cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 2,078 Documents
Pengaruh Faktor Risiko Kejadian Pneumonia pada Bayi dengan Budaya Panggang ( Se’i ) di UPT Puskesmas Nulle Ferawati Tulle; Pius Weraman; Yendris K. Syamruth; Shinta Lisa Purimahua; Anderias Umbu Roga
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25981

Abstract

ABSTRACT Pneumonia is a leading cause of infant mortality, especially in areas with high exposure to indoor air pollution and certain cultural practices. The roasting culture (se’i) in Timor Tengah Selatan may increase the risk of pneumonia due to prolonged smoke exposure in enclosed spaces with inadequate ventilation. This study aimed to analyze the influence of risk factors on the incidence of pneumonia among infants in the working area of UPT Puskesmas Nulle. This study used an analytical observational design with a case-control approach involving 154 infants, consisting of 77 cases and 77 controls. Data were analyzed using multiple logistic regression to determine significant factors associated with pneumonia incidence. The results showed that the regression model was significant (p=0.000), with a Nagelkerke R Square value of 0.616 and a classification accuracy of 78.6%. Significant variables associated with pneumonia were nutritional status (p=0.012; OR=3.899; 95% CI=1.345–11.298), vitamin A supplementation (p=0.001; OR=5.610; 95% CI=2.007–15.681), smoking habits (p=0.006; OR=3.974; 95% CI=1.482–10.656), and roasting culture (se’i) (p=0.000; OR=11.033; 95% CI=3.950–30.813) as the most dominant factor. Meanwhile, immunization status, exclusive breastfeeding, housing density, home ventilation, and firewood use were not significantly associated (p0.05). Roasting culture increases infant pneumonia risk. Keywords: Nutritional Status, Pneumonia, Roasting Culture, Smoking Habits, Vitamin A.  ABSTRAK Pneumonia merupakan penyebab utama kematian bayi, terutama di wilayah dengan paparan asap tinggi dan praktik budaya tertentu. Budaya panggang (se’i) di Kabupaten Timor Tengah Selatan berpotensi meningkatkan risiko pneumonia akibat paparan asap dalam ruang tertutup tanpa ventilasi memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor risiko terhadap kejadian pneumonia pada bayi di wilayah kerja UPT Puskesmas Nulle. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case-control dengan jumlah sampel 154 bayi yang terdiri dari 77 kasus dan 77 kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik berganda untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kejadian pneumonia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi signifikan (p=0,000), dengan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,616 dan akurasi klasifikasi sebesar 78,6%. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kejadian pneumonia adalah status gizi (p=0,012; OR=3,899; 95% CI=1,345–11,298), pemberian vitamin A (p=0,001; OR=5,610; 95% CI=2,007–15,681), kebiasaan merokok (p=0,006; OR=3,974; 95% CI=1,482–10,656), serta budaya panggang se’i (p=0,000; OR=11,033; 95% CI=3,950–30,813) sebagai faktor paling dominan. Sementara itu, variabel status imunisasi, pemberian ASI eksklusif, kepadatan hunian, ventilasi rumah, dan penggunaan kayu bakar tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p0,05). Budaya panggang meningkatkan risiko pneumonia bayi. Kata Kunci: Budaya Panggang, Kebiasaan Merokok, Pneumonia, Status Gizi, Vitamin A.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Angka Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Menteng Kota Palangka Raya Syamira Syamira; Husaini Husaini; Nelly Al Audhah; Erida Wydiamala; Ermina Istiqomah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25859

Abstract

ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever remains a major public health problem in Indonesia, with increasing incidence in Palangka Raya City. This study aimed to analyze factors associated with the incidence of Dengue Hemorrhagic Fever in Menteng Subdistrict, Palangka Raya City. An analytical observational study with a case-control design was conducted involving 130 respondents with a 1:1 ratio between case and control groups. Data were collected through interviews using structured questionnaires and direct observation using checklists. Statistical analysis was performed using Chi-Square tests. The results showed no significant association between knowledge and Dengue Hemorrhagic Fever incidence (p=1.000). However, attitude (p=0.002), water storage conditions (p=0.008), and housing conditions (p=0.011) were significantly associated with the incidence. Attitude and poor housing conditions increased the risk of Dengue Hemorrhagic Fever, while proper water storage acted as a protective factor. In conclusion, attitude, water storage conditions, and housing conditions are significantly associated with Dengue Hemorrhagic Fever incidence in Menteng Subdistrict, Palangka Raya City. Keywords: Attitude, Dengue Hemorrhagic Fever, Housing Condition, Knowledge, Water Storage.  ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, dengan angka kejadian yang terus meningkat di Kota Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang terkait dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Menteng, Kota Palangka Raya. Penelitian observasional analitis dengan desain kasus-kontrol dilakukan dengan melibatkan 130 responden dengan rasio 1:1 antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan observasi langsung menggunakan daftar periksa. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kejadian Demam Berdarah Dengue (p=1,000). Namun, sikap (p=0,002), kondisi penyimpanan air (p=0,008), dan kondisi perumahan (p=0,011) secara signifikan terkait dengan insidensi. Sikap dan kondisi perumahan yang buruk meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue, sedangkan penyimpanan air yang baik berperan sebagai faktor pelindung. Kesimpulannya, sikap, kondisi penyimpanan air, dan kondisi perumahan secara signifikan terkait dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Menteng, Kota Palangka Raya. Kata Kunci: Sikap, Demam Berdarah Dengue, Kondisi Rumah, Pengetahuan, Penyimpanan Air.
Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbahan Pangan Lokal Selama 90 Hari Terhadap Perubahan Status Gizi Balita Gizi Kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Narmada Periode Agustus - Oktober 2025 Makiyatunnisa Makiyatunnisa; Rifana Cholidah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25746

Abstract

ABSTRACT Undernutrition in toddlers, including wasting and stunting, remains a significant public health challenge in Indonesia. Local food-based Supplementary Feeding (PMT) is an intervention strategy aimed at improving nutritional status sustainably. This study aims to evaluate the effect of a 90-day local food PMT intervention on the nutritional status of undernourished toddlers in the Narmada Health Center working area, West Lombok Regency. This study employed a pre-experimental design (one-group pretest-posttest). The sample consisted of 130 undernourished toddlers selected through purposive sampling. The intervention involved providing local food-based supplementary feeding for 90 days. Nutritional status data were measured pre- and post-intervention. Data were analyzed using descriptive statistics and chi-square tests to examine the association between demographic factors and changes in nutritional status. There was a significant improvement in the nutritional status of toddlers after the 90-day PMT intervention (p 0.05). The mean body weight increased, followed by a decrease in the prevalence of undernutrition. Statistical analysis showed that the age group of 25–59 months and normal birth weight were significantly associated with nutritional improvement (p 0.05). Conversely, gender, gestational age, and exclusive breastfeeding history did not show a significant effect on nutritional changes in this study. Local food-based PMT is effective in improving the nutritional status of undernourished toddlers. Sustainable local PMT programs, integrated with nutritional education for parents, are highly recommended to ensure optimal growth and development of toddlers at the community level. Keywords: Supplementary Feeding, Nutritional Status, Toddlers, Local Food, Narmada Health Center.  ABSTRAK Masalah kekurangan gizi pada balita, termasuk wasting dan stunting, tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal merupakan salah satu strategi intervensi untuk memperbaiki status gizi secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh intervensi PMT pangan lokal selama 90 hari terhadap perubahan status gizi balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental (one-group pretest-posttest). Sampel terdiri dari 130 balita dengan status gizi kurang yang dipilih secara purposif. Intervensi berupa pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal dilakukan selama 90 hari. Data status gizi diukur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji deskriptif dan uji statistik chi-square untuk melihat hubungan faktor demografis dengan perubahan status gizi. Terdapat peningkatan signifikan pada status gizi balita setelah intervensi PMT selama 90 hari (p 0,05). Rata-rata berat badan balita mengalami peningkatan yang disertai dengan penurunan prevalensi gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok usia 25–59 bulan dan berat badan lahir normal memiliki hubungan signifikan dengan perbaikan status gizi (p 0,05). Sebaliknya, faktor jenis kelamin, usia kehamilan, dan riwayat ASI eksklusif tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perubahan status gizi dalam penelitian ini. Pemberian PMT berbahan pangan lokal efektif dalam meningkatkan status gizi balita gizi kurang. Program PMT lokal yang berkelanjutan, didukung dengan edukasi gizi bagi orang tua, sangat direkomendasikan untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal di tingkat masyarakat. Kata Kunci: Pemberian Makanan Tambahan, Status Gizi, Balita, Pangan Lokal, Puskesmas Narmada.
Determinan yang Mempengaruhui Implemntasi Confrence Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Naryati Naryati; Aisyah Aisyah; Siti Latipah; Giri Widakdo; Nuraenah Nuraenah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.27322

Abstract

ABSTRACT Pre-conference and post-conference activities are essential components of nursing care management because they facilitate coordination, care planning, evaluation, and the exchange of clinical information among nurses. Inadequate implementation of nursing conferences may increase the risk of communication errors, discontinuity of care, and threats to patient safety. Objective: This study aimed to analyze factors associated with the implementation of nursing conferences in the inpatient wards of Jakarta Islamic Hospital Cempaka Putih. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population and sample consisted of 122 inpatient nurses. Data were collected using a Likert-scale questionnaire measuring nurses’ attitudes, supervision, workload, management support, and conference implementation. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: Most respondents were female (82%), held a professional nursing degree (73%), were classified as Clinical Nurse Level I (36.1%), and had worked for less than five years (50.8%). The majority of respondents demonstrated good conference implementation, accounting for 94 nurses (77%). Most nurses had poor attitudes toward conference implementation (61.5%) and perceived supervision as poor (69.7%). Most respondents had a moderate workload (59.8%) and received good management support (72.1%). Bivariate analysis showed that nurses’ attitudes, supervision, workload, and management support were significantly associated with nursing conference implementation (p 0.001). Conclusion: The implementation of nursing conferences is associated with both individual and organizational factors, particularly nurses’ attitudes, supervision, workload management, and management support. Hospitals should strengthen supervision, monitoring, workload arrangements, and compliance with pre-conference and post-conference procedures to improve nursing care coordination and patient safety. Keywords: Management Support, Nurse Attitude, Nursing Conference, Supervision, Workload.  ABSTRAK Pre conference dan post conference merupakan bagian penting dalam manajemen asuhan keperawatan karena berfungsi sebagai sarana koordinasi, perencanaan, evaluasi, dan penyampaian informasi klinis antarperawat. Pelaksanaan conference yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko kesalahan komunikasi, ketidaksinambungan asuhan, dan gangguan terhadap keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan implementasi conference perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 122 perawat ruang rawat inap. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert yang mengukur sikap, supervisi, beban kerja, dukungan manajemen, dan implementasi conference. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (82%), berpendidikan profesi Ners (73%), berada pada jenjang Perawat Klinik I (36,1%), serta memiliki masa kerja kurang dari lima tahun (50,8%). Implementasi conference mayoritas berada dalam kategori baik, yaitu sebanyak 94 perawat (77%). Mayoritas perawat memiliki sikap dalam kategori buruk (61,5%), supervisi buruk (69,7%), beban kerja sedang (59,8%), dan dukungan manajemen baik (72,1%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa sikap, supervisi, beban kerja, dan dukungan manajemen memiliki hubungan yang bermakna dengan implementasi conference perawat (p 0,001). Kesimpulan: Implementasi conference perawat dipengaruhi oleh faktor individual dan organisasi, terutama sikap perawat, pelaksanaan supervisi, pengelolaan beban kerja, dan dukungan manajemen. Rumah sakit perlu memperkuat supervisi, monitoring, pengaturan beban kerja, serta kepatuhan terhadap prosedur pre conference dan post conference untuk meningkatkan koordinasi asuhan dan keselamatan pasien. Kata Kunci: Beban Kerja, Conference Keperawatan, Dukungan Manajemen, Sikap Perawat, Supervise.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Ispa Pada Usia ≥15 Tahun di Wilayah Industri Puskesmas Kertamukti, Karawang Namira Wadjir Sangadji; Susi Shorayasari; Riswandi Azkadea Novan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.26314

Abstract

ABSTRACT Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health concern in Indonesia, particularly in industrial areas. Kertamukti Community Health Center in Karawang — located within a densely industrialized region — has recorded a steady increase in ARI prevalence among adults aged ≥15 years, from 2.0% in 2022 to 2.5% in the first semester of 2024. This study aims to identify the factors associated with the incidence of ARI among the population aged ≥15 years in the working area of Kertamukti Community Health Center, Karawang Regency. A cross-sectional study was conducted on 125 respondents selected through purposive sampling from outpatients of the Public Polyclinic in August 2024. The dependent variable was ARI status (based on medical records), while the independent variables included sex, smoking status, knowledge of ARI, mask use, hand-washing habits, mosquito coil use, body mass index, and perceived air pollution exposure. Data were analyzed using chi-square tests for bivariate analysis and binary logistic regression for multivariate analysis. The bivariate analysis indicated that smoking status (p=0.001; PR=2.27) and sex (p=0.002; PR=2.13) were significantly associated with ARI. The multivariate logistic regression revealed that smoking status was the most dominant predictor (p0.001; Exp(B)=4.416; 95% CI: 1.970–9.900), while mask use showed a strong protective trend (p=0.077; Exp(B)=2.051). The apparent association with sex disappeared after adjusting for smoking, indicating a confounding effect. Smoking is the dominant risk factor for ARI among adults in an industrial area. Public health interventions should prioritize tobacco control and the consistent use of masks as protective measures. Keywords: ARI, Smoking, Mask Use, Industrial Area, Adult, Karawang.  ABSTRAK Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di kawasan industri. Puskesmas Kertamukti di Karawang yang berada di wilayah padat industri mencatat kenaikan prevalensi ISPA pada usia ≥15 tahun, yaitu dari 2,0% pada 2022 menjadi 2,5% pada semester pertama 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada usia ≥15 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kertamukti, Karawang. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) terhadap 125 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling dari pasien Poli Umum Rawat Jalan pada Agustus 2024. Variabel terikat adalah status ISPA berdasarkan rekam medis, sedangkan variabel bebas mencakup jenis kelamin, status merokok, pengetahuan ISPA, penggunaan masker, kebiasaan cuci tangan, penggunaan obat anti-nyamuk bakar, indeks massa tubuh, dan persepsi paparan polusi udara. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk analisis multivariat. Analisis bivariat menunjukkan bahwa status merokok (p=0,001; PR=2,27) dan jenis kelamin (p=0,002; PR=2,13) berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA. Pada analisis multivariat, status merokok merupakan prediktor paling dominan (p0,001; Exp(B)=4,416; IK 95%: 1,970–9,900), sedangkan penggunaan masker (p=0,077; Exp(B)=2,051). Hubungan dengan jenis kelamin hilang setelah dikontrol oleh variabel merokok, mengindikasikan adanya efek perancu (confounding). Merokok merupakan faktor risiko paling dominan untuk kejadian ISPA pada orang dewasa di wilayah industri. Intervensi kesehatan masyarakat perlu memprioritaskan program pengendalian tembakau dan penggunaan masker yang konsisten. Kata Kunci: ISPA, Merokok, Penggunaan Masker, Wilayah Industri, Dewasa, Karawang.
Dinamika Epidemiologi Demam Berdarah Dengue dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat: Tren Satu Dekade dan Variabilitas Iklim di Nusa Tenggara Barat Eva Hikmatul Damayanti; Nurhidayati Nurhidayati; Deasy Irawati; Marisa Syavitri
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25916

Abstract

ABSTRACT Dengue hemorrhagic fever remains a pressing public health concern in tropical regions, although the influence of climatic factors varies across local settings. This study aims to describe the epidemiological patterns of dengue over a ten-year period in West Nusa Tenggara (NTB), Indonesia, and to examine its association with climate variability. Secondary annual data from 2015 to 2024 were analyzed, including dengue incidence, mortality, and case fatality rate (CFR), along with meteorological indicators such as average and maximum temperature, relative humidity, rainfall, number of rainy days, and duration of sunshine. Descriptive statistics were performed, followed by simple linear regression to explore potential relationships. Time series modeling was applied to assess predictive capacity. Dengue incidence ranged from 10.7 to 88.9 per 100,000 population (mean 51.7/100,000), with CFR consistently below 2%. Annual variations coincided with major disruptive events, including the 2018 earthquake and the COVID-19 pandemic. Linear regression analysis demonstrated consistent patterns: relative humidity showed a positive association with incidence (B ≈ +9.8, R² up to 0.45, p = 0.071 when pandemic years were excluded), whereas average temperature and sunshine duration exhibited inverse relationships. Rainfall and number of rainy days showed weak and inconsistent associations. Time series analysis using Holt’s exponential smoothing captured short-term variability (stationary R² = 0.82) but produced relatively high prediction error (MAPE 44%). In NTB, dengue incidence fluctuates annually and is influenced by climatic variability as well as extraordinary events such as earthquakes and the COVID-19 pandemic. Relative humidity appears to be the most consistent climatic determinant. Time series modeling reflects short-term trends but lacks precision, underscoring the importance of strengthening local surveillance systems. Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, Climate Variability, Epidemiology, Humidity, West Nusa Tenggara.  ABSTRAK Demam berdarah dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang mendesak di wilayah tropis, namun pengaruh iklim bervariasi antar konteks lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan epidemiologi demam berdarah dengue selama satu dekade di Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia, dan mengkaji hubungannya dengan variabilitas iklim. Data tahunan sekunder dari tahun 2015–2024 dianalisis, meliputi insiden demam berdarah, mortalitas, dan tingkat fatalitas kasus (CFR) beserta indikator meteorologi (suhu rata-rata dan maksimum, kelembapan relatif, curah hujan, hari hujan, dan durasi sinar matahari). Statistik deskriptif dilakukan, dilanjutkan dengan regresi linier sederhana untuk mengeksplorasi hubungan. Pemodelan deret waktu diterapkan untuk menilai potensi prediktif. Insiden dengue berkisar antara 10,7 dan 88,9 per 100.000 penduduk (rata-rata 51,7/100.000), dengan CFR secara konsisten di bawah 2%. Fluktuasi tahunan bertepatan dengan peristiwa anomali seperti gempa bumi tahun 2018 dan pandemi COVID-19. Regresi linier menunjukkan tren yang konsisten: kelembapan relatif berkorelasi positif dengan insiden (B ≈ +9,8, R² hingga 0,45, p = 0,071 ketika tahun pandemi tidak termasuk), sementara suhu rata-rata dan durasi sinar matahari berkorelasi terbalik. Curah hujan dan hari hujan memberikan kontribusi asosiasi yang lemah dan tidak konsisten. Analisis deret waktu (pemulusan eksponensial Holt) menangkap variabilitas jangka pendek (R² stasioner = 0,82) tetapi menunjukkan kesalahan prediksi yang tinggi (MAPE 44%). Di NTB, insiden demam berdarah berfluktuasi setiap tahun, dipengaruhi oleh variasi iklim serta kejadian luar biasa seperti gempa bumi dan wabah COVID-19. Kelembapan menunjukkan hubungan paling konsisten dengan insiden. Pemodelan deret waktu mencerminkan pola jangka pendek tetapi kurang presisi, sehingga menyoroti pentingnya sistem pengawasan lokal. Kata Kunci: Demam Berdarah, Perubahan Iklim, Epidemiologi, Kelembaban, Nusa Barat Tenggara.
Hubungan Pengetahuan Keluarga tentang Kesehatan Jiwa dengan Penerimaan Terhadap Anggota Keluarga ODGJ di Wilayah Kerja Puskesmas Ciherang Gina Sukriyah Amala; Sifa Fauziah; Shinta Arini Ayu
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25930

Abstract

ABSTRACT Mental health is a state of well-being that enables individuals to develop optimally. In the work area of Ciherang Community Health Center, there was a decrease in visits by patients with mental disorders (ODGJ), which is suspected to be related to the family's understanding and acceptance. This study aims to determine the relationship between family knowledge about mental health and acceptance of family members with ODGJ in the work area of Ciherang Community Health Center. This quantitative research used a correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 94 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using the Mental Health Knowledge Schedule (MAKS) and the Family Attitude Scale (FAS) questionnaires. Data analysis was performed using the Spearman Rank correlation test. Most respondents had a sufficient level of knowledge (63.8%) and a high level of acceptance (86.2%). The bivariate analysis showed a significance value of 0.555 (p 0.05) with a correlation coefficient (R) of -0.062. There is no significant relationship between family knowledge about mental health and acceptance of family members with ODGJ. Acceptance is more likely influenced by affective factors such as affection and moral responsibility rather than clinical knowledge alone. Keywords: Family Knowledge, Acceptance, ODGJ, Mental Health.  ABSTRAK Kesehatan jiwa merupakan kondisi kesejahteraan yang memungkinkan individu berkembang optimal. Di wilayah kerja Puskesmas Ciherang, ditemukan adanya penurunan kunjungan pasien ODGJ yang diduga berkaitan dengan faktor pemahaman dan penerimaan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan keluarga tentang kesehatan jiwa dengan penerimaan terhadap anggota keluarga ODGJ di wilayah kerja Puskesmas Ciherang. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 94 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Mental Health Knowledge Schedule (MAKS) dan Family Attitude Scale (FAS). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rank. Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup (63,8%) dan tingkat penerimaan dalam kategori tinggi (86,2%). Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,555 (p 0,05) dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar -0,062. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan keluarga tentang kesehatan jiwa dengan penerimaan terhadap anggota keluarga ODGJ. Penerimaan keluarga lebih banyak dipengaruhi oleh faktor afektif seperti kasih sayang dan tanggung jawab moral dibandingkan hanya sekadar pengetahuan klinis. Kata Kunci: Pengetahuan Keluarga, Penerimaan, ODGJ, Kesehatan Jiwa.
Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri di Wilayah Kerja Puskesmas Narmada Baiq Maulida Amani; Adli Putra Nugraha; Pratiwi Anggraini; Putu Cicilia Rarasati Kuta; Rizqina Alya Shafa
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25747

Abstract

ABSTRACT Anemia in female adolescents remains a significant public health concern as it can impair cognitive concentration and lead to long-term health complications during pregnancy; although Iron-Folic Acid (IFA) supplementation programs have been implemented, consumption adherence remains suboptimal. This descriptive study aims to identify the factors influencing the adherence to IFA supplement consumption among 120 adolescent female respondents within the Narmada Public Health Center work area, selected using the Slovin formula. Data were collected via questionnaires covering IFA distribution, knowledge, attitudes, and practices (KAP), and subsequently analyzed using univariate analysis. The results revealed that while all respondents received IFA supplements from their schools (100%), only 64.2% consumed them according to the recommended guidelines. Furthermore, despite a high level of knowledge among the majority of respondents (97.5%), positive attitudes were only observed in 44.2%, and positive behavioral practices were recorded at 54.2%. Consequently, it can be concluded that while knowledge regarding anemia and IFA supplementation is generally good, consumption adherence remains low due to the prevalence of negative attitudes and behaviors; therefore, enhanced education, counseling, and strengthened school-based support are essential to optimize IFA supplement adherence. Keywords: Anemia, Iron-Folic Acid Supplementation, Adolescent Girls, Knowledge, Attitude, Practice.  ABSTRAK Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan serius karena dapat mengganggu konsentrasi belajar dan berlanjut hingga kehamilan; meskipun program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) telah dilaksanakan, namun kepatuhan konsumsi belum optimal. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi TTD pada 120 responden remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Narmada yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai distribusi TTD, pengetahuan, sikap, serta perilaku, yang kemudian dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden menerima TTD dari sekolah (100%), namun hanya 64,2% yang mengonsumsinya sesuai anjuran; selain itu, mayoritas responden memiliki pengetahuan baik (97,5%), tetapi sikap positif hanya ditunjukkan oleh 44,2% responden dan perilaku positif tercatat pada 54,2% responden. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan remaja putri tentang anemia dan TTD tergolong baik, tetapi kepatuhan konsumsi masih rendah akibat dominasi sikap dan perilaku negatif, sehingga diperlukan peningkatan edukasi, pendampingan, dan dukungan sekolah agar kepatuhan konsumsi TTD dapat lebih optimal. Kata Kunci: Anemia, Tablet Tambah Darah, Remaja Putri, Pengetahuan, Sikap, Perilaku.
Faktor yang Berhubungan dengan Fatigue Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS H.L. Manambai Abdulkadir Sumbawa Andri Juwita Pranado; Evi Gustia Kesuma; Lina Dewi Anggraeni
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.27691

Abstract

ABSTRACT Fatigue affects 60 to 80 percent of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. A local preliminary survey showed that 60 percent of patients experienced severe fatigue. However, studies integrating physiological, psychological, clinical, and healthcare access factors within a single analytical model remain limited. Factors associated with fatigue and the most dominant factor among patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis were identified in this study. This quantitative observational analytic study employed a cross sectional approach. From a population of 69 patients, 59 respondents were selected using the Slovin formula and purposive sampling. Data were collected between 4 and 18 June 2026 using the FACIT-F, the HARS, and a medical record observation form. Data were analyzed using the Chi Square test and binary logistic regression with SPSS. The largest proportion of respondents experienced severe fatigue (35.6 percent). Bivariate analysis showed that hemoglobin level (p = 0.003; OR = 5.556), comorbidities (p = 0.001; OR = 6.111), anxiety (p = 0.028; OR = 3.429), and duration of hemodialysis (p = 0.046; OR = 2.923) were significantly associated with fatigue. Hemodialysis frequency (p = 0.250) and distance to the facility (p = 0.902) were not significantly associated. Multivariate analysis showed that hemoglobin level was the most dominant factor (AOR = 13.534; p = 0.002), followed by comorbidities (AOR = 11.759; p = 0.002) and anxiety (AOR = 5.183; p = 0.034). Duration of hemodialysis was no longer significant after adjustment (p = 0.078). Fatigue assessment in hemodialysis units should be integrated with hematological monitoring, comorbidity identification, and psychological screening, with anemia control as the primary priority. Keywords: Anxiety, Chronic Kidney Disease, Fatigue, Hemodialysis, Hemoglobin Level.  ABSTRAK Fatigue dialami 60 sampai 80 persen pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Survei awal setempat menunjukkan 60 persen pasien mengalami fatigue berat. Namun, kajian yang mengintegrasikan faktor fisiologis, psikologis, klinis, dan akses layanan dalam satu model analisis masih terbatas. Diketahuinya faktor yang berhubungan dengan fatigue serta faktor paling dominan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis diidentifikasi melalui penelitian ini. Penelitian kuantitatif analitik observasional ini menggunakan pendekatan potong lintang. Dari populasi 69 pasien, sebanyak 59 responden dipilih menggunakan rumus Slovin dan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan pada 4 sampai 18 Juni 2026 menggunakan FACIT-F, HARS, dan lembar observasi rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi Square dan regresi logistik biner dengan SPSS. Proporsi terbesar responden mengalami fatigue berat sebesar 35,6 persen. Analisis bivariat menunjukkan kadar hemoglobin (p = 0,003; OR = 5,556), penyakit penyerta (p = 0,001; OR = 6,111), kecemasan (p = 0,028; OR = 3,429), dan lama hemodialisis (p = 0,046; OR = 2,923) berhubungan signifikan dengan fatigue. Frekuensi hemodialisis (p = 0,250) dan jarak ke fasilitas (p = 0,902) tidak berhubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan kadar hemoglobin merupakan faktor paling dominan (AOR = 13,534; p = 0,002), diikuti penyakit penyerta (AOR = 11,759; p = 0,002) dan kecemasan (AOR = 5,183; p = 0,034). Lama hemodialisis tidak lagi signifikan setelah dikontrol (p = 0,078). Pengkajian fatigue di unit hemodialisis perlu diintegrasikan dengan pemantauan status hematologis, identifikasi komorbiditas, dan skrining psikologis, dengan pengendalian anemia sebagai prioritas utama. Kata Kunci: Fatigue, Gagal Ginjal Kronik, Hemodialisis, Kadar Hemoglobin, Kecemasan.
Evaluasi Kesiapan Puskesmas dalam Era JKN Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Kabupaten Timor Tengah Selatan Maria Irena Faot; Yendris Krisno Syamruth; Fransiskus Geroda Mado; Anderias Umbu Roga; Imelda F.E Manurung
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.26003

Abstract

ABSTRACT Community Health Centers as primary healthcare facilities play an important role in supporting and improving public health including dental and oral health by providing high-quality healthcare services, particularly in delivering optimal services for communities within their working areas. Service quality is a key indicator influencing the community’s willingness to utilize healthcare services at Community Health Centers. This study aimed to analyze the readiness of Community Health Centers in the National Health Insurance toward the utilization of dental and oral health services in South Central Timor Regency. This study employed a quantitative research design and was conducted during February 2026. A total of 49 respondents were selected using a simple random sampling technique. Bivariate analysis using the Chi-Square test showed that there was no significant influence of the service system and regulations on service utilization (p = 0.366). However, there was a significant influence of the availability of healthcare personnel on service utilization (p = 0.049), the availability of facilities and infrastructure on healthcare service utilization (p = 0.039), and the availability of service types on healthcare service utilization (p = 0.012). Furthermore, multivariate analysis using ordinal regression demonstrated that the greater the readiness of facilities and infrastructure, the higher the utilization of healthcare services, while lower readiness in service types was associated with lower utilization. Overall, this study indicates that the service system and regulations had no significant influence on healthcare service utilization, while the availability of healthcare personnel, facilities and infrastructure, and service types significantly influenced the utilization of dental and oral health services. To improve the utilization of dental and oral health services at Community Health Centers in South Central Timor Regency, equitable distribution of healthcare personnel, adequate provision of facilities and infrastructure, and expansion of dental and oral healthcare service types are required. Keywords: Community Health Center Readiness, National Health Insurance, Dental and Oral Health Services.  ABSTRAK Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama berperan penting dalam mendukung dan meningkatkan kesehatan umum termasuk kesehatan gigi dan mulut dengan memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi, terutama dalam menyediakan pelayanan yang optimal bagi masyarakat di wilayah kerjanya. Kualitas pelayanan menjadi indikator utama agar masyarakat mau mengakses pelayanan kesehatan di puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan puskesmas di era JKN terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dilakukan selama bulan Februari 2026, jumlah sampel 49 responden dipilih dengan teknik simple random sampling. Uji bivariat menggunakan Chi-Square yang diperoleh tidak ada pengaruh system pelayanan dan regulasi terhadap pemanfaatan pelayanan dengan p=0.366, ada pengaruh ketersediaan tenaga kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan p=0.049, ada pengaruh ketersediaan sarana prasarana terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan p=0.039 dan ada pengaruh ketersediaan jenis pelayanan terhadap pemanfaatan pelayanan p=0.012. Sementara itu multivariat menggunakan regresi ordinal hasilnya menunjukkan semakin siap ketersediaan sarana prasarana semakin tinggi pemanfaatan pelayanan kesehatan, semakin tidak siap ketersediaan jenis pelayanan semakin rendah pemanfaatan pelayanan kesehatan. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh system pelayanan dan regulasi terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan dan ada pengaruh ketersediaan tenaga kesehatan, sarana prasarana dan jenis pelayanan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut puskesmas yang ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan perlu adanya pemerataan tenaga kesehatan, perlu adanya pemenuhan ketersediaan sarana prasarana dan penambahan jenis pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas. Kata Kunci: Kesiapan Puskesmas, Jaminan Kesehatan Nasional, Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026) Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026) Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026) Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026) Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026) Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue