Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
Jurnal Ilmu Kedokteran dan kesehatan (JIKK) menyediakan platform untuk mempublikasikan artikel bidang Kedokteran dan kesehatan yang meliputi: kedokteran komunitas: epidemiologi penyakit, promosi kesehatan kedokteran keluarga pendidikan kedokteran kedokteran klinis: pediatrik, endokrin, reproduksi, muskuloskeletal, respirasi, geriatri, trauma, gastrointestinal. penyakit infeksi, THT, mata, sensoris kedokteran kerja kedokteran olahraga kedokteran dasar (biomedik)
Articles
1,379 Documents
PENURUNAN KESADARAN DISEBABKAN GAGAL NAFAS TIPE II PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) EKSASERBASI AKUT : LAPORAN KASUS
Syazili Mustofa;
Feby Aulia Hasanah;
Firantika Dias Puteri;
Syiefa Renanda Surya;
Retno Ariza S. Soemarwoto
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.10433
Abstrak : Laporan Kasus Penurunan Kesadaran Disebabkan Gagal Nafas Tipe II Pada Pasien PPOK Eksaserbasi Akut. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan penyakit yang dapat dicegah, diobati, disebabkan oleh peradangan pada saluran nafas karena paparan kronis dari gas atau partikel berbahaya, seperti tembakau atau asap dari bahan bakar biomassa. Komplikasi yang dapat terjadi diantaranya berupa PPOK eksaserbasi akut, gagal nafas akut dan kronik. Hiperkapnea kronis merupakan sebuah faktor risiko independen untuk morbiditas dan mortalitas pada PPOK sehingga memerlukan perhatian yang lebih lanjut terkait dengan ancaman yang memungkinkan terjadinya kematian. Laporan kasus ini bertujuan untuk menegakkan alur diagnosis secara tepat, melalui anamnesis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah case report dengan analisis data primer diperoleh melalui autoanamnesis, alloanamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang serta penatalaksanaan. Pada kasus ini kami laporkan seorang laki-laki berusia 64 tahun datang dengan penurunan kesadaran. Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka ditegakkan diagnosis penurunan kesadaran disebabkan gagal napas tipe II dengan berbagai kondisi lainnya. Pasien mendapatkan penatalaksanaan intensive di ruang ICU berupa bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik. Kondisi pasien membaik setelah 5 hari perawatan.
HUBUNGAN STATUS VAKSINASI TERHADAP REINFEKSI COVID-19 PADA PEGAWAI RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG
Jordan Tawarikh Hutabarat;
Deviana Utami;
Resti Arania;
Tessa Sjahriani
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.9574
Abstrak: Hubungan Status Vaksinasi Terhadap Reinfeksi COVID-19 Pada Pegawai RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Reinfeksi COVID-19 adalah infeksi SARS-CoV-2 yang terjadi pada seseorang yang sudah terkena COVID-19 kemudian sembuh dan terinfeksi kembali. Walaupun vaksinasi COVID-19 meningkatkan antibodi yang adekuat untuk menetralisir infeksi COVID-19 masih ada beberapa penelitian epidemiologis yang menemukan adanya reinfeksi pada orang yang sudah tervaksinasi penuh. Khusus di Provinsi Lampung penelitian mengenai reinfeksi COVID-19 belum banyak terjadi maka dari itu penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh vaksinasi terhadap kejadian reinfeksi COVID-19 pada Pegawai RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelatif dengan design Cross-Sectional Study dengan sampel Pegawai RSUD Abdul Moeloek yang terkena COVID-19, dimana pada penelitian ini didapatkan sebanyak 657 sampel. Pada hasil penelitian pada 657 sampel didapatkan 555 (84,5%) pegawai yang hanya terinfeksi primer dan 102 (15,5%) pegawai yang tereinfeksi COVID-19. Serta didapatkan hubungan yang signifikan antara status vaksinasi dengan reinfeksi COVID-19 dengan p-value: 0.0008. Terdapat hubungan yang signifikan antara status vaksinasi terhadap reinfeksi COVID-19 pada pegawai RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.
TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENYAKIT EPILESPI DAN PERTOLONGAN PERTAMA SAAT SERANGAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI ANGKATAN 2019 DAN 2021
Fitriyani Fitriyani;
Firly Windiyani;
Tusy Triwahyuni;
Dharmawita Dharmawita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.9427
Abstract: LEVELS OF KNOWLEDGE ABOUT EPILEPSY AND FIRST AID AT ATTACKS IN MEDICAL FACULTY OF MAHAYATI UNIVERSITY AT OF 2019 AND 2021 Epilepsy is a heterogeneous entity with a wide variety of etiologies and clinical features. Status epilepticus is a neurological emergency with morbidity and mortality depending on the duration of the seizure. Researchers want to measure the knowledge of the two batches of 2019 and 2021 because 2019 has taken the neurology block which has already discussed epilepsy, while 2021 has just passed the second semester and has not received epilepsy material in the neurology block. This study found out the Differences in Knowledge Levels of Medical Students Classes of 2019 and 2021 regarding epilepsy and first aid in patients with epilepsy who have seizures. This research is a quantitative study with a cross sectional approach. The population in the study were 142 medical students in the 2019 batch of Malahayati University in Bandar Lampung and 133 in 2021. So the total is 275, the sample is 164 students. Data collection using a questionnaire. Relationship analysis using independent t test. Research Results: Batch 2019 most of the respondents had knowledge in the good category 70 people (85.4%) with an average score of 27.7, Batch 2021 most of the respondents had knowledge in the sufficient category 45 respondents (54.9%) with an average score of 19.9. The statistical test results obtained a p value of 0.000. Conclusion: there are differences in knowledge about epilepsy and first aid for epilepsy patients between students of the 2019 and 2021 general medicine study programs Keywords: Knowledge, epilepsy, first aidAbstrak: TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENYAKIT EPILEPSI DAN PERTOLONGAN PERTAMA SAAT SERANGAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI ANGKATAN 2019 DAN 2021 Epilepsi merupakan entitas heterogen dengan etiologi dan gambaran klinik yang sangat bervariasi. Status epileptikus merupakan suatu kondisi kegawatdaruratan neurologis dengan morbiditas dan mortalitas tergantung durasi bangkitan. Peneliti ingin mengukur pengetahuan dua angkatan 2019 dan 2021 dikarenakan 2019 telah mengambil blok neurologi yang sudah membahas penyakit epilepsi sedangkan 2021 baru melewati semester dua dan belum mendapatkan materi epilepsi di blok neurologi. Tujuan penelitian ini diketahui Perbedaan Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Kedokteran Angkatan 2019 dan 2021 terhadap penyakit epilepsi dan pertolongan pertama pada pasien epilepsi yang kejang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian adalah mahasiswa kedokteran Angkatan 2019 Universitas Malahayati Bandar Lampung sebanyak 142 dan angkatan tahun 2021 sebanyak 133. Jadi totalnya adalah 275, Sampel sebanyak 164 mahasiswa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis hubungan menggunakan uji t independen. Hasil Penelitian: Angkatan 2019 sebagian besar responden memiliki pengetahuan dalam kategori baik 70 orang (85.4%) dengan nilai rata-rata 27.7, Angkatan 2021 sebagian besar responden memiliki pengetahuan dalam kategori cukup 45 responden (54.9%) dengan nilai rata-rata 19.9. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value 0,000. Kesimpulan: ada perbedaan pengetahuan tentang penyakit epilepsi dan pertolongan pertama pada pasien epilepsi antara mahasiswa prodi kedokteran umum angkatan 2019 dan 2021 Kata Kunci: Pengetahuan, penyakit epilepsi, pertolongan pertama
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HASIL BELAJAR PADA MAHASISWA KEDOKTERAN TAHUN PERTAMA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
Yuda Samayta Husna;
Andra Novitasari;
Nabil Hajar;
Mega Pandu A.
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.10003
Abstrak: Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Hasil Belajar Pada Mahasiswa Kedokteran Tahun Pertama Di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Belajar yakni sebuah proses usaha yang dilaksanakan perseorangan secara menyeluruh guna mendapat sebuah tingkah laku baru yang berubah selaku hasil pengalaman individu tersebut pada interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Berhasil tidaknya belajar mahasiswa tampak dari prestasi akademik yang dicapai. Penelitian ini adalah analitik observasional memakai pendekatan cross sectional yang mempelajari faktor – faktor yang mempunyai hubungan dengan hasil belajar pada mahasiswa kedokteran tahun pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen untuk mendapatkan data penelitian. Terdapat hubungan antara variabel self regulated learning, stres akademik, dan gaya belajar terhadap hasil belajar, dengan ditunjukkan oleh nilai p 0,00 dan self regulated learning didapatkan r 0,356, stres akademik didapatkan r 0,407 serta gaya belajar diperoleh nilai r 0,417. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan hasil belajar pada mahasiswa kedokteran tahun pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang adalah self regulated learning (sig=0,002). Terdapat hubungan antara self regulated learning, stres akademik, dan gaya belajar terhadap hasil belajar pada mahasiswa kedokteran tahun pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Faktor yang paling dominan ialah faktor self regulated learning.
HUBUNGAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI PADA REMAJA TERHADAP POTENSI PENYEBARAN COVID-19 DI KECAMATAN GROGOL KABUPATEN SUKOHARJO
Anisa Dewi Suryaningsih;
Nisa Puspita Dewi;
Silvi Mursinah Purwanto;
Titin Kurniawati;
Aulia Putri Eka Pratiwi;
Dewi Puspito Sari
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.9828
Angka kasus Covid-19 pada remaja dari Januari hingga Mei 2022 di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo terdapat 36 kasus, sesuai dengan data Puskesmas Grogol pada tahun 2021. Jumlah kasus Covid-19 yang tinggi menyebabkan Pemerintah menerapkan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Seiring longgarnya kebijakan tersebut, maka banyak kedai makanan cepat saji sudah mulai beroperasi hingga menyebabkan tingginya antusias pada remaja untuk datang. Banyaknya restoran cepat saji yang mempunyai spot foto yang menarik dan aesthetic, harga yang murah, serta variasi makanan yang beragam menyebabkan tingginya antusias dari remaja. Banyaknya remaja yang datang ke restoran cepat saji dan tidak menerapkan protokol kesehatan menyebabkan tingginya potensi penyebaran Covid-19. Tujuan umum dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan perilaku pola konsumsi makanan cepat saji pada remaja terhadap potensi penyebaran Covid-19 di kalangan masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan case control. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Variabel bebas (perilaku konsumsi), variabel terikat (potensi penyebaran Covid-19). Terdapat hubungan antara perilaku makan makanan cepat saji denga risiko Covid 19 pada remaja. Remaja dengan perilaku makan makanan cepat saji yang tinggi memiliki risiko tertular Covid-19 sebesar 2.21 kali dibandingkan dengan remaja yang memiliki perilaku makan makanan cepat saji yang rendah dan secara statistik signifikan (OR= 2.21; 95%CI= 1.04 – 4.72; p=0.038).
HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI LANJUTAN PADA ANAK USIA 18-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAJABASA INDAH
Prambudi Rukmono;
Nina Herlina;
Akhmad Kheru Dharmawan;
Sanaya Nur Azzura Imron
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.10430
Abstrak: Hubungan Pendidikan Ibu Terhadap Kelengkapan Imunisasi Lanjutan Pada Anak usia 18-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022.Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningjatkan kekebalan seorang secara aktif terhadap suatu penyakit tertentu,sehingga apabila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut maka tidak akan terekena sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Imunisasi adalah cara sederhana aman, dan efektif untuk melindungi seseorang dar penyakit berbahaya sebeum bersentuhan dengan agen penyebab penyakit.Untuk mengetahui hubungan Pendidikan ibu terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan apada anak usia 18-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah tahun 2022. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik Observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan data menggunakan tehnik total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan buku KMS selanjutnya di analisis menggunakan uji chi square. Dari hasil penelitian Pendidikan ibu terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan anak usia 18-24 bulan didapatkan hasil uji chi square yaitu nilai p-value 0,001 OR 0,005. square yaitu nilai p-value 0,000 dan OR = 16,5. Tingkat perilaku ibu baik yaitu sebesar 30 responden (63,8%) dan jumlah responden yang memiliki status imunisasi lengkap yaitu sebesar 33 responden (70,2%). Terdapat hubungan antara Pendidikan ibu terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan pada anak usia 18-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah tahun 2022.
HUBUNGAN PERILAKU KEKERASAN VERBAL ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN PADA ANAK KELAS IV-VI DI SD MUHAMMADIYAH 10 SEMARANG
Vidia Amalia;
Suprihhartini Suprihhartini;
Aisyah Lahdji
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.9856
Abstrak: Hubungan Perilaku Kekerasan Verbal Orang Tua terhadap Perkembangan pada Anak Kelas IV-VI di SD Muhammadiyah 10 Semarang. Kekerasan verbal orag tua merupakan kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anak berupa kekerasan terhadap perasaan, memuntahkan kata-kata kasar tanpa bersentuhan fisik, kata-kata seperti memfitnah, mengancam, menghina, membandingkan, dsb. Kekerasan verbal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan anak terutama terhadap pematangan karakter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku kekerasan verbal orang tua terhadap perkembangan pada anak kelas IV-VI di SD Muhammadiyah 10 Semarang. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 37 responden siswa siswi kelas IV-VI SD Muhammadiyah 10 Semarang dengan Teknik Total Sampling. Data diambil menggunakan kuesioner yang kemudian diuji dengan bantuan software computer. Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Spearman didapatkan hubungan yang bermakna antara perilaku kekerasan verbal orang tua terhadap perkembangan anak, nilai p<0,001 dengan nilai r = 0,819. Terdapat hubungan bermakna antara perilaku kekerasan verbal orang tua terhadap perkembangan anak kelas IV-VI di SD Muhammadiyah 10 Semarang. Mayoritas lebih dari separuh anak (54,1%) mendapat kekerasan verbal berat dari orang tua dan lebih dari separuh (54,1%) menunjukkan perkembangan yang tidak normal.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN NEPHROLITHIASIS DI RUANG RAWAT INAP BEDAH RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG
Yogi Ari Ghopican;
Eko Purnanto;
Nia Triswanti;
Toni Prasetia
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.10428
Abstrak : Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Nephrolithiasis Di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Nephrolithiasis atau batu ginjal yang merupakan suatu penyakit yang terjadi pada ginjal, ditemukannya batu yang mengandung komponen kristal dan matriks organik yang merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran kemih. Menurut Global Burden of Disease (GDB) bersama Disease and Injury Incidence and Prevalence Collabolators tahun 2015 mencatat terdapat 22,1 juta kasus nephrolithiasis dan mengakibatkan sekitar 16.100 kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor–faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian nephrolithiasis di ruang rawat inap bedah RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang dilaksanakan pada bulan September 2022 – Februari 2023 di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien urolithiasis di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2021-2022 sedangkan sampel yang diambil yaitu berjumlah 53 responden. Hasil penelitian berdasarkan IMT dari 53 responden faktor resiko tertinggi yaitu pada pasien yang mengalami obesitas sebanyak 32 responden memiliki IMT ≥ 25 dengan presentase 60.4%. Dan jika dilihat berdasarkan pekerjaan terdapat 21 responden memiliki pekerjaan berat dengan persentase 39,6%. Pasien nephrolithiasis berdasarkan usia faktor resiko tertinggi ada pada usia 41-60 tahun dengan presentase sebesar 62,25%. Dan jika berdasarkan jenis kelamin didapatkan faktor resiko tertinggi terjadi padi laki-laki dengan presentase 64,2%.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTARA TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF DAN TERAPI SLOW DEEP BREATHING TERHADAP TINGKAT KECEMASAN LANSIA DI RUMAH PELAYANAN SOSIAL PUCANG GADING SEMARANG
Aulade Ayu Amanullah;
Novita Sari Dewi;
Wijayanti Fuad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.9910
Abstrak: Perbedaan Efektivitas Antara Terapi Relaksasi Otot Progresif Dan Terapi Slow Deep Breathing Terhadap Tingkat Kecemasan Lansia Di Rumah Pelayanan Sosial Pucang Gading Semarang. Lansia merupakan salah satu kelompok atau populasi berisiko (population at risk) yang semakin meningkat jumlahnya. Batasan lanjut usia menurut UU Nomor 13 tahun 1998, adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Masalah psikososial yang paling banyak terjadi pada lansia seperti kesepian, perasaan sedih, depresi dan ansietas (kecemasan). Relaksasi otot progresif adalah suatu terapi yang berpusat pada otot agar menjadi relaks, metodenya dengan cara meregangkan otot dengan cara fokus pada ketenangan, seluruh otot anggota gerak pertama-tama dikontraksikan terlebih dahulu, lalu diikuti oleh relaksasi. Slow deep breathing merupakan salah satu bagian dari latihan relaksasi dengan teknik latihan pernapasan yang dilakukan secara sadar untuk mengatur pernapasan secara dalam dan lambat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan keefektivitasan antara terapi relaksasi otot progresif dan terapi slow deep breathing terhadap tingkat kecemasan pada lansia. Jenis penelitian penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen semu (quasi experiment) dengan metode pretest dan postest (one group pre test and post test design). Responden sebanyak 49 lansia diolah dengan uji mann whitney dan wilconxon. Kuisioner kecemasan menggunakan kuisioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SRAS). Analisis data dilakukan dengan uji beda berpasangan dengan uji paired t atau uji Wilcoxon. Uji beda tidak berpasangan dengan uji independent t atau mann whitney. Uji beda berpasangan didapatkan nilai selisih pre test dan post test relaksasi otot progresif p = <0,001 dan pada slow deep breathing p = <0,001 adalah signifikan (p < 0,05). Sedangkan pada uji beda tidak berpasangan antara terapi relaksasi otot progresif dan slow deep breathing didapatkan pada kecemasan pre, kecemasan post dan selisih kecemasan tidak signifikan (p < 0,05). dengan nilai p = 0,269. Kedua terapi tersebut memiliki tingkat keefektivitasan yang sama, keduanya tidak terdapat perbedaan yang signifikan sehingga terapi relaksasi otot progresif dan slow deep breathing sama-sama efektif dalam menangani kecemasan dan dapat menurunkan tingkat kecemasan.
HUBUNGAN STATUS PEKERJAAN IBU TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI LANJUTAN ANAK USIA 18– 24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAJABASA INDAH
Nina Herlina;
Anggunan Anggunan;
T. Astri Pinilih;
Muhamad Nursiha
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jikk.v10i6.6683
Abstrak: Hubungan Status Pekerjaan Ibu Terhadap Kelengkapan Imunisasi Lanjutan Anak Usia 18 – 24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah. Imunisasi adalah sebuah pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk melindungi individu dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)., sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Pemberian imunisasi dapat mencegah sekitar 2-3 juta kematian setiap tahunnya. Imunisasi lanjutan masuk ke dalam program imunisasi rutin dengan memberikan 1 dosis dan campak/MR kepada anak usia 18-24 bulan. Untuk mengetahui hubungan status pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan anak usia 18 – 24 bulan di wilayah kerja puskesmas Rajabasa Indah. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik Observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan data menggunakan tehnik total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan buku KMS selanjutnya di analisis menggunakan uji Chi Square. Dari hasil penelitian hubungan status pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan anak usia 18 – 24 bulan didapatkan hasil yaitu nilai p-value 0,000 dan OR = 0,040. Ibu yang bekerja yaitu sebanyak 27 responden (60%) dan jumlah yang imunisasi lanjutan tidak lengkap sebanyak 25 responden (55,6%). Terdapat hubungan status pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan anak usia 18 – 24 bulan di wilayah kerja puskesmas Rajabasa Indah.