cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 361 Documents
Kewirausahaan dan Panggilan Kristen: Sebuah Pendekatan Interpretatif-Dialogis, Sosio-Historis dan Teologis Suwarto Adi
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.123

Abstract

Is it possible to entrepreneurship as a Christian calling? This paper answers to this question by doing a combination of socio-historical and theological approaches. Historically, the ideas of entrepreneurship and its practices are undergoing a meaningful development. While from a theological perspective it delivered an ethical meaning if entrepreneurship located in the frame of a theology of creation and social action to build a common justice. This is all affiliates with mentality of God in the creation process of the world and Jesus’ criticism of a greedy attitude. Paul, furthermore, making entrepreneur-ship is as a constructive way of his service. Eventually, if locating entrepreneur-ship in Rahner’s framework in terms of intellectual, res, and opera, it could be a base of Christian calling to create community welfare and justice. Abstrak Apakah mungkin kewirausahaan menjadi panggilan Kristen? Tulisan ini menjawab pertanyaan tersebut dengan menggabungkan pendekatan sosio-historis dan teologis. Secara historis, gagasan dan praktik kewirausahaan mengalami perkembangan bermakna. Sedangkan, dari perspektif teologis, makna etis kewirausahaan akan lahir kalau diletakkan dalam kerangka penciptaan dan tindakan membangun keadilan Bersama. Hal itu bersesuaian dengan mentalitas Allah dalam proses penciptaan dan kritik Yesus terhadap ketamakan. Paulus, lebih jauh lagi menjadikan kewirausahaan sebagai jalan pelayanan yang konstruktif. Akhirnya, dengan meletakannya dalam kerangka intellectus, res dan opera-nya Karl Rahner, kewirausahaan bisa dijadikan dasar bagi panggilan Kristen untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat
Kecakapan Lulusan Pendidikan Tinggi Teologi Menghadapi Kebutuhan Pelayanan Gereja dan Dunia Pendidikan Kristen Gidion Gidion
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.144

Abstract

The stakeholder of college graduates oftenly complained about the low skills possessed by the graduates. The same thing is experienced in the world of church service and Christian education, that there are still many theological scholars who lack the skills or expertise in their fields.This study aimed to determine how well the graduates of theological college having skills which answer the needs in the Church and Christian educational institutions. The results of the study concluded that the skills of the graduates of theological college are still not optimal. There are five skills that have a fairly low assess-ment, namely skill of leadership, servants, service experience, theological knowledge, and English ability. Abstrak Para pengguna lulusan perguruan tinggi mengeluhkan masih rendahnya kecakapan yang dimiliki oleh para lulusan terebut. Hal serupa juga dialami dalam dunia pelayanan gereja dan pendidikan Kristen, bahwa masih banyak sarjana teologi yang kurang memiliki kecakapan atau keahlian dalam bidangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa baik kecakapan lulusan STT dalam menjawab kebutuhan pelayanan di gereja dan lembaga pendidikan Kristen. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kecakapan lulusan STT masih belum maksimal. Ada lima kecakapan yang memiliki penilaian yang cukup rendah yaitu kecakapan sebagai pemimpin, sebagai pelayan, pengalaman pelayanan, pengetahuan teologi, dan kemampuan berbahasa Inggris.
Menstimulasi Praktik Gereja Rumah di tengah Pandemi Covid-19 Fransiskus Irwan Widjaja; Candra Gunawan Marisi; T. Mangiring Tua Togatorop; Handreas Hartono
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.166

Abstract

This paper is an analysis of various collective resources to consider the current practice of churches in Indonesia in connection with the Covid-19 pandemic. Government regulations have restricted social gatherings, including worship in churches, to break the chain of the spread of this deadly plague. Finally, worship was held online by adopting internet-based technology to carry out worship in their respective homes. This paper is qualitative research litera-ture to analyze the Covid-19 phenomenon from the perspective of Christian theology. As a conclusion, the church must see the pandemic outbreak as an opportunity to stimulate the rise of house churches through the government's social restriction policy regarding religious worship. The house church is typical of the church carried out by the early church in the Acts. Abstrak Paper ini adalah analisis berbagai sumber daya kolektif untuk mem-pertimbangkan praktik gereja-gereja di Indonesia saat ini sehubungan dengan pandemi Covid-19. Peraturan pemerintah telah membatasi pertemuan sosial, termasuk ibadah di gereja demi memutus rantai penyebaran wabah yang mematikan ini. Akhirnya, ibadah pun diadakan secara online dengan mengadopsi teknologi berbasis internet untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing. Paper ini merupakan penelitian kualitatif literatur untuk menganalisis fenomena Covid-19 ini dari perspektif teologi Kristen. Sebagai kesimpulannya, gereja harus melihat peristiwa wabah pandemi ini sebagai kesempatan untuk menstimulasi bangkitnya gereja rumah melalui kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah terkait ibadah keagamaan. Gereja rumah merupakan tipikal gereja yang dilakukan oleh gereja mula-mula di dalam Kisah Para Rasul.
Mengajarkan Pendidikan Karakter Melalui Matius 5:6-12 Noh Ibrahim Boiliu; Aeron Frior Sihombing; Christina M. Samosir; Fredy Simanjuntak
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.128

Abstract

The background of the problem in this study is the occurrence of changes in the current generation due to mass media that change the mindsets, behavior, and habits of today's youth, accompanied by education that tends to be based on knowledge or cognitive. All of this will result in humans not being human. Thus, character education offered by Jesus in a happy speech at the Sermon on the Mount is character-based education centered on the imitation of Christ, which is to follow in the footsteps or steps of Christ in the lives of Indonesian Christian students. This framework of thought or world view is what Christian Character education is. Thus, this research will use an asynchronous method that is to exegete what is said in the text of Matthew 5:6-12. Abstrak Latar belakang dari masalah dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan pada generasi saat ini karena media massa yang mengubah pola pikir, perilaku, dan kebiasaan pemuda saat ini, disertai dengan pendidikan yang cenderung didasarkan pada pengetahuan atau kognitif. Semua ini akan meng-akibatkan manusia tidak manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter yang diajarkan Yesus melalui khotbah ucapan bahagia di bukit merupakan pengajaran berbasis karakter yang berpusat pada meniru Kristus, yang mengikuti jejak atau langkah Kristus dalam kehidupan siswa Kristen Indonesia. Kerangka pemikiran atau pandangan dunia ini adalah apa yang pendidikan karakter Kristen. Dengan demikian, penelitian ini akan menggunakan metode asynchronous yaitu untuk penafsir apa yang dikatakan dalam teks Matius 5:6-12.
Dialog Sebagai Cara Hidup Menggereja di Kultur Indonesia Yusuf Siswantara
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.105

Abstract

Dialogue is not a mere empty term or theory; it is evident in religious life and even becomes a necessity in the attitude of participation as a knot of kenosis thought (A. Pieris) and Asian theology (C.S. Song). The ideal dialogue model has been narrated in the story of Emmaus' journey which also became a model of the Lord's Supper. Thus, the ideal of dialogue is the story of the Eucharist. Indonesia as part of Asia has its own diversity context. The method in this article is qualitative, using the method of analyzing literature from various figures' thoughts about the dialogue that can be applied in the Indonesian context. As a result, there are four forms of dialogue that can be applied in the context of Indonesia's diversity, by specializing in a dialogue of work and dialogue of life. Abstrak: Dialog bukanlah istilah kosong atau teori belaka; kata ini nyata dalam kehidupan beragama dan, bahkan, menjadi keharusan dalam sikap partisipasi sebagai simpul pemikiran kenosis (A. Pieris) dan teologi Asia (C.S. Song). Model dialog ideal telah dinarasikan dalam kisah perjalanan Emaus yang juga menjadi model perjamuan kudus. Dengan demikian, idealitas dialog adalah kisah perjamuan kudus. Indonesia sebagai bagian dari Asia memiliki konteks keberagamannya sendiri. Metode dalam artikel ini adalah kualitatif, dengan menggunakan metode analisis literatur dari berbagai pemikiran tokoh tentang dialog yang dapat diterapkan dalam konteks Indonesia. Hasilnya, ada empat bentuk dialog yang bisa diterapkan dalam konteks keberagaman Indonesia, dengan mengkhususkan dialog karya dan dialog kehidupan.
Hubungan Spiritualitas terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Yudha Nata Saputra
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.127

Abstract

The purpose of this study was to analyze the effect of spirituality variables on student learning motivation. The method used in this research is a quantitative approach using descriptive statistics and simple linear regression statistical tests. Data collection techniques used a Likert attitude scale with four answer choices distributed to 76 students who were respondents in this study. The results showed that the Spirituality variable obtained an average score of 21.36 which was included in the high category while the Student Learning Motivation variable obtained an average score of 14.78 which was also included in the high category. The results of data processing showed that there was an influence of Spirituality variables on Student Learning Motivation by 9.9%, meaning that changes in the Learning Motivation variable by 9.9% could be explained by changes in Spirituality variables. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variabel spiritualitas terhadap motivasi belajar mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kuantitatif dengan menggunakan regresi linear sederhana. Teknik pengumpulan data menggunakan skala sikap Likert dengan empat pilihan jawaban yang dibagikan kepada 76 orang mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Spiritualitas memperoleh skor rata-rata sebesar 21.36 yang termasuk dalam kategori tinggi sementara variabel motivasi belajar mahasiswa memperoleh skor rata-rata sebesar 14.78 yang juga termasuk dalam kategori tinggi. Hasil pengolahan data menunjukkan ada korelasi variabel spiritualitas terhadap moti-vasi belajar mahasiswa sebesar 9.9%, artinya perubahan dalam variabel motivasi belajar sebesar 9.9% dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel spiritualitas.
Bimbingan Orang tua terhadap Perkembangan Iman Anak Menurut Kitab Amsal Anneke R. Regar
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.137

Abstract

Pada dasarnya orang tua memiliki peran penting dalam hal membina anak, sebab orang tua merupakan pendidik/pembimbing yang paling utama dalam kehidupan anak khususnya dalam perkembangan iman anak. Akan tetapi banyak orang tua yang menyerahkan anak mereka untuk dididik/dibimbing oleh guru atau bahkan oleh pembantu rumah tangga tanpa menyadari bahwa dalam keluarga adalah tempat yang paling pertama di mana anak menerima pendidikan. Pembinaan iman dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada orang yang tidak dilahirkan dalam keluarga. Dalam dan dari keluarga anak mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana mengatur nilai-nilai tertentu. Menurut kajian teori peneliti, kehidupan seorang anak untuk memperkembangkan imannya sangat dipengaruhi oleh pola didikan/bimbingan dari orang tua. Bimbingan yang diperoleh anak di Jemaat GPdI “El-Shaddai” Imandoa, Serui – Papua sangat berbeda-beda, tergantung karakter dan kepribadian orang tua yang membimbing mereka. Pertumbuhan iman merupakan proses untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ini dapat dilakukan dengan membina anak-anak dengan hal-hal yang dapat menumbuhkan iman seorang anak seperti rajin berdoa, membaca Alkitab dan mendorong anak untuk ikut Sekolah Minggu atau ke Gereja. Dengan menerapkan firman Tuhan khususnya Kitab Amsal sebagai dasar bimbingan kepada anak terhadap pertumbuhan imannya, kelak ketika anak menjadi dewasa mereka tidak akan menyimpang dari jalan yang benar. Untuk memperoleh hasil penelitian, maka Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang memperoleh data-data penelitian secara langsung di lapangan, metode dan teknik mengumpulkan data wawancara. Analisis Data mengunakan metode Milles dan Huberman. Metode keabsahan data yaitu kepercayaan (Credibility), keteralihan (Transferability), kebergantungan (Dependability), kepastian (Confirmability), diskusi dengan teman, member check; Teknik pemeriksaan keabsahan (Validitas) data dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan, triangulasi, Pengecekan sejawat, pengecekan dengan data rekaman, analisis kasus negatif, pengecekan anggota. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa responden telah memberikan perhatian yang cukup untuk mendukung perkembangan iman anak menurut Kitab Amsal dengan berbagai usaha yang telah dilaksanakan dan permasalahan yang dihadapi, namun masih ada orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan iman anak.
Penerapan Storytelling Dalam Menceritakan Kisah Alkitab Pada Anak Sekolah Minggu I Putu Ayub Darmawan; Kiki Priskila
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.129

Abstract

Learning in Sunday schools requires good innovation in order to produce quality learning. In this study, the authors examined the application of storytelling in telling Bible stories to Sunday school children. Therefore, the authors use a qualitative approach by conducting observations and directed discussions on participants so that data obtained about the application of storytelling methods. The results showed that the application of storytelling-assisted lecture methods was carried out in accordance with the steps. The application of storytelling also provides benefits in the form of Increased ability to understand children, as evidenced by the success of retelling stories, specifically Bible stories; increased listening ability in children; increased ability to remember, so that you can retell; increased listening ability in children. Children can concentrate on listening to the teacher's story. These results can be achieved because of an increase in listening, listening, remem-bering, and understanding so that the memorization process occurs which ultimately helps children retell stories that have been heard. Abstrak Pembelajaran pada Sekolah Minggu memerlukan inovasi yang baik agar meng-hasilkan kualitas belajar. Dalam penelitian ini penulis meneliti tentang penerapan storytelling dalam menceritakan kisah Alkitab pada anak Sekolah Minggu. Oleh karena itu, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi dan diskusi terarah pada partisipan sehingga diper-oleh data tentang penerapan metode storytelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode ceramah berbantuan storytelling dilakukan sesuai dengan langkah-langkahnya. Penerapan storytelling juga memberikan manfaat berupa: meningkatnya kemampuan memahami pada anak, terbukti dari keber-hasilan menceritakan kembali cerita, secara khusus cerita Alkitab; mening-katnya kemampuan mendengar pada anak; meningkatnya kemampuan meng-ingat, sehingga dapat menceritakan kembali; meningkatnya kemampuan menyi-mak pada anak. Anak dapat berkonsentrasi untuk menyimak cerita guru. Hasil tersebut dapat tercapai karena terjadi peningkatan menyimak, mendengar, mengingat, dan memahami sehingga terjadi proses memorisasi yang akhirnya membantu anak-anak menceritakan kembali cerita yang telah didengar.
Keteladanan Yesus Sebagai Guru Menurut Injil Matius dan Aplikasinya Bagi Guru Sekolah Minggu GPdi “Bethesda” Merauke Papua Nike Sadi Pampang
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 4, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v4i2.146

Abstract

Teacher modeling in carrying out church mission is very important. The teacher as a spiritual leader is crucial for success or failure ministry in spiritual educational, as well as education in all life fields. All educational institutions require theachers not only to be good at teaching but also as role models, as well as in Sundy school education in the church there needs to be a model teacher. The Gospel of Matthew gives an example that Jesus is the example of creative teacher. Specially the verb of didasko (teaching) with various forms used nine times to describe the activity of Jesus as a teacher. The activity of Jesus is more often informed by the word teaching (didasko = teaching) rather than the verb of preaching (kerusso = preaching). That Is why Jesus called the Teacher as a creative teacher, the teaching methods used by Jesus are not monotonous but varies according to the place, circumstance and needs of His students or listeners. The purpose of this research is to describe the example of Jesus as a teacher according to Matthew, to describe the extent of the exemplary teachers of Sunday School of the GPdI “Bethesda” Merauke Papua to recommend the application of Jesus example as a teacher based on the Gospel of Matthew for Sunday School teachers in the GPdi Church. This research uses a qualitative approach; research paradigm, theological phenomenology, because it uses the interpretation of the text in the context of the Gospel of Matthew as a theoretical basis. Data source from 44 participants of Sunday School teachers in GPdI “Bethesda” Merauke. Methods and techniques of collecting interview data. Data analysis using the theory of Miles and Huberman. Conclusion: The Gospel of Matthew shows Jesus as the best teacher and can be emulated by all Sunday School teachers, example: in terms of His caling to receive a vision to serve, carry out a mission as a teacher, understand His purpose to serve in His personality is characterized, have integrity, charismatic, to be responsible, positive thinking, have ethos, nice worl, confidence, extensive knowledge, pull yourself together. In His spirituality includes centering on God, living in prayer, living righteously, living holy. In the professionalism of His ministry that is focused on goals and tasks, understanding children’s psychology, mastering teaching materials, skillful planning, skillful carrying out, skillful evaluating, skillful assessing as a communicator, as a facilitator. Having the ability to serve children is a thing, very important and can not be ignored because children are. The assets of the church and the next generation of God’s church. Therefore the role of a teacher in serving Sunday School children must be an important concern in a pastoral hearing, because church leaders and teachers have a great responsibility for the growth of faith in Sunday School children.
Nalar dan Iman dalam Kehidupan Beragama: Dikotomi atau Harmoni Edison R. L. Tinambunan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.122

Abstract

Reason is the nature of human beings and those who are religious also have faith. Therefore, believers have two fundamental basics in their life: reason and faith. In the reality, some people believe that reason and faith are two separate contradictory entities that form dichotomy or dualism. This article discusses the existence of reason in human being and its relationship with faith in religious people in accordance with the ancient and modern writings. The method used in this research is source methodology which is combined with a literature study to achieve the purpose of the research which is to show how reason deepens and enlightens the faith. The result of this research shows that reason and faith are harmonious and supportive of each other in the practice of religious life; they do not create dichotomy or dualism but harmony. Abstrak Nalar adalah salah satu kodrat manusia dan mereka yang beragama juga memiliki iman. Oleh sebab itu umat beriman memiliki dua hal mendasar di dalam dirinya, yaitu nalar dan iman. Dalam kenyataan tidak jarang dalam kehidupan beragama seakan memiliki dualisme antara nalar dan iman, seakan yang satu mengganggu yang lain, dan menjadikan keduanya dikotomi atau dualisme. Tulisan ini akan membahas keberadaan nalar di dalam manusia dan kemudian nalar dan iman di dalam diri umat beragama yang didasarkan pada tulisan penulis kuno dan modern. Untuk penelitian seperti ini metode yang paling baik diaplikasikan adalah metodologi sumber yang dikombinasikan dengan pustaka untuk mencapai tujuan penelitian yaitu penentuan sikap dalam kehidupan beragama melalui nalar yang memberikan pendalaman dan pencerahan pada iman. Penelitian ini akan menyimpulkan keharmonisan dan saling mendukung antara nalar dan iman di dalam hidup beragama, bukan suatu dikotomi atau dualisme

Page 6 of 37 | Total Record : 361