HUMANIKA
Humanika ISSN 2502-5783 (online), ISSN 1412-9418 (print) is an open access and peer-reviewed journal published by Faculty of Humanities, Diponegoro University, Indonesia. This Journal published twice a year (January-June and July-December).The scope of journal is: Literature, Linguistics, History, Art, Religion, and Philosophy.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 30, No 1 (2023): June"
:
10 Documents
clear
Representasi Ikigai pada Tokoh Sakura Yamauchi pada Anime Kimi no Suizou o Tabetai karya Yoru Sumino
Stefany Josephine Margaret;
Yusida Lusiana;
Muammar Kadafi
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.52144
Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan konsep ikigai yang direpresentasikan melalui tokoh utama Sakura melalui tanda ataupun simbol. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika John Fiske dengan teori code of television dengan tiga tahanan dalam menganalisis yaitu tahap level realitas, level representasi, dan level ideologi. Hasil penelitian adalah adanya tanda-tanda Ikigai dalam anime Kimi No Suizou Wo Tabetai. Tanda-tanda tersebut direpresentasikan oleh tokoh utama melalui keempat elemen ikigai yaitu semangat hidup (jounetsu), tujuan hidup (shimei), profesi/pekerjaan (shokugyou), dan panggilan jiwa (tenshoku) dapat terlihat diri tokoh utama Sakura. Pada tataran realitas, konsep ikigai tokoh terlihat pada aspek penampilan, cara bicara, perilaku, gerak tubuh, ekspresi dan lingkungan. Pada level representasional, kode-kode teknis dan konvensional hadir dalam anime penggambaran konsep ikigai tercermin melalui aspek kamera, pencahayaan, musik dan suara. Tingkat ideologi yang dapat disimpulkan, penggambaran ikigai tokoh dalam perjuangan hidupnya melawan penyakit yang dideritanya adalah ideologi effortism/ganbarizumu. Setiap orang dengan situasi dan kondisi yang dimiliki dapat menjadi yang berkinerja terbaik dan memiliki hidup penuh makna dengan memiliki motivasi untuk hidup sehat. Selain itu dilandasi juga dengan konsep Ichi-go ichi-e yang memiliki arti pengalaman berharga di mana kita tidak akan pernah bisa mengulanginya lagi dengan cara yang sama.
Perilaku Distorsi Kognitif Tokoh “Boku†dalam Cerpen Shigatsu No Aru Hareta Asa Ni Hyaku Paasento Onna No Ko Ni Deau Koto Ni Tsuite Karya Murakami Haruki
Zaki Ainul Fadli;
Anggita Prameswari
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.49427
Murakami Haruki adalah seorang sastrawan Jepang kontemporer yang dikenal karena karya-karyanya yang khas. Dalam cerpen “Shigatsu No Aru Hareta Asa Ni Hyaku Paasento Onna No Ko Ni Deau Koto Ni Tsuiteâ€, salah satu keunikan yang menarik perhatian pembaca adalah kemampuannya mengolah cerita sederhana menjadi cerita yang menarik. Cerita cerpen ini berpusat pada pemikiran karakter boku di sekitar wanita ideal menurutnya yang disajikan dengan penyajian plot yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psikologis karakter "Boku" dan mengungkap cara berpikir aneh yang menyebabkan konflik batin yang dialaminya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan metode studi pustaka sebagai metode pengumpulan data.Teori distorsi kognitif yang dikemukakan oleh David D. Burns digunakan untuk mengkategorikan tindakan tokoh Boku berdasarkan jenis distorsi kognitifnya. Hasil yang diperoleh adalah karakter "Boku" memiliki enam bentuk penyimpangan kognitif, yaitu: (1) Overgeneralization, (2) Jump to Conclusions, (3) Mind reading, (4) Dichotomous Thinking, (5) Emotional Reasoning, dan ( 6) The "Should" Statement.
Representasi Shokuiku dalam Novel Mdogiwa no totto-chan Karya Tetsuko Kuroyanagi
Aisyah Kholilah Shofuro;
Yusida - Lusiana;
Diana Puspitasari
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.52475
Penelitian ini membahas representasi pendidikan makan (shokuiku) dalam novel Madogiwa no Totto-chan karya Tetsuko Kuroyanagi dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna shokuiku melalui penggunaan tanda semiotika ikon, indeks dan simbol. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode simak dan teknik catat untuk pengumpulan data. Analisis data menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dan konsep shokuiku. Hasil penelitian ditemukan 5 data ikon, 5 data indeks, dan 6 data simbol. Keseluruhan data yang ditemukan mencerminkan tiga bentuk pendidikan makan yaitu pendidikan intelektual (chiiku) yang diwakili oleh 4 tanda yaitu guru pertanian, lagu makan, laut dan gunung, serta tungku memasak (hangousuisan); 6 data pendidikan jasmani (taiiku) yang digambarkan oleh objek mama, guru renang, dan istri kepala sekolah; dan 6 data pendidikan moral (tokuiku) yang digambarkan oleh tanda kepala sekolah, upacara minum teh (sawakai), ohanashi, itadakimasu, bekal makan siang (bentou), dan sake. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa representasi shokuiku lebih banyak terdapat pada kelompok pendidikan moral dan pendidikan Jasmani dimana pemilihan dan pemberian nutrisi seimbang, olahraga, serta pola pembiasaan budaya asli Jepang merupakan bagian paling penting shokuiku dalam novel Madogiwa no Totto-chan
Nilai Budaya Malu Masyarakat Jepang (Kajian Sosiologi Sastra pada Cerpen Yabu No Naka)
Yuliani Rahmah;
Muhammad Naufal Wibawanto
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.52163
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji nilai budaya malu (Haji no Bunka) dalam cerpen “Yabu no Naka†karya Akutagawa Ryunosuke. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang mana proses analisis dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai budaya malu yang tergambar dalam cerita “Yabu no Nakaâ€. Dengan kajian sosiologi sastra dan teori budaya Jepang, sebagai hasil kajian diketahui bahwa dalam cerpen “Yabu no Naka†terdapat tiga nilai budaya malu yaitu nilai haji, gimu dan giri. Ketiga nilai budaya malu tersebut tergambar dari beberapa unsur intrinsiknya, antara lain tergambar dalam karakter tokoh-tokoh utamanya, tema dan amanat cerita. Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa cerita yang berlatar masyarakat pada masa Heian tersebut selain memegang teguh nilai-nilai dalam Haji no Bunka, juga masih menjungjung tinggi nilai-nilai Bushido yang menjadi jalan hidup para samurai. Selain itu bila dilihat dari gambaran nilai budaya malu yang terdapat dalam rangkaian ceritanya, maka cerpen berjudul “Yabu no Naka†ini penulis maknai sebagai pesan pengarang yang terkait langsung dengan Haji no Bunka. Melalui judul tersebut tersirat pesan bahwa haji (aib) merupakan hal tersembunyi yang sewaktu-waktu dapat dengan mudahnya terbongkar, layaknya menutupi sesuatu hanya dengan “yabu†(semak belukar).
Kesalahan Morfologi dalam Percakapan Bahasa Jepang Mahasiswa Pariwisata Politeknik Negeri Bali
Harisal Harisal;
Wahyuning Dyah;
Kanah Kanah
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.53931
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk kesalahan morfologi yang terjadi dalam percakapan yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali yang sedang mempelajari bahasaJepang Hotel. Hasil dari percakapan mahasiswa ditemukan adanya kesalahan morfologi sehingga menimbulkan kalimat yang tidak berterima. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposif sampling, yaitu hasil interaksi dosen dan mahasiswa dalam kelas bahasa Jepang Hotel di jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Bali dan dianalisis secara deskriptif-kualitatif, yaitu data yang dikumpulkan pada penelitian ini bukan berupa angka-angka, melainkan berasal dari persentasi, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi lainnya sehingga yang menjadi tujuan dalam penelitian kualitatif ini, yaitu ingin menggambarkan realita empirik dibalik fenomena secara mendalam, rinci, dan tuntas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kesalahan morfologi yang terjadi dalam percakapan mahasiswa jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali terdiri dari kesalahan perubahan waktu, kesalahan perubahan kata sifat, dan kesalahan penggunaan bentuk pasif.
Moderasi Beragama dalam Film “?†Karya Hanung Bramantyo: Kajian Sosiologi SastraA DALAM FILM “?†KARYA HModerasi Beragama dalam Film “?†Karya Hanung Bramantyo: Kajian Sosiologi SastraANUNG BRAMANTYO: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
Nunung Kusumawati;
Nurdien Kistanto;
Muhammad Suryadi
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.50571
Penelitian ini fokus menganalis tentang bagaimana pesan moderasi beragama yang diungkap dalam film “?†karya Hanung Bramantyo. Moderasi beragama adalah solusi alternatif yang sekarang ini digalakkan oleh pemerintah untuk menjawab beragam tantangan isu pluralisme beragama di Indonesia. Untuk itu penulis menggunakan tinjauan sosiologi sastra dalam menganalisis penelitian ini. Data dalam penelitian ini adalah film “?†karya Hanung Bramantyo yang berupa adegan, penggunaan bahasa, baik di dalam dialog antar tokoh maupun dalam teks-teks yang beredar di sepanjang film ini yang berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Kemudian data tersebut diolah dalam bentuk argumen teoretis untuk menganalisis bagaimana pesan moderasi beragama tersampaikan dalam film tersebut. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah  teknik dokumentasi, teknik simak, dan teknik catat. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pesan-pesan moderasi beragama dalam film “?.†Pesan-pesan tersebut adalah a) toleransi, b) anti kekerasan, c) penerimaan terhadap tradisi, d) komitmen kebangsaan. Keempat hal tersebut adalah sikap moderasi beragama sebagai penawar isu gejolak pluralisme beragama di Indonesia. Selain itu film ini terbukti memiliki kemampuan futuristik yang tinggi, yaitu istilah moderasi beragama baru muncul dan didengungkan oleh pemerintah pada tahun 2019 sedangkan film ini dirilis pada tahun 2011. Hal ini semakin menguatkan bahwa bahwa karya sastra selalu relevan sepanjang zaman karena mampu memotret kondisi sosial masyarakat di masa yang akan datang.Â
Diplomasi Budaya Melanesia Sebagai Strategi Pemanfaatan Kekuatan Laut Nasional dalam Menghadapi Pakta Pertahanan Australia, United Kingdom, dan United States (AUKUS)
Amelia Fatimah;
Rudy Sutanto;
Agus Adrianto
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.52078
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi alternatif untuk menghadapi AUKUS, yakni melalui diplomasi budaya Melanesia. Data penelitian diperoleh melalui wawancara tidak terstruktur dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori sea power, diplomasi budaya, dan diplomasi angkatan laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ikatan budaya dengan negara-negara di Pasifik Selatan melalui budaya Melanesia. Pemerintah dan masyarakat Indonesia telah melaksanakan berbagai bentuk diplomasi budaya namun belum spesifik menggunakan budaya Melanesia dan untuk menghadapi AUKUS. Diplomasi budaya dapat dilaksanakan baik secara bilateral maupun regional. TNI AL sebagai komponen utama kekuatan laut nasional dapat melaksanakan diplomasi budaya melalui diplomasi angkatan laut yang bersifat coalition building. Diplomasi budaya oleh TNI AL merupakan bentuk pemanfaatan kekuatan laut nasional. Sedangkan budaya dan masyarakat Melanesia merupakan elemen untuk mewujudkan kekuatan laut dari segi karakter dan jumlah penduduk. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa diplomasi budaya Melanesia dapat menjadi alternatif strategi untuk menghadapi AUKUS.
A Psychoanalysis Study of Pippa Midgley Character in Robert Galbraith's Novel The Silkworm
Agustinus Harry Pradata;
Sistiadinita Sistiadinita
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.54379
This research aims to find out personality and describe the hierarchy of human needs in Pippa Midgley as a minor character in the novel The Silkworm (2018) by Robert Galbraith. This research is a qualitative content analysis because the data obtained in this study is descriptive data collected from a novel. For the data collection, the writer determined the type of data, took notes, and managed the data. The writer used the theory of the Big Five model by McCrae & Costa (1992) to find out the personality of Pippa Midgley. Further, the writer used the idea of the hierarchy of human needs by Maslow (1943) to describe Pippa Midgley’s needs. Before describing Pippa Midgley’s needs, the writer analyzed the personality traits of Pippa Midgley based on the category. This research showed that Pippa Midgley has a high personality of neuroticism, which consists of anxiety, vulnerability, and angry hostility. After that, the writer found out that the needs of Pippa Midgley follow the hierarchy of needs by Maslow which are psychology, safety, belongingness and love, esteem, and self-actualization needs. In addition, the high level of neuroticism in Pippa Midgley made her experienced obstacle in fulfilling the needs of self-actualization. This was because Pippa Midgley's neuroticism personality made her vulnerable, so she could not appreciate her potential.
The Lecturers and Students’ Speech Act Used in Classroom Interaction: A Case Study
Andi Muhammad Syafri Idris;
Gusnawaty Gusnawaty;
Munira Hasjim;
Kamsinah Kamsinah
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.55300
The speech act becomes a crucial major to provide the better conversation between people in the society or setting condition. The aim of the research is to explore the speech act used by the lecturer and students involving classroom interaction in teaching and learning process. In this research, the case study was used to examine the lecturer and students’ speech act in classroom interaction. The subject of the research was two lecturer and six students in linguistics program of faculty of cultural sciences, Hasanuddin University, Makassar in academic year 2022/2023. The sample was chosen by purposive sampling while the instrument of the research is observation and interview. In this research, the data will be analyzed by Searle’s Theoretical framework. The lecturer argues that the reason is using more directive speech acts is only to invite students to talk more and to carry out the principle of what Communicative Language Teaching is like believe. In this case, the directive is mostly dominant proposed by the lecturer in the teaching and learning process in the classroom interaction. It shows that the speech act used in the classroom can be powerful in the teaching and learning process for interaction in the classroom. The last, the implications can be seen from the finding that using directive speech acts that involve asking a lot of questions, asking, or governing contributes to student achievement, especially in productive skills.
Evaluasi Program GEMAR Literasi Kabupaten Bima: Model Goal Free Evaluation
Arif Hidayad;
Suranto AW;
Syarifudin Syarifudin;
Nunung Fatimah
HUMANIKA Vol 30, No 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/humanika.v30i1.52091
Tujuan penelitian  evaluasi ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan program GEMAR Literasi di Kabupaten Bima NTB. Gerakan Masyarakat Sadar (GEMAR) Literasi merupakan program Kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak akademik (STKIP Taman Siswa Bima) dalam rangka meningkatkan level kemampuan membaca siswa SD kelas 1-4 di 25 sekolah dasar. Program ini dilaksanakan selama 1 tahun (2021-2022). Subjek penelitian sebanyak 6 orang dosen STKIP Taman Siswa Bima sebagai pelaksana program. Penelitian ini merupakan studi evaluasi program dengan pendekatan kualitatif model Goal Free Evaluation. Data tentang proses pelaksanaan program dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dan studi dokumen. Studi evaluasi hanya fokus pada efek positif, efek negative dan efek sampingan positif dari program Gerakan Masyarakat Sadar literasi. Hasil studi evaluasi menggambarkan bahwa program menunjukkan proses dan perubahan yang nyata dan hasilnya cukup signifikan. Terlaksananya semua kegiatan program dengan baik dan tepat sasaran mampu merubah paradigma keraguan pihak pemerintah daerah terhadap keberhasilan program. Akibatnya, pihak pemerintah daerah tidak ragu untuk mengimbaskan praktik baik tersebut kepada lebih dari 400 SD di kabupaten Bima.