cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
ARTIKEL REVIEW: BEBERAPA TANAMAN OBAT SEBAGAI ANTIMALARIA Kita Radisa; Zelika Mega Ramadhania
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3475.549 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22062

Abstract

ABSTRAKTanaman obat telah menjadi alternatif pengobatan pada masyarakat lokal untuk beberapa penyakit. Terlebih dengan meningkatnya kasus resistensi terhadap obat kimia dan munculnya efek samping yang tidak diinginkan memicu pencarian obat herbal sebagai alternatif, salah satunya adalah pengobatan penyakit malaria. Dalam mengidentifikasi tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan, diperlukan penelitian yang memastikan bahwa tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif yang berguna dalam menghambat parasit penyebab malaria, plasmodium. Berdasarkan kebutuhan yang ada, pengkajian terhadap tanaman-tanaman antimalaria perlu dilakukan agar dapat memberikan manfaat secara menyeluruh terhadap pengembangan obat herbal. Dari hasil ulasan diperoleh beberapa tanaman yang memiliki aktivitas antiplasmodium yaitu Andrographis paniculata (Sambiloto), Artemisia annua (Artemisia Cina), Artocarpus camansi (Keluwih), Artocarpus champeden (Cempedak), Cassia siamea (Johar), Cordyline fruticosa (Andong), Garcinia dulcis (Mundu), Garcinia mangostana (Manggis), Kalanchoe blossfeldiana (Cocor Bebek), Macaranga gigantea (Mengkubung), Morus alba (Murbei), Strychnos lucida (Bidara Laut), dan Wedelia biflora (Sernai) yang memiliki berbagai kandungan kimia seperti xanthon, flavonoid, alkaloid, tanin, dan artemisin.Kata kunci: aktivitas antiplasmodium, malaria, tanaman obatABSTRACTHerbal plants became an alternative treatment in local people for several diseases. Especially with the increased of drug resistance and the adverse side effects triggered the search for herbal plants as an alternative, such as malaria. In identifying plants that can be used as an alternative treatment, research is needed to ensure that these plants contain bioactive compounds that are useful to inhibit malaria-causing parasites, plasmodium. Based on existing needs, an assessment of antimalarial plants needs to be carried out in order to provide overall benefits for the development of herbal medicines. The results from the review obtained several plants that have anti-plasmodium activity, they are Andrographis paniculata (Sambiloto), Artemisia annua (Artemisia Cina), Artocarpus camansi (Keluwih), Artocarpus champeden (Cempedak), Cassia siamea (Johar), Cordyline fruticosa (Andong), Garcinia dulcis (Mundu), Garcinia mangostana (Manggis), Kalanchoe blossfeldiana (Cocor Bebek), Macaranga gigantea (Mengkubung), Morus alba (Murbei), Strychnos lucida (Bidara Laut), and Wedelia biflora (Sernai) which has various chemical constituents such as xanthones, flavonoids, alkaloids, tannins, and artemisinin.Keywords: anti-plasmodium activity, malaria, herbal plants
Review: Peran Pelatihan Personil dalam Menjaga Mutu Produk di Industri Farmasi Theresia Ratnadevi; Ida Musfiroh
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.284 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15161

Abstract

Pelatihan adalah salah persyaratan kualifikasi untuk personil di industri farmasi dan merupakan bentuk penerapan dari sistem manajemen mutu. Pelatihan dilakukan untuk membentuk personil yang terkualifikasi dan memiliki pemahaman akan peran dan tanggung jawabnya. Pemahaman personil di indistri farmasi diharapkan dapat membantu mengidentifikasi masalah yang terjadi, mengkomunikasikannya, mencari pemecahan masalah, dan melakukannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan program pelatihan yang memadai, sesuai, dan berkala terhadap personil. Selain untuk kualifikasi dari personil, karena pelatihan yang diberikan juga harus dapat menyampaikan nilai parameter-parameter kritis dalam suatu proses yang berdampak baik secara langsung ataupun tidak terhadap mutu dari produk. Melalui pelatihan, industi farmasi dapat memberikan jaminan produk yang bermutu dengan cara menyediakan personil yang terkualifikasi melalui sebuah pelatihan. Artikel ini ditulis dengan tujuan memberikan gambaran atas kegiatan pelatihan kepada personil untuk bidang tertentu di industri farmasi beserta aspek mutu yang harus diperhatikan dalam pelatihan tersebut untuk menjamin mutu produk.
PERBANDINGAN METODE ANALISIS KADAR SELENIUM TOTAL DALAM SAMPEL SAYURAN : REVIEW JURNAL DETI DEWANTISARI; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.658 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17566

Abstract

ABSTRAKKemampuan beberapa tanaman untuk mengakumulasi dan mengubah bentuk anorganik selenium  menjadi senyawa organik bioaktif memiliki implikasi penting bagi gizi dan kesehatan manusia. Bawang putih dan bawang merah termasuk sayuran yang kaya dengan senyawa selenium. Perlakuan pengayaan selenium biasanya mengalami perubahan metabolisme tertentu yang menentukan produk akhir serta translokasi dan akumulasi dalam jaringan tanaman yang berbeda. Tujuan literature review ini adalah untuk membandingkan metode-metode analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis kadar selenium total dalam sampel sayuran sehingga didapatkan metode yang paling baik yang diperoleh dari beberapa parameter kritis pengujian. Beberapa metode penentuan kadar selenium dalam tumbuhan telah dikembangkan mencakup spektrometri emisi plasma-optik induktif, kromatografi cair, kromatografi gas, dan fluoresensi atomik. Metode spektrometri emisi plasma-optik induktif rentan akan gangguan unsur besi (Fe) pada sampel. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) memungkinkan pemisahan pada material kolom pada tekanan tinggi hingga 108 Pa menggunakan diameter partikel 1,7 µm, yang dapat meningkatkan efisiensi, resolusi dan kecepatan pemisahan. Metode kromatografi gas dapat menganalisis selenium yang bersifat volatil. Metode fluoresens atomik yang didasarkan pada resonansi fluoresens memiliki batas deteksi hingga satuan ppb. Pemilihan metode pada akhirnya disesuaikan dengan jenis dan kadar selenium yang terkandung dalam sampel.Kata Kunci : Fluoresens Atomik, Kromatografi, Sayuran, SeleniumABSTRACTThe ability of some plants to accumulate and convert the inorganic form of selenium into bioactive organic compounds has important implications for human nutrition and health. Garlic and onions are vegetables which rich in selenium compounds. Selenium enrichment treatment usually undergoes certain metabolic changes that determine the final product as well as translocation and accumulation in different plant tissues. The purpose of this review literature is to compare the methods used in analyzing total selenium content in vegetable samples and to obtain the best method. Several methods of determining selenium levels in plants have been developed including inductive plasma-optic emission spectrometry, liquid chromatography, gas chromatography, and atomic fluorescence. The inductive plasma-optical emission spectrometry method is susceptible to iron (Fe) distruption in the sample. The High Performance Liquid Chromatography Method (HPLC) allows separation of column material at high pressures up to 108 Pa using a particle diameter of 1.7 μm, which can improve the efficiency, resolution and speed of separation. The gas chromatography method can analyze the volatile selenium. The atomic fluorescence method based on the fluorescence resonance has a limit ppb unit of. The chosen method is ultimately depend on the type and level of selenium contained in the sample.Keywords: Atomic Fluorescence, Chromatography, Vegetables, Selenium 
Polimorfisme CYP2D6 dan Pengaruhnya Terhadap Metabolisme Kodein: Review ANNISA MAYANGSARI; Tina Rostinawati
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.129 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i4.10584

Abstract

Setiap individu dapat memberikan respon yang berbeda terhadap obat yang sama. Perbedaan respon ini diakibatkan adanya variabilitas genetik hasil dari polimorfisme pada DNA yang mengkode enzim metabolisme dan eliminasi obat. Salah satu polimorfisme yang sering ditemukan yaitu pada gen CYP2D6, yang mengkode enzim CYP2D6. Enzim CYP2D6 merupakan salah satu enzim yang berperan dalam metabolisme beberapa obat, salah satunya kodein. Kodein merupakan analgesik golongan opiat lemah yang digunakan untuk beberapa pengobatan. CYP2D6 berperan dalam mengkonversi kodein menjadi bentuk aktifnya yaitu morfin. Adanya polimorfisme pada gen CYP2D6 mempengaruhi aktivitas metabolisme enzim yang dikodenya. Terdapat empat macam metabolisme hasil polomorfisme pada CYP2D6, yaitu Extensive Metabolizer (EM), Intermediate Metabolizer (IM), Poor Metabolizer (PM) dan Ultra-rapid Metabolizer (UM). Perbedaan metabolisme kodein ini akan mempengaruhi kadar metabolit aktif kodein dan efek analgesik yang ditimbulkan. Berdasarkan fakta tersebut, perlu dilakukannya penyesuaian terapi kodein untuk tiap individu berdasarkan polimorfisme CYP2D6.
Efek Merugikan Obat Antihipertensi terhadap Perpanjangan Interval QT FUJI FADHILLA SANDY; Dika Pramita
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.814 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.23135

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita masyarakat. Hipertensi ini merupakan kondisi dimana adanya peningkatan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik yang melebihi batas normal. Untuk mengatasinya dapat dilakukan pengobatan dengan obat antihipertensi yang sesuai dengan kondisi penderita. Obat antihipertensi terdiri atas beberapa golongan diantaranya calcium channel blocker, diuretik, 1-adrenoceptor antagonist,  –blocker, ACE inhibitor, dan masih banyak yang lainnya. Selain efeknya dalam penurunan tekanan darah, terdapat pula efek merugikan yang dihasilkan dari penggunaan obat antihipertensi. Salah satu efek merugikan yang perlu dihindari yakni perpanjangan interval QT yang dapat memicu terjadinya Long QT syndrome yang jika dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Tujuan dari penulisan ini yakni untuk memberikan gambaran dari beberapa obat antihipertensi yang berdampak terhadap perpanjangan interval QT. Metode yang digunakan dalam penulisan ini yaitu penelusuran literature dalam jurnal-jurnal internasional yang berhubungan dengan variabel yang dibahas. Dari hasil penelusuran, dapat diketahui beberapa obat yang memiliki efek samping terhadap perpanjangan interval QT diantaranya amlodipine, diltiazem, atenolol, ketanserin, nicardipine, indapamide, dan verapamil. Oleh karenanya untuk keamanan penggunaan obat antihipertensi perlu diketahui efek merugikan yang berkaitan dengan perpanjangan interval QT untuk menghindari efek yang tidak diinginkan.Kata kunci : hipertensi, obat antihipertensi, perpanjangan interval QT.
FORMULASI SHAMPO ANTI KETOMBE DAN ANTI KUTU RAMBUT DARI BERBAGAI MACAM TANAMAN HERBAL ANNISA RIDLA SARASWATI; NORISCA ALIZA PUTRIANA
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3053.411 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.13323

Abstract

PENGARUH EKSIPIEN PENYALUTAN TERHADAP STABILITAS OBAT CHAIRUNNISA CHAIRUNNISA; Dolih Gozali
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.053 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17356

Abstract

REVIEW ARTIKEL: TERAPI MUAL DAN MUNTAH SELAMA MASA KEHAMILAN AFINA DWI RACHMAWATI; Tiana Milanda
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1434.785 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17755

Abstract

ARTIKEL REVIEW: KANDUNGAN DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI MINYAK BIJI SEMANGKA (Citrullus lanatus) Yudisia Ausi; Melisa Intan Barliana
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.674 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10858

Abstract

Asam lemak merupakan suatu rantai karbon alifatik dengan 4-22 atom karbon dan gugus hidoksil. Salah satu jenis asam lemak adalah asam linoleat. Asam linoleat merupakan asam lemak tak jenuh yang memiliki fungsi penting dalam tubuh. Namun asam linoleat tidak diproduksi sendiri di dalam tubuh sehingga bersifat esensial. Salah satu tanaman yang menyimpan asam linoleat yaitu semangka (Citrullus lanatus), khususnya pada bijinya. Selain mengandung asam linoleat, semangka juga mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Artikel review ini ditulis untuk mengetahui kandungan dalam minyak biji semangka serta aktivitas yang dimilikinya. Aktivitas farmakologi yang telah diketahui diantaranya menurunkan kadar kolesterol, antikanker (antioksidan dan sitotoksik), serta antihepatotoksik namun. Namun, dalam jumlah berlebih, asam linoleat dapat menyebabkan efek inflamasi. Maka dapat disimpulkan asam linoleate dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah tertentu.
REVIEW ARTIKEL: PRODUKSI ENZIM ASPARAGINASE DENGAN TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN SARAH SYAFIRA; Tina Rostinawati
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.454 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22324

Abstract

Akrilamid adalah bahan kimia berwarna putih dan tidak berbau yang diklasifikasikan sebagai bahan berpotensi karsinogenik. Pembentukan akrilamid dalam makanan dapat ditekan dengan menggunakan enzim L-asparaginase yang berperan dalam proses hidrolisis asparagin menjadi asam L-aspartat dan amonia sehingga makanan yang melewati proses pemanggangan dan penggorengan (pemanasan) tidak akan berpotensi karsinogenik. Untuk memenuhi kebutuhan asparaginase dalam  industri makanan, metode produksi dengan teknologi DNA rekombinan menjadi salah satu pilihan. Asparaginase dapat berasal dari hewan, tumbuhan, atau mikroorganisme yang kemudian dikloning dan diekspresikan umumnya pada vektor ekspresi, sel inang, dan media kultur yang berbeda dan akan menghasilkan asparaginase dengan aktivitas spesifik yang beragam.Kata kunci: Asparaginase, DNA rekombinan, Akrilamid, Karsinogenik, Vektor, Pemanasan

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue