cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Proses Gabungan Koagulasi-Adsorpsi Menggunakan Material Lokal Tanah Lempung Gambut dan Adsorben Gambut untuk Menyisihkan Warna dan Organik pada Limbah Cair Sasirangan Mahmud Mahmud; Nadya Ul Haq Mahmud; Chairul Abdi; Nida Luthfina; Anita Fatimah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 4 (2023): October 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.4.839-848

Abstract

Pengolahan LCS dengan koagulasi masih menggunakan koagulan anorganik dan belum memenuhi baku mutu untuk warna. Perlu alternatif koagulan organik yang murah dan ramah lingkungan. Pengolahan lanjutan setelah koagulasi yaitu proses adsorpsi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan penyisihan warna. Kalimantan Selatan memiliki lahan gambut yang sangat luas, dan di dalamnya terdapat tanah lempung gambut (TLG) yang dapat digunakan sebagai koagulan organik dan gambut sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan koagulan TLG dan gambut pada proses gabungan koagulasi-adsorpsi dalam menurunkan warna dan organik LCS. Proses koagulasi menggunakan metode Jar-Test dan adsorpsi menggunakan metode batch. Pengujian kandungan organik (UV254) dan warna menggunakan metode spektroskopi UV-Vis, untuk warna diperlukan larutan standar PtCo. LCS diperoleh dari rumah-industri sasirangan di Pemajatan Gambut; TLG dan gambut diperoleh dari Landasan Ulin Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LCS memiliki pH 8,53 atau bersifat basa; warna sangat tinggi 392,4PtCo; bahan organik dalam LCS didominasi fraksi hidrofobik dan berat molekul relatif besar. TLG memiliki pH yang sangat asam yaitu 2,52 dengan pHPZC 2,91. Kondisi operasi terbaik untuk proses gabungan koagulasi-adsorpsi menggunakan koagulan TLG dan adsorben gambut diperoleh pada pH asli 8,35 (tanpa pengaturan), dosis terbaik 20g/L TLG dan 5g/L gambut, dengan penyisihan warna dan organik mencapai 87,5% dan 34,7%. Pada kondisi terbaik parameter pH, warna dan TSS masing-masing 6,21; 76,1PtCo dan 15mg/L dan sudah memenuhi baku mutu. Kondisi operasi terbaik untuk 3 proses gabungan koagulasi-adsorpsi yang lainnya sebagai pembanding, diperoleh pada pH koagulasi 8,53 dengan dosis 20g/L TLG+0,1g/L PAC; 0,5g/L alum+5g/L gambut dan 0,5g/L alum+0,1g/L PAC. Koagulan organik TLG dan adsorben gambut terbukti dapat digunakan untuk mengolah LCS.
Kelas Bahaya Serangan Rayap Tanah di Kota Bogor, Jawa Barat Arinana Arinana; Miftah Adhi Yuwono; Priyanto Priyanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 4 (2023): October 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.4.1009-1020

Abstract

Serangan rayap pada gedung dan bangunan di Kota Bogor sebagai salah satu kota besar merupakan ancaman yang serius mengingat angka kerugian yang ditimbulkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis dan sebaran rayap tanah, menganalisis hubungan antara karakteristik tanah dengan intensitas kerusakan dan frekuensi serangan rayap tanah, serta menentukan kelas bahaya serangan rayap  di Kota Bogor. Penelitian dilakukan di 12 kelurahan di Kota Bogor yang dipilih secara acak. Setiap kelurahan ditanam 25 sampel kayu pinus (Pinus merkusii) selama tiga bulan dengan ukuran 2 cm x 2 cm x 46 cm (ASTM D 1758-06) sebagai kayu umpan yang sebelumnya telah diberi perlakuan tekanan uap air (105 ℃, 1 bar, 5 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies yang ditemukan di permukiman Kota Bogor terdapat tiga jenis yaitu Microtermes sp., Macrotermes sp., dan Schedorhinotermes sp. Rata-rata frekuensi serangan rayap tanah terhadap kayu umpan sebesar 70% (sangat tinggi) dan nilai intensitas serangan 6. Hasil analisis korelasi sederhana menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pH tanah dan kadar liat tanah dengan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 23.7%. Kota Bogor memiliki rata-rata serangan rayap tanah yang tinggi. Luas kelas bahaya rendah ±3.74 km2, luas kelas bahaya sedang ±52.88 km2 dan luas kelas bahaya tinggi ±59.9 km2.
Dinamika Kebijakan dan Aktor dalam Pembentukan Papua Barat Sebagai Provinsi Konservasi Sepus Marten Fatem; Ade Olyvia Samber; Jonni Marwa; Melanesia B. Boseren
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 4 (2023): October 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.4.888-900

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses dan dinamika pembentukan Kebijkan Provinsi Konservasi sejak tahun 2009-2020, mengidentifikasi aktor-aktor yang terlibat dalam proses perumusan Kebijakan Provinsi Konservasi. Penelitian berlangsung selama 2 bulan yakni 10 April-10 Juni 2022 di Kabupaten Manokwari. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara dan analisis dokumen. Jumlah informant dalam kajian ini sebanyak 15 orang. Hasil studi mencatat bahwa kebijakan Provinsi Konservasi awalnya diinisiasi oleh Mantan Gubernur Papua Barat, Abraham O. Ataruri dari tahun 2009-2010 atas dukungan dari lembaga non pemerintah seperti WWF, TNC dan CII. Pembentukan provinsi konservasi terbagi menjadi 3 periode waktu yakni: Periode I- tahun 2010-2015, Periode II-tahun 2016-2017 dan periode III tahun 2018-2020. Tahun 2015, Papua Barat dideklarasikan sebagai provinsi konservasi. Namun, Pasca penetapannya, terjadi kevakuman selama 2 tahun (2015-2017) karena transisi kepemimpinan. Kebijakan provinsi konservasi barulah kembali mendapat dukungan ketika terjadi kepemimpinan Gubernur Papua Barat periode 2017-2022. Salah satu bentuk penguatan bagi inisiatif provinsi konservasi untuk diketahui para pihak, maka dilakukanlah konferensi internasional keanekaragaman hayati dan ekonomi kreatif tanggal 7-10 Oktober 2018. Konferensi ini menghasilkan 14 rekomendasi penting. Konferensi berhasil menghadirkan berbagai pihak termasuk aktor-aktor non pemerintah dalam mendukung pengembangan provinsi konservasi. Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat 3 aktor pendukung utama yakni PEMDA Papua Barat, UNIPA dan Lembaga Non Pemerintah (WWF, TNC dan CII). Selanjutnya, aktor pendukung, yaitu Yayasan EcoNusa dan Bentara Papua, yang membantu di tahun 2017-2018 dalam memberikan saran perbaikan atas dokumen PERDASUS. Aktor pendukung lainnya, yaitu aktor yang hanya terlibat di akhir proses pengembangan kebijakan provinsi konservasi, yaitu Yayasan Perdu dan Mnukwar. Aktor non pemerintah diatas terlibat menggunakan sumberdaya manusia, fasilitas maupun dukungan pendanaan yang diperoleh dari mitra kerja, jejaring dan kerjasama baik tingkat nasional dan internasional.
Studi Sektor Keuangan terhadap Kualitas Lingkungan di ASEAN-5 Adiet Try Waluyo; Lukman Hakim; Siti Aisyah Tri Rahayu
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 4 (2023): October 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.4.956-964

Abstract

This research to critically review the influence of the dimensions of financial sector development on carbon dioxide emissions in ASEAN-5 developing countries, namely Indonesia, Malaysia, Thailand, the Philippines. The development cycle of the financial sector can increase and decrease environmental quality. We use the Panel Least Square (PLS) model to analyze the dynamics of the financial sector on environmental quality in annual data for 1983 - 2020 in five ASEAN-5 countries. The results of this study found that economic growth, foreign direct investment, and financial development have a positive effect on carbon dioxide emissions. However, interest rates have a negative effect on carbon dioxide emissions. Moreover, this study found that the development of the financial sector has a negative effect on environmental quality. This means that every increase in economic growth, FDI, and financial development has an effect on a decrease in environmental quality. Therefore, this finding is important for policy makers in ASEAN-5 countries to reduce dependence on investment that is not environmentally friendly as a factor of production and increase green financing in every activity in the financial sector.
Analysing the Correlation of Bank Sampah and Rural Environmental Government Concept Adibah Dhivani Gusmi; Rahmawati Husein
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 4 (2023): October 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.4.766-771

Abstract

This study aims to analyze the concept of Bank sampah as the rural environmental government in Indonesia. The initial reason for researching these issues is supported by the importance of collaborative governance in rural governmental organization. At this case, villagers and bank sampah is the key for this issue. The work of villagers who run the technical bank sampah necessities are need to be strengthen by local government and other stakehilders such as private, or any other non-governmental organization. Behavioural change that supposed to be existing at the beginning of bank sampah initials is broken down into several stages that also needed to be implemented by all the stakeholders. Using qualitative methods with a multiple case study approach, the researchers focused on Bank Sampah itself, community participation, and also rural environmental government in Indonesia in order to support the execution of the 3 R (reduce, reuse, and recycle) and promote behavioral change in society, Bank Sampah was founded. The government needs to establish strict regulations for stakeholder collaboration. Rural environmental governance and sustainable development are inextricably linked to village involvement as well as the rule of virtue and the rule of the people, not just from government's point of view. Also, with strong local government and environmental protection, there is hope that Indonesia's ecological civilisation will advance, particularly with the implementation of Bank Sampah.
Kajian Inventarisasi Keanekaragaman Jenis Flora dan Fauna Hutan Lindung Kasinan Kota Batu Mohammad Sulthon Neagara; Fuad Muhammad; Maryono Maryono
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 4 (2023): October 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.4.987-991

Abstract

Hutan Lindung Kasinan merupakan hutan yang terletak di Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu Kota Batu yang telah ditetapkan sebagai hutan konservasi. Hutan ini banyak ditumbuhi vegetasi jenis pohon Johar (Senna siamea) dan Gaharu (Aquilaria malaccensis). Hutan ini juga menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat sekitar Pesanggrahan sehingga perlu dijaga kesehatan dan kelestariannya. Namun, beberapa aktivitas terakhir seperti pembukaan wisata alam Alas Kasinan (Alaska) berpotensi mengganggu habitat flora dan fauna mengingat banyak spesies tumbuhan yang dieksploitasi. Flora dan fauna yang ada disekitar wisata dapat terganggu, sehingga perlu adanya studi untuk menilai keadaan kenakeragaman hayati yang ada di dalam Hutan Lindung Kasinan. Studi ini bertujuan untuk menginventarisasi keanekaragaman jenis flora dan fauna yang ada di dalam Hutan Lindung Kasinan. Metode yang digunakan dalam studi ini yaitu observasi dan wawancara masyarakat serta literasi digital guna mendapatkan data. Hasil studi menunjukkan 29 spesies dari 27 famili telah teridentifikasi. Spesies flora Fabaceae dan banyak spesies burung hidup di Kawasan Hutan Lindung Kasinan. Spesies Pohon Johar (Senna siamea) menjadi spesies penting yang hidup karena memiliki nilai Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi yaitu 74,80% yang dapat mengendalikan proses ekologis pada ekosistem Hutan Lindung Kasinan. Terdapat spesies yang menjadi pertanda baik bagi kondisi hutan yaitu adanya spesies Burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) sebagai predator, Burung Cekakak Jawa (Javan kingfisher) sebagai indikator lingkungan yang asri, Capung Jarum (Ebony jewelwing) sebagai indikator kebersihan sumber air dan Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularas) yang dapat membantu proses perkembangbiakan tumbuhan.
Analisis Faktor Spasial Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue Menggunakan Pendekatan Geographically Weighted Regression di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau Eggy Arya Giofandi; Purwantiningrum Purwantiningrum; Firson Madino; Agape Lumbantobing
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.50-59

Abstract

Permasalahan penyakit menular menjadi salah satu wabah endemik yang belum terselesaikan, dimana nyamuk aedes aegypti menjadi salah satu vektor dalam melakukan transmisi ke manusia. Kondisi ini menjadi salah satu landasan dalam mencapai tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh penularan demam berdarah dengue. Metode yang digunakan ialah Geographically Weighted Regression dengan variabel kepadatan penduduk, fasilitas kesehatan, kepadatan bangunan, usia <15 tahun, ketinggian, dan curah hujan. Temuan selama penelitian menghasilkan nilai Local R-Square 0,6503 atau 65,03%. Nilai koefisien tertinggi pada variabel Fasilitas Kesehatan mencapai 4,4375, koefisien pada variabel pengaruh Penduduk usia <15 Tahun memiliki  nilai 0,0035. Sementara nilai koefisien pada variabel pengaruh Ketinggian sampai 0,1801. Hasil signifikansi faktor yang berpengaruh terhadap data kejadian penyakit DBD di Kota Pekanbaru pada taraf kepercayaan 95% sebanyak 13 kelurahan yang signifikan terhadap faktor fasilitas kesehatan, kemudian variabel penduduk berusia <15 tahun berpengaruh terhadap data kejadian kasus DBD di 5 kelurahan, dan untuk variabel ketinggian terdapat pada 13 kelurahan. Diharapkan untuk studi selanjutya dapat mempertimbangkan aspek pengendalian dan sosial ekonomi dalam melakukan pengelolaan skala mikro sehingga mampu meningkatkan pengawasan surveilansPermasalahan penyakit menular menjadi salah satu wabah endemik yang belum terselesaikan, dimana nyamuk aedes aegypti menjadi salah satu vektor dalam melakukan transmisi ke manusia. Kondisi ini menjadi salah satu landasan dalam mencapai tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh penularan demam berdarah dengue. Metode yang digunakan ialah Geographically Weighted Regression dengan variabel kepadatan penduduk, fasilitas kesehatan, kepadatan bangunan, usia <15 tahun, ketinggian, dan curah hujan. Temuan selama penelitian menghasilkan nilai Local R-Square 0,6503 atau 65,03%. Nilai koefisien tertinggi pada variabel Fasilitas Kesehatan mencapai 4,4375, koefisien pada variabel pengaruh Penduduk usia <15 Tahun memiliki  nilai 0,0035. Sementara nilai koefisien pada variabel pengaruh Ketinggian sampai 0,1801. Hasil signifikansi faktor yang berpengaruh terhadap data kejadian penyakit DBD di Kota Pekanbaru pada taraf kepercayaan 95% sebanyak 13 kelurahan yang signifikan terhadap faktor fasilitas kesehatan, kemudian variabel penduduk berusia <15 tahun berpengaruh terhadap data kejadian kasus DBD di 5 kelurahan, dan untuk variabel ketinggian terdapat pada 13 kelurahan. Diharapkan untuk studi selanjutya dapat mempertimbangkan aspek pengendalian dan sosial ekonomi dalam melakukan pengelolaan skala mikro sehingga mampu meningkatkan pengawasan surveilans
Estimasi Ketersediaan dan Serapan Karbon pada Mangrove di Muara Sungai Cipunegara Desa Patimban, Kecamatan Pusaka Nagara, Subang, Jawa Barat Sodikin Sodikin; Rahmat Hidayat; Florentina Ratih Wulandari; Fauzi Fahmi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.1100-1107

Abstract

Muara Sungai Cipunagara berada di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang. Di kawasan ini terdapat mangrove yang tumbuh secara alami maupun hasil penanaman. Keberadaan kawasan mangrove mampu menyerap dan menyimpan emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi ketersediaan dan menganalisis daya serap karbon pada mangrove di muara Sungai Cipunagara. Data mangrove diperoleh dengan melakukan interpretasi citra dan melakukan ground check lapangan, identifikasi jenis mangrove dan pengukuran diameter dilakukan dengan metode transek line. Parameter lingkungan dilakukan dengan pengambilan sampel pada plot yang telah ditentukan. Analisis biomassa menggunakan persamaan allometrik, setelah ditemukan hasil biomassa kemudian dilakukan perhitungan untuk mengetahui ketersediaan karbon dan kemampuan serapan karbon. Hasil penelitian menunjukan bahwa mangrove di wilayah muara Sungai Cipungara tahun 2011 sampai tahun 2023 terus mengalami peningkatan, pada tahun 2023 memiliki luas sebesar 696 ha. Jenis mangrove dominan adalah jenis Avicenna spp, Rhizophora spp dan Sonneratia, nilai biomassa yang dihasilkan oleh mangrove yang dihasilkan sebesar 390,70 ton/ha/hari, rata-rata ketersediaan karbon sebesar 19,53 ton/ha/hari dan rata-rata kemampuan serapan karbon perharinya adalah sebesar 71,69 ton/ha.
Fostering Green Innovation and Environmental Consciousness: A Pathway to Competitive Advantage in the Green Economy. Fahrul Riza; Dewi Sumarti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.193-204

Abstract

This research aims to identify the preceding factors for achieving green competitive advantage, as traditional marketing might not be adequate to cater to this aspect. Therefore, the analysis explores the correlation between the theory of reasoned action and green marketing and how the blending of these concepts affects eco-friendly innovation and, subsequently, green competitive advantage. A quantitative approach was employed to conduct this investigation, using questionnaires gathered through direct visits to 100 coffee shops in and around Jakarta. The sample was selected through purposive non-probability sampling. The collected data were analyzed using SMART PLS.3 software, employing the structural equation model (SEM). The findings highlight that both internal and external orientations exert an impact on green innovation, which, in turn, affects green competitive advantage. However, it should be noted that internal and external environmental orientations do not have a direct impact on green competitive advantage. This research contributes to the field of green marketing by highlighting the crucial role of green innovation in achieving green competitive advantage and establishing the link between environmental orientation and competitive edge. Companies can allocate resources to improve their green innovation efforts, which can strengthen their competitive position in the market. The study provides practical guidance for businesses aiming to enhance their green competitive advantage. However, the identified limitations should prompt researchers and practitioners to consider broader industry and methodology coverage in future investigations.
Green Environmental Management Practices in Schools in The Implementation of the Deming Cycle: A Narrative Inquiry Approach Ambar Sri Lestari; Imelda Wahyuni; Jumardin La Fua
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.347-354

Abstract

The aim of this research is to apply the Deming cycle to green environmental management to improve sustainable practices in schools. Using an inquiry-narrative approach by collecting data through semi-structured interviews with school principals, teachers, and students to explore green environmental management practices at Adiwiyata schools Analysis is carried out interpretatively by expanding, exploring, retelling, and fictionalising the data. The findings presented in green environmental management practices show four main themes in translating strategies into operational practices, including planning, implementation, learning, and action, to assist in identifying and analysing environmental practices reflectively. This research has implications for pro-environmental behaviour through a scientific approach to environmental management in schools.

Filter by Year

2011 2025