cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Mengampuni dan seni berkomunikasi: Membaca ulang Kidung Agung 1-4 dalam bingkai penguatan keluarga pelayan gerejawi Hombing, Herdiana Boru
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.576

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan tindakan mengampuni sebagai sebuah seni dalam berkomunikasi. Metode yang digunakan adalah deskriptif interpretatif melalui pembacaan topikal naratif Kidung Agung.
Membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan kristiani: Studi kasus pada mahasiswa IAKN Manado Poluan, Agnes Relly
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.387

Abstract

Various natural disasters recently have shown how important it is to build awareness of ecology within the framework of a life of faith. The importance of this awareness has also given rise to ecotheological studies within Christian religious universities. This research aims to analyze the ecological awareness of IAKN Manado students by applying qualitative research methods through a case study approach. The research results reveal that ecological awareness in the IAKN Manado environment is still limited to particular groups, namely some lecturers and staff, where this awareness is stimulated by appeals, warnings, and supervision from leaders regarding the campus environment. In contrast, among students, this awareness is still low. This is due to the understanding that ecological issues are social problems unrelated to Christian faith and spirituality. AbstrakBeragam peristiwa bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini telah memperlihatkan betapa kesadaran akan ekologi sangat penting dibangun dalam kerangka hidup beriman. Pentingnya kesadaran tersebut juga telah memunculkan kajian-kajian ekoteologis di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesadaran ekologi mahasiswa IAKN Manado, dengan menerapkan metode penelitian kualitif melalui pendekatan studi kasus. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kesadaran ekologis di lingkungan IAKN Manado masih terbatas pada kelompok tertentu, yakni pada sebagian dosen dan pegawai, yang mana kesadaran tersebut distimilasi oleh himbauan, teguran, dan pengawasan dari pimpinan terkait kebersihan lingkungan kampus. Sementara itu, di kalangan mahasiswa, kesadaran tersebut masih rendah. Hal ini disebabkan pemahaman terhadap persoalan ekologi merupakan masalah sosial dan tidak terkait dengan iman dan spiritualitas kristiani.
Theology of Christian education on leading toward spiritual transformation in the frame of religious moderation in digital society context Marpaung, Agus Marulitua; Hwang, Byung June
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.746

Abstract

Christian education is being challenged by the transformation of culture in a digital society and some problems that still occur due to religious diversity in Indonesia, such as intolerance, discrimination, and radicalism. Religious moderation is one of the priority programs of The Ministry of Religion Republic of Indonesia to achieve harmony and peace in society. Therefore, this research aims to explore the Theological study of Christian education in leading toward spiritual transformation based on religious moderation in a digital society. Using a qualitative research methodology with a Library-research approach, this study explored studies and literature reviews on the Theology of Christian education, spiritual transformation, and religious moderation. Based on the results of the data analysis in the literature review, This research formulates spiritual transformation in the frame of Religious moderation, such as transforming into a righteous life, loving life, and good citizenship.
Paralelisme Yanus dalam Habakuk 3: Pendekatan analisis semantik dan struktur Santoso, Agus; Sindoro, Pujiastuti Liza; Putrawan, Bobby Kurnia
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.640

Abstract

Ancient Near Eastern poetry has a different style from poetry known in Indonesia. One distinctive style of Semitic poetry is the style known as Parallelismus Membrorum. Among this type of parallelism, there is a very distinctive style of Parallelism, which in the mid-20th century was known as Janus parallelism. This paper reviews some of the Janus Parallelism in one of the Hebrew books, the book of the prophet Habakkuk, chapter 3. This paper uses a method of structure and semantics analysis of poetry. By knowing this type of Janus Parallelism, it is expected that translators of Hebrew poetry, in particular, and Semitic poetry, in general, should be careful because it turns out that in Semitic poetry, there is a literary style of this Semitic poem. AbstrakPuisi Timur Tengah Kuna memiliki gaya yang berbeda dengan puisi yang dikenal di Indonesia. Salah satu gaya khas puisi Semit adalah gaya yang dikenal dengan Parallelismus Membrorum. Di antara jenis paralelisme ini, ada satu gaya paralelisme yang sangat khas, yang pada pertengahan abad ke-20 ini ditemukan yang dikenal dengan istilah teknis paralelisme Yanus. Makalah ini mengulas beberapa paralelisme Yanus pada salah satu kitab Ibrani, yaitu kitab nabi Habakuk pasal 3. Makalah ini memakai metode analisa struktur puisi dan semantis. Dengan mengetahui jenis paralelisme Yanus ini, maka diharapkan para penerjemah puisi Ibrani pada khususnya dan puisi rumpun Semit pada umumnya harus berhati-hati, karena ternyata dalam puisi Semit terdapat gaya sastra puisi.
Hospitalitas kepemimpinan kristiani dalam falsafah elek marboru: Formasi spiritualitas pemimpin yang menghargai bawahan Butar-butar, Grecetinovitria Merliana; Purba, Melsa Yohana; Manik, Lismawati; Manalu, Sri Agustina
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.243

Abstract

Christian leadership ideally reflects the leadership of Christ, which prioritizes the values of humility and respect for others, including subordinates. Respecting subordinates with a spirit of equality is challenging because there is a negative tendency in authority hegemony. However, we argue that Christian hospitality can be a spiritual formation that can accept diversity up to hierarchical differences and treat them as equals. This article offers a culture-based construction of Christian hospitality based on the Elek Marboru philosophy as a means for Christian leaders to respect their subordinates or the people they lead. Using descriptive analysis methods on literature data from studies on similar topics, the elek Barbour philosophy in the dalihan natolu culture shows an attitude of acceptance and equal treatment of groups considered subordinate, namely the Boru. This research concludes that in the context of overseas Batak culture or communities, the values of the elek marboru philosophy can be applied by leaders to respect subordinates or treat them as equals. AbstrakKepemimpinan Kristen idealnya mencerminkan kepemimpinan Kristus yang mengedepankan nilai-nilai kerendahan hati dan menghor-mati orang lain, termasuk bawahannya. Menghargai bawahan dengan spirit kesetaraan bukanlah hal yang mudah untuk dipraktikkan, karena ada kecenderungan negatif dalam hegemoni kekuasaan. Namun demikian, kami berargumentasi bahwa hospitalitas kristiani dapat menjadi formasi spiritual yang dapat menerima keberagaman hingga perbedaan hierarkis dan memperlakukannya setara.  Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi hospitalitas kristiani berbasis budaya pada falsafah elek marboru sebagai cara pemimpin kristiani dapat menghargai bawahan atau orang yang dipimpinnya. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada data literatur hasil kajian dengan topik serupa, maka falsafah elek marboru dalam budaya dalihan natolu memperlihatkan sikap penerimaan dan perlakukan setara pada kelompok yang dianggap subordinasi, yakni boru. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa dalam konteks budaya atau komunitas Batak di perantauan, nilai falsafah elek marboru dapat diterapkan oleh pemimpin dalam rangka menghargai bawahan atau memperlakukannya setara. 
Penggembalaan spiral: Memetakan tantangan penggembalaan di era posmodern melalui refleksi naratif perempuan Siro-Fenisia Purwoko, Paulus Sentot; Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.240

Abstract

The practice of pastoral is required to be able to follow and respond to the dynamics of developments that have reached the postmodern era. There is a tendency in the postmodern era to present a post-truth reality, where many things are contrary to the values of the Christian faith. This study aims to descriptively stimulate pastoral needs in the postmodern era through identified challenges. This study uses descriptive-analysis methods and narrative analogies on the text Mark 7:24-30. The study results show a pattern of priorities in serving practices; This is analogous to the practice of grazing. By using the analogy of service that gives priority, spiral shepherding is an offer that needs to be actualized in Christian shepherding in the postmodern era. AbstrakDunia penggembalaan dituntut agar dapat mengikuti sekaligus merespons dinamika perkembangan zaman yang telah sampai pada era posmodern. Ada kecenderungan era posmodern menghadirkan realitas post-truth, di mana banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai iman kristiani. Kajian ini bertujuan untuk menstimulasi secara deskriptif kebu-tuhan penggembalaan di era posmodern melalui tantangan yang diidenti-fikasi. Kajian ini menggunakan metode analisis-deskriptif dan analogi naratif pada teks Markus 7:24-30. Hasil kajian memperlihatkan adanya pola prioritas pada praktik melayani; hal ini yang dianalogikan pada praktik penggembalaan. Dengan menggunakan analogi pelayanan yang memberikan prioritas, maka penggembalaan spiral menjadi tawaran yang perlu diaktualisasikan dalam penggembalaan kristiani di era posmodern.  
Repons teologis atas kekhawatiran ibadah dan kepemimpinan digital Gaurifa, Suardin
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.714

Abstract

The availability of 5th-generation digital technology will significantly enhance digital transfer, and the world will look different with the increasing presence of immersive technology and digital decision systems. The current paper investigates the facts regarding 5G upon which prediction can be made on how it will likely impact the church. Concerns have risen among church leadership as a reaction to some churches’ move towards adapting technologies such as immersive technology and digital decision-making systems. The paper presents some responses to these concerns. It looks at possible opportunities to utilize future digital technologies for outreach and expanding God’s kingdom.   Abstrak Transfer digital akan sangat ditingkatkan dengan ketersediaan teknologi digital Generasi ke-5 dan dunia akan terlihat sangat berbeda dengan meningkatnya kehadiran teknologi imersif dan sistem keputusan berbasis digital. Makalah saat ini menyelidiki fakta-fakta mengenai 5G di mana prediksi dapat dibuat tentang bagaimana teknologi tersebut kemungkinan akan berdampak pada gereja. Menanggapi beberapa gereja yang bergerak ke arah adaptasi terhadap teknologi seperti teknologi imersif dan sistem pengambilan keputusan digital, timbul keprihatinan di antara para pemimpin gereja. Makalah ini menyajikan beberapa tanggapan atas keprihatinan ini dan melihat beberapa kemungkinan peluang pemanfaatan teknologi digital di masa depan untuk tujuan penjangkauan dan demi perluasan kerajaan Tuhan
Fungsi pendampingan pastoral pada ritual kematian: Sebuah perspektif sosiologis-teologis pada budaya suku Dayak Ngaju Rina Teriasi
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.675

Abstract

Losing a family member is integral to human life. Losses due to death are the biggest crisis for humanity. The event of death makes people feel lost and lonely in the depths of this relationship and experience emotional wounds that must be healed. This research aims to describe the meaning of the death ritual of Tantulak Ambun Rutas Matei from the Dayak Ngaju tribe. Using descriptive analysis methods, this research reveals that the ritual symbolically reunites the wife/husband and children of the dead person into life with a new status and role in society, where after the purification process, they are freed from all bad luck or evil influences. as a result of death and are brought back to a normal state of life after the ritual is carried out. This ritual also helps grieving people so that their grieving process goes well. Through good pastoral care, we can help bereaved family members obtain emotional and spiritual relief and complete their grief process well. AbstrakKehilangan anggota keluarga merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Kerugian akibat kematian merupakan krisis terbesar bagi umat manusia. Peristiwa kematian membuat orang merasa tersesat dan kesepian dalam kedalaman relasional tersebut, serta mengalami luka emosional yang harus disembuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ritual kematian Tantulak Ambun Rutas Matei dari suku Dayak Ngaju. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, penelitian ini mengungkapkan bahwa ritual tersebut secara simbolis menyatukan kembali istri/suami dan anak dari orang yang mati ke dalam kehidupan dengan status dan peran yang baru di masyarakat, yang setelah proses penyucian, mereka dibebaskan dari segala sial atau pengaruh buruk akibat kematian, dan dibawa kembali ke dalam keadaan kehidupan yang normal setelah ritual dilaksanakan. Ritual ini juga menolong orang berdukacita agar proses dukacitanya berjalan dengan baik. Melalui pendampingan pastoral yang baik, menolong anggota keluarga yang berduka untuk memperoleh kelegaan secara emosional dan spiritual, serta dapat menyelesaikan proses dukacitanya dengan baik pula
Koinonia posdigital sebagai upaya moralisasi homo digitalis Leobisa, Jonathan; Paat, Anggreani Norma
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.385

Abstract

This research aims to analyze the function of social media in forming the character of Christian youth leaders. The method used in this research is descriptive-qualitative with observational data collection techniques at the GMIT locus of the Mawar Saron Liliba Congregation, as well as literature studies that strengthen theories about digital world phenomena. The research results show that young people use social media at the GMIT Mawar Saron Liliba Congregation. This highly impacts behavior and characterless respect of worship services, such as listening to sermons. This condition triggers the urgency of character formation and moralization in groups of teenagers who are often identified as homo digitalis or people who live in a digital world. In conclusion, the church, through its leaders, must be able to moralize congregation members, especially youth who are often referred to as homo digitalis.AbstrakTujuan penelitian ini adalah menganalisis fungsi media sosial dalam pembentukan karakter pemimpin pemuda-remaja Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi pada lokus GMIT Jemaat Mawar Saron Liliba, serta studi literatur yang memperkuat teori tentang fenomena dunia digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh para pemuda-remaja GMIT Jemaat Mawar Saron Liliba sangat tinggi, sehingga berdampak pada perilaku dan karakter yang kurang menghormati pelayanan ibadah, seperti mendengarkan khotbah. Kondisi ini memicu urgensitas pembentukan karakter dan moralisasi pada kelompok remaja yang kerap diidentifikasi sebagai homo digitalis atau orang-orang yang lekat dengan dunia digital. Simpulannya, gereja, melalui para pemimpinnya, harus mampu melakukan moralisasi kepada anggota jemaat, khususnya pemuda-remaja yang kerap disebut sebagai homo digitalis.
Membangun komunitas yang egaliter: Analisis sosio-kultural tentang persoalan Onesimus dalam Filemon 1:8-22 Bastian, Yonas; Aryanto, Antonius Galih Arga Wiwin
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.386

Abstract

This research paper about Onesimus attempts to analyze the letter of Philemon by employing historical-critical methods, especially approaching the problem of Onesimus in the context of Roman Slavery in the first century. The approach highlights the status of Onesimus as a slave who runs away from his master, Philemon. According to Roman Law, Onesimus must be punished for his position as a fugitive. In his letter, Paul desires to solve the problem between the slave and his master in the context of a Christian relationship. He beseeches Philemon to accept Onesimus back, not as a slave but as a brother in Christ. In the Greco-Roman community, Paul teaches the community to get one another as brothers and sisters because of their baptism. Although the members have different social statuses, including slave and master, Jewish and Greek, man and woman, all of them are united in the same faith in Christ. Paul’s letter to Philemon becomes a pastoral encouragement emphasizing love as the foundation for Christian life and strengthening the community to forgive and accept one another.AbstrakPaper penelitian tentang Onesimus ini bertujuan untuk menga-nalisis teks Filemon menggunakan metode historis kritis dengan melaku-kan pendekatan pada persoalan Onesimus dari konteks sosial budaya ten-tang sistem perbudakan Romawi di abad pertama. Pendekatan itu mem-perjelas status Onesimus sebagai seorang budak yang melarikan diri dari tuannya, Filemon. Berdasar hukum Romawi, Onesimus harus dihukum karena menjadi fugitivus. Dalam suratnya, Paulus berusaha menyelesai-kan persoalan relasi budak dan tuannya ini dalam sebuah relasi jemaat Kristiani. Paulus meminta Filemon untuk menerima kembali Onesimus bukan hanya sebagai budak, tetapi juga sebagai saudara dalam Kristus. Dalam komunitas yang kental dengan budaya Romawi itu, Paulus meng-ajar mereka untuk menerima sesamanya sebagai saudara karena pembap-tisan yang sama. Meskipun anggota jemaat memiliki perbedaan status sosial termasuk tuan dan budak, orang Yahudi dan orang Yunani, laki-laki dan perempuan, mereka disatukan dalam iman yang sama akan Kristus. Surat kepada Filemon menjadi anjuran pastoral Paulus yang menekankan kasih sebagai dasar hidup Kristiani dan mendorong komunitas untuk sa-ling mengampuni dan menerima satu sama lain.