cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
STRATEGI PEGELOLAAN SUAKA PERIKANAN RAWA BANJIRAN DI SUMATERA DAN KALIMANTAN Agus Djoko Utomo
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2016): (Mei 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.501 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.8.1.2016.13-20

Abstract

Perairan rawa banjiran sangat dipengaruhi musim, saat musim kemarau mengalami kekeringan dan saat musim penghujan banjir. Ada dua kelompok ikan di rawa banjiran yaitu kelompok ikan rawa (black-fish) dan kelompok ikan sungai (white fish). Berdasar tipe habitat di rawa banjiran ada beberapa tipe suaka perikanan yaitu suaka tipe lebung, suaka tipedanau rawa, suaka tipe Sungai, suaka tipe lubuk. Suaka perikanan tipe lebung: “Lebung Suak Buaya” (0,5 ha) di Lubuk Lamam Sumatera selatan terdapat stok ikan 2 ton yang didominansi oleh ikan Gabus (Channa striata), Tembakang (Helostoma temmenckii), Sepat Siam (Trichopodus pectoralis), Betok (Anabas testudineus). Suaka perikanan tipe danau:“Danau lindung Empangau “ (124 ha) di Kapuas Hulu Kalimantan Barat terdapat stok ikan 5.700 ekor/ha didominansi oleh ikan Haruan (Channa striata), Entukan (Thynnichthys thynnoides), Biawan (Helostoma temmenckii), Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii). Suaka perikanan tipe sungai “Kapak Hulu” (segmen sungai panjang 1 km, lebar 30 m) di Lubuk Lamam Sumatera selatan terdapatstok ikan 4 ton didominansi oleh ikan Lais (Kryptopterus kryptopterus), Baung (Hemibagrus nemurus), Palau (Osteochilus hasselti), Lampam (Barbonymus schwanenfeldii). Suaka perikanan “Lubuk Gunung Isam” di Lubuk Lamam Sumatera selatan terdapat stok ikan 2 ton didominansi oleh ikan Tapa (Wallago leeri), Bulu Tulang (Kryptopterus apagon), Baung (Hemibagrus nemurus), Lais (Kryptopterus kryptopterus). Agar supaya suaka perikanan dapat berfungsi dengan baik sehingga mempunyai dampak terhadap masyarakat sekitarnya maka suaka tersebut harus dikelola dengan tepat mulai dari penentuan lokasi yang tepat, sarana prasarana yang diperlukan, serta kelembagaan dan pengawasan.Floodplain waters are strongly influenced by season, drought during dry season and floods in rainy season. There are two groups of fish in the swamp namely the swamp fishgroup (black fish) and river fish group (white fish). Based on the type of habitat in the swamp flood, there are several types of fish reserves namely floodplain pool reserve, swamp lake reserve, river segment reserve, and deep pool of the riverreserve. Floodplain pool reserve type:” Suak Buaya Reserve”(0.5 ha) in southern Sumatra contained 2 tons of fish stocks dominated by snakehead, kissing gourami, Snakeskin gourami, climbing perches. Swamp lake reserve type: Empangau Lake Reserve (124 ha) in West Kalimantan with5.700 fish/ha dominated by Snakehead fish, minnows or carp,kissing gourami, Tinfoil barb. River segment reserve type: “Kapak Hulu Reserve “ (river segment, length =1 km and width =30 m) in southern Sumatra contained 4 tons of fish dominated by Sheatfishes, Catfish, Hard Lipped Barb, Tinfoil barb. Deep pool of the river reserve type: “Lubuk Gunung Isam Reserve” in southern Sumatra contained 2 tons of fish dominated by Butter catfish, Fur Bones, Catfish, Sheatfishes.In order to conserve fish reserves properly so that they are beneficial for the surrounding community the reserves shall be appropriately managed, either in determining the location, identifying the necessary infrastructure, as well as proposing related institutions and supervision activites.
PRIORITAS STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN GIOB YANG BERKELANJUTAN DI KAYOA, HALMAHERA SELATAN Imran Taeran; Mulyono S Baskoro; Am Azbas Taurusman; Daniel R. Monintja; Mustaruddin Mustaruddin
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 5, No 1 (2013): (Mei 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2527.561 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.5.1.2013.39-45

Abstract

Perikanan giob di Kayoa, dikhususkan untuk mengeksploitasi ikan julung-julung. Kegiatan eksplotasi dilakukan sangat intensif dan hingga saat ini belum ada upaya pengelolaan. Penelitian bertujuan menentukan prioritas strategi pengelolaan perikanan giob yang berkelanjutan dan menyusun konsep implementasi dari strategi pengelolaan perikanan giob terpilih. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengisian kuisoner. Analisis data menggunakan metode AHP (Analisis Hierarki Proses). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas strategi pengelolaan perikanan giob yang berkelanjutan di Kayoa, Halmahera Selatan yaitu pengawasan terhadap eksploitasi sumberdaya ikan julung julung. Konsep implementasi dari strategi prioritas pengawasan adalah pengaturan waktu penangkapan, pengawasan terhadap penangkapan ilegal, pengawasan terhadap pengolahan hasil tangkapan, pengawasan terhadap jaringan pemasaran, dan sosialisasi tentang pentingya Pendapatan Asli Daerah. Perlu dibentuk daerah perlindungan laut di Kayoa, Halmahera Selatan sehingga dapat memantau kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya ikan julung-julung sebagai target tangkapan utama alat tangkap giob.Giob fisheries in Kayoa is specialized to exploitat halfbeak fish. This activitiy is undertaken intensively and no management effort until now. The research objective were to determine the priority of management strategies for sustainable giob fisheries and to formulate the implementation of the selected management strategy for giob fisheries. Data was collected by using interviews and questionnaires. The data analysis used AHP (Analysis of Hierarchy Process). The result showes that the priority of management strategices for sustainable giob fisheries in Kayoa, South Halmahera, was the supervision of exploitation of halfbeak resources. The implementation concepts of monitoring the priority strategy are: setting the fishing time, supervisie the illegal fishing, supervisie the catch processing, supervisie the marketing network, and socialize the impotance of region income. It is necessary to develop a local marine sanctuary in Kayoa, South Halmahera which is in charge of overseeing the utilization and management of halfbeak fish resources as the main target of giob.
KEBIJAKAN TENTANG INTEGRASI AKTIVITAS PENANGKAPAN DENGAN PEMBUDIDAYAAN UNTUK KEBERLANJUTAN SUMBERDAYA IKAN SIDAT (Anguilla spp) DI DAS POSO Navy Novy Jefry Watupongoh; Krismono Krismono
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.733 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.37-44

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Poso merupakan salah satu daerah penangkapan ikan sidat, memiliki luas 1.101,87 km2 dan panjang ± 68,70 km. Ikan sidat di perairan Poso merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi (harga Rp.100.000,-/kg) dan menjadi primadona hasil tangkapan. Ikan sidat yang hidup di DAS Poso terdapat 5 jenis, yaitu A. marmorata, A. bicolor pasific, A. celebensis, A. borneensis dan A. interioris. Saat ini telah terjadi penurunan produksi induk maupun glass eel ikan sidat di DAS Poso disebabkan oleh penangkapan yang belum memperhatikan faktor kelestarian dan keberlajutannya seperti penangkapan yang berlangsung tidak hanya pada saat induk ikan sidat yang beruaya ke laut tapi juga glas eel yang menuju ke danau. Pembangunan PLTA pada alur Sungai Poso mengganggu ruaya ikan sidat yang mengakibatkan terputusnya ruaya ikan sidat dari dan ke Danau Poso yang berakibat hilangnya ikan sidat di Danau Poso. Berkaitan dengan permasalahan ini maka populasi sumberdaya ikan sidat perlu dijaga keberlanjutannya dengan cara mengintegrasikan aktivitas penangkapan dengan pembudidayaan, oleh karena itu diperlukan kebijakan yang menetapkan peraturan terkait dengan penangkapan yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan serta diintegrasikan dengan pembudidayaan. Kajian kebijakan ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan tentang integrasi aktivitas penagkapan dengan pembudidayaan untuk berkelanjutan ikan sidat di DAS Poso. The watershed of Poso River is one of anguillid eel fishing areas. This watershed has an area of 1,101.87 km2 and length ± 68.70 miles. The anguillid eel is a commodity that has a high economic value (IDR 100,000 / kg) and has an excellent catches. There are 5 types of eels that live in the watershed of Poso, they are: A. marmorata, A. bicolor pacific, A. celebensis, A. borneensis and A. interioris. The decreased production of anguillid parent and glass eels in the watershed of Poso is a result from the capture that had not yet noticed the preservation and sustainability factors, such as the capture that took place not only at the time of sea migration phase (the parents), but also on the lake migration phase (the glass eels), as well as Poso river damming for hydropower purpose. The decrease in the production of glass eel and parent eels in the watershed of Poso is also caused by fishing activities that have not been integrated with cultivation. There is a need of a regulation for fishing by using environmentally friendly fishing gears as well as the integration with cultivation. This paper aims to formulate policy on integration of capture and cultivation for sustainable catch of anguillid eels in the watershed of Poso.
POTENSI TANGKAPAN IKAN LAUT PADA TEMPAT PELELANGAN IKAN DI PULAU JAWA, BALI DAN NUSA TENGGARA BARAT Ralph Thomas Mahulette; Agustinus Anung Widodo
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (2011): (November, 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.7 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.3.2.2011.159-168

Abstract

Perairan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat bagian Timur menjadi potensi dan tolok ukur sebagai penghasil produksi perikanan untuk daerahnya. Semua hasil tangkapan ikan dari laut ditampung pada tempat pelelangan ikan (TPI). Tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu, Cilacap, Sadeng, Tempera, Muncar, Kedonganan, dan Tanjung Luar adalah sejumlah TPI yang digunakan sebagai tempat persinggahan hasil tangkapan tersebut. Keanekaragaman hayati laut ini terkadang membuat ikan tersebar dari mana asal tangkapan. Nelayan tradisional di sekitar daerah laut Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat melakukan penangkapan pada daerah tangkapan (fishing ground) masing-masing tapi ada yang mencapai Zone Ekonomi Eksplosif (ZEE). Mengingat sebagian besar jenis stok ikan di perairan Laut Jawa telah mengalami jenuh tangkap (fully exploited) atau kelebihan tangkap (overfishing). Sedangkan Laut Bali dan NTB masih terdapat sejumlah hasil perikanan yang dapat di eksploitasi untuk kesejahteraan nelayan sekitarnya. Jenis ikan-ikan yang tertangkap di laut Jawa dan Bali hampir sama dengan yang tertangkap di NTB. Hasil survei menunjukan bahwa ada kecendrungan beberapa kapal-kapal ikan yang mendaratkan ikan di TPI berasal dari daerah lain, seperti TPI Kedonganan disinggahi oleh kapal dari Madura untuk bongkar muat ikan dan makanan. Beberapa genus hasil laut yang ditemukan pada TPI tersebut adalah Genus Cephalopoda, Mollusca, Crustacea, Teleoste dan Elasmobranch.Waters of Java, Bali and West Nusa Tenggara the eastern became part of the potential and benchmarks as a producer of fishery production for the region. All the fish catch from the sea are accommodated at the fish auction. Fish auction, Pelabuhan Ratu, Cilacap, Sadeng, Tempera, Muncar, Kedonganan, and Tanjung Luar are used as a stopover place catches it. Sea of biodiversity is sometimes made where the fish are scattered from the catchment. Traditional fishing in the vicinity of the sea of Java, Bali and West Nusa Tenggara in the fishing ground each but there are reaching Explosive Economic Zone (EEZ). Considering most types of fish stocks in the waters of the Java Sea has undergone a fully exploited or overfishing. While Sea Bali and NTB still there are a number of fishery products can be exploited for the benefit fishermen around it. Type of fish was caught in the sea of Java and Bali is almost the same as those was caught in NTB. The survey results show that there are trends of several fishing vessels that landed fish in the TPI from other areas, like the TPI Kedonganan be visited by boat from Madura for loading and unloading of fish and food. A few genus of sea products found in TPI is Genus Cephalopoda, Mollusca, Crustacea, Teleoste and Elasmobranch.
HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PADA PUKAT UDANG DAN ALTERNATIF PEMANFAATANNYA DI LAUT ARAFURA Bambang Sumiono; Ignatius Tri Hargiyatno
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 4, No 2 (2012): (November 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.1 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.4.2.2012.85-91

Abstract

Usaha penangkapan udang di Laut Arafura selain komoditas udang yang menjadi target penangkapannya juga banyak tertangkap berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya sebagai hasil tangkap sampingan (HTS, by-catch). Pada saat ini proporsi jenis ikan yang berukuran kecil dan hasiltangkapan kepiting yang tidak dapat dimakan cenderung meningkat, diikuti oleh menurunnya proporsi ikan berukuran relatif besar (ikan demersal ekonomis penting). Berdasarkan nilai rata-rata rasio HTSterhadap udang, diperoleh rasio rata-rata di Laut Arafura sebesar 12:1. Permasalahan HTS masih menjadi isu utama dalam pengelolaan perikanan pukat udang di Laut Arafura, karena pada umumnya HTS tersebut dibuang kembali ke laut dan hanya sebagian kecil dari ikan-ikan ekonomis yang dimanfaatkan oleh ABK. Kondisi tersebut sangat ironis, sebab HTS tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan atau sebagai pakan ternak yang mempunyai gizi tinggi. Oleh karena itu, perlumenjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pengelolaan untuk pemanfaatan HTS yang melimpah dan belum dimanfaatkan optimal. Tulisan ini membahas secara ringkas tentang densitas dan komposisi jenis ikan, daerah penyebaran, rasio HTS terhadap udang serta beberapa saran upaya pemanfaatan HTS untuk kepentingan industri perikanan.Commercially shrimp fishery in the Arafura Sea exploits a large amount of by-catch fishing composed mostly of demersal fish. In recent years, the small size of finfish and non edible crabs are found in large quantities in certain areas, meanwhile large finfish are rarely caught. Based on average value by sub areas of bycatch to shrimps, the average of ratio fish to shrimp in the Arafura Sea was 12 : 1. By-catch is remained the main issues of shrimp fishery management in the Arafura Sea. This is because of the by-catch was mostly discarded to the sea and only small portion of that by-catch was utilized by vessel’s crew. This phenomenon was ironic due to the by-catch was potentially suitable for human food consumption or processed to be animal feed. Management policies for improving the utilization of by-catch are still needed. Resource abundance and catch composition, ratio of shrimp and fish, and some recommendations for management option as a possible solution to the problem of utilization of shrimp by-catch in the Arafura Sea for fishing industry were discussed in this paper
ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN KOTA BENGKULU Isa Nagib Edrus
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 2 (2015): (November 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.588 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.2.2015.79-92

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menyusun arahan pengembangan kawasan minapolitan berbasis kegiatan budidaya perikanan Kota Bengkulu. Pendekatan dalam menilai kawasan tersebut menggunakan analisis agroekosistem. Hasil analisis menunjukan bahwa prioritas pengembangan kawasan minapolitan secara berurut adalah: (1) pengembangan infrastruktur, sarana dan prasarana; (2) pengembangan kawasan terpadu budidaya lele dan kelembagaan; (3), restrukturisasi sistem pembinaan dan pelayanan di kawasan minapolitan, dan (4), pengembangan kawasan terpadu budidaya bandeng. Prioritas komoditas yang layak dikembangkan berturut-turut adalah (1) budidaya lele; (2) budidaya nila; (3) budidaya gurami; dan (4) budidaya bandeng. Pengembangan budidaya lele di wilayah kota dan budidaya bandeng di wilayah pesisir merupakan opsi yang terbaik. This paper has aimed to making some guidelines for the minapolitan area development based on fishpond culture activities in Bengkulu City. An approach used to value the areas was Agroecosystem analysis. Outputs of analysis showed that the development priorities for a minapolitan area respctively are (1) Infrastructure and facility development; (2) integrated areal development for catfish pondculture and institution establisment; (3) education and service systems in a minapolitan area; and (4) integrated areal development for milkfish-pondcultures. Pondculture priorities of commodities feasible developed respectivelly are (1) catfish; (2) nila; (3) gurami, and (4) milkfish.
STATUS SUMBER DAYA DAN PERIKANAN TERIPANG DI INDONESIA: PEMANFAATAN DAN PERDAGANGAN Ngurah Nyoman Wiadnyana; Reny Puspasari; Ralph Thomas Mahulette
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1 (2009): (Mei 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.961 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.1.2009.45-60

Abstract

Tulisan ini mencoba memberikan informasi tentang status sumber dayadan perikanan teripang serta pemanfatannya berdasarkan pada hasil-hasil penelitian di perairan Indonesia. Terletak di wilayah tropis, perairan Indonesia memiliki beranekaragam jenis sumber daya ikan termasuk teripang yang pemanfaatannya cukup intensif di berbagai daerah. Sumber daya teripang berperan penting sebagai salah satu komoditas ekspor perikanan ke manca negara. Dari sekitar 53 jenis teripang, yang ditemukan, terdapat sekitar 22 jenis yang dapat dikonsumsi, dan 8 jenis diantaranya memiliki nilai pasar tinggi. Ke-8 jenis tersebut adalah teripang pasir (Holothuria scraba), teripang susuan atau koro (H. nobilis dan H. fuscogiva), teripang batu (Actinopyga echinites), teripang bilabo (A. lecanora), teripang lotong (A. miliaris), teripang mata kucing (Bohadschia argus), dan teripang nanas (Theleonata ananas). Banyak nya permintaan pasar ekspor dengan harga yang sangat tinggi telah memacu masyarakat untuk memburu teripang secara besar-besaran sehingga terjadi peningkatan produksi teripang secara nasional. Fenomena ini terlihat dari terjadinya peningkatan produksi teripang kering pada 2 tahun terakhir (tahun 2005 sampai 2006) yang mencapai 100% dibandingkan tahun-tahunsebelumnya. Permasalahan yang timbul adalah populasi teripang tampak semakin menurun dengan kepadatan yang relatif rendah (<1 ind m-2). Sementara itu, belum ada peraturan yang khusus mengatur tentang pengelolaan perikanan teripang di Indonesia. Dari hasil kajian ini dapat direkomendasikan bahwa (i) perlu ada peraturan tentang eksplotasi teripang yang mencakup pengaturan musim pengambilan, jumlah dan ukuran teripang, serta pengawasan terhadap pengambilan teripang melalui penegakan hukum; (ii) melakukan kegiatan pemacuan stok teripang dengan pengembangan sentra perbenihan teripang; dan (iii) perlu dilakukan upaya konservasi terhadap sumber daya teripang terutama jenis-jenis yang mempunyai nilai ekonomis tinggi sejalan dengan penetapan kawasan konservasi laut.The current paper tries to provide information on the sea cucumbers resource and fishery status as well as its utilization based on research results in Indonesian waters. Located in tropical region, Indonesian waters contains widely variety of marine resources including sea cucumbers which are utilisized intensively in some regions. Sea cucumbers resource plays an important role as one of the principal fisheries commodities exported to foreign countries. From 53 species of sea cucumbers, there are about 22 consumable species and eight species among them having important price. Those eight species are sandfish (Holothuria scraba), black teathfish and white teathfish (H. nobilis and H. fuscogiva), brown fish (Actinopyga echinites), stone fish (A. lecanora), black fish (A. miliaris), leopard (tiger) fish (Bohadschia argus), and prickly redfish (Theleonata ananas). The highly market demand and price for sea cucumbers have stimulated the community to harvesting sea cucumbers in large number, resulting the increase of the production in national level. This phenomenon appeared from the significant increasing dry sea cucumbers productions in last two years (2005 until 2006), with value reaching about 100% compared to those recorded in years previous year. The problem raised is the depleting of sea cucumbers stock, falling down to low density level (<1 individual m2). Meanwhile, there is not any specific regulation to manage sea cucumbers fisheries in Indonesia. This study might recommend that (i) the need of regulation concerning on sea cucumbers exploitation with scope including season of harvest, number, and size as well as the controlling to the sea cucumbers harvest by low enforcement; (ii) to carry out stock enhancement activity with developing sea cucumbers hatchery; and (iii) the need of conservation measure for sea cucumbers, especially those with having high price, in accordance to the establishment of marine protected area.
OPSI PENGELOLAAN SUMBERDAYA UDANG DI LAUT ARAFURA (WPP 718) Ali Suman; Fayakun Satria
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 6, No 2 (2014): (November 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.736 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.6.2.2014.97-104

Abstract

Pemanfaatan sumber daya udang sudah berlangsung cukup lama di perairan Arafura dan status pemanfaatannya sudah berada dalam tahapan yang lebih tangkap (over-exploited). Kondisi yang demikian terjadi karena belum adanya pengelolaan yang tepat akibat kurangnya kualitas kebijakan dan informasi hasil penelitian untuk mendasari kebijakan tersebut. Apabila keadaan ini terus berlangsung dalam jangka panjang, maka akan mengancam kelestarian dan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya udang. Untuk mencegah hal itu maka perlu diterapkan opsi-opsi pengelolaan meliputi penutupan daerah/musim penangkapan pada bulan Februari, penerapan kuota penangkapan dengan JTB (Jumlah total tangkapan yang dibolehkan) 39.600 ton per tahun dan melakukan moratorium upaya penangkapan dengan skenario pengurangan 225 armada pukat udang. Keseluruhan opsi kebijakan ini harus ditunjang dengan peningkatan pemantauan, pengawasan dan penegakan hukum. Arafura shrimps resources have been long utilized and to date the status of the resources are over-exploited. To date there are no appropriate management nor involving scientific advice to this fishery.  In  the  long run  with  the  persistence  condition  the  shrimp  resource  should unsustainably manage and the fishery will collapse. It is urgent to define appropriate management strategies for this fishery based on best scientific finding to the manager to ensure its sustainability. Among other advices  are  apply  closed  area  for Arafura-sea  combining  with  closed  season in  February,  apply fishing  quota  with  total  allowable  catch  (TAC)  for  39,600/yera,  no  increase  of  fishing  effort,  and reduce the number of shrimps trawler for 225 boats. These overall management strategies should fully be supported by increase of monitoring and surveillance with strong law enforcement. 
STRATEGI PENGELOLAAN IKAN PATIN (Pangasianodon hypophthalmus) DI WADUK GAJAH MUNGKUR JAWA TENGAH Agus Djoko Utomo; Siti Nurul Aida
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 9, No 2 (2017): (November, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.987 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.9.2.2017.95-104

Abstract

Ikan Patin tebaran (Pangasianodon hypophthalmus) di Waduk Gajah Mungkur dapat berkembang biak dengan baik. Pada tahun 2011 produksi hasil tangkapan mencapai 377 ton. Secara ekologi, kondisi perairan Waduk Gajah Mungkur sesuai untuk perkembangbiakan ikan patin karena banyak tersedia pakan alami, terdapat daerah pemijahan terutama di inlet Keduang dan Wiroko, serta tersedia daerah suaka perikanan di sekitar area keramba jaring apung (KJA) milik PT. Aquafarm. Pada awal tahun 2012 terjadi pelanggaran penangkapan ikan di suaka perikanan secara besar-besaran hingga sekarang. Kondisi ini berdampak terhadap produksi perikanan tangkap ikan patin di Waduk Gajah Mungkur yang menurun tajam. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk memulihkan sumberdaya ikan patin di Waduk Gajah Mungkur diantaranya yaitu pengembalian fungsi suaka perikanan yang berada di area KJA milik PT. Aquafarm, mengoptimalkan pengelolaan berbasis kearifan lokal yang didukung oleh aspek hukum, dan melakukan penebaran ikan patin di Suaka Perikanan.Fish introduction of Stipped Catfish (Pangasianodon hypophthalmus) in the Gajah Mungkur Reservoir can grow and breed well. In 2011, the catch productions of this fish reached 377 tones. Ecologically, water conditions of the reservoir is suitable for breeding of Stripped Catfish because of abundance natural food, a suitable spawning area, especially at the inlets of Keduang and Wiroko, and available of fiheries protection area around the location of   floating net cages (KJA) owned by PT. Aquafarm. In early 2012, there were massively fishing violation in the fishery conserved area until now. This condition has an impact on fisheries production of Stripped Catfish at Gajah Mungkur Reservoir which declined sharply. Some effort needs to be done to restore the resources of Stripped Catfish in Gajah Mungkur Reservoir such as to restore the function of fisheries reserved area located in the floating net cages (KJA) owned by PT. Aquafarm, optimize local local wisdom-based management supported by legal aspects, and stocking Stripped Catfish in the fisheries reserve.
PENGELOLAAN PERIKANAN WADUK SAGULING, CIRATA, DAN IR. H. DJUANDA, JAWA BARAT Didik Wahju Hendro Tjahjo; Ali Suman
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (2009): (November, 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.824 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.2.2009.113-120

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengamati pengelolaan dan pemanfaatansumber daya perikanan di waduk kaskade (Saguling, Cirata, dan Djuanda).Hasil analisis menunjukkan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan di perairan waduk ini sudah berada dalam tahapan yang melebihi daya dukung lingkungan. Agar kelestarian sumber daya perikanan tetap terjaga secara berkesinambungan, maka perlu dilakukan perbaikan lingkungan waduk, pengaturan jumlah karamba jaring apung yang dioperasikan dan pengaturan jenis ikan budi daya.The objective of this paper is to analysis management and exploitation ofcascade reservoirs, west Java. The result showed that management andexploitation of fishery resources in this waters was over carryng capacity of reservoir environment. The strategy of sustainable exploitation of fishery resources in this reservoirs e.g. rehabilitation of reservoir environment, restriction fish cage, and regulation of fish culture species in reservoir.

Page 7 of 20 | Total Record : 198