cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Species Confirmation for Robusta Coffee in Sedayu, Semaka, Tanggamus: Social Forestry Data Base Management Rustiati, Elly Lestari; Priyambodo, Priyambodo; Srihanto, Eko Agus; Pratiwi, Dian Neli; Susanto, Alvin Wiwiet; Febriansyah, Muhammad; Kusuma, Andriyani Wijaya; Saswiyanti, Enny
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1149-1154

Abstract

Lampung, including the Register 31 Pematang Arahan area which is next to the Bukit Barisan Selatan National Park, is known for its high biodiversity, and its coffee production. Gapoktanhut Lestari Sejahtera, consisting of 13 Forest Farmer Groups (KTH), practiced community-based forest coffee under the KPH Kotaagung Utara, Tanggamus, Lampung. To support the development of biodiversity data base for KPH Kotaagung Utara, molecular-based species identification for robusta coffee has been carried out under BLU LPPM Unila grant year 2023 and in collaboration with the Lampung Disease Investigation Center. Robusta coffee leaf samples from six KTH areas (Bumi Mulyo, Sido Makmur 1, Sido Makmur 2, Sido Makmur 3, Mandiri Jaya, and Murah Rejeki) were collected for molecular species confirmation based on the N-methyl transferase genetic marker. Molecular analysis included DNA extraction, amplification, and electrophoresis conducted at the Lampung Disease Investigation Center. Sequencing was based on the Coffea canephora CAF2 genetic marker. Bioinformatics analysis was performed using the Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) and Molecular Evolutionary Genetics Analysis (MEGA) software version 6. Identical sequence lengths of samples in 6 KTH are varied in base pair length and nitrogen base sequences, ranging from 163-530 bp, with 5 out of 6 KTH having a genetic distance of 0.000%, while 1 sample had a genetic distance of 0.006%. It indicates that robusta coffee samples from 6 KTH areas are genetically closely related. It is supported by its phylogenetic tree, the coffee species cultivated by Gapoktanhut Lestari Sejahtera is molecularly confirmed to be robusta coffee, Coffea canephora.
Analisis Faktor Internal dan Eksternal Proses Pengelolaan KHDTK Wanadipa Berbasis Peran serta Masyarakat dalam Fungsi Simpanan Karbon Pinudya, Arinindyas Surya; Soedarmo, Sri Puryono Karto; Kismartini, Kismartini
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1004-1012

Abstract

Indonesia, salah satu negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia dengan keanekaragaman jenis vegetasi yang sangat tinggi. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanadipa yaitu hutan pendidikan yang dikelola oleh Universitas Diponegoro dengan luas sebesar 99,65 Ha. Konflik penguasaan lahan antara pengelola kawasan tersebut dengan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, perubahan kebijakan pengelola hutan, serta minimnya partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengelolaan KHDTK menjadi masalah yang sering kali terjadi di kawasan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor internal dan eksternal dalam konservasi dan pengelolaan KHDTK Wanadipa berbasis peran serta masyarakat untuk meningkatkan simpanan karbon. Penelitian ini dilakukan di KHDTK Wanadipa, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan wawancara dan studi dengan Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang KHDTK Universitas Diponegoro Tahun 2023-2043. Secara umum, proses pengelolaan KHTDK Wanadipa dipengaruhi faktor internal berupa program kegiatan KHDTK Wanadipa, serta manajemen kelembagaan. Selain itu, faktor eksternal berupa komunikasi dan koordinasi KHDTK Wanadipa dengan berbagai pihak, serta faktor alam. Berdasarkan hasil analisis SWOT, menunjukkan bahwa salah satu strategi pengelolaan KHDTK Wanadipa berbasis partisipasi masyarakat guna meningkatkan potensi simpanan karbon yaitu berupa melakukan kegiatan penanaman, khususnya mahoni yang bekerja sama dengan mitra serta melibatkan petani pesanggem di dalam pelaksanaannya.
Strategi Pengkonversian Batu Gamping Nusa Tenggara Timur menjadi Kalsium Oksida: Pengaruh Suhu dan Waktu Kalsinasi Rumbino, Yusuf; Tita, Lorenso Caetano Manek De; Nuryoto, Nuryoto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1123-1130

Abstract

Masyarakat NTT telah memanfaatkan batu gamping (CaCO3) dalam bentuk kapur tohor (CaO). Keberhasilan konversi CaCO3 menjadi CaO dipengaruhi oleh suhu kalsinasi, waktu kalsinasi, dan ukuran partikel batu gamping itu sendiri. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa dan mengetahui fenomena yang terjadi terhadap kolaborasi suhu dan waktu kalsinasi terhadap produk CaO yang dihasilkan. Observasi dilakukan pada ukuran diameter 5 cm dengan massa 80 gram, suhu kalsinasi 800-1000°C, dan waktu kalsinasi 1- 4 jam. Hasil observasi menunjukan bahwa seiring semakin lama waktu kalsinasi dan semakin tinggi suhu kalsinasi, maka produk CaO mengalami peningkatan namun reaktifitasnya terhadap air yang ada di udara menjadi menurun, hal ini terlihat dari semakin turunnya jumlah kristal Ca(OH)2 yang terbentuk (40% pada suhu 800oC; 23,5% pada suhu 900oC dan 17% pada suhu 1000oC). Hasil difraksi pada suhu 800oC menunjukkan masih terdapat fasa kristal CaCO3 sebesar 35%, hal ini menunjukkan proses kalsinasi belum dapat mengubah semua CaCO3 menjadi CaO. Hasil XRD menunjukkan pula peningkatan pembentukan mineral larnite yaitu fasa kristal dari reaksi SiO2 yang ada di batu gamping dengan CaO yang terbentuk sehingga semakin tinggi suhu kalsinasi menghasilkan CaO murni makin sedikit. Kondisi operasi paling ekonomis diperoleh pada waktu kalsinasi 1 jam dan suhu kalsinasi 1000oC, dengan konversi CaCO3 sebesar 90,63%. Implementasi hasil penelitian kepada mitra produsen batu kapur CaO adalah perbaikan waktu pembakaran yang semula 8 jam dapat dilakukan dengan waktu 4 jam pada suhu 900oC. Hal ini tentunya dapat mengurangi konsumsi bahan bakar tanpa mengurangi kualitas batu kapur CaO yang dihasilkan.
Penentuan Konsep Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes Menggunakan Rapfish dan AHP Savitri, Meidiarsih Eka; Tumuyu, Sri Setiawati; Patria, Mufti Petala
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.958-968

Abstract

Pengelolaan mangrove berkelanjutan memiliki pendekatan multidimensional yakni ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan. Keberlanjutan pengelolaan dapat tercapai jika keempat dimensi tersebut seimbang. Namun, tidak semua daerah dapat mengimplementasikan dimensi keberlanjutan secara seimbang, salah satunya di Desa Kaliwlingi. Tujuan penelitian secara umum untuk menentukan dimensi paling berpengaruh dalam pengelolaan mangrove secara berkelanjutan, sedangkan tujuan khusus  untuk menganalisis status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi ditinjau dari dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi ekonomi dan dimensi kelembangaan dan merekomendasikan konsep keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah multidimensional scaling menggunakan Rapfish (Rapid Appraisal for Fisheries) untuk menentukan status keberlanjutan pengelolaan dilanjutkan dengan metode AHP (Analitical Hierarchy Process) untuk menentukan prioritas alternatif kebijakan. Hasil penelitian status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove cukup berkelanjutan dengan nilai total 63,69. Sedangkan nilai masing-masing dimensi cukup berkelanjutan dengan rincian dimensi sosial (73,65), kelembangaan (63,43), ekologi (66,78) dan ekonomi (54,34). Konsep keberlanjutan dengan prioritas melakukan pengawasan dan patroli pengamanan secara berkala, melaksanakan rehabilitasi mangrove dengan penganekaragaman bibit sesuai kondisi geofisik lingkungan, melaksanakan sosialisasi, penyadartahuan dan kapasitas masyarakat sekitar terkait mangrove, dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dengan melakukan diversifikasi produk pemanfaatan mangrove.
Reduksi Nitrogen dan Fosfor dari Air Limbah Budidaya Perikanan menggunakan Free-Water Surface Constructed Wetlands dengan Lemna minor Mufida, Ummi Afifatul; Rifai, Ridwan Muhamad; Fauzi, Ichsan Achmad; Rachminiwati, Nina; Yulistyorini, Anie
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.907-914

Abstract

Semakin banyaknya pembangunan di Indonesia termasuk fasilitas industri perikanan memberikan dampak pada kondisi lingkungan. Fasilitas industri perikanan di Kota Malang saat ini belum memiliki sistem pengolahan air limbah. Faktanya air limbah budidaya ikan yang dihasilkan dapat mencemari air permukaan. Polutan (Nitrogen dan Fosfor) yang terdapat pada air limbah budidaya ikan baik hasil dari sisa metabolisme maupun sisa pakan ikan dapat menyebabkan eutrofikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa reduksi konsentrasi polutan (Nitrogen dan Fosfor) pada air limbah budidaya perikanan dengan menggunakan tanaman air Lemna minor menggunakan sistem Free-Water Surface Flow Constructed Wetlands (FWS CW). FWS CW yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai dimensi tinggi 0,4 m, panjang 2 m dan lebar 1 m. Debit air limbah budidaya ikan yang dialirkan menggunakan dua macam Hydraulic Retention Time (HRT), yaitu 14 jam dan 7 jam. FWS CW dengan HRT 14 jam dengan debit inlet 15,14 mL/s dapat menurunkan konsentrasi amonium, nitrat dan fosfat dengan tingkat efisiensi 50,09%; 28,11%; dan 72,37%. Sedangkan FWS CW dengan HRT 7 jam dan debit inlet 30,28 mL/s dapat menurunkan konsentrasi amonium, nitrat dan fosfat dengan tingkat efisiensi 38,93%; 23,91%; dan 88,28%. Dapat disimpulkan bahwa FWS CW dengan HRT 14 jam lebih efisien untuk mereduksi nitrogen, sedangkan FWS CW dengan HRT 7 jam lebih efisien untuk mereduksi fosfor.
Studi Hubungan Kelimpahan Fitoplankton dan Ketersediaan Nutrien pada Tambak di Kampung Pegat Batumbuk, Kalimantan Timur Menggunakan Generalized Poisson Regression Harliani, Meliana; Nurfadilah, Nurfadilah; Bulan, Dewi Embong
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1085-1092

Abstract

Fitoplankton merupakan organisme pertama yang terpengaruh oleh perubahan di perairan karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti pencemaran. Pencemaran air dan peningkatan nutrien dari limbah tambak dapat memengaruhi pertumbuhan fitoplankton, yang berdampak pada kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kelimpahan fitoplankton dengan ketersediaan nutrien di dalam tambak, dan memprediksi jumlah fitoplankton per kelas terhadap peningkatan nutrien menggunakan pendekatan Generalized Poisson Regression (GPR). Data dikumpulkan pada bulan Januari-Februari 2023 di Tambak Kampung Pegat Batumbuk, Berau pada tiga lokasi penelitian yaitu tambak terbengkalai, tambak tradisional dan perairan mangrove, masing-masing lokasi terdiri dari tiga stasiun penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan Rstudio versi 2023.2.1 dengan paket VGAM, car, ggplot2, dan MASS. Hasil GPR menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat secara signifikan berkorelasi positif dengan peningkatan kelimpahan fitoplankton, terutama pada kelas Bacillariophyceae. Kenaikan konsentrasi nitrat sebesar 1 mg/L diperkirakan akan meningkatkan kelimpahan Bacillariophyceae sebesar 4,58 atau setara dengan 97.154 sel/L di tambak terbengkalai, 2,41 atau setara dengan 1.114 sel/L di tambak tradisional, dan 5,59 atau setara dengan 267.896 sel/L di perairan mangrove. Studi ini mengindikasikan bahwa nitrat merupakan nutrien pembatas utama pertumbuhan fitoplankton di perairan tambak Pegat Batumbuk, Berau. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan tambak yang berkelanjutan.
Pengembangan Bioplastik Berbahan Dasar Pati Kulit Pisang Kepok Menggunakan Nanofiber Selulosa Kulit Daun Lidah Buaya sebagai Filler Dasumiati, Dasumiati; Sari, Nur Nilam; Saridewi, Nanda
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1066-1074

Abstract

Pati sebagai bahan dasar bioplastik membutuhkan bahan penguat atau filler. Selulosa adalah bahan alami untuk filler, semakin kuat bila ditambahkan dalam bentuk nano. Kulit pisang kepok dan kulit daun lidah buaya merupakan limbah organik yang dapat digunakan sebagai bahan bioplastik, yaitu sebagai sumber pati dan selulosa.Tujuan penelitian ini untuk memperoleh konsentrasi nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya dalam pengembangan bioplastik berbahan dasar pati dari kulit pisang kepok. Bioplastik yang berbahan dasar pati kulit pisang kepok diperkuat dengan perlakuan penambahan nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya (0%, 2%, 4% dan 6% dari 5 g berat pati) dengan 5 kali pengulangan, dan ditambahkan plastisizer berupa gliserol (40%). Defibrilasi selulosa menggunakan ultrafine grinder Supermasscoloider. Bioplastik dicetak menggunakan metode casting molding. Parameter yang diamati adalah kuat Tarik, ketahanan air, dan waktu biodehradasi. Penambahan nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya meningkatkan kualitas bioplastik. Hasil terbaik diperoleh pada penambahan nanofiber selulosa 6% yang memiliki nilai kuat tarik 38,89±6,11 kgf/cm2, ketahanan air 75,30±3,61%, dan waktu biodegradasi 47,93 hari. Penambahan 6% nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya bisa digunakan pada pengembangan bioplastik berbahan dasar pati dari kulit pisang kepok.
Kelimpahan Pediastrum (Chlorophyceae) dan Hubungannya dengan Kualitas Air di Danau Rawa Pening, Jawa Tengah Rahman, Arif; Jati, Oktavianto Eko; Prakoso, Kukuh
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1023-1028

Abstract

Danau Rawa Pening merupakan salah satu danau prioritas nasional yang telah mengalami pencemaran. Fitoplankton adalah organisme pertama yang terganggu karena perubahan kondisi perairan. Pediastrum merupakan salah satu genus fitoplankton dari kelas Chlorophyceae yang sensitif terhadap perubahan lingkungan danau. Pediastrum berperan penting terhadap produktivitas primer di perairan tawar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan kelimpahan Pediastrum di Danau Rawa Pening serta hubungannya dengan variabel kualitas air. Pengambilan sampel dilakukan tiga kali pada bulan September, Oktober, dan November 2023 di 4 stasiun yang tersebar dari inlet hingga outlet Danau Rawa Pening. Pengumpulan data meliputi pengukuran parameter kualitas air dan pengambilan sampel fitoplankton di permukaan perairan danau. Pengukuran variabel kualitas air meliputi kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu, pH, oksigen terlarut (DO) nitrat, dan ortofosfat. Principal component analysis (PCA) digunakan untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan Pediastrum dan variabel kualitas air. Pediastrum merupakan genus fitoplankton dari kelas Chlorophyceae yang ditemukan dengan kelimpahan tertinggi mencapai 85,30%. Kelimpahan Pediastrum berkisar antara 789.293-8.386.105 sel/L dengan kelimpahan Pediastrum duplex (91,40%) lebih tinggi dibandingkan dengan Pediastrum simplex (8,60%). Kedalaman perairan termasuk dangkal, kecerahan perairan rendah, serta suhu dan pH sesuai habitat Pediastrum. Konsentrasi oksigen terlarut cukup tinggi. Nutrien baik nitrat maupun ortofosfat menunjukkan konsentrasi yang tinggi. P. duplex berhubungan erat dengan nitrat dan ortofosfat, sedangkan P. simplex berhubungan erat dengan oksigen terlarut dan suhu perairan.
Keanekaragaman Jenis Ikan di Sungai Peniti Kecil Kabupaten Mempawah Khairunnisa, Dyah Shabrina; Junardi, Junardi; Saputra, Firman; Prayogo, Hari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1131-1139

Abstract

Keanekaragaman jenis ikan di Indonesia menggambarkan evolusi jenis terhadap lingkungan tertentu dan seluruh cakupan adaptasi ekologi yang dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain. Kalimantan Barat dijuluki sebagai provinsi seribu sungai karena memiliki ribuan anak sungai yang mendukung beragamnya jenis ikan. Sungai Peniti Kecil merupakan salah satu sungai di Kabupaten Mempawah yang memiliki perairan lahan gambut dan kondisi yang berbeda-beda di sepanjang sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi komposisi dan keanekaragaman jenis ikan di Sungai Peniti Kecil Kabupaten Mempawah. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan mulai dari Mei hingga Juli 2024 dengan metode Purposive Sampling menggunakan alat tangkap bubu 8 lubang, jaring angkat (Anco) 3x3 m, pancingan, jaring insang 2” 10 m, dan serokan. Hasil penelitian memperoleh 15 famili dan 32 jenis ikan dengan total 765 individu. Sebagian besar famili ikan yang telah didapatkan merupakan ikan khas perairan gambut karena kemampuannya yang dapat beradaptasi dan memiliki organ respirasi tambahan (Anabantidae, Channidae, Clariidae, Helostomidae, Nandidae, Osphronemidae). Analisis indeks keanekaragaman masuk dalam kategori sedang, indeks dominansi masuk dalam kategori rendah, indeks kemerataan masuk dalam kategori tinggi, dan indeks kekayaan jenis masuk dalam kategori rendah.
Identification of Morphological and Growth Characteristics of Eisenia foetida in Mushroom Media Waste Mardiana, Ana; Mirawati, Baiq; Hunaepi, Hunaepi; Ratnasari, Desi; Wardhani, Hilda Aqua Kusuma; Arifin, Ahmad Aris
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.969-979

Abstract

This study aims to determine the morphological and growth characteristics of Eisenia foetida in response to mushroom waste media. Two types of mushroom waste media were used: straw mushroom media waste and oyster mushroom baglog waste. The research design was experimental, using quantitative methods and descriptive statistical analysis. The study observed parameters such as body length, body weight, skin color, population, and biomass of Eisenia foetida. The results showed significant differences in the growth and morphological characteristics of Eisenia foetida among the various media treatments. The oyster mushroom waste media with higher composition (80%) yielded better growth in terms of body weight and biomass compared to the straw mushroom waste media. Specifically, the treatment with 80% oyster mushroom waste and 20% straw mushroom waste (P3) showed the highest average body weight (17.13 g).  In conclusion, mushroom media waste, especially oyster mushroom baglog waste, supports the optimal morphological development and growth of Eisenia foetida. These findings suggest that oyster mushroom waste can be effectively utilized as a medium for cultivating Eisenia foetida, providing an environmentally friendly solution to organic waste management. Recommendations for future research include exploring other types of organic waste as potential media for Eisenia foetida cultivation and conducting long-term studies to evaluate the sustainability of such media.

Filter by Year

2011 2025