cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Perilaku pencegahan konstipasi pada lansia di panti sosial rehabilitasi lanjut usia Tuti Pahria; Annisa Nur Fadhilla; Citra Windani Mambang Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.4348

Abstract

Constipation among the elderly living in long-stay institutions in Ciparay BandungBackground: Constipation in the elderly occurs because of physiological changes in the body that are also supported by poor health behavior. The reduced risk of constipation when the elderly apply healthy lifestyle modifications.Purpose: To describe the constipation occurrence among the elderly living in long-stay institutions in Ciparay BandungMethod: A descriptive quantitative that involved 38 elderly, selected by purposive sampling technique with inclusion criteria, which are communicative elderly, have a good cognitive condition (MMSE score 23-30). The instrument used a questionnaire sheet and data analysis used univariate frequency distribution.Results: The finding of 57.9% of respondents had good prevention of constipation. The percentage in each sub-variable shows that 55.3% of respondents had good physical activity, 50% of respondents had good dietary habits, and 57.9% of respondents had good defecation habits.Conclusion: The results of the study show that over 50% of the elderly are still under the control of constipation problems. Suggestions for the management of long-stay institutions in Ciparay Bandung, to continue observation risk constipation and prevent to provide information and motivation promotion especially in physical activity and eating habits with Group Activity Therapy.Keywords: Constipation;  Elderly; Physical activity; Eating habits; LifestylePendahuluan: Konstipasi pada lansia terjadi karena adanya perubahan fisiologis tubuh yang juga didukung oleh perilaku kesehatan yang kurang baik. Konstipasi dapat dicegah jika lansia melakukan modifikasi gaya hidup sehat.Tujuan: Untuk mengetahui gambaran perilaku pencegahan konstipasi pada lansia di Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Pemeliharaan Makam Pahlawan (PSRLU-PMP) Ciparay Bandung.Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 38 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi, yaitu lansia yang komunikatif, memiliki kondisi kognitif yang baik (skor MMSE 23-30), dan bersedia menjadi responden penelitian. Instrumen yang digunakan berupa lembar kuesioner yang dibuat berdasarkan hasil penelitian dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan berupa perhitungan distribusi frekuensi.Hasil: Sebanyak 57,9% responden memiliki perilaku pencegahan konstipasi yang baik. Adapun persentase pada setiap sub variabel menunjukkan bahwa sebanyak 55,3% responden berada pada kategori aktivitas fisik yang baik, sebanyak 50% responden berada pada kategori kebiasaan diet yang baik, dan sebanyak 57,9% responden berada pada kategori kebiasaan defekasi yang baik.Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% lansia masih terkendali masalah sembelit. Saran bagi pengelola panti rawat inap di Ciparay Bandung, untuk melanjutkan observasi risiko sembelit dan pencegahan untuk memberikan informasi dan promosi motivasi terutama dalam aktivitas fisik dan kebiasaan makan dengan cara yang benar melalui Terapi Aktifitas Kelompok
Pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi selama kehamilan Naili Rahmawati; Siti Hajah Nurhajijah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5075

Abstract

Knowledge, attitude, and practice of pregnant women in Bandung about intake of iron supplementsBackground: Iron deficiency anemia is a decrease in the number of red blood cells caused by too little iron. According WHO (World Health Organization), in developing countries there are 40% of maternal deaths related to anemia during pregnancy. The frequency of pregnant women in Indonesia who experience anemia is still very high, namely 63.5% compared to only 6% in America. The number of pregnant women who experience anemia is due to a lack of knowledge of the mother, amounting to 45.6% of pregnant women do not know the consequences of anemia, do not regularly consume Fe tablets, and do not understand how to consume Fe tablets properly. Purpose: To determine the Knowledge, attitude, and practice of pregnant women in Bandung about intake of iron supplementsMethod:  Quantitative research with a cross-sectional approach. Data collected using primary data, conducted in August - September 2019. The population was pregnant women at private clinics. Sampling was carried out using the accidental sampling technique of 30 people. Data got by interviewing the questionnaire instrument. Analysis of the data used using the Spearman test.Results: Finding of the variable age at risk (≥35 years) of 22 (73.33%) respondents, higher education 21 (70%) respondents, as housewives 15 (50%) respondents, multigravida parity 18 (60%) ) respondents. Poor of knowledge 16 (53.33%) respondents, positive attitude 18 (60%) respondents, compliance intake of iron supplements  18 (60%) respondents.Conclusion: There is a significant relationship of knowledge, attitude, and compliance intake of iron supplements (p-value <0.05).Keywords: Knowledge; Attitude; Pregnant women; Compliance; Intake of iron supplementsPendahuluan: Anemia defisiensi zat besi adalah perurunan jumlah sel darah merah yang disebabkan oleh zat besi yang terlalu sedikit. Menurut WHO (World Health Organization), di negara berkembang terdapat 40 % kematian ibu berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Frekuensi ibu hamil di Indonesia yang mengalami anemia masih sangat tinggi yaitu 63,5% dibandingkan di Amerika hanya 6 %. Banyaknya ibu hamil yang mengalami anemia disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu, sebesar 45,6% ibu hamil tidak mengetahui akibat dari anemia, tidak teratur dalam mengkonsumsi tablet Fe, dan tidak memahami cara mengkonsumsi tablet Fe secara tepat.Tujuan: Mengetahui adanya hubungan pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi selama kehamilanMetode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Data yang dikumpulkan menggunakan data primer. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus - September 2019. Populasinya ibu hamil di Praktik Mandiri Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sumpling sebanyak 30 orang. Data yang diperoleh dengan wawancara instrument kuesioner. Analisis data yang digunakan menggunakan uji Spearman.Hasil: Didapatkan variabel usia beresiko (≥35 tahun) 22 (73,33%) responden, pendidikan tinggi 21 (70%) responden, pekerjaan ibu rumah tangga 15(50%) responden, paritas multigravida 18(60%) responden pengetahuan buruk sebanyak 16 (53.33%) responden, sikap positif 18 (60%) responden, dan kategori patuh sebanyak 18 (60%) responden.Simpulan: Adanya hubungan antara pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi selama kehamilan (p-value < 0,05). 
Status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada batita Tedi Tiar Mahendra; Setiawati Setiawati; Riska Wandini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.1617

Abstract

Background: The highest stunting incidence in Lampung Tengah regency is in Pubian sub-district, Payung Rejo health center work area, Tawang Negeri village with percentage of 38.96%, followed by terbanggi sub-district, Bandar Jaya health center work area, Adi Jaya village with 36.7%, and third place is Seputih Agung criticism, Simpang Agung Health Center Working Area, Mujirahayu village with a percentage of 34.3%.Purpose: Knowing maternal nutritional status during pregnancy and stunted growth among toddler.Method: This type of research is quantitative. The design of this study was an analytical survey with a cross sectional approach. The population and sample used were all children with stunting incidence of 39 children; sampling in the study was a total sampling and statistical test using the chi square testResults: Stunting incidence, out of 39 toddler, 21 toddler (53.8%) experienced stunting /short, out of 39 mothers, 24 mothers (61.5%) experienced SEZ. The results of the analysis using chi-square, obtained p-value = 0.018 (α < 0.05).Conclusion: There was maternal nutritional status during pregnancy and stunted growth among children under three years old. It needs to increase the activeness of health workers to carry out counseling on children's nutritional status, and if they find children with poor nutritional status, health workers can immediately make referrals for further services.Keywords: Maternal Nutrition; Stunting; ToddlerPendahuluan: Kejadian stunting di kabupaten Lampung Tengah tertinggi berada di kecamatan Pubian, Wilayah Kerja Puskesmas Payung Rejo, kampung Tawang Negeri dengan persenmtase 38,96%, selanjutnya disusul oleh kecamatan terbanggi besar, Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Jaya, kampung Adi Jaya sebesar 36,7%, dan urutan ke tiga yaitu kecamanatan Seputih Agung, Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Agung, kampung Mujirahayu dengan persentase 34.3%.Tujuan: Diketahui hubungan status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada anak usia batita.Metode: Jenis penelitian Kuantitatif. Desain penelitian ini survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh anak dengan stunting sebanyak 39 anak, teknik pengambilan sampel dengan total sampling. Uji statistik menggunakan uji chi square.Hasil: Kejadian stunting, dari 39 anak, 21 anak (53,8%) mengalami stunting pendek dan 18 (46,8%) anak sangat pendek, dari 39 ibu, 24 ibu (61,5%) mengalami Kekurangan Energi dan Kalori (KEK) dan 15 (38,5) status gizi normal. Hasil analisa menggunakan chi-square, nilai p-value = 0.018 (<0,05).Simpulan: Terdapat hubungan status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada anak usia batita. Diharapkan dapat meningkatkan keaktifan bagi petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan tentang status gizi anak, dan apabila menemukan anak dengan status gizi buruk, petugas kesehatan dapat langsung melakukan rujukan untuk mendapat pelayanan selanjutnya. 
Pengaruh mobilisasi dan massage terhadap pencegahan risiko luka tekan pada pasien tirah baring Asep Badrujamaludin; Ritha Melanie; Nenden Nurdiantini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5558

Abstract

The nursing prevention of pressure sores in hospital due to prolonged bed restBackground: A pressure wound is a localized wound in the tissue over the bone that protrudes from continuous pressure over a long period. Pressure sores increase mortality and the length of treatment days. Prevention of pressure To determine the effect of mobilization and massage as nursing prevention of pressure sores in hospital due to prolonged bed rest.Method: A quasi-experimental design with a pretest-posttest non-equivalent control group design. The number of samples was 30 participants, devised into two groups and each group contain 15 participants; group I mobilization and massage intervention and another group by only massage intervention. The measurement of pressure sores risks by using the Braden scale. Data analyzed univariate and bivariate using paired categorical comparative tests (Marginal Homogeneity Test) and unpaired (Chi Square).Results: Showed that the risk of pressure wounds before mobilization and massage in group I was 66.7% with a high risk, while 66.7% at post-intervention was a moderate risk. The risk of pressure wounds before mobilization in group II was 53.3% with a high risk, while at post-intervention was 53.3% with moderate risk. There was a difference in the risk of pressure sores before and after mobilization and massage in group I p Value 0.001 (< 0.05). There was a difference in the risk of pressure sores before and after mobilization in group II p-value 0.008 (<0.05). There was no difference in the risk of pressure sores between the groups that were given the mobilization and the message with the groups that were given the mobilization (p 0.456).Conclusion: Implementing mobilization and massage can reduce the risk of pressure sores in bed rest patients, but the risk of pressure exertion between the group that was given the mobilization and the message with the group that was given the mobilization was not different. Recommended that nurses be able to carry out preventive care for the risk of pressure sores with mobilization and massage.Keywords: Prevention; Pressure sores ; Hospital; Bed rest; Mobilization; MassagePendahuluan: Luka tekan adalah luka terlokalisir pada jaringan di atas tulang yang menonjol akibat tekanan terus menerus dalam jangka waktu lama. Luka tekan meningkatkan mortalitas dan lama hari perawatan. Pencegahan luka tekan dapat dilakukan dengan melakukan mobilisasi serta massage. Tujuan: Mengetahui pengaruh mobilisasi dan massage terhadap risiko luka tekan pada pasien tirah baringMetode: Penelitian quasi eksperimen dengan rancangan pretest posttest non-equivalent control group design. Jumlah sampel sebanyak 30 partisipan yaitu 15 sampel kelompok I yang diberikan mobilisasi dan massage serta 15 sampel kelompok II yang hanya diberikan mobilisasi, diambil dengan teknik accidental sampling. Pengukuran risiko luka tekan menggunakan skala Braden. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji komparatif kategorik berpasangan (Marginal Homogeneity Test) dan tidak berpasangan (Chi Square).Hasil: Menunjukkan risiko luka tekan sebelum dilakukan mobilisasi dan massage pada kelompok I sebesar 66,7% dengan risiko tinggi sedangkan saat posttest 66,7% dengan risiko sedang. Risiko luka tekan sebelum dilakukan mobilisasi pada kelompok II sebesar 53,3% dengan risiko tinggi sedangkan saat posttest 53,3% dengan risiko sedang. Terdapat perbedaan risiko luka tekan sebelum dan setelah dilakukan mobilisasi dan massage pada kelompok I (p 0,001).  Terdapat perbedaan risiko luka tekan sebelum dan setelah dilakukan mobilisasi pada kelompok II (p 0,008). Tidak terdapat perbedaan risiko luka tekan antara kelompok yang diberikan mobilisasi dan message dengan kelompok yang diberikan mobilisasi (p 0,456).Simpulan: Pelaksanaan mobilisasi dan massage mampu menurunkan risiko luka tekan pada pasien tirah baring, akan tetapi risiko lukan tekan antara kelompok yang diberikan mobilisasi dan message dengan kelompok yang diberikan mobilisasi tidak terdapat perbedaan. Disarankan perawat dapat melakukan perawatan pencegahan risiko luka tekan dengan mobilisasi dan massage.
Pengetahuan dan beban kerja perawat dengan penerapan kewaspadaan standar di RSUD Dr.A.Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung Parid Khoirudin; M Arifki Zainaro; Andoko Andoko
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.4769

Abstract

Knowledge, workload and Practices related to standard precautions among nurses at D. A.Dadi Tjokrodipo HospitalBackground : Universal precautions are efforts made to protect, prevent and minimize cross infections among patient personnel due to direct contact. In 2018, at Dr. A. Dadi Tjokrodipo Hospital Lampung City, there were 10 cases of injury due to needle sticks.Purpose : To know the relationship of knowledge, workload, and Practices related to standard precautions among nurses at Dr A dadi Tjokrodipo HospitalMethod: A quantitative, design of an analytic survey with a cross-sectional approach, the number of population, and the sample of 40 respondents, the sampling technique in this study is the total sampling. Conducting at Dr. A. Dadi Tjokrodipo hospital, with questionnaire and statistic test using chi-square test.Results : The respondents having excellent knowledge of 21 respondents (52.5%), the high workload is 21 respondents (52.5%), 21 respondents (52.5%) do not comply with the precautionary practice. There is a relationship between knowledge (p-value 0.025. OR 5.6), workload (p-value 0.028. OR 5.4).Conclusion: There is a relationship between knowledge and workload with the practice of standard precautions by nurses at Dr. A Dadi Tjokrodipo hospital Lampung. The suggestion is that it can increase the compliance of health workers in practice standard precautions in order to reduce the incidence of nosocomial infections.Keywords: Knowledge; Workload; Practices; Standard precautions; NursesPendahuluan : Universal Precautions merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka perlindungan, pencegahan dan meminimalkan infeksi silang (cross infections) antara petugas pasien akibat adanya kontak langsung. Pada tahun 2018 di RSUD Dr A dadi Tjokrodipo Bandar Lampung sebanyak 10 kasus perlukaan akibat tertusuk jarum suntik.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan beban kerja dengan penerapan kewaspadaan standar oleh perawat di RSUD Dr.A.Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung Tahun 2020.Metode : Penelitian kuantitatif, rancangan dalam penelitian ini menggunakan desain Survei Analitik dengan pendekatan cross sectional, jumlah populasi dan sampel sebanyak 40 orang , teknik sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Dr.A.Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung, dengan instrument penelitian kuisioner dan uji statistic menggunakan uji chi-square.Hasil : Distribusi frekuensi  responden memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 21 responden (52,5%), beban kerja tinggi yaitu sebanyak 21 responden (52,5%), tidak patuh  dalam penerapan kewaspadaan yaitu sebanyak 21 responden (52,5%). Ada hubungan pengetahuan (p value 0,025. OR 5,6 ),  beban kerja (p value 0,028. OR 5,4) dengan penerapan kewaspadaan standar oleh perawat di RSUD Dr A Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung Tahun 2020.Simpulan: Ada hubungan pengetahuan dan beban kerja  dengan penerapan kewaspadaan standar oleh perawat di RSUD Dr.A.Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung Tahun 2020. Sehingga disarankan agar dapat meningkatkan kepatuhan petugas kesehatan dalam penerapan kewaspadaan standar agar dapat mengurangi angka kerjadian infeksi nosokomial.
Hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome (PMS) pada remaja putri Noviyani Hartuti; Asyima Asyima
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5307

Abstract

Background: Young women and middle-aged women during the luteal phase of the menstrual cycle will experience emotional and physical  problems called premenstrual syndrome (PMS).Purpose: To determine the relationship of prostaglandins to the incidence of premenstrual syndrome in young women at the Pelamonia Midwifery Academy.Method: A Cross-Sectional Study with a population was the student of nursing academy Pelamonia Makassar. The sampling technique used a total sampling technique with a sample of 50 respondents. The research instrument used a daily note sheet (LCH), questionnaire data collection which included identity and symptoms or complaints of premenstrual syndrome. Prostaglandin examination using the Prostaglandin Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay (ELISA) kitResults: Showed that of the 26 respondents with mild PMS, 23 respondents (46%) had prostaglandin F2α levels <420.6 pg / mL and 3 respondents (6%) had prostaglandin F2α levels> 420.6 pg / mL. Meanwhile, of the 24 respondents who had severe PMS, 15 respondents (30%) had prostaglandin F2α levels <420.6 pg / mL and 9 respondents (18%) had prostaglandin F2α levels> 420.6 pg / mL. The results of the Chi-Square statistical test for the relationship of prostaglandins to the incidence of premenstrual syndrome in adolescent girls at the 0.05 level indicate that p value = 0.047, so p value ≤ α so that Ha is accepted and H0 is rejected.Conclusion: The study was a prostaglandin relationship to the incidence of premenstrual syndrome at the Pelamonia Midwifery Academy in Makassar in 2020.Keywords: Adolescents; Pre Menstrual Syndrome; ProstaglandinsPendahuluan: Remaja putri dan wanita setengah baya selama fase luteal pada siklus menstruasi akan mengalami gangguan emosional dan gangguan fisik yang dinamakan dengan premenstrual syndrome (PMS).Tujuan: Diketahui hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri di akademi kebidanan pelamonia.Metode: Cross Sectional Study dengan populasinya mahasiswi Akbid Pelamonia Makassar. Teknik pengambilan Sampel menggunakan teknik total sampling dengan didapatkan sampel berjumlah 50 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar catatan harian (LCH), kuisioner pengumpulan data yang meliputi identitas serta gejala ataupun keluhan dari premenstrual syndrome. Pemeriksaan prostaglandin menggunakan prostaglandin Enzim Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA) kit.Hasil: Didapatkan bahwa dari 26 responden yang PMS Ringan terdapat  23 responden (46%) memiliki kadar prostaglandin F2α <420,6 pg/mL dan 3 responden (6%) memiliki kadar prostaglandin F2α >420,6 pg/mL. Sedangkan, dari 24 responden yang PMS Berat terdapat 15 responden (30%) memiliki kadar prostaglandin F2α <420,6 pg/mL dan 9 responden (18%) memiliki kadar prostaglandin F2α >420,6 pg/mL. Hasil uji statistik Chi-Square hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri pada taraf kepercayaan 0,05 menunjukkan bahwa p Value = 0,047, jadi p Value ≤ α sehingga Ha diterima dan H0 ditolak.Simpulan: Terdapat hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome di Akademi Kebidanan Pelamonia Makassar Tahun 2020.
Pengaruh reminiscence therapy terhadap tingkat stres pada lansia masa pendemi covid-19 Ikhsan Ikhsan; Septi Andrianti; Titin Aprilatutini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5616

Abstract

Reminiscence therapy interventions for Chronic stress in elderly during pandemic covid-19 Background: The level of stress in the elderly also means the level of pressure felt or experienced by the elderly. During the COVID-19 pandemic, the government recommends social distancing. In addition, self-quarantine has almost a year. Conditions of social distancing or physical distancing can trigger psychological pressure, especially for the elderly who live in orphanages and have chronic diseases. Purpose: To determine the effect of Reminiscence therapy interventions for Chronic stress in elderly during pandemic covid-19Method: This research is a pre-experimental design with a one-group pretest and posttest design. The population is 65 elderly, using purposive sampling. This research was 30 elderly, 15 elderly in the control group, and 15 elderly in the intervention group. The instrument is the DASS (stress scale) questionnaire. Data analysis used the Paired Sample t-Test statistical test. The research was done on April June 2021.Results: Finding that the average stress score before and after which in the control group the stress score was before 27.81 with a standard deviation of 4.34 and in the eighth week the stress score decreased to 24.64 with a standard deviation of 4.74. In the intervention group, the stress score before 28.31 with a standard deviation of 4.44 and after being treated for eight weeks decreased to 14.80 with a standard deviation of 5.86. Evidenced by the p-value of 0.001 (α <0.05).Conclusion: The experience of the stress by the elderly with an average standard deviation of 65-89 years. The stress score before reminiscence therapy was 28.31 with a standard deviation of 4.44, and after 8 weeks of reminiscence therapy, it decreased to 14.80 with a standard deviation of 5.86.Keywords: Reminiscence therapy; Chronic stress; Elderly;  Pandemic covid-19Pendahuluan: Tingkat stres pada lansia juga berarti tingkat tekanan yang dirasakan atau dialami oleh lansia. Selama pandemi COVID-19, pemerintah merekomendasikan jarak sosial. Selain itu, karantina mandiri telah dilakukan selama hampir satu tahun. Kondisi social distancing atau jarak fisik dapat memicu tekanan psikologis, terutama bagi lansia yang tinggal di panti asuhan dan memiliki penyakit kronis. Tujuan: Mengetahui pengaruh Terapi Reminiscence terhadap tingkat stres pada lansia pada masa pandemi Covid 19 di Panti Sosial Tresna Werdha Kota Bengkulu Tahun 2021.Metode: Penelitian pre-experimental design dengan one-group pretest and posttest design. Populasi adalah 65 partisipan, dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini berjumlah 30 lansia, 15 lansia pada kelompok kontrol dan 15 lansia pada kelompok intervensi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner DASS (skala stres). Analisis data menggunakan uji statistik Paired Sample t Test. Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan April Juni 2021.Hasil: Didapatkan bahwa rata-rata skor stres sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol skor stres sebelum 27,81 dengan standar deviasi 4,34 dan pada minggu kedelapan skor stres menurun menjadi 24,64 dengan standar deviasi 4,74. Pada kelompok intervensi, skor stres sebelum 28,31 dengan standar deviasi 4,44 dan setelah diberi perlakuan selama delapan minggu menurun menjadi 14,80 dengan standar deviasi 5,86. Dibuktikan dengan nilai p sebesar 0,001 (α < 0,05).Simpulan: Stress dialami oleh lansia dengan usia rata-rata standar deviasi 65-89 tahun. Skor stress sebelum reminiscence therapy adalah 28.31 dengan standar deviasi 4,44, dan setelah dilakukan reminiscence therapy  selama 8 minggu terjadi penurunan menjadi 14,80 dengan standar deviasi menjadi 5,86.
Efektifitas minuman jahe (zingiber officinale) dan sari kurma (phoenix dactylifera) untuk mengurangi hiperemesis gravidarum Sri Ayu Arianti; Meda Yuliani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5534

Abstract

The effectiveness of ginger (zingiber offcinale) and date palm  (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum Background: Hyperemesis gravidarum is excessive nausea and vomiting that occurs in pregnant women, usually occurs in the morning called morning sickness. Of the 90% of pregnant women who experience nausea and vomiting occur at less than 20 weeks of gestation and 2-5% can cause bad dehydration. Therefore, it is important to make efforts to reduce the problem early on. Treatment of hyperemesis is usually by medical therapy with drugs and rarely by complementary or alternative therapies using herbs.Purpose: To evaluate the effectiveness of ginger (zingiber offcinale) and date palm  (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum.Method: An analytical Quasi-experiment with a one group pretest-posttest design with the population of all pregnant women in the Cinunuk Health Center area. The samples were 30 pregnant women in the first trimester who experienced nausea and vomiting over three times a day. The sampling technique used was quota sampling. All samples took warm water 250 ml containing 25 grams of ginger and 25 grams of date palm twice a day for 14 days. Data analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test statistical test.Results: Finding the effectiveness of ginger (zingiber offcinale) and date palm (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum, obtained p-value 0.000.Conclusion: There is the effectiveness of ginger (zingiber officinale) and dates palm (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum. Suggest the need for promotion of these medicinal supplements. Keywords : Hyperemesis gravidarum;  Ginger (zingiber offcinale); Date palm (phoenix dactylifera).Pendahuluan: Hiperemesis gravidarum merupakan mual muntah yang berlebihan yang terjadi pada wanita hamil, biasanya terjadi pada pagi hari yang disebut dengan morning sickness. Dari 90% ibu hamil yang mengalami mual muntah terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan 2-5% bisa berakibat buruk mengalami dehidrasi.  Oleh karena itu, penting dilakukan upaya mengurangi masalah sejak dini. Penanganan hiperemesis ini dapat diberikan terapi medis dengan obat-obatan dan terapi komplementer atau alternatif dengan menggunakan herbal.Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas jahe (zingiber offcinale) dan kurma (phoenix dactylifera) untuk mengurangi hiperemesis gravidarum.Metode: Penelitian quasi   experiment  dengan One group pretest- posttest design. Populasi semua ibu hamil yang berada di wilayah Puskesmas Cinunuk, sampelnya  sebanyak 30 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah lebih dari 3 x sehari, dengan kriteria inklusi tidak memiliki riwayat penyakit gastritis dan tidak diberikan terapi anti emetik.  Teknik  pengambilan sampel dengan menggunakan quota sampling. Seluruh sample diberikan minuman rebusan jahe 25 gram ditambah dengan 25 gram  sari kurma yang dikemas dalam botol  250 ml diberikan 2 kali sehari selama 14 hari. Data dianalisa dengan Uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test .Hasil: Didapatkan nilai p-value 0,000 < dari nilai alpha (0.05) dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan sebelum pemberian minuman jahe (Zingiber Officinale) dan sari kurma dan setelah pemberian minuman jahe (Zingiber Officinale) dan sari kurma.Simpulan: Minuman jahe (Zingiber Officinale) dan sari kurma efektif mengurangi hiperemesis gravidarum. Disarankan supaya dipromosikan untuk dianjurkan pada ibu hamil yang tidak ada kontra indikasi dapat memanfaatkan obat herbal tersebut.
Hubungan waiting time dengan kepuasan pasien pada pasien rawat jalan di Puskesmas Triyoso Triyoso; Ahmad Muammar Khoddafi; Umi Romayati Keswara
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.2545

Abstract

The association between waiting time and patient satisfaction in outpatient at public health centerBackground: Patient satisfaction is one of the indicators to measure health service quality. A prolonged waiting time influences the satisfaction of a patient toward health service quality. According to the data from the health agency of pesisir barat regency in 2016, the utilization of health centers was low, it is 26.7%. the utilization was lower than the Lampang Province utilization, 32.6%.Purpose: To identify the association between waiting time and patient satisfaction in outpatient at the public health centerMethod: A quantitative method with a cross-sectional approach. The population involved 134 patients registered at Bengkunat Belimbing Health Center. The data collection was through questionnaires. The data analysis by chi square test.Results: Finding the respondents average age was 40.80 years old with a standard deviation is 8,765, the range is 19-59 years, the most of male 58 (66%), the junior secondary education  53 (60%). ), farmer occupation 56 (64%), the type of for follow up 68(77%), the variable time between waiting and registration 20 minutes 50 (57%), waiting time for registration with consultation 20 minutes 44 (50%), waiting time for consultation 20 minutes 25 (54%), overall waiting time 60 minutes 29 (63%).Conclusion: There is no significant relationship between waiting time and patient satisfaction in outpatient at the public health centerKeywords: Waiting time; Patient; Satisfaction; Outpatient; Public health centerPendahuluan: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator untuk mengukur kualitas layanan kesehatan. Waktu tunggu pasien lama akan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2016, pemanfaatan fasilitas kesehatan di Puskesmas masih rendah, yaitu 26,7% masih rendah dibandingkan  pemanfaatan fasilitas kesehatan puskesmas  di Provinsi Lampung yaitu 32,6%.Tujuan: Diketahui hubungan waiting time dengan kepuasan pasien di Puskesmas Bengkunat Belimbing Kab. Pesisir Barat.Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan secara cross sectional, dengan populasi seluruh pasien yang berkunjung di Puskesmas Belimbing Kab. Pesisir Barat  yang berjumlah 421 responden. Tehnik pengambilan sampel dengan accidental sampling dengan jumlah sampel 134 responden. Analisa data menggunakan uji Chi Square.Hasil: Didapatkan tingkat kepuasan kategori puas berusia rata-rata 40.80 tahun dengan standar devisiasi 8.765, rentang 19-59 tahun, berjenis kelamin laki laki 58 (66%), berpendidikan SMP 53 (60%), pekerjaan petani 56 (64%), tipe kunjungan ulang 68(77%), waktu antara menunggu dengan registrasi ≥20 menit 50 (57%), waktu menunggu registrasi dengan konsultasi ≥ 20 menit 44 (50%), waktu menunggu konsultasi ≥ 20 menit 25 (54%), waktu menunggu keseluruhan ≥ 60 menit 29 (63%).Simpulan: Tidak didapatkan hubungan antara waiting time dengan kepuasan pasien (p-value >0.05)
Pengaruh hypnobirthing (pemberian terapi music murottal ) dan akupresur terhadap penurunan persepsi nyeri pada proses persalinan Rahmiyani Saad; Ainun Jariyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5947

Abstract

Background: Delivery pain is a physiological process experienced during the delivery process. The pain can be overcome by non-pharmacological methods, namely hypnobirthing and acupressure methods. Where hypnobirthing can provide a sense of relaxation based on the belief that pregnant women can experience delivery through instinct and give suggestions that giving birth is enjoyable, while acupressure can stimulate the release of endorphins in the blood. Many women are overshadowed by fear and even traumatized feelings of unbearable pain during childbirth, they cannot tolerate the pain because they are heavily influenced by stress. Several research reports show that in primitive societies, delivery is longer and painful, while in more advanced societies 7-14% give birth without pain and most (90%) delivery is accompanied by pain. This creates tension or panic that causes pain. Therefore, researchers are interested in examining the effect of hypnobirthing and acupressure on decreasing pain perception during delivery.Purpose: Analyzing the effect of hypnobirthing and acupressure on decreasing pain perception in the process.Method: Quantitative quasi experiment with the pre test post test research design. with purposive sampling technique, data analysis using SPSS software with paired T Test and Wilcoxon Signed Rank Test.Results: It was found that there was an effect of acupressure and hypnobirthing therapy (murottal therapy) on decreasing pain perception in maternity with a p value of 0.000 <0.05.Conclusion: Acupressure treatment on the perception of pain in partisipants is more influential than the treatment of Hypnobirthing (Murottal Music therapy) on the perception of pain in partisipants.Keywords: Hypnobirthing; Delivery; Acupressure; PainfulPendahuluan: Nyeri persalinan merupakan proses fisiologi yang dialami selama proses persalinan. Nyeri tersebut dapat diatasi dengan metode non farmakologi, yakni dengan metode hypnobirthing dan akupresur. Dimana hypnobirthing dapat memberikan rasa relaksasi yang mendasarkan pada keyakinan bahwa ibu hamil bisa mengalami persalinan melalui insting dan memberikan sugesti bahwa melahirkan itu nikmat, sedangkan akupresur dapat merangsang pengeluaran hormon endorphin dalam darah. Banyak wanita yang dibayangi ketakutan bahkan perasaan trauma akan nyeri yang tidak tertahankan saat persalinan, mereka tidak bisa mentolelir rasa nyeri tersebut karena banyak dipengaruhi oleh stres. Beberapa laporan penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, mengalami persalinan lebih lama dan nyeri, sedangkan masyarakat yang lebih maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%) persalinan disertai rasa nyeri. Hal tersebut menimbulkan ketegangan atau kepanikan yang menyebakan rasa sakit. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh hypnobirthing dan akupresur terhadap penurunan persepsi nyeri pada proses persalinan.Tujuan: Menganalisa pengaruh hypnobirthing dan akupresur terhadap penurunan persepsi nyeri pada proses persalinan.Metode: Kuantitatif quasy experiment dengan rancangan penelitian the pre test post test. dengan tekhnik purposive sampling analisis data menggunakan software SPSS dengan uji paired T Test dan uji Wilcoxon Signed Rank Test.Hasil: Diperoleh menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian  akupresur dan terapy hypnobirhting (terapy murrotal)  terhadap penurunan persepsi nyeri pada ibu bersalin dengan nilai p 0,000<0,05.Simpulan: Perlakuan Akupressur terhadap persepsi nyeri pada partisipan lebih berpengaruh dibandingkan perlakuan Hypnobirthing (terapy Music Murottal )  terhadap persepsi rasa nyeri pada partisipan.