cover
Contact Name
Ivan Widiyanto
Contact Email
ivan@petra.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
qhenc@petra.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Share : Journal of Service Learning
ISSN : 23387866     EISSN : 26554720     DOI : -
Jurnal SHARE memfokuskan pada materi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen, praktisi maupun mahasiswa. Secara filosofis, “jati diri“ jurnal dapat dimaknai sebagai berikut: 1. “SHARE“ merupakan akronim dari SHaring – Action – REflection yang berarti “berbagi, tindakan dan refleksi“. Ini memiliki makna sebuah proses yang berkelanjutan. 2. Kata “SHARE“ sendiri berarti berbagi. Ini mengisyaratkan 4 hal prinsip: a. Hakekat dari hidup adalah berbagi dengan sesama. b. Ilmu pengetahuan bersifat universal sehingga haruslah dibagi dan diabdikan. c. Panggilan seorang pendidik adalah membagi ilmu dan pengalaman dengan sesama pendidik, mahasiswa dan masyarakat. d. Berbagi merupakan pengejawantahan nilai-nilai kristiani. 3. Penggunaan warna biru mewakili makna kestabilan dan intelegency sehingga media ini diharapkan terbit secara rutin, konsisten dengan makna filosofis yang disandangnya, bersubstansi ilmiah dan mewakili kecerdasan intelektual penulisnya
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
MODUL UNIT KARANTINA PORTABLE SEBAGAI FASILITAS PEMBANTU RUANG ISOLASI DARURAT DI LINGKUNGAN KAMPUNG PADAT PENDUDUK Yusuf Ariyanto; Wira Widjaya Lindarto; Dyah Kusuma Wardhani
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.981 KB) | DOI: 10.9744/share.7.2.78-85

Abstract

The capacity of the isolation room at the hospital appointed by the Government to treat Covid-19 patients is no longer able to accommodate the positive Covid-19 patients. Positive Covid-19 patients with no symptoms or other signs of worsening physical conditions are advised to do self-quarantine and isolation independently. This self-quarantine/isolation becomes a problem especially in densely populated settlements, especially informal settlements. The case study on this community service activity is an informal settlement located along the Surabaya railroad. Together with the Surabaya ARKOM team as partners, this community service activity conducting field observations with the results that there are still many poor house conditions in this area, the conditions of the houses are tight and not fulfilled the standards of a healthy house, which causes a larger potential spread of Covid-19 virus and makes it impossible to carry out self-isolation in their each homes. The solution offered is to create a communal isolation room module as an emergency isolation room for informal village communities during a pandemic or can be used in other certain emergency conditions with a participatory design method that meets health standards for isolation rooms designed with the easy and fast module applications process. The purpose of this activity is to provide a set of modules for communal quarantine units as prototypes that can be made by the community with a simple system, easily available materials, fast and prioritizing community participation in its assembling.   Abstrak: Kapasitas ruang isolasi di Rumah Sakit yang ditunjuk Pemerintah untuk merawat pasien Covid-19 sudah tak mampu menampung membeludaknya pasien positif Covid-19. Pasien positif Covid-19 yang belum mengalami atau bahkan yang tidak menunjukkan gejala penurunan kondisi fisik, dianjurkan untuk melakukan karantina dan perawatan secara mandiri. Karantina secara mandiri ini menjadi tantangan tersendiri untuk permukiman padat penduduk, terutama permukiman informal. Menjadi studi kasus pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah permukiman informal yang berada di tepi kereta api. Bersama tim ARKOM Surabaya sebagai mitra melakukan observasi lapangan dengan hasil menunjukkan bahwa kondisi rumah yang memprihatinkan masih banyak terdapat di area ini, kondisi rumah berdempetan dan tidak sesuai standar rumah sehat inilah yang menyebabkan potensi besar penularan Covid-19 dan tidak memungkinkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Solusi yang ditawarkan adalah membuat modul ruang karantina komunal sebagai ruang karantina darurat bagi masyarakat kampung informal pada masa pandemi atau kondisi darurat tertentu dengan metode desain partisipatif yang memenuhi standar kesehatan untuk sebuah ruang karantina yang didesain dengan proses aplikasi modul yang mudah, murah dan cepat. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan modul unit karantina komunal sebagai prototype yang dapat dibuat sendiri oleh masing-masing kampung padat penduduk dengan sistem yang sederhana (portable), material mudah didapat, cepat dan mengedepankan usaha partisipatif masyarakat dalam pembuatannya.
POSYANDU ADAPTASI KEBIASAN BARU DI DESA DUKUH SARI KECAMATAN JABON SIDOARJO Evi Rinata; M. Suryawinata; Dewi Komalasari; Isna Fitria Agustina
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 1 (2021): FEBRUARY 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.354 KB) | DOI: 10.9744/share.7.1.32-37

Abstract

Abstrak : Pandemi Covid-19  memberi ancaman krisis multidimensi, mulai dari kesehatan, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam bidang kesehatan berdampak juga pada layanan kesehatan Posyandu bayi balita. Posyandu yang selama ini berperan cukup signifikan dalam pengawasan gizi, kesehatan anak, dan imunisasi sejak adanya pandemi menjadi terganggu. Kondisi ini juga terjadi di seluruh wilayah kerja Puskesmas Jabon Sidoarjo. Permasalahan yang dihadapi Mitra yaitu belum dibukanya layanan Posyandu sejak bulan Maret 2020. Layanan penimbangan dan imunisasi hanya dilakukan secara terbatas di Bidan Praktek Mandiri dan Puskesmas. Orang tua bayi dan balita masih enggan dan takut untuk keluar rumah sehingga mereka melakukan penundaan menunggu sampai situasi pandemi mereda. Pengabdian Masyarakat PPDM (Program Pengembangan Desa Mitra) ini melakukan persiapan Posyandu Adaptasi Kebiasaan Baru di Desa Dukuh Sari Jabon Sidoarjo melalui kegiatan pendampingan kader Posyandu. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain pembekalan kader dan sosialisasi informasi secara komprehensif mengenai Covid-19, penyediaan sarana prasarana pendukung, pelatihan cuci tangan yang benar, serta simulasi tata cara dan Posyandu Adaptasi Kebiasaan Baru. Kegiatan PPDM ini terlaksana selama 8 (delapan) bulan dengan melakukan pendekatan penyelesaikan masalah melalui pemberdayaan kader dengan target meningkatkan tata kelola masyarakat, sumber daya manusia, serta perbaikan sumber daya alam melalui tata kelola layanan Posyandu Adaptasi Kebiasaan BaruKata kunci : Pandemi Covid-19, Posyandu Adaptasi Kebiasaan Baru, Bayi Balita, Imunisasi Abstract : The Covid-19 pandemic threatens a multidimensional crisis, ranging from health, economy, politics, social and culture. In the health sector, this is has also an impact on Posyandu health services for infants under five. Posyandu, which has played a significant role in monitoring nutrition, children's health, and immunization since the pandemic, has been disrupted. This condition also occurs in all working areas of the Publich Health Center Jabon Sidoarjo. The problem faced by cadres is that the Posyandu service has not opened since March 2020. Weighing and immunization services are only carried out on a limited basis at the Independent Practice Midwives and Publich Health Center. Parents of infants and toddlers are still reluctant and afraid to leave the house, so they put off waiting until the pandemic situation subsides. This PPDM Community Service prepares the New Habit Adaptation Posyandu in Dukuh Sari Village, Jabon Sidoarjo through the assistance of Posyandu cadres. Activities carried out included training for cadres and disseminating comprehensive information about Covid-19, providing supporting infrastructure, training in proper hand washing, and simulating procedures and Posyandu for New Habit Adaptation. This PPDM activity was carried out for 8 (eight) months by taking a problem-solving approach through empowering cadres with the target of improving community governance, human resources, and improving natural resources through the management of the New Habit Adaptation Posyandu services. Keywords: Covid-19 Pandemic, New Habit Adaptation Posyandu, Infant Toddlers, Immunization 
PEMANFAATAN APLIKASI EDMODO DALAM MENINGKATKAN PEMBELAJARAN BERBASIS DARING DI SMP 57 SURABAYA Iwan Putro; Petrus Santoso; Iman Subekti
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 1 (2021): FEBRUARY 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.561 KB) | DOI: 10.9744/share.7.1.27-31

Abstract

SMP Negeri 57 Surabaya merupakan sekolah dibawah naungan Pemerintah Kota Surabaya dan diresmikan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 12 Januari 2017. SMP 57 berlokasi di Kelurahan Siwalankerto, Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, didapatkan adanya permasalahan terkait TIK di sekolah ini yaitu laboratorium computer yang telah dimiliki belum dimanfaatakan secara maksimal.  Terdapat 3 cluster permasalahan yang dapat didentifikasi (1) SDM belum cukup memadai untuk mengelola sistem TIK yang ada, (2) Aktivitas berbasis komputer belum terwujud, (3) belum adanya server sebagai fasilitas pendukung laboratorium komputer. Usulan solusi telah disusun untuk menjawab kebutuhan TIK di SMPN 57 Surabaya, yaitu: (1) mengadakan pelatihan aplikasi Edmodo bagi guru (2) membantu guru menyusun aktivitas pembelajaran berbasis Edmodo, serta (3) menyediakan server untuk mendukung aktivitas pembelajaran berbasis komputer di SMPN 57 Surabaya. Hasil angket menunjukkan bahwa 58% peserta workshop sangat setuju bahwa pelatihan ini membantu mereka meningkatkan kemampuan pengelolaan aktivitas pembelajaran berbasis daring.
OPTIMALISASI KEARIFAN LOKAL PADA PENGAJARAN INTEGRATED LANGUAGE SKILL MENGGUNAKAN METODE BLENDED LEARNING Elysa Hartati
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.331 KB) | DOI: 10.9744/share.7.2.86-90

Abstract

Culture is an ancestral heritage that contains many moral values to learn. However, the current young generation seems reluctant to learn about the culture in their environment or from the teaching point of view in schools it does not provide a platform to introduce culture to their students. Even though by integrating cultural values in learning, especially language learning, it can add to students' repertoire of loving their own culture because there are many values of local wisdom contained in it. By inserting examples of cultural heritage such as wayang orang, traditional houses, traditional events can be used as interesting learning materials for students because they remind them of the rich ancestral heritage in the texts they are studying. The use of the blended learning method is also a good alternative in optimizing local wisdom in teaching integrated language skills. By utilizing their own devices, they can have access to search for information from various sources such as YouTube, podcasts, and several websites to enrich their understanding of the culture in their environment. From these devices they can also help promote local culture in their environment. And on the other hand, teachers also have a role as cultural promoters through learning materials in the form of texts that they teach.   Abstrak: Masuknya budaya asing yang masif diduga akan membawa penurunan pengakuan budaya lokal oleh generasi muda khususnya anak-anak sekolah. Padahal, budaya lokal tersebut tetap dapat diajarkan secara terpadu dengan menyisipkan kearifan lokal melalui teks yang digunakan sebagai bahan dan media belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran bahasa. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana mengoptimalkan kearifan lokal dalam pengajaran keterampilan berbahasa terpadu melalui metode blended learning. Dengan meman­faat­­kan pendekatan POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, and Evaluating), program pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui platform daring berupa workshop. Program ini mendapat respon positif dari 50 peserta guru dan calon guru bahasa yang bergabung. Mereka juga menyadari pentingnya masalah ini untuk mencegah punahnya budaya lokal. Mengintegrasikannya dengan teknologi ke dalam pengajaran bahasa bisa menjadi alternatif yang bisa dilakukan. Para siswa juga dapat mengenali budaya lokal mereka sendiri dengan mendapatkan beberapa teks yang berisi warisan budaya sambil belajar bahasa. Sementara itu, guru juga dapat berperan sebagai promotor budaya melalui materi ajar yang dibawanya ke dalam kelas. Dengan demikian, konservasi budaya dapat dilakukan oleh kedua pihak, yaitu guru dan siswa sebagai generasi muda.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK NELAYAN DALAM PEMBUATAN IKAN ASAP DAN PEMANFAATAN LIMBAH PERIKANAN MENJADI PAKAN PUYUH DI DESA KUALA TAMBANGAN KABUPATEN TANAH LAUT Anton Kuswoyo; Mufrida Zein; Rusuminto Syahyuniar
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 1 (2021): FEBRUARY 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.45 KB) | DOI: 10.9744/share.7.1.56-61

Abstract

Kelompok nelayan “Mandiri Putra” Desa Kuala Tambangan Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut, merupakan sekumpulan nelayan yang setiap hari bekerja mencari ikan di laut. Terdiri dari 10 anggota. Mereka menangkap ikan menggunakan pukat, jaring, jala, dan pancing. Biasanya dalam satu perahu memuat 2-3 pekerja (awak perahu) yang membantu menangkap ikan. Para nelayan menghadapi tiga permasalahan yaitu: harga ikan hasil tangkapan naik turun dan bahkan cenderung murah sehingga penghasilan nelayan pas-pasan; sebagian hasil tangkapan (25%-30%) hanya menjadi limbah yang tidak laku dijual serta belum dimanfaatkan sehingga mengurangi pendapatan nelayan; dan selama ini mitra belum memiliki kemampuan mengolah hasil perikanan, belum memiliki keterampilan pemasaran produk (ikan hasil tangkapan), sehingga masih sangat tergantung pada tengkulak ikan. Maka solusi yang diterapkan pada kelompok nelayan tersebut adalah melatih pembuatan ikan asap dan mengolah limbah perikanan menjadi pakan puyuh sehingga meningkatkan harga jual ikan. Selain itu juga meningkatkan nilai guna limbah perikanan menjadi pakan puyuh. Nelayan juga dilatih memasarkan produk dan manajemen usaha. Hasilnya, nelayan telah mampu membuat ikan asap dan pakan puyuh dari limbah perikanan. Nelayan juga mulai mampu memasarkan produk sehingga menambah penghasilan.
MODEL PEMBELAJARAN ENTREPRENEURSHIP UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI STAF DALAM MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH BAGI ORGANISASI NON PROFIT Dwi Sunu Widyo Pebruanto; Wirawan Dwi Radianto; Lucky Cahyana Subadi
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 1 (2021): FEBRUARY 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.606 KB) | DOI: 10.9744/share.7.1.62-67

Abstract

Model Pendidikan Entrepreneurship yang dikembangkan dari pembelajaran berbasis pengalaman yang entrepreneurial diterapkan untuk meningkatkan kompetensi staf di Lembaga nonprofit Yayasan Kaki Dian Emas (YKDE). Penerapan menggunakan 4 tahapan yaitu: 1) kesepakatan dengan pengurus yayasan bahwa entrepreneurship sebagai nilai tambah bagi program yang sudah ada, 2) workshop bagi pengelola yayasan untuk menentukan kompetensi entrepreneurial yang menjadi fokus pengembangan, 3) Training staf tentang entrepreneurial project secara daring dan 4) mentoring pelaksanaan. Model pelatihan menggunakan prinsip experiential-entrepreneurial learning yang memfasilitasi peserta melakukan 4 tahapan kerja yaitu mencari peluang inovasi, mengembangkan ide, menentukan nilai yang terkandung dalam proyek dan mendapatkan pengakuan sebagai tanda keberhasilan. Penerapan model Pendidikan entrepreneurship ini berhasil membangkitkan kesadaran tentang tentang perlunya entrepreneurship sebagai nilai tambah serta kemampuan peserta dalam mengidentifikasi penciptaan nilai tambah bagi organisasi.
LITERASI DIGITAL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN WIRAUSAHA ONLINE PADA IBU-IBU KKPA (KOMITE KESEJAHTERAAN DAN PERLINDUNGAN ANAK) DUSUN JODOG DESA GILANGHARJO PANDAK KABUPATEN BANTUL Fadjarini Sulistyowati; Fransiska K. Agustina
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.798 KB) | DOI: 10.9744/share.7.2.67-72

Abstract

Internet users in Indonesia has been on the rise over the years. Unfortunately, this increase has not been accompanied with the increase of society’s knowledge in selecting and utilizing information. Therefore, digital literacy is deemed necessary especially for village inhabitants. Digital literacy in order to boost KKPA’s entrepreneurship is important to increase productive activities. Online entrepreneurship has a lot of benefits especially because it doesn’t need a lot of venture capital. This mentoring is done with two steps, first step is socialization. In the first step there are socialization and discussion about the housewives’ interests in doing entrepreneurship. Knowledge-sharing about businesses via online media is also being done. In the second step, there is introduction to various methods of online entrepreneurship and promotion. The results of this activity is that housewives acquire knowledge and creativity to utilize digital media for entrepreneurship.   Abstrak: Pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan tiap tahunnya. Di sisi yang lain peningkatan pengguna internet tidak diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memilih informasi dan memanfaatkannya. Untuk itu, kegiatan literasi digital perlu di­laku­­kan terutama bagi masyarakat pedesaan. Pendampingan literasi digital dalam meningkat­kan kemampuan wirausaha online bagi ibu-ibu KKPA penting dilakukan karena para ibu di pedesaan perlu untuk meningkatkan kemampuannya dalam usaha produktif. Wirausaha online memiliki banyak manfaat bagi mereka karena kegiatan ini tidak memerlukan modal besar dan dapat dilakukan dari rumah. Metode pendampingan dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama melakukan sosialisasi Pada tahap pertama dilakukan dengan sosialisasi dan diskusi tentang minat para ibu dalam melakukan wirausaha serta penyampaian pengetahuan berbisnis melalui media online. Tahap kedua pada tahap kedua mengenalkan berbagai metode wirausha online serta teknik promosi melalui media digital.  Hasil dari kegiatan ini, para ibu men­dapatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk memanfaatkan media digital dalam berwirausaha.
PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MANDIRI MELALUI BUDIDAYA PERIKANAN DAN PERKEBUNAN DALAM EMBER DI PANTI ASUHAN BUDI MULYA 2 Rahmalia Syahputri; Nurfiana Nurfiana; Jaka Darmawan; Ari Widiantoko
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.298 KB) | DOI: 10.9744/share.7.2.91-98

Abstract

Budi Mulya 2 (BM2) orphanage is a social institution located in Bandar Lampung. To meet the operational needs of development, the day-to-day operations of the orphanage, as well as their development, BM 2 rely on donations provided by permanent and non-permanent donors, thus the cost of developing the homes and foster children is unpredictable, very small, and insufficient. For an institution to have sufficient funds for both physical and non-physical development to allow foster children can be maximized for their guidance process, it is necessary to plan and develop a focused and sustainable business. As one of the efforts is conducting a long-term three-year program to empower the economy independently through aquaculture and plantations in buckets.  By doing this action, it is hoped we can build a community service and education institution that is dynamic and capable of accommodating and fostering many neglected children through an independent economic enterprise improvement program. This paper describes the results of the service during the first  year of service activities; which are the construction and cultivation training, the first harvest, and several activities during the COVID-19 pandemic had been held. In addition, the skills of the caregiver and foster children improve in cultivating fish and plants in buckets.   Abstrak: Panti asuhan Budi Mulya 2 (BM 2) adalah satu satu lembaga sosial yang berlokasi di Bandar Lampung. Dalam memenuhi kebutuhan operasional pembangunan, operasional sehari-hari panti dan anak asuh, serta pengembangannya, BM 2 mengandalkan donasi yang diberikan oleh Donatur tetap dan tidak tetap, sehingga biaya pengembangan panti dan anak asuh tidak stabil, sangat kecil, dan tidak mencukupi. Agar lembaga dapat memiliki dana yang cukup untuk pengembangan baik fisik dan non fisik, sehingga anak asuh dapat termaksimalkan proses pem­binaan­nya, maka Perlu direncanakan dan dikembangkannya usaha yang terarah dan berkesi­nam­­bungan. Sebagai salah satu upaya, untuk itu, telah dicanangkan program jangka panjang tiga tahun pemberdayaan ekonomi mandiri melalui budidaya perikanan dan perkebun­an dalam ember. Melalui kegiatan ini diharapkan terbentuknya sebuah lembaga pengabdian dan pendidikan masyarakat yang dinamis dan mampu menampung dan membina banyak anak-anak terlantar melalui program peningkatan usaha ekonomi mandiri. Tulisan ini memaparkan hasil pengabdian selama tahun pertama kegiatan pengabdian; antara lain telah diselenggarakannya pembangunan dan pelatihan budidaya, panen pertama, dan beberapa kegiatan pada masa pandemic COVID-19. Selain itu, bertambahnya keterampilan Pengasuh dan Anak asuh dalam membudidayakan ikan dan tanaman dalam ember.
BUKU CERITA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DI DUSUN TEMBEN Elisabeth Desiana Mayasari; Silverio R. L. Aji Sampurno; Natanael Kristiyono Wibowo; Maria Mellinia Tri Hastuti; Tasyia Juliana Sunardi
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.273 KB) | DOI: 10.9744/share.7.2.120-128

Abstract

The Covid-19 pandemic places learning from school to home, thus making the process of planting character education previously carried out by teachers experiencing obstacles. Children experienced similar problems in Temben Hamlet, Ngentakrejo Village, Lendah District, Kulon Progo Regency, who had to learn from home during the pandemic. In getting a holistic personality, it is necessary to have a character that is inherent in a person's personality. This community service activity aims to assist children by reading storybooks as a medium for character education for children in Temben Hamlet, Ngentakrejo Village, Lendah District, Kulon Progo Regency. The method of this service activity is that the servant uses observations and interviews about the characters who need assistance to the child, then analyzes and makes recommendations for the character to be formed with the child. After assisting, the servant conducts observations of the final interview.  Then proceed with a joint reflection on the character of the child that has been formed. The conclusion of this service activity is 1) Children can grow the character to dare to try new things, 2) Children can grow the character of love for living things, 3) Children can develop a family character to feel like helping and working together in a family environment, 4) Children can develop the character of being responsible for maintaining personal and environmental hygiene for joint health, 5) Children can develop independent characters and know themselves to be seen. Based on the participation of children following every activity to learn to be independent and understand what happens to themselves.   Abstrak: Pandemi Covid-19 menempatkan pembelajaran dari sekolah ke rumah, sehingga membuat proses penanaman pendidikan karakter yang sebelumnya dilakukan oleh guru mengalami kendala. Permasalahan serupa pun dialami oleh anak-anak di Dusun Temben, Desa Ngentakrejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo yang harus belajar dari rumah selama masa pandemi. Pada proses mendapatkan kepribadian yang holistik, diperlukan karakter yang melekat pada pribadi seseorang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mendampingi anak dengan membaca buku cerita sebagai media pendidikan karakter anak di Dusun Temben, Desa Ngentakrejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo. Metode kegiatan pengabdian ini adalah pengabdi menggunakan observasi dan wawancara mengenai karakter yang perlu mendapatkan pendampingan pada anak, kemudian melakukan analisis dan membuat rekomendasi karakter yang akan dibentuk bersama anak. Setelah melakukan pendampingan, pengabdi melakukan kegiatan observasi wawancara akhir. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi bersama mengenai karakter anak yang telah terbentuk. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini adalah 1) Anak-anak dapat menumbuhkan karakter berani mencoba hal baru, 2) Anak-anak dapat menumbuhkan karakter cinta terhadap makhluk hidup, 3) Anak-anak dapat menumbuhkan karakter kekeluargaan sehingga muncul perasaan ingin membantu dan bekerja sama dalam lingkungan keluarga, 4) Anak-anak dapat menumbuhkan karakter bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan demi kesehatan bersama, 5) Anak-anak dapat menumbuhkan karakter mandiri dan mengenal diri sendiri terlihat dari partisipasi anak-anak mengikuti setiap kegiatan sehingga anak-anak dapat belajar menjadi mandiri dan memahami hal-hal yang terjadi pada diri mereka sendiri.
PEMECAHAN MASALAH KOMPETISI MATEMATIKA BAGI GURU SEKOLAH DASAR TAHAP I Rudi Santoso Yohanes; Ana Easti Rahayu Maya Sari
Share : Journal of Service Learning Vol. 7 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.957 KB) | DOI: 10.9744/share.7.2.99-104

Abstract

The rapid development of science and technology ushers people into the era of global competition in various fields of science, one of which is mathematics. The national mathematics competition at sd/mi level that has been pioneered in 2003 is one of the strategic containers to realize the educational paradigm. But even so, not all teachers are able to follow the wishes of science and technology. The current condition also requires teachers to be able to follow the development of science and technology in training and accompanying students in self-learning from their own homes. Before this condition teachers have also been subjected to demands to be able to train students to compete in academic fields such as mathematics. However, not all teachers are able to provide proper training to students as a form of preparation for them when they want to enter the competition. Math Competition Problem Solving Training activity is one form of activity that is expected to be a solution to the condition The training activity which was attended by 15 people consisting of 9 teachers, 1 lecturer, 1 civil servant, 1 housewife and 3 students received a positive response through questions and problem solving that had been given during the training, so it will be a consideration for the plan of implementation of similar activities next. Abstrak: Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan manusia ke era kompetisi global di berbagai bidang ilmu salah satunya adalah matematika. Kompetisi matematika nasional tingkat SD/MI yang telah dirintis tahun 2003 merupakan salah satu wadah yang strategis untuk merealisasi paradigma pendidikan. Namun meskipun demikian belum semua guru mampu untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Kondisi sekarang ini pun menuntut guru untuk bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam melatih dan mendampingi siswa dalam belajar mandiri dari rumah mereka masing-masing. Sebelum kondisi ini guru pun juga sudah mendapatkan tuntutan untuk dapat melatih siswa agar dapat berkompetisi dibidang akademik seperti matematika. Meskipun demikian belum semua guru mampu untuk memberikan latihan yang tepat kepada siswa sebagai bentuk persiapan bagi mereka ketika hendak mengikuti kompetisi. Kegiatan Pelatihan Pemecahan Masalah Kompetisi Matematika merupakan salah satu bentuk kegiatan yang diharapkan mampu menjadi solusi terhadap kondisi tersebut. Kegiatan Pelatihan yang diikuti oleh 15 orang ini yang terdiri atas 9 orang guru, 1 dosen, 1 pegawai negeri sipil, 1 ibu rumah tangga dan 3 mahasiswa ini mendapatkan respon yang positif melalui pertanyaan dan penyelesaian soal yang telah diberikan selama pelatihan sehingga akan menjadi pertimbangan untuk rencana pelaksanaan kegiatan serupa berikutnya.

Page 8 of 17 | Total Record : 162