cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
The impact of the gospel on Kariwari-Kenewa culture in Papua Patasik, Serli
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.650

Abstract

Culture concerns the whole life of people who live and practice what they see as the more horizontal dimension; however, no one can be separated from the cultural dimensions. The friction between culture and religion, as a result, encounters problems. On that situation, the current research about Gospel and Kariwari - Kenewa culture is conducted. It focuses on coaching the young generation as successor-centered culture in Kariwari, Papua. At the same time, Kenewa is music bamboo that has mystical strength. The goal of this research is that the tribe who conducts the activities might be released from evil and live in Gospel.
Teologi Kerahiman Allah: Sebuah respons teologis terhadap teknologi ektogenesis Abraham, Rubin Adi; Purnama, Jellia Puspa
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.486

Abstract

Ectogenesis technology, where the process of pregnancy can occur outside the human body through the use of an artificial womb, raises the question of whether the use of artificial wombs is in line with the concept of God's Womb Theology, as humans are created to reflect God's presence over this world. This study explores the theological construction of God's mercy to gain a Biblical perspective on the existence of Ectogenesis technology currently being developed. The study employs a qualitative method by conducting a literature review to find answers. Based on the conducted study, it is found that the existence of artificial wombs is not in harmony with the concept of God’s Womb Theology. The planned use of artificial intelligence in these artificial wombs does not reflect the character and power of God, which are manifested through the natural process of pregnancy within the human womb. This research aims to enable Christians to hold a firm and unified stance in responding to the existence of Ectogenesis technology while also contributing thoughtful insights to other academic disciplines. This is because the reproduction process is intertwined with God's presence as the Creator.AbstrakTeknologi Ektogenesis di mana proses kehamilan dapat terjadi di luar tubuh manusia melalui penggunaan rahim buatan menimbulkan pemikiran apakah penggunaan rahim buatan ini selaras dengan teologi kerahiman Allah, karena manusia diciptakan untuk merefleksikan keberadaan Allah atas dunia ini. Penelitian ini melakukan kajian konstruksi teologis kerahiman Allah untuk mendapatkan tinjauan Alkitab terhadap keberadaan teknologi Ektogenesis yang saat ini tengah dikembangkan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan melakukan kajian literatur untuk dapat menemukan jawaban. Berdasarkan kajian yang dilakukan ditemukan bahwa keberadaan rahim buatan tidak selaras dengan teologi kerahiman Allah, di mana rahim buatan yang juga direncanakan akan menggunakan kecerdasan buatan dalam pelaksanaannya tidak merefleksikan karakter dan kuasa Allah yang terwujud melalui proses kehamilan di dalam kandungan manusia. Melalui penelitian ini diharapkan agar umat Kristen bisa memiliki sikap yang tegas dan solid dalam menanggapi keberadaan teknologi Ektogenesis ini serta memberikan sumbangan pemikiran bagi bidang disiplin ilmu lainnya sebab proses reproduksi merupakan proses yang terintegrasi dengan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta.
Penguatan karakter moderasi beragama melalui literasi keagamaan dalam pendidikan kristiani Sawan, Fransiskus; Payong, Marselus Ruben
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.707

Abstract

Religious moderation is one of the themes that has been frequently researched in recent years. This topic is examined from various perspectives, including a Christian perspective. In the context of Christian education, studies on this topic generally focus on efforts to build a biblical foundation for moderate religious perspectives, attitudes, and practices. These studies are essential as a form of religious literacy. But so far, there has yet to be research on strengthening the character of religious moderation through the religious literacy movement in Christian education so that the values of religious moderation are internalized into the nature of students. This research aims to fill this gap. The method used is a descriptive qualitative method with a literature study approach. The results show that strengthening the character of religious moderation will be effective if religious literacy is carried out as a participatory movement through learning activities, developing school culture, extracurricular activities, and activities at home/church/community. The results of this study enrich the literature on moderation and religious literacy. They are helpful as an essential input for educators committed to forming the character of religious moderation in students. AbstrakModerasi beragama merupakan salah satu tema yang sering diteliti selama beberapa tahun terakhir ini. Topik ini dikaji dari berbagai cara pandang termasuk cara pandang kristiani. Dalam konteks pendidikan kristiani, studi tentang topik ini umumnya berfokus pada upaya membangun landasan biblis cara pandang, sikap dan praktik hidup beragama yang moderat. Berbagai kajian ini penting sebagai bentuk literasi agama. Namun sejauh ini, belum ada penelitian tentang model penguatan karakter moderasi beragama melalui gerakan literasi agama dalam pendidikan kristiani agar nilai-nilai moderasi beragama terinternalisasi menjadi karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengisi gap ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasilnya menunjukkan bahwa penguatan karakter moderasi beragama akan efektif jika literasi keagamaan dilakukan sebagai gerakan partisipatif melalui kegiatan pembelajaran, pengembangan budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan di rumah/gereja/masyarakat. Hasil penelitian ini memperkaya literatur moderasi dan literasi keagamaan serta berguna sebagai input yang penting bagi para pendidik yang berkomitmen untuk membentuk karakter moderasi beragama dalam diri peserta didik.
Fenomena narsis beragama di media sosial: Sebuah analisis-reflektif Matius 6:1 Haposan Silalahi; Yosua Sibarani; Kevin Boris Marbun
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.566

Abstract

Sometimes social media is used to insult and attack people who do not share the same faith or religion and spiritual understanding through religious narcissism. This article explains the meaning of Jesus' warning in Matthew 6:1 regarding religious activities as God's people's efforts to reject the phenomenon of religious narcissism on social media. Through the exegetical study method, the principle contained in Matthew 6:1 is not showing off and seeking human praise in carrying out religious or pious activities. Social media is an opportunity to show the existence of a believer's faith to bring others to repentance, not a place to show off piety.  AbstrakTerkadang media sosial digunakan untuk menghina dan menyerang orang yang tidak memiliki keyakinan atau agama serta pemahaman spiritual yang sama melalui perilaku narsisme beragama. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna teguran Yesus dalam Matius 6:1 tentang kegiatan agama sebagai upaya umat Tuhan menolak fenomena narsisme beragama di media sosial. Melalui metode studi hermeneutik, prinsip yang terkandung dalam Matius 6:1 adalah tidak pamer dan mencari pujian manusia dalam melakukan kegiatan agama atau kesalehan. Pada dasarnya, media sosial merupakan peluang untuk menunjukkan eksistensi iman orang percaya untuk membawa orang lain kepada pertobatan, bukan ajang pamer kesalehan.
Ritual midodareni sebagai medium spiritualitas Kristen: Perspektif triad-theological Steven Jack Land Setyobekti, Andreas Budi
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.798

Abstract

Midodareni, carried out in preparation for marriage, still needs to be understood in Christian theology. Midodareni is a Javanese tradition that must be eliminated after someone believes in Jesus. This tension between Christian faith and culture continues into the modern era. If it continues to be preserved, culture will be eliminated and replaced with religious 'culture'. Therefore, an analysis of symbols, activities, and philosophy is needed to be used as a medium for Christian spirituality. This research examines Midodareni's wedding preparations from the perspective of Steven Jack Land's theological triad. The research method used for analysis describes the midodareni tradition with Steven Jack Land's theological triad approach. The research results show that not all midodareni preparations can be applied to Christian wedding preparations. Some processes can be carried out by transforming meaning, but others cannot. Midodareni has implications for society to encourage harmony and holistic education for bridal couples. AbstrakMidodareni dilakukan untuk persiapan pernikahan masih kerap disalahpahami dalam teologi Kristen. Midodareni dianggap sebagai tradisi Kejawen yang harus dihilangkan setelah seseorang percaya kepada Yesus. Ketegangan antara iman Kristen dan budaya ini terus bergulir hingga era modern ini; jika terus dipertahankan, maka budaya menjadi tersingkirkan dan digantikan dengan ‘budaya’ agama. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap simbol-simbol, aktivitas-aktivitas, dan filosofi untuk dijadikan sebagai medium spiritualitas Kristen. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji  persiapan pernikahan Midodareni dari perspektif triad theological Steven Jack Land. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif tentang tradisi midodareni dengan pendekatan triad theological Steven Jack Land. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan midodareni tidak semuanya dapat diterapkan dalam persiapan pernikahan iman Kristen. Ada prosesi yang dapat dilakukan dengan mentransformasi maknanya, ada juga yang sama sekali tidak perlu dilakukan. Midodareni berimplikasi kepada peran komunitas untuk mendorong keharmonisan dan pendidikan holistik bagi pasangan mempelai.
Pendidikan kristiani bagi komunitas iman di tengah krisis kepercayaan antaranggota Situmorang, Merri Natalia
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.446

Abstract

A crisis of trust between members is one of the struggles of faith communities. This struggle must slowly be overcome and transformed into congregational unity. This effort can be carried out by educating congregations built through Christian education in faith communities. This effort is carried out by mapping the crisis of trust between members into congregational unity, church positions increasing congregational unity, and Christian education in the faith community. This step uses library research methods on related books and journals. The research results show that educating the congregation can be one of the steps that can be taken to overcome the crisis of trust that occurs in faith communities. However, this process is carried out from a conceptual perspective so that I open up space for readers or that further research can produce empirical tests of my proposed ideas. AbstrakKrisis kepercayaan antaranggota merupakan salah satu pergumulan komunitas iman. Pergumulan ini perlahan harus diatasi dan ditransformasi menjadi kesatuan jemaat. Saya mengusulkan upaya ini dapat dilakukan melalui mendidik jemaat yang dibangun melalui pendidikan kristiani dalam komunitas iman. Upaya ini dikerjakan dengan melibatkan pemetaan mentransformasi krisis kepercayaan antaranggota menjadi kesatuan jemaat, jabatan gereja mendongkrak kesatuan jemaat, PK dalam komunitas iman. Langkah ini dikerjakan dengan menggunakan metode penelitian pustaka terhadap buku dna jurnal yang berkaitan dengan itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendidik jemaat bisa menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh guna mengatasi krisis kepercayaan yang terjadi di komunitas iman. Meski demikian, saya menyadari bahwa proses ini dikerjakan dari segi konseptual sehingga saya membuka ruang pembaca atau penelitian selanjutnya dapat menghasilkan pengujian empiris terhadap gagasan yang sudah saya usulkan.
Imaji dan interpretasi bencana dalam Perjanjian Lama Tarigan, Jonmedi; Viktorahadi, R.F. Bhanu
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.367

Abstract

Disasters are an inseparable part of the dynamics of human history. The texts of the Old Testament Scriptures contain various kinds of disaster narratives. In turn, these texts provide images and interpretations of disasters. There are three images and interpretations of Old Testament Scriptures for disasters. First, as God’s judgment and punishment. Second, as a result of human persecution of nature, and as a presence, power. Third, God’s sovereignty over nature. This study has two objectives: to describe images and interpretations and to find their relevance to the current meaning of disasters. First, it describes the imagery and interpretation of disasters in the Old Testament Scriptures. Second, find the significance of these images and interpretations in interpreting disasters in human life today. This research uses text analysis methods to achieve these two objectives as a qualitative literature study. This research finds the conclusion and the relevance of images and interpretations of disasters in the Old Testament Scriptures as an invitation to carry out ‘ecological repentance’. AbstrakBencana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika sejarah kehidupan manusia. Teks-teks Kitab Suci Perjanjian Lama memuat aneka macam narasi kebencanaan. Pada gilirannya, teks-teks ini memberikan imaji dan interpretasi atas bencana. Ada tiga imaji dan interpretasi teks-teks Kitab Suci Perjanjian Lama atas bencana. Pertama, sebagai penghakiman dan hukuman Tuhan. Kedua, sebagai akibat penganiayaan manusia terhadap alam, dan sebagai kehadiran, kuasa. Ketiga, kedaulatan Tuhan atas alam. Guna mendeskripsikan imaji dan interpretasi sekaligus menemukan relevansinya untuk pemaknaan bencana yang terjadi saat ini penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, mendeskripsikan imaji dan interpretasi bencana dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Kedua, mencari dan menemukan relevansi imaji dan interpretasi tersebut dalam memaknai bencana dalam kehidupan manusia dewasa ini. Untuk mencapai kedua tujuan itu, sebagai penelitian kualitatif literatur, penelitian ini memakai metode analisis teks. Penelitian ini menemukan simpulan sekaligus relevansi imaji dan interpretasi bencana dalam Kitab Suci Perjanjian lama itu dalam wujud ajakan untuk melaksanakan ‘pertobatan ekologis’.
Hospitalitas sebagai virtue kepemimpinan dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Kristen Rogahang, Heldy Jerry; Umar, Sry Nurmawati; Massang, Berdinata
KURIOS Vol. 8 No. 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.255

Abstract

This research aims to determine whether there is an influence of the principal's leadership on teacher performance at SMTK North Sulawesi. The research method used is associative quantitative research using non-random sampling, namely purposive sampling. Data on general and Christian principal leadership and teacher performance were obtained using a Likert measurement scale. The data analysis techniques used are simple regression analysis, T test and coefficient of determination. The research results show that there is a significant influence between classroom management on learning motivation for Christian Religious Education through the equation Y=32.821+0.828X with a correlation coefficient of 0.974. This means that the better the principal's leadership, the higher the teacher's performance. Furthermore, the results obtained from calculating the coefficient of determination show that there is an influence of the principal's leadership on teacher performance of 93.2% and the remaining 6.8% is influenced by other factors not examined by researchers.
Rekonstruksi model pendidikan spritual di era revolusi 4.0 melalui pembacaan Ulangan 6:4-7 Maidiantus Tanyid; Junjung Kataruhan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 9, No 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.700

Abstract

This paper discusses the model of spiritual education based on Deuteronomy 6:7 in the era of Revolution 4.0. The situation provides understanding for teachers as parents to recognize the forms of spiritual teaching they can apply at school. The purpose of this research is achieved by using a collaboration of qualitative description methods with hermeneutics. The contribution of the spiritual education model version of Deuteronomy 6:7 provides the role of a teacher to apply spiritual education continuously both at school and at every opportunity, so every Christian is obliged to adorn life with good spirituality, especially in preparing students for the era of revolution 4.0, which is a system that leads to all orders, especially in the current education system. AbstrakTulisan ini membahas tentang model pendidikan rohani berdasarkan Ulangan 6:7 di era revolusi 4.0. Situasi tersebut memberikan pengertian bagi para guru sebagai orang tua untuk mengenal bentuk-bentuk pendidikan rohani yang dapat mereka terapkan di sekolah. Tujuan penelitian ini dicapai dengan menggunakan kolaborasi metode kualitatif deskripsi dengan hermeneutika. Kontribusi model pendidikan rohani versi Ulangan 6:7 memberikan peran seorang guru mengaplikasikan pendidikan rohani secara terus-menerus baik di sekolah maupun di setiap kesempatan, maka setiap orang Kristen wajib menghiasi kehidupan dengan spiritualitas yang baik, terutama dalam menyiapkan peserta didik dalam mempersiapkan diri menghadapi era revolusi 4.0. yang merupakan sebuah sistem yang menuju pada semua tatanan secara khusus pada sistem pendidikan saat ini.
Pembelajaran berbasis semiotika bagi kecerdasan spiritual anak dalam konteks keluarga Kristen Toraja Rantesalu, Syani Bombongan; Herman, Joffri
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.766

Abstract

The struggle to educate children spiritually cannot be separated from the question, is learning carried out effectively in various ways, or is it burdensome? There are many ways to achieve educational goals, from changing the curriculum. However, something that is sometimes forgotten is the study of semiotics, which is related to signs, where these signs have meaning and can be understood. In the Toraja context, many signs are generally understood, whether in symbols or poetry, which are generally understood in terms of their meaning and purpose. If it is related to spirituality, then this sign, which is generally understood, is related to beliefs in life, values, and rules adhered to by the Torajan people. This research aims to develop children's spirituality by analyzing the symbols in Tana Toraja based on learning Deuteronomy 6:4-9. Semiotics-based learning is very effective and interesting because it does not require children to memorize or force them to understand learning with new concepts but with symbols that are ingrained, both verbal and non-verbal. The results of this research can also be a reference for learning in developing spiritual intelligence globally because symbols are so close to everyone in various regions and countries. AbstrakPergumulan dalam mencerdaskan anak secara spiritual tidak terlepas dari pertanyaan, apakah pembelajaran itu terlaksanakan secara efektif dengan berbagai cara, ataukah justru membebani? Banyak cara yang ditempuh untuk sampain pada tujuan pendidikan yang dimulai dari perubahan kurikulum. Namun, hal yang terkadang dilupakan adalah pembelajaran semiotika, yang berkaitan dengan tanda, di mana tanda tersebut memiliki makna dan dapat dimengerti. Dalam konteks Toraja, banyak tanda yang dipahami secara umum baik itu berupa simbol, mau-pun syair, yang kemudian dipahami secara umum baik makna maupun tujuannya. Jika dikaitkan dengan spiritualitas, maka tanda yang secara umum dipahami ini berkaitan dengan kepercayaan atas nilai-nilai kehidu-pan maupun aturan yang dianut oleh orang Toraja. Penelitian ini bertu-juan untuk mengembangkan spiritualitas anak dengan menganalisis sim-bol-simbol yang ada di Tana Toraja berdasar pada pembelajaran Ulangan 6:4-9. Pembelajaran berbasis semiotika sangatlah efektif dan menarik karena tidak menuntut anak untuk menghafal ataupun memaksa mema-hami pembelajaran dengan konsep yang baru, melainkan dengan simbol-simbol yang telah mendarah daging, baik secara verbal maupun non-verbal. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan pembelajaran dalam mencerdaskan spiritual secara global oleh karena simbol begitu dekat dengan setiap orang di berbagai daerah maupun negara.