cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
HYDROGEL UNTUK RECCURENT APHTHOUS STOMATITIS Nia Yuniarsih; Muchtaridi Muchtaridi; Nasrul Wathoni
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.802 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17237

Abstract

Recurrent Aphthous Stomatitis merupakan penyakit ulseratif mukosa mulut yang belum diketahui dengan pasti penyebabnya hingga saat ini, sehingga pengobatan yang diberikan hanya untuk mengurangi rasa sakit dan memperkecil ukuran ulkus. Formulasi yang dimodifikasi memberikan cara yang cukup efektif untuk mengatasi cepat atau tidaknya obat larut atau terbawa oleh cairan mukosa mulut sehingga dapat memperpanjang kontak obat dengan ulkus. Dalam pembuatan sediaan lepas terkendali, polimer memiliki peran penting. Ada  banyak polimer yang dapat digunakan untuk kontrol pelepasan obat dan membutuhkan pertimbangan fisiologis dan fisikokimia. Polimer dapat digunakan sebagai hidrogel film yang dirancang untuk memisahkan lesi mukosa dari lingkungan rongga mulut, dan dengan demikian mengurangi resiko terbawanya obat oleh air liur dari pengobatan lokal yang diberikan. Aplikasi ini dapat meningkatkan durasi kontak antara zat aktif dan lesi sehingga meningkatkan efektivitas terapi, mengurangi ketidaknyamanan  pasien dan membawa obat  lebih cepat dari pada gel. Artikel ini bertujuan untuk melihat berbagai macam polimer yang dapat digunakan dalam sediaan hidrogel untuk pengobatan RAS
Formulasi Gel Aromaterapi Dengan Basis Karagenan VALENTINE SOFIANI; Sriwidodo Sriwidodo; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.866 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.16238

Abstract

Penggunaan aromaterapi dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak dan beraneka ragam bentuk serta kegunaannya. Sediaan aromaterapi yang beredar di pasaran, diantaranya adalah lilin aromaterapi, dupa, dan sabun aromaterapi. Namun, sediaan aromaterapi lain yang dapat digunakan adalah gel aromaterapi. Gel aromaterapi ini menggunakan minyak atsiri yaitu minyak lemon. Komponen utama yang digunakan sebagai polimer pembuatan gel aromaterapi ini adalah karagenan kappa yang merupakan hasil ekstraksi dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula gel aromaterapi yang tepat dengan basis karagenan, mengetahui karakterisasi, dan stabilitas gel aromaterapi dengan basis karagenan. Metode penelitian ini meliputi optimasi basis gel dengan konsentrasi karagenan 2%;2,5%;3%;3,5%;4%, evaluasi basis gel, formulasi gel aromaterapi dan evaluasi gel aromaterapi. Evaluasi yang dilakukan meliputi pengujian organoleptis, pengujian sineresis gel, pengujian total penguapan zat cair dan persen bobot sisa, dan pengujian kekuatan gel pada suhu penyimpanan 25oC dan 40oC. Hasil pengujian organoleptis gel aromaterapi meliputi tekstur, warna, dan bau menunjukkan hasil yang baik pada suhu penyimpanan 25oC yaitu karagenan dengan konsentrasi 3%, minyak atsiri konsentrasi 7% dengan penambahan minyak nilam 1%, pengujian sineresis gel aromaterapi menunjukkan hasil yang baik yaitu kurang dari 1%, pengujian total penguapan zat cair dan persen bobot sisa yang lebih kecil dapat dilihat pada formula gel aromaterapi yang ditambahkan minyak nilam, dan pengujian kekuatan gel berkisar antara 2,200-3400 g.force.Kata Kunci    : Karagenan Kappa, Gel Aromaterapi, Minyak Lemon, Minyak Nilam 
REVIEW: Efek Samping Penggunaan Isotretinoin sebagai Obat Jerawat terhadap Kehamilan Nadhira Mahda Dinar Lubis; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.573 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10601

Abstract

Jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang mengganggu penampilan seseorang. Isotretinoin adalah salah satu obat anti jerawat oral yang paling sering digunakan karena obat ini bekerja dengan sangat baik. Sayangnya, isotretinoin memiliki efek samping serius terhadap kehamilan. Dari beberapa hasil penelitian secara eksperimental dan non-eksperimental diketahui bahwa isotretinoin dapat menyebabkan gangguan kehamilan yaitu keguguran spontan pada ibu hamil serta menyebabkan bayi terlahir cacat. Penelitian secara non-eksperimental dilakukan dengan metode retrospektif menggunakan data medis responden dan pengisian kuesioner mengenai kehamilan. Penelitian eksperimental menggunakan tikus yang diberi isotretinoin, lalu diukur parameter-parameternya, seperti parameter darah, ketebalan kornea pada anakan tikus dan abnormalitas pada rongga mulut anakan tikus. Selain itu penelusuran pustaka juga menghasilkan beberapa kasus mengenai hasil kehamilan yang dilaporkan akibat dari penggunaan isotretinoin selama masa kehamilan. Hasilnya didapatkan bahwa penggunaan isotretinoin selama masa kehamilan akan menimbulkan efek teratogenik dan aborsi spontan.
REVIEW: LANGKAH-LANGKAH DALAM PENELUSURAN DAN PENGKAJIAN PATEN DALAM PENGEMBANGAN PRODUK BARU DI INDUSTRI FARMASI NURUL KARTIKA HANDAYANI; Ida Musfiroh; Dea Gilang Kancanawatie
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.499 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.21895

Abstract

Pengembangan produk adalah tulang punggung dan kekuatan yang mendasari industri farmasi dalam menghasilkan produk yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, dalam pengembangan produk harus memperhatikan paten yang berkaitan produk dengan cara melakukan penelusuran dan pengkajian paten. Terdapat dua metode dalam melakukan penelusuran paten, yaitu penelusuran paten secara resmi kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) dan secara mandiri. Setelah dilakukan penelusuran, dilanjutkan dengan pengkajian paten. Hasil dari pengkajian paten ini akan digunakan untuk memenuhi salah satu persyaratan pada saat pra-pendaftaran.Kata kunci: Pengembangan produk, penelusuran, pengkajian, paten, industri farmasi.
PEGARUH P-GLYCOPROTEIN (P-GP) TERHADAP BIOAVAIBILITAS SUATU OBAT : REVIEW MULTIANI S LATIF; Taofik Rusdiana; Dolih Gozali
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.528 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15418

Abstract

Bioavaibilitas merupakan jumlah obat yang masuk kedalam sirkulasi sistemik setelah obat diberikan secara oral. Hal ini  berhubungan dengan efek terapi obat yang dihasilkan. Obat-obat yang memiliki bioavaibilitas rendah maka efek terapi yang dihasilkan sedikit. Salah satu yang menyebabkan hal ini adalah P-glycoprotein (p-gp). P-glycoprotein (p-gp) merupakan anggota dari superfamili transporter ATP binding cassette (ABC) yang berfungsi untuk memompa efluks dari transmembran, pompa tersebut salah satunya berada dalam epitel usus. Hal ini merupakan salah satu masalah serius dalam penemuan obat karena akan membatasi penyerapan obat baru sehingga mempengaruhi bioavaibilitas suatu obat.Kata Kunci : P-glycoprotein (p-gp), Bioavaibilitas, Efek Terapi.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA ANGKAK; ARTIKEL REVIEW ULYA NABILA
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1516.342 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17549

Abstract

AbstrakAntioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, memperlambat bahkan mencegah proses oksidasi lipid. Secara alami, semua organisme aerobik memiliki sistem pertahan antioksidan. Namun, dalam beberapa keadaan antioksidan perlu ditambahkan dari luar. Studi literatur ini bertujuan untuk menemukan antioksidan yang dapat diperoleh dari luar tubuh seperti makanan. Metode literature review dilakukan dengan mencari sumber-sumber terpercaya sehingga artikel ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi aktivitas antioksidan dari luar tubuh. Salah satu makanan yang mempunyai aktivitas antioksidan adalah angkak. Angkak merupakan produk fermentasi beras oleh kapang Monascus sp. Senyawa penting dalam angkak yang menghasilkan aktivitas antioksidan adalah alkaloid, fenol, terpenoid, triterpenoid, flavonoid, flobatananis, kumarin dan saponin. Presentase antioksidan dalam angkak dipengaruhi oleh jenis subtrat dan varietas substrat yang digunakan. Aktivitas antioksidan dengan presentase paling tinggi ada pada angkak yang dibuat dari substart beras yakni 45,61%.Kata kunci: Angkak, antioksidan, substrat AbstractAntioxidants are compounds that can delay, slow down and even prevent the process of lipid oxidation. Naturally, all aerobic organisms have antioxidant defense systems. However, in some condition antioxidants need to be added from the outside. This literature study aims to discover antioxidants that can be obtained from outside the body such as food. Literature review method were done by searching for reliable sources so that this articel can be used as a source of information on antioxidant activity from outside the body. One of the foods that have antioxidant activity is Angkak. Angkak is a product of fermented rice by Monascus sp. Important compounds in Angkak that produce antioxidant activity are alkaloids, phenols, terpenoids, triterpenoids, flavonoids, flobatananis, coumarins and saponins. The percentage of antioxidants in Angkak is influenced by the type of substrate and varieties of substrate used. Antioksidan activity with the highest percentage is on Angkak made from rice substart that is 45,61%. Keywords: Angkak, antioxidant, substrat
PERBEDAAN METODE PEMBUATAN OBAT DENGAN SISTEM DISPERSI PADAT : REVIEW ARTIKEL YULINA BR SARAGIH; iyan Sopyan; Marline Abdassah
Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.128 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i3.10604

Abstract

Biovaibilitas dari suatu obat merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kelarutan suatu obat yang rendah, kelarutan obat ini juga yang akan mempengaruhi kecepatan absorbsi dari suatu obat didalam tubuh. Oleh karena itu dalam pengembangan formulasi suatu obat untuk meningkatkan laju disolusi, bioavaibilitas serta kelarutan yang rendah dapat menggunakan dispersi padat dengan metode preparasi nya adalah metode peleburan atau fusi, metode penguapan pelarut, metode supercritical anti-solvent precipitation (SAS), dan metode kneading. Metode pnentuan tipe dispersi padat dengan menggunakan metode penetapan pola difraksi sinar x, analisis spektroskopi FTIR, analisis thermal dengan Differential Scanning Calorimetry, dan penetapan laju disolusi. 
REVIEW : NUTRASEUTIKAL UNTUK PASIEN DIABETES MICHELLE FERDINAND; Keri Lestari
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.302 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22157

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit dengan gangguan metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang mampu menyebabkan kematian. Penderita penyakit ini semakin tahun semakin meningkat sebanding dengan jumlah angka kematian karena diabetes mellitus. Indonesia menduduki peringkat ke-7 dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia dan diabetes mellitus termasuk ke dalam 10 penyebab kematian di dunia. Diabetes ini juga dapat menyebabkan berbagai risiko komplikasi dengan penyakit lainnya. Penanganan terhadap diabetes ini dapat dilakukan dengan berbagai cara pengobatan yaitu dengan menggunakan obat – obatan. Terapi diabetes tidak hanya bertumpu pada obat sebagai terapi farmakologi, namun juga pada terapi non farmakologi yang mencakup pengendalian pola makan dan rekayasa pola hidup. Akan lebih menguntungkan jika selama terapi ditunjang oleh nutrisi makanan fungsional (nutrasetikal) yang bermanfaat untuk menunjang pengendalian gula darah pasien diabetes. Secara empiris, herbal yang digunakan masyarakat untuk terapi pasien diabetes mellitus adalah bawang merah, bawang putih, lidah buaya, sambiloto, teh hijau, cabe rawit, tapak dara, kayu manis, kunyit, mangga, pare, stevia, dan jahe dengan nama latin Allii Cepa Bulbus, Allii Sativi Bulbus, Aloe vera, Andrographis paniculata, Camelia sinensis,  Capsicum annuum, Catharanthus roseus (L.) G. Don, Cinnamon zeylanicum, Curcuma domestica, Mangifera indica, Momordica charantia, Stevia rebaudina, dan Zingiber officinale.
FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK KERING DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L) Fakhri Rabbani; PATIHUL HUSNI; Kusdi Hartono
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.396 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.13283

Abstract

Daun sirih hijau dapat digunakan untuk menguatkan gigi, menyembuhkan sariawan, menghilangkan bau mulut dan menghentikan perdarahan gusi sehingga ekstraknya berpotensi dikembangkan menjadi sediaan tablet hisap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan tablet hisap ekstrak daun sirih hijau dengan formulasi terbaik dengan rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Tablet hisap dibuat dari ekstrak kering daun sirih hijau dengan metode granulasi basah yang dibuat dalam berbagai variasi konsentrasi gelatin sebagai pengikat. Data hasil evaluasi di analisis dengan One way Anova (p < 0,05). Berdasarkan hasil evaluasi fisik dan uji kesukaan, formula terbaik tablet hisap ekstrak kering daun sirih hijau adalah F3 yang mengandung ekstrak kering daun sirih hijau 100 mg, laktosa 72,25%, gelatin 10% sebanyak 35 ml, talk 5%, asam sitrat 2,5%, aspartam 2,5%. Gelatin sebagai pengikat dapat mempengaruhi sifat fisik tablet. Kata kunci : daun sirih hijau, tablet hisap, granulasi basah, gelatin
ARTIKEL ULASAN: TABLET KUNYAH DI BIDANG FARMASI ANASYA RIDHA NURHANIFAH; Dolih Gozali
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.159 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17514

Abstract

AbstrakTablet merupakan salah satu bentuk sediaan yang tersedia paling banyak dipasaran, namun tidak semua orang dapat mengonsumsi tablet dengan mudah. Saat ini, pengembangan tablet kunyah merupakan salah satu solusi yang ditawarkan agar tablet dapat dengan mudah dikonsumsi. Oleh karena itu, mulai banyak dikembangkan formula-formula tablet kunyah yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Dalam artikel ulasan ini diperlihatkan salah satu formula tablet kunyah beserta evaluasinya, baik dengan metode granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung, serta contoh-contoh tablet yang sudah mulai dibuat dalam tablet kunyah.Kata kunci : tablet kunyah, formulasi AbstractTablets preparations are the most popular form of preparations, but not everyone can easily consume tablets. Currently, the development of chewable tablets is one solution offered so, tablets can be easily consumed. Therefore, a lot of chewable tablet formulas are developed based on needs of the patients. In this review journal is shown one chewable tablet formula and its evaluation, both with wet granulation method, dry granulation, and direct compression, and examples of chewable tablets.Keywords : chewable tablets, formulation

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue