cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DIRUMAH SAKIT MENGGUNAKAN METODE LEAN MANAGEMENT IQLIMA SAFITRI; ANGGA PRAWIRA KAUTSAR
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.381 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12685

Abstract

Rumah sakit merupakan salah satu sarana atau tempat yang dijadikan sebagai pelayanan kesehatan masyrakat,dimana Rumah sakit dituntut untuk melayani pasien dengan baik dan benar sehingga menghasilkan mutu pelayanan yang tinggi, minimal pelayanan tersebut sesuai standar yang ditetapkan oleh peraturan Kementrian Republik Indonesia. Kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dapat diamati melalui kinerja professional dari personil rumah sakit, efisiensi, efektivitas dan kepuasan pasien. Lean management merupakan salah satu metode yang digunakan dalam peningktana pelayanan kesehatan. Lean management ini  mengutamakan sinkronisasi antar elemen (kerjasama) yang dipimpin dan berstandar. Metode Lean management ini banyak diaplikasikan oleh beberapa organisasi pelayanan kesehatan dan menghasilkan dampak yang positif bagi beberapa organisasi pelayanan kesehatan.
REVIEW: SELEDRI Apium Graveolens. Linn. SEBAGAI TABLET ANTI-INFLAMASI AINAA HAZIRAH SHAMSUL ANUAR; Jutti Levita Jutti Levita
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.551 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17343

Abstract

ABSTRAKSeledri atau nama sintifiknya Apium Graveolens. Linn merupakan satu tanaman yang secara tradisionalnya sering diguna sebagai penambah nafsu makan, lalap dan juga sebagai penghias dalam makanan. Dengan menggunakan metode granulasi basah, tablet dari akar seledri telah dicetak dan seterusnya dievaluasi. Seledri memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat anti-inflamasi karena ia mengandung senyawa utama Apiin yang merupakan zat metabolit utama untuk anti-Inflamasi. Didalam sistem tubuh, Apiin akan terhidrolisis menjadi gula dan aglikon apigenin yaitu satu zat yang terbukti dapat mengatasi gejala inflamasi. Telah dibuat tablet dengan menggunakan kombinasi bahan esipien laktosa, amilum manihot dan avicel 102, primojel dan magnesium stearat. Yang dibuat bervariasi adalah bahan pengikat yang digunakan yakni HPMC 2910 3 cps, PVP K30 dan gelatin.Kata Kunci: Akar Seledri, Anti Inflamasi, Sediaan Tablet, Evaluasi Tablet.ABSTRACTCelery or it scientific name, Apium Graveolens. Linn is a plant that is traditionally used as an appetite enhancer, salad and also as a decorative in food. Using the metod of wet granulation, tablets form the roots of a celery’s extracts have been printed and evaluated. Celery is said to have the potential to be developed as an anti-inflammatory drug because it contains Apiin, which is the main metabolite substance for anti-inflammatory action. In the body system, apiin will be hydrolyzed into sugar and apigenin aglicon an  active substance that are proven to overcome the symptoms of inflammation. Tablets have been formulated using a combination of lactose, amylum manihot and magnesium stearate. The binder used, HPMC 2910 3cps, PVP K30 and gelatin are made varies.Keywords: Celery’s roots, Anti-Inflammation, Tablet Preparation, Tablet Evaluation.  
POTENSI BIJI KLABET (Trigonella foenum-graecum L.) SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN HERBAL : REVIEW JURNAL ALFIA NURSETIANI; Yedi Herdiana
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.318 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17587

Abstract

Obat herbal tradisional yang berasal dari tanaman dapat menjadi alternatif pengobatan dan pemeliharaan kesehatan yang efektif, karena efek samping yang dimiliki lebih sedikit dibandingkan dengan obat sintesis. Tanaman klabet dengan nama latin Trigonella foenum-graecum L. merupakan salah satu tanaman obat tertua yang telah banyak diteliti mengenai manfaat dalam bagian tumbuhannya, terutama bagian biji. Biji klabet mengandung banyak senyawa kimia yang bertanggungjawab atas potensi fenugreek sebagai obat herbal, di antaranya ialah sebagai antidiabetes, antioksidan, antiinflamasi dan analgesik, antikanker, antibakteri dan antifungal, antikatarak, antiaterogenik/antifertilitas, hipokolesterolemia, laksatif, estrogenik, dan lain-lain.Kata Kunci : Obat herbal, Trigonella foenum-graecum L., Potensi, Aktivitas Farmakologi
PENYISIHAN LOGAM BERAT DARI LIMBAH CAIR LABORATORIUM KIMIA MARISA DWI ARIANI; DRIYANTI RAHAYU
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.193 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i4.10595

Abstract

Limbah cair laboratorium dihasilkan dari berbagai kegiatan yang dilakukan di laboratorium dan mengandung banyak senyawa berbahaya, salah satunya ialah logam berat. Logam Fe, Cr, Hg, dan Ag merupakan beberapa logam berat yang sering ditemukan dalam limbah cair laboratorium. Dalam prakteknya, pembuangan limbah cair laboratorium belum diolah dengan baik, sehingga masih mengandung logam berat terlarut di dalamnya. Artikel ini membandingkan beberapa metode dalam penyisihan logam berat pada limbah cair laboratorium kimia di beberapa wilayah Indonesia. Data-data pada artikel ini didapatkan dari beberapa studi yang telah dilakukan, kemudian dibandingkan satu sama lainnya. Metode yang dibandingkan adalah adsorpsi, presipitasi, koagulasi, dan kombinasi kedua metode. Dari studi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode kombinasi presipitas dan adsorpsi memberikan persentasi penurunan tertinggi dalam penyisihan logam pada limbah cair laboratorium dengan presentasi penurunan konsentrasi logam berat sebesar 98,09-99,99%.Kata kunci : adsorpsi, presipitasi, dan koagulasi.
AKTIVITAS ANTINOSISEPTIF FRAKSI N-HEKSAN DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.) RUTE ORAL PADA MENCIT JANTAN SWISS Amanda Gita Tiaravista; Robiyanto Robiyanto; Sri Luliana
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.692 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.18839

Abstract

Daun Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) diketahui memiliki aktivitas antinosiseptif. Alkaloid mitraginin bertindak melalui reseptor opioid pada reseptor µ-opioid dan δ-opioid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antinosiseptif fraksi n-heksan daun kratom serta dosis yang dapat memberikan efek antinosiseptif pada mencit jantan Swiss. Metode yang digunakan adalah metode hot plate test. Mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (CMC Na 0,5%), Kontrol positif (Morfin 5,46 mg/kgBB), dosis I (70 mg/kgBB), dosis II (140 mg/kgBB), dan dosis III (280 mg/kgBB). Pengamatan dilakukan tiap 15 menit selama 2 jam degan mencatat waktu latensi yang dilihat dari respon mencit berupa menarik kaki belakang dan melompat. Data rata-rata waktu latensi dianalisis menggunakan One Way ANOVA, menunjukkan bahwa fraksi n-heksan pada dosis III memiliki hasil (p<0,05) dan pada dosis II memiliki hasil (p>0,05) terhadap kontrol positif. Hasil rata-rata AUC pada dosis II sebanding dengan kontrol positif. Hasil persen daya antinosiseptif paling besar dimiliki oleh dosis III yaitu 90%, diikuti oleh dosis II dan dosis I masing-masing sebesar 86% dan 82%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu fraksi n-heksan daun kratom memiliki aktivitas antinosiseptif pada ketiga dosis. Dosis II memilki aktivitas yang sebanding dengan kontrol posisitf serta semakin meningkatnya dosis maka aktivitas antinosiseptifnya juga akan semakin besar.
Aplikasi Xanthan Gum Dalam Sistem Penghantaran Obat PRISCA SAFRIANI WICITA
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.874 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.13025

Abstract

ABSTRAKDalam proses penemuan terapi farmasetis yang baru, teknologi formulasi sediaan farmasi dan sistem penghantaran obat memegang peranan penting Hal ini yang mendorong semakin berkembangnya sistem penghantaran obat terutama dari segi formulasi untuk mengoptimalkan penggunaan zat tambahan sehingga memperoleh suatu sediaan obat dengan sistem penghantaran yang baik dan memenuhi efek terapi. Beberapa tahun terakhir penggunaan polimer untuk sistem penghantaran obat menjadi perhatian beberapa peneliti. Salah satunya adalah xanthan gum. Xanthan gum memberikan hasil positif sebagai media penghantaran obat terutama untuk pelepasan obat terkontrol (untuk tujuan penghantaran obat pada usus besar) serta memiliki banyak fungsi diantaranya sebagai matriks/film tablet, coating, penghantaran obat floating, bukal, transdermal, topikal dan sebagai hidrogel.Kata kunci : Xanthan gum, polimer, sistem penghantaran obat
Analisis Willingness To Pay Vaksin Dengue (Dilihat dari Government Perspective) AMELIA PUTRI PERTIWI; MUTAKIN MUTAKIN
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2537.47 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17650

Abstract

Tingginya angka kejadian demam berdarah oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk melahirkan vaksin dengue sebagai bentuk tindakan preventif pemerintah dalam upaya pencegahan penyakit demam berdarah di negara endemik khususnya di Indonesia. Artikel review ini ditulis untuk mengetahui analisis studi pendekatan willingness to pay dari pihak pemerintah selaku pembuat kebijakan terhadap kebutuhan masyarakat akan vaksin dengue ini. Hasil artikel review ini adalah berupa hasil analisis willingness to pay dari pihak pemerintah selaku pembuat kebijakan terhadap kebutuhan masyarakat akan vaksin dengue dan faktor-faktor yang mempengaruhi Willingness to Pay tersebut.Kata Kunci : Demam berdarah, vaksin dengue, willingness to pay
AKTIVITAS ANALGESIK EKSTRAK, FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN AIR BUAH PANDAN LAUT (Pandanus tectorius) PADA MENCIT DENGAN METODE GELIAT ELLIN FEBRINA; Anas Subarnas; Dika Destiani; Dana Nasrullah
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.39 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9282

Abstract

Tumbuhan pandan laut (Pandanus tectrorius) biasa digunakan oleh masyarakat secara tradisional sebagai pereda nyeri. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah pandan laut memiliki aktivitas analgesik pada mencit namun belum diketahui aktivitas analgesik dari fraksi-fraksinya. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas analgesik ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air dari buah pandan laut dengan metode geliat dengan penginduksi nyeri asam asetat 0,7%. Dosis yang digunakan untuk ekstrak dan ketiga fraksi itu adalah 125 mg/kg berat badan (BB) dan aspirin sebagai kontrol positif adalah 65 mg/kg BB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi buah pandan laut memberikan aktivitas analgesik. Ekstrak etanol buah pandan laut memberikan efek analgesik paling tinggi dengan daya proteksi sebesar 70,05% diikuti dengan fraksi air (60,25%), fraksi n-heksan (32,14%), dan fraksi etil asetat (13,02%). 
PERAN NUTRASETIKAL PADA KANKER PARU-PARU ALIA RESTI AZURA; AJENG DIANTINI
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.357 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22044

Abstract

ABSTRAKKanker paru-paru terjadi saat sel abnormal tumbuh pada jaringan paru-paru. Kanker paru-paru menjadi penyakit yang paling umum dalam menyebabkan kematian. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan pada kanker paru-paru adalah menggunakan nurtrasetikal. Nutrasetikal merupakan suatu nutrisi yang dapat digunakan untuk membantu menjaga kesehatan dan mencegah timbulnya suatu penyakit. Tujuan dilakukan review artikel ini yaitu untuk mengetahui nutrasetikal apa saja yang dapat digunakan pada kanker paru-paru. Hasil yang didapatkan adalah cruciferous vegetable, bawang putih, kacang, kedelai, vitamin D dan minyak ikan memiliki kemampuan untuk menurunkan risiko kanker paru-paru dan meningkatkan kualitas hidup. Dapat disimpulkan terdapat berbagai macam nutrasetikal yang memberikan manfaat pada kanker paru-paruKata kunci: Kanker paru-paru, nutrasetikal, pencegahanABSTRACTLung cancer occurs when abnormal cell growth in lung tissue. Lung cancer becomes the most common disease in causing death. One prevention that can be done for lung cancer is using nutraceutical. Nutraceutical is a nutrient that can be used to help maintain health and prevent the onset of an illness. The purpose of this article review is to know what nutraceutical can be used in lung cancer.  The results were obtained that cruciferous vegetable, garlic, nut, soy, vitamin D dan fish oil have the ability to lower the risk of lung cancer and improve the quality of life. It can be concluded that there are various kinds of nutraceutical that gives benefit for lung cancer.Keyword: Lung cancer, nutraceutical, prevention
SELULOSA MIKROKRISTAL : ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN APLIKASI DALAM BIDANG FARMASETIK Ina Widia; Nasrul Wathoni
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.189 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13068

Abstract

Selulosa mikrokristal merupakan selulosa murni yang diisolasi dari alfa selulosa. Selulosa mikrokristal dapat diisolasi dari beberapa sumber alam seperti tanaman berkayu, kulit kapas, jerami, ampas tebu dengan tahapan delignifikasi menggunakan larutan basa, bleaching, dan hidrolisis α-selulosa dengan menggunakan larutan asam encer pada suhu  tinggi. Karakterisasi selulosa mikrokristal dapat dilakukan melalui uji organoleptik, analisis kualitatif, uji pati, kelarutan, susut pengeringan, pH, daya alir dan sudut diam, kompresibilitas, serta dengan menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared (FTIR), Scanning Electron Microscope Energy-Dispersive X-ray Spectrofotometry (SEM-EDS), dan Difraktometer sinar-x.  Aplikasi selulosa mikrokristal dalam bidang farmasetik dapat digunakan sebagai pengisi tablet untuk metode kempa langsung, selain itu dapat berfungsi juga sebagai pengikat, penghancur tablet, mempercepat sistem penyampaian obat, dan pembawa padat yang tidak larut air.Kata kunci : selulosa mikrokristal, isolasi, karakterisasi, aplikasi dalam bidang farmasetik.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue