cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Kebersihan makanan dan hand hygiene sebagai faktor resiko demam tifoid di Bandar Jaya, Lampung Eka Trismiyana; Leni Yulinda Agung
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 3 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i3.1601

Abstract

Kebersihan makanan dan hand hygiene sebagai faktor resiko demam tifoid di Bandar Jaya, LampungBackground: Typhoid fever is still a public health problem with as many as 22 million cases per year in the world and causes 216,000–600,000 deaths. Typhoid fever in Indonesia increases from year to year with an average illness of 500/100,000 populations and a mortality rate of 0.6–5%. The incidence of typhoid fever in Lampung Province in 2018 was 37,708 people, an increase compared to 2017 which was 32,896 patients. Data from the Central Lampung Health authority in 2018, typhoid fever in Public health centre reached 3,415 people. While the highest prevalence of 37 public health centre in Central Lampung was in Bandar Jaya Health Center as many as 133 people. One of the things that can trigger this disease is food and hand hygiene factors.Purpose: Knowing of poor food hygiene and hand hygiene as risk factors for typhoid fever in Bandar Jaya, LampungMethod: A quantitative study with a design by case control. The research subjects were patients who had a fever at Bandar Jaya Health Centre in Central Lampung, with 80 respondents divided by 2 groups; 40 respondents (cases) and 40 respondents as control. Data analysis in this study used the chi-square test.Results: Most of the respondents never washed their hands before eating, as much as 72.5% and taking food from outside (unhygienic) 72.5%. There have not a relationship between unhygienic food and hand hygiene as a risk factor for typhoid fever in Bandar Jaya, Lampung (p-value = 0.639, OR = 1.23 14,286); hand hygiene and typhoid fever (p-value = 0.809, OR = 1.24).Conclusion: There have not a relationship between unhygienic food and hand hygiene as a risk factor for typhoid fever. It needs to further improve health promotion about good eating habits and good hand hygiene in the community.Keywords: Poor food hygiene; Hand hygiene; Risk factors; Typhoid feverPendahuluan: Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan jumlah kasus sebanyak 22 juta per tahun di dunia dan menyebabkan 216.000–600.000 kematian. Demam tifoid di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan angka kematian antara 0,6–5%. Angka kejadian demam tifoid di Provinsi Lampung tahun 2018 adalah 37.708 orang, meningkat dibandingkan pada tahun 2017 yaitu sebanyak 32.896 pasien. Data Dinas Kesehatan Lampung Tengah tahun 2018, demam tifoid di Puskesmas mencapai 3.415 orang. Sedangkan prevalensi tertinggi dari 37 Puskesmas di Lampung Tengah terdapat di Puskesmas Bandar Jaya sebanyak 133 orang. Salah satu hal yang dapat memicu timbulnya penyakit ini adalah dari makanan dan hand hygiene yang kurang baik.Tujuan: Diketahui hubungan kebersihan makanan dan hand hygiene sebagai faktor resiko demam tifoid di Bandar Jaya, LampungMetode: Penelitian kuantitatif dengan desain case control. Subjek penelitian adalah pasien demam di Puskesmas Bandar Jaya Lampung Tengah sebanyak 80 responden yang terbagi dalam 2 kelompok; 40 responden (kasus) dan 40 responden sebagai kontrol. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji chi-square.Hasil: Sebagian besar responden tidak pernah mencuci tangan sebelum makan, sebanyak 72,5% dan jajan makanan dari luar (tidak higienis) 72,5%. Tidak ada hubungan antara makanan tidak higienis dengan kebersihan tangan sebagai faktor risiko terjadinya demam tifoid di Bandar Jaya Lampung (p-value = 0.639, OR = 1.23); kebersihan tangan dan demam tifoid (p-value = 0.809, OR = 1.24).Simpulan: Tidak ada hubungan antara makanan yang tidak higienis dan kebersihan tangan sebagai faktor risiko terjadinya demam tifoid. Perlu lebih meningkatkan promosi kesehatan tentang kebiasaan makan yang baik dan kebersihan tangan yang baik di masyarakat. 
Perilaku self-management dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes mellitus tipe 2 Eka Yudha Chrisanto; Agustama Agustama
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 3 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i3.1888

Abstract

Self-management behaviour of diabetic foot ulcer occurrence among patient with  type 2 diabetes mellitusBackground: Diabetes mellitus is one of the silent killers. Indonesia is a country with the 4th largest number of people with diabetes mellitus after China, India, and the United States. In Indonesia people with diabetes mellitus increased from 8.4 million in 2000 to 21.3 million in 2030.Purpose: To determine the self-management behaviour and diabetic foot ulcer occurrence among patient with  type 2 diabetes mellitus.Method: A quantitative research type, with cross sectional analytic and analytical research designs. The population of all people with diabetes mellitus as many as 432 people and a sample of 38 people with a total sampling technique. Data collection using questionnaire sheets and statistical tests used were Chi-Square statistical tests.Results: The frequency distribution of the incidence of diabetic ulcers in patients with type 2 diabetes mellitus, with the category of diabetic ulcers occurring as many as 14 respondents (36.8%). Diabetes diet adherence in patients with diabetes mellitus, with the category of non-compliance with 16 respondents (42.1%). Monitoring blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus, with non-routine categories of 15 respondents (39.5%). Physical activity in patients with type 2 diabetes mellitus, with a less good category of 19 respondents (50%).Conclusion: There is a relationship between blood sugar and diabetic ulcer diabetes in type 2 diabetes mellitus patients. There is a relationship between diabetes diet and diabetic ulcer diabetes in type 2 diabetes mellitus patients. There is a relationship between physical activity and the incidence of diabetic ulcers in patients with type 2 diabetes mellitus. It is expected that DM patients can routinely carry out physical and routine activities with high salt levels) in health care facilities and carry out a diabetes diet in accordance with the rules proposed by nutritionists.Keywords: Self-management; Behaviour; Diabetic foot ulcer; Occurrence; Patient; Type 2 diabetes mellitusPendahuluan: Diabetes melitus salah satu the silent killer. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita diabetes melitus ke-4 terbanyak setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.di Indonesia penyandang diabetes melitus mengalami kenaikan dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2030.Tujuan: Diketahui hubungan perilaku self-management dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes mellitus tipe 2Metode: Jenis penelitian kuantitatif, dengan rancangan penelitian analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh seluruh penderita diabetes melitus sebanyak 432 orang dan sampel sebanyak 38 orang dengan teknik total Sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner dan Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik Chi-Square.Hasil: Distribusi frekuensi kejadian ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus tipe 2, dengan kategori terjadi ulkus diabetikum sebanyak 14 responden (36,8%). Kepatuhan diet diabetes pada pasien diabetes melitus, dengan kategori tidak patuh sebanyak 16 responden (42,1%). Pemantauan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2, dengan kategori tidak rutin sebanyak 15 responden (39,5%). Aktivitas fisik pada pasien diabetes melitus tipe 2, dengan kategori kurang baik sebanyak 19 responden (50%).Simpulan: Ada hubungan pemantauan kadar gula darah dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2. Ada hubungan kepatuhan diet diabetes dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2. Ada hubungan aktivitas fisik dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2. Diharapkan pasien DM agar rutin melakukan aktivitas fisik  serta rutin mengontrol kadar gula darah pada fasilitas pelayanan kesehatan Serta menjalankan diet diabetes sesuai dengan aturan yang disarankan ahli gizi.
Dukungan sosial dengan motivasi berhenti menggunakan narkoba pada klien rehab rawat jalan di Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung Supriyati Supriyati; Mutia Pangesti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i1.3791

Abstract

Social support and motivation to quit  on drugs abuse  among psychosocial rehabilitation clients at National Narcotics Agency (NNA) Background: The problem of illicit and drugs abuse in Indonesia is currently a disadvantage in developing the quality of human resources, especially the younger generation. Its condition has now reached an alarming level. In 2017, the prevalence of the number of drug abusers in Lampang Province reached 1.9%, ranking 3rd out of 10 Provinces in Sumatra and 8th out of 34 Provinces in Indonesia. The biggest factor influencing to users to quit of drugs abuse such as social and family support.Purpose:  To determine the relationship between social support and motivation to quit on drugs abuse among psychosocial rehabilitation clients at National Narcotics AgencyMethods: A quantitative research with cross-sectional approach. The data collection method uses a social support scale consisting of 29 items and the motivation scale of 22 items. Analyzed using the Spearman Rank product moment. The sample was the client of outpatient rehabilitation at National Narcotics Agency and taken by purposive sampling technique and obtained a sample of 200 respondents.Results: Finding of r value of 0.058 with P = 0.408, it means that there is a very significant positive relationship between social support and motivation to quit on drugs abuse among outpatient rehabilitation clients. The most respondents had of 62% of social support and of 55.5% had a motivation to quit on drugs abuse.Conclusion: The social support and motivation to quit on drugs abuse among outpatient rehabilitation clients at National Narcotics Agency Lampang Province was a quite high.Keywords: Social support; Motivation to quit; Drugs abuse; Psychosocial; Rehabilitation; Clients; National Narcotics AgencyPendahuluan : Masalah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini sudah menjadi hambatan dalam proses pembangunan kualitas sumber daya manusia khususnya generasi muda. Perkembangannya saat ini sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan serta meresahkan khususnya para orang tua dan masyarakat pada umumnya. Tahun 2017 prevalensi jumlah penyalahguna Narkoba di Provinsi Lampung mencapai angka 1,9 % menempati urutan ke-3 dari 10 Provinsi di Sumatera dan   urutan   ke-8   dari   34   Provinsi   di   Indonesia. Faktor   terbesar   yang mempengaruhi keberhasilan pengguna narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba adalah  keluarga  berbentuk  dukungan  sosial,  dukungan  sosial  dalam  hal  ini  adalah dukungan dari orangtua dan keluarga. Dukungan ini akan membantu pengguna narkoba untuk benar-benar dapat berhenti menggunakan narkoba dan meninggalkan pergaulan lamanya.Tujuan : Diketahui hubungan antara dukungan  sosial  dengan motivasi  berhenti  menggunakan  narkoba  klien  rehab  rawat  jalan  di  BNN  Provinsi Lampung.Metode : Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Metode pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial yang terdiri dari 29 item dan skala motivasi 22 item. Dianalisa menggunakan product moment Spearman Rank. Sampelnya klien rawat jalan Badan Narkotika Nasional dan diambil dengan teknik purposive sampling dan diperoleh sampel sebanyak 200 responden.Hasil : Diperoleh hasil nilai r sebesar 0,058 dengan p = 0,408 dimana artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan motivasi berhenti menggunakan narkoba pada klien rehab rawat jalan BNN Provinsi Lampung. Berdasarkan kategorisasi tingkat dukungan sosial mayoritas tinggi dan sangat tinggi dengan total jumlah dari kedua kategori tersebut sebanyak 124 (62%).  Untuk tingkat motivasi berhenti menggunakan narkoba mayoritas berada pada kategori  sedang dan tinggi dengan jumlah sebanyak 111 responden dengan persentase 55.5%.Simpulan: Dukungan dan motivasi sosial untuk berhenti dari penyalahgunaan NAPZA pada klien rehabilitasi rawat jalan di Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampang cukup tinggi.
Program penanggulangan bencana berbasis masyarakat dalam kesiapsiagaan masyarakat menghadapi banjir sungai Krueng, Langsa Nanggroe Aceh Darussalam-Indonesia Nuswatul Khaira; Teuku Iskandar Faisal; Nora Veri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 4 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i4.3044

Abstract

Community-based disaster management program of community preparedness towards flood in Krueng river, Langsa Nanggroe Aceh Darussalam IndonesiaBackground: Indonesia often experiences hydrometeorological disasters comprising floods, landslides, abrasion, forest and land fires, drought and tornadoes because several areas in Indonesia have riverbanks. The National Agency for Disaster Countermeasure reported that around 64.7 million people were at risk of flooding and landslides. In January 2020 there were 207 disaster events that occurred in Indonesia. The disasters that occur in Indonesia dominated by types of hydrometeorological disasters such as; tornado with total of 90 incidents, 67 floods, 45 landslides, 3 forest and land fires and 2 abrasion waves. Indonesia has the potential for emergencies of disaster. However, until now disaster management and efforts to reduce the frequency and magnitude of disasters are still very difficult to implement. Disaster management efforts are currently experiencing a fundamental change and action. Disaster management focuses more on community participation as actors of disaster management. One method of disaster management today is community-based disaster preparedness because the community, as the party affected by the disaster, must empower with adequate knowledge and skills, so that they can make efforts to manage the impact of disasters and reduce risks.Purpose: To determine the effect of community-based disaster management program of community preparedness towards flood in Krueng river, Langsa Nanggroe Aceh Darussalam Indonesia.Method: A quasi-experiment with a one group pre-test-post-test design approach. The locations chosen in this study were a community in three villages in Langsa Subdistrict that often experience floods. Sampling using purposive sampling technique with a sample size of 66 families.Results: Based on the Wilcoxon test, it found that education about disaster management could influence the attitudes and knowledge of partisipants with p-value = 0,000, policies with p-value = 0,000, emergency response plans with p-value = 0,000, early warning systems with p-value. = 0,000 and resource mobilization with p-value 0,000 and preparedness index with p-value = 0,000.Conclusion: Education on community-based disaster management can improve the index of community preparedness in facing floods. Suggestion: It is necessary to increase active community participation in disaster management, which includes pre-disaster, disaster emergency and post-disaster in order to increase community preparedness in facing flood disasters. The National Agency for Disaster Countermeasure needs to develop guidelines on management of natural disasters that occur specifically for flood disasters in order to increase community participation to minimize on damage impact of flood.Keywords : Community-based disaster; Management program; Community preparedness; FloodPendahuluan: Indonesia sering mengalami bencana hidrometeorologi yang terdiri banjir, tanah longsor, gelombang pasang/abrasi, kebakaran hutan, dan lahan, kekeringan dan puting beliung karena sejumlah daerah di Indonesia memiliki bantaran sungai. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sekitar 64,7 juta jiwa terancam banjir dan longsor. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Januari 2020 ada 207 kejadian bencana yang terjadi di Indonesia. Adapun jenis-jenis bencana yang terjadi di Indonesia didominasi dengan jenis bencana hidrometeorologi seperti di antaranya; puting beliung dengan total 90 kejadian, banjir 67 kejadian, tanah longsor 45 kejadian, kebakaran hutan dan lahan 3 kejadian dan gelombang pasang/abrasi sebanyak 2 kejadian. Indonesia memiliki potensi munculnya kegawatdaruratan bencana. Namun hingga kini manajemen kebencanaan dan upaya untuk mengurangi frekuensi serta besarnya bencana masih sangat sulit dilakukan. Upaya penanganan bencana pada saat ini, mengalami perubahan paradigma maupaun tindakan. Penanganan bencana lebih  menitikberatkan pada partisipasi masyarakat sebagai pelaku dari penanggulangan bencana. Salah satu metode yang tepat dalam penanganan bencana sekarang ini adalah kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat karena masyarakat sebagai pihak yang terkena dampak bencana, harus diberdayakan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, sehingga mampu melakukan upaya upaya penanganan dampak bencana dan pengurangan resiko.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Program penanggulangan bencana berbasis masyarakat dalam kesiapsiagaan masyarakat menghadapi banjir sungai Krueng, Langsa Nanggroe Aceh Darussalam-IndonesiaMetode: Penelitian quasi experiment dengan pendekatan one group pre test-post test design. Lokasinya di tiga desa di Kecamatan Langsa yang sering mengalami bencana banjir yaitu Kampung Seulalah, Sidodadi dan Sidorejo. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 66 kepala keluarga.Hasil: Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan bahwa edukasi tentang manajemen bencana mampu mempengaruhi sikap dan pengetahuanpartisipan dengan p-value = 0,000, kebijakan dengan p-value = 0,000, rencana tanggap darurat dengan p-value = 0,000, sistem peringatan dini dengan p-value = 0,000 dan mobilisasi sumberdaya dengan p-value 0,000 serta indeks kesiapsiagaan dengan p-value = 0,000.Simpulan: Edukasi tentang manajemen bencana berbasis komunitas mampu meningkatkan indeks kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir.Saran: Perlu peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam manajemen bencana yang meliputi lingkup pra bencana, darurat bencana dan pasca bencana guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir. BNBP perlu menyusun pedoman tentang manajemen bencana alam yang terjadi yang spesifik tentang bencana banjir agar dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam meminimalkan kerusakan dan dampak banjir.
Persepsi perawat terhadap upaya pelayanan prima di rumah sakit Eri Murni Asih; Dessy Hermawan; Teguh Pribadi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.1401

Abstract

Nurses' perceptions of excellent health care servicesBackground: As the spearhead of services to patients and their families at the hospital, nurses have a major influence on determining the quality of services, because the frequency of gathering among nurses, patient and patients family considere the most often. Therefore, a paradigm and mental attitude that is service-oriented are needed, as well as adequate knowledge and skills in carrying out excellent service.Purpose: To describe nurses' perceptions of excellent health care services.Method: An analytical with cross-sectional approach with the number of samples in this study was 53 responden taken by cluster random sampling. teh populations were all staff nurses at Dr. H. Bob Bazar, SKM General Hospital. South Lampung. Data collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis, bivariate analysis, and multivariate with SPSS for Windows V. 22.Results: Shows a relationship between perceived susceptibility with excellent service effort (0.021 <0.05), the relationship between perceived severity and excellent service effort (p-value 0.001 <0.05), the relationship between perceived benefit of action and excellent service effort (p-value 0.003 <0.05), the relationship between perceived barrier to action with excellent service efforts at  Dr. H. Bob Bazar, General Hospital South Lampung (p-value 0.007 <0.05), the perceived benefit of action variable is the most dominant variable affecting the prime service effort variable with the Exp value (B) = 46,512.Conclusion: A significant relationship between nurses perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit of action, and perceived of barriers from the action  excellent service at Dr. H. Bob Bazar, SKM General Hospital  South Lampung. The results of this study also found that there was a significant on simultaneous effect of all independent variables on the effort of excellent service.Keywords: Nurses' perceptions; Excellent health care services; HospitalPendahuluan: Sebagai ujung tombak pelayanan terhadap pasien dan keluarganya di Rumah Sakit, perawat memiliki pengaruh besar untuk menentukan kualitas pelayanan, karena kuantitas frekuensi pertemuan perawat dengan pasien dinilai paling sering terjadi. Oleh karena itu, diperlukan paradigma dan sikap mental yang berorientasi melayani, serta pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam melaksanakan pelayanan yang prima.Tujuan: Untuk mengetahui Pengaruh Persepsi Perawat Terhadap Upaya Pelayanan Prima  RSUD dr.H. Bob Bazar, SKM Kabupaten Lampung Selatan.Metode: Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 53 responden, diambi lsecara clusster random sampling menggunaan rumus slovin. Populasinya seluruh perawat yang bekerja di RSUD dr.H. Bob Bazar, SKM Kabupaten Lampung Selatan. Pengumpulan data melalui kuesioner dan data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis univariat, analisis bivariat, dan multivariat dengan program SPSS for Windows V. 22.Hasil: Menunjukkan hubungan perceived susceptibility dengan upaya pelayanan prima (0,021 < 0,05), hubungan antara (perceived severity dengan upaya pelayanan prima (p-value 0,001 < 0,05), hubungan antara perceived benefit of action dengan upaya pelayanan prima (p-value 0,003 < 0,05), hubungan antara perceived barrier to action dengan upaya pelayanan prima (p-value 0,007 < 0,05), variabel perceived benefit of action merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi variabel upaya pelayanan prima dengan nilai Exp(B)= 46,512.Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi perawat tentang kerentanan/kemungkinan terkena suatu penyakit, persepsi perawat keparahan penyakit, persepsi perawat tentang manfaat dari tindakan, dan persepsi perawat tentang hambatan dari tindakan terhadap upaya pelayanan prima di Rumah Sakit Umum Dr. H. Bob Bazar, SKM Lampung. Terdapat pengaruh bersama secara signifikan seluruh variabel bebas penelitian terhadap upaya pelayanan prima. 
Studi literatur: Gambaran penerimaan diri penderita diabetes mellitus tipe II Sopia Marlina; Udin Rosidin; Sandra Pebrianti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i1.4093

Abstract

Acceptance of illness among patients with type 2 diabetes mellitus: A Literature study Background: Diabetes mellitus is a chronic disease that is a world health problem. Every year there is an increase in the number of morbidity that can be at risk of complications. DM patients require lifelong management to prevent complications. There is a change in lifestyle that can lead to feelings of hopelessness, so it is very important for sufferers to have an attitude of acceptance of illness. Low acceptance of illness can affect sufferers of poor disease management.Purpose: To describe of acceptance of illness among patients with type 2 diabetes mellitus.Method: Using published narrative artarticle obtained from a database-based search process. The data used are secondary data taken from national and international scientific articles starting from 2010 to 2020. The search engine used is Google Scholar and a database from PubMed. Analyzing keywords according to the topic, “acceptance of disease” OR “acceptance” OR “receiving” AND Diabetes mellitus OR Diabetes mellitus Type II.Results: Finding was 10 articles showed 6 articles with a low level patient's acceptance of their illness which could affect sufferers such as low self-care, poor glycemic control, anxiety, depression, quality of life, emotional aspects and disrupting medication adherence while 4 articles showed high acceptance of illness showing DM management. adequate coping, low depression pressure, adherence to medication, good glycemic control and excellent quality of life.Conclusion: The description of the patient's acceptance of their illness shows the results of all articles that developed and developing countries do not affect the acceptance of illness level. Of the 10 articles, 6 articles showed low acceptance of illness and 4 articles showed high acceptance of illness. Keywords: Acceptance of illness; Patient; Type 2 diabetes mellitus Pendahuluan: Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan dunia, setiap tahun mengalami peningkatan angka kesakitan yang dapat beresiko terjadi komplikasi. Pasien DM memerlukan pengelolaan seumur hidup untuk mencegah terjadi komplikasi. Terjadi perubahan pola hidup dapat menimbulkan rasa putus asa sehingga penting sekali penderita memiliki sikap acceptance of illness. Acceptance of illness yang rendah dapat mempengaruhi penderita terhadap managemen penyakit yang burukTujuan: Mengetahui gambaran penerimaan diri penderita Diabetes Mellitus Tipe IIMetode: Menggunakan Narrative review artikel yang terpublikasi yang didapatkan dari proses pencarian berbasis database. Data yang digunakan yaitu data sekunder yang diambil dari artikel ilmiah nasional maupun internasional di mulai dari tahun 2010-2020. Search Engine yang digunakan adalah Google Schoolar dan database dari PubMed. Menganalisis kata kunci yang sesuai dengan topik, “penerimaan penyakit” ATAU “penerimaan” ATAU “menerima” DAN Diabetes Mellitus ATAU Diabetes Mellitus Tipe IIHasil: Dari 10 artikel menunjukan 6 artikel dengan acceptance of illness rendah yang dapat menimbulkan dampak pada penderita seperti rendah perawatan diri, kontrol glikemik buruk, kecemasan, depresi, kualitas hidup, aspek emosional dan menganggu kepatuhan pengobatan sedangkan 4 artikel menunjukan acceptance of illness tinggi menunjukan managemen DM koping adekuat, tekanan depresi yang rendah, patuh pengobatan, kontrol glikemik baik dan kualitas hidup baik.Simpulan: Gambaran tentang Acceptance Of Illness pada Penderita Diabetes Mellitus menunjukan hasil dari semua artikel bahwa negara maju dan berkembang tidak mempengaruhi pada tingkat acceptance of illness. Dari 10 artikel yang didapatkan 6 artikel menunjukan acceptance of illness rendah dan 4 artikel menunjukan acceptance of illness tinggi. 
Efektifitas buku panduan uji sentuh ipswich dalam meningkatkan keterampilan kader kesehatan mendeteksi neuropati diabetik Suyanto Suyanto; Sri Lestari Dwi Astuti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 4 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i4.3409

Abstract

The ipswich touch test manual book in improving skills for health cadre members in detecting diabetic neuropathyBackground: Complications of diabetes can affect all organs of the body, especially the ends of the feet as diabetic foot. But this will not occur if diabetes treatment in properly and regularly. The early detection on nerve damage can do immediately to find neuropathy symptoms, which is a decrease in the sensitivity of the feet, by using a monofilament test. However, this tool is rarely available in health care units. Currently, a simple method for detecting neuropathy by the Ipswich Touch Test (IpTT). This technique can perform by health cadres, but it needs written instructions such as a guide or manual book.Purpose: Knowing of the skills for health cadre members in detecting diabetic neuropathy by using ipswich touch test manual book.Methods: The pretest-posttest quasi-experimental design with population was health cadre members taken by cluster sampling from Giri Roto and Dibal villages, Ngemplak District, Boyolali Regency. The sample divided by  2 groups and each a group of 60 participants of cadres. The evaluation by observing of the skills each health cadre members in detecting diabetic neuropathy before and after using ipswich touch test manual book.Results: Based on data analysis using the chi-squared test, the p-value was 0.000 (<0.005). This means that the research hypothesis accepted which states that there are differences in the skills on each health cadre members in detecting diabetic neuropathy before and after using ipswich touch test manual book.Conclusion: There is improving in skills on each health cadre member in detecting diabetic neuropathy by using ipswich touch test manual book.Keywords: Ipswich touch test; Diabetic neuropathy; Skills; CadrePendahuluan: Komplikasi diabetes dapat menyerang seluruh organ tubuh khususnya ujung kaki berupa diabetic foot. Tetapi hal tersebut tidak akan muncul apabila perawatan diabetes dilaksanakan dengan baik, dan teratur. Sehingga  terjadinya kerusakan saraf yang dapat segera terdeteksi seperi Neuropati yaitu penurunan sensitivitas rasa kaki. Neuropati dapat dideteksi dengan menggunakan monofilament test. Akan tetapi  alat ini belum tentu tersedia  di unit pelayanan kesehatan. Saat ini telah dibuat sebuah cara mendeteksi neuropati pada pasien diabetes yang sederhana tanpa alat  dinamakan Ipswich Touch Test (IpTT). Teknik ini bahkan dapat dilakukan oleh non profesional antara lain kader kesehatan namun perlu instruksi tertulis seperti buku panduan.Tujuan: Mengetahui perbedaan peningkatan keterampilan kader kesehatan dalam mendeteksi neuropati diabetik menggunakan buku panduan Ipswich Touch Test di Kecamatan  Ngemplak Kabupaten BoyolaliMetode : Desain kuasi eksperimen pretest-posttest with control group sebagai  populasi  adalah kader kesehatan di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Pengambilan sampel dilakukan cluster sampling sebanyak 2 kelompok kader yaitu kader di desa Giri Roto dan  Dibal masing masing sebanyak 60 orang. Evaluasinya dengan melihat keterampilan kader sebelum dan sesudah menggunakan buku panduan uji sentuh ipswichHasil: Berdasarkan analisis data menggunakan uji Chi-Squared diperoleh hasil p-value 0.000 (< 0,005). Hal ini  berarti Hipotesis penelitian diterima yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan  keterampilan kader dalam mendeteksi neuropati menggunakan buku panduan antara kader desa Dibal dan kader desa Giri Roto.Simpulan: Terdapat peningkatan keterampilan setelah menggunakan buku panduan IpTT pada kader desa Dibal dan desa Giri Roto.
Perubahan perilaku kader dalam upaya peningkatan pengetahuan dan sikap wanita usia Subur (WUS) tentang ASI-eksklusif di desa Talang Mulya Lampung Wahid Tri Wahyudi; Nita Evrianasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 4 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i4.3532

Abstract

Knowledge and attitude towards exclusive breastfeeding among women of childbearing age and empowerment by health worker cadresBackground:  Health worker cadres  are one of the frontline maternal and child health service providers, they are have an important role in empowering the community and providing convenience to the community in obtaining basic health services because they are the ones who best understand the conditions of the community's needs in the region. At Talang Mulya Village, they are have not had a significant influence on changes in public health behavior, especially in exclusive breastfeeding extension services they need more a adequate knowledge and skills.Purpose: Knowing changing in knowledge and attitude towards exclusive breastfeeding among women of childbearing age and empowerment by health worker cadresMethod: Quantitative research with the research design "Quasy Experimental Pre-Post Test” and using T-Test Paired. The population was the  health worker cadres and women of childbearing age  at Talang Mulya-Pesawaran. The sampling technique for  women of childbearing age used random sampling taken of 30 respondents, and health worker cadres as total sampling of 8 respondents.Results: There was changing in knowledge and attitude towards of health worker cadres (p. Value = 0,000) and increasing in  knowledge and attitude towards exclusive breastfeeding among women of childbearing age (p.value = 0,000) and attitude (p.value = 0,001) about exclusive breastfeeding after empowering by health worker cadres.Conclusion: Empowerment of village health worker cadres has an influence on increasing in knowledge among women of childbearing age  and attitude about exclusive breastfeeding.Keywords: Knowledge; Attitudes; Exclusive breastfeeding; Women of childbearing age; Empowerment; Health worker cadresPendahuluan: Kader Posyandu merupakan salah satu tenaga penyelenggara pelayanan kesehatan ibu dan anak di lini terdepan yang memiliki peranan penting dalam memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar dikarenakan merekalah yang paling memahami kondisi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Pada kenyataannya kader posyandu khususnya di Desa Talang Mulya belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan perilaku Kesehatan masyarakat khususnya pada pelayanan penyuluhan ASI eksklusif dikarenakan banyaknya kader yang belum memiliki pengatahuan dan keterampilan yang memadai dalam menjalankan tugasnya.Tujuan: Diketahui peningkatan pengetahuan dan sikap WUS tentang ASI eksklusif melalui peningkatan pemberdayaan kader.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian “Quasy Experimental Pre-Post Test” dan menggunakan T-Test Paired. Populasi penelitian adalah kader serta WUS di Desa Talang Mulya-Pesawaran. Tekhnik pengambilan sampling untuk wanita usia subur menggunakan quota sampling dengan quota 30 responden yang diambil secara ramdom sedangkan pengambilan sampling kader menggunakan total sampling yaitu berjumlah 8 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner.Hasil: Terdapat perubahan perilaku kader (P.Value=0,000) serta peningkatan pengetahuan (P.Value=0,000) dan sikap (P.Value=0,001) WUS tentang ASI-Eksklusif setelah dilakukan pemberdayaan terhadap kader.Simpulan: Pemberdayaan terhadap kader memberikan pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap WUS. 
Self efficacy dalam penggunaan kondom pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) dengan HIV/AIDS: Literature review Nirwanto K Rahim; Sri Yona; Agung Waluyo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 3 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i3.2707

Abstract

Self-efficacy for condom use related sexual risk behavior among men who have sex with men and HIV/AIDS: A literature reviewBackground: The prevalence of HIV / AIDS in the world is increasing. Men who have sex with men  (MSM) is the population most vulnerable to HIV / AIDS. Transmission occurred  because of the low use of condoms. Self-efficacy is the ability to belief of self against individual coping in specific situations that affect thinking, behavior, and emotional patterns that can affect attitudes in controlling motivation, behavior, social and the surrounding environmentPurpose: A literature study was explore self-efficacy in using condom and measurement of self-efficacy in condom useMethod: Literature studies used the online database Proquest, CINAHL, the literature was limited by criteria: in 2016-2019, full text and English language, with the keywords: "Self-Efficacy AND Condom Use", "HIV / AIDS AND MSM," HIV / AIDS AND Self EfficacyResults: Finding 9 articles that were relevant to the inclusion criteria. The results showed that there were  two categories in the assessment of self-efficacy in HIV / AIDS patients, namely Sexual Self-Efficacy, and Condom Self-EfficacyConclusion: The assessment used several different instruments, however, although the instruments used were different in the assessment of self-efficacy,  the results of the entire study showed  a link between self-efficacy in the use of condoms in MSM. The results of this literature review can be used as information material about the importance of self efficacy in improving the consistency of condom use to prevent HIV / AIDS Keywords: HIV/AIDS; Self-Efficacy, Condom Use; Sexual risk; BehaviorPendahuluan: Prevalensi HIV/AIDS di dunia semakin meningkat. Lelaki seks lelaki (LSL ) merupakan populasi yang paling mudah terkena HIV/AIDS. Penularan terjadi karena rendahnya penggunaan kondom. Self-efficacy merupakan kemampuan untuk percaya pada kemampuan diri terhadap koping individu dalam situasi yang spesifik yang mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan pola emosional yang dapat berdampak pada sikap dalam mengontrol motivasi, perilaku, dan sosial serta lingkungan sekitar.Tujuan: Untuk mengeksplorasi  self-efficacy  dalam penggunaan kondom dan pengukuran self-efficacy dalam penggunaan kondom.Metode: Studi literatur melalui database online Proquest, CINAHL,  literature dibatasi dengan kriteria : tahun 2016-2019, full text dan berbahasa Inggris, dengan kata kunci: “Self-Efficacy AND Condom Use”,“HIV/AIDS AND MSM,”HIV/AIDS AND Self EfficacyHasil: Didapatkan self-efficacy pada pasien HIV/AIDS dibedakan menjadi Sexual Self- Efficacy, dan Condom Self-Efficacy dan penilaian menggunakan beberapa instrument yakni  sexual self-efficacy scale, the AIDS-Prevention Self-efficacy Scal, condom use self-efficacy, condom use self-efficacy scale,Simpulan: terdapat  instrumen yang berbeda namun, meskipun instrumen yang digunakan berbeda dalam penilaian self-efficacy namun seluruh hasil penelitan menunjukkan adanya keterkaitan self-efficacy dalam penggunaan kondom pada LSL. Hasil telaah literature ini dapat dijadikan bahan informasi tentang pentingnya self efficacy dalam meningkatkan konsistensi penggunaan kondom untuk mencegah HIV/AIDS.
Pencegahan Kejadian Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) dengan Kepatuhan Pelaksanaan Bundle: Literature Review Solikin Solikin; Matius Sakundarno Adi; Septo Pawelas Arso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 3 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i3.2661

Abstract

Prevention of Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) Events with Compliance with Bundle Implementation: Literature Review Background: Patients who experience critical illness and use a mechanical ventilator in the ICU have an increased risk of experiencing ventilator associated pneumonia (VAP) which is a major cause of morbidity and mortality in the ICU and causes lengthening the length of stay and an increase in hospital costs.Purpose: To conduct a recent literature review with regard to VAP primarily related to causes, risk factors, pathogenesis, prevention, early detection and diagnosis, and administration of antibiotics to patients with VAP. At the end of this article conclusions will be presented that can be used by practitioners as a clinical guide.Method: The design used was literature review, articles were collected using a search engine, including (Clinicalkey) 27 articles, (Cochrane) 25 articles, (Medline) 17 articles and (Pubmed) 19 articles. From the predetermined article inclusion criteria, we found 7 articles out of 88 that were suitable for different interventionsResults: Prevention of VAP incidents in hospitals using multimodal interventions, one of which is the application of a VAP prevention bundle, can effectively reduce the incidence of VAP in hospitals. Examination of the lower respiratory tract culture should be carried out for all patients before administering antibiotic therapy provided that it should not delay giving antibiotic therapy to critical patients. Early treatment of broad-spectrum antibiotics with the right dosage can maximize the efficacy of antibiotics and the outcome of VAP patients in the ICU. Antibiotic combinations must be used wisely to treat VAP because certain pathogens increase the life expectancy of patients with severe infections especially those with septic shock. Negative culture results can also be used to stop antibiotic therapy in patients undergoing culture without antibiotic changes within the last 72 hours. The health team must consider the need for antibiotic de-escalation based on the culture results and the clinical response of the patient.Conclusion: VAP prevention bundles that implement multimodal interventions effectively reduce the incidence of VAP in hospitals. An examination of airway culture must be carried out for all patients before administering antibiotic therapy. Early treatment of broad-spectrum antibiotics can maximize the efficacy of antibiotics and the outcome of VAP patients in the ICU.Keywords: VAP; ICU; Patients; Morbidity; Mortality; BundlePendahuluan: Pasien yang mengalami penyakit kritis dan menggunakan ventilator mekanik di ICU mempunyai peningkatan resiko untuk mengalami ventilator associated pneumonia (VAP) yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di ICU serta menyebabkan pemanjangan lenght of stay dan peningkatan biaya rumah sakit.Tujuan: Untuk melakukan review literature terkini sehubungan dengan VAP terutama terkait dengan penyebab, faktor resiko, pathogenesis, pencegahan, deteksi dini dan diagnosis, serta pemberian antibiotik pada pasien dengan VAP. Di ahir artikel ini akan disampaikan kesimpulan yang dapat digunakan praktisi sebagai panduan di klinis.Metode: Desain yang digunakan adalah literature review, artikel dikumpulkan menggunakan mesin pencarian antara lain (Clinicalkey) 27 artikel, (Cochrane) 25 artikel, (Medline) 17 artikel dan (Pubmed) 19 artikel. Dari kriteria inklusi artikel yang telah ditentukan, ditemukan 7 artikel dari 88 yang sesuai dengan intervensi yang berbeda.Hasil: Pencegahan kejadian VAP di rumah sakit menggunakan intervensi multimodal, yang mana salah satunya berupa penerapan bundle pencegahan VAP, dapat dengan efektif menurunkan kejadian VAP di rumah sakit. Pemeriksasan kultur saluran nafas bawah perlu dilakukan kepada semua pasien sebelum pemberian terapi antibiotik dengan catatan tidak boleh menunda pemberian terapi antibiotik pada pasien kritis. Terapi dini antibiotik spektum luas dengan dosis yang tepat dapat memaksimalkan kemanjuran antibiotik dan luaran pasien VAP di ICU. Kombinasi antibiotik harus digunakan dengan bijaksana untuk mengobati VAP karena pathogen tertentu untuk meningkatkan harapan hidup pasien dengan infeksi berat terutama yang mengalami shok sepsis. Hasil kultur yang negatif juga dapat digunakan untuk menghentikan terapi antibiotik pada pasien yang dilakukan kultur tanpa perubahan antibiotik dalam 72 jam terahir. Tim kesehatan harus mempertimbangkan perlunya deeskalasi antibiotik berdasarkan hasil kultur dan respon klinik pasien.Simpulan: Bundle pencegahan VAP yang menerapkan intervensi multimodal efektif menurunkan kejadian VAP di rumah sakit. Pemeriksasan kultur saluran nafas harus dilakukan kepada semua pasien sebelum pemberian terapi antibiotik. Terapi dini antibiotik spektum luas dapat memaksimalkan kemanjuran antibiotik dan luaran pasien VAP di ICU.