cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
REVIEW: KARATERISTIK DISOLUSI TABLET IMMEDIATE RELEASE DENGAN API BCS KELAS II SEBAGAI BIOWAIVER SERTA PENDEKATAN UNTUK MENINGKATKAN KELARUTANNYA HOTMA GURNING WINOKAN; Iyan Sopyan
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.294 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22962

Abstract

Disolusi merupakan tahap yang penting ketika melakukan formulasi obat khususnya bentuk sediaan padat oral karena proses ini merupakan indikator untuk memprediksi pelepasan/ penyerapan obat in vivo dan bioavailabilitasnya. Faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dan mempengaruhi bioavailibilitasnya adalah tingkat kelarutan serta tingkat permeabilitasnya. Active Pharmaceutical Ingredient (API) atau zat aktif farmasi yang beredar di pasaran telah dikategorikan ke dalam berbagai kelas BCS. Khusus untuk API dalam BCS kelas II memiliki kelarutan rendah serta permeabilitas yang tinggi. Kelarutan dan tingkat disolusi yang buruk dari obat yang kurang larut dalam cairan gastrointestinal selalu memberikan bioavailabilitas buruk. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan tingkat kelarutan dari API dalam BCS kelas ini sehingga dapat meningkatkan disolusi dan bioavailibilitasnya hingga dapat disetujui sebagai biowaiver. Metode yang digunakan dalam artikel ini yakni studi pustaka menggunakan jurnal yang berasal dari pubmed , dengan jumlah 16 jurnal kemudian dicari dan dibandingkan karakteristik disolusinya hingga teknik yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kelarutan dari API yang tergolong dalam BCS kelas II. Setelah didapat karateristik, syarat dan ketentuan dari disolusi untuk tablet immediate release dengan API yang tergolong dalam BCS kelas II maka dapat dilakukan berbagai pendekatan untuk meningkatkan profil kelarutan dari API yang digunakan sehingga dapat disetuji untuk melakukan biowaiver.
REVIEW ARTIKEL: PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI PADA TANAMAN SEBAGAI AROMATERAPI DALAM SEDIAAN-SEDIAAN FARMASI VALENTINE SOFIANI; Rimadani Pratiwi
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.197 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12907

Abstract

            AbstrakIndonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang berlimpah dan salah satu negara yang berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tanaman-tanaman, khususnya tanaman penghasil minyak atsiri di Indonesia. Bagian dari tanaman-tanaman tersebut yang dapat dijadikan sebagai sumber minyak atsiri adalah bagian akar, batang, daun, bunga, buah, dan lain sebagainya. Minyak esensial ini dapat dijadikan sebagai produk aromaterapi yang memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai terapi komplementer, untuk merekalsasikan tubuh, bahan tambahan makanan, kosmetik, dan pengharum. Review ini berisi tentang kandungan minyak atsiri dari tanaman-tanaman yang ada di Indonesia dan dapat dijadikan produk aromaterapi dalam sediaan farmasi seperti lilin, dupa, sabun mandi, minyak pijit, garam, dan roll-on. 
REVIEW: EFEK TANAMAN OBAT PADA BIODISTRIBUSI DAN RADIOLABELING SENYAWA RADIOFARMAKA GITA WIDI SETYOWATI; HOLIS ABDUL HOLIK
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.699 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.22185

Abstract

Radiofarmaka merupakan salah satu modifikasi obat-obatan yang dapat digunakan sebagai agen terapi dan diagnostik pada beberapa penyakit. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa radiofarmaka dapat dipengaruhi oleh adanya tanaman obat dalam tubuh. Hal-hal yang dapat dipengaruhi oleh tanaman obat, yaitu biodistribusi, radiolabeling, dan farmakokinetik dari radiofarmaka melalui interaksi antarobat dengan mekanisme yang berbeda-beda. Adanya tanaman obat dalam tubuh dapat mengubah biodistribusi, radiolabeling, dan penyerapan radiofarmaka dalam tubuh. Dengan perubahan tersebut dapat terjadi kesalahan diagnosis dan terapi. Dalam review ini, akan dijelaskan mengenai tanaman obat yang dapat memengaruhi biodistribusi, radiolabeling, dan penyerapan radiofarmaka dengan mekanisme yang berbeda. Dari beberapa penelitian yang ada, interaksi antarobat tersebut dapat berupa interaksi dengan protein dalam sel darah merah di situs pengikatan yang sama, aksi dengan ion pertechnetate dan stannat, serta reaksi oksidasi dari sifat antioksidan tanaman obat. Tanaman obat tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan biodistribusi, radiolabeling, dan penyerapan radiofarmaka dalam tubuh. Oleh karena itu, dibutuhkan pencegahan mengenai penggunaan radiofarmaka dengan tanaman obat yang bersamaan pada penerapan diagnosis maupun terapi.Kata kunci: radiofarmaka, tanaman obat, biodistribusi, radiolabeling, dan penyerapan.
ARTIKEL TINJAUAN: PENGARUH BAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET YUNIKE KARUNIA PUTRI; Patihul Husni
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.294 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16751

Abstract

Salah satu zat tambahan yang memiliki peran khusus dalam formulasi sediaan tablet adalah bahan pengikat. Artikel ini mengulas tentang pengaruh bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet. Data-data mengenai penggunaan bahan pengikat tablet telah dikumpulkan berdasarkan hasil pemeriksaan sifat fisik granul dan sifat fisik sediaan tablet yang terdiri dari beberapa pengujian. Hasilnya disimpulkan bahwa penggunaan bahan pengikat seperti tepung agar, PVP, gelatin, amilum, maltodekstrin, pati biji Durian, tragakan, getah kulit buah Pisang Goroho, dan pati biji Cempedak dapat digunakan sebagai bahan pengikat, dan diantara bahan pengikat tersebut ada beberapa yang berpengaruh terhadap sifat fisik tablet.
REVIEW ARTIKEL ALTERNATIF PENGOBATAN BATU GINJAL DENGAN SELEDRI HANINDHIYA FIKRIANI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.04 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17607

Abstract

AbstrakBatu ginjal adalah keadaan dimana terdapat batu kristal dibagian ginjal sehingga dapat menyebabkan rasa nyeri hingga gagal ginjal. Pria empat kali lebih beresiko terkena penyakit batu ginjal dibandingkan wanita karena perbedaan morfologi dari organ intim. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menunjukkan bahwa tanaman obat memiliki peran dalam pengobatan batu ginjal seperti terung hijau thailand (saponin), delima(asam ellagat), hijau (katekin) dan seledri (flavonoid). Seledri memiliki segudang potensi dalam pengobatan batu ginjal jika dibandingkan dengan tanaman obat lain. Dimana seledri memiliki aktifitas antioksidan yang kuat, mengandung senyawa kimia lainnya yang dapat mengatasi berbagai macam penyakit, aman dan mudah untuk digunakan serta dapat dimanfaatkan sebagai penyedap makanan. Namun, seledri tidak dapat bertahan lama dalam penyimpanan jangka panjang. Berbagai potensi lainnya menarik untuk dapat dikaji.Kata Kunci : Batu Ginjal, Tanaman Obat, Senyawa Zat Aktif AbstractKidney stones is a state where there is a rock crystal in the kidneys that can cause pain to kidney failure. Men are four times more at risk of the disease affected kidney stones than women because of the difference in morphology of the sex organs. Various studies have been done to show that medicinal plants have a role in the treatment of kidney stones such as Thai Green Eggplant (saponin), pomegranate (ellagat acid), green (catechins) and celery (flavonoids). Celery has a myriad of potential in the treatment of kidney stones when compared with other medicinal plants. Where has the antioxidant activity of celery, contain other chemical compounds can address a variety of diseases, safe and easy to use and can be used as a food flavouring. However, celery could not survive long in long term storage. Various other potential interest to be examined.Keywords: Kidney Stones, Medicinal Plants, Compound Active Substances
Perbandingan Berbagai Teknologi untuk Mencari dan Deteksi Kanker Payudara: Article Review Batari Aning Larasati; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.793 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10758

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi dengan frekuensi kasus per tahun yang cukup tinggi di dunia, yaitu sekitar 231.840 kasus baru dan 40.290 kasus diantaranya menyebabkan kematian karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Tujuan penulisan riview artikel ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa telah tersedia berbagai macam teknologi yang berfungsi untuk screening dan deteksi dini kanker payudara, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI), Digital Mommography, Computer Aided Detection (CAD), Ultrasonography, dan Pencitraan nuklir (Nuclear Theraphy). Adanya keterbatasan teknologi sebelumnya mendorong untuk dikembangkannya teknologi baru sehingga dapat meningkatkan pencarian (screening) dan deteksi kanker payudara dengan cara efektif dan hasil yang akurat.Kata Kunci: Kanker payudara, teknologi, screening, deteksi
REVIEW : PENENTUAN KANDUNGAN SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) NUR DIANA HADAD; PATIHUL HUSNI
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.211 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.22148

Abstract

Banyak penelitian menunjukkan bahwa tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L.) bermanfaat sebagai antioksidan. Salah satu senyawa yang berperan sebagai penangkal radikal bebas yang terkandung dalam rosella (Hibiscus sabdariffa L.) adalah kandungan senyawa fenolik. Kandungan senyawa fenolik tersebut dapat ditentukan dengan menggunakna metode folin-Ciocalteu dengan menggunakan prinsip kolorimetri. Kemudian aktivitas antioksidan dari ekstrak tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dapat diketahui dari uji 2,2 diphenyl-1-pyicryl hydrazine (DPPH) dan uji lipid peroksida. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan pada rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Penulisan review artikel ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian komparatif dari berbagai jurnal penelitian dengan jumlah minimal 25 jurnal penelitian. Hasil dari review ini menyatakan bahwa bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan.
ANALISIS AMLODIPIN DALAM PLASMA DARAH DAN SEDIAAN FARMASI ANISAHTUL ALAWIAH; Mutakin Mutakin
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1787.217 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.13666

Abstract

Amlodipin merupakan obat antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker (CCB) dalam bentuk sediaan farmasi seringkali penggunaan amlodipin sering di kombinasi dengan obat antihipertensi golongan lain seperti golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau dengan obat antihiperlipidemia seperti golongan statin. Penggunaan amlodipin seringkali diberikan dalam rute pemberian oral, hal itu menyebabkan konsentrasi di dalam darah sedikit oleh sebab itu perlu dilakukan pengukuran konsentrasi di dalam darah dengan tujuan Therapeutic Drug Monitoring TDM). Dalam review kali ini akan dibahas metode analisis amlodipin di dalam sediaan farmasi dan di dalam plasma darah. Metode yang digunakan adalah HPLC, HPTLC-Densitometri, Spektrofotometri UV-VIS, LC/MS, dan Ultra Perfomance Liquid Chromatography-Electrospray Ionization Mass Spectrometry.Kata Kunci : Amlodipin, Pengunaan Amlodipin, Metode Analisis
REVIEW: PROFIL FITOKIMIA DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI GEDI (Abelmoschus manihot (L.) Medik.) ORIN TRI WULAN; Raden Bayu Indradi
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.032 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17524

Abstract

 
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Dan Fraksi Teripang Laut (Stichopus horrens) Asal Langkawi, Malaysia terhadap Salmonella typhi ATCC 786 dan Salmonella paratyphi A Isolat Klinis Tiana Milanda; Arif SATRIA WIRA KUSUMA; ragavendra ravee
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.795 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9291

Abstract

Demam tifoid merupakan salah satu penyebab penting morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia oleh aktivitas mikroorganisme, seperti Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A. Salah satu sumber dari alam bahari yang digunakan untuk mencegah penyakit tifioid adalah Teripang Laut Gamat (Stichopus horrens). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi Teripang Laut (Stichopus horrens) serta menentukan fraksi teraktif, dan mengetahui Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari bahan uji terhadap Salmonella typhi ATCC 786 dan Salmonella paratyphi A isolat klinis. Tahap penelitian meliputi determinasi bahan laut dan penyiapan simplisia, ekstraksi simplisia, uji aktivitas antibakteri ekstrak, fraksinasi ekstrak, uji aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) fraksi teraktif, penapisan fitokimia ekstrak dan fraksi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol Teripang Laut memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi ATCC 786 dan Salmonella paratyphi A isolat klinis pada konsentrasi 20%, 30%, 40%, 50%. Ekstrak ini berupa bentuk kristal, berwarna kuning keemasan, berbau amis, dan berasa asin dengan rendemen 6.625% (b/b) dan kadar air 5% (v/b). Fraksi teraktif dari ekstrak tersebut adalah fraksi etil asetat. Aktivitas antibakteri tersebut diduga berasal dari senyawa dari golongan alkaloid, flavanoid, saponin, monoterpenoid dan sequiterpenoid. Metode yang digunakan adalah metode difusi agar dengan teknik perforasi dan penentuan KHTM serta KBM dengan metode mikrodilusi dengan fraksi yang teraktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) untuk fraksi etil asetat Teripang Laut Gamat adalah pada rentang 10%-20% (b/v) terhadap kedua bakteri uji. Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) untuk fraksi etil asetat Teripang Laut Gamat adalah 20% (b/v) terhadap kedua bakteri uji.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue