cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 2,078 Documents
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Lama Berdagang dengan Pengetahuan Pedagang tentang Penggunaan Formalin Pada Ikan Kembung dan Ikan Bandeng Asti Lathifah; Windi Wulandari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25863

Abstract

ABSTRACT Formaldehyde (formalin) is a chemical substance strictly prohibited as a food additive in Indonesia, however its misuse in fresh fish continues to be an unresolved public health concern. The use of formalin by fish traders in traditional markets is closely linked to their level of knowledge, which is influenced by educational attainment and trading experience. This study aimed to analyse the relationship between education level and length of trading with traders’ knowledge regarding formalin use in mackerel (ikan kembung) and milkfish (ikan bandeng) in traditional markets in Surakarta. This study was a cross-sectional analytical survey involving 48 traders from 16 traditional markets in Surakarta selected by accidental sampling. Data were collected using a validated questionnaire and analysed using Fisher’s Exact Test (α = 0.05).  There was a significant relationship between education level and traders’ knowledge (p 0.001). No significant relationship was found between length of trading and knowledge (p = 0.267). Education level significantly influences traders’ knowledge about formalin, whereas length of trading does not. Structured non-formal education programs are needed, especially for traders with low educational backgrounds. Keywords: Education Level, Length of Trading, Knowledge, Formalin.  ABSTRAK Formalin merupakan bahan kimia yang secara tegas dilarang penggunaannya sebagai bahan tambahan pangan di Indonesia, namun penyalahgunaannya pada ikan segar masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang belum terselesaikan. Penggunaan formalin oleh pedagang ikan di pasar tradisional berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki, yang dipengaruhi oleh jenjang pendidikan dan pengalaman berdagang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pendidikan dan lama berdagang dengan pengetahuan pedagang ikan kembung dan bandeng mengenai penggunaan formalin di Pasar Tradisional Surakarta. Penelitian ini merupakan survei analitik cross-sectional yang melibatkan 48 pedagang dari 16 pasar tradisional di Surakarta menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tervalidasi dan dianalisis dengan Fisher’s Exact Test(α = 0.005). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan pedagang (p  0.001). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama berdagang dengan pengetahuan pedagang (p = 0.267). Tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan pedagang tentang formalin, sedangkan lama berdagang tidak berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan pedagang tentang formalin. Program pendidikan nonformal yang terstruktur sangat dibutuhkan, terutama bagi pedagang dengan latar belakang pendidikan rendah. Kata Kunci: Tingkat Pendidikan, Lama Berdagang, Pengetahuan, Formalin.
Pengaruh Pemberian Kombinasi Ekstrak Daun Sirih dan Salep Topikal Terhadap Tingkat Kesembuhan Santri Penderita Skabies Di Pesantren Probolinggo Moh Husyn Ainul Yaqin
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25803

Abstract

ABSTRACT Scabies is a contagious skin infestation commonly found in crowded environments such as Islamic boarding schools. Standard topical therapy is often used, yet the healing process may take several days and is prone to secondary infection. Betel leaf (Piper betle L.) extract has antimicrobial and anti-inflammatory properties that may accelerate healing. This study aimed to analyze the effect of a combination of betel leaf extract and topical gentamicin ointment on the healing duration of scabies among students in Arrofi’iyah Islamic Boarding School. A quasi-experimental design with two treatment groups was conducted from 10–29 July 2024. Total sampling was used involving 50 respondents diagnosed with scabies. Group 1 received topical gentamicin ointment, while Group 2 received a combination of betel leaf extract and topical gentamicin. Data were analyzed using Shapiro-Wilk normality test, Levene’s homogeneity test, and independent sample t-test. Data were normally distributed (p0.05) and homogeneous (p=0.507). The mean healing time in the gentamicin group was 6.04 days, while the combination group was 4.65 days. Independent t-test showed a significant difference (t=5.78; p0.001) with a mean difference of 1.39 days. The combination of betel leaf extract and topical gentamicin significantly accelerates scabies healing compared to gentamicin alone. Keywords: Scabies, Betel Leaf Extract, Topical Therapy, Gentamicin, Healing Duration.  ABSTRAK Skabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei dan sering terjadi pada lingkungan padat seperti pondok pesantren. Pengobatan skabies umumnya menggunakan terapi topikal, namun pemanfaatan bahan herbal seperti ekstrak daun sirih memiliki potensi mempercepat proses penyembuhan karena sifat antiseptik dan antiinflamasi.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi ekstrak daun sirih dan salep gentamicin terhadap lama penyembuhan skabies pada santri di Pondok Pesantren Arrofi’iyah Semampir Kraksaan Kabupaten Probolinggo.  Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok yang diberikan salep gentamicin saja dan kelompok yang diberikan kombinasi ekstrak daun sirih dan salep gentamicin. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden 50 santri. Analisis data dilakukan menggunakan uji Independent Sample T-Test setelah memenuhi uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji homogenitas Levene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama penyembuhan pada kelompok gentamicin adalah 6,04 hari, sedangkan pada kelompok kombinasi ekstrak daun sirih dan gentamicin adalah 4,65 hari. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok (p 0,001), yang menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak daun sirih dan gentamicin lebih efektif dalam mempercepat penyembuhan dibandingkan gentamicin saja.  Kombinasi ekstrak daun sirih dan salep gentamicin terbukti lebih efektif dalam mempercepat penyembuhan skabies pada santri dibandingkan penggunaan salep gentamicin saja. Kata Kunci: Skabies, Ekstrak Daun Sirih, Terapi Topikal.
Beyond Knowledge: Determinan Sosial Pengetahuan Pencegahan DBD pada Masyarakat Daerah Endemis Syahrun Syahrun; Iskandar Muda; Fanny Metungku
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25928

Abstract

ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is still a public health problem in endemic areas such as Jahab Village, Tenggarong. Knowledge serves as the basis for preventive behavior, but there is generally a gap between knowledge and practice. This study aims to analyze social determinants (age, gender, education, and occupation) on the level of knowledge about dengue prevention in communities in endemic areas. The study uses a descriptive design analysis of a cross-sectional approach. With 100 respondents selected by consecutive sampling, using an instrument consisting of a structured questionnaire (results tested for validity = 0.184 and results tested for reliability Cronbach's alpha = 0.815. Descriptive statistical methods are used to describe the distribution of knowledge, and the Chi-Square test (α = 0.05) is used as an association test between variables. Most respondents (60%) had good knowledge of dengue prevention, 34% moderate, and 6% less. The univariate CHI-SQ test was conducted and the results showed a very significant association between education and knowledge of dengue prevention (χ² = 31,482, df = 6, p = 0.001), as well as between employment and knowledge of dengue prevention (χ² = 29,874; df = 10; p = 0.003). Respondents with a university education (100%), teachers (100%) and respondents working in the private sector scored well (95.2%). The T-test and the chi-square large population test showed that age (χ² = 6,341, df = 3 p = 0.093) and sex (χ² = 1,675; df = 2 p = 0.432) showed no statistically significant association. Identified a relationship between social determinants (education and employment) and knowledge of dengue prevention that were statistically significant, while age and gender showed no statistical significance. These results suggest that knowledge-targeting interventions need to consider education stratification and work-based access to information. However, just good knowledge is not enough because new approaches must be obtained through knowledge in order for the noble goal of continuing preventive attitudes and behaviors to be achieved. Keywords: Social Determinants, Knowledge of Dengue Prevention, Education, Employment, Beyond Knowledge.   ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di daerah endemis seperti Desa Jahab, Tenggarong. Pengetahuan berfungsi sebagai dasar bagi perilaku pencegahan, tetapi umumnya terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan praktik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan sosial (usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan) terhadap tingkat pengetahuan tentang pencegahan DBD pada masyarakat daerah endemis. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik pendekatan cross-sectional. Dengan populasi 305 orang, diambil 100 responden yang dipilih secara Consecutive sampling, menggunakan Instrumen yang terdiri dari kuesioner terstruktur (hasil diuji validitasnya = 0,184 dan hasil diuji reliabilitasnya Cronbach’s alpha = 0,815. Metode statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan distribusi pengetahuan, dan uji Chi-Square (α = 0,05) digunakan sebagai uji asosiasi antarvariabel. Sebagian besar responden (60%) memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan DBD, 34% sedang, dan 6% kurang. Uji univariat CHI-SQ dilakukan dan hasil menunjukkan adanya asosiasi yang sangat signifikan antara pendidikan dan pengetahuan pencegahan DBD (χ² = 31.482, df = 6, p = 0.001), serta antara pekerjaan dan pengetahuan pencegahan DBD (χ² = 29.874; df = 10; p = 0.003). Responden dengan pendidikan universitas (100%), guru (100%) dan responden yang bekerja di sektor swasta memperoleh skor baik (95,2%). Uji T-test dan uji populasi besar chi-square menunjukkan bahwa usia (χ² = 6.341, df = 3 p = 0,093) dan jenis kelamin (χ² = 1.675; df = 2 p = 0,432) tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan secara statistik. Mengidentifikasi adanya hubungan antara determinan sosial (pendidikan dan pekerjaan) dan pengetahuan pencegahan DBD yang secara statistik signifikan, sedangkan usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan signifikansi statistik. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi yang menargetkan pengetahuan perlu mempertimbangkan stratifikasi pendidikan dan akses informasi berbasis pekerjaan. Namun, hanya pengetahuan yang baik tidak cukup karena pendekatan baru harus diperoleh melalui pengetahuan agar tujuan mulia untuk melanjutkan sikap dan perilaku pencegahan dapat tercapai. Kata Kunci: Determinan Sosial, Pengetahuan Pencegahan DBD, Pendidikan, Pekerjaan, Beyond Knowledge.
Hubungan Kebersihan Rongga Mulut dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Sekolah Dasar Kelas 1 dan 2 di SDN 2 Karanglewas Lor Kecamatan Purwokerto Barat, Banyumas Arneta Agil Istiqomah; Yektiningtyastuti Yektiningtyastuti; Supriyadi Supriyadi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.26099

Abstract

ABSTRACT Dental caries is a common oral health problem in children. Poor oral hygiene, such as plaque buildup, plays a role in increasing the risk of dental caries in children. This study aims to determine the relationship between oral hygiene and the incidence of dental caries in elementary school children in grades 1 and 2. This study is a quantitative study with a correlational research design. The data collection was carried out cross-sectionally. The population of this study was 71 students in grades 1 and 2 of SDN 2 Karanglewas Lor. A sample of 60 people was taken using a purposive sampling technique. Data collection used questionnaires and dental caries observation sheets. Data analysis used the chi-square test. The results showed a significant relationship between oral hygiene conditions with the incidence of dental caries (p = 0.001, OR = 0.264, 95% CI = 0.084-0.826). Children with poor oral hygiene have a 0.264 times higher risk of developing caries. Oral hygiene is significantly associated with the incidence of dental caries in school-age children. Therefore, promotional and preventive efforts need to focus on improving oral hygiene in school-age children. Keywords: Dental Caries, Oral Hygiene, School-Age Children.  ABSTRAK Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang umum terjadi pada anak-anak. Kebersihan rongga mulut yang buruk, seperti penumpukan plak, berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya karies gigi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebersihan rongga mulut dengan kejadian karies gigi pada anak usia sekolah dasar kelas 1 dan 2. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Rancangan pengambilan data dilakukan secara cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 1 dan 2 SDN 2 Karanglewas Lor yang berjumlah 71 anak. Sampel penelitian sebanyak 60 orang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi karies gigi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi kebersihan rongga mulut dengan kejadian karies gigi (p = 0,001, OR = 0,264, 95% CI = 0,084-0,826). Anak dengan kebersihan mulut yang buruk memiliki risiko 0,264 kali lebih tinggi untuk mengalami karies. Kebersihan rongga mulut berhubungan secara signifikan dengan kejadian karies gigi pada anak usia sekolah. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif perlu difokuskan pada peningkatan kebersihan mulut pada anak usia sekolah. Kata Kunci: Karies Gigi, Kebersihan Rongga Mulut, Anak Usia Sekolah.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Ibu dalam Deteksi Dini Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Nulle Jennie Luisa Boboy; Pius Weraman; Sintha Purimahua; Marni Marni; Anderias Umbu Roga
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25925

Abstract

ABSTRACT Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality in children under five, and early detection plays a crucial role in preventing severe complications. Maternal behavior is an important factor in recognizing early symptoms of pneumonia. This study aims to analyze factors influencing maternal behavior in early detection of pneumonia among under-five children in the working area of Nulle Public Health Center. This research used a quantitative analytic survey with a cross-sectional design. A total of 94 mothers with children aged 0–59 months were selected using systematic random sampling. Data were collected using structured questionnaires based on the Health Belief Model (HBM) and analyzed using chi-square and multiple logistic regression tests. The results showed that most mothers did not perform early detection of pneumonia (60.6%). Bivariate analysis indicated that perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy were significantly associated with maternal behavior (p 0.05). Multivariate analysis revealed that self-efficacy was the most dominant factor influencing maternal behavior (OR = 2.594; 95% CI: 1.500–4.486). Self-efficacy is the most influential factor in maternal behavior regarding early detection of pneumonia. Strengthening maternal confidence through health education is essential to improve early detection practices. Keywords: Pneumonia, Early Detection, Maternal Behavior, Health Belief Model, Self-Efficacy.  ABSTRAK Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita, sehingga deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat. Perilaku ibu berperan penting dalam mengenali gejala awal pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam deteksi dini pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Nulle. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 94 ibu yang memiliki balita, dipilih menggunakan teknik systematic random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Health Belief Model (HBM) dan dianalisis dengan uji chi-square serta regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tidak melakukan deteksi dini pneumonia (60,6%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, dan self-efficacy dengan perilaku ibu (p 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa self-efficacy merupakan faktor paling dominan (OR = 2,594; 95% CI: 1,500–4,486). Self-efficacy merupakan faktor paling berpengaruh terhadap perilaku ibu dalam deteksi dini pneumonia. Peningkatan keyakinan diri ibu melalui edukasi kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan praktik deteksi dini. Kata Kunci: Pneumonia, Deteksi Dini, Perilaku Ibu, Health Belief Model, Efikasi Diri.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Tenaga Kefarmasian di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Theresia Agnesta Nae Rani; Anderias Umbu Roga; Jacob Matheos Ratu; Jefri S. Bale; Luh Putu Ruliati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25832

Abstract

ABSTRACT The performance of pharmaceutical personnel is an important factor in supporting the quality of pharmaceutical services in hospitals. Several factors such as job stress, workload, burnout, job satisfaction, and personality type can affect the performance of pharmaceutical personnel in providing services to patients. This study aimed to analyze the effect of job stress, workload, burnout, job satisfaction, and personality type on the performance of pharmaceutical personnel at Prof. DR. W. Z. Johannes Regional General Hospital Kupang. This study used a quantitative analytic method with a cross-sectional design. The population consisted of all pharmaceutical personnel at Prof. DR. W. Z. Johannes Regional General Hospital Kupang, totaling 42 respondents. The sampling technique used was total sampling. Data were collected using questionnaires measuring job stress, workload, burnout, job satisfaction, personality type, and pharmaceutical personnel performance. Data were analyzed using logistic regression with a significance level of 0.05. The results showed that job stress had a significant effect on pharmaceutical personnel performance (p=0.006; OR=0.027), indicating that lower job stress was associated with better performance. Job satisfaction also had a significant effect on performance (p=0.014; OR=24.774), indicating that pharmaceutical personnel with high job satisfaction were 24.7 times more likely to have good performance. Meanwhile, workload (p=0.128; OR=0.166), burnout (p=0.238; OR=0.276), and personality type (p=0.948; OR=1.050) did not have a significant effect on performance. Job satisfaction was the most dominant factor affecting the performance of pharmaceutical personnel, while job stress also significantly influenced performance with a negative relationship direction. Hospitals need to improve job satisfaction and manage job stress levels to enhance the quality of pharmaceutical services. Keywords: Burnout, Performance, Job Stress, Pharmaceutical Personnel.  ABSTRAK Kinerja tenaga kefarmasian merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Berbagai faktor seperti stres kerja, beban kerja, burnout, kepuasan kerja, dan tipe kepribadian dapat memengaruhi kinerja tenaga kefarmasian dalam melaksanakan pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stres kerja, beban kerja, burnout, kepuasan kerja, dan tipe kepribadian terhadap kinerja tenaga kefarmasian di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan desain potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kefarmasian di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang sebanyak 42 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga seluruh populasi dijadikan responden penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur variabel stres kerja, beban kerja, burnout, kepuasan kerja, tipe kepribadian, dan kinerja tenaga kefarmasian. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja tenaga kefarmasian (p=0,006; OR=0,027), yang menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat stres kerja maka kinerja tenaga kefarmasian semakin baik. Kepuasan kerja juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja tenaga kefarmasian (p=0,014; OR=24,774), yang menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian dengan kepuasan kerja tinggi memiliki peluang 24,7 kali lebih besar untuk memiliki kinerja baik. Sementara itu, beban kerja (p=0,128; OR=0,166), burnout (p=0,238; OR=0,276), dan tipe kepribadian (p=0,948; OR=1,050) tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja tenaga kefarmasian. Kepuasan kerja merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kinerja tenaga kefarmasian, sedangkan stres kerja juga berpengaruh signifikan dengan arah hubungan negatif. Oleh karena itu, rumah sakit perlu meningkatkan kepuasan kerja serta mengelola tingkat stres kerja tenaga kefarmasian guna meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian. Kata Kunci: Burnout, Kinerja, Stres Kerja, Tenaga Kefarmasian.
Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri: Systematic Literature Review Kartipani Handina; Musafaah Musafaah; Fujiati Fujiati; Meitria Syahadatina Noor; Ermina Istiqomah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25748

Abstract

ABSTRACT Anemia among adolescent girls remains an important public health problem because it affects learning capacity, physical fitness, and reproductive health in later life. Iron Supplementation Tablets (Tablet Tambah Darah/TTD) programs have been widely implemented; however, the success of these programs is highly dependent on adherence to tablet consumption. This study aimed to synthesize scientific evidence regarding factors associated with adherence to iron supplementation tablet consumption among adolescent girls. This study was conducted as a systematic literature review using the PRISMA 2020 guidelines and the PECO framework. Literature searching was carried out through Google Scholar, ScienceDirect, and PubMed/PMC for primary research articles published in Indonesian or English between 2021 and 2026. A total of 20 articles met the inclusion criteria and were included in the qualitative synthesis. The review found that the factors most consistently associated with adherence were knowledge of anemia and iron supplementation tablets, understanding of tablet-taking instructions, information exposure, family support, peer support, teacher and health worker support, attitudes and motivation, tablet availability, and the quality of school-based program implementation. The most frequently reported barriers were forgetfulness, unpleasant taste, nausea or side effects, the perception of not needing the tablets, and inadequate reminders or counseling. Intervention studies also showed that digital reminders, app-based education, and strengthened school programs could improve adherence. Improving adherence to iron supplementation tablet consumption among adolescent girls requires a multilevel approach that integrates education, clear instruction communication, social support, tablet availability, and sustainable reminder strategies. Keywords: Iron Supplementation, Adherence, Adolescent Girls, Anemia.  ABSTRAK Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting karena berdampak pada kapasitas belajar, kebugaran, dan kesehatan reproduksi pada masa mendatang. Program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) telah diterapkan secara luas, namun keberhasilan program sangat ditentukan oleh kepatuhan konsumsi. Penelitian ini bertujuan menyintesis bukti ilmiah mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri. Penelitian disusun secara systematic literature review dengan acuan PRISMA 2020 dan kerangka PECO. Penelusuran dilakukan pada Google Scholar, Sciencedirect, dan PubMed/PMC terhadap artikel primer berbahasa Indonesia atau Inggris tahun 2021–2026. Sebanyak 20 artikel diinklusi dalam sintesis kualitatif. Hasil review menunjukkan bahwa faktor yang paling konsisten berhubungan dengan kepatuhan adalah pengetahuan tentang anemia dan TTD, pemahaman instruksi minum tablet, paparan informasi, dukungan keluarga, dukungan teman sebaya, dukungan guru/tenaga kesehatan, sikap dan motivasi, ketersediaan tablet, serta kualitas implementasi program sekolah. Hambatan yang paling sering muncul adalah lupa, rasa tidak enak, mual/efek samping, persepsi tidak membutuhkan tablet, dan lemahnya pengingat atau konseling. Studi intervensi menunjukkan bahwa pengingat digital, edukasi berbasis aplikasi, dan penguatan program sekolah dapat meningkatkan kepatuhan. peningkatan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri memerlukan pendekatan multilevel yang menggabungkan edukasi, komunikasi instruksi yang jelas, dukungan sosial, ketersediaan tablet, dan strategi pengingat yang berkelanjutan. Kata Kunci: Tablet Tambah Darah, Kepatuhan, Remaja Putri, Anemia.
Profil Pasien COVID-19 dengan Hipertensi di RS Lapangan Indrapura Surabaya Muchammad Alydrus; Erwin Astha Triyono; Wardah Rahmatul Islamiyah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.12056

Abstract

ABSTRACT Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a type of disease caused by the severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV-2).  Hypertension is one of the comorbidities that can exacerbate COVID-19 in patients. This study aims to determine the profile of patient with COVID-19 and hypertension to support appropriate clinical management for these patients can be determined. A retrospective study was conducted to review the medical records of COVID-19 patients with hypertension who were treated at Indrapura Field Hospital in Surabaya during February - August 2021. Of the 3997 COVID-19 patients treated at the Indrapura Field Hospital, Surabaya for the period February - August 2021 the final sample obtained was 575 COVID-19 patients with hypertension (14,39%).  Two hundred and twenty-three (38,8%) were female patients and 352 (61,2%) were male patients.  The mean age is 47.2 years.  Most of the patients (209, 36,3%) were aged 41-50. The most common nutritional status in patients was Obesity I, found in 225 patients (39,1%).  Three hundred and sixty-one patients (62,8%) were self-employed.  COVID-19 patients with hypertension were classified as mild in 394 (68,5%). From all COVID-19 patients with hypertension, 540 recovered from their disease (93,3%).  The most frequently found clinical symptom was cough in 248 patients (43,1%) and vitamins were the most symptomatic therapy given to 572 patients (99,5%).  Type I hypertension was found in the most in patients, namely 258 patients (44,9%) and 426 patients received therapy, namely monotherapy (74,1%).  Another comorbidity that was found the most in patients COVID-19 with hypertension was diabetes (48, 8,3%).Conclusion: Of the 3997 COVID-19 patients who were treated at RS Lapangan Indrapura in Surabaya for the period February - August 2021, 575 patients were found to have comorbid hypertension. The majority of COVID-19 patients with comorbid hypertension are male in the age range of 41-50 and the clinical degree is mild and suffers from clinical symptoms such as coughing. Keywords: COVID-19, Hypertension, Profile.  ABSTRAK Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV-2). Hipertensi menjadi salah satu komorbid yang dapat memperparah pasien COVID-19.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita COVID-19 dengan hipertensi sehingga bermanfaat untuk menentukan tatalaksana yang tepat bagi pasien. Studi retrospektif dilakukan untuk mengkaji rekam medis pasien COVID-19 dengan hipertensi yang dirawat di RS Lapangan Indrapura Surabaya selama Februari – Agustus 2021.Dari 3997 pasien COVID-19 yang dirawat di RS Lapangan Indrapura Surabaya ditemukan 575 pasien dengan komorbid hipertensi (14,39%). Dua ratus dua puluh tiga (38,8%) adalah pasien wanita dan 352 (61,2%) adalah pasien laki-laki. Usia rata-rata adalah 47,2 tahun. Sebagian besar pasien (209, 36,3%) termasuk dalam usia 41-50. Status gizi paling banyak pada pasien adalah obesitas I yaitu 225 pasien (39,1%) dan 361 pasien (62,8%) bekerja sebagai wiraswasta. Pasien COVID-19 dengan hipertensi yang tergolong ringan sebanyak 394 (68,5%) dan seluruh pasien COVID-19 dengan hipertensi, sebanyak 540 (93,3%) sembuh. Gejala klinis paling banyak ditemukan adalah batuk yaitu 248 pasien (43,1%) dan vitamin merupakan terapi simptomatik yang paling banyak diberikan kepada 572 pasien (99,5%). Hipertensi tipe I paling banyak ditemukan pada pasien, yaitu 258 pasien (44,9%) dan sebanyak 426 pasien mendapatkan terapi yaitu monoterapi (74,1%). Komorbid lain yang ditemukan paling banyak pada pasien COVID-19 dengan hipertensi adalah diabetes (48, 8,3%). Dari 3997 pasien COVID-19 yang dirawat di RS Lapangan Indrapura Surabaya periode Februari - Agustus 2021  ditemukan 575 pasien dengan komorbid hipertensi. Mayoritas pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi berjenis kelamin laki-laki dalam rentang usia 41-50 dan derajat klinis ringan serta menderita gejala klinis berupa batuk. Kata Kunci: COVID-19, Hipertensi, Profil
Pengaruh Edukasi Gula Tersembunyi terhadap Pengetahuan Pencegahan Peningkatan Gula Darah di Puskesmas Kuin Raya Gina Yustia Putri; Jenny Saherna; Diah Retno Wulan; Dessy Hadrianti
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.26004

Abstract

ABSTRACT Increased consumption of hidden sugar is a risk factor for elevated blood sugar levels, while limited public knowledge about hidden sugar sources may hinder diabetes prevention efforts.This study aimed to determine the effect of hidden sugar education on improving knowledge of blood sugar prevention in the Kuin Raya Community Health Center area. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was conducted on 42 respondents selected using total sampling. The intervention consisted of hidden sugar education delivered through lectures with PowerPoint media and leaflet distribution. Knowledge levels were measured before and after the intervention using a validated questionnaire and analyzed with the Wilcoxon test. The findings showed a significant increase in respondents’ knowledge scores after the intervention, with the Wilcoxon test indicating a meaningful difference between pre-test and post-test scores (p 0.05) and an effect size of r = 0.80, reflecting a large effect. Hidden sugar education proved effective in enhancing respondents’ knowledge and has the potential to serve as a practical promotive and preventive strategy in primary health care facilities. Keywords: Education, Blood Sugar, Hidden Sugar, Prevention, Knowledge.  ABSTRAK Peningkatan konsumsi gula tersembunyi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya peningkatan kadar gula darah. Keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai sumber gula tersembunyi berpotensi menghambat upaya pencegahan diabetes melitus.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gula tersembunyi terhadap peningkatan pengetahuan dalam pencegahan peningkatan gula darah di wilayah kerja Puskesmas Kuin Raya.Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan desain one group pretest-posttest pada 42 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi yang diberikan berupa edukasi mengenai gula tersembunyi melalui metode ceramah dengan media PowerPoint dan pembagian leaflet. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan responden setelah diberikan edukasi gula tersembunyi. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pre-test dan post-test (p 0,05), dengan nilai effect size sebesar r = 0,80 yang menunjukkan pengaruh besar. Edukasi gula tersembunyi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan responden dan berpotensi menjadi strategi promotif dan preventif yang aplikatif di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Kata Kunci: Edukasi, Gula Darah, Gula Tersembunyi, Pencegahan, Pengetahuan.
Analisis Pengaruh Komponen Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Terhadap Kinerja Pegawai di Unit Rawat Jalan RSUD Batara Guru Kabupaten Luwu Alfan Satria; Farida Yuliaty; Rukhiyat Rukhiyat; Vip Paramarta; Kosasih Kosasih
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25890

Abstract

ABSTRACT Software, hardware, and brainware of hospital management information systems play a role in employee performance, although there are still problems/weaknesses in each variable that need to be improved. This study focuses on providing a deeper understanding of software, hardware, and brainware of hospital management information systems on employee performance. The object of this study was employees at the outpatient unit of Batara Guru Regency Hospital with a total sample of 62 respondents. The data analysis used multiple linear regression, correlation coefficient analysis, and coefficient of determination analysis. The results showed that respondents' opinions on software, hardware, and brainware of the hospital management information system were in the good category, although there were still weaknesses in each variable. The multiple regression equation model shows a positive and unidirectional functional relationship with the equation Y = 3.637 + 0.293 (X1) + 0.289 (X2) + 0.302 (X3) + e. Partial and simultaneous hypothesis testing showed a positive and significant influence. Software, hardware, and brainware of hospital management information systems have a positive and significant effect on employee performance. Keywords: Software, Hardware, Brainware, Employee Performance.  ABSTRAK Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang terdiri dari aspek software, hardware, dan brainware memiliki peran penting dalam menunjang kinerja pegawai, khususnya di unit rawat jalan rumah sakit. Namun, dalam implementasinya masih terdapat beberapa kendala yang dapat memengaruhi efektivitas kinerja pegawai. Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh software, hardware, dan brainware dalam SIMRS terhadap kinerja pegawai. Sampel penelitian ini adalah pegawai pada unit rawat jalan RSUD Batara Guru Kabupaten Luwu sebanyak 62 responden. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda, uji koefisien korelasi, dan uji koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat keras, perangkat lunak, serta kompetensi pengguna SIMRS berada dalam kategori baik, walaupun masih ditemukan kelemahan pada setiap variabel. Model persamaan regresi menunjukkan hubungan fungsional positif dan searah dengan persamaan Y = 3,637 + 0,293 (X1) + 0,289 (X2) + 0,302 (X3) + e. Hasil uji hipotesis secara parsial maupun simultan menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan. Perangkat keras, perangkat lunak, serta kompetensi pengguna SIMRS berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Kata Kunci: Perangkat Keras, Perangkat Lunak, Pengguna SIMRS, Kinerja Pegawai. 

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026) Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026) Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026) Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026) Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026) Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue