cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Model pembelajaran multiple intelligences pendidikan agama Kristen bagi anak dalam menghadapi era society 5.0 Sugijanti Supit
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.624

Abstract

This paper discusses the multiple intelligences learning model's contribution to children's Christian religious education.  The concept of the era of Society 5.0 motivates Christian religious education to improve itself to face the challenges and opportunities that exist through the multiple intelligences learning model. This objective is achieved using a qualitative description method with a literature review approach. The contribution of multiple intelligences learning presents critical, creative, and innovative work as the capital of Christian religious education equipped with digital technology skills without leaving the essence of Christian religious education. The challenges of the era of Society 5.0 will allow children's Christian religious education to proclaim values as a Christian characteristic that produces challenging and God-fearing learners. AbstrakTulisan ini membahas tentang kontribusi model pembelajaran multiple intelligences dalam pendidikan agama Kristen anak.  Konsep era society 5.0 memotivasi pendidikan agama Kristen untuk membenahi diri dalam rangka menghadapi tantangan dan peluang yang ada melalui model pembelajaran multiple intelligences. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan metode kualitatif deskripsi dengan pendekatan kajian pustaka. Kontribusi pembelajaran multiple intelligences menghadirkan karya kritis, kreatif dan inovatif sebagai modal pendidikan agama Kristen yang dilengkapi dengan keterampilan digital teknologi tanpa harus meninggalkan esensi pendidikan agama Kristen. Tantangan era society 5.0 akan menjadi peluang bagi pendidikan agama Kristen anak mewartakan nilai-nilai sebagai ciri khas Kristen yang menghasilkan nara didik yang tangguh dan takut akan Tuhan.
Pengembangan Kepemimpinan Gereja Masehi Injili di Halmahera melalui Pemaknaan Filosofis Kepemimpinan Gembala Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.188

Abstract

This study aims to find the ideal concept of leadership in church circles and make it relevant to the church process at the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH). The method used is research or literature review by exploring leadership management concepts, both general in society and specifically in the church. This study found that the success or failure of a leader will indeed be seen from the results of his work. The process influences these results from the beginning of becoming a leader, the lead management process, and its evaluation, both process evaluation and work results. Leadership in the Church is the same way. One thing that needs to be instilled early in church leadership is that the leader-pastor is not God. They are only tools in God's hands because they are also not free from various weaknesses. The church does not adhere to a "cult of church leaders" and, therefore, never makes leaders saints who cannot be criticized or blasphemed. This research concludes that every pastor-leader will continue to learn to improve himself and the leadership system to improve in the future, even in the church, including GMIH. Good traditions in the church should be maintained, and if they are outdated and tend to be destructive, they should be let go willingly. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep ideal kepemim-pinan di kalangan gereja dan merelevansikannya dalam proses bergereja di Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Metode yang digunakan adalah penelitian atau kajian pustaka, dengan menelusuri konsep-konsep manajemen kepemimpinan, baik yang umum di masyarakat maupun secara khusus di gereja. Penelitian ini menemukan bahwa berhasil tidaknya seorang pemimpin memang akan dilihat dari hasil kerjanya. Hasil itu tentu saja dipengaruhi oleh proses sejak awal menjadi pemimpin, proses manajemen kepemimpinan, dan evaluasinya, baik evaluasi proses maupun hasil kerjanya. Kepemimpinana dalam Gereja juga demikian. Satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini dalam kepemimpinan gereja, yaitu bahwa pemimpin-gembala bukanlah Tuhan. Mereka hanyalah alat di tangan Tuhan, karena itu tidak lepas dari berbagai kelemahan juga. Di dalam gereja tidak menganut paham “pengkultusan pemimpin gereja” karena itu, jangan sekali-kali menjadikan pemimpin sebagai orang kudus yang tidak boleh dikritik atau dihujat. Penelitian ini menyim-pulkan bahwa setiap pemimpin-gembala akan terus belajar memperbaiki diri dan memperbaiki sistem kepemimpinan agar lebih baik ke depan, begitu pun di gereja, termasuk GMIH. Tradisi-tradisi yang baik di gereja patut dijaga, dan jika sudah ketinggalan zaman dan cenderung merusak, sebaiknya dilepaskan dengan ikhlas.
Social justice counseling sebagai fungsi pastoral di Indonesia Jerizal Petrus; Demianus Ice
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.631

Abstract

This research aims to analyze the practice of social justice counseling and pastoral counseling services in Indonesia. In addition, from the results of empirical and theoretical understanding, a conceptual framework for social justice counseling with the pastoral function of Indonesia will be created. This framework is built to have different characteristics as Rats, and Pedersen developed social justice. To produce a comprehensive and natural analysis, the method used in this research is a qualitative method with a case study design. The study results show that the church in the current context still practices the counseling model as pastoral counseling grows and develops without regard to the context in which pastoral counseling is carried out. In addition, the counseling model that is applied only focuses on strengthening the counselee's spirituality, while other aspects that come into contact with the counselee's daily real life, such as sociological, biological, and psychological conditions, receive less serious attention. Based on these weaknesses, a conceptual framework was designed that accommodated all the conditions often faced by counselees so that a conceptual framework for social justice counseling was built with a more comprehensive and empowering Indonesian pastoral function. AbstrakTujuan dari penelitian ini ingin menganalisis praktik pelayanan social justice counseling dan konseling pastoral di Indonesia. Selain itu, dari hasil pemahaman empirik dan teoretis akan dibuat sebuah kerangka kerja konseptual social justice konseling dengan fungsi pastoral Indonesia. Kerangka kerja ini dibangun memiliki ciri khas yang berbeda sebagaimana social justice dikembangkan oleh Rats dan Pedersen. Untuk menghasilkan sebuah analisis yang komprehsnif dan natural maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja dalam konteks kekinian masih mempraktikkan model konseling sebagaimana awal mula konseling pastoral tuumbuh dan berkembang tanpa memperhatikan konteks di mana konseling pastoral itu dilaksanakan. Selain itu, model konseling yang diterapkan hanya berfokus pada penguatan spiritual konseli, sedangkan aspek lain yang bersentuhan dengan kehidupan nyata konseli sehari-hari, seperti kondisi sosiologis, bilogis, dan psikologis kurang mendapat perhatian secara serius. Berdasarkan pada kelemahan itulah maka didesain sebuah kerangka kerja konseptual yang mengakomidir semua kondisi yang sering dihadapi oleh konseli, sehingga dibangunlah sebuah kerangka kerja konseptual social justice counseling dengan fungsi pastoral Indonesia yang lebih komprehensif dan memberdayakan.
Membangun Perilaku Beragama yang Moderat melalui Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Kristiani pada Tradisi Budaya Lokal di Minahasa Semuel Selanno; Meily Meiny Wagiu; Subaedah Luma; Wolter Weol
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.202

Abstract

Religious behavior is not only influenced by religious activities carried out in places of worship but also in educational spaces, from the basic level to higher education. To alleviate various acts of violence in the name of religion, the government has launched a religious moderation program to accept and respect differences in religious identity amid pluralism. This article offers a construction of multicultural Christian education based on valuable local wisdom in shaping moderate religious behavior, especially in Christia-nity. Using a constructive descriptive method through literature review to obtain information related to moderation and multicultural education, this study found that local cultural wisdom, especially in Minahasa, is rich in values that promote togetherness and respect for differences. Therefore, a cultural or local wisdom approach in constructing Christian religious education can shape moderate religious behavior. AbstrakPerilaku beragama tidak hanya dipengaruhi dari kegiatan keagamaan yang dilakukan di tempat-tempat ibadah, melainkan juga di ruang pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dalam rangka meredakan berbagai aksi kekerasan atas nama agama, maka pemerintah mancanangkan program moderasi beragama, yang bertujuan untuk dapat menerima dan menghormati perbedaan identitas agama di tengah pluralitas. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi pendidikan kristiani multikultural yang berbasis pada kearifan lokal yang berguna membentuk perilaku beragama yang moderat, khususnya dalam konteks Kekristenan. Dengan menggunakan metode deskriptif konstruktif melalui penelusuran literatur guna memperoleh informasi terkait moderasi dan pendidikan multikultural, penelitian ini mendapati bahwa kearifan budaya lokal, khususnya di Minahasa, sarat dengan nilai-nilai yang mengusung kebersamaan dan menghormati perbedaan. Itu sebabnya, kami menyimpulkan bahwa pendekatan budaya atau kearifan lokal dalam mengonstruksi pendidikan agama kristiani mampu membentuk perilaku beragama yang moderat.
Kecerdasan emosional mahasiswa pendidikan agama Kristen berbasis kearifan lokal “mata guru roha sisean” sebagai upaya mengurangi perilaku phubbing Simanungkalit, Malani; Naibaho, Pestaria; Hutapea, Immanuel; Hutabarat, Debby; Siahaan, Imelda
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.582

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecerdasan emosional mahasiswa melalui kearifan lokal “Mata Guru Roha Sisean”untukmengurangi perilaku phubbing di kalangan mahasiswa semester VI Program studi Pendidikan Agama Kristen IAKN Tarutung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel sebanyak 139 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwakecerdasan emosional mahasiswa semester VI prodi PAK IAKN Tarutungdiketahui perilaku phubbing mahasiswa semakin meningkat. Uji persyaratan analisis antara variabel X dengan variabel Y, dengan nilai thitung = 2,427dibandingkan dengan nilai ttabel untuk kesalahan 5% dan n-2 = 137 yaitu 1,960. Diperoleh perbandingan thitung > ttabel, yaitu 2,427 > 1,960. Hasilnya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel X dengan variabel Y yaitu pengaruh yang signifikan antaraKecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Phubbing mahasiswa semester VI prodi PAK IAKN Tarutung.PengaruhKecerdasan emosional sebesar 63%, sedangkan 37% dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor lain tersebut adalah dukungan keluarga (orang tua), pergaulan dengan teman, dan gereja serta lingkungan sekitar
Mencahayai the dark night of the soul dan signifikansi teologi estetika dalam ziarah pemulihan trauma Harefa, Oinike Natalia
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.753

Abstract

Traumatic experiences, either experienced personally or communally due to unforeseeable events, can lead to prolonged suffering. Therefore, resources for trauma healing are essential. Trauma healing may undergo a process called the dark night of the soul, a historical event with potentially painful and destructive processes, yet leading to liberation from the trauma's grip. This paper aims to elaborate on the dark night of the soul based on the experiences of Teresa of Avila using an Aesthetic Theology perspective. I employ a qualitative research method utilizing literature reviews and interviews. The beginning of this article emphasizes trauma as a theological issue, indicating a need to provide answers that lead to hope. I also interpret trauma as a condition closely related to the concept of the dark night of the soul. The experiences of Teresa of Avila are discussed in detail. My findings are that the idea of the dark night of the soul, from an Aesthetic Theology perspective, can serve as a theological resource for the pilgrimage of trauma recovery. AbstrakPengalaman traumatik yang dialami secara personal maupun komunal oleh karena peristiwa yang tak tertanggungkan dapat membawa pada penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, sumber-sumber pemulihan trauma dibutuhkan. Pemulihan trauma dapat melewati proses yang disebut dengan the dark night of the soul, yakni peristiwa historis dengan proses yang dapat saja menyakitkan dan menghancurkan namun membawa pada pembebasan dari keterikatan pada trauma tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi the dark night of the soul berdasarkan pengalaman Teresa dari Avila dengan menggunakan perspektif Teologi Estetika. Saya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan dan wawancara. Bagian awal artikel ini menekankan trauma sebagai persoalan teologis sehingga ada kebutuhan untuk memberi jawaban yang menuntun pada pengharapan. Saya juga memaknai trauma sebagai kondisi yang dekat dengan konsep the dark night of the soul. Pengalaman Teresa dari Avila dibahas secara khusus. Temuan saya adalah konsep the dark night of the soul berdasarkan perspektif Teologi Estetika dapat menjadi sumber teologi bagi ziarah pemulihan trauma.
Kesadaran ekologis sebagai implikasi pendidikan kristiani: Sebuah refleksi Kejadian 1:26 Anjaya, Carolina Etnasari; Triposa, Reni; Arifianto, Yonatan Alex
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.715

Abstract

Artikel ini bertujuan memperlihatkan sebuah implikasi teologis dari pembacaan Kejadian 1:26. Melalui metode analisis interpretatif dari pembacaan ulang Kejadian 1:26 secara naratif, diperoleh implikasi tentang tanggung jawab manusia terhadap ciptaan yang lain. Artinya, sebagai simpulan, pembacaan ini memberikan konstruksi kesadaran ekologis bagi umat percaya.
Eksagerasi animasi god toon dalam cerita Alkitab: Kisah Daniel dalam konteks historis dan kultural Darmawan, Andreas James; Arimbawa, I Made Gede; Marajaya, I Made
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.729

Abstract

Exaggeration is a solution to attract attention again when conveying a message, especially when the message is an old, repeated message. This exaggeration is needed to provide novelty to the target's boredom with old, repetitive messages. This research examines a Bible story film with a bold novelty value with the scientific knife of romantic hermeneutics. The episode that is the scope of the research is the story of Daniel in the Lion's Cage, from a Korean animation studio called God Toon. This research uses a descriptive qualitative method, which describes historical and cultural contexts obtained from several literary sources, interviews, and researcher interpretations. The research results are a study of exaggeration in Biblical characterizations, which gives rise to reference implications for research that addresses similar topics. The impact of the research is to encourage similar efforts that try to make a breakthrough in the target's boredom of receiving Bible stories that are visually relatively the same, as well as trying to generate story messages so that they continue to gain interest and a place in the hearts of Christians. AbstrakEksagerasi merupakan solusi untuk menarik atensi kembali dalam menyampaikan sebuah pesan, apalagi pesan yang hendak disampaikan adalah pesan lama yang berulang; eksagerasi ini diperlukan sebagai solusi dalam upaya memberikan kebaruan pada kejenuhan target pada pesan lama yang berulang. Penelitian ini mengkaji sebuah film cerita Alkitab dengan nilai kebaruan yang berani dengan pisau keilmuan hermeneutik romantisme. Episode yang menjadi lingkup penelitian adalah cerita Daniel di Kandang Singa, dari studio animasi korea bernama God Toon. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang menggambarkan kedua konteks baik historis maupun kultural, yang didapatkan dari beberapa sumber literatur, wawancara, dan tafsiran peneliti. Hasil penelitian berupa sebuah kajian tentang eksagerasi pada penokohan Alkitab, yang melahirkan implikasi acuan bagi penelitian yang mengangkat topik yang serupa. Dampak penelitian adalah mendorong upaya serupa yang mencoba melakukan terobosan bagi kejenuhan target menerima cerita Alkitab yang secara visual relatif sama, serta berupaya mengenerasi pesan cerita agar tetap mendapatkan minat dan tempat dalam hati umat Kristiani.
Etos kerja guru dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen: Sebuah refleksi model melalui observasi leksikal Nehemia 8:9-10 Karlau, Sensius Amon; Rukua, Ivo Sastri
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.678

Abstract

The purpose of this study is to explore the work ethic of Christian religious education teachers as a projection step towards the eroding aspects of motivation, commitment, loyalty, and calling of the soul in their duties. It's ironic because some teachers leave their calling and choose careers in other fields. The method used is qualitative with a literature approach. Lexical observation and exegetical analysis steps are used to explore the text of Nehemiah 8:9-10. So it was concluded that Christian religious education teachers should associate their vocation, have maximum passion, show sincere sincerity in attitude, have commitment and responsibility, and ratify that the Christian religious education learning material is understood. AbstrakTujuan penelitian ini yaitu mengetengahkan mengenai etos kerja guru pendidikan agama Kristen sebagai langkah proyeksi terhadap tergerusnya aspek motivasi, komitmen, loyalitas dan panggilan jiwa dalam tugasnya. Sungguh ironis karena sebagian guru meninggalkan panggilannya dan memilih berkarier pada bidang yang lain. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Langkah observasi leksikal dan analisis eksigetik digunakan untuk mendalami teks Nehemia 8:9-10. Maka disimpulkan bahwa guru pendidikan agama Kristen sebaiknya mengasosiasikan panggilannya, memiliki gairah yang maksimal, menunjukan kesungguhan hati yang tulus dalam bersikap, memiliki komitmen dan tanggung jawab serta meratifikasi bahwa materi pembelajaran pendidikan agama Kristen yang diajarkan terpahami dengan jelas.
Dari relasi menuju partisipasi: Sebuah teologi keterhisaban identitas manusia ke dalam imago Dei pada konteks autisme Masnidar, Sherly
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.755

Abstract

This article, focusing on the theology of belongingness, centers its concern on the discriminatory interpretation of the theology of imago Dei towards individuals living with autism. Superficially, our understanding of the theology of imago Dei (image of God) legitimizes human identity as perfect creations due to their resemblance to God. Therefore, individuals living with autism are often considered outside the realm of imago Dei identity due to their limitations in physical, cognitive, and social functions. This article aims to elucidate the complexity of human identity, emphasizing that humans cannot be comprehended solely based on their physical, cognitive, and social functions. To achieve this goal, through a constructive theological approach, this article presents the participative theology of imago Dei as the fourth model of imago Dei theology, following the functional, substantial, and relational models. Ultimately, this article formulates a participative theology of imago Dei that guides us to comprehend humans' belongingness within the Imago Dei fully. Thus, we understand the essence of humanity as unrestricted by any capability reference, providing an equal space for individuals living with autism. AbstrakArtikel yang berfokus pada teologi keterhisaban (theology of belongingness) ini mendasarkan persoalannya pada pemaknaan teologi imago Dei yang diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan autisme. Secara dangkal, teologi imago Dei (gambar Allah) kita pahami guna melegitimasi identitas manusia sebagai ciptaan yang sempurna karena kesegambarannya dengan Allah. Itulah sebabnya, orang yang hidup dengan autisme dianggap tidak termasuk ciptaan yang menggambarkan identitas Imago Dei karena keterbatasan fungsi fisik, kognitif, dan sosialnya. Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan tentang kompleksitas identitas manusia sehingga manusia tidak dapat dipahami hanya berdasarkan fungsi dan substansi fisik, kognitif, juga sosialnya. Untuk mencapai tujuan itu, melalui pendekatan teologi konstruktif, artikel ini menawarkan teologi imago Dei partisipatif sebagai model keempat teologi imago Dei, setelah model fungsional, substansial, dan relasional. Pada akhirnya, artikel ini menghasilkan teologi imago Dei model partisipatif yang menuntun kita memahami tentang keterhisaban manusia secara penuh ke dalam Sang Imago Dei. Dengan demikian, kita memahami hakikat manusia secara utuh yang tidak terikat pada acuan kemampuan apapun, sehingga ada ruang perimaan yang sama bagi orang yang hidup dengan autisme.