cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Menghentikan Pernikahan Dini melalui Diakonia Transformatif: Upaya Gereja dalam Pemberdayaan Perempuan Kalebu, Tresya Juliantari; Yunianto, Yunianto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.600

Abstract

Pernikahan dini merupakan fenomena sosial yang masih cukup marak terjadi di Indonesia. Fenomena ini menjadi masalah sosial karena memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial anak-anak perempuan. Metode penelitian yang digunakan dengan metode kualitatif-deskriptif yang diikuti dengan studi kepustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong terjadinya pernikahan dini dan memberikan sumbangsih pemikiran dalam mengupayakan pencegahan melalui pendekatan diakonia transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, sosial dan budaya, serta pendidikan menjadi pendorong utama pernikahan dini. Melalui diakonia transformatif, maka ditemukan tiga aspek penting yang dapat ditelaah untuk menjawab tentang masalah pernikahan dengan menjadikan gereja sebagai agen perubahan yang signifikan. Pertama, melalui diakonia transformatif dapat mewujudkan kesetaraan gender dan keadilan sosial bagi perempuan. Kedua, peran pemimpin gereja yang diharapkan lebih proaktif mengkampanyekan larangan pernikahan dini serta mendukung pemberdayaan perempuan. Ketiga, gereja dapat berkontribusi dalam transformasi sosial yang berpusat pada perempuan melalui diakonia transformatif.
Spiritualitas Kenosis: Tantangan dan Tuntutan untuk Mewujudkan Gereja Kaum Miskin Di Tengah Budaya Jawa Kusumaningdyah, Dwi Ratna; Panjaitan, Firman
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.599

Abstract

Fenomena kemiskinan menjadi masalah yang tidak dapat dihindari oleh gereja, dan gereja pun tidak dapat mengabaikan fenomena ini. Gereja harus merengkuh kemiskinan sehingga menjadi bagian dari kehidupan gereja secara utuh. Hambatan utama perengkuhan gereja terhadap kemiskinan adalah strata sosial masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, yang bersifat hierarki. Pembagian kelompok dalam hierarki masyarakat, seringkali memupus habis empati terhadap kemiskinan. Berdasarkan hal ini, tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah upaya agar gereja dapat merengkuh kemiskinan yang diwujudkan dalam bentuk gereja kaum miskin. Sarana utama dalam merengkuh kemiskinan adalah spiritualitas kenosis (pengosongan diri), yang dihasilkan dari sinergi antara kenosis Yesus Kristus, dalam Injil, dengan kenosis Semar dan Togog, dalam pemahaman budaya Jawa. Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya dengan pendekatan kepustakaan, penelitian ini menghasilkan bahwa gereja kaum miskin dapat dibangun bila gereja memiliki spiritualitas kenosis. Dengan spiritualitas kenosis, gereja bukan hanya merengkuh kemiskinan melainkan juga masuk, melibatkan diri, dan menjadi bagian langsung dari kemiskinan itu, sehingga setiap anggota jemaat yang ada di dalam gereja, meskipun mereka berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, hidup dalam pola kesejajaran yang bersifat egaliter.
Pemulihan Transformatif atas Trauma “Sejarah Pembungkaman” bagi Masyarakat NTT dalam Paradigma Teologi Pembebasan Letde, Liza Astuti
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.544

Abstract

Kemiskinan merupakan masalah utama bagi konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), dan masyarakat belum secara lantang menyuarakan hak-hak mereka di ruang publik. Suara-suara kritis dari penelitian-penelitian akademis belum secara signifikan membentuk daya kritis masyarakat untuk melawan ketidakadilan. Artikel ini memberi fokus dan mengkaji tentang sejarah dan solusi dari masalah kebungkaman masyarakat NTT. Artikel ini memakai lensa trauma untuk mendeteksi kebungkaman dari sejarah kekerasan massal tahun 1965. Sejarah tersebut dipahami sebagai akar trauma politik lintas generasi, yang membatasi suara di ruang publik. Setelah memahami sejarah trauma politik, artikel ini memakai analisis struktural teologi pembebasan. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan mengelola kajian literatur dan menyajikan secara teroretis. Penelitian ini berupaya mengelaborasi sisi pragmatis dari teologi trauma dan teologi pembebasan untuk memahami masalah kebungkaman secara lebih komprehensif. Penelitian ini berkesimpulan bahwa masalah kebungkaman mengakar pada unsur traumatis dan solusinya mesti bersifat menggugat tatanan sosial-politik. Hal ini karena pengabaian kebijakan politik terhadap pembangunan manusialah yang mengakibatkan masyarakat semakin dibungkam. Dengan demikian, artikel ini menawarkan solidaritas dan pendidikan kritis dari teologi pembebasan untuk melawan kebungkaman. Tawaran tersebut dijalankan dalam konsep dialog kritis sebagai solusi pemulihan transformatif untuk menghentikan kebungkaman. Dalam hal ini, dialog kritis menjadi bagian dari tahapan adaptasi transformatif masyarakat yang trauma dan miskin.
Intervensi Krisis Sebagai Upaya Pastoral untuk Mitigasi Perilaku Bunuh Diri Usia Remaja Palalong, Silas Bandhaso'
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.547

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi oleh fenomena bunuh diri di kalangan remaja yang sedang marak dan menjadi bahan perbincangan di tengah-tengah masyarakat. Fenomena bunuh diri ini menjadi tanggung jawab bersama termasuk menjadi bagian tanggung jawab gereja dalam melihat faktor-faktor penyebab bunuh diri dan cara menanggulanginya dengan melakukan pendekatan intervensi krisis yang merupakan bagian dari konseling krisis. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka atau library research yaitu dengan mengkaji data-data dari literatur-literatur yang berkaitan dengan pokok yang dibahas termasuk data-data penelitian yang sudah ada sebelum penelitian ini. Teori intervensi krisis yang digunakan adalah teori intervensi krisis yang dikembangkan oleh H. Norman Wright. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana intervensi krisis dapat menolong konseli lepas dari krisis yang dialaminya.  Kesimpulan penelitian ini adalah dengan menerapkan delapan langkah intervensi krisis maka konseli dapat menerima kehidupannya dan menumbuhkan kembali kepercayaan dirinya serta memampukan pertumbuhan rohani memenuhi kepenuhan arti perhatian utama dari kehidupan yang dijalankan dalam hubungan dengan Allah, bahwa Allah selalu menjanjikan kasih setia-Nya ketika mengalami tragedi.
Pastoral Konseling Bagi Generasi Muda yang Sedang Menghadapi Depresi di Era Disrupsi Baskoro, Paulus Kunto; Nugroho, Widhi Arief; Arifianto, Yonatan Alex
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.554

Abstract

Depresi merupakan masalah psikologi yang sering dirasakan dalam kehidupan generasi muda di era disrupsi. Masalah ini akan berakibat fatal dalam kehidupan generasi muda. Generasi muda kehilangan semangat, kehilangan harapan, merasa tidak berguna dan akhirnya bunuh diri jika tidak segera ditangani. Faktor perundungan dan kesepian yang menjadi penyebab anak-anak muda mengalami depresi. Pastoral konseling memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. Anak-anak tersebut harus ditangani di dalam pastoral konseling secara kontinyu. Firman Tuhan memberikan beberapa solusi penting untuk membawa setiap generasi muda bisa memiliki daya juang yang tinggi, sehingga lepas dari sebuah depresi. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuan dalam penelitian ini adalah Pertama, mengerti langkah-langkah praktis dalam sebuah pastoral konseling. Kedua, gereja dan orang tua memiliki cara yang efektif dalam menangani generasi muda yang sedang menghadapi depresi. Ketiga, generasi muda dapat sembuh dari depresi dan menjadi generasi muda yang tangguh.
Transformasi Musa: Dari Penolakan Menuju Penerimaan Panggilan Pelayanan Tuhan Refleksi Keluaran 4:1-17 Limbong, Sukanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.613

Abstract

Narasi pengutusan Musa menjadi paradigma penting dalam konteks pemanggilan seseorang untuk mengemban tugas sebagai pendeta. Dalam proses pengutusannya, Musa beberapa kali menyatakan keengganannya terhadap panggilan TUHAN dengan mengemukakan berbagai keterbatasan yang ada dalam dirinya. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi TUHAN untuk tetap mengutus Musa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai alasan penolakan Musa terhadap pengutusan TUHAN serta menganalisis implikasinya terhadap pemanggilan dan pengutusan pendeta pada masa kini. Ruang lingkup penelitian ini berfokus pada kisah pengutusan Musa sebagai model teologis yang menunjukkan bahwa TUHAN senantiasa memampukan setiap orang yang dipanggil-Nya untuk menjadi pelayan-Nya di masa kini. Secara khusus, penelitian ini menegaskan bahwa TUHAN, melalui kasih dan penyertaan-Nya, akan memampukan para pendeta khususnya dalam konteks HKBP dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka di lingkungan HKBP.
Lebih Cerdas, Lebih Lama Hidup dan Lebih Bahagia: Diskursus Transhumanisme dan Teologi Prabowo, Agus Agung
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.568

Abstract

Transhumanisme sangat optimis jika teknologi akan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia, karena itu pemanfaatan teknologi didalam kehidupan manusia harus terus diperluas. Perkembangan terkini, arah perkembangan dan pemanfaatan teknologi sudah mengarah pada integrasi atau penggabungan antara mesin dan manusia. Di satu sisi, perkembangan tersebut menghadirkan harapan besar akan meningkatnya kualitas hidup manusia, tetapi di sisi lain muncul kekuatiran jika hal tersebut justru akan menghancurkan manusia dan kehidupannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, pendekatan studi pustaka dan analisis terhadap berbagai literatur mengenai transhumanisme, khususnya Nick Bostrom, Ensiklik Laudato Si' dan literatur terkait lainnya. Kemudian mendialogkannya. Penelitian bertujuan menjawab pertanyaan: bagaimana gagasan transhumanisme untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia melalui pemanfaatan teknologi secara luas harus disikapi. Penelitian menemukan jika keduanya memiliki gagasan yang sama pada upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Keduanya mengakui potensi besar teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Karena itu pengembangan dan penerapan teknologi secara luas bagi peningkatan kualitas hidup manusia perlu disambut dengan baik. Tetapi, Laudato Si' mengkritisi optimisme yang berlebihan Transhumansime terhadap teknologi dan moral manusia.
Kelompok Konseling Kedukaan Berbasis Terapi ACT Bagi Kaum Janda Pasca Kematian Suami Peranginangin, Hosyea Gracecio
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.540

Abstract

Kedukaan kaum janda pasca kematian suami yang menimbulkan ragam perubahan dan tantangan hidup dapat dihadapi dengan penuh makna dalam pelayanan gereja yang berperan menjadi saksi kedukaan. Memusatkan tanggung jawab pelayanan pastoral kedukaan janda kepada para pelayan gereja menjadi kurang efektif, seperti kebergantungan pada rohaniawan gereja (pendeta/penatua/diaken), keterbatasan jangka waktu perkunjungan yang berpotensi meninggalkan kaum janda sendirian, dan timbulnya peluang kurangnya pemahaman pelayan terhadap penderitaan janda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka guna mendalami bentuk pelayanan pastoral kedukaan gereja yang dapat berperan menjadi saksi dukacita dan sistem pendukung bagi kaum janda pasca kematian suami. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana gereja dapat mendampingi kedukaan janda secara utuh dan penuh melalui konsep program pelayanan pastoral kedukaan kelompok konseling berbasis terapi Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Penawaran kelompok konseling kedukaan berbasis terapi ACT bagi kaum janda di tengah kehidupan gereja menawarkan konsep pelayanan pastoral Kristen yang berpusat pada kekuatan relasi dalam saling mendukung dan memberdayakan.
Kasih dan Pengampunan Seorang Ayah: Refleksi dari Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15: 11-32 Raulina, Raulina; Tambun, Roy Haries Ifraldo
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.609

Abstract

Kasih dan pengampunan seorang ayah dalam perumpamaan anak yang hilang menunjukkan sikap ayah yang penuh kasih dan tanggung jawab terhadap anaknya. Melalui perumpamaan ini tercermin kasih sayang seorang ayah yang tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata ketika ia berlari menyambut kembali anak bungsunya yang telah menghabiskan warisan dan hidup dalam kebinasaan. Metode penelitian kualitatif akan mengupas bagaimana karakter seorang ayah yang bertanggung jawab dan penuh kasih terhadap anaknya sebagaimana tertulis dalam Lukas 15:11-32. Dengan demikian, tujuan dari penelitian kiranya menjadi acuan atau role model  dari seorang ayah untuk mengasihi anaknya dengan penuh tanggung jawab. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh penulis, maka bukan hanya anak bungsu yang hilang, tetapi juga anak sulung, karena ia tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya.
Misi Fransiskus Palau “Pelayanan Kepada Gereja sebagai Tubuh Mistik” Bagi Para Suster Carmelite Missionaries Boe, Maria Roswita; Panda, Herman Punda; Naif, Oktovianus
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.576

Abstract

Misi merupakan elemen esensial dalam tradisi Gereja yang berakar pada misi inklusif Yesus, mencerminkan kasih dan keadilan Allah. Adanya tantangan modern seperti relativisme dan dominasi teknologi, komunitas hidup bakti perlu meninjau kembali semangat pendiri mereka agar misi dan spiritualitas tetap relevan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis tulisan Beato Fransiskus Palau dan Konstitusi para Suster Carmelite Missionaries, bertujuan menggali ajaran teologis dan praktik spiritual mereka. Fokus penelitian  adalah teologi misi Beato Fransiskus Palau, "Misteri Persatuan: Mencintai Tuhan dan Sesama," serta penerapannya dalam kehidupan para suster Carmelite Missionaries dalam menghadapi tantangan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misi Beato Fransiskus Palau menekankan cinta kepada Gereja sebagai anggota Tubuh Mistik Kristus melalui integrasi cinta kepada Tuhan dan sesama, serta keseimbangan antara kontemplasi dan pelayanan. Kesimpulannya, bagi Beato Fransiskus Palau, misi Kristiani melibatkan gabungan pelayanan aktif dan kehidupan kontemplatif, di mana para suster dan setiap kaum beriman diharapkan mengintegrasikan kasih dalam doa, iman, dan pelayanan untuk mencerminkan kasih ilahi di dunia.