cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Bengkulu dan Perubahan Penggunaan Lahannya dalam Kaitannya dengan Kejadian Banjir Saraswati, Gredia Sekar; Asdak, Chay; Joy, Benny
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.915-922

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu areal tempat berlangsungnya proses-proses biofisik hidrologis; yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya pada sungai utama ke laut atau danau.  Salah satu DAS dengan kepadatan penduduknya paling tinggi di Provinsi Bengkulu adalah DAS Air Bengkulu.  Penelitian ini dilakukan untuk melakukan pengkajian terhadap karakteristik DAS Air Bengkulu, perubahan penggunaan lahan tahun 2013-2022 dan hubungannya dengan frekuensi kejadian banjir. Analisis sistem informasi geografis (SIG), analisis data curah hujan harian, dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) digunakan dalam penelitian ini.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Air Bengkulu memiliki luas ± 50.035 ha, keliling DAS-nya 110,63 km, Panjang sungai utama 57,91 km, lebar DAS-nya 20,13 km, Panjang DAS-nya 37,93 km, ketinggian tempat 0-1.000 mdpl, dan jumlah sungai keseluruhan 14 buah. Bentuk DAS ini termasuk paralel, dengan pola aliran sungainya denditrik dan nilai kerapatan sungai 1,06. DAS Air Bengkulu ini termasuk kategori yang harus dipulihkan karena memiliki lahan kritis yang luas. Dalam kurun waktu 10 tahun (2012-2021) telah terjadi perubahan penggunaan lahan di DAS Air Bengkulu. Penggunaan lahan berupa hutan berkurang seluas 2.684 ha (5,4%), perkebunan sawit bertambah 1.966 ha (3,9%), pemukiman bertambah 2.800 ha (5,6%), lahan pertanian campur bertambah 1.973 ha (3,9%), dan areal pertambangan bertambah 1.637 ha (3,2%).  Fluktuasi kejadian banjir yang terjadi di DAS Air Bengkulu dipengaruhi oleh intensitas curah hujan dan penggunaan lahannya. Korelasi luasan lahan pertanian, pemukiman, sawah; perkebunan dan pertambangan bernilai positif artinya meningkatnya jumlah penggunaan ini akan meningkatkan nilai debitnya.  Korelasi luasan hutan dan semak belukar bernilai negatif artinya meningkatnya luas penggunaan lahan ini akan menurunkan debit sungainya. Kelas penggunaan lahan dan curah hujan memiliki hubungan yang kuat terhadap debit total, dengan nilai diterminasi 95%.
Economic Value of Carbon Sequestration in Telaga Warna National Park Hartono, Esap Mundi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1093-1098

Abstract

Forests are crucial natural resources in Indonesia, storing significant biodiversity and providing essential benefits for both the environment and people's livelihoods. They contribute significantly to the country's economy, support local communities, and play a vital role in mitigating climate change through carbon sequestration. The economic value of carbon sequestration in Telaga Warna National Park, holds significant importance in understanding the role of forests in mitigating climate change and fostering sustainable development. This study explores the carbon storage potential within the park's tree forests and assesses its for economic value. The research conducted in Telaga Warna National Park revealed a rich diversity of plant species within the ecosystem. Specifically, the study concentrated on two distinct categories of plants: pole plants, characterized by diameters ranging from 10 cm to 19.9 cm, and trees, distinguished by diameters larger than 20 cmTelaga Warna National Park, located in West Java, Indonesia, is renowned for its biodiversity and ecological significance, making it an ideal site for studying carbon sequestration dynamics. The data was collected within a subplot measuring 10x10 meters, and for trees within a plot measuring 20x20 meters. Based on the data obtained, it is found that the dominant vegetation in Telaga Warna National Park is Riung Anak / Casitanopsis javanica, and a potential carbon value of Telaga Warna is US$ 2.96 per Ha for pole species and US$ 98.49 for tree species. In conclusion, the economic value of carbon sequestration in Telaga Warna National Park underscores the critical role of forests in addressing global environmental challenges
Optimalisasi Karbon Aktif Berbasis Bonggol Jagung untuk Pengelolaan Limbah Logam Berat Pb dan Mn Irawan, Nisya Indriyanti; Afifah, Reny; Nadira, Ainun; Suparno, Suparno
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1029-1036

Abstract

Pencemaran lingkungan oleh limbah logam berat, seperti timbal (Pb) dan mangan (Mn), merupakan isu krusial yang berdampak signifikan pada ekosistem dan kesehatan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pembuatan karbon aktif berbahan dasar bonggol jagung melalui variasi jenis aktivator (asam sulfat, H₂SO₄, dan kalium hidroksida, KOH) dan konsentrasi (1M, 2M, 3M) guna meningkatkan efisiensi adsorpsi Pb dan Mn. Bonggol jagung dikarbonisasi menggunakan metode pembakaran tertutup (teknik Earth pit-kiln) dan selanjutnya diaktivasi dengan larutan aktivator tersebut. Karakteristik karbon aktif yang dihasilkan dianalisis berdasarkan kadar air, kadar abu, dan efisiensi adsorpsi menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbon aktif yang diaktivasi dengan KOH memiliki kadar air lebih rendah dan efisiensi adsorpsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan H₂SO₄, terutama untuk Mn yang lebih sulit diadsorpsi. Karbon aktif dengan konsentrasi KOH 2M menunjukkan performa terbaik, mencapai efisiensi adsorpsi Pb sebesar 96,93% dan Mn sebesar 98,41%. Studi ini menyimpulkan bahwa aktivasi basa menggunakan KOH menghasilkan karbon aktif dengan kualitas dan efisiensi adsorpsi yang lebih unggul dibandingkan aktivasi asam menggunakan H₂SO₄ untuk penanganan limbah Pb dan Mn.
Biomonitoring Kesehatan Ekosistem Sungai Menggunakan Serangga Akuatik di Sungai Bedog, Daerah Istimewa Yogyakarta Wijaya, Heri; Nugroho, Andhika Puspito; Widyastuti, Margaretha
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1140-1148

Abstract

Aktivitas manusia, seperti urbanisasi, pertanian, dan deforestasi, secara signifikan mengubah lanskap di sekitar aliran sungai yang menyebabkan kerusakan lingkungan fisik sungai, seperti perubahan kualitas air dan hilangnya vegetasi riparian. Perubahan lahan untuk pengembangan wilayah perkotaan yang terjadi disekitar Sungai Bedog telah membawa dampak yang signifikan terhadap kesehatan ekosistem sungai tersebut. Salah satu cara untuk mengevaluasi kualitas perairan adalah menggunakan bioindikator sebagai pemantauan kualitas air (biomonitoring). Biomonitoring kesehatan ekosistem sungai dapat dilakukan melalui analisis tingkat toleransi terhadap kehadiran beberapa famili serangga akuatik tertentu dan berfungsi untuk menilai kualitas air dan kesehatan ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kelimpahan, keanekaragaman, dan peran serangga akuatik yang ditemukan serta penilaian kualitas air Sungai Bedog berdasarkan analisis HBI. Metode yang digunakan yaitu analisis Indeks Kelimpahan Margalef (Dmg), Indeks keanekaragaman Simpson (D1), Indeks kemerataan jenis Simpson (ED2), dan Indeks kesamaan jenis Jaccard (Sj) serta analisis Hilsenhoff Biotic Index (HBI). Hasil analisis menujukkan bahwa tingkat kelimpahan dan keanekaragaman tinggi serta peran serangga akuatik yang ditemukan yaitu sebagai Herbivor, Karnivor, Detrivor, dan Predator. Analisis kualitas air dan kesehatan sungai menggunakan metode Hilsenhoff biotic index (HBI) di Sungai Bedog tergolong baik hingga sangat baik di beberapa stasiun pengamatan.
Land Conflicts: Mapping Obstacles and Sustainable Solutions Darminto, Citra; Syamsir, Syamsir; Lega, Michael; Munandar, Tri Imam
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.980-987

Abstract

Land conflicts in Indonesia, especially in Jambi Province, have become an urgent issue affecting the ownership and management of agricultural land, forests and natural resources. This problem involves various parties and requires serious handling to reduce social tensions, increase justice, and ensure environmental sustainability. This research aims to explore trends, obstacles, and adaptive solutions in resolving land conflicts in Jambi Province, Indonesia. The research method used is qualitative, involving data collection stages through interviews, observation, and documentation of land conflict cases from various official sources. Nvivo 12 Plus was also used in this study to help code the data. The research findings highlight the complexity and escalation of the urgency of land conflicts in Jambi Province, which are widespread in the plantation and forestry sectors involving a large number of companies in various industrial sectors. The main obstacles faced in resolving conflicts include social tensions, legal uncertainty, lack of coordination, limited resources, lack of public awareness, rapid economic growth, and policy complexity. To overcome this challenge, adaptive and sustainable steps are needed, including strengthening the legal framework, increasing coordination between institutions, and community participation through inclusive dialogue. In addition, human rights and justice-based approaches are integrated to support sustainable conflict resolution while strengthening local capacity to be actively involved in the conflict resolution process. This research provides important insights for future policymakers, researchers, and practitioners. This research also provides important insights for formulating more effective and sustainable policies in dealing with land conflicts in Jambi Province, by integrating approaches based on human rights, justice and community participation.
Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Monitoring Dinamika Spasiotemporal Kesehatan Ekosistem Mangrove di Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah Danardono, Danardono; Mulyani, Nurul Fauzia; Wibowo, Afif Ari; Arijuddin, Basyar Ihsan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.923-936

Abstract

Mangrove Segara Anakan merupakan salah satu ekosistem mangrove terluas di Pulau Jawa yang memiliki manfaat secara ekologi dan ekonomi. Pemanfaaatan ekosistem mangrove mendorong meningkatnya aktifitas manusia yang menyebabkan terjadinya penurunan luas ekosistem mangrove. Adanya aktivitas manusia dan perubahan lingkungan alami dapat menyebabkan degradasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi kesehatan ekosistem mangrove. Tujuan dari penelitian ini yakni memetakan perubahan sebaran keberadaan dan kesehatan ekosistem mangrove di Segara Anakan, Kabupaten Cilacap pada tahun 2018 dan 2023. Sebaran ekosistem mangrove dimodelkan dengan metode klasifikasi Support Vector Machine (SVM). Uji akurasi dengan metode confussion matrix dilakukan pada hasil model SVM. Kesehatan ekosistem mangrove didekati dengan metode Mangrove Health Index (MHI) menggunakan empat indeks vegetasi yakni NBR, GCI, SIPI, dan ARVI. Hasil penelitian menunjukkan luasan ekosistem mangrove mengalami penurunan 883,28 Ha pada rentang tahun 2018-2023. Penurunan disebabkan karena adanya sedimentasi sungai dan perubahan lahan mangrove menjadi tambak. Kondisi kesehatan ekosistem mangrove tahun 2018 dan 2023 didominasi oleh kondisi kesehatan hutan mangrove sedang  dengan luas 6.765,52 Ha pada tahun 2018 dan 5.058,36 Ha tahun 2023. Perubahan kesehatan ekosistem mangrove menjadi sangat baik banyak terjadi pada wilayah dekat Kota Cilacap dimana terdapat aktivitas konservasi dan rehabilitasi yang dilakukan oleh komunitas bersinergi dengan perusahaan dan pemerintah setempat.
Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Dayak Penihing di Kecamatan Long Apari Kabupaten Mahakam Ulu Hendra, Medi; Salsabillah, Natasya Irma Nur; Oktavianingsih, Linda
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1099-1106

Abstract

Suku Dayak merupakan penduduk asli pulau Kalimantan yang memiliki pengetahuan dalam memanfaatkan tumbuhan obat. Suku Dayak Penihing merupakan salah satu etnis Dayak di Kalimantan Timur yang masih memanfaatkan tumbuhan sebagai obat-obatan. Suku ini bermukim di bagian hulu sungai Mahakam, dimana fasilitas kesehatan yang kurang memadai membuat masyarakat Dayak Penihing masih menjaga pengetahuannya dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat  tradisional oleh suku Dayak Penihing di Kecamatan Long Apari, serta cara mengolah untuk digunakan menjadi obat tradisional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur untuk mengumpulkan informasi tentang nama lokal, bagian tumbuhan, manfaat tumbuhan dan cara pemanfaatannya. Pemilihan informan pada tahap wawancara ini dilakukan dengan metode snowball sampling yaitu teknik pemilihan informan berdasarkan rekomendasi informan kunci dalam hal ini ketua adat. Hasil penelitian didapatkan 63 spesies tumbuhan yang tergolong kedalam 36 famili dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Pengolahan tumbuhan obat masih sangat sederhana dengan beberapa cara yaitu diseduh 49%, direbus 28%, direndam 8%, ditumbuk 5%, dibakar 3%, tanpa diolah 3%, dan yang paling sedikit dilakukan dengan diremas dan dikunyah masing-masing 2%. Penggunaan tumbuhan obat tradisional oleh Suku Dayak Penihing dilakukan dengan 5 cara yaitu diminum 81%, ditempelkan 11%, dimakan 5%, dikunyah 2% dan digosok 1%.
Spatiotemporal Local Climate Zone (LCZ) dan Hubungannya dengan Fenomena Urban Heat Island (UHI) di Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang Rizqi, Bayu; Wibowo, Adi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1280-1291

Abstract

Transformasi spasial yang pesat akibat ekspansi kampus telah membentuk ulang morfologi kawasan Undip Tembalang dan berpotensi memperkuat efek UHI lokal. Penelitian ini bertujuan mengkaji perubahan spasio-temporal LCZ serta hubungannya dengan LST untuk memahami bagaimana proses Studentifikasi memengaruhi iklim mikro kampus. Analisis dilakukan menggunakan citra resolusi tinggi dari Google Earth Pro dan Landsat 8 (OLI/TIRS) tahun 2015 dan 2024, dengan klasifikasi LCZ berbasis grid 100×100 m serta perhitungan LST menggunakan algoritma split-window. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan LCZ3 (padat bertingkat rendah) dari 180.000 m² (4,17%) menjadi 470.000 m² (10,88%) dan kemunculan LCZ4, disertai penurunan luas zona vegetatif (LCZA–LCZB). Suhu permukaan rata-rata naik dari 27,38 °C menjadi 28,00 °C, sementara suhu maksimum harian meningkat tajam dari 32,05 °C menjadi 33,71 °C, menandakan penguatan UHI. Overlay peta menunjukkan LCZ padat (LCZ3–LCZ4–LCZ6) memiliki LST tertinggi (29,04–30,72 °C), sedangkan zona vegetatif (LCZA–LCZG) tetap terendah (23,57–25,35 °C). Korelasi peringkat Spearman menunjukkan hubungan positif kuat antara kepadatan morfologi dan LST (ρ = 0,90 pada 2015 dan ρ = 0,78 pada 2024), menegaskan bahwa peningkatan kepadatan bangunan memperkuat UHI sekaligus menciptakan heterogenitas termal yang lebih tinggi. Penelitian ini menawarkan pendekatan baru LCZ–LST berskala mikro untuk kawasan kampus tropis, serta memberi bukti empiris dan acuan metodologis bagi studi sejenis. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi perencanaan spasial kampus yang mengintegrasikan infrastruktur hijau, permukaan permeabel, dan material beralbedo tinggi untuk memitigasi UHI dan meningkatkan kenyamanan termal di kawasan akademik yang mengalami urbanisasi pesat. 
Kesesuaian Struktur Vegetasi dan Habitat Hutan Mangrove untuk Silvofishery di Pantai Utara Mojo Pemalang Jawa Tengah Pahlevi, Muhammad Reza; Poedjirahajoe, Erny; Wardhani, Frita Kusuma; Satria, Ryan Adi; Saputra, Dimas Cahya Kurnia
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1227-1236

Abstract

Pembukaan hutan mangrove menjadi tambak diakibatkan oleh permintaan hasil-hasil perikanan dan hasil lainnya seperti kepiting bakau, dan udang yang semakin meningkat telah merusak ekosistem mangrove. Usaha untuk memulihkan fungsi ekosistem mangrove salah satunya melalui kegiatan rehabilitasi yang meliputi penghijauan pantai dengan menanam mangrove dan dengan memanfaatkan silvofishery. Penelitian ini bertujuan untuk (i) menganalisis faktor fisis, kimia, dan biologis habitat mangrove pada tahun tanam 2001, 2003, dan 2004 (ii) mengidentifikasi lokasi mana saja yang sesuai untuk dijadikan sebagai areal silvofishery pada tahun tanam 2001, 2003, dan 2004. Penelitian dilakukan dengan cara membagi kawasan rehabilitas mangrove menjadi 3 jalur sebagai ulangan dan tegak lurus garis pantai dengan jarak antar jalur 25 m. pada setiap jalur dibagi menjadi 3 zona ke arah darat. Pada setiap zona dibuat PU ukuran 5m x 5m, sehingga total ada 36 PU. Pada setiap PU diukur suhu, DO, salinitas, pH air, ketebalan lumpur, dan kerapatan vegetasi, plankton dan nekton. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada lokasi yang sesuai untuk dijadikan sebagai silvofishery, karena beberapa faktor yang belum mendukung pada saat itu, sehingga perlu dilakukan perbaikan dengan cara penelitian lebih lanjut mengenai silvofishery ini dan faktor-faktor yang belum memenuhi kriteria habitat mangrove dalam tabel kesesuaian ekologis tersebut.
Kuantifikasi Cadangan Karbon Hutan Kawasan Karst Maros Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Fuady, Syafiqatul; Arsyad, Muhammad; Tiwow, Vistarani Arini; Sulistiawaty, Sulistiawaty; Arsyad, Fahmiady; Prasetiyo, Adi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1333-1342

Abstract

Perubahan iklim global memerlukan upaya mitigasi berbasis ekosistem. Kawasan Karst Maros Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, memiliki potensi sebagai penyimpan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik iklim dan mengkuantifikasi cadangan karbon hutan di Kawasan Karst Maros Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Karakteristik iklim dianalisis menggunakan data curah hujan dan suhu udara 31 tahun (1993-2023) yang diperoleh dari data citra satelit ERA-5. Sedangkan estimasi cadangan karbon hutan digunakan data biomassa, nekromassa, dan %C organik tanah yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan dan uji laboratorium. Pengambilan data dilakukan pada bagian hutan daerah datar bertanah sebanyak 30 plot berukuran 20 x 20m (400 m2). Penentuan lokasi plot pengukuran melalui metode purposive sampling. Analisis data menggunakan metode allometrik. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh rata-rata suhu udara 26,4°C dan jumlah curah hujan tahunan 2.864,13 mm/tahun, hal ini mengindikasikan bahwa zona iklim di kawasan penelitian menurut Chave, et al (2005) termasuk dalam zona iklim Humid/Lembab. Cadangan karbon sebesar 223,366 tonC/ha, dengan luas wilayah 9.610,71 ha diperoleh cadangan karbon total sebesar 2.146.705,850 tonC, sehingga berdasarkan harga jual kredit karbon senilai US$ 5/ton di pasar karbon, nilai ekonomi karbon dapat mencapai sekitar Rp.167.099.583.353. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Karst Maros Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki kontribusi signifikan dalam menyimpan karbon, sekaligus memiliki potensi ekonomi melalui program kompensasi karbon khususnya skema Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). Oleh karena itu hasil penelitian dapat dijadikan dasar ilmiah dalam perumusan strategi mitigasi perubahan iklim serta pengelolaan kawasan kasrt secara berkelanjutan.

Filter by Year

2011 2025