganda: keramahan dan permusuhan. Jacques Derrida menyebutnya sebagai relasi hostipitalitas. Komunitas masyarakat Jaton dan Werdhi Agung merupakan potret nyata bagaimana hubungan yang terbangun didasarkan pada keramahan, namun pada lapisan tertentu ada relasi kekuasaan, determinasi, dan permusuhan terhadap yang berbeda agama. Itu sebabnya, gagasan moderasi beragama hadir sebagai salah satu alternatif bagi hubungan hos-tipitalitas untuk dapat mencapai relasi yang hospitable. Dengan menggu-nakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis, penelitian ini mengguna-kan referensi buku, artikel dan wawancara, maka dapat ditarik kesimpul-an bahwa konsep moderasi beragama merupakan gagasan alternatif bagi perdamaian antara kelompok yang berbeda kultur dan agama.
Pneumatologi kepemimpinan: Rekonstruksi teologis servant leadership dalam formasi mahasiswa teologi di era post-secular Sihombing, Robinhot; Manullang, Tetti; Pardosi, Ruslan J.; Panggabean, Justice Zeni Zari; Manik, Surnika R.
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1232

Abstract

The leadership crisis in Indonesian theological higher education reveals a fundamental tension between the transactional-managerial leadership model and the theological imperative of Christocentric character formation. This article constructs a pneumatological framework of servant leadership that goes beyond the behavioral-instrumental approach to the ontological formation of theology students. Through biblical hermene-utics (Mrk 10:41-45; Jn. 13:1-17; Phil. 2:5-11) and a phenomenological analysis of the formative experiences of students at the Institut Agama Kristen Negeri Tarutung, this study identifies three constitutive dimensions: Christological kenosis as a paradigm of decentering the ego, pneumatological empowerment within the formative community, and ecclesial praxis as a laboratory for altruistic leadership. The findings demonstrate that the integration of liturgy, relational mentoring, and community immersion results in a transformation of leadership identity from technical competence to a habitus of service. This article contributes to the practical theology of Christian higher education by offering a formative model that synthesizes biblical orthodoxy, spiritual tradition, and transformative pedagogy.   Abstrak Krisis kepemimpinan dalam pendidikan tinggi teologi Indonesia mengungkapkan ketegangan fundamental antara model kepemimpinan transaksional-manajerial dengan imperatif teologis pembentukan karakter kristosentris. Artikel ini mengonstruksi kerangka pneumatologis servant leadership yang melampaui pendekatan behavioral-instrumental menuju formasi ontologis mahasiswa teologi. Melalui hermeneutika biblis (Mrk. 10:41-45; Yoh. 13:1-17; Fil. 2:5-11) dan analisis fenomenologis terhadap pengalaman formatif mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri Tarutung, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi konstitutif, seperti kenosis kristologis sebagai paradigma ego-decentering, pemberdayaan pneumatologis dalam komunitas formatif, dan praksis eklesial sebagai laboratorium kepemimpinan altruistis. Temuan menunjukkan bahwa integrasi liturgi, mentoring relasional, dan imersi komunitas menghasilkan transformasi identitas kepemimpinan yang melampaui kompetensi teknis menuju habitus melayani. Artikel ini berkontribusi pada teologi praktis pendidikan tinggi Kristen dengan menawarkan model formatif yang menyintesis ortodoksi biblis, tradisi spiritual, dan pedagogi transformatif

Page 3 of 3 | Total Record : 26