cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.biotika@unpad.ac.id
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA Unpad Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21. Jatinangor
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Biotika: Jurnal Ilmiah Biologi
ISSN : 14124297     EISSN : 26214180     DOI : https://doi.org/10.24198/biotika
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi adalah Jurnal terbuka yang diterbitkan oleh Departemen Biologi Universitas Padjadjaran yang berdiri sejak tahun 2002. Artikel yang diterbitkan di Jurnal Biotika meliputi semua artikel penelitian asli (original article) yang relevan dengan bidang Biologi dan akan ditelaah secara tertutup oleh mitra bestari. Dalam era interdisipliner ini, Biotika berperan sebagai media komunikasi ilmiah untuk bidang Biologi dan aplikasi terapannya yang relevan, seperti mikrobiologi, genetika dan molekuler, biologi struktur, biologi fungsi, biologi lingkungan maupun biologi terapan. Biotika juga berperan dalam menerbitkan hasil penelitian yang berkualitas dari peneliti muda untuk dapat dijadikan informasi ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Para kontributor Jurnal Biotika terbuka untuk peneliti dari bidang-bidang terkait, akademisi dan mahasiswa berbagai strata (S1, S2, dan S3). Jurnal BIOTIKA diterbitkan setiap 6 bulan sekali yaitu bulan Juni dan Desember.
Articles 267 Documents
PENGARUH PERBEDAAN UKURAN KOTAK SARANG TERHADAP VOLUME MADU DAN BERAT POLEN LEBAH TANPA SENGAT (Heterotrigona Itama) DALAM PERIODE PENGAMATAN SATU BULAN DI HUTAN ADAT IMBO PUTUI, KABUPATEN KAMPAR Fitriani, Aisyah; Gesriantuti, Novia; Herlina, Nofripa; Syarif, Nuskan; Tas’ad, Said Faizan
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 23, No 2 (2025): BIOTIKA DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v23i2.66239

Abstract

Lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) dapat menghasilkan produk berupa madu, polen, propolis, dan royal jelly. Lebah tanpa sengat jenis ini banyak dibudidayakan karena kemudahan dalam mengelolanya, ketersediaan di alam yang masih banyak, dan produksi madunya yang lebih tinggi dibanding jenis lain. Teknik budidaya yang digunakan dapat menggunakan kota sarang sebagai sarangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume madu dan berat polen lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) berdasarkan perbedaan ukuran kotak sarang yang tersedia dengan penerapan sistem topping di Hutan Adat Imbo Putui, serta jumlah pot madu dan pot polen yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pengamatan langsung, dengan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran kotak sarang 40 × 35 × 10 cm menghasilkan volume madu tertinggi sebesar 126,67 ml dan berat polen
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, ANATOMI, FITOKIMIA, DAN KLOROFIL DAUN SPESIES FABACEAE DI TWA PANANJUNG, PANGANDARAN Sephianti, Selvi; Mutaqin, Asep Zainal; Budiono, Ruly; Nurzaman, Mohamad; Setiawati, Tia; Hasan, Rusdi
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 23, No 2 (2025): BIOTIKA DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v23i2.68018

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik morfologi, anatomi, kandungan fitokimia, dan klorofil daun tiga spesies famili Fabaceae (Acacia auriculiformis, Dendrolobium umbellatum, dan Cynometra ramiflora) yang tumbuh di Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung, Pangandaran. Penelitian ini diharapkan menjadi penelitian dasar tentang potensi spesies Fabaceae dalam bidang farmasi, pertanian, dan konservasi sumber daya alam. Penelitian dilakukan secara observasional melalui pengamatan morfologi dan anatomi daun, pengujian fitokimia secara kualitatif (alkaloid, tanin, dan saponin), serta kadar klorofil daun. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan karakteristik morfologi, anatomi, dan profil fitokimia antar spesies. A. auriculiformis dan C. ramiflora mengandung alkaloid dan saponin. D. umbellatum mengandung tanin dan saponin. Species yang mengandung klorofil dari yang tertinggi ke terendah secara berurutan adalah C. ramiflora, D. umbellatum, dan A. auriculiformis. Faktor lingkungan yang terukur adalah 859.33-7474 lux untuk intensitas cahaya, 75-83,67% untuk kelembapan udara, 29,23-30,4°C untuk temperatur udara, 6,6-6,93 untuk pH tanah, <2 mg/kg untuk kadar nitrogen tanah, <6,67 mg/kg untuk kadar fosfor tanah, serta <2,34 mg/kg untuk kadar unsur kalium tanah.
EFEK PEMBERIAN KOPI ROBUSTA, ARABIKA, DAN LIBERIKA ASAL JAMBI TERHADAP KINERJA MEMORI SPASIAL MENCIT (Mus Musculus) YANG DIINDUKSI ETANOL Oktaviani, Widia Bela; Gusfarenie, Dwi; Riany, Hesti
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 24, No 1 (2026): BIOTIKA JUNI 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v24i1.67179

Abstract

Alkoholisme menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas global. Etanol menurunkan memori spasial melalui peningkatan ROS di hipokampus, sedangkan antioksidan kopi berpotensi memperbaiki gangguan kognitif tersebut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kopi robusta, arabika, dan liberika asal Jambi terhadap kinerja memori spasial mencit (Mus musculus) yang diinduksi etanol. Penelitian menggunakan desain eksperimen laboratorium post-test only dengan 25 mencit galur Swiss Webster yang dibagi menjadi lima kelompok: kontrol (tanpa etanol dan kopi), EtOH (etanol tanpa kopi), EL (etanol + kopi liberika), EA (etanol + kopi arabika), dan ER (etanol + kopi robusta). Analisis kinerja memori spasial diukur berdasarkan persentase Spontaneous Alternation (SA) selama 21 hari pemberian kopi dan etanol pada mencit. Etanol diberikan secara bertingkat dengan konsentrasi 3%, 6%, 10%, dan 20%, dan dosis kopi disesuaikan dengan berat badan mencit. Data dianalisis secara parametrik menggunakan uji One-way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni dan uji Games-Howell (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kinerja memori spasial pada mencit yang diinduksi etanol pada seluruh kelompok mencit perlakuan. Setiap jenis kopi dapat meningkatkan kinerja memori spasial bergantung pada lamanya induksi. Peningkatan paling konsisten terjadi pada kopi Liberika hingga hari ke-21. Secara umum, pemberian kopi menekan penurunan memori spasial akibat etanol, dengan efek terbaik pada kopi Liberika.Kata kunci: Etanol; Kopi; Memori Spasial.
PENENTUAN JUMLAH KOMUNITAS BAKTERI DAN IDENTIFIKASI COLIFORM DARI PASIR PANTAI BARAT PANGANDARAN, JAWA BARAT, MENGGUNAKAN METODE TOTAL PLATE COUNT (TPC) Christi, Mozartyan Eulogia; Nathania, Lidya; Safira, Nazwa Dwi; Miranti, Mia
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 24, No 1 (2026): BIOTIKA JUNI 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v24i1.68324

Abstract

Pasir Pantai Barat Pangandaran merupakan area pesisir yang rentan terhadap kontaminasi bakteri akibat adanya aktivitas manusia, namun kurang diperhatikan dalam proses monitoring lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah total komunitas bakteri dan mengidentifikasi keberadaan bakteri coliform. Metode yang digunakan yaitu deskriptif eksploratif dengan pengambilan sampel purposive sampling, dianalisis jumlah komunitas bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC) beserta diidentifikasi dengan acuan buku Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah komunitas bakteri ditemukan sebesar 6,78 × 109 CFU/ml dengan teridentifikasi beberapa bakteri yang tumbuh, yaitu bakteri bergenus Corynebacterium, Clostridium, Bacillus, Amphibacillus, dan Sporosarcina. Selain itu, ditemukan bakteri coliform yaitu bakteri bergenus Shigella dengan total bakteri sebesar 1,71 × 106 CFU/ml. Pada penelitian ini diketahui bahwa pasir Pantai Barat Pangandaran tercemar bakteri patogen yang dapat berdampak pada kesehatan manusia. Oleh karena itu, monitoring lingkungan pesisir pantai berkelanjutan perlu dilakukan secara berkala.
ANATOMI DAUN DAN BATANG JAMBU METE (Anacardium Occidentale L.) DENGAN METODE FREE-HAND SECTION DAN MASERASI TRAKEA Jumiati, Argeta Hermi; Ermayanti, Ermayanti
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 24, No 1 (2026): BIOTIKA JUNI 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v24i1.63830

Abstract

Penelitian ini mengkaji struktur anatomi batang dan daun Anacardium occidentale dengan penekanan pada karakteristik serat serta bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan kering. Pengamatan dilakukan secara mikroskopis menggunakan metode Free-hand Section untuk preparasi anatomi daun dan batang, serta metode maserasi untuk mengidentifikasi struktur serat dan trakea pada batang. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa daun memiliki sel epidermis berbentuk poligonal tidak beraturan dan stomata bertipe anomositik. Struktur anatomi batang tersusun atas epidermis, korteks, xilem, dan floem. Melalui metode maserasi, serat xilem teridentifikasi sebagai sel-sel sklerenkim memanjang dengan ujung meruncing serta dinding sel sekunder yang sangat tebal akibat lignifikasi. Selain itu, trakea ditemukan dengan tipe penebalan dinding retikulat. Struktur tersebut terutama terlokalisasi pada xilem primer di daerah batang yang sedang mengalami pertumbuhan aktif. Temuan ini menunjukkan adanya karakter anatomi yang mendukung fungsi mekanik dan transport, sekaligus berperan dalam adaptasi tanaman terhadap kondisi lingkungan kering.
AKTIVITAS HARIAN LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus Geoffroy, 1812) DI TAMAN WISATA ALAM PANANJUNG PANGANDARAN Aulia, Ajeng Zafira; Husodo, Teguh
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 24, No 1 (2026): BIOTIKA JUNI 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v24i1.68570

Abstract

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan primata endemik Pulau Jawa yang dilindungi dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung Pangandaran merupakan salah satu habitat lutung jawa yang menghadapi tekanan akibat aktivitas wisata dan interaksi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas harian lutung jawa sebagai informasi dasar dalam upaya konservasi dan pengelolaan habitat. Pengamatan dilakukan menggunakan metode scan sampling dengan interval pencatatan setiap 5 menit terhadap tiga kelompok sosial lutung jawa yang diamati pada hari yang berbeda. Aktivitas yang dicatat meliputi istirahat, makan, bergerak, bermain, grooming, bersuara, dan urinasi. Data dianalisis secara deskriptif dengan menghitung persentase setiap aktivitas terhadap total aktivitas yang teramati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas harian lutung jawa didominasi oleh istirahat (25,55%), bergerak (23,35%), makan (20,26%), grooming (13,66%), bermain (11,01%), bersuara (3,52%), dan urinasi (2,64%). Tingginya proporsi aktivitas istirahat menunjukkan adanya alokasi waktu yang besar dalam penyimpanan energi, sedangkan aktivitas bergerak dan makan mencerminkan upaya individu dalam memenuhi kebutuhan sumber daya dan memanfaatkan ruang habitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola aktivitas lutung jawa di TWA Pananjung Pangandaran masih didominasi oleh aktivitas dasar untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Informasi ini dapat digunakan sebagai data dasar dalam mendukung pengelolaan habitat dan penyusunan strategi konservasi lutung jawa secara berkelanjutan.
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN MANGKOKAN (Polyscias Scutellaria (Burm.F.) FOSBERG) TERHADAP Trichophyton Mentagrophytes SECARA IN VITRO Utami, Rury Trisa; Hainil, Sri; Amelia, Ayu; Gusmali, Desy Maniarti; Sari, Diani Mega
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 24, No 1 (2026): BIOTIKA JUNI 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v24i1.71656

Abstract

Tinea capitis merupakan infeksi jamur dermatofit pada kulit kepala yang masih sering ditemukan, terutama pada anak-anak. Penggunaan antijamur sintetis secara terus-menerus berpotensi menimbulkan resistensi dan efek samping, sehingga diperlukan alternatif antijamur yang berasal dari bahan alam. Daun mangkokan (Polyscias scutellaria (Burm.f.) Fosberg) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenol yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol daun mangkokan terhadap jamur penyebab Tinea capitis pada berbagai konsentrasi menggunakan metode difusi cakram.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design. Perlakuan terdiri atas ekstrak etanol daun mangkokan konsentrasi 30%, 60%, dan 90%, kontrol positif ketokonazol 30 µg/disk, serta kontrol negatif DMSO 10%. Aktivitas antijamur dinilai berdasarkan diameter zona hambat yang terbentuk setelah inkubasi. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi 95%. Rata-rata diameter zona hambat ekstrak etanol daun mangkokan pada konsentrasi 30%, 60%, dan 90% berturut-turut sebesar 2,80 ± 0,53 mm, 4,92 ± 0,81 mm, dan 7,63 ± 0,32 mm. Kontrol positif ketokonazol menghasilkan diameter zona hambat sebesar 16,18 ± 1,22 mm, sedangkan kontrol negatif DMSO tidak menunjukkan zona hambat. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan (p < 0,05). Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mangkokan konsentrasi 90% memberikan aktivitas antijamur tertinggi di antara kelompok ekstrak, namun masih lebih rendah dibandingkan ketokonazol. Ekstrak etanol daun mangkokan memiliki aktivitas antijamur terhadap jamur penyebab Tinea capitis, yang ditunjukkan dengan meningkatnya diameter zona hambat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. Konsentrasi 90% merupakan konsentrasi yang memberikan aktivitas penghambatan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mangkokan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif antijamur berbasis bahan alam, namun diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi senyawa aktif, menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Fungicidal Concentration (MFC), serta mengevaluasi efektivitasnya melalui uji in vivo.