cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,867 Documents
Pengaruh Video Animasi terhadap Pengetahuan tentang Pencegahan Skabies pada Anak Panti Rehabilitasi Diba, Zahra; Lestari, Theresia Budi; Pasaribu, Jesika
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.18051

Abstract

ABSTRACT Skin infection scabies often occurs among individuals in densely populated environments with high interpersonal contact, such as rehabilitation centers housing children from correctional facilities. Scabies infection can be prevented with good personal and environmental hygiene practices. Adequate knowledge is crucial for the prevention and management of scabies infections. This study aims to analyze the influence of health promotion using animated video media in increasing the knowledge of rehabilitated children regarding the prevention and management of scabies. This study employs a pre-experimental design with a one-group Pre-test–Post-test approach. The study sample consisted of 50 respondents, selected using the total sampling technique. Research instruments included animated videos and a knowledge questionnaire. Data collection was conducted in June 2023, with a Pre-test administered before providing the animated video and a Post-test given after a 15-day interval. Data analysis was performed using the Wilcoxon test. The majority of respondents had a high school education or equivalent (54%). There was a significant increase in knowledge between the Pre-test (median: 16.50) and the Post-test (median: 19.00). The minimum Pre-test score rose from 2 to 11 in the Post-test. Bivariate analysis showed significant results, with a p-value of 0.000 (<0.05). Animated videos are effective in increasing knowledge about scabies. This study is expected to serve as a media choice for health promotion related to scabies prevention. Keywords: Adolescents, Animated Video, Health Promotion, Scabies  ABSTRAK Infeksi kulit skabies sering terjadi di lingkungan padat dengan kontak interpersonal tinggi, seperti panti rehabilitasi yang dihuni oleh anak-anak dari lembaga pemasyarakatan. Pencegahan infeksi skabies dapat dilakukan melalui praktik kebersihan diri dan lingkungan yang baik. Peningkatan pengetahuan tentang skabies sangat penting untuk mengurangi risiko dan penyebaran infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh promosi kesehatan menggunakan video animasi dalam meningkatkan pengetahuan anak-anak di panti rehabilitasi tentang pencegahan dan penanganan skabies. Penelitian ini menggunakan desain Pre-Experimental dengan rancangan one group Pre-test–Post-test, melibatkan 50 responden yang dipilih secara total sampling. Data dikumpulkan pada Juni 2023 melalui Pre-testsebelum penayangan video animasi, dan Post-test dilakukan 15 hari setelah penayangan video animasi pada responden yang sama. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, dari median 16,50 pada Pre-test menjadi 19,00 pada Post-test, dengan nilai p-value yang sangat signifikan (0,000). Penemuan ini menegaskan bahwa video animasi efektif sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan skabies di kalangan anak-anak panti rehabilitasi. Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Remaja, Skabies, Video Animasi
Hubungan Perilaku Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian Bronkopneumonia pada Anak Balita di RS Ummi Kota Bogor Rahmah, Riham Siti; Ramadhani, Anggun Fajar; Martini, Eva
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21953

Abstract

ABSTRACT Bronchopneumonia is a type of pneumonia that is more common in children and infants, and is the leading cause of death in toddlers. Cigarette smoke is one of the causes of bronchopneumonia in toddlers who do not have a strong immune system. The presence of family members who smoke is a risk factor for bronchopneumonia in toddlers. The purpose of this study was to determine whether there is an association between family members' smoking behaviour and the incidence of bronchopneumonia in toddlers. The method used in this study was a cross-sectional observational approach. Researchers gave questionnaires to 34 respondents containing smoking behaviour of family members in all respondents. Based on the results of the Chi-Square test analysis, there was a significant association between family members' smoking behaviour and the incidence of bronchopneumonia in toddlers with a significance value of p = 0.001 (p < 0.05). This indicates that the smoking behaviour of family members is significantly associated with the incidence of bronchopneumonia in toddlers. The conclusion is that there is an association between the smoking behaviour of family members and the incidence of bronchopneumonia in toddlers, the worse the smoking behaviour of family members, the higher the likelihood of bronchopneumonia in toddlers. Keywords: Toddlers, Bronchopneumonia, Smoking Behaviour  ABSTRAK Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia yang lebih banyak dijumpai pada anak – anak dan bayi, penyakit ini menjadi penyebab utama kematian pada balita. Asap rokok menjadi salah satu penyebab terjadinya bronkopneumonia pada balita yang dimana mereka belum memiliki sistem imun yang kuat. Keberadaan anggota keluarga yang merokok menjadi faktor risiko terjadinya bronkopneumonia pada balita. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara perilaku merokok anggota keluarga dengan kejadian bronkpneumonia pada balita. Metode yang digunakan pada penlitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan observasional. Peneliti memberikan kuisioner kepada 34 responden yang berisi tentang perilaku merokok anggota keluarga pada seluruh responden. Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku merokok anggota keluarga dengan kejadian bronkopneumonia pada balita dengan nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku merokok anggota keluarga berhubungan secara signifikan dengan kejadian bronkopneumonia pada balita. Kesimpulanya adalah terdapat adanya hubungan antara perilaku merokok anggota keluarga dengan kejadian bronkopneumonia pada balita, semakin buruk perilaku merokok anggota keluarga makan semakin tinggi pula kemungkinan balita kembali mengalami bronkopneumonia.  Kata Kunci: Balita, Bronkopneumonia, Perilaku Merokok
Analisis Pencegahan Kecelakaan Kerja di Perusahaan: Literature Review Permatasari, Dyah Tri; Setyaningsih, Yuliani; Lestantyo, Daru
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21789

Abstract

ABSTRACT Through accident prevention analysis, we can identify the types of workplace accident prevention measures. Therefore, this study aims to analyze efforts to prevent workplace accidents in companies. This study adopts a literature review approach, with data collection conducted in a structured manner based on the PRISMA guidelines. The information search process was conducted not only through keywords but also by utilizing Boolean operators to optimize search results: “workplace accidents” AND “workplace safety” AND “companies” AND “accident prevention.” Inclusion criteria for article selection included publications published between 2020 and 2025. This study found that Occupational Safety and Health in companies is a system to protect the work environment from various potential hazards. Efforts to prevent workplace accidents are aimed at reducing or eliminating the possibility of incidents occurring in the workplace. This study analyzed various forms of workplace accident prevention efforts in companies, such as the implementation of OSH training, risk identification and assessment processes, the application of company OSH management systems, improvements in occupational safety and health standards, and the use of personal protective equipment. Research results show that Occupational Safety and Health (OSH) in the corporate environment is a system designed to protect all components of the workplace to prevent accidents, occupational diseases, and even deaths, through various preventive measures such as training, effective risk management, use of personal protective equipment (PPE), and strengthening of a safety culture in the workplace. Keywords: Accident Prevetion, Company, Occupational Safety, Workplace Accidents.  ABSTRAK Dengan analisis pencegehaan kecelakaan, kita dapat mengetahui jenis-jeins pencegahan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja di perusahaan;. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kajian literatur, dengan proses pengumpulan data yang dilakukan secara terstruktur berdasarkan pedoman PRISMA. Proses pencarian informasi dilakukan tidak hanya melalui kata kunci, tetapi juga dengan memanfaatkan operator Boolean guna mengoptimalkan hasil pencarian: “kecelakaan kerja” DAN “keselamatan kerja” DAN ‘perusahaan’ AND “pencegahan kecelakaan”, Kriteria inklusi dalam pemilihan artikel mencakup publikasi yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025. Penelitian ini menemukan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja di perusahaan merupakan suatu sistem untuk melindungi lingkungan kerja dari berbagai potensi bahaya. Upaya pencegahan kecelakaan kerja yang ditujukan untuk menurunkan atau menghilangkan kemungkinan terjadinya insiden di tempat kerja. Penelitian ini menganalisis berbagai bentuk upaya pencegahan kecelakaan kerja di perusahaan, seperti adanya pelaksanaan pelatihan K3, proses identifikasi dan penilaian risiko, penerapan sistem manajemen K3 perusahaan, peningkatan standar keselamatan dan kesehatan kerja, serta penggunaan alat pelindung diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan perusahaan merupakan suatu sistem yang dirancang untuk melindungi seluruh komponen tempat kerja untuk menghindari terjadinya kecelakaan, penyakit akibat kerja, hingga kematian, melalui berbagai upaya pencegahan seperti pelatihan, pengelolaan risiko yang efektif, pemanfaatan alat pelindung diri (APD), serta penguatan budaya keselamatan di tempat kerja. Kata Kunci: Kecelakaan Kerja, Keselamatan Kerja, Perusahaan, Pencegahan Kecelakaan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Petugas Pengolah Limbah Medis Padat di RS.X Kabupaten Jember Widyasari, Yosi; Cahyani, Septia Dwi; Susanto, Beni Hari
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22305

Abstract

ABSTRACTSolid medical waste management is a crucial aspect of maintaining environmental safety and health in healthcare facilities. This study aims to analyze internal and external factors influencing the behavior of waste management staff (cleaning service) in solid medical waste management at Hospital X in Jember Regency. The study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The results showed that internal factors, including knowledge, attitudes, and self-efficacy, influence medical waste management behavior. All respondents (100%) had good knowledge and attitudes, but only 21% had high self-efficacy. Meanwhile, among external factors, only infrastructure significantly influenced solid medical waste management behavior, while the role of superiors and work roles did not show a significant relationship (p > 0.05). The most dominant factors influencing solid medical waste management behavior were knowledge, attitudes, self-efficacy, and the availability of infrastructure. These findings emphasize the importance of regular outreach, facility support, and capacity building for staff in safe and effective medical waste management.Keywords: Solid Medical Waste, Officer Behavior, Knowledge, Self-Efficacy, Facilities and Infrastructure. ABSTRAK Pengolahan limbah medis padat merupakan aspek krusial dalam menjaga keselamatan lingkungan dan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku petugas pengolah limbah (cleaning service) dalam pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit X Kabupaten Jember. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional.Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal berupa pengetahuan, sikap, dan self efficacy memiliki pengaruh terhadap perilaku pengolahan limbah medis. Seluruh responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik (100%), namun hanya 21% yang memiliki self efficacy yang tinggi. Di sisi lain, dari faktor eksternal, hanya sarana prasarana yang terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku pengolahan limbah medis padat, sedangkan peran atasan dan peran kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05). Faktor yang paling dominan memengaruhi perilaku pengolahan limbah medis padat adalah pengetahuan, sikap, self efficacy, dan ketersediaan sarana prasarana. Temuan ini menegaskan pentingnya sosialisasi berkala, dukungan fasilitas, dan peningkatan kapasitas petugas dalam pengelolaan limbah medis yang aman dan efektif. Kata Kunci: Limbah Medis Padat, Perilaku Petugas, Pengetahuan, Self Efficacy, Sarana Prasarana. 
Uji Organoleptik dan Kandungan Gizi Makro pada Menu Diet Tb Paru Berbasis Pangan Lokal di RSUD Ulin Banjarmasin Bandawati, Bandawati; Prihandini, Yustin; Ramadhani, Aulia; Rusliana, Eka
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.20443

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease that requires nutritional therapy to accelerate the healing process and improve the nutritional status of patients. High protein intake and food that is easily accepted organoleptically are essential components in the diet of TB patients.This study aims to evaluate the macro nutrient content and the acceptance level (organoleptic test) of patin fish pepes as a local food-based diet menu at RSUD Ulin Banjarmasin. The research was conducted using a descriptive quantitative approach with laboratory analysis of the nutritional content and organoleptic testing by 30 respondents. The results of the analysis showed that patin fish pepes contained 35.22% protein, 23.33% carbohydrates, 12.38% fat, and 3.08% fiber. Meanwhile, the organoleptic test results showed a very high acceptance level for aroma (100%), color (96.7%), taste (93.3%), and texture (90.0%). The majority of respondents were in the young adult age group (21–45 years) and were male. These findings indicate that patin fish pepes is a nutritious, well-accepted menu option with local potential. This menu is recommended for implementation in hospital nutritional services as part of the dietary intervention for TB patients. Keywords: Tuberculosis, Patin Fish Pepes, Local Food, Nutritional Content, Organoleptic Test.  ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi kronis yang memerlukan dukungan terapi gizi untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan status gizi pasien. Asupan protein yang tinggi serta makanan yang mudah diterima secara organoleptik menjadi komponen penting dalam diet pasien TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan gizi makro dan tingkat penerimaan (uji organoleptik) terhadap pepes ikan patin sebagai menu diet berbasis pangan lokal di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis laboratorium kandungan gizi serta uji organoleptik oleh 30 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa pepes ikan patin mengandung protein sebesar 35,22%, karbohidrat 23,33%, lemak 12,38%, dan serat 3,08%. Sementara itu, hasil uji organoleptik menunjukkan tingkat kesukaan yang sangat tinggi terhadap aroma (100%), warna (96,7%), rasa (93,3%), dan tekstur (90,0%). Mayoritas responden berusia dewasa muda (21–45 tahun) dan berjenis kelamin laki-laki. Temuan ini menunjukkan bahwa pepes ikan patin merupakan alternatif menu diet yang bernilai gizi tinggi, disukai secara sensorik, serta relevan dengan potensi lokal. Menu ini direkomendasikan untuk diterapkan dalam pelayanan gizi rumah sakit sebagai bagian dari intervensi diet pasien TB paru. Kata Kunci: Tuberkulosis Paru, Pepes Ikan Patin, Pangan Lokal, Kandungan Gizi, Uji Organoleptik.
Kebiasaan Hidrasi dan Kaitannya dengan Luaran Klinis pada Pasien dengan Diabetes Insipidus (DI) Indratiawati, Indratiawati; Setyawan, Yuswanto
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22094

Abstract

ABSTRACT Diabetes insipidus (DI) is a rare water balance disorder characterized by polyuria and polydipsia, potentially leading to dehydration, hypernatremia, and reduced quality of life. Adequate hydration is crucial to prevent complications and improve clinical outcomes. This study aimed to determine the relationship between hydration habits and clinical outcomes in DI patients.A cross-sectional study was conducted involving 150 DI patients at RS X in Surabaya from January to June 2025. Hydration habits were measured using a validated structured questionnaire, while clinical outcomes were assessed from serum sodium levels, urine osmolality, and hospitalization frequency. Data analysis used Chi-square and Spearman’s correlation tests with a significance level of p < 0.05.Patients with good hydration habits had a lower incidence of hypernatremia (12.5% vs. 47.8%) and fewer hospitalizations (mean 0.6 vs. 2.1 times/year) compared to those with poor hydration (p = 0.004). Spearman’s correlation showed a significant positive correlation between hydration scores and clinical outcomes (r = 0.642, p < 0.001). Good hydration habits are significantly associated with improved clinical outcomes in DI patients, supporting the importance of patient education and continuous hydration monitoring. Keywords: Diabetes Insipidus, Hydration Habits, Clinical Outcomes, Hypernatremia  ABSTRAK  Diabetes insipidus (DI) merupakan kelainan keseimbangan cairan yang jarang terjadi, ditandai dengan poliuria dan polidipsia, yang dapat mengakibatkan dehidrasi, hipernatremia, dan penurunan kualitas hidup. Kebiasaan hidrasi yang memadai sangat penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan luaran klinis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kebiasaan hidrasi dengan luaran klinis pada pasien DI.Penelitian potong lintang dilakukan pada 150 pasien DI di RS X Surabaya periode Januari–Juni 2025. Kebiasaan hidrasi diukur menggunakan kuesioner terstruktur yang telah divalidasi, sedangkan luaran klinis dinilai dari kadar natrium serum, osmolaritas urin, dan frekuensi rawat inap. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p < 0,05.Pasien dengan kebiasaan hidrasi baik memiliki kejadian hipernatremia lebih rendah (12,5% vs. 47,8%) dan frekuensi rawat inap lebih sedikit (rata-rata 0,6 vs. 2,1 kali/tahun) dibandingkan dengan kebiasaan hidrasi buruk (p = 0,004). Korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara skor hidrasi dan luaran klinis (r = 0,642; p < 0,001).Kebiasaan hidrasi yang baik berhubungan signifikan dengan perbaikan luaran klinis pada pasien DI, sehingga edukasi pasien dan pemantauan hidrasi berkelanjutan sangat diperlukan.  Kata Kunci: Diabetes Insipidus, Kebiasaan Hidrasi, Luaran Klinis, Hipernatremia
Perbandingan Kualitas Variasi Konsentrasi Antosianin Ubi Ungu (Ipomoea batatas L.) dan Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) pada Pemeriksaan Telur Cacing STH Asmayani, Nurul; Putri, Novita Eka; Rahmawati, Yeni
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22891

Abstract

ABSTRACT Microscopic staining is an important step in the identification of Soil Transmitted Helminths (STH) eggs. The use of eosin as a synthetic dye is effective but has potential side effects on the environment. Therefore, safer and more environmentally friendly natural dye alternatives are needed, one of which is anthocyanin from purple sweet potato (Ipomoea batatas L.) and red spinach (Amaranthus tricolor L.). This study was conducted to compare the microscopic staining quality of purple sweet potato and red spinach juice on STH worm egg preparations with varying concentrations of 80%, 90%, and 100%. The study used a quasi-experimental design. Stool samples positive for STH were examined using the native method. Assessment of staining quality was carried out microscopically based on the contrast of the visual field and the clarity of the worm egg morphology. Data analysis used the Kruskal-Wallis and Mann-U Whitney tests. The results of the Kruskal-Wallis test showed a significant difference (p<0.05) between the concentrations used. A concentration of 100% provided the best staining quality for both types of dyes. The 100% red spinach dye had the highest mean rank value (18.50), equivalent to the eosin control. However, the Mann-U Whitney test between purple sweet potato and 100% red spinach showed no significant difference (p=0.056). Purple sweet potato and red spinach dyes have potential as alternatives to eosin in staining STH worm eggs, with the best effectiveness at a concentration of 100%. Keywords : Anthocyanin, Purple Sweet Potato, Red Spinach, Natural Dye, Soil Transmitted Helminths, Microscopic Examination  ABSTRAK Pewarnaan mikroskopis merupakan langkah penting dalam identifikasi telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH). Penggunaan eosin sebagai pewarna sintetik efektif namun memiliki potensi efek samping terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pewarna alami yang lebih aman dan ramah lingkungan, salah satunya adalah antosianin dari ubi ungu (Ipomoea batatas L.) dan bayam merah (Amaranthus tricolor L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan kualitas pewarnaan mikroskopis air perasan ubi ungu dan bayam merah pada sediaan telur cacing STH dengan variasi konsentrasi 80%, 90%, dan 100%. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen. Sampel berupa feses positif STH diperiksa menggunakan metode natif. Penilaian kualitas pewarnaan dilakukan secara mikroskopis berdasarkan kontras lapang pandang dan kejelasan morfologi telur cacing. Analisis data menggunakan uji Kruskal- Wallis dan Mann- U Whitney. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara konsentrasi yang digunakan. Konsentrasi 100% memberikan kualitas pewarnaan terbaik untuk kedua jenis pewarna. Pewarna bayam merah 100% memiliki nilai mean rank tertinggi (18,50), setara dengan kontrol eosin. Namun, uji Mann- U Whitney antara ubi ungu dan bayam merah 100% menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p=0,056). Pewarna ubi ungu dan bayam merah memiliki potensi sebagai alternatif eosin dalam mewarnai telur cacing STH, dengan efektivitas terbaik pada konsentrasi 100%. Namun, kedua pewarna tersebut masih belum efektif dalam menggantikan kontrol positif. Kata Kunci: Antosianin, Ubi Ungu, Bayam Merah, Pewarna Alami, Soil Transmitted Helminths, Pemeriksaan Mikroskopis
Gambaran Infertilitas Pada Wanita Berdasarkan Status Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) Rskia Sadewa Poha, Salzabilla; Irfani, Farida Noor; Bimantara, Arif
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22588

Abstract

ABSTRACT Infertility is a complex condition that can be caused by various factors, including imbalances in reproductive hormones such as Follicle-Stimulating Hormone (FSH) and Luteinizing Hormone (LH). To describe infertility in women based on FSH and LH hormone levels at RSKIA Sadewa. This study used a descriptive quantitative method with secondary data obtained from the medical records of infertile female patients at RSKIA Sadewa during the period of July 2024 to June 2025. Data were analyzed univariately and Chi-square using SPSS. Examinations for infertility were most commonly performed in women aged 26–35 years. Abnormal levels of FSH and LH were more frequently observed in age groups <25 years and >35 years. Chi-square test showed no significant association between age and FSH levels (p=0.371) or LH levels (p=0.377). There is no significant association between FSH and LH levels and age in infertile women. Infertility is multifactorial, influenced not only by hormonal levels but also by other factors beyond the reproductive hormonal system. Keywords: Infertility, FSH Hormone, LH Hormone, Female Reproduction  ABSTRAK Infertilitas merupakan permasalahan kompleks yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakseimbangan hormon reproduksi seperti Folliclestimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH).Mengetahui gambaran infertilitas pada wanita berdasarkan kadar hormon FSH dan LH di RSKIA Sadewa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder dari rekam medis pasien wanita infertil di RSKIA Sadewa periode Juli 2024–Juni 2025. Data dianalisis secara univariat dan uji Chi-square menggunakan SPSS.Pemeriksaan infertilitas paling banyak ditemukan pada wanita usia 26–35 tahun. Abnormalitas kadar FSH dan LH lebih sering terjadi pada kelompok usia <25 tahun dan >35 tahun. Uji Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia dengan kadar FSH (p=0,371) maupun LH (p=0,377). Tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar FSH dan LH dengan usia pada wanita infertil. Infertilitas bersifat multifaktorial, tidak hanya dipengaruhi kadar hormon, tetapi juga faktor lain di luar sistem hormonal. Kata kunci: Infertilitas, Hormon FSH, Hormon LH, Reproduksi Wanita
Hubungan Karakteristik dan Pengetahuan Terhadap Perilaku Caring Perawat Dalam Merawat Pasien Paliatif di RS X Jakarta Sitohang, Mona Neyma; Setiyowati, Yovita
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.20647

Abstract

ABSTRACT Palliative care is a treatment that focuses on alleviating symptoms and improving the quality of life of patients in the final phase of life. Through caring behavior, nurses can create an environment that supports the quality of life of patients, where patients feel valued as special individuals. This study aims to analyze the relationship between characteristics, knowledge and caring behavior in caring for palliative patients. This study was conducted at RS X,in November 2024. The method in this study used a cross-sectional design with the Chi-Square and Kendall’s tahu b Kendall's tau c tests with a sample size of 49 respondents. The results of the study found that the majority were female (89.8%), had a nursing education (61.2%), had a work experience of >5 years (51.0%), were 21-39 years old(81.6%), had never attended training (81.6%). Most respondents (51.0%) had sufficient knowledge and 71.4% of nurses showed good caring behavior. This study emphasizes the importance of attention to the characteristics and knowledge of nurses to improve caring behavior in palliative care. Keywords: Characteristics, Knowledge, Caring Behavior, Palliative Care ABSTRAK Perawatan Paliatif merupakan perawatan yang berfokus pada meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien di fase akhir hayat. Melalui perilaku caring, perawat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kualitas hidup pasien, dimana pasien merasa dihargai sebagai individu yang istimewa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik, pengetahuan terhadap perilaku caring dalam merawat pasien paliatif. Penelitian ini dilakukan di RS X, pada bulan November 2024. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji Chi-Square, Kendall’s tahu b dan Kendall’s tau C dengan jumlah sampel 49 responden. Hasilpenelitian didapatkan mayoritas berjenis kelamin perempuan (89,8%), berpendidikan Ners (61,2%), dengan masa kerja >5 tahun (51,0%), berusia 21-39 tahun (81,6%), belum pernah mengikuti pelatihan (81,6%). Sebagian besar responden (51,0%) memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 71,4% perawat menunjukkan perilaku caring yang baik. Penelitian ini menekankan pentingnya perhatian terhadap karakteristik dan pengetahuan perawat untukmeningkatkan perilaku caring dalam perawatan paliatif. Kata Kunci: Karakteristik, Pengetahuan, perilaku caring, perawatan paliatif
Evaluasi Program Rumah Pelita Daycare Sekar Kasih sebagai Salah Satu Upaya Zero Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Sekaran Puspita, Nabila; Zainafree, Intan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.18316

Abstract

 ABSTRACT Stunting is one of the nutritional problems that still occurs in many developing countries, including Indonesia. Stunting is a condition where children grow smaller than their peers. Children are said to be stunted if they have a Z-Score value of less than -2 SD to -3 SD which means they are stunted, and less than -3 SD indicates severely stunted children. Stunting globally in 2022 has a prevalence of 22.3% or 148.1 million children under 5 years old experiencing stunting conditions. This study aims to evaluate the Rumah Pelita Daycare Sekar Kasih program as a special daycare for stunted children by improving parenting and child feeding patterns by the Semarang City Government. This research uses a qualitative approach with a case study design. The informants in this study consisted of 4 main informants and 8 triangulation informants. The instruments used in this research are interview guidelines and documentation. The results showed that the Input aspect in the implementation of this program was good. The Process aspect is still not maximally implemented, one of which is due to incomplete infrastructure. The Output aspect is declared good because Sekar Kasih Daycare has graduated 14 children from stunting. The conclusion of this study is that Daycare Sekar Kasih staff can increase their efforts in attracting parents with stunted children to register with Daycare Sekar Kasih. Another suggestion is that the Semarang City Government is expected to make a law or permanent regulation that can be used to regulate and supervise the implementation of the Rumah Pelita Daycare program as a whole. Keywords: Daycare, Stunting, Evaluation  ABSTRAK  Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang masih banyak terjadi di berbagai negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Stunting adalah keadaan dimana anak tumbuh lebih kecil dibandingkan dengan anak seusianya. Anak dikatakan stunting apabila anak memiliki nilai Z-Score yang kurang dari -2 SD hingga -3 SD yang berarti menunjukkan anak pendek (stunted), dan kurang dari -3 SD menunjukkan anak sangat pendek (severely stunted). Stunting secara global pada tahun 2022 memiliki prevalensi sebanyak 22,3% atau 148,1 juta anak dibawah 5 tahun mengalami kondisi stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program Rumah Pelita Daycare Sekar Kasih sebagai tempat penitipan anak khusus untuk anak-anak stunting dengan memperbaiki pola asuh dan pola pemberian makan anak yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 4 informan utama dan 8 informan triangulasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan aspek Input (masukan) dalam pelaksanaan program ini sudah baik. Aspek Process (proses) masih belum terlaksana dengan maksimal yang salah satunya disebabkan karena sarana prasarana yang belum lengkap. Aspek Output (keluaran) dinyatakan baik karena telah Daycare Sekar Kasih meluluskan 14 anak dari stunting. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu petugas Daycare Sekar Kasih dapat meningkatkan meningkatkan upaya mereka dalam menarik orangtua dengan anak-anak stunting untuk mendaftar ke Daycare Sekar Kasih. Saran lainnya yaitu Pemerintah Kota Semarang diharapkan membuat undang-undang atau peraturan tetap yang dapat digunakan untuk mengatur dan mengawasi pelaksanaan program Daycare Rumah Pelita secara menyeluruh. Kata Kunci: Daycare, Stunting Evaluasi

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue