cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Teologi persahabatan inter-subjektif dengan liyan: Sebuah studi pada masyarakat urban di Surabaya Pusat Nugroho, Sandi; Riyanto, FX. Armada
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.455

Abstract

Friendship is at the peak of relationships; it is desired by each individual in an inter-subjective frame. In reality, even though you are missed, there are always challenges in being a friend to others, especially in times of difficulty. This article aims to ground the theology of friendship with others around halfway houses in the Central Surabaya area in the current situation. The research uses a qualitative approach with phenomenological methods combined with Paul Ricouer's hermeneutic scheme. Data from new phenomena was achieved through direct encounters with participants, which involved a dialogue in the real-event listening process. This research found that friendship is a primary need in the context of the central Surabaya community around the shelter and is the best condition for local people to learn the values of life. It is hoped that these findings will become material for reflection for the church to continue implementing the theology of inter-subjective friendship with others based on the values of Christ, deepening its relationships and increasing the creative development of the space for cosmic encounters.AbstrakPersahabatan berada pada puncak relasionalitas, ia didambakan oleh tiap pribadi dalam bingkai inter-subjektif. Pada kenyataannya, walau dirindukan selalu ada tantangan untuk hadir menjadi sahabat bagi liyan, apalagi di masa-masa penuh kesulitan. Artikel ini bertujuan membumikan teologi persahabatan bersama liyan di sekitar rumah singgah yang berada di wilayah Surabaya Pusat dalam konteks situasi kekinian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang dipadukan dengan skema hermeneutik Paul Ricouer. Data berupa fenomena segar digapai melalui perjumpaan langsung dengan para partisipan yang di dalamnya melibatkan proses mendengarkan in-the-real-event secara dialogis. Penelitian ini menemukan bahwa persahabatan adalah kebutuhan primer dalam konteks masyarakat Surabaya pusat sekitar rumah singgah dan menjadi kondisi terbaik untuk manusia setempat belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Temuan-temuan ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi gereja untuk terus mengimplementasikan teologi persahabatan inter-subjektif dengan liyan bersadarkan nilai-nilai Kristus, makin memperdalam relasinya dan tetap meningkatkan pengembangan ruang perjumpaan kosmik secara kreatif
Mentoring sebagai percakapan mendalam untuk menemukan panggilan menjadi pendeta Munster, Cindy Cecilia Tumbelaka-van; Dawa, Mariani Febriana Lere
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.478

Abstract

This article is about the church's mentoring process for those who become her prospective pastors. There is a tendency for this mentoring process to be more directed towards coaching, where the church conveys more information that the prospective new pastor needs to pay attention to. However, mentoring requires a more profound vision to approach a minister, not only coaching but also a journey of inner clarity to understand better and experience the reality of "inner calling" within a prospective pastor. This process of inner clarity requires intersubjective conversations, which ultimately strengthen internal conversations that increasingly make people understand their existence better: where they come from, where they are going, and what their fundamental obligations are in the present. In this article, the “going on a journey of inner clarity” method will be called currere. If this process could be fostered in the mentoring process, it would create a kind of personal curriculum that––from the depths of one's existence––will create sustainable self-formation that is authentic. This continuous self-formation will make one's pastorate continue to grow towards "increasingly becoming a charisma" and not merely a ministerial position. AbstrakTulisan ini adalah tentang proses mentoring yang dilakukan oleh pihak gereja bagi mereka yang menjadi calon pendeta. Kecenderungannya, proses mentoring ini lebih mengarah ke pembinaan, di mana pihak gereja lebih banyak mengalirkan informasi yang perlu diperhatikan oleh pihak calon pendeta baru. Akan tetapi, untuk mendekati autentisitas kependetaan, proses mentoring memerlukan visi yang lebih mendalam; bukan sekadar pembinaan, namun juga suatu perjalanan penjernihan batin untuk lebih memahami dan mengalami realitas “panggilan” di dalam diri seorang calon pendeta. Proses penjernihan batin ini memerlukan percakapan intersubjektif yang pada akhirnya memperkuat konversasi internal yang semakin membuat orang lebih memahami keberadaan dirinya, dari mana ia berasal, ke mana ia menuju, dan apa-apa yang menjadi ikatan-ikatan kewajiban riilnya pada masa kini. Dalam artikel ini, metode “menempuh perjalanan penjernihan batin” itu akan disebut currere. Jika proses ini dapat terbina secara teratur dalam mentoring, akan menciptakan semacam kurikulum personal yang – dari kedalaman eksistensi seseorang – membentuk formasi diri berkelanjutan yang bersifat autentik dan membuat kependetaan seseorang terus bertumbuh ke arah “semakin menjadi karisma”, dan bukan semata-mata jabatan ministerial.
Religious and sustainability: Studi integrasi antara pentakostalisme, populisme, dan politik Sitorus, Pontus; Pasaribu, Jonias
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.487

Abstract

As part of the world community, Pentecostals must consider their role in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs). This role must be carried out in various aspects, including socio-political with a populism approach to unify the identity of Pentecostalism. This research integrates Pentecostalism, politics, and populism to achieve sustainable development. The research method used is descriptive qualitative with a constructive theological approach. The research results show that Pentecostalism populism in politics has a cheerful face in efforts to achieve sustainability. The universalism of the Sustainable Development Goals (SDGs) must be combined with a more internal view and involve the Pentecostal community in the struggle for hegemony over the concept of sustainable development. Populism, which often mobilizes support through emotional issues and religious identity, can be integrated with sustainability strategies through religious communities providing spiritual and moral support. Integration between Pentecostalism, populism, and politics to achieve effective and inclusive sustainable development while recognizing the challenges and need for adaptation in the face of global social, political, and economic change. AbstrakPentakostal sebagai bagian dalam masyarakat dunia ditantang untuk memikirkan peranannya dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Peranan tersebut mesti dilakukan dalam berbagai aspek, termasuk sosial-politik dengan pendekatan populisme sebagai sarana pemersatu identitas Pentakostalisme. Tujuan penelitian ini adalah mengintegrasikan antara Pentakostalisme, politik, dan populis sebagai sarana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populisme Pentakostalisme dalam politik berwajah positif dalam upaya mencapai sustainability. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB harus dipadukan dengan pandangan yang lebih internal dan melibatkan komunitas Pentakostal dalam perjuangan mendukung dan menolak hegemoni atas konsep pembangunan berkelanjutan. Populisme, yang seringkali memobilisasi dukungan melalui isu-isu emosional dan identitas religius, dapat diintegrasikan dengan strategi keberlanjutan melalui komunitas agama yang menyediakan dukungan spiritual dan moral. Integrasi antara Pentakostalisme, populisme, dan politik sebagai sarana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang efektif dan inklusif, sambil mengakui tantangan dan kebutuhan adaptasi dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan ekonomi global.
Teologi kerja: Kerja sebagai realitas panggilan yang berpusat pada Allah Panggabean, Justice Zeni Zari
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.551

Abstract

Various work morality issues relate to job satisfaction and comfort. Work is also, in reality, associated with social status. As a result, work is only seen as a certain necessity. On the other hand, work is God's mandate to humans who are given the power to maintain the integrity of His creation. This research will aim to outline: first, the definition of work theology in its context; second, the attitude and calling to work in carrying out God's mandate; and third, the reality of work that is centered on God. In response to this mandate and calling, work theology shows that work attitudes and callings should be centered on God. The research method uses a qualitative approach that describes literature from several theories related to work theology. The result of the discussion in this article is that work theology builds a human perspective to view work in the light of God's insight, purpose, and involvement. This research concludes that work is a calling in the form of acceptance, care, and understanding as God's gift to humans. A calling to work is a mandate to continue God's work. AbstrakBerbagai persoalan moralitas kerja berkaitan dengan kepuasan dan kenyamanan kerja.  Kerja juga dalam realitasnya dikaitkan dengan status sosial. Akibatnya, kerja hanya dipandang sebagai sebuah kebutuhan tertentu. Di sisi lain, kerja adalah mandat Allah kepada mansusia yang diberi kuasa untuk menjaga keutuhan ciptaan-Nya. Tujuan penelitan ini akan menguraikan: pertama, definisi teologi kerja dalam konteksnya; kedua, sikap dan panggilan kerja dalam melaksanakan mandat Allah; ketiga, realitas kerja yang berpusat pada Allah. Sebagai respon akan mandat dan panggilan itu, teologi kerja menunjukkan bahwa sikap dan panggilan kerja seyogianya berpusat pada Allah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang menguraikan literatur dari beberapa teori terkait dengan teologi kerja. Hasil pembahasan dalam tulisan ini adalah teologi kerja membangun perspektif manusia untuk memandang pekerjaan dalam wawasan, tujuan dan keterlibatan Allah. Penelitian ini membangun kesimpulan bahwa pekerjaan adalah panggilan dalam bentuk penerimaan, pemeliharaan dan pemahaman sebagai anugerah Allah untuk manusia. Panggilan kerja dimaknai sebagai mandat melanjutkan karya Allah.  
Ekofeminisme Batak Toba: Pembacaan lintas tekstual Kejadian 1 dan kosmologi si Boru Deang Parujar Sipahutar, Roy Charly H. P.; Tampubolon, Rinto; Pasaribu, Andar Gunawan
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.569

Abstract

Ecofeminism positions women and nature as having a strong passion so that the suffering experienced by nature as a result of global multi-systems is also women's suffering. Efforts to achieve gender and ecological justice are usually carried out by Western feminists who focus on liberal, radical, and socialist models of feminism, which do not always seem to be relevant to contexts in other parts of the world, especially Indonesia. Related to this, this research aims to construct contextual ecofeminist ideas for Batak Toba women in Tapanuli whose nature is being injured. This research uses a cross-textual hermeneutic approach to dialogue Genesis 1 with the cosmological myth Si Boru Deang Parujar. The results of constructive dialogue show no hierarchical domination between men, women, and nature. The order of creation is only realized when humans and nature can live in harmony and harmony. Batak Toba women are the "owners" of the land and the mothers of all creatures living there.AbstrakEkofeminisme memosisikan perempuan dan alam memiliki keterikatan yang kuat, sehingga penderitaan yang dialami oleh alam akibat multi-sistem global merupakan penderitaan perempuan juga. Upaya untuk mendapatkan keadilan gender dan ekologi biasanya dilakukan kaum feminisme Barat berkutat dengan model feminisme liberal, radikal, dan sosialis tampaknya tidak selalu mengena dengan konteks di belahan dunia lain, khususnya Indonesia. Terkait dengan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah mengonstruksi gagasan ekofeminis yang kontekstual bagi perempuan Batak Toba di Tapanuli yang alamnya sedang terluka. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika lintas tekstual untuk mendialogkan Kejadian 1 dengan mite kosmologi Si Boru Deang Parujar. Hasil dialog konstruktif menunjukkan bahwa tidak ada dominasi hirearkis antara laki-laki, perempuan, dan alam. Keteraturan ciptaan hanya terwujud ketika manusia dan alam dapat hidup selaras dan harmoni. Perempuan Batak Toba adalah “pemilik” tanah dan ibu dari segala makhluk yang hidup di atas tanah.
Spiritualitas Misi Ingwer Ludwig Nommensen: Sebuah Refleksi Perkembangan Misi di HKBP Dame Saitnihuta, Tapanuli Utara Harianja, Simion D.; Gultom, Rogate Artaida Tiarasi; Nababan, Romauli; Silalahi, Jojor
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.641

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik misi Ingwer Ludwig Nommensen meliputi bidang penginjilan, kesehatan dan pendidikan serta pelaksanaannya di HKBP Dame Saitnihuta, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Jumlah jemaat di gereja HKBP Dame Saitnihuta sebanyak 81 kepala keluarga dan jumlah keseluruhan jemaat sebanyak 218 orang. Data dasar diperoleh dari Pimpinan Jemaat (full timer), Guru Jemaat, Penatua dan seluruh jemaat HKBP Dame Saitnihuta Penelitian ini menggunakan metode Snowball (pemilihan) untuk menjadi informan dalam penelitian ini. Hasil analisis data dan dokumen observasi HKBP Dame Saitnihuta yang dulu ditetapkan oleh Nommensen mengalami sedikit pergeseran. HKBP Dame Saitnihuta masih tetap menjalankan misi Nommensen. Namun sedikit berbeda dengan misi Nommensen pada masa awal. Program-program ataupun kegiatan yang dilakukan oleh Nommensen sedikit dimodifikasi oleh HKBP Dame Saitnihuta pada masa sekarang ini. Nommensen yang dahulunya hanya melakukan penginjilan di tanah Batak, maka HKBP sekarang ini melakukan penginjilan kepada orang-orang yang belum mengenal kekristenan. Beberapa hal yang telah Nommensen ajarkan, pada masa awal penginjilan yang dilakukannya tetap berjalan dan menjadi tolak ukur bagi HKBP Dame Saitnihuta untuk semakin mengembangkan jenis pelayanannya. Dengan ajaran Nommensen HKBP tetap maju dan menjadi suatu gereja yang besar, yang tetap setia mengabarkan Injil keselamatan sampai ke ujung dunia. 
Kompetensi manajerial pendeta sebagai solusi bagi kepemimpinan gereja: Studi kasus di lingkungan Gereja Protestan Maluku Amtu, Onisimus; Taliak, Jeditia; Untailawan, Franklin; Aituty, Maikel
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.652

Abstract

The idea of church leadership becomes more interesting because it is associated with managerial competencies that pastors need to have as leaders in the congregation. The pastor's leadership as a congregation pastor is considered sufficient if not given the mandate to manage the organization according to managerial principles. This qualitative research study uses a descriptive and case study approach to explore and map the organizational roles and functions inherent in every pastor as a church leader. The results show that pastors lack the skills of a manager, which impacts the church organization's management quality. They need to equip themselves with managerial skills to carry out management functions such as planning, organizing, implementing, controlling, evaluating, and optimally managing the structure and resources of the church organization to increase the competitiveness of the church in society. The church, in stages, needs to schedule education and training programs, workshops, and comparative studies for pastors. These findings will become a framework for pastors as church leaders today and in the future.   Abstrak Gagasan mengenai kepemimpinan gereja menjadi lebih menarik sebab dikaitkan dengan kompetensi manajerial yang perlu dimiliki pendeta sebagai pemimpin di jemaat. Kepemimpinan pendeta sebagai gembala jemaat dianggap cukup jika tidak diberikan mandat mengelola organisasi sesuai prinsip-prinsip manajerial. Ini adalah sebuah kajian riset kualitatif yang menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi dan memetakan peran dan fungsi manajerial yang melekat erat dalam diri setiap pendeta sebagai pemimpin gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pendeta kurang memiliki keterampilan sebagai seorang manajer sehingga berdampak terhadap kualitas pengelolaan organisasi gereja. Mereka perlu melengkapi diri dengan keterampilan manajerial sehingga dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan, mengendalikan, mengevaluasi dan mengelola struktur serta sumber daya organisasi gereja secara maksimal untuk meningkatkan daya saing gereja di masyarakat. Gereja secara berjenjang, perlu mengagendakan program-program pendidikan dan pelatihan, workhsop, dan studi banding bagi para pendeta. Hasil temuan ini menjadi kerangka kerja bagi para pendeta sebagai pemimpin gereja di masa kini maupun di masa mendatang.
Pendidikan kristiani dan spiritualitas merawat ciptaan: Sebuah pendekatan dalam membangun sikap peduli satwa langka Wuwung, Olivia Cherly; Polak, Nancy Eva; Iriana, Margarith
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.703

Abstract

Hunting, killing, and trafficking of wildlife are crimes against nature that are a global issue. Even though there are wildlife protection laws and regulations stipulated in international law and Law Number 5 of 1990 concerning Natural Resources Conservation, as well as the church's efforts to teach and nurture its congregation to protect and preserve God's creation, the impact is still not significant due to problems human morals. This research aims to formulate a Christian education approach to building public awareness of care for endangered animals. The method used is qualitative research with a case study approach, with the Evangelical Christian Church in Minahasa (GMIM) as one of the pioneers of collaboration with the non-governmental organization "Save the Yaki" to socialize the importance of conservation and protection of endangered animals. We conclude that Christian education can be a construction of a spirituality of caring for creation, through which an attitude of caring for endangered animals can be established.AbstrakPerburuan, pembunuhan, dan perdagangan satwa liar adalah kejahatan terhadap satwa liar yang menjadi isu global. Meskipun telah ada undang-undang dan regulasi perlindungan satwa liar yang ditetapkan dalam hukum internasional dan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam serta upaya gereja untuk mengajarkan dan memelihara jemaatnya agar melindungi dan melestarikan ciptaan Tuhan, dampaknya masih belum signifikan karena masalah moral manusia. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pendekatan pendidikan kristiani dalam membangun kesadaran masyarakat untuk peduli pada satwa langka. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sebagai salah satu pelopor kerjasama dengan organisasi non-pemerintah "Selamatkan Yaki" untuk mensosialisasikan pentingnya konservasi dan perlindungan satwa langka. Kami menyimpulkan bahwa pendidikan kristiani dapat menjadi konstruksi spiritualitas merawat ciptaan, yang melaluinya sikap peduli satwa langka dapat dibangun.
Penguatan nilai-nilai iman kristiani melalui optimalisasi lembaga pendidikan agama: Sebuah studi persepsi dan ekspektasi program studi magister Manajemen Pendidikan Kristen melalui survei pada tingkat pendidikan menengah Pakpahan, Betty Arli Sonti; Simanungkalit, Lasmaria Nami; Simanjuntak, Juliber Arman; Simanjuntak, Cindy Romauli C.
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.713

Abstract

This research aims to determine students' perceptions and expectations of the Master of Christian Education Management study program. The students in this research were school principals at the SMA/SMK level in Humbang Hasundutan and North Tapanuli Regencies. The survey method is the approach used in this research. The number of respondents in this research was 74 respondents. The results of the research show that the perception of high school/vocational school principals towards the IAKN Tarutung Postgraduate Christian Education Management Masters Study Program, in general, each item is in the good and very good categories. Values are in the intervals 68-83% and 84-100%. Then, the perception of high school/vocational school principals towards the IAKN Tarutung Postgraduate Christian Education Management Masters Study Program, is included in the very good category, in the interval 84-100%. This shows that the perceptions and expectations of students in the Master of Christian Education Management study program are very good and their existence is very much needed
Teologi urban: Gereja dan pelayanan urban sebagai ruang hospitalitas Allah Rampengan, Priscila Feibe
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.724

Abstract

Various problems arise in the context of urban society. The existence of cities can bring paradoxes. On the one hand, the city is the cradle of modern world civilization, but on the other hand, it is a place of social and spiritual decline. This phenomenon fosters a harmful and destructive perception and understanding of urban life. This study explores biblical perspectives on cities and how Christian theology can the context of urban society. This research uses a qualitative method with literature analysis. The results of the study state that urban theology builds a commitment to fulfill the Christian vocation and actively engage and contribute to urban life. Realizing the city is a legitimate place and space to show and present God's hospitality. Urban theology is vital in building mental and spiritual people and urban civilization. The essential elements of urban life must be bound together to restore a sense of common good in the challenges of today's highly diverse, pluralistic, and globalized urban life. The church is called to be involved in the transformation of the city.AbstrakBeragam persoalan muncul pada konteks masyarakat perkotaan. Keberadaan kota dapat membawa paradoks. Di satu sisi kota sebagai tempat lahirnya peradaban dunia modern, namun disisi lain kota menjadi tempat terjadinya kemerosotan sosial dan spiritual. Fenomena ini menumbuhkan persepsi dan pemahaman yang buruk dan destruktif terhadap kehidupan perkotaan. Tujuan penelitian ini untuk menelusuri perspektif alkitabiah tentang kota dan upaya teologi Kristen dapat diterapkan dalam konteks masyarakat perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis literatur. Hasil penelitian menyatakan bahwa teologi urban membangun komitmen untuk memenuhi panggilan kristiani dan terlibat secara aktif, serta berkontribusi dalam kehidupan perkotaan. Menyadari kota merupakan tempat dan ruang yang sah untuk menunjukkan dan menghadirkan hospitalitas Allah. Teologi urban penting dalam membangun mental, spiritual manusia, serta peradaban kota. Elemen penting dari kehidupan kota harus diikat dengan pemulihan rasa kebaikan bersama dalam tantangan kehidupan kota yang sangat beragam, majemuk, dan global dewasa ini. Gereja terpanggil untuk terlibat dalam transformasi kota