cover
Contact Name
Raja Saleh
Contact Email
jurnalmadahriau@gmail.com
Phone
+6285363844655
Journal Mail Official
jurnalmadahriau@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Riau Balai Bahasa Riau, Jalan H.R. Soebrantas Km. 12,5, Kampus Binawidya Kompleks Universitas Riau, Panam, Pekanbaru, Riau. Phone: 085363844655 Email: jurnalmadahriau@gmail.com
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Madah
Published by Balai Bahasa Riau
ISSN : 20866038     EISSN : 25809717     DOI : https://doi.org/10.31503/madah.v11i1
Core Subject : Humanities, Art,
Madah is a journal published by Balai Bahasa Riau, with P-ISSN 2086-6038 and E-ISSN 2580-9717. This is a scientific journal of language and literature that publishes various reports of research results, literature studies, and scientific papers on language and literature. Madah is published periodically twice a year in April and October. This journal also serves as a medium for disseminating information on research results and language and literature studies.
Articles 281 Documents
Cover Jurnal Madah Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i1.413

Abstract

Abstract Views Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i1.417

Abstract

Variasi Makna Kata ‘Berjalan’ dalam Bahasa Bonai Dialek Ulakpatian Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i2.422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata-kata yang menyatakan ‘berjalan’ dengan berbagai cara dalam bahasa Bonai Dialek Ulakpatian (BBDU). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menganalisis komponen makna ‘berjalan’ dalam BBDU. Data primer dalam penelitian ini adalah data ujaran atau data lisan yang dikumpulkan dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui metode cakap dan metode simak dengan menerapkan beberapa teknik, seperti teknik pancing, teknik catat, dan teknik rekam. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dalam BBDU kosakata yang menyatakan ‘berjalan’ diwakili oleh empat sudut pandang, yaitu cara, sikap, tujuan, dan tempat melakukannya. Dari sudut pandang cara melakukannya, makna ‘berjalan’ dibedakan atas bajajah, barensuik, beransu, jeruik, maleso, malicak, manarik, moirik, padek egak, perangsag, dan tamenye-menye. Berdasarkan sudut pandang sikap saat melakukannya, makna ‘berjalan’ dibedakan atas manjojaki, malengak, lengak, taulu-ulu, tapuji-puji, tahele-hele, padek elok, dan tak tecotuk atah. Dari sudut pandang tujuan melakukannya, makna ‘berjalan’ dibedakan atas kata menyuluh, kawup, bakisah, dan celengkang, sedangkan dari sudut pandang tempat melakukannya, makna ‘berjalan’ hanya pada kata menakih. Abstract The research aims at describing words that indicate “berjalan” (walking) in many ways in Bonai Language of Ulakpatian Dialect (BLUD). This study is a descriptive qualitative method by analyzing the word meaning components of ‘berjalan’ (walking) in BLUD. Primary data in this research are speech data or oral data collected by applying survey method. The data were collected using the conversation method and the listening method by applying some techniques, such as the stimulation and response technique, note taking technique, and recording technique. From the research results, it is found that in the BBDU the vocabulary which states "walking" is represented by four points of view, namely the way, attitude, purpose, and place to do it. From the point of view of how to do it, the meaning of 'walking' is differentiated into bajajah, barensuik, beransu, jeruik, maleso, malicak, manarik, moirik, padek egak, perangsag, and tamenye-menye. Based on the attitude point of view when doing it, the meaning of 'walking' is differentiated into manjojaki, malengak, lengak, taulu-ulu, tapuji-puji, tahele-hele, padek elok, and tak tecotuk atah.. From the point of view of the purpose of doing it, the meaning of "walking" is distinguished into the words menyuluh, kawup, bakisah, and celengkang, whereas from the point of view of the place where you do it, the meaning of "walking" is only in the word menakih.
The Effect of Using PQ4R Strategy on The Ability of The Second Year Students of Mts Darul Hikmah Pekanbaru in Comprehending Recount Texts Nina Fitriani; Supriusman Supriusman; Maria Safriyanti
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i2.423

Abstract

Abstract This research aimed to find out if there is a significant effect of using PQ4R strategy on the ability of the second year students of MTs Darul Hikmah Pekanbaru in comprehending recount texts. This is a pre-experimental research with one group pretest and posttest design. This research used quantitative data and the instrument used to collect the data was a reading test in multiple choice forms. As the result, the mean score of pre-test is 59.03 and post-test is 62.97. In the other words, the mean score of post-test is higher than the mean score of pre-test. The result also showed that the value of t-test (8.907) is higher than t-table (3.365) at the significance level 0.1%. It means that Alternative Hypothesis (Ha) is accepted. It can be concluded that there is a significant effect of using PQ4R strategy on the ability of the second year students of MTs Darul Hikmah Pekanbaru in comprehending recount texts. It is suggested that in understanding recount text is one of alternatives, the teacher needs to focus on the students’ understanding of the sentences on the texts. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan penggunakan strategi PQ4R pada kemampuan siswa tahun kedua MTs Darul Hikmah Pekanbaru dalam memahami teks recount. Penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimental dengan desain satu kelompok pretest dan posttest. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes membaca dalam bentuk pilihan ganda. Hasilnya, nilai rata-rata pre-test adalah 59,03 dan post-test adalah 62,97. Dengan kata lain, skor rata-rata post-test lebih tinggi daripada skor rata-rata pre-test. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nilai t-test (8,907) lebih tinggi dari t-tabel (3,365) pada tingkat signifikansi 0,1%. Ini berarti bahwa Hipotesis Alternatif (Ha) diterima. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan menggunakan strategi PQ4R pada kemampuan siswa tahun kedua MTs Darul Hikmah Pekanbaru dalam memahami teks recount. Disarankan bahwa dalam memahami teks recount, salah satu alternatif adalah guru perlu fokus pada pemahaman siswa tentang kalimat pada teks.
Makian Referen Keadaan dalam Bahasa Melayu Jambi di Muara Bungo: Kajian Sosiolinguistik Sri Wahyuni; Rina Marnita; Fajri Usman
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.199

Abstract

AbstractJambi is a province in Indonesia which is divided into eleven regencies and and municipalities. One of the regencies is Bungo whose capital is Muara Bungo. Muara Bungo community uses Jambi Malay language to interact one other. This study discusses about the situational referents of swear words in Jambi Malay language. The background of the research was the habits of Muara Bungo community in using swear words to express anger, disappointment, resentment, hatred, etc. The purpose of this study is to identify, describe, and explain the situational referents of the swear words in Jambi Malay language. The data were collected by means of listening, interview, recording and note taking techniques. They were analyzed by means of distributional and identity methods. The results of the analysis of this qualitative research were presented in an informal descriptive form. They show that the situational referents of the swear words in Jambi Malay language are different from other regional languages in terms of form, naming, and function of swear words. AbstrakJambi merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Jambi memiliki 11 kabupaten, salah satunya adalah Muara Bungo. Masyarakat Muara Bungo menggunakan bahasa Melayu Jambi untuk berinterakasi satu sama lain. Penelitian ini dilatarbelakangi kebiasaan masyarakat Muara Bungo menggunakan makian pada saat mengekspresikan rasa marah, kesal, kecewa, benci, dan lain-lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menggambarkan, dan menjelaskan makian yang mengandung referen keadaan dalam bahasa Melayu Jambi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan teknik wawancara. Penelitian ini juga menggunakan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan dan agih. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif informal. Penemuan hasil penelitian menunjukkan bahwa makian referen keadaan dalam bahasa Melayu Jambi memiliki perbedaan dengan bahasa lainnya, yaitu dari segi bentuk, penamaan, fungsi makian.
Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Politisi dalam Kontroversi Ancaman People Power Pascapilpres Imam Mas Arum; Riyadi Santosa; nfn Sumarlam
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.201

Abstract

AbstractThe politeness in language in ‘the Mata Najwa’ talk show on TransTV is interested to study due to contradictory opinions expressed by guests who ended up in disrespectful speeches and debates. In line with the background, this study was aimed at describing the violation of the Leech’s politeness principle in language in the Mata Najwa talk show on TransTV. To reveal the violation, a descriptive method and a qualitative approach are used. The research subjects in this study were the speeches of the politicians in the Mata Najwa talk show on TransTV. The data used in this study are words, phrases and sentences that violate the maxims of politeness in accordance with Leech. The data were collected by means of documentation, listening and note-taking techniques. The data were initially analyzed by selecting the data which are assumed to violate Leech’s principles of politeness. Then the data were classified based on the violations of politeness maxims. The results showed that the violations of politeness in language found in the program of Mata Najwa talk show on TransTV included the six maxims of politeness in language; namely the maxims of tact, generosity, approbation, modesty, agreement, and sympathy.  AbstrakKesantunan berbahasa dalam acara talk show Mata Najwa di TransTV menarik untuk diteliti karena pada acara tersebut pihak yang diwawancarai atau diskusi sering kali mengutarakan pendapat yang berbeda dan berujung pada tuturan dan perdebatan yang tidak santun. Sejalan dengan latar belakang tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah menghasilkan deskripsi tentang pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa  Leech dalam acara talk show Mata Najwa di TransTV. Untuk mendeskripsikan tentang pelanggaran kesantunan tersebut digunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian dalam penelitian ini ialah tuturan politisi di acara talk show Mata Najwa di TransTV. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang melanggar maksim-maksim kesantunan Leech. Teknik yang digunakan dalam proses pengumpulan data ada tiga teknik, yaitu (1) teknik dokumentasi, (2) teknik simak, (3) dan teknik catat. Kegiatan analisis data dimulai dengan penyeleksian data yang diduga sebagai bentuk tuturan melanggar prinsip kesantunan Leech. Kemudian data diklasifikasikan berdasarkan pelanggaran maksim-maksim kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa yang terdapat dalam acara di acara talk show Mata Najwa di TransTV mencakup keenam maksim kesantunan berbahasa; yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian.
Strategi Kesantunan Pemandu Acara Mata Najwa pada Episode Cerita Para Juara: Kajian Pragmatik nfn Irwansyah
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.204

Abstract

AbstractPoliteness in language is a key to success for a program host to get comfortable in communication. The purpose of this study is to analyze and reveal Najwa Shihab’s politeness strategy in the episode ‘the Champions Stories’  of Mata Najwa  program by using a pragmatic approach. The theory used in this study is the politeness theory of Brown and Levinson (1987). This descriptive and qualitative study employed free listening and involvement in conversation (SLBC) method and listening and note taking techniques. The data were collected from  the episode of ‘the Champions Stories’  in Mata Najwa  program . The results of the study shows that the politeness strategy used by Najwa Shihab is a direct strategy classified into positive and negative politeness. The most frequently used  politeness strategy is positive politeness. The underlying factor is her firm and bold speaking character. Besides, she can obtain complete information from her guests in relaxed and polite manner. AbstrakKesantunan berbahasa merupakan kunci kesuksesan bagi pemandu acara untuk memberikan kenyamanan dalam berkomunikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menemukan strategi kesantunan yang digunakan oleh Najwa Shihab dalam program acara Mata Najwa Episode para juara dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deksriptif dengan metode simak bebas libat cakap (SLBC) dengan teknik simak dan catat. Sumber diambil dari program acara Mata Najwa episode cerita para juara. Hasil penelitian menunjukkan strategi kesantunan yang digunakan Najwa Shihab yaitu strategi langsung bersifat kesantunan positif, kesantunan negatif, dan kesantunan positif. Kesantunan terbanyak yang digunakan oleh Najwa Shihab dalam program acara Mata Najwa episode cerita para juara adalah kesantunan positif, hal tersebut dilatarbelakangi Najwa adalah seseorang yang tegas, berani dalam bertutur. Hal ini juga menjadi ciri khas Najwa untuk mendapatkan informasi selengkap dari narasumber dengan pembawaan santai tetapi tetap santun.
Metafora Kata Buah dalam Bahasa Melayu Dialek Mempura Kabupaten Siak: Kajian Semantik Kognitif Afriliyani Safitri; Hermandra Hermandra; Mangatur Sinaga
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.219

Abstract

AbstractMetaphor becomes a marker of language in Malay society. Metaphors are usually used to praise, insinuate, ask for, and express something. Therefore, it is necessary to conduct an analysis study of the metaphor of the word fruit in Mempura Malay language as physical parts and space of human body to reveal the meanings. The purpose of this research is to find out the metaphorical forms and meanings of the word fruit as the physical parts and space of human body in Mempura Malay language. This qualitative and descriptive research was conducted through a cognitive semantic perspective. The data of this research were collected from the utterances of the Mempura Malay community which mostly used metaphorical expressions. The techniques of data collection were by means of interviewing, evoking, listening and conversation, and recording. The data were analyzed by means of descriptive method. The result of the study shows that there are several metaphors for the word fruit as the physical parts and space of human body in Mempura Malay language to express something such as ‘buah hati’, ‘buah jakun’, ‘buah betis’, ‘buah dada’, and ‘buah cinta’. AbstrakMetafora menjadi penanda bahasa dalam masyarakat Melayu. Metafora biasanya digunakan untuk memuji, menyindir, meminta, dan menyatakan sesuatu. Hal ini mendorong dilakukan analisis metafora kata buah bagian fisik dan ruang manusia untuk mengetahui makna ungkapan yang terdapat dalam bahasa Melayu Mempura. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan bentuk dan makna metafora kata buah bagian fisik dan ruang manusia dalam bahasa Melayu Mempura.  Metode yang digunakan ialah metode penelitian deskriptif kualitatif melalui perspektif semantik kognitif. Data penelitian ini diambil dari tuturan masyarakat Melayu Mempura yang banyak menggunakan ungkapan metafora. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik wawancara yang dibantu dengan teknik pancing, dan simak cakap yang disertai dengan teknik rekam. Teknik analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat metafora kata buah bagian fisik dan ruang manusia dalam bahasa Melayu Mempura untuk menyatakan sesuatu, misalnya, buah hati, buah jakun, buah betis, buah dada, buah cinta, dan lain sebagainya.
Toponymic Lexicon of River Culture in Central Kalimantan: An Ethnosemantic Study Andi Indah Yulianti; Ika Nurhayani; nfn Hamamah
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.227

Abstract

AbstrakMasyarakat Kalimantan Tengah yang mayoritas tinggal di sepanjang daerah aliran sungai besar, menjadikan sungai sebagai sesuatu yang penting dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Budaya sungai yang dianut oleh masyarakat Kalimantan Tengah dapat dilihat dari leksikon-leksikon yang terkandung dalam toponimi wilayah. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan leksikon-leksikon yang muncul dari budaya sungai yang tercermin dalam toponimi Kalimantan Tengah sehingga karakteristik masyarakatnya dapat terungkap. Penelitian ini mengungkap karakteristik budaya sungai Kalimantan tengah dari segi penamaan wilayah. Pendekatan etnosemantik digunakan untuk mengupas hubungan antara bahasa, budaya, dan pola pikir masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa cara menamai suatu wilayah di Kalimantan Tengah dipengaruhi oleh anatomi sungai yang terletak di hulu, tengah, dan hilir. Selain itu, sistem pengetahuan dan sistem kepercayaan juga turut berperan serta dalam penamaan toponim di Kalimantan Tengah. AbstractRivers have a significant role in the life of most of Central Kalimantan people living along riverbanks. Their river culture is reflected from their toponymic lexicon. The purpose of this study was to describe the lexicon of their river culture which is reflected from the toponyms found in Central Kalimantan in order to reveal their characters. Ethnosemantic approach was employed to reveal the relationship among language, culture, and mindset of the society. Data collection was carried out by means of interview method. The result of this study shows that the toponyms in Central Kalimantan was influenced by river’s anatomy i.e. upstream, middle and downstream Furthermore, it was also influenced by knowledge and belief systems.
Nilai-Nilai Moral dalam Naskah “Kitab Pengajaran” Bayu Aji Prasetya; Asep Yudha Wirajaya
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.228

Abstract

AbstractThe purpose of this research is to reveal the existing moral values in the Kitab Pengajaran. The data source of this descriptive qualitative research is the manuscript of Kitab Pengajaran stored in the British Library, England whose inventory code number is  MSS Malay B metadata 13. The result of the study shows that there are some moral teachings in this text, namely: thinking before speaking, covering the disgrace of others, being disciplined and on time, and being able to control anger and lust. These teachings rightly need to be preserved, disseminated, and implemented  in social life today and in the future. Thus, the expectation of producing superior human resources among the Indonesian people whose characters are strong and intelligent will be immediately met. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai moral yang ada dalam Kitab Pengajaran. Adapun bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitaif dengan menggunakan sumber data berupa naskah Kitab Pengajaranyang tersimpan di Perpustakaan British, Inggris, dengan nomor kode inventarisasi metadata MSS Malay B13. Berdasarkan hasil kajian, dapat diketahui bahwa tterdapat beberapa ajaran moral dalam naskah ini, yaitu: ajaran untuk berpikir sebelum berucap, ajaran menutupi aib orang lain, ajaran disiplin dan tepat waktu, serta mampu mengendalikan amarah dan hawa nafsu. Ajaran-ajaran tersebut sudah sepatutnya perlu dilestarikan, disosialisasikan, dan diimplementasikan lagi dalam kehidupan bermasyarakat, baik di masa sekarang maupun di masa-masa yang akan datang. Dengan demikian, harapan bangsa Indonesia agar segera menghadirkan sumber daya manusia unggul yang memiliki karakter kuat dan cerdas dapat menjadi sebuah kenyataan.