Articles
214 Documents
Tafsir Qur'an Berbahasa Nusantara (Studi Historis terhadap Tafsir Berbahasa Sunda, Jawa dan Aceh)
Edi Komarudin;
Muhammad Nurhasan;
Ice Sariyati;
Ihin Solihin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3821
Fenomena penafsiran al-Qur’an di Nusantara telah muncul sejak abad ke-19 M, dengan menggunakan bahasa Jawa dan Bahasa Sunda. Penelitian ini membahas dan menelaah jenis tafsir al-Quran berbahasa Nusantara. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana terjadinya proses penerjemahan dan penafsiran al-Quran di nusantara serta bagaimana sejarah tafsir al-Qur’an berbahasa Nusantara? Penelitian ini berjenis kualitatif, penelitian kepustakaan (library research dengan menggunakan metode deskriptif. Sumber data utama ialah kitab-kitab tafsir berbahasa Sunda, Jawa, dan Melayu. Kerangka proses yang dipergunakan adalah hermeneutika pola Gadamer yang dipolarisasi menjadi: Pra‑Konsepsi, Teks (Konteks) dan Produksi Makna. Adapun hasil penelitiannya adalah: 1) Di Nusantara tafsir al-Quran didominasi oleh masayarakat “Jawa”, disebabkan faktor mendapat barokah guru, politik dan ekonomi, 2) Sejarah penulisan tafsir al-Quran berbahasa Nusantara sangat berkaitan dengan masalah sosial yang dihadapi oleh para penulis tafsir. Pristiwa dan problema sosial menyertai pola penulisan tafsir al-Quran berbahasa Nusantara.
Pengaruh Penyebaran Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara: Studi Geobudaya dan Geopolitik
Yuangga Kurnia Yahya
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 1 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i1.4272
Abstrak Makalah ini mengkaji tentang pengaruh penyebaran Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa) yang merupakan wilayah dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. Penelitian ini meneliti perubahan yang dialami oleh suku bangsa mayoritas yang identik dengan kawasan tersebut yaitu bangsa Arab. Sebagai bentuk perbandingan, makalah ini akan memulai kajian dengan gambaran bangsa Arab di masa pra-Islam, lalu dilanjutkan dengan masa ketika Islam lahir yang ditandai dengan diutusnya Rasulullah SAW, dan masa pasca wafatnya Rasulullah. Pemetaan tersebut akan menjawab secara tidak langsung sebab majunya Islam dan sebab mundurnya Islam serta isu sektarian di Timur Tengah dan Afrika Utara yang masih menjadi sorotan dunia saat ini.
IMPLIKASI MAKNA GRAMATIKAL “KANA” DALAM AL-QURAN TERHADAP TERJEMAHANNYA
Asep Supianudin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 13, No 01 (2016): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v13i01.1830
“Kana” sebagai kata dalam Bahasa Arab juga terdapat dalam struktur bahasa al-Quran. Sebagai bahasa, bahasa al-Quran pun tidak terlepas dari hukum-hukum bahasa pada umumnya, khususnya hukum-hukum Bahasa Arab. Ketika “kana” menjadi bagian dalam suatu struktur bahasa, “kana” mempunyai makna gramatikalnya, begitu juga “kana” dalam struktur bahasa al-Quran. Dalam aspek lainnya, bahasa al-Quran telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Termasuk makna gramatikal “kana” menjadi bagian yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Penelitian ini memfokuskan diri pada dua permasalahan; bagaimana makna gramatikal “kana” dalam ayat-ayat al-Quran, dana bagaimana implikasi makna gramatikal “kana” dalam al-Quran terhadap terejamahannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah redaksi ayat al-Quran dan redaksi terjemahan al-Quran. Adapun data penelitiannya adalah ayat al-Quran yang mengandung kata “kana” serta redaksi terjemahan al-Quran yang mengandung kata “kana”. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa ada sepuluh macam makna gramatikal “kana” dalam ayat-ayat al-Quran. Kesepulum macam makna gramatikal “kana” ini berimplikasi kepada redaksi terjemahannya. Ada beberapa terjemahan yang tidak perlu disesuaikan, tetapi ada beberapa ayat yang terjemahannya perlu disesuaikan dengan kandungan makna gramatikalnya “kana” yang terdapat didalamnya
معانى الحركات الإعرابية عند إبراهيم مصطفى
Yani Heryani
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 14, No 2 (2017): al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v14i2.2002
Ibrahim Musthafa is a lecturer of Nahwu science in Cairo University, Egypt. He is a Nahwu critic in modern century and the first who criticized Qawa’id Nahwiyah Taqlidiyah pioneered by Imam Sibawaih. He assumed that every feature of I'rab or every harakat I'rab's had a special meaning. According to him, the harakat I'rab’s consists only of dhammah and kasrah, (a) Dhammah is a characteristic of Isnad, ie every word that is the subject of a sentence, it should be read dhammah (rafa '), and belonging to Isnad is mubtada , fa'il and naib fa'il. (b) Kasrah is the character of Idhafah, ie every isim that is located after the huruf idhafah (jaar) and is positioned as mudhaf ilaih then must be read Jaar or khafadh. While fathah is not a feature of I'rab, it is only a harakat that is lightly spoken and liked by the Arabs, and sukun, it is not the character of I'rab because in fact, it is not harakat and it can not be read.
SEJARAH MASUKNYA HABAIB KE INDRAMAYU
Shaleh Afif
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3829
Penelitian terkait Sejarah Masuknya Habaib Ke Indramyu yang dilakukan oleh habaib yang berada di Kabupaten Indramayu serta perannya dalam dakwah agama Islam dalam kurun waktu 1998 sampai 2014. Adapun mayoritas habaib yang berada di Nusantara didominasi berasal dari Hadralmaut dan cukup besar penyebarannya, sementara itu penelitian ini lebih khusus hanya membahas habaib di wilayah Indramayu.Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui Kondisi keagamaan di Indramayu serta sejarah masuknya habaib di Indramayu yang tentunya memiliki beragam kegiatan untuk mensyiarkan dakwah Islam, juga menguatkan keislaman masyarakat di Indramayu.Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian sejarah, yaitu penelitian yang mempelajari peristiwa atau kejadian masa lampau berdasarkan jejak-jejak yang dihasilkan, melalui empat tahap yaitu: heuristik (pengumpulan sumber), kritik (kritik intern dan kritik ektern), interpretasi, dan historiografi (penulisan sejarah). Penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: pertama, kondisi keagaman di Indrmayu sama halnya dengan kondisi keagamaan yang lain yaitu memgang teguh agama Hindu-Budha Kedua, komunitas habaib ini datang dari Hadhramaut (Yaman) pada abad ke 18. Awalnya komunitas habaib yang ada di Indramayu masih tergolong komunitas Arab di Cirebon, akan tetapi pada tahun 1872 komunitas Indramayu memisahkan diri dari komunitas Arab Cirebon, dan menyebar ke seluruh daerah di Indramayu. Meskipun komunitas Arab-Indramayu lebih muda daripada komunitas Arab Cirebon, tetapi komunitas Arab di Indramayu lebih berkembang daripada komunitas Arab di Cirebon.
ISTI’ARAH DAN EFEK YANG DITIMBULKANNYA DALAM BAHASA AL-QUR’ĀN SURAH AL-BAQARAH DAN ÂLI MRÂN
Edi Komarudin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 14, No 1 (2017): al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v14i1.1802
Al-Qur’ân banyak menggunakan isti’arah (gaya bahasa metafora), walaupun sering dibaca dan ditulis tetap saja kurang dipahami. Al-Qur’ân selalu menarik untuk dikaji dan diteliti sehingga dari satu teks Al-Qur’ân menghasilkan sekian banyak interpretasi dan ilmu pengetahuan. Isti’arah dalam surat al-Baqarah dan Ali ‘Imrân diteliti untuk; (1)mengetahui jenis gaya bahasa metafora yang terdapat dalam surat al-Baqarah dan Ali Imrân; dan (2) untuk mengetahui efek yang ditimbulkan dari metafora (isti’ârah) dalam surat al-Baqarah dan Ali ‘Imrân.Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis, yaitu menguraikan, menganalisis, mengkategorisasikan, dan mengklasifikasikan ayat-ayat yang mengandung metafora dalam surat al-Baqarah dan Ali ‘Imrân serta efek yang ditimbulkannya, sehingga metode ini disebut pula dengan metode analisis isi (content analisis). Sedangkan pendekatan penelitian ini adalah pendekatan ilmu al-Balâghah (retorika), lebih tepatnya yaitu ilmu Bayân untuk mengungkap rahasia metafora.Hasil penelitian jenis metafora (isti’arah) dan efek yang ditimbulkannya dalam surat al-Baqarah dan Ali ‘Imrân adalah sebagai berikut: Pertama, Jenis metafora (isti’ârah) dari perspektif tharfayni-nya dalam surat al-Baqarah dan Ấli Imrân mencakup isti’ârah makniyah dan tashrihiyah; dan dari perspektifi musta’âr-nya mencakup isti’ârah taba’iyah dan ashliyah. Kedua, Efek (tujuan) isti’ârah (metafora) dalam bahasa Al-Qur’ân adalah: (a) dalam surat al-Baqarah untuk memberikan kesan sangat (mubâlaghah) dan menampakkan yang masih samar; dan (b) dalam surat Ali Imrân untuk memberikan kesan sangat, menampakkan yang masih samar; menjelaskan yang tampak tetapi belum begitu jelas; dan menjadikan yang bukan person menjadi person/personifikasi).
TRANSLATION OF NEGATIONS IN PRAMOEDYA ANANTA TOER’S NOVEL BUMI MANUSIA AND IT’S PEDAGOGICAL IMPLICATION
Ulin Ni’mah Rodliya Ulfah
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 13, No 02 (2016): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v13i02.1971
This study is aimed at (1) identifying the kinds of Indonesian negation found in Bumi Manusia which are translated into English; (2) analyzing the various strategies used by the translator to translate negations in the novel Bumi Manusia into English; and (3) evaluating the appropriateness of the translation of negation from Indonesia into English and describing its pedagogical implications. This study uses a descriptive-qualitative research design. The data of the research are negations found in three chapters (chapter 1, 3, and 5) of the novel Bumi Manusia and in their translation This Earth of Mankind. The result shows that of the 69 pages of the novel BumiManusia, 329 negation in simple sentences are identified. They are divided into three types: standard negation, negation and adverb, and negation and quantity. In translating the Indonesian negation in the novel BumiManusia, this study finds that strategies which have been applied are adopted from the seven strategies proposed by Newmark. Of 329 negation, 205 or 62.3% dominantly applied the strategy of reproducing or adopting the same image of negation in the TL text. In relation to the evaluation of the translation appropriateness, the result shows that from 329 negation 308 or 93.6% are translated appropriately. Meanwhile, 19 translation of negation or 5.8% are categorized as less appropriate translation, and 1 translation of negation or 0.3% is rendered inappropriately
UPACARA ADAT SEREN TAUN UPAYA MEMPERTAHANKAN NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KAMPUNG SODONG KECAMATAN TAMBAKSARI KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2003-2011
Widiati Isana
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 14, No 2 (2017): al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v14i2.1997
Seren Taun traditional ceremony is very interesting to study and explore further, considering that traditional culture is a heritage that today is increasingly sidelined and forgotten. Though it contains the values of local wisdom that is able to develope togetherness and envolve character of the dignity of Indonesian people. The purpose of this study is to determine the profile of Kampung Sodong Tambaksari Ciamis, implementation of traditional ceremony Seren Taun and maintaining the local wisdom values of Kampung Sodong Tambaksari Ciamis particularly in 2003 -2011. This research starting point from the conceptual framework that changes can occur because of the emergence of response to social phenomena around the people.Seren Taun traditional ceremony is a generated process of challenge and local wisdom value is response that interacts showing certain patterns in its development. This study uses historical method .Type of data is qualitative, data collection techniques through interviews , documents , and literature study. The results shows that the profile of Kampung Sodong Tambaksari Ciamis in 2003 showed the big potential of village in various fields . Seren Taun traditional ceremony was a handover years ago to the coming year, as the way for celebration thankfulness and hope.This custom event encourages the community to maintain the values of local wisdom that can improve the character of the nation's dignity.
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN KONSEP PENDIDIKAN DIRI DALAM PERSPEKTIF TASAWUF MUHAMMAD IQBAL
Aam Abdillah;
A Bachrun Rifai
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 1 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i1.4838
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan: Latarbelakang Iqbal mengemukakan pemikiran tentang pendidikan diri; 2) Dasar-dasar filosofis pendidikan diri menurut Muhammad Iqbal; 3) Fase-fase pendidikan diri menurut Muhammad Iqbal; 4) Peran intelek dan cinta bagi proses pendidikan diri. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian sejarah dengan tahapan heuristic kritik dan interpretasi. Manusia merupakan makhluk yang mempunyai "identitas", yakni identitas sebagai "keakuan" dan identitas sebagai "kedirian". Oleh karena itu, ketika manusia dididik hanya aspek "keakuan"-nya saja, maka nilai-nilai subyektivitas [baca: ego] yang akan berkembang, tetapi ketika dididik pada aspek "kedirian"-nya, maka "substansi kepribadian"-lah yang tumbuh subur. Muhammad Iqbal memandang kepribadian mampu mengarahkan diri pada kehendak dan intelek kreatif. Dengan intelek kreatifnya manusia mampu menginternalisasikan dan membuat pengalaman-pengalaman organismenya penuh arti ditengah-tengah makhluk lainnya. Pada konteks inilah penulis tertarik meneliti tentang "Pendidikan Diri dalam Perspektif Tasawuf Muhammad Iqbal". Iqbal, selain dikenal sebagai sufi, filosof, penyair, negarawan, politikus, ahli hukum, is juga merupakan seorang ahli pendidikan. Iqbal mengangap bahwa pendidikan modern telah melalaikan mental, moral dan perkembangan spiritual bagi generasi-generasi muda. Begitu pentingnya kesatuan intelek dan cinta bagi Iqbal untuk mewujudkan dunia baru yang lebih baik. Namun demikian, bukan berarti solusi untuk permasalahan pendidikan telah selesai. Iqbal memiliki pandangan yang luas mengenai pendidikan ini. Memang, gagasan mengenai intelek dan cinta merupakan hal penting untuk pembenahan pendidikan. Namun Iqbal juga memiliki gagasan lain yang revolusioner yang terkait erat dengan permasalahan tersebut
HISTORIOGRAFI ISLAM DI INDONESIA
Wahyu Iryana
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 14, No 1 (2017): al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v14i1.1797
Historiografi Islam adalah penulisan sejarah Islam yang sebagian ditulis dalam bahasa Arab. Dengan tujuan untuk menunjukkan perkembangan konsep sejarah baik dalam pemikiran maupun dalam pendekatan ilmiah yang dilakukan disertai dengan uraian mengenai pertumbuhan, perkembangan dan kemunduran bentuk-bentuk sikap yang dipergunakan dalam pengujian bahan-bahan sejarah.Tinjaun lain dari historiografi adalah mengetahui ciri-ciri, identitas serta kekhasan dari penulisan sejarah dalam setiap periodenya. Hal tersebut bertujuan mengetahui sejauh mana latar sosial menyokong kelahiran dari suatu penulisan sejarah. Masa ketika Nusantara dikuasai kerajaan besar misalnya, maka penulisan sejarah akan lebih banyak menyoroti keagungan raja yang sepintas membentuk persepsi bahwa raja-raja selalu mendapatkan kejayaan dalam setiap kepemimpinannya, dan menyedikitkan informasi mengenai kelemahan dan kegagalan raja. Uraian tersebut lazim disebut dengan istilah istana sentris. Ini merupakan salah satu ciri khas yang mencolok dari historiografi tradisional.Historiografi pada hakekeatnya merupakan tepresentasi dari kesadaran sejarawan dalam zamanya dan lingkungan kebudayaan di tempat sejarawan itu hidup. Pandangan sejarawan terhadap peristiwa sejarah yang dituangkan didalam tulisannya akan dipengaruhi oleh situasi zaman dan lingkungan kebudayaan dimana sejarawam itu hidup. Dengan kata lain, pandangan sejarawan itu selalu mewakili zaman dan kebudayaannya.