cover
Contact Name
Triyanto
Contact Email
triyanto@utu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jcommunityutu@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
community: Pengawas Dinamika Sosial
Published by Universitas Teuku Umar
ISSN : 24775746     EISSN : 25020544     DOI : 10.35308/jcpds
Core Subject : Social,
JURNAL COMMUNITY PENGAWAS DINAMIKA SOSIAL (JCPDS) merupakan jurnal elektronik online yang diterbitkan oleh lembaga penerbitan Jurusan SOSIOLOGI, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Teuku Umar. JCPDS memuat kajian seperti MASALAH-MASALAH SOSIAL, Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan Sosial, dan Perubahan Sosial & Budaya. Kesemuanya difokuskan pada masyarakat pedesaan dan pesisir sebagaimana visi misi prodi dan Universitas yang mengarah pada agro and marine industry. Tujuan penerbitan jurnal ini adalah salah satu sarana untuk mewadahi kebutuhan peningkatkan kuantitas dan kualitas karya ilmiah. JCPDS terbit dua kali dalam setahun, yakni pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
Motivasi Perempuan Desa Dalam Berwirausaha (Kajian Sosiologi Pembangunan) Nurlian Nurlian; rahma husna yana; irma juraida; Triyanto Triyanto
Jurnal Community Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v6i2.2375

Abstract

Dunia berwirausaha adalah dunia yang bisa dimasuki oleh perempuan dan laki-laki untuk mencapai kemajuan yang dinginkan. Syarat mutlak dan paling utama untuk memasuki dunia berwirausaha ini adalah  motivasi diri yang tinggi yang sangat diperlukan sebagai pondasi awal dalam memulai dan menjalankan usaha yang telah ditetapkan. Motivasi berprestasi yang dimiliki perempuan dipedesaan telah menimbulkan perubahan positif dalam bersikap, bertingkah laku khusus pada dunia usaha dan menjadikan perempuan di pedesaan memiliki berbagai macam bentuk usaha. Bentuk-bentuk usaha tersebut berada pada sektor kegiatan ekonomi home indutri, berternak, berkebun dan usaha konveksi (menjahit). Bentuk-bentuk usaha ini muncul karena disesuaikan dengan area tinggal perempuan tersebut dan melihat sumber daya usaha yang bisa di kembangkan untuk lebih produktif. Motivasi yang dimiliki oleh perempuan pedesaan ini telah membantu ekonomi kelaurga dan kebutuhan dirinya sendiri, telah membuat perempuan pedesaan yang mempunyai usaha sendiri menjadikan sosok perempuan mandiri, sukses dan bisa membantu memberikan konribusi bagi keluarganya dan orang lain. Untuk meningkatkan perekonomian dna kesehteraan hidup masyarakat di pedesaan, maka pemerintah setempat harus memberikan perhatiannya pada usaha-usaha yang digeluti oleh perempuan dipedesaan dengan cara memberikan modal ekonomi, modal pengetahuan serta link bisnis lainnya, sehingga usaha yang digeluti oleh perempuan tersebut menjadi lebih maju dan sukses, karena usaha yang dibangun oleh perempuan tersebut dan peran pemerintah merupakan satu sistem sosial-ekonomi yang harus saling mendukung untuk pembangunan ekonomi.
ARE YOU HAPPY EVEN WITHOUT YOUR MOBILE PHONE? (Identification of Nomophobia on Students of SMAN 1 Pangalengan Bandung) Deni Sutisna; Dyah Indraswati
Jurnal Community Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v6i2.2527

Abstract

Nomophobia is a phenomenon that occurs as a result of the development of communication technology, especially mobile phones, which some people unconsciously experience. This study aims to reveal the tendency of Nomophobia experienced by students of SMAN 1 Pangalengan, especially class 10 in the 2019-2020 academic year. Assessed by using a descriptive quantitative approach to reveal the phenomenon that is happening. This study uses an instrument developed by (Yildirim, 2014) called the NMP-Q instrument (Nomophobia Quessionaire). NMP-Q is a list of statements totaling 20 items covering four dimensions of Nomophobia: (1) unable to communicate, (2) loss of connection / connection, (3) unable to access information, and (4) giving up comfort. All items were assessed using a Likert scale ranging from 1 (strongly disagree) to 7 (strongly agree). The level or level of the nomophibia depends on the value obtained. ≤20 then no Nomophobia occurs, 21-60 means experiencing mild Nomophobia, 61-100 means moderate Nomophobia, and> 101 means severe Nomophobia. The results showed that 6% of students had mild Nomophobia, 46% of students had moderate Nomophobia, and 48% of students had severe Nomophobia, so it can be concluded that students of SMAN 1 Pangalengan in class 10 in the 2019-2020 academic year were identified as having Nomophobia. 
Memahami Kekerasan Seksual dalam Menara Gading di Indonesia Ariani Hasanah Soejoeti; Vinita Susanti
Jurnal Community Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v6i2.2221

Abstract

Many studies on campus sexual assault in the past use lifestyle-routine activities theory to explain the crime. According to those studies,  certain lifestyle factors can increase the likelihood of victimization while still in college. Our research shows that the two theories fail to explain that several institutional policies or regulations set by universities can limit and shape an individual's lifestyle, thus increasing the risk of victimization. These policies or regulations include class schedules, thesis consultancies, and campus-community service programs. Against this background, the authors argue that the root cause of campus sexual assault lies in the patriarchal culture in the Indonesia context hence women have a higher risk of victimization than men.
HUBUNGAN PATRON-KLIEN DALAM SISTEM MAWAH KEUBEU DI ACEH BARAT irma juraida; Rahmah husna Yana; Triyanto Triyanto; Nurlian Nurlian
Jurnal Community Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v6i2.2786

Abstract

This study aims to describe how the patron-client social interaction or relationship between the owner and the buffalo caretakers in Gampong Gunong Mata Ie, Aceh Barat Regency. This study uses the patron-client theory of James Scott using descriptive qualitative research methods with data collection techniques such as observation techniques, and in-depth interviews. The results of this study are a form of interaction or social exchange relationship between patron and client in mawah keubeu: a) material exchange relationship between livestock keepers and livestock owners b) non-material exchange relationships between buffalo breeders and buffalo livestock owners. The patron-client social exchange pattern between buffalo keepers and buffalo owners occurs because of economic inequality. The process of social exchange that occurs in buffalo keepers and buffalo owners is usually very strong and lasts a long time, this is due to the mutual benefit between clients and patrons.
Asabiyah and Religious Solidarity (A Socio-Historical Analysis of Asabiyah’s Ibn Khaldun in relation to the Concept of Muslim Unity) Khairulyadi Khairulyadi; Bukhari Bukhari; Masrizal Masrizal; Triyanto Triyanto; Akmal Saputra
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3604

Abstract

Asabiyah merupakan kecenderungan solidaritas dalam kelompok, acap digunakan untuk menilai stabilitas dan kohesivitas kelompok sosial tertentu. Peran asabiyah sangat menentukan lahir dan runtuhnya sebuah bangsa, negara dan peradaban. Tulisan ini mengunakan pendekatan sosio-historis, bertujuan untuk menganalisa konsep asabiyah Ibnu Khaldun dan bagaimana konsep ini terkait dengan solidaritas berdasarkan agama. Solidaritas agama, misalnya, telah mendorong usaha menyatukan negara Islam seperti gerakan Pan-Islamisme, Persatuan Arab dan Persatuan Muslim. Data untuk tulisan ini dikumpulan melalui pendekatan analisa dokumen (document analysis). Tulisan ini mendapati bahwa antara asabiyah dan solidaritas agama memiliki hubungan yang mutually-inclusive. Bahwa, asabiyah memiliki peran penting dalam kemunculan awal sebuah negara dan peradaban. Sedangkan solidaritas agama diperlukan sebagai identitas dan kesadaran yang menyatukan perbedaan identitas budaya dan etnis (asabiyah) dalam sebuah negara dan aliansi. Pada tahapan awal lahirnya sebuah negara asabiyah sangat diperlukan sebagai pemantik semangat juang dan keberanian. Sementara solidaritas agama bisa menekan etnosentrisme dan menghilangkan persaingan, kecurigaan dan kecemburan di antara entitas etnis yang berbeda. Ringkasnya, identitas budaya dan etnis (asabiyah) dan solidaritas agama saling membutuhkan dan menguatkan terutama  untuk mencapai pembangunan dan kemajuan. Jika ikatan asabiyah menguat tanpa ikatan solidaritas agama akan memicu kemunduran dan keruntuhan bagi sebuah negara dan peradaban.
Tradisi, Budaya Dan Potret Keberdayaan Masyarakat Pesisir Sebuah Kajian Etnografi di Pulau Sabang Onal Syafrizal
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3674

Abstract

This article attempts to explain to readers how to describe the traditions, culture and empowerment of coastal communities on the island of Sabang. As is well known, Sabang is the main mouthpiece of Aceh's tourist destinations which are often introduced to all countries around the world. Sabang Island is no less attractive than the island of the gods Bali, but somehow Sabang is not as popular as Bali. In fact, Indonesia's initial barometer starts from Sabang, marked by the Zero Kilometer Monument of Indonesia which is located at the end of the island of Sabang. If you claim to be an explorer throughout Indonesia, then it is not worth mentioning that you have traveled throughout Indonesia if you have not set foot in Sabang, especially if you have not arrived at the Zero Kilometer Monument. A portrait of the welfare of the Sabang coastal community is also described in this article. People on Sabang Island have various traditions and cultures that are not necessarily shared by other coastal communities, such as the short market tradition and the culture of napping, subjects who have the authority to trade in the Sabang market have a tradition of opening shops or starting buying and selling activities starting from after dawn (dark morning) until noon (12:00) continue after Asr (16:00) until evening (22:00), meaning from 12:00 to 16:00 all trading activities in the market Sabang is not active. The final conclusion in this article explains that it is time and should the coastal communities be empowered both from the economic, educational, social and cultural sides. When there is a prosperous society, the leader in the area is also categorized as a leader who has the potential to prosper the people. All people in Indonesia certainly want the “welfare” cake, but to make it happen it is very much influenced at the local level, this is what is often forgotten by each individual in general, without realizing small things can actually have a big impact on the social welfare of our society. nowadays. The achievement of the basic needs of the people is a portrait of prosperity and prosperity, because no matter how high the positions of government officials are, they are still serving the people, in fact the people are the real bosses.
The Development of the Constituent Social Class as Political Participation in Banda Aceh and Meulaboh Rena Juliana; Reni Juliani; Nurkhalis Nurkhalis
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3625

Abstract

Indonesia adheres to a democratic system of government. Each citizen, on the basis of the choice of ordinary people, chooses free political participation and then changes their direction as a sympathizer. Today, the excitement of political participation in Indonesian society to spread on Aceh has been somewhat hurt because some people have changed the political climate to be bad. This is reflected in the previous political participation side by side to deliver rhetoric to reap the voice of the people, but it has become a competition for each other. The purpose of this study is to find out what types of political participation occurred in constituents in Banda Aceh and West Aceh and who are the actors or groups that weaken or strengthen political participation in the constituents. The research method used is a qualitative approach with informants consisting of key informants, subject informants and non-subject informants. The results showed that the types of political participation in the constituents of Banda Aceh and West Aceh were very different and that sympathizers and political actors continued to strengthen and weaken the constituents. It is expected that this research will be a comparative study of the dynamics of policy in the Aceh region.
YAYASAN SEBAGAI PENANGGULANGAN ANAK TERLANTAR (Sebuah Studi di Pondok Misbahul Fatayat Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya) T. Syarifuddin T. Syarifuddin; Safwandi Safwandi
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3776

Abstract

Terjadinya konflik dan tsunami Aceh, selain menimbulkan keterpurukan dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, juga menimbulkan masalah sosial lain yaitu anak terlantar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penanggulangan anak terlantar, serta apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam penanggulangan anak terlantar di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakanTeknik Siklus Kesamaan Data. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa, bentuk penanggulangan anak terlantar dalam meningkatkan kesejahteraan sosial di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya, dilakukan dengan memfasilitasi berbagai keperluan yang berkaitan dengan pendidikan anak terlantar, baik yang dilakukan oleh pemerintah setempat, maupun oleh Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat. Adapun faktor pendukung dalam penanggulangan anak terlantar di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya adalah, adanya Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat yang menampung anak-anak terlantar untuk dibina secara formal dan informal. Sedangkan faktor penghambat kurang berkembangnya Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat dalam menanggulangi anak terlantar di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya, dikarenakan minimnya bantuan yang didapatkan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat untuk operasional dan biaya asuh. Saran-saran hasil penelitian ini, kepada dinas terkait diharapkan dapat memberikan modal usaha kepada anak terlantar sebagai tindak lanjut pasca pendidikan di yayasan. Dan bagi Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat, diharapkan dapat menjalin hubungan baik dengan pihak lain, guna mendapatkan pendanaan yang bisa digunakan untuk meningkatkan pengembangan yayasan dan pengadaan fasilitas yang lebih memadai bagi anak-anak terlantar yang ada di Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat.
Upaya Penyelesaian Konflik Pembangkit Listrik Tenaga Uap Di Teluk Sepang Andina Pratama; Sulistya Wardaya; Ika Pasca Himawati
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3263

Abstract

Kendati dinilai memberikan pasokan listrik namun keberadan Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang menggunakan sumber energi Batubara di Teluk Sepang memiliki dampak yang justru menghasilkan konflik. Adapun konflik terjadi antara PT Tenaga Listrik sebagai perusahaan yang mengelola PLTU dengan masyarakat setempat yang bergabung dalam Koalisi Langit Biru. Selain dampak keberadaan PLTU, kajian dalam penelitian ini ialah mengkaji mengenai upaya penyelesaian atas konflik yang terjadi antara kedua belah pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi non partisipan dan dokumentasi tertulis yang relevan dengan penelitian. Informan ditentukan  melalui teknik purposive sampling, yakni penentuan informan yang bertujuan untuk menggali data langsung dari informan kunci. Setelah dilakukan analisis data yang melalui tahapan reduksi data, penyajian data maka diperoleh kesimpulan bahwa selain adanya dampak pencemaran lingkungan, keberadaan PLTU Batu bara disisi lain menambah solidaritas in-group pada kelompok Koalisasi Langit Biru guna memperjuangkan penutupan PLTU batu bara di Teluk Sepang. Meskipun dalam prosesnya ada pertentangan yang menyebabkan goyahnya persatuan di dalam masyarakat pada saat memperjuangkan penutupan PLTU batu bara. Adapun resolusi konflik yang dilakukan meliputi tahapan negosiasi, konsiliasi serta arbitrasi yang bertujuan menyelesaikan konflik antara kedua belah pihak.
Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Pasca Transmigrasi Daerah di Kampung Teluk Ambun Kabupaten Aceh Singkil Wardah Muharriyanti Siregar; Rani Putri; Mursyidin Mursyidin
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3817

Abstract

On December 26, 2004 and March 28, 2005, Aceh experienced an earthquake phenomenon. These two earthquake phenomena caused damage to the Aceh region, including the Aceh Singkil area in Kampung Teluk Ambun. As a result, Teluk Ambun Village, which is in daerah aliran sungai (DAS), had to be moved. Currently Teluk Ambun Village is located in transmigrasi daerah aliran sungai (Trandas) which is in the plantation area. As for the problem in this research is how the socio-economic changes in fishing communities after the occurrence of regional transmigration. The method used is a qualitative research method with a descriptive type. To obtain the data used the method of observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that there are socio-economic changes in fishing communities after regional transmigration, namely changes in fishermen's income, then some fishermen make a shift in their main livelihood, namely as oil palm farmers. In addition, there is a change in the mindset of the fishing community about the importance of education and knowledge, fishermen are paying attention to the education of their children so they can get a good job.

Page 11 of 20 | Total Record : 200