cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.biotika@unpad.ac.id
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA Unpad Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21. Jatinangor
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Biotika: Jurnal Ilmiah Biologi
ISSN : 14124297     EISSN : 26214180     DOI : https://doi.org/10.24198/biotika
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi adalah Jurnal terbuka yang diterbitkan oleh Departemen Biologi Universitas Padjadjaran yang berdiri sejak tahun 2002. Artikel yang diterbitkan di Jurnal Biotika meliputi semua artikel penelitian asli (original article) yang relevan dengan bidang Biologi dan akan ditelaah secara tertutup oleh mitra bestari. Dalam era interdisipliner ini, Biotika berperan sebagai media komunikasi ilmiah untuk bidang Biologi dan aplikasi terapannya yang relevan, seperti mikrobiologi, genetika dan molekuler, biologi struktur, biologi fungsi, biologi lingkungan maupun biologi terapan. Biotika juga berperan dalam menerbitkan hasil penelitian yang berkualitas dari peneliti muda untuk dapat dijadikan informasi ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Para kontributor Jurnal Biotika terbuka untuk peneliti dari bidang-bidang terkait, akademisi dan mahasiswa berbagai strata (S1, S2, dan S3). Jurnal BIOTIKA diterbitkan setiap 6 bulan sekali yaitu bulan Juni dan Desember.
Articles 257 Documents
INDUKSI KALUS DARI EKSPLAN NODUS Stelecocharpus burahol (Blume) Hook. f & Thomson SEBAGAI UPAYA KONSERVASI IN VITRO Sekar, Astrid Ayu; Restiani, Ratih; Prasetyaningsih, Aniek
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.42869

Abstract

Tanaman Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook. f. & Thomson) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia yang mengandung metabolit sekunder dan potensial sebagai antioksidan, antibakteri, antifungi, anti inflamasi, dan anti implantasi. Namun, saat ini tanaman kepel berstatus conservation dependent, sehingga diperlukan perbanyakan tanaman kepel melalui kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan metode perbanyakan tanaman kepel secara in vitro melalui tahap induksi kalus dengan mengoptimasi kombinasi dan konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) dan IAA (Indole-3-acetic acid). Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan kombinasi konsentrasi BAP dan IAA (0,1,2,5, dan 5 mgL-1 ) sebanyak 16 perlakuan masing-masing 3 ulangan. Eskplan nodus yang ditanam dalam medium MS dengan penambahan BAP dan IAA dikultur pada suhu 25 ± 2 0C, kondisi terang 24 jam dengan intensitas cahaya 3000 flux selama 30 hari. Pengamatan waktu induksi kalus, persentase pertumbuhan kalus dan intensitas kalus dilakukan setiap minggu selama 28 hari masa tanam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan tidak dilanjutkan uji Duncan karena hasil yang diperoleh tidak berbeda signifikan (p ≥0,05). Hasil menunjukkan bahwa penambahan 1 mgL-1 BAP dan 5 mgL-1 IAAmenghasilkan waktu induksi tercepat yaitu 4,67 ± 1,15 hari, sedangkan medium MS dengan penambahan 5 mgL-1 BAP dan 2,5 mgL-1 IAAmerupakan kombinasi konsentrasi terbaik dalam pembentukan kalus (100%) dan intensitas kalus sebesar 0,57 ± 0,34 dengan tekstur remah berwarna kehijauan. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi penting dalam upaya konservasi tanaman kepel secara in vitro.
MARGA Callisia Loefl. (COMMELINACEAE): TAMBAHAN UNTUK FLORA JAWA Irsyam, Arifin Surya Dwipa; Hariri, Muhammad Rifqi; Peniwidiyanti, Peniwidiyanti; Irwanto, Rina Ratnasih
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.43353

Abstract

Callisia Loefl. merupakan marga tumbuhan asing dengan distribusi asal dari Amerika tropis yang untuk pertama kalinya ditemukan di Jawa. Marga tersebut ditemukan di Desa Cikeruh dan Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Callisia diwakili oleh dua jenis tanaman hias, yaitu C. fragrans (Lindl.) Woodson dan C. repens (Jacq.) L. Namun, jenis yang terakhir juga telah lolos dari kultivasi dan tumbuh pada celah antar bebatuan di Desa Sayang, Jatinangor. Callisia fragrans dicirikan oleh perawakan terna yang kokoh seperti perdu, stolon yang panjang, susunan daun spiral, helaian daun melanset-melonjong, dan tepi daun mengombak. Sementara itu, Callisia repens berupa terna dengan susunan daun berderet dua, helaian daun membundar telur melebar hingga membundar, permukaan adaksial daun berwarna hijau atau dengan bercakbercak ungu, dan permukaan abaksial daun berwarna ungu. Deskripsi, foto, dan diskusi singkat disajikan sebagai berikut. Kunci determinasi untuk puak Tradescantieae di Jawa juga disediakan secara lengkap pada artikel ini.
KOMPARASI OOSIT DAN HISTOLOGI OVARIUM MENCIT DENGAN SUPEROVULASI HORMONAL DAN KOMBINASI INDUKSI OVULASI Budiariati, Vista; Damayanti, Safira; Lukmana, Shafara Widyanti
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.44821

Abstract

Koleksi oosit merupakan langkah penting dalam produksi dan rekayasa embrio in vitro. Proses ini dimulai dengan superovulasi untuk memaksimalkan jumlah oosit. Superovulasi yang paling umum dilakukan yaitu dengan induksi hormonal menggunakan kombinasi pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan human chorionic gonadothropin (hCG). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil superovulasi mencit dengan induksi hormonal dan kombinasi stimulus kawin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan hewan coba mencit yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A yaitu kelompok mencit yang disuperovulasi dengan induksi hormonal injeksi PMSG dilanjutkan dengan hCG sedangkan kelompok B diinjeksi dengan PMSG dilanjutkan dengan stimulus kawin menggunakan mencit jantan yang telah divasektomi. Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu jumlah dan morfologi oosit serta histologi ovarium dari kedua kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara total oosit dari perlakuan A dan perlakuan B. Persentase oosit matang dari kelompok B lebih tinggi dibandingkan kelompok A. Histologi ovarium kelompok A menunjukkan perkembangan folikel yang bervariasi sedangkan kelompok B didominasi oleh korpus luteum. Berdasarkan hasil perbandingan oosit dan histologi ovarium dapat disimpulkan bahwa metode superovulasi dengan kombinasi stimulus kawin dapat digunakan sebagai alternatif metode untuk mengantisipasi keterbatasan jumlah preparat hormon pada proses produksi dan rekayasa embrio in vitro.
INVENTARISASI FAUNA SEBAGAI POTENSI EKOWISATA DI JALUR TREKKING DESA KOMODO, TAMAN NASIONAL KOMODO Amalia, Riska; Nurfitria, Salwa; Septiayu, Resty; Muzamil, Muhammad Zamzam; Zahra, Annisa; Rohmatullayaly, Eneng Nunuz
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.43546

Abstract

Keanekaragaman hayati di Taman Nasional Komodo menjadi potensi dan daya tarik utama yang dikembangkan sebagai ekowisata. Pengelolaan ekowisata telah dilakukan di Loh Liang, Pulau Komodo dan menjadi destinasi wisata unggulan. Desa Komodo merupakan satu-satunya desa di Pulau Komodo yang berjarak 1,8 km dari Loh Liang dan telah ditetapkan menjadi desa wisata sejak tahun 2013. Konsep desa wisata menjadikan masyarakat Desa Komodo memiliki peran aktif dalam pembangunan dan pengelolaan desa, salah satunya dalam pengembangan ekowisata. Salah satu bentuk peranan masyarakat yaitu dengan menginisiasi untuk dibukanya jalur trekking Desa Komodo pada tahun 2020. Hal tersebut dilakukan guna memperkenalkan keanekaragaman hayati, bentang alam, maupun kebudayaan masyarakat Ata Modo kepada wisatawan dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, belum ada kajian dan inventarisasi mengenai keanekaragaman fauna di jalur trekking Desa Komodo. Jalur trekking direkam menggunakan Global Positioning System (GPS), meliputi medium trek (1,98 km) dan long trek (2,87 km). Pengumpulan data keanekaragaman fauna dengan metode jelajah (cruise method) dan mencatat setiap perjumpaan baik secara fisik, jejak, kotoran, maupun suara hewan pada tanggal 24 sampai 26 Agustus 2022 di pagi dan sore hari. Ekosistem pada jalur trekking terbagi menjadi dua, yaitu Hutan Sabana (suhu udara 30-34,6°C dan kelembapan 46,7-61%) dan Hutan Monsun (suhu udara 30,8-35°C dan kelembapan 43-60%). Pada ekosistem tersebut ditemukan 2 spesies reptil, 2 spesies mamalia, 18 spesies avifauna, dan 19 spesies insekta. Keanekaragaman fauna dan terdapatnya lokasi perjumpaan Komodo (Varanus komodoensis), bahkan sarang Komodo di jalur trekking dimungkinkan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Desa Komodo.
IDENTIFIKASI KERUSAKAN POHON DI KAMPUS KENTINGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET Masyithoh, Galuh; Pertiwi, Yus Andhini Bhekti; Rahmadwiati, Rissa; Apriyanto, Dwi; Nayasilana, Ike Nurjuita; Wicaksono, Rezky Lasekti
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.42797

Abstract

Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai kampus yang dijuluki sebagai kampus hijau (Green Campus) dengan berbagai jenis pohon di dalamnya tentunya memiliki fungsi ekologis yang tinggi. Keberadaan tegakan perlu dievaluasi untuk mengetahui kondisi kesehatan tegakan yang berada di kawasan Green Campus UNS. Evaluasi tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk meminimalisasi terjadinya pohon tumbang. Pemantauan kesehatan hutan atau Forest Health Monitoring (FHM) adalah metode untuk menentukan status, perubahan dan kecenderungan yang terjadi mengenai kondisi suatu ekosistem hutan pada suatu waktu dan dinilai berdasarkan tujuan dan fungsi suatu hutan dan kawasan hutan. Pada metode FHM, identifikasi kerusakan pohon dilakukan dengan memberikan kode yang menggambarkan lokasi kerusakan pohon (bagian pohon yang mengalami kerusakan), tipe kerusakan pohon, dan tingkat keparahan/kerusakan pada pohon. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3978 individu dari 116 jenis tumbuhan di Kampus Kentingan UNS. Terdapat 10 jenis yang dapat ditemukan pada seluruh area kampus, yaitu Pterocarpus indicus, Ficus sp., Delonix regia, Polyathia longifolia, Tectona grandis, Filicium decipiens, Terminaila catappa, Swietenia macrophylla, Mangifera indica, dan Mimusops elengi. Berdasarkan klasifikasi kesehatan pohon, sebanyak 90,98% (n = 33619) tegakan termasuk kelas sehat, 8,27% (n = 329) tegakan termasuk kelas kerusakan ringan, dan 0,75% (n = 30) tegakan termasuk kelas kerusakan sedang. Bagian tumbuhan yang banyak mengalami kerusakan adalah cabang, batang bagian bawah, dan daun. Tipe kerusakan yang banyak ditemukan adalah cabang patah dan mati, luka terbuka, kanker, mati pucuk, dan klorosis.
UJI KUALITAS UDANG BEKU SECARA BAKTERIOLOGIS DARI UNIT PENGOLAHAN IKAN WILAYAH CIREBON, JAWA BARAT Syaputri, Yolani; Nurkhotimah, Retna; Gunawan, Eko Hendri; Amdhika, Ries; Rahayuningsih, Sri Rejeki; Rossiana, Nia
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.41589

Abstract

Udang beku merupakan komoditas penting dari sektor perikanan Indonesia. Nilai ekspor udang beku dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan khususnya dari Unit Pengolahan Ikan (UPI) Cirebon Jawa Barat. Angka Lempeng Total (ALT) serta bakteri patogen seperti Salmonella spp. dan Escherichia coli merupakan parameter bakteriologis yang dapat digunakan sebagai indikator adanya kontaminasi dan kualitas yang kurang baik pada udang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji angka lempeng total serta mendeteksi adanya cemaran bakteri Salmonella spp. dan E.coli pada sampel udang beku. Penelitian bersifat deskriptif eksploratif dengan melakukan penelitian di Laboratorium Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Cirebon. Berdasarkan standar baku mutu udang beku SNI 2705 : 2020, jumlah angka lempeng total pada udang beku harus dibawah 5.0 x 105 CFU/g serta harus negatif dari bakteri Salmonella spp. dan E. coli. Berdasarkan hasil pengujian keempat sampel udang beku dari UPI wilayah Cirebon Jawa Barat yaitu pada ke empat titik sampel UPI A, B, C, dan D, jumlah angka lempeng total keempat sampel memenuhi syarat standar baku mutu udang beku. Nilai paling tinggi berasal dari UPI C dan yang paling rendah berasal dari UPI D. Hasil analisis bakteri patogen, keempat sampel udang beku negatif bakteri Salmonella spp. dan E. coli.
DEGRADASI BIOMASSA KULIT BATANG RAMI (Boehmeria Nivea) BERDASARKAN AKTIVITIVITAS LIGNOSELULOXILANOLITIK DARI Aspergillus, Penicillium, DAN Trycophyton Fatih Awliya, Meuthia; Dewi, Maranti; Syifa Nabila, Devina; Peni Wulandari, Asri
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.36223

Abstract

Biomassa yang berasal dari tanaman pada umumnya mengandung selulosa, lignin, dan xilan yang sebagian besar sebagai buangan sisa dari kegiatan agroindustri. Hasil pengomposan biomassa buangan rami diperoleh tiga isolat mikrofungi yang dikode sebagai FKR-A1, FKR-D5, dan FKR-D17. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui potensi isolat mikrofungi berdasarkan aktivitas enzim ligninase, selulase, dan xylanase (lignoseluloxilanotik) dalam mendegradasi biomassa rami. Proses degradasi selulosa serat dan serat kasar rami, serta kulit batang rami sisa dekortikasi menggunakan metode fermentasi terendam (SMF) dengan waktu pengamatan selama 10 hari. Pengamatan secara kualitatif dilakukan untuk mengetahui perubahan karakter morfologi biomassa rami. Pengujian aktivitas enzim ditentukan secara kuantitatif dengan metode asam 3,5-dinitrosalisilat menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Standar yang digunakan adalah glukosa dengan reagen dinitrosalisilat serta substrat masing -terdiri dari Carboxymethyl Cellulose (CMC), xilan, dan lignin. Hasil penelitian ini menunjukkan ketiga isolat fungi yang diidentifikasi sebagai Aspegillus, Penicillium, dan mempunyai aktivitas enzim ligninase, selulase, dan xilanase. Aspergilus, menunjukkan aktivitas ligninase, selulase, dan xylanase tertinggi dengan masing-masing sebesar 2,932 U/ml, 2,072 U/ml, dan 1,909 U/ml. Isolat terseleksi tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai biostarter dalam proses degradasi biomassa tanaman lainnya.
OPTIMASI AKTIVITAS ENZIM SELULASE OLEH KONSORSIUM BAKTERI SELULOLITIK DARI SALURAN PENCERNAAN RAYAP Cryptotermes sp. UNTUK PEMANFAATAN JERAMI PADI Peristiwati, Peristiwati; Sanjaya, Yayan; Istiqomah, Anggi
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.46462

Abstract

Enzim selulase merupakan enzim komersial yang berperan penting sebagai biokatalis dalam berbagai proses industri, seperti industri tekstil, kertas, makanan, medis, detergen, dan lainnya. Produksi enzim selulase dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah selulosa, salah satunya jerami padi. Di Indonesia, jerami padi merupakan limbah pertanian terbesar namun pemanfaatannya belum optimal, biasanya digunakan untuk makanan ternak, media tumbuh jamur atau dibakar di lahan pertanian. Substrat selulosa dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme selulolitik, salah satunya bakteri yang berasal dari saluran pencernaan rayap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pH dan suhu yang optimal untuk produksi selulase bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan rayap Cryptotermes sp. Seleksi bakteri selulolitik dilakukan pada media Carboxymethylcellulose (CMC) dengan indikator adanya zona bening yang dihasilkan di sekitar koloni bakteri selulolitik. Pre-treatment secara mekanik dan kimiawi dilakukan terlebih dahulu pada substrat jerami padi. Media SmF digunakan sebagai media produksi enzim selulase. Penentuan suhu dan pH optimal yaitu dengan variasi suhu 36,5 oC dan 37,5oC, sedangkan variasi pH medium 7 dan 8. Aktivitas enzim selulase diukur dengan penghitungan gula pereduksi menggunakan reagen 3,5-dinitrosalicylic acid. Dari hasil penelitian diketahui bahwa konsorsium bakteri selulolitik R3-1, R4-3, dan R7-3 berturut-turut merupakan genus bakteri Achromobacter sp., dan Pseudomonas sp. Konsorsium bakteri ini dapat menghasilkan enzim selulase tertinggi sebesar 8,93 U/mL pada waktu inkubasi 24 jam dengan pH medium 7 dan suhu inkubasi 36,5oC.
PERBANDINGAN ANATOMI INSANG IKAN BERDASARKAN HABITAT YANG BERBEDA Malini, Desak Made; Octaviani, Regita; Rosada, Keukeu Kaniawati
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.46178

Abstract

Ikan telah mengembangkan beragam adaptasi anatomi insang agar dapat berfungsi secara efisien dalam habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan anatomi insang ikan yang meliputi morfologi dan morfometrik organ insang dari tiga jenis ikan yang hidup di habitat yang berbeda. Sampel ikan yang digunakan adalah Ikan Nila (Oreochromis niloticus), Ikan Lele (Clarias batrachus) dan Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) masing-masing sebanyak lima ekor dengan bobot badan 100 sampai 300 g dan panjang tubuh 20 sampai 40 cm yang diperoleh dari pasar tradisional. Bagian insang yang diamati adalah membran branchiostegal, arcus branchialis, filamen branchialis, dan branchiospinalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ikan Kembung memiliki berat relatif insang lebih besar dibandingkan Ikan Nila dan Ikan Lele yaitu masing-masing 4,85 + 0,38%; 3,43 + 0,23%; dan 2,46 + 0,31%. Terdapat perbedaan morfologi insang dari ketiga spesies ikan yang diamati yaitu pada warna insang, bentuk membran branchiostegal, arcus branchialis, dan branchiospinalis. Pada morfometrik terdapat perbedaan berat relatif insang, rasio panjang arcus branchialis, rasio panjang filamen branchialis, jumlah filamen branchialis, kerapatan filamen branchialis, dan kerapatan branchiospinalis. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan anatomi insang antara Ikan Nila (O. niloticus), Ikan Lele (C. batrachus) dan Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) yang hidup pada habitat yang berbeda.   
KEANEKARAGAMAN REEPS (RARE, ENDANGERED, ENDEMIC, PROTECTED SPECIES) DI AREA AMFITEATER, CILETUH PALABUHANRATU UNESCO GLOBAL GEOPARK Wulandari, Indri; Parikesit, Parikesit; Supangkat, Budiawati; Megantara, Erri Noviar; Shanida, Sya Sya
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.49848

Abstract

Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) merupakan salah satu kawasan yang dikembangkan menjadi kawasan pariwisata. Dengan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark, CiletuhPalabuhanratu ditetapkan sebagai kawasan konservasi keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya. Pengembangan pariwisata ini ditujukan salah satunya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Di sisi lain, kawasan CPUGG ini diketahui memiliki keanekaragaman hayati dilindungi dengan status Rare, Endangered, Endemic, and Protected Species (REEPS) dan terancam punah. Salah satu lokasi keberadaan keanekaragaman hayati dilindungi adalah di area amfiteater yang berada di wilayah Kecamatan Ciemas. Oleh karena itu, perlu diketahui jenis – jenis REEPS yang terdapat di area tersebut. Studi ini melakukan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 jenis REEPS, terdiri dari 1 jenis flora dan 14 jenis fauna, meliputi 5 jenis Avifauna, 1 jenis Herpetofauna, dan 8 jenis Mammalia. Lokasi ditemukannya jenis – jenis REEPS tersebut sebagian berdekatan atau bahkan berada di lokasi – lokasi yang menjadi daya tarik wisata kawasan CPUGG.