cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 901 Documents
Pengaruh Faktor Meteorologi terhadap Dispersi Emisi NO₂, SO₂, dan PM dari Cerobong Pabrik Kelapa Sawit Berdasarkan Model AERMOD dan Analisis PCA Nur Irya Islami; Yulia Fitri; Sri Fitria Retnawaty; Vanni Ayu Pratiwi; Yola Saniya Adista
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.410-421

Abstract

Industri kelapa sawit merupakan salah satu sumber emisi pencemar udara yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dan memengaruhi kesehatan masyarakat melalui pelepasan partikulat (PM), nitrogen dioksida (NO₂), dan sulfur dioksida (SO₂) dari proses pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dispersi PM, NO₂, dan SO₂ yang berasal dari cerobong industri kelapa sawit, mengevaluasi distribusi spasial konsentrasi polutan terhadap baku mutu udara ambien, serta mengidentifikasi faktor meteorologi yang memengaruhi variasi konsentrasi polutan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Penelitian dilakukan pada kawasan industri kelapa sawit PT XY yang memiliki 122 sumber emisi. Pemodelan dispersi dilakukan menggunakan AERMOD dengan data meteorologi periode 2015–2024 yang diolah melalui AERMET dan data topografi Digital Elevation Model (DEM) yang diproses menggunakan AERMAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah angin dominan berasal dari Timur–Tenggara sehingga pola sebaran polutan cenderung bergerak ke Barat–Barat Laut. Konsentrasi maksimum PM mencapai 378 µg/m³ dan melebihi baku mutu udara ambien di area dekat sumber emisi, sedangkan konsentrasi maksimum NO₂ dan SO₂ masing-masing sebesar 20,5 µg/m³ dan 17,9 µg/m³ masih berada di bawah baku mutu nasional. Sumber emisi terbesar berasal dari tungku bakar dengan laju emisi PM sebesar 361,46 g/s, NO₂ sebesar 22,527 g/s, dan SO₂ sebesar 20,5 g/s. Analisis PCA menghasilkan tiga komponen utama yang mampu menjelaskan 82,7% total variasi data. Curah hujan, radiasi matahari, tekanan udara, suhu, kelembapan, arah angin, dan tutupan awan merupakan faktor meteorologi dominan yang memengaruhi variasi konsentrasi polutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain besarnya emisi dari sumber, kondisi meteorologi berperan penting dalam menentukan pola dispersi dan distribusi konsentrasi polutan di kawasan industri kelapa sawit.
Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau sebagai Penyerap Emisi CO2 di Pabrik Kelapa Sawit Esta Azzahra; Dian Rahayu Jati; Aji Ali Akbar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.304-314

Abstract

Emisi karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan dari aktivitas industri berkontribusi signifikan terhadap peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan mempercepat laju perubahan iklim global. Industri pengolahan kelapa sawit, yang umumnya masih bergantung pada bahan bakar fosil, merupakan salah satu sektor utama penyumbang emisi CO₂ yang berdampak pada pemanasan global. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan. Salah satu strategi mitigasi yang efektif dan berkelanjutan adalah pengoptimalan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami melalui proses fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban emisi CO₂ yang dihasilkan dari aktivitas industri di PT. X, menentukan luas RTH yang tersedia di lokasi penelitian, serta mengevaluasi kemampuan vegetasi dalam RTH tersebut untuk menyerap emisi CO₂. Metode yang digunakan meliputi perhitungan emisi CO₂ berdasarkan pedoman IPCC 2006 dengan pendekatan Tier 1. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan luas RTH, sementara survei lapangan digunakan untuk mengidentifikasi jumlah dan jenis vegetasi yang ada. Evaluasi daya serap vegetasi didasarkan pada literatur ilmiah mengenai potensi serapan karbon dari berbagai jenis penutup lahan hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total emisi CO₂ dari pembakaran bahan bakar solar mencapai 553,36 ton/tahun, sementara daya serap vegetasi mencapai 557,79 ton/tahun. Dengan demikian, terdapat surplus daya serap sebesar 4,43 ton/tahun. RTH yang tersedia seluas 6,93 Ha dari total lahan, telah melampaui standar minimum 10% sesuai regulasi. Kesimpulannya, PT. X menunjukkan kemampuan serapan karbon terbatas pada emisi dari penggunaan bahan bakar solar yang dianalisis dalam penelitian ini.
Real-Time Ambient Environmental and Noise Pollution Monitoring System in High-Density Areas of Malang City using Internet of Things (IoT) Technology Yasmin Zafirah; Allin Junikhah; Fuad Dwi Hanggara; Fariz Rifqi Zul Fahmi; Aulia Fikriarini Muchlis
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.475-483

Abstract

This study evaluated real-time ambient environment and sound pollution monitoring system using Internet of Things (IoT). This system detects wide range of temperature, humidity, fine particulate matter (PM2.5), Carbon monoxide (CO), Carbon dioxide (CO2), and noise level in six traffic areas in Malang City during peak hours. Using a variety of sensors, the system continuously monitors ambient environment and noise pollution at 06:00-07:00, 11:00-12:01, 15:00-16:02. The monitoring tools was placed ±3 meters from the roadside near to the traffic light. Data were collected during peak traffic hours, emphasizing the direct impact of car emissions on air quality. Intense vehicle activity has contributed to increased temperatures and higher particulate matter in specific areas. However, CO, CO₂ and noise levels were observed to remain within acceptable safety thresholds. Notably, this study identified an inverse correlation between temperature and humidity. The IoT-based environmental monitoring system, deployed across six high-traffic locations in Malang, has been successfully implemented and effectively operated. This study investigated environmental factors that greater than threshold using IoT monitoring system deserving further evaluation.
Analisis Awan Cumulonimbus pada Kejadian Angin Kencang di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung (Studi Kasus 20 Mei 2020) Aditya Mulya; Selviana Pratiwi; Yosafat Donni Haryanto; Achmad Zakir
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.365-370

Abstract

Awan Cumulonimbus dapat menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, badai petir dan angin kencang. Penelitian ini bertujuan menganalisis Awan Cumulonimbus yang berasosiasi dengan angin kencang di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, pada 20 Mei 2020. Data yang digunakan meliputi data Radar Cuaca (produk CMAX, VSHEAR, PPI, dan VIL), citra Satelit Himawari-8 kanal IR, dan data reanalisis ERA5 untuk mengetahui kondisi atmosfer yang menyebabkan terbentuknya awan Cumulonimbus. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan awan Cumulonimbus dari fase tumbuh, matang, hingga meluruh. Suhu puncak awan dari citra IR mencapai sekitar -80°C di wilayah penelitian. Nilai reflektivitas produk CMAX meningkat dari 32-45 dBZ pada fase tumbuh menjadi 53 dBZ pada fase matang, kemudian menurun pada fase peluruhan. Produk VSHEAR menunjukkan kondisi kuat (strong) pada seluruh tahap, sedangkan pola inbound pada produk PPI mengindikasikan adanya angin yang menuju radar. Hasil reanalisis ERA5 menunjukkan adanya massa udara terangkat sehingga memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus. Kombinasi radar, satelit, dan reanalisis ERA5 menunjukkan bahwa kejadian angin kencang di Tulang Bawang, Lampung berasosiasi kuat dengan adanya awan Cumulonimbus. Kondisi ini menguatkan pentingnya integrasi penginderaan jauh untuk mendukung analisis dan peringatan dini cuaca ekstrem khususnya angin kencang di Tulang Bawang, Lampung.
Penentuan Prioritas Kebijakan Kampus Hijau Berdasarkan Indikator UI GreenMetric Dinda Safitri Ramadhani; Arief Rizqi Pratama; Arinda Soraya Putri; Eko Setiawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.263-270

Abstract

Perubahan iklim mendorong perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui konsep kampus hijau. Penelitian ini bertujuan merumuskan prioritas kebijakan strategis di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan mengadaptasi indikator UI GreenMetric pada level fakultas. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan bobot sub-kriteria berdasarkan penilaian ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa kategori energi dan perubahan iklim menempati prioritas utama, dengan indikator jumlah sumber energi terbarukan di kampus (A2) memperoleh bobot tertinggi sebesar 0,28. Faktor ini diikuti oleh rasio produksi energi terbarukan terhadap penggunaan energi tahunan (A4) dengan bobot 0,22. Pada kategori limbah, prioritas utama terdapat pada program pengurangan penggunaan kertas dan plastik (B1) dengan bobot 0,38, diikuti pengelolaan limbah organik (B2) dengan bobot 0,37. Sementara itu, pada kategori air, prioritas tertinggi terdapat pada program konservasi air (C3) dengan bobot 0,75, diikuti penerapan perangkat hemat air (C2) sebagai alternatif pendukung implementasi konservasi air kampus. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan UI GreenMetric di lingkup fakultas, yang sebelumnya umumnya dilakukan di level universitas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan penyusunan prioritas program keberlanjutan di Fakultas Teknik UMS, khususnya dalam pengembangan energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan konservasi air secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Konsentrasi NO₂ pada Dapur Tradisional Rumah Makan Minangkabau Ashifa Adetya; Driejana Driejana; Adyati Pradini Yudison
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.422-431

Abstract

Praktik memasak tradisional Minangkabau sangat bergantung pada kayu bakar sebagai bahan bakar utama. Praktik ini mempertahankan rasa otentik masakan, tetapi memasak di ruang tertutup menyebabkan polusi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi konsentrasi NO2 dalam ruangan yang dihasilkan dari aktivitas memasak dengan kayu bakar di dapur restoran tradisional Minangkabau, serta mengevaluasi pengaruh tata letak ruangan dan ventilasi terhadap distribusi polutan. Tujuh titik pemantauan dipilih berdasarkan tata letak ruangan, intensitas kegiatan memasak, dan akses ventilasi di dapur restoran Minangkabau di Padang Panjang, Sumatera Barat. Tabung difusi tipe Palmes mengukur konsentrasi NO₂ mingguan selama 6 minggu. Sampel dianalisis menggunakan metode Griess Saltzman, menghasilkan konsentrasi NO₂ rata-rata 288 μg/m³. Dengan pola aktivitas harian yang relatif konsisten sepanjang tahun, konsentrasi rata-rata NO₂ jauh di atas ambang batas Standar Kualitas Udara Dalam Ruangan yang ditetapkan oleh Permenkes No.2/2023, mengindikasikan potensi dampak kesehatan jangka panjang. Konsentrasi NO2 di tujuh titik pengukuran bervariasi. Konsentrasi tertinggi terukur pada titik terdekat dengan tungku memasak, yang memiliki ventilasi terbatas. Konsentrasi NO₂ di dapur tetap ada bahkan ketika tidak memasak, menunjukkan bahwa polutan dapat bertahan karena sirkulasi udara yang buruk selama memasak. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan sirkulasi udara, ventilasi, dan sistem ekstraksi asap di dapur tradisional untuk mengurangi akumulasi polutan udara dalam ruangan tanpa mengubah praktik memasak yang merupakan bagian dari budaya lokal. Upaya ini dapat mendukung pengelolaan kualitas udara dalam ruangan dan berkontribusi dalam pencapaian Target SDG 3.9, yang bertujuan untuk mengurangi dampak kesehatan dari polusi udara.
Kajian Community-Based pada pengelolaan Ekowisata Mundupesisir, Kabupaten Cirebon Feti Fatimatuzzahroh; Windra Yuniarsih; Dheni Dwi Pangestuti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.315-327

Abstract

Ekowisata mangrove berbasis komunitas merupakan pendekatan strategis yang mengintegrasikan konservasi ekosistem pesisir dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Penelitian yang secara spesifik mengeksplorasi struktur pengelolaan ekowisata mangrove, konflik tata kelola antar-stakeholder, serta dampak sosial-ekonomi dan ekologisnya pada ekowisata mangrove di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis model pengelolaan Ekowisata Mangrove Kasih Sayang Mundupesisir (MKSM), Kabupaten Cirebon, yang memiliki keunikan berupa dualisme kelembagaan antara Pokmaswas (konservasi) dan Pokdarwis yang merupakan bagian dari BUMDes (pariwisata), dengan mengidentifikasi: karakteristik pengelolaan berbasis komunitas, konflik kepentingan antar-aktor, serta dampak pengelolaan pada dimensi sosial-ekonomi dan ekologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui in-depth interview terhadap 9 informan kunci yang dipilih secara purposive, meliputi ketua dan anggota Pokmaswas, Pokdarwis, BUMDes, Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan penjaga tiket ekowisata, serta observasi nonpartisipan dan studi dokumen. Analisis data menggunakan pendekatan tematik-induktif dengan tahap open coding, axial coding, dan selective coding. Validitas data dilakukan dengan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MKSM menerapkan model pengelolaan co-management hibrid yang memadukan authentic ecotourism dan community based tourism, dengan struktur tata kelola ganda yaitu Pokmaswas (Kelompok Pengawasan Komunitas) mengawasi konservasi, sementara Bumdes (Perusahaan Milik Desa) melalui Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mengelola kegiatan komersial ekowisata yang belum diformalkan dalam regulasi desa. Terdapat gap kelembagaan yang signifikan, namun pembagian peran dan kewenangan tersebut belum dilegalformalkan sehingga menciptakan konflik yang menghambat perkembangan ekowisata. Temuan ini memberikan kontribusi berupa model co-management ekowisata mangrove dengan dualisme kelembagaan formal-informal yang relevan bagi pengembangan community based ecotourism di kawasan pesisir Indonesia.
Social Forestry for Economic, Social, and Environmental Sustainability: A Bibliometric Analysis Westi Utami
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.484-496

Abstract

Social forestry can be defined as a strategy for resolving forest tenure conflicts, reducing poverty, and maintaining the sustainability of forest ecosystems/environments. Nevertheless, studies that address the subject of social forestry literature reviews are extremely scarce. This condition has the potential to impede a comprehensive understanding and limit prospects for future social forestry research initiatives. The present study aims to analyse the role of social forestry in achieving social, economic and environmental sustainability. The present study utilised the Scopus database, which encompasses 429 manuscripts, and employed R-Studio and Vosviewer for the purpose of data analysis. The research findings indicate that Forest and Society is the most productive publisher. The three institutions with the highest number of publications are Hasanuddin University, Gadjah Mada University, and Bogor Agricultural University. This analysis demonstrates that Indonesia is the nation with the most prolific number of publications in the domain of social forestry. Social forestry studies have undergone substantial development. In the 2000s, the majority of studies were related to the sub-themes of deforestation, biomass, and participation. Concurrently, in 2010, the study sub-themes exhibited a stronger correlation with livelihoods and community forestry. In the 2020s, the focus shifted towards conservation, climate change, and sustainable forest management. The implementation of social forestry is encumbered by a number of challenges and problems. In certain regions, the implementation of social forestry initiatives has successfully addressed tenurial conflicts, thereby ensuring legal clarity with respect to land tenure. Nevertheless, the implementation of this policy has not yet resulted in significant improvements to people's lives or achieved environmental sustainability, including in terms of forest ecosystems. It is evident that inadequate mentoring, inadequate funding, limited community participation, and limited structured monitoring and evaluation of social forestry policies have collectively impeded this policy from achieving the desired levels of social, economic, and environmental sustainability.
Preferences for Restorative Landscape Elements among the University Students in Bogor City Parks by Using Visitor - Employed Photography Prita Indah Pratiwi; Bambang Sulistyantara; Aditya Aji Pamungkas
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.371-380

Abstract

City parks are designed to serve various community needs, ranging from social and cultural functions to economic purposes, and they can even improve physical and mental health. In West Java, mental health issues are a concern experienced by age groups over 75 years as well as those between 15 and 24 years. Among these, university students face a particularly high level of mental health disorders, especially academic anxiety. To address this, the present study aims to: (1) identify landscape views in Bogor City Square, Sempur Park, and Heulang Park based on geotagged photos; (2) classify restorative landscape elements; and (3) evaluate the effects of restoration on university students. This was accomplished through an experimental method involving direct observation and the completion of the Perceived Restorativeness Scale (PRS) questionnaire. Parameters observed included landscape views, park elements, and restorative effects. For the experiment, 30 university students walked around the park for 15 minutes. Analyses included spatial analysis of photo distribution in QGIS, content analysis of photos using the Google Cloud Vision API, and analysis of restorative effects. The results indicate the following: first, there are 1 to 3 hotspots with the highest photo density in the three parks; second, restorative landscape elements include plants (1445 keywords), trees (1099 keywords), and grass (853 keywords); and third, Heulang Park achieves the highest restorative scores compared to the other two parks (being away = 4.3, fascination = 4.3, coherence = 3.3, compatibility = 4). Overall, this study uses cloud technology to conduct a preliminary research of the restorative effects for the users in Bogor city parks analyzing geotag information.
Analisis Degradasi Minyak Jelantah dan Dampaknya Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca dalam Produksi Biodiesel di DKI Jakarta Sirin Fairus; Nurul Asiah; Teguh Sandi Wijaya; Tasya Nurfadila
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.271-282

Abstract

Pertumbuhan konsumsi minyak goreng di wilayah perkotaan, khususnya DKI Jakarta, menghasilkan limbah minyak jelantah dalam jumlah besar yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konversi minyak jelantah menjadi biodiesel serta menghitung emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari tahapan transportasi dan proses transesterifikasi. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui pengambilan sampel minyak jelantah dari beberapa wilayah di DKI Jakarta, pengujian laboratorium kualitas biodiesel berdasarkan standar SNI 7182:2015, serta perhitungan emisi menggunakan faktor emisi transportasi dan proses produksi biodiesel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak jelantah memiliki potensi yang baik sebagai bahan baku biodiesel untuk mendukung ketahanan energi lokal dan pengurangan limbah perkotaan. Kondisi optimum proses transesterifikasi diperoleh pada rasio minyak terhadap metanol 6:1, penggunaan katalis KOH 1%, suhu 70 °C, dan kecepatan pengadukan 600 rpm dengan yield biodiesel mencapai 90,42%. Biodiesel yang dihasilkan memenuhi standar mutu SNI 7182:2015 pada parameter utama viskositas, angka setana, kandungan sulfur, dan kestabilan oksidasi. Jumlah total emisi dalam periode tertentu merupakan penjumlahan dari emisi kegiatan pengumpulan berdasarkan jarak rata-rata terjauh dan emisi proses produksi biodiesel berbahan baku minyak jelantah. Estimasi emisi dari produksi biodiesel harian di lima wilayah DKI Jakarta adalah sebesar 30.624,80 kg CO₂ ekuivalen. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah sebagai biodiesel tidak hanya berpotensi mengurangi limbah dan mendukung energi terbarukan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengelolaan emisi GRK di kawasan perkotaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan integratif antara analisis kualitas biodiesel minyak jelantah dan estimasi emisi GRK berbasis wilayah perkotaan di DKI Jakarta.

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 2 (2026): March 2026 Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026 Vol 23, No 6 (2025): November 2025 Vol 23, No 5 (2025): September 2025 Vol 23, No 4 (2025): July 2025 Vol 23, No 3 (2025): May 2025 Vol 23, No 2 (2025): March 2025 Vol 23, No 1 (2025): January 2025 Vol 22, No 6 (2024): November 2024 Vol 22, No 5 (2024): September 2024 Vol 22, No 4 (2024): July 2024 Vol 22, No 3 (2024): May 2024 Vol 22, No 2 (2024): March 2024 Vol 22, No 1 (2024): January 2024 Vol 21, No 4 (2023): October 2023 Vol 21, No 3 (2023): July 2023 Vol 21, No 2 (2023): April 2023 Vol 21, No 1 (2023): January 2023 Vol 20, No 4 (2022): October 2022 Vol 20, No 3 (2022): July 2022 Vol 20, No 2 (2022): April 2022 Vol 20, No 1 (2022): January 2022 Vol 19, No 3 (2021): November 2021 Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 3 (2020): November 2020 Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 3 (2019): November 2019 Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 More Issue