cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.biotika@unpad.ac.id
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA Unpad Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21. Jatinangor
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Biotika: Jurnal Ilmiah Biologi
ISSN : 14124297     EISSN : 26214180     DOI : https://doi.org/10.24198/biotika
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi adalah Jurnal terbuka yang diterbitkan oleh Departemen Biologi Universitas Padjadjaran yang berdiri sejak tahun 2002. Artikel yang diterbitkan di Jurnal Biotika meliputi semua artikel penelitian asli (original article) yang relevan dengan bidang Biologi dan akan ditelaah secara tertutup oleh mitra bestari. Dalam era interdisipliner ini, Biotika berperan sebagai media komunikasi ilmiah untuk bidang Biologi dan aplikasi terapannya yang relevan, seperti mikrobiologi, genetika dan molekuler, biologi struktur, biologi fungsi, biologi lingkungan maupun biologi terapan. Biotika juga berperan dalam menerbitkan hasil penelitian yang berkualitas dari peneliti muda untuk dapat dijadikan informasi ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Para kontributor Jurnal Biotika terbuka untuk peneliti dari bidang-bidang terkait, akademisi dan mahasiswa berbagai strata (S1, S2, dan S3). Jurnal BIOTIKA diterbitkan setiap 6 bulan sekali yaitu bulan Juni dan Desember.
Articles 262 Documents
STUDI POPULASI MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DI SEPANJANG JOGGING TRACK TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA, BANDUNG Hafsah, Mutiara Nur; Widianto, Muhammad Mirza; Rehansha, Canaya Vania; Anggraini, Annur Shaffa; Mirza, Gheri Ghifari; Kamila, Aulia Shafa; Hasanah, Dea Navita
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.46907

Abstract

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung (Tahura Djuanda) adalah suatu kawasan pelestarian alam yang mengembangkan kegiatan pariwisata. Kawasan ini merupakan habitat alami monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Berkaitan dengan status konservasi monyet ekor panjang yang telah naik tingkat dari rentan (Vulnerable) menjadi terancam punah (Endangered), penelitian mengenai satwa liar ini penting untuk dilakukan sebagai informasi dasar dalam mendukung upaya konservasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi dugaan monyet ekor panjang di kawasan penelitian serta pengaruh kehadiran pengunjung terhadap populasinya. Penelitian ini berlangsung pada Bulan Juli 2022 di sepanjang jogging trackTahura Djuanda, Bandung. Metode yang digunakan adalah metode survei dan sensus dengan teknik pengumpulan data studi pustaka, wawancara semi terstruktur, dan observasi langsung. Hasil dianalisis secara deskriptif dan menunjukkan populasi dugaan monyet ekor panjang di lokasi penelitian adalah 192 ekor. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan populasi dari penelitian terdahulu yang dilakukan pada tahun 2013. Berdasarkan uji statistik t dalam regresi linear, terdapat pengaruh jumlah pengunjung terhadap jumlah individu monyet ekor panjang yang dijumpai di kawasan penelitian. 
DIVERSITAS COLEOPTERA DI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA KABUPATEN BANDUNG Supriatna, Nisrina Novianty; Nafsi, Luthfiah Ghina; Syahira, Jihan; Melanie, Melanie
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.48962

Abstract

Ordo Coleoptera (kumbang) merupakan kelompok serangga yang memiliki peran penting dalam ekosistem diantaranya sebagai pengurai kayu mati dan bangkai hewan di hutan, memakan kotoran ternak, dan indikator perubahan lingkungan. Eksistensi keanekaragaman hayati termasuk diversitas serangga dari ordo Coleoptera di wilayah hutan kota sangatlah penting karena menjadi penyangga bagi komponen ekosistem wilayah hutan tersebut. Dilakukan studi keanekaragaman Coleoptera di kawasan Tahura Ir. H. Djuanda menggunakan metode survei di sepanjang garis transek. Pengamatan dan sampling data dilakukan secara purposive sampling sepanjang 1,5 km dari area pos tiga kawasan pembibitan tonjong sampai ke area Gua Belanda. Inventarisasi keanekaragaman ordo Coleoptera di Tahura Ir. H. Djuanda dihasilkan 8 famili teridentifikasi, di antaranya Buprestidae, Scarabaeidae, Coccinellidae, Chrysomelidae, Dascillidae, Lampyridae, Alexiidae, dan Cydnidae. Analisis kuantitatif dilakukan untuk memperoleh indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan indeks dominansi Simpson (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman Coleoptera di Tahura Ir. H. Djuanda termasuk kategori sedang (H’=2,89) dan tidak ada spesies yang mendominasi (D=0,07). Spesies Neolema sexpunctata dan Lilioceris sp. dari famili Chrysomelidae sama-sama memiliki indeks keanekaragaman (H’=0,26) dan dominansi (D=0,02) tertinggi diantara spesies yang lain.
KERAGAMAN HERPETOFAUNA DI WILAYAH OPERASIONAL PLTP KAMOJANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Husodo, Teguh; Megantara, Erri Noviar; Wulandari, Indri; Shanida, Sya Sya; Jauhan, Jirjiz; Wibowo, Tri Setia
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 22, No 1 (2024): BIOTIKA JUNI 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v22i1.51324

Abstract

Fasilitas pembangkit listrik diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Adanya kegiatan pembangkit listrik tidak terlepas dari perubahan lahan yang berdampak pada keanekaragaman hayati disekitarnya, seperti herpetofauna. Herpetofauna memiliki berbagai peran penting di ekosistem, salah satunya sebagai pengendali populasi satwa mangsa dan menjaga keseimbangan ekosistem. Tujuan studi ini adalah untuk memantau keragaman herpetofauna di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui Visual Encounter Survey yang dikombinasikan dengan Auditory Encounter Survey. Keragaman herpetofauna dijumpai sebanyak 20 spesies yang terdistribusi di sekitar kawasan PLTP Kamojang, dimana 13 spesies termasuk Kelas Amfibi dan Ordo Anura, serta tujuh spesies termasuk Kelas Reptil dan Ordo Squamata. Huia masonii Boulenger, 1884 dijumpai sebagai spesies yang terancam punah dengan status Vulnerable (VU). Microhyla achatina Tschudi, 1838, Limnonectes kuhlii Tschudi, 1838, Huia masonii Boulenger, 1884, dan Rhacophorus reinwardtii Schlegel, 1840 diketahui merupakan spesies endemik Pulau Jawa dan sekitarnya. Perkebunan hortikultur dijumpai terbanyak dibandingkan tutupan lahan lainnya sejumlah 15 spesies.
KEANEKARAGAMAN SPESIES BURUNG SEBAGAI ALAT UKUR KESTABILAN EKOSISTEM SAWAH Lestari, Juwita
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.47782

Abstract

Dewasa ini, ekosistem sawah cukup mengalami kerusakan karena adanya alih fungsi lahan oleh manusia. Dibutuhkan pengukuran terhadap kestabilan ekosistem sawah dan masih jarang keanekaragaman burung dijadikan sebagai alat ukur kestabilan suatu ekosistem tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati keanekaragaman spesies burung di ekosistem untuk menilai kestabilan suatu ekosistem sawah. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah bebas di sekitar area titik pengamatan. Pengambilan data dilakukan pada dua ekosistem sawah yang berbeda yakni Desa Perampuan, Lombok Barat, dan dusun Pagesangan Mataram pada waktu yang berbeda yakni pagi (07.30-10.00 WITA) dan sore (16.00-18.00 WITA). Data dianalisis dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks kekayaan Margalef dan indeks kemerataan Alatalo. Sebanyak 9 spesies burung, dengan total keseluruhan 127 individu teridentifikasi dari dua lokasi sawah yang berbeda. Lokasi II menunjukkan indeks keragaman sebesar 1,55, sedangkan lokasi I menunjukkan indeks keanekaragaman sebesar 1,32. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi II memiliki ekosistem yang lebih stabil dibandingkan lokasi I.
KARAKTERISTIK SARANG ORANGUTAN (Pongo pygmaeus, Linnaeus 1760) DI RESORT MENTATAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA Lestari, Adinda Triyoni; Prayogo, Hari; Azahra, Siva Devi
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 22, No 1 (2024): BIOTIKA JUNI 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v22i1.50328

Abstract

Resort Mentatai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan kawasan alami yang mempunyai fungsi penting sebagai tempat rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan yang merupakan spesies yang statusnya terancam punah.Salah satu faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah populasi orangutan yaitu rusaknya tempat bersarang orangutan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji karakteristik sarang orangutan. Penelitian menggunakan metode survei dengan berjalan menelusuri jalur monitoring orangutan yang telah ditetapkan oleh International Animal Rescue (IAR). Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 65 sarang orangutan, dengan karakteristik sarang berdasarkan kelas sarang yaitu kelas A (semua daun masih berwarna hijau) sebanyak 2 sarang, kelas B (warna daun sudah mulai berwarna coklat) sebanyak 36 sarang dan kelas C (daun sudah coklat semua dan terdapat lubang di sarang) sebanyak 27 sarang. Berdasarkan posisi sarang, teridentifikasi sebanyak 19 sarang pada posisi 1 (sarang di pangkal percabangan utama), 40 sarang pada posisi 2 (sarang di tengah atau ujung cabang pohon), 4 sarang pada posisi 3 (sarang di pucuk pohon utama), dan 2 sarang pada posisi 4 (sarang diantara dua pohon atau lebih). Jenis pohon yang paling banyak dijadikan sebagai sarang adalah Syzigium dan Knema dengan famili yang terbanyak dijadikan sarang yaitu Dipterocarpaceae.
KAJIAN PERILAKU HARIAN BERUANG MADU (Helarctos malayanus) DI LEMBAGA KONSERVASI PT. LEMBAH HIJAU, LAMPUNG Rodliyah, Aini Robby; Rustiati, Elly Lestari; Priyambodo, Priyambodo; Master, Jani; Ibransyah, Rasyid; Nasution, Irwan
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.48771

Abstract

Indonesia memiliki dua spesies beruang madu yaitu beruang madu sumatera (Helarctos malayanus malayanus) dan beruang madu kalimantan (Helarctos malayanus euryspilus). Lembaga Konservasi PT. Lembah Hijau, Lampung merupakan tempat berlangsungnya upaya perlindungan terhadap beruang madu. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perilaku harian beruang madu di Lembaga Konservasi PT. Lembah Hijau, Lampung pada bulan Januari–Maret 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah scan sampling, yang dilakukan dalam tiga tahapan meliputi survei pendahuluan, habituasi, dan observasi langsung. Pengamatan dimulai pada pukul 08.20–16.10 WIB pada hari kerja (Senin–Jumat), pukul 08.00–17.00 WIB hari libur (Sabtu–Minggu) dan pada hari libur nasional yang ditetapkan pemerintah di luar hari Sabtu–Minggu dengan interval waktu 10 menit dari area kunjungan pada kandang tampilan beruang madu. Perilaku tertinggi ke rendah secara berurutan meliputi perilaku sosial (15,22%), perilaku berjalan/jelajah (15,14%), perilaku tidur/istirahat (13,42%), perilaku bermain (8,3%), perilaku makan (6.61%), perilaku menelisik (4,45%), perilaku minum (1,49%), perilaku urinasi (0,92%), perilaku bersuara (0,77%), dan perilaku defekasi (0,35%). Beruang madu yang sedang dalam masa kawin menjadi faktor tingginya perilaku sosial dan berjalan. Defekasi dan urinasi dengan posisi yang berbeda pada masing-masing individu menjadi penanda masih adanya sifat soliter pada beruang madu.
STUDI ETNOBIOLOGI SERANGGA DAN PERANANNYA BAGI MASYARAKAT LOKAL DESA SANTANAMEKAR TASIKMALAYA Nafsi, Luthfiah Ghina; Syahbani, Shofi Afiya; Melanie, Melanie; Supriatna, Nisrina Novianty
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 22, No 1 (2024): BIOTIKA JUNI 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v22i1.53678

Abstract

Serangga merupakan organisme dengan keanekaragaman dan kelimpahan yang paling tinggi di permukaan bumi.  Peran serangga berdasarkan perspektif masyarakat lokal menarik untuk diteliti, kajiannya pun masih terbilang cukup sedikit. Studi etnobiologi yang dilakukan di Desa Santanamekar, Tasikmalaya ini bertujuan untuk mengkaji pengetahuan masyarakat lokal mengenai berbagai macam spesies serangga beserta peranannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Parameter yang diteliti adalah data emik dan etik mengenai peranan serangga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur bersama informan yang dipilih secara purposive dan analisis data dilakukan menggunakan teknik cross-checking, summarizing, synthesizing, dan pembuatan narasi secara deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Santanamekar mengetahui 20 jenis serangga, di antaranya kukupu (kupu-kupu), papatong (capung), laleur (lalat), nyiruan (lebah), engang (tawon), reungit (nyamuk), kumbang (kumbang), wereng (wereng), walang sangit (walang sangit), kutu kebul (kutu kebul), simeut (belalang), jangkrik (jangkrik), tonggeret (tonggeret), siraru (laron), cucunguk (kecoak), sireum (semut), hileud (ulat), kutu (kutu), undur-undur (undur-undur), dan rinyuh (rayap). Adapun peran serangga yang diketahui masyarakat di antaranya sebagai hama tanaman, polinator, bahan pangan, obat-obatan, permainan rakyat, dan pertanda cuaca. Pengetahuan masyarakat tersebut berasal dari informasi orang tua, pengalaman pribadi, informasi dari orang yang berpengalaman mengenal objek, informasi dari internet, dan buku.
KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA POLINATOR (LEPIDOPTERA) DAN SUMBER FOOD PLANT DI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA KOTA BANDUNG Melanie, Melanie; Syahira, Jihan; Supriatna, Nisrina Novianty; Nafsi, Luthfiah Ghina; Ratningsih, Nining Ghina
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.47674

Abstract

Serangga merupakan hewan dominan di permukaan bumi. Peran penting serangga di alam diantaranya sebagai polinator (penyerbuk) untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem, termasuk di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura) Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan jenis-jenis serangga yang paling banyak dijumpai sebagai polinator, serta jenis sumber makanan serangga polinator (food plant) di kawasan Tahura. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pollard walk di sepanjang garis transek pengamatan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kuantitatif untuk menentukan indeks keanekaragaman, frekuensi relatif, dan indeks dominansi. Hasil penelitian di kawasan Tahura teridentifikasi 22 spesies serangga polinator ordo Lepidoptera yang tergolong dalam 20 genera dan 6 famili, dengan indeks keanekaragaman sedang (H’ = 2,833). Jenis polinator yang paling sering dijumpai adalah Prosotas dubiosa (Lycaenidae) (FR=14,29 %). Famili Nymphalidae adalah yang paling dominan dengan jumlah 84 individu; indeks dominansi (C =0,032) tertinggi di tiap famili serangga polinator. Jenis food plant yang teridentifikasi terdiri dari 11 spesies dari 5 famili (Asteraceae, Iridaceae, Acanthaceae, Petiveriaceae, dan Balsaminaceae). Familia Asteracea adalah food plant yang paling sering dikunjungi polinator khususnya dari Famili Nymphalidae (FR=52,32%). Dengan demikian keanekaragaman polinator dan food plant-nya sangat penting untuk terus dipertahankan dalam rangka kelestarian Ekosistem Tahura kota Bandung.
ESTIMASI SIMPANAN KARBON PADA VEGETASI POHON DI BEBERAPA TIPE PENGGUNAAN LAHAN ARBORETUM UNIVERSITAS PADJADJARAN Aswanda, Viola Sukma; Kusmoro, Joko; Ilmi, Fikri; B., Chelsea Lorinta; Rahmawati, Dita; Zahra, Erisa; Rahmah, Lulu Aulia; Septiya, Celsi Anggun; Hidayati, Ulfatur Roziana Ainul
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.45916

Abstract

Emisi karbon dioksida (CO2) mengalami peningkatan sebesar 15 GtCO2-eq dalam rentang tahun 1990-2019. Peningkatan gas karbon dioksida di atmosfer menjadi salah satu isu lingkungan yang dapat diminimalisir melalui pemanfaatan fungsi tanaman sebagai tempat penyimpanan karbon. Mengetahui jumlah simpanan karbon pada suatu tanaman dapat menggambarkan banyaknya karbon dioksida di atmosfer yang dapat diserap oleh tanaman. Arboretum Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi salah satu lokasi yang berpotensi besar dalam menyimpan karbon di wilayah Sumedang, Jawa Barat. Berbagai jenis tumbuhan dibudidayakan di Arboretum Unpad dengan luas lahan sebesar 12,5 ha dan terbagi menjadi lima tipe penggunaan lahan untuk tujuan akademis. Kehadiran vegetasi pohon menawarkan jasa ekosistem yang penting dalam menyerap dan menyimpan karbon. Penelitian mengenai estimasi simpanan karbon berdasarkan tipe penggunaan lahan di arboretum belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai total simpanan karbon dan menentukan tipe penggunaan lahan dengan potensi simpanan karbon terbesar di wilayah Arboretum Unpad. Pengambilan data dilakukan dengan metode nondestructive sampling pada kategori pohon, pancang, dan tiang. Estimasi simpanan karbon didasarkan pada berat jenis, tinggi, dan diameter pohon yang kemudian dihitung menggunakan rumus allometrik Chave et al., (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total simpanan karbon di kawasan Arboretum Unpad sebesar 23,18 t C. Nilai simpanan karbon terbesar berada pada zona tanaman jatidiri sebesar 3,87 t C/Ha, sedangkan nilai simpanan karbon terkecil terdapat pada zona tanaman obat sebesar 0,90 t C/Ha. Perbedaan simpanan karbon tersebut dipengaruhi oleh tipe ekosistem, jenis dan komposisi vegetasi, serta biomassa pohon.
KONSERVASI KUPU KUPU DI WILAYAH TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG- BULUSARAUNG MELALUI APLIKASI SELULER Harlina, Harlina; Sinaga, Ucok; Tiomin, Nurul Anisa
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 22, No 1 (2024): BIOTIKA JUNI 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v22i1.57852

Abstract

Kupu kupu memiliki manfaat dalam ekosistem yaitu sebagai serangga penyerbuk yang merupakan bagian penting rantai makanandan indikator kesehatan lingkungan. Penelitian bertujuan memantau kehadiran kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) melalui penggunaan aplikasi seluler. Kegiatan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2024,bertempat di Kabupaten Maros ( Bantimurung, Pattunuang) dan Amarae Balocci, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Penelitianmenggunakan pendekatan campuran antara survei lapangan dan tekhnologi aplikasi seluler. Data dianalisis menggunakan metodeeksploratif deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kehadiran kupu-kupu di area di Bantimurung (48 spesies) lebihbanyak dibandingkan dengan di Pattunuang (41 spesies), dan Amarae Balocci (38 spesies). Aplikasi seluler diberi nama The Kingdom of Butterfly. Dirancang untuk diserahkan kepada TN Babul bagian Sanctuary sebagai pengelola selanjutnya. Fiturplatform berupa daftar spesies kupu-kupu, gambar kupu-kupu, tanaman pakan, status konservasi dan distribusi. Aplikasi mampumembuat, menghapus dan mengedit checklist secara online dan offline. Respon pengguna aplikasi melaporkan bahwa antar mukaaplikasi intuitif dan mudah dipahami (85%). Sebanyak 70% responden memahami pentingnya peran kupu-kupu dalam ekosistemsetelah menggunakan aplikasi dan 65% lebih sering memperhatikan kupu-kupu di sekitarnya. Terdapat 75% respondenberkontribusi dalam menjaga lingkungan dan melindungi spesies kupu-kupu dengan melaporkan temuan mereka melalui aplikasi,dan 30% mengeluhkan sulitnya menggunakan aplikasi karena akses internet terbatas.