cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Kesuburan Tanah Di Bawah Tegakan Berbagai Jenis Bambu Pada Tanah Andosol-Regosol Sutiyono Sutiyono; I Wayan Susi Dharmawan; Ujang W Darmawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.517-523

Abstract

Permintaan bambu yang meningkat dapat dipenuhi dari peningkatan produktivitas bambu melalui budidaya yang intensif. Namun demikian, pengelolaan bambu telah menyebabkan terjadinya perubahan sifat tanah yang terkait dengan kesuburan. Pengelolaan bambu secara intensif juga berdampak terhadap hara di area rizosfer dan material biologis di dalamnya yang berpeluang mengganggu siklus nutrisi dan pengikatan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menilai pengaruh lima jenis bambu yaitu bambu ater (Gigantochloa atter), bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae), bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinaceae), bambu temen (Gigantochloa verticillata), dan bambu petung (Dendrocalamus asper) terhadap kesuburan tanah di bawahnya. Rumpun bambu yang dipilih terdiri dari lima jenis bambu yaitu bambu ater, bambu hitam, bambu andong, bambu temen, dan bambu petung. Satu rumpun bambu dipilih secara acak dari masing-masing jenis tersebut. Parameter pengukuran meliputi jumlah batang, lingkar rumpun dan kerapatan rumpun, diameter batang, tinggi batang dan berat segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bambu temen memiliki nilai karakteristik kesuburan tanah di bawah tegakan yang lebih baik dari jenis bambu lainnya.  Bambu temen memiliki nilai total basa-basa dapat ditukar, ketersediaan unsur fosfor (P), Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa masing-masing sebesar 11,28 meq/100 gr; 18,7 ppm; 22,4 meq/100 gr dan 50,4%. Bambu andong dan bambu petung memiliki karakteristik pertumbuhan dan produktivitas biomasa yang lebih besar dari jenis-jenis bambu lainnya. Bambu andong memiliki berat biomasa per lingkar rumpun sebesar 130,5 kg/m dan diameter batang sebesar 10,0 cm. Sementara itu bambu petung memiliki berat biomasa per lingkar rumpun sebesar 108,0 kg/m dan diameter batang sebesar 10,0 cm. Meskipun bambu andong dan bambu petung memiliki pertumbuhan yang lebih baik dari bambu lainnya, namun kesuburan tanahnya di bawah tegakan tidak sebaik dengan kesuburan tanah di bawah tegakan bambu temen. Dengan demikian, untuk keperluan mengkonservasi kesuburan tanah tetap baik maka bambu temen adalah pilihan yang terbaik dibandingkan dengan jenis bambu lainnya.ABSTRACTThe increasing demand for bamboo can be met by increasing the productivity of bamboo through intensive cultivation. However, bamboo management has led to changes in soil properties related to fertility. Intensive bamboo management also has an impact on nutrients in the rhizosphere area and the biological material in it which has the opportunity to disrupt the nutrient cycle and carbon sequestration. This study aims to analyze and assess the effect of five types of bamboo, namely bamboo ater (Gigantochloa atter), bamboo hitam (Gigantochloa atroviolaceae), bamboo andong (Gigantochloa pseudoarundinaceae), bamboo temen (Gigantochloa verticillata), and bamboo petung (Dendrocalamus asper) on the fertility of the soil in beneath of bamboo stand. The selected bamboo clumps consisted of five types of bamboo, namely bamboo ater, bamboo hitam, bamboo andong, bamboo temen, and bamboo petung. One bamboo clump was selected at random from each of these species. The measurement parameters included number of culm, clump circumference and clump density, culm diameter, culm height and fresh weight. The results showed that the bamboo temen species had better soil fertility characteristics under the stand than other bamboo species. Bamboo temen has a total value of exchangeable bases, availability of phosphorus (P), Cation Exchange Capacity (CEC) and Base Saturation of 11.28 meq/100 gr each; 18.7 ppm; 22.4 meq/100 gr and 50.4%, respectively. Bamboo andong and bamboo petung have higher growth characteristics and biomass productivity than other types of bamboo. Bamboo andong has a biomass weight per clump circumference of 130.5 kg/m and a culm diameter of 10.0 cm. Meanwhile, bamboo petung has a biomass weight per clump circumference of 108.0 kg/m and a culm diameter of 10.0 cm. Although the bamboo andong and bamboo petung had better growth than other bamboos, the soil fertility under the stands was not as good as the soil fertility under the bamboo temen stands. Thus, for the purpose of conserving good soil fertility, bamboo temen is the best choice compared to other types of bamboo.
Identifikasi dan Pencegahan Daerah Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Di Kalimantan Barat Tamas Faiz Dicelebica; Aji Ali Akbar; Dian Rahayu Jati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.1.115-126

Abstract

Kalimantan Barat memiliki potensi bencana kebakaran hutan dan lahan gambut yang tinggi karena banyaknya titik api dan jenis lahan gambut yang mudah terbakar pada musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan dan menentukan kecenderungan titik pamas dan mengidentifikasi dan mencegah kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan gambut dengan data hotspot, peta curah hujan, peta tutupan lahan, peta kesatuan hidrologis gambut, dan peta cekungan air tanah menggunakan Sistem Informasi Geografis atau SIG. Metode overlap digunakan untuk menganalisis kecenderungan titik panas sedangkan Overlay dan Scoring digunakan untuk mengidentifikasi kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan. Setelah dilakukan analisis titik panas, terdapat kecenderungan curah hujan pada kelas curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun dengan 2.192 kejadian. Perubahan tutupan lahan di kawasan hutan mengalami penurunan sebesar 7,96%. Peningkatan tutupan lahan di kawasan non-hutan sebesar 11,26%, mempengaruhi potensi dan kecenderungan titik api dan bencana kebakaran hutan dan lahan. Kubu Raya memiliki tingkat kerawanan bencana kebakaran pada kelas sangat rawan dengan luasan 0,26%, dan Kapuas Hulu memiliki tingkat kerawanan bencana kebakaran pada kelas tidak rawan dengan luas 0,19%. Kabupaten Ketapang merupakan daerah dengan tingkat pencegahan tertinggi, dengan luas cekungan airtanah sebesar 26,46%.ABSTRACTWest Kalimantan has a high potential for forest and peatland fire disasters due to the high number of hotspots and the type of peatland which burns easily during the dry season. The purpose of this research is to map and determine the trend of hotspots and areas prone to forest and peatland fires and prevent them with hotspot data, rainfall maps, land cover maps, maps of peat hydrological units, and maps of groundwater basins using Geographic Information Systems or GIS. The overlap method is used to analyze the trend of hotspots; meanwhile, Overlay and Scoring are used to identify areas prone to forest and land fires in this research. After analyzing the hotspots, there is a tendency for rainfall with a class of 1,500-3,000mm/year with 2,192 events. Land cover change in forested areas decreased by 7.96%. It increased land cover in non-forest areas by 11.26%, affecting the potential and tendency of hotspots and forest and land fire disasters. Kubu Raya has a fire disaster vulnerability level in the very vulnerable class with an area of 0.26%, and Kapuas Hulu has a fire disaster vulnerability level in the non-prone class with an area of 0.19%. Ketapang Regency is the area with the highest prevention rate, with a groundwater basin area of 26.46%.
Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Pertambangan Pasir di Desa Luragung Landeuh Kuningan, Jawa Barat Wina Waniatri; Muslihudin Muslihudin; Sri Lestari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.279-290

Abstract

Permasalahan dan isu strategis daerah pada bidang energi dan sumber daya mineral yang mempengaruhi kerusakan lingkungan hidup berdasarkan pada Rancangan Primer RPJMD 2018-2028 Kabupaten Kuningan  yaitu kegiatan penambangan pasir ilegal dan perubahan lahan. Salah satu lokasi pertambangan di Kabupaten Kuningan berada di Desa Luragung Landeuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses  kegiatan  pertambangan pasir;  serta mengetahui dampak negatif pertambangan pasir terhadap kualitas lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Kesimpulan penelitian ini adalah proses  kegiatan  pertambangan  pasir PT. Anggun Jaya Mandiri di  Desa  Lurangung  Landeuh Kecamatan Luragung Kabupaten Kuningan terdiri dari tahap pra-kontruksi, kontruksi, operasi, produksi, dan rencana pasca tambang. Dampak negatif kegiatan pertambangan pasir terhadap lingkungan adalah kebisingan, debu yang bertebaran, kerusakan infrastruktur jalan; Dampak positif kegiatan pertambangan pasir PT.AJM memberikan peningkatan peluang kerja, memperbaiki fasilitas desa, serta meningkatkan kas Desa Luragung Landeuh. Pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 telah mempengaruhi dalam penyelesaian konflik antara masyarakat dan pihak perusahaan pertambangan.ABSTRACTRegional strategic problems and issues in the field of energy and mineral resources that affect environmental damage based on the Primary Draft RPJMD 2018-2028 Kuningan Regency, namely illegal sand mining activities and land changes. One of the mining locations in Kuningan Regency is in Luragung Landeuh Village. This research was conducted to determine the process of sand mining activities; as well as knowing the negative impact of sand mining on environmental quality. This study uses a qualitative descriptive analysis method. The conclusions of this study are: (1) The process of sand mining activities of PT. Anggun Jaya Mandiri in Lurangung Landeuh Village, Luragung District, Kuningan Regency consists of pre-construction, construction, operation, production, and post-mining planning stages. The negative impacts of sand mining activities on the environment are noise, scattered dust, damage to road infrastructure; (2) The positive impact of PT.AJM's sand mining activities provides increased job opportunities, improves village facilities, and increases the cash flow of Luragung Landeuh Village. The Covid-19 pandemic at the beginning of 2020 has affected the resolution of conflicts between the community and the mining company.
Estimasi Nilai Hydraulic dan Solid Loading Rate Tipe Pengendapan Diskrit dan Flok Pada Proses Lumpur Aktif Untuk Pengolahan Limbah Cair Industri Kertas Fatihaturrizky Amelia; Owen Jacob Notonugroho; Satyanto Krido Saptomo; Allen Kurniawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.445-456

Abstract

Beban limbah cair industri kertas meningkat seiring dengan peningkatan produksi kertas di Indonesia. Konsentrasi COD berkisar antara 8.300–45.384 mg/L O2 dan TSS sebesar 41.000 mg/L. Salah satu upaya untuk mengurangi beban COD dan TSS di dalam limbah cair industri kertas adalah dengan memanfaatkan proses lumpur aktif. Penelitian ini difokuskan pada pengaruh proses sedimentasi di dalam unit lumpur aktif untuk mereduksi COD dan TSS. Penelitian ini juga mencakup analisis dua tipe pengendapan, yaitu pengendapan partikel diskrit dan pengendapan flok. Tujuan utama penelitian ini untuk mengestimasi nilai hydraulic loading rate dan solid loading rate serta rekomendasi dimensi unit sedimentasi lumpur aktif. Penelitian ini meliputi kegiatan monitoring kinerja proses dengan tiga variasi waktu detensi (HRT). Beberapa variabel yang diperhatikan untuk mencapai tujuan penelitian ini, antara lain kecepatan pengendapan bebas (v), percepatan gravitasi (g), massa jenis partikel (ρs), massa jenis fluida (ρ), diameter partikel (d), dan koefisien penarikan atau drag coefficient (Cd). Pengukuran reduksi COD mengacu pada SNI 6989.2:2009 dan pengukuran reduksi TS mengacu pada SNI 06-6989.26-2005. Penelitian ini menunjukkan bahwa kecepatan pengendapan discrete particle settling tergantung pada karakteristik satuan partikel berdasarkan diameter partikel. Kecepatan pengendapan flocculant settling tergantung pada pengaruh interaksi partikel dalam pembentukan flok atau gumpalan beberapa entitas partikel. Jika ditinjau dari nilai umur lumpur (SLR), HRT 8 jam dan HRT 12 jam menunjukkan kondisi under loaded pada unit sedimentasi. Sementara itu, nilai HLR dan SLR pada HRT 6 jam telah memenuhi rentang kriteria desain lumpur aktif. Dengan demikian, desain terbaik untuk unit sedimentasi sekunder lumpur aktif, yaitu HRT 6 jam dengan HLR sebesar 42,16 m3/m2hari, SLR sebesar 102,45 kg/m2hari dan rata-rata reduksi padatan total mencapai 89,26%.ABSTRACTThe influence of paper production affect simultenously to the increase of pulp and paper wastewater in Indonesia. The COD concentration ranged from 8,300–45,384 mg/L O2 and TSS was 41,000 mg/L. Reducing COD and TSS concentrations in the paper industry wastewater is to utilize by using activated sludge processes. This research was focused on the effect of sedimentation process in activated sludge to reduce COD and TSS. This research also included the analysis of two types of deposition, namely discrete particle settling and floc settling. Main objective this research was directed at determining the value of the hydraulic loading rate and solid loading rate as well as recommendations for the dimensions of the activated sludge sedimentation unit. This research included monitoring of process performance with three variations of detention time (HRT). There were several variables that are considered to achieve the objectives of this study, including free deposition velocity (v), acceleration due to gravity (g), particle density (ρs), fluid density (ρ), particle diameter (d), and drag coefficient. coefficient (Cd). The COD and TS reduction measurement refered to SNI 6989.2:2009 and SNI 06-6989.26-2005, respectively. This study showed that the speed of discrete particle settling depends on the characteristics of the particle unit as seen from the particle diameter. The deposition rate of flocculant settling depends on the effect of particle interactions in the formation of flocs or agglomerates of several particle entities. When viewed from the SLR value obtained, the 8-hour HRT and 12-hour HRT indicated that the sedimentation unit was in an under-loaded condition. Meanwhile, the HLR and SLR values at HRT 6 hours complied the activated sludge design criteria. Thus, the best design for the activated sludge secondary sedimentation unit was HRT 6 hours with an HLR of 42,16 m3/m2day, an SLR of 102,45 kg/m2day and an average total solids reduction of 89,26%.
Uji Spesifikasi Pengukuran PM10 Dengan EPAM5000 dan BAM 1020 Terhadap Kelembaban Udara Andi Sulistiyono; Rendi Septa Davi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.242-251

Abstract

PM10 merupakan salah satu aerosol yang merupakan bagian dari partikel pencemar. Keberadaannya menempati  volume ruang di atmosfer dengan konsentrasi yang selalu tergabung dengan materi lainnya dan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer setempat. Pengukuran PM10 pada periode waktu siang dan malam dengan menggunakan EPAM5000 dan BAM1020 telah dilakukan untuk mengetahui specifikasi alat terhadap hasil pengukuran pada responnya terhadap unsur cuaca (kelembaban). Data hasil pengukuran dan analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada hasil ukur konsentrasi PM10 pada periode malam pada EPAM5000 dan BAM1020 yang disebabkan oleh perbedaan pendukung instrument pada aliran udara masuk.  Adanya smart heather pada BAM1020 berfungsi untuk mengontrol kadar uap air dari aliran udara yang dihisap sedangan pada EPAM5000 udara yang dihisap langsung diukur kosentrasinya sehingga hasil ukur konsentrasi PM10 pada EPAM5000 lebih tinggi karena masih mengandung banyak uap air (aerosol hidroskopis). Adanya menu Manual Zero atau Auto Zero pada EPAM5000 untuk membersihkan optic sensor dan mereset menjadi 0 mg/m3. Pada periode malam, partikulat PM10 akan bergabung dengan uap air menyebabkan konsentrsi yang terukur pada EPAM5000 tinggi. Hal ini diperkuat oleh hasil korelasi menunjukkan bahwa nilai PM10 berkorelasi kuat terhadap kelembaban data pengukuran EPAM5000. Untuk ini perlu adanya metode untuk memisahkan PM10 dan materi lainnya (uap air) agar didapatkan nilai konsentarsi yang sebenarnya untuk menentukan kebijakan terkait kondisi udara yang terjadi.ABSTRACTPM10 is one of the aerosols which is part of polluting particles. Its existence occupies a volume of space in the atmosphere with a concentration that is always combined with other materials and is influenced by local atmospheric conditions. Measurement of PM10 in the time period of day and night using EPAM5000 and BAM1020 has been carried out to determine the specifications of the instrument on the measurement results in response to weather elements (humidity). Measurement data and correlation analysis indicate that there are differences in the results of measuring PM10 concentrations in the night period on EPAM5000 and BAM1020 due to differences in instrument support in the intake air flow. The presence of a smart heather on the BAM1020 functions to control the water vapor content of the sucked air stream, while on the EPAM5000 the air that is sucked is directly measured so that the concentration of PM10 on EPAM5000 is higher because it still contains a lot of water vapor (hydroscopic aerosol). There is a Manual Zero or Auto Zero menu on the EPAM5000 to clean the optical sensor and reset it to 0 mg/m3. During the night period, PM10 particulates will combine with water vapor causing concentrations measured at high EPAM5000. This is confirmed by the correlation results showing that the PM10 value has a strong correlation to the humidity of the EPAM5000 measurement data. For this, it is necessary to have a method for separating PM10 and other materials (water vapor) in order to obtain the actual concentration value to determine policies related to air conditions that occur.
Runoff Coefficient Analysis After Regional Development in Tambakbayan Watershed, Yogyakarta, Indonesia Slamet Suprayogi; M Widyastuti; M Pramono Hadi; Nugroho Christanto; Tommy Andryan Tivianton; Gita Oktaviani Fadhilah; Laelina Rahmawati; Lintang Nur Fadlillah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.396-405

Abstract

The Tambakbayan Watershed has experienced changes in its land utilization. Based on land-use data from 2006 and 2017, built-up land was found to have encroached on vegetated areas and showed a substantial increase in area. Such conversion can alter and modify runoff coefficients, as a measure of watershed response. This research aimed to evaluate land-use change in the watershed from 2006 through 2017 and its effects on runoff coefficients. It used descriptive quantitative methods combining literature study and data calculation. The secondary data were obtained from digital land-use maps (RBI) in 2006 and 2017, SRTM images, soil types, and the drainage network of the watershed. Runoff coefficient analysis confirmed that the land-use change between 2006 and 2017 caused by regional development increased the runoff coefficients of the watershed observed.ABSTRAKDaerah Aliran Sungai Tambakbayan telah terjadi perubahan, berdasarkan data penggunaan lahan tahun 2006 dan tahun 2017. Perubahan yang terjadi berupa meningkatnya lahan terbangun dan berkurangnya lahan bervegetasi. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi dapat mengakibatkan perubahan respon DAS yang dikuantifikasikan dalam bentuk koefisien aliran. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi perubahan penggunaan lahan daerah penelitian dari tahun 2006 dan 2017, kaitannya dengan koefisien aliran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif berdasarkan studi pustaka dan perhitungan. Data sekunder yang digunakan adalah Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Tahun 2006 dan 2017, Citra SRTM DAS Tambakbayan, Jenis Tanah DAS Tambakbayan, dan Jaringan Drainase DAS Tambakbayan. Perubahan penggunaan lahan akibat perkembangan wilayah, mengakibatkan peningkatan koefisien aliran pada tahun 2017 apabila dibandingkan dengan koefisien aliran pada tahun 2006.
Struktur Komunitas Vegetasi Mangrove Di Pesisir Pantai Kepulauan Karimunjawa Faradis Ulyah; Endah Dwi Hastuti; Erma Prihastanti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.1.176-186

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan yang berada di wilayah intertidal pesisir laut. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis struktur vegetasi mangrove (frekuensi, kerapatan, dominan) dan karakteristik habitatnya (kualitas lingkungan) di kawasan pesisir pantai kepulauan Karimunjawa. Penelitian dilakukan pada Desember 2019 di 3 stasiun dengan metode plot bertingkat, masing-masing stasiun dibuat 3 transek yang berukuran 10m x 10m (pohon), 5m x 5m (pancang), dan 2m x 2m (semai). Hasil penelitian ditemukan 7 jenis mangrove yaitu Rhizophora stylosa, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, dan Ceriops decandra. Indeks nilai penting tumbuhan mangrove pada strata pohon, pancang, dan semai paling tinggi adalah Rhizopora stylosa (244,77%), (163,03%), dan (157,96%).  Nilai kerapatan Rhizopora stylosa tingkat pohon, tingkat pancang dan semai yaitu (2.500-10.100 ind/ha), (10.400-48.400 ind/ha), dan (97.500-280.000 ind/ha). Kondisi lingkungan di sekitar kawasan mangrove yaitu rata-rata suhu (28,75%), pasir (10,75%), lanau (51,46%/), lempung (37,79%), salinitas (26,60%), pH (7,26), DO (3,28 mg/L), N total tanah (0,24%), P total tanah (120,49 ppm), C Organik tanah (2,10%), N total air (0,28%), P total air (0,27 mg/L), C Organik air (1,56 mg/L).ABSTRACTMangroves are a plant that are found in the intertidal area of marine coastal environments. The study aim to analyze structure of mangrove vegetation (frequency, density, and dominance) and the mangrove habitat (environmental condition) in Coastal Coast Karimunjawa Island. The research was conducted in December 2019 at the three stations using the stratified plot method, and one stations divided three observation transects sized 10m x 10m (trees), 5m x 5m (saplings), and 2m x 2m (seedlings). The result of the study found seven mangroves species were Rhizophora stylosa, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, and Ceriops decandra. The highest value index of mangroves for trees, saplings and seedlings is the highest Rhizopora stylosa (244,77%), (163,03%), and (157,96%). Density value Rhizopora stylosa in tree level, saplings, and seedlings were (2.500-10.100 ind/ha), (10.400-48.400 ind/ha), dan (97.500-280.000 ind/ha). The environmental conditions around the mangrove area are average temperature (28,75%), sand (10,75%), silt (51,46%/), clay (37,79%), salinity (26,60%), pH (7,26), Dissolved Oxygen (3,28 mg/L), N total land (0,24%), P total land (120,49 ppm), C Organic land (2,10%), N total water (0,28%), P total water (0,27 mg/L), C Organic water (1,56 mg/L).
Pengaruh Remediasi Biochar dan Bioslurry Tanah Tercemar Terhadap Kadar Timbal Terlarut dan Bioavailabilitasnya pada Sawi Hijau (Brassica rapa) Himawan Himawan; Darwanta Darwanta
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.335-343

Abstract

Remediasi tanah dengan metode amobilisasi dapat dilakukan untuk mengaktifkan lahan pertanian tercemar timbal secara efektif dengan biaya rendah. Pada penelitian ini biochar dan bioslurry digunakan untuk amandemen tanah tercemar dan diuji keefektifannya mengurangi kadar Pb terlarut dan Pb yang diserap tanaman sawi hijau (B. rapa) di rumah kaca. Selanjutnya budidaya sawi di lapangan dilakukan untuk mengetahui dampak amandemen terhadap pertumbuhan dan kadar Pb-sawi serta kemungkinan kontaminasi Pb pada tanah sekitar. Sampel tanah tercemar diambil dari Desa Cinangka, Bogor sedangkanbioslurry dan sisa kegiatan pertanian/peternakan diperoleh dari Desa Jeruk Sawit di sekitar Kota Surakarta. Amandemen tanah ber-Pb 4.296 ppm dengan kombinasi biochar dan bioslurry (0; 2,5; 5,0; 10%) mampu mengurangi kelarutan Pb s.d 87,7% sekaligus mengurangi risiko ekologisnya dari tingkat moderat ke tingkat rendah. Pada uji rumah kaca, kombinasi biochar dan bioslurry menurunkan kadar Pb-daun sawi mencapai maksimal 63,11% dari 44,00 menjadi 16,23 ppm. Pertumbuhan tanaman sawi meningkat pada penambahan bioslurry tetapi penambahan biochar pada kadar 5 dan 10% menekan pertumbuhan yang kemungkinan karena pH yang terlalu tinggi untuk sawi. Uji lapangan selama satu kali masa tanam dengan kadar biochar dan bioslurry (5%/5%) mengakibatkan pertumbuhan sawi yang 20x lebih baik dibanding hasil budidaya rumah kaca, menurunkan Pb-daun dari 34,92 menjadi 21,71 ppm, serta mampu mencegah migrasi Pb ke sekitar media tanam.ABSTRAKImmobilization method of soil remediation can be conducted to activate lead contaminated agricultural land effectively at low cost. In this study, biochar and bioslurry were used to amend polluted soil and tested their effectiveness in reducing the levels of dissolved Pb and Pb absorbed by the green mustard (B. rapa) in the greenhouse. Furthermore, mustard cultivation in the field was carried out to determine the impact of the amendment on the growth and Pb levels of green mustard and the possibility of Pb contamination in the surrounding soil. Polluted soil samples were taken from Cinangka Village, Bogor, while bioslurry and the byproduct of agricultural/animal husbandry were obtained from Jeruk Sawit Village around Surakarta City. Polluted soil containing 4296 ppm Pb amended with a combination of biochar and bioslurry (0; 2.5; 5.0; 10%) were able to reduce Pb solubility up to 87.7% while reducing the ecological risk from moderate to low level. In the greenhouse test, the combination of biochar and bioslurry reduced the Pb level in mustard leaves to a maximum of 63.11% from 44.00 to 16.23 ppm. The growth of mustard plants increased with the addition of bioslurry but the addition of biochar at levels of 5 and 10% suppressed growth which was probably due to the pH being too high for green mustard. Field trial during one planting period with biochar and bioslurry level (5%/5%) resulted in 20x better growth of green mustard than greenhouse cultivation, reduced leaf-Pb from 34.92 to 21.71 ppm, and was able to prevent Pb migration around the planting medium.
Pemanfaatan Scrap Besi Menjadi Copperas dan Ekstrak Kulit Rambutan untuk Pembuatan Nanopartikel Besi yang Ramah Lingkungan Sunardi Sunardi; Mardiyono Mardiyono; Nur Hidayati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.494-507

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir, pembuatan nanopartikel besi telah menjadi perhatian karena efisiensinya pada penghilangan beberapa jenis zat pencemar. Zat-zat pencemar yang dapat diolah dengan nanopartikel besi antara lain senyawa azo, pelarut terklorinasi, pestisida terklorinasi, anion anorganik dan logam transisi, polutan organik dan anorganik, logam berat, nitrat, bromida, arsen, kromium, timbal, antibiotik,  dan pewarna. Pada umumnya, pembuatan nanopartikel besi dilakukan dengan mereduksi besi bermuatan tiga/dua dengan natrium tetra borana, NaBH4. Pembuatan nnanopartikel besi menggunakan NaBH4 menghasilkan produk samping berupa asam borat yang beracun dan gas hidrogen yang mudah meledak atau terbakar. Penelitian ini bertujuan membuat nanopartikel besi dengan memanfaatkan limbah scrap besi menjadi copperas kemudian mereaksikan dengan ekstrak kulit rambutan. Metode yang dilakukan adalah mereaksikan scrap besi dengan asam sulfat sampai terbentuk copperas yang berwarna biru kehijauan. Copperas yang dihasilkan dibuat menjadi larutan kemudian direksikan dengan ekstrak kulit rambutan. Larutan hitam yang dihasilkan dikarakterisasi dengan Spektrofotometri UV-Vis dan TEM. Larutan berwarna hitam dikeringkan dengan cara spray drying kemudian serbuk nanopartikel besi dikarakterisasi dengan XRD, FTIR, dan SEM-EDX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scrap besi dapat dibuat menjadi copperas dengan kadar Fe 22,09%. Ekstrak kulit rambutan mengandung kadar fenol total 877,39 ± 16,6 ppm/100 g kulit rambutan atau setara dengan 441,42 mg GAE/100 g kulit rambutan. Nanopartikel besi berhasil dibuat dari copperas dari scrap besi dan ekstrak kulit rambutan yang mempunyai karakter Surface Plasmon Resonance (SPR) pada serapan 214 nm, ukuran partikel 5-20 nm  dalam bentuk larutan dan 20-70 nm dalam bentuk serbuk. Hasil ini bisa menjadi alternatif produksi nanopartikel besi  suatu material bermanfaat untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.       ABSTRACTIn recent years, the manufacture of iron nanoparticles has become a concern because of its efficiency in removing several types of contaminants. Pollutants that can be treated with iron nanoparticles include azo compounds, chlorinated solvents, chlorinated pesticides, inorganic anions and transition metals, organic and inorganic pollutants, heavy metals, nitrates, bromides, arsenic, chromium, lead, antibiotics, and dyes. In general, the manufacture of iron nanoparticles is carried out by reducing three/two charged iron with sodium tetra borane, NaBH4. The manufacture of iron nanoparticles using NaBH4 produces toxic by-products in the form of boric acid and hydrogen gas which is flammable or explosive. This study aims to make iron nanoparticles by utilizing scrap iron waste into copperas then reacting it with rambutan peel extract. The method used is to react iron scrap with sulfuric acid to form copperas which is blue-green in color. The resulting copperas were made into a solution and then treated with rambutan peel extract. The resulting black solution was characterized by UV-Vis Spectrophotometry and TEM. The black solution was dried by spray drying and then the powdered iron nanoparticles were characterized by XRD, FTIR, and SEM-EDX. The results showed that iron scrap can be synthesized into ferrous sulfate with 22.09% Fe content. Rambutan peel extract contains a total phenol content of 877.39 ± 16.6 ppm/100 g rambutan peel or equivalent to 441.42 mg GAE/100 g rambutan peel. Iron nanoparticles were successfully made from copperas from iron scrap and rambutan peel extract with the characteristics of having Surface Plasmon Resonance (SPR) at an absorption of 214 nm, particle size of 5-20 nm in solution form and 20-70 nm in powder form. This result can be an alternative for the production of iron nanoparticles, a useful material to prevent environmental pollution.
Penyisihan Material Organik dan Nitrogen dengan Proses Aerasi Menggunakan Microbubble Generator (MBG) pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Asrama Hafasatya Maharani Putri; Sri Puji Saraswati; Johan Syafri Mahathir
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.1.127-138

Abstract

Sebuah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di asrama mahasiswi UGM, Yogyakarta memiliki unit reaktor yang terdiri dari ekualisasi, aerasi 1, aerasi 2 dan clarifier dengan proses aerasi secara intermiten menggunakan Microbubble Generator (MBG) dengan fase aerasi dan tanpa aerasi masing-masing selama 15 menit. IPAL tersebut dibangun sebagai upaya dalam memenuhi standar Green Building bagi bangunan lama asrama di UGM untuk mengolah air limbah grey water. Hasil olahan air limbah akan dimanfaatkan di lingkungan asrama. Selama 208 hari beroperasi, kajian mengenai performa IPAL belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk mengetahui performa dan konsumsi energi pada IPAL dalam menyisihkan parameter pencemar berupa COD, nitrogen dan fosfat. Kajian dilakukan selama 81 hari pengamatan dengan menguji parameter kualitas air limbah pada setiap unit pengolahan. Parameter COD dan amonia telah memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, sedangkan parameter fosfat masih belum memenuhi baku mutu Peraturan Daerah D.I.Y. No.7 Tahun 2016 mengenai kegiatan IPAL Komunal. Hasil pengamatan pada performa IPAL, menunjukkan kedua tangki aerasi memiliki performa yang hampir sama, namun keberadaan tangki aerasi 2 tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menyisihkan parameter pencemar. Pada tangki aerasi 1, efisiensi penyisihan COD mencapai rata-rata sebesar 73,6±17,46%, penyisihan PO4-P sebesar 39,12±14,96%, penyisihan total nitrogen sebesar 56,15±19,6%, efisiensi nitrifikasi sebesar 73,1±20.07% dan efisiensi denitrifikasi sebesar 61,72±27,48%. Total konsumsi energi pada IPAL dengan proses aerasi intermiten, dengan debit rerata 537,84 l/hari sebesar 14,12 kWh/m3 dan biaya sebesar Rp. 20.414/m3. Urutan konsumsi energi terbesar adalah penyisihan fosfat sebesar 5,10 kWh/gPO4-P, kemudian penyisihan amonia sebesar 1,79 kWh/gNH3-N, penyisihan TN sebesar 1,95 kWh/gTN dan penyisihan COD sebesar 0,45 kWh/gCOD. ABSTRACTA Wastewater Treatment Plant (WWTP) in the student dormitory of UGM, Yogyakarta has a reactor unit consists of an equalization, aeration 1, aeration 2, and clarifier with intermittent aeration process using a Microbubble Generator (MBG) with or without aeration for 15 minutes each. The WWTP was built as an effort to meet the Green Building standards for the old dormitory at UGM to make better process of grey water. The processed wastewater will be used for the dormitory environment. Operated for 208 days, there was no former studies for the WWTP.  Therefore, a study is needed to determine performance and energy consumption of the WWTP in removing pollutant parameters consisting of COD, nitrogen and phosphate. The study was carried out for 81 days of observation by testing the wastewater quality parameters in each treatment unit. COD and ammonia parameters have met the quality standards of the Regulation of the Minister of Environment and Forestry No. 68 of 2016 concerning Domestic Wastewater Quality Standards, while phosphate doesn’t meet the quality standards of Regional Regulation D.I.Y. No. 7 of 2016 concerning Communal WWTP Activities. Results shows the performance from two aeration tanks are almost the same, but the existence of aeration tank 2 doesn’t have a significant effect. The results in aeration tank 1 showed the COD removal efficiency reached an average of 73.6±17.46%, PO4-P removal 39.12±14.96%, total nitrogen removal 56.15±19.6%, the nitrification efficiency 73.1±20.07%  the denitrification efficiency 61.72±27.48%. The total energy consumption with intermittent aeration process with an average discharge of 537.84 l/day is 14.12 kWh/m3 and a cost of Rp. 20,414/m3 with the largest energy use being phosphate removal at 5.10 kWh/gPO4-P, then ammonia removal at 1.79 kWh/gNH3-N, TN removal at 1.95 kWh/gTN and COD removal at 0.45 kWh/gCOD.

Filter by Year

2011 2025