cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
AKTIVITAS LIPOLITIK PROTEIN LysB DARI BEBERAPA MIKOBAKTERIOFAGA ZAFIRA ZAHRAH
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2996.471 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17627

Abstract

TB (tuberkulosis) telah menjadi penyebab kematian ke sembilan di dunia. TB disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang merupakan bakteri kecil yang dapat menular dan dapat tersuspensi di udara. Protein lysB pada mikobakteriofaga dapat menjadi solusi karena dapat memotong ikatan esterifikasi mycolic acid dengan lapisan arabinogalactan pada mikobakteri dan memiliki aktivitas lipolitik. Mikobakteriofaga yang telah diketahui memiliki aktivitas lipolitik, diantaranya D29, Ms6, dan Bxz2. Aktivitas lipolitik pada mikobakteriofaga dapat diukur dengan pengujian menggunakan substrat p-nitropenyl dengan variasi panjang rantai. Diperoleh Bxz2 dengan aktivitas lipolitik paling tinggi (2,7 U/mg) pada substrat pNPB (C4) dan Ms6 dengan efisiensi katalitik paling tinggi terutama pada pNPL (C12) dan pNPM (C14) sebesar 1,14 dan 1,13 min-1µM-1.
Formulasi Sediaan Losio Dari Esktrak Kulit Buah Delima (Punica Granatum L.) Sebagai Tabir Surya Iyan Iyan Sopyan; Rosa Apriana Apriana; Dolih dolih Gozali
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.635 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.8553

Abstract

Pomegranate peel has a natural compound that is used as a sunscreen. A lotion was one of the simple sunscreen products. The purpose of this research was to make a lotion from pomegranate peel extract (Punica granatum L.) which was good, stable, appeal and safe to be used. Stages on research were extract preparations, measurment of the Sun Protector Factor (SPF) value of pomegranate peel extract using Petro method, selecting base of lotion, physical observations test that including measurement of pH, viscosity, centrifugation test, freeze-thaw cycle during 28 days, the skin irritation test, the effectiveness of sunscreen and qualitative test by Thin Layer Chromatography. Concentrations of pomegranate peel extract (Punica granatum L.) in formulation of sunscreen lotions were 0,055%, and 0,066% w/w.The results showed that the sunscreen lotions had good physical quality and safe to be used. A lotion that containing a pomegranate peel extract 0,055% give effectivity as a sunscreen that is showed  in SPF is 16,63 and 44,05.
EFIKASI POLIMER ALAMI DAN POLIMER SINTETIK SEBAGAI DRESSING UNTUK PENGOBATAN ULKUS DIABETIKUM Atharia Refi Khairani Nasution; Sriwidodo Sriwidodo
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.748 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21976

Abstract

Ulkus diabetikum adalah komplikasi dari penyakit diabetes mellitus berupa infeksi, tukak dan atau destruksi ke jaringan kulit yang paling dalam di kaki pada pasien akibat abnormalitas saraf dan gangguan pembuluh darah arteri perifer. Pengobatan ulkus diabetikum yang banyak digunakan saat ini yaitu dengan cara dressing atau pembalutan luka. Polimer telah dilaporkan banyak digunakan sebagai matriks pembawa pada metode dressing. Polimer sendiri dikelompokkan menjadi dua  macam yaitu polimer alami dan polimer sintetik. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui efikasi polimer alami dan polimer sintetik sebagai metode dressing terkini untuk pengobatan ulkus diabetikum. Polimer alami yang dibahas antara lain kitosan, asam hyaluronat, selulosa, dan kolagen. Sementara, polimer sintetik yang dibahas antara lain polyvinyl alcohol (PVA), polyurethane; poly lactic acid, dan polyvinyl pyrrolidone (PVP).
Review : Formulasi Sediaan In-situ gel Oftalmik dengan Menggunakan Kombinasi basis Poloxamer 407 dan HPMC NATASYA WILONA; Ade Zuhrotun
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.32 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13133

Abstract

In-situ gel adalah larutan polimer transparan sederhana yang merupakan cairan pada kondisi penyimpanan, namun diubah menjadi gel viskoelastis setelah dimasukkan ke dalam mata karena sifat transisi fasa dari polimer. Diantara polimer insitu gel yang biasa digunakan adalah poloxamer 407 (P407). In-situ gel menggunakan kombinasi  Poloxamer 407  dan  HPMC diketahui dapat meningkatkan waktu tinggal pra-kornea dan dapat menurunkan frekuensi pemberian bentuk sediaan. Ada dua formula kombinasi basis poloxamer dan HPMC yang baik pada formula pertama yaitu poloxamer 17,5% dan HPMC 0,5% , 0,75% dan 1% dan pada formula kedua yaitu poloxamer 15% dan HPMC 2% dan 3%. Berdasarkan review, formula terbaik yaitu pada formula satu dengan konsentrasi poloxamer 17,5% dan HPMC 0,5%.Kata kunci : in-situ gel, Poloxamer 407 , HPMC , Kombinasi , Formula
FORMULASI NANOEMULSI TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS OBAT : REVIEW JURNAL ALIA INDAH SARI; YEDI HERDIANA
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.992 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17464

Abstract

Nanoemulsi ialah sediaan yang stabil secara termodinamik, dispersi transparan dari minyak dan air yang distabilisasi oleh interfasial film molekul surfaktan serta ko-surfaktan dan memiliki ukuran droplet kurang dari 100 nm. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa penggunaan nanoemulsi dapat memperbaiki kualitas obat secara fisikokimia, stabilitas, dan bioavailabilitas, serta meningkatkan absorpsi obat dibandingkan dengan bentuk konvensionalnya. Hal ini membuktikan bahwa formulasi nanoemulsi merupakan sistem penghantaran obat yang baik.
UJI AKTIVITAS ANTHELMINTIK EKSTRAK ETANOL DAUN ALAMANDA (Allamanda cathartica L.) TERHADAP CACING Ascaridia galli DAN Raillietina tetragona Secara In Vitro uray rima triyanita; Robiyanto Robiyanto; Rafika Sari
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.27 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.16090

Abstract

Infeksi yang paling umum tersebar didunia salah satunya yaitu infeksi cacing. Prevalensi infeksi cacing di Indonesia berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DepKes RI) masih tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 24,1%. Ekstrak etanol daun alamanda mengandung metabolit sekunder yang diduga mempunyai aktivitas anthelmintik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anthelmintik, pengaruh peningkatan konsentrasi, nilai LC50 dan nilai LT50 ekstrak etanol daun alamanda terhadap cacing Ascaridia galli dan Raillietina tetragona. Uji anthelmintik terbagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu 3 kelompok ekstrak etanol daun alamanda (konsentrasi 5 mg/ml, 25 mg/ml dan 50 mg/ml), kelompok kontrol normal (NaCl 0,9%) dan kelompok kontrol positif (mebendazol 5 mg/ml). Waktu dan jumlah kematian cacing dicatat dan dianalisis secara statistik menggunakan program komputer SPSS. Hasil penelitian menunjukkan waktu kematian masing-masing cacing pada tiap kelompok perlakuan berbeda bermakna dengan kontrol normal. Peningkatan konsentrasi ekstrak meningkatkan efek anthelmintik yang dihasilkan. Nilai LC50 ekstrak etanol daun alamanda (Allamanda cathartica L.) pada Ascaridia galli dan Raillietina tetragona yaitu 2,658 mg/ml dan 2,975 mg/ml sedangkan nilai LT50 yaitu 19,8 jam dan 5,1 jam. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas anthelmintik.Kata Kunci: anthelmintik, Allamanda cathartica, Ascaridia galli, Raillietina tetragona.   One of the most common infection spread in the world is worm infection. The prevalence of worm infections in Indonesia based on the data form Ministry of Health of the Republic of Indonesia (DepKes Ri) is still quite high which is 24.1 %. The ethanolic extract of alamanda leaves contains secondary metabolites that are suspected of having anthelmintic activity. This study aims to determine the anthelmintic activity, the effect of increased concentration, LC50 and LT50 values of ethanolic extract of  alamanda leaves to Ascaridia galli and Raillietina tetragona worms. The anthelmintic test was divided into 5 treatment groups, i.e 3 groups treated with ethanolic extract of alamanda leaves (concentration of 5 mg/ml, 25 mg/ml and 50 mg/ml), normal control group (NaCl 0,9%) and positive control group (mebendazol 5 mg/ml). The time and amount of worm’s mortality were recorded and statistically analyzed using the SPSS computer program. The results showed that the mortality period of each worm in every treatment groups was significantly different with the normal control group. Increased concentration of the extract will increase the anthelmintic  effect. The LC50 values of ethanolic extract of alamanda leaves (Allamanda cathartica L.) in Ascaridia galli and Raillietina tetragona was 2,658 mg/ml and 2,975 mg/ml respectively, while LT50 values was 19,8 hours and 5,1 hours respectively. This results shows that the extract has anthelmintic activity.Keywords: anthelmintic, Allamanda cathartica L., Ascaridia galli, Raillietina tetragona   UJI AKTIVITAS ANTHELMINTIK EKSTRAK ETANOL DAUN ALAMANDA (Allamanda cathartica L.) TERHADAP CACING Ascaridia galli DAN Raillietina tetragona Secara In Vitro
Aktifitas Antihiperurisemia Beberapa Tanaman Indonesia NURIHARDIYANTI NURI
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.636 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12413

Abstract

Abstrak : Kelainan biokimia klinis yang ditandai dengan kadar serum asam urat yang tinggi pada plasma darah merupakan hiperurisemia. Saat ini, untuk pengobatan hiperurisemia umunya digunakan obat alopurinol, yang jika dikonsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping salah satunya hepatitis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan daun kepel (Stelechocarpus burahol (Bl.), Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl), Putri Malu (Mimosa pudica L.), Pakis tangkur (Polypodium feei), Jahe ( Zingiber officinale), Sirzak (Annona muricata), Meniran (Phyllanthus niruri Linn.), Rosella (Hibiscus sabdariffa L.), Tempuyung (Soncus Arvensi L), Rambutan (Nephelium lappaceum). memiliki aktivitas antihiperurisemia. Oleh karena itu, pada review ini akan dibahas mengenai aktivitas antihiperurisemia pada sepuluh tanaman tersebut. Pencarian data primer dilakukan dengan instrumen pencari secara online menggunakan NCBI, Google, dan Yahoo. Hasil yang didapatkan dari beberapa artikel yaitu beberapa tanaman tersebut berkhasiat sebagai antihyperurisemia melalui uji daya hambat xantin oksidase dan menurunkan kadar asam urat pada hewan uji. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sepuluh tanaman tersebut memiliki berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengobatan hyperurisemia. Kata Kunci: Hiperurisemia, Tanaman Indonesia, Xantin Oksidase.
UJI IRITASI AKUT DERMAL PADA HEWAN UJI KELINCI ALBINO TERHADAP SEDIAAN BODY LOTION EKSTRAK KULIT BIJI PINANG (Areca catechu L.) Zainur Rahman Hakim; Kharisma Ayu Purbarini; Tjiptasurasa Tjiptasurasa Tjiptasurasa
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.105 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.18513

Abstract

Ekstrak kulit biji pinang terbukti memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 6,11 ppm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur daya efek iritasi pada kulit punggung kelinci yang dihasilkan dari sediaan body lotion ekstrak kulit biji pinang untuk menilai keamanan sediaan body lotion. Metode yang digunakan mengacu pada peraturan KaBPOM RI nomor 7 tahun 2014, yaitu dengan mengoleskan 0,5 gram formula body lotion ekstrak kulit biji pinang pada kulit kelinci, kemudian diamati ada atau tidaknya efek eritema dan udema yang timbul akibat pengaruh percobaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body lotion ekstrak kulit biji pinang jika dilihat dari parameter terbentuknya eritema dan udema skor tertinggi yaitu 1 (hampir tidak dapat dibedakan) dan dilihat dari skor indeks iritasi primer pada seluruh formula skornya yaitu 0. Kesimpulannya yaitu pada seluruh formula sediaan body lotion ekstrak kulit biji pinang setelah diukur menggunakan skor penilaian reaksi pada kulit terbukti aman tanpa menyebabkan efek iritasi pada kulit. Kata kunci : Ekstrak Kulit Biji Pinang, Body Lotion, Antioksidan, Keamanan sediaan, Iritasi akut dermal
REVIEW: PARAMETER DAN METODE SAMPLING VALIDASI PEMBERSIHAN DI INDUSTRI FARMASI Arni Praditasari; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.245 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.18120

Abstract

Validasi pembersihan merupakan upaya yang dilakukan dalam langkah konfirmasi atau pembuktian efektivitas prosedur pembersihan dalam industri farmasi ketika memproduksi obat. Pentingnya validasi pembersihan dalam suatu proses dinilai dari prosedur pembuatan produk. Parameter validasi pembersihan terdiri atas batas kandungan residu suatu produk, bahan pembersih dan kontaminasi mikroba. Penentuan senyawa marker ditentukan berdasarkan manajemen risiko mutu suatu produk dari segi kelarutan, dosis terapeutik harian terkecil, dan toksisitas (LD50). Kriteria penerimaan parameter menggunakan metode penilaian MACO (Maximum Allowable Carryover) berdasarkan ADE (Acceptable Daily Exposure), dosis terapeutik harian, dan toksisitas (LD50). Validasi pembersihan ini dilakukan menggunakan dua metode sampling, yakni metode swab dan metode rinse. Metode sampling yang efektif bergantung pada permukaan peralatan, luas permukaan alat, bahan material peralatan serta kelarutan senyawa marker. Kata kunci : validasi pembersihan, parameter, MACO, metode sampling
Review Jurnal : Formulasi Granul Effervescent dari Berbagai Tumbuhan IRFAN HADI SETIANA; ARIF SATRIA WIRA KUSUMA
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.899 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17409

Abstract

AbstrakSediaan  granul effervescent  merupakan  campuran  senyawa asam dan basa bila ditambahkan dengan air akan  bereaksi  membebaskan karbon dioksida, sehingga  menghasilkan buih yang memberikan efek rasa segar dan dapat menutupi rasa yang tidak diinginkan. Salah satu upaya  untuk  meningkatkan  kepraktisan  dan minat  masyarakat  terhadap mengkonsumsi obat herbal ialah  dengan cara memanfaatkan berbagai tumbuhan yang  selanjutnya  diformulasikan  dalam  bentuk sediaan  granul  effervescent. Sumber asam yang umum digunakan adalah asam sitrat, sedangkan sumber basanya adalah natrium bikarbonat.  Review ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait formulasi yang digunakan pada sediaan granul effervescent dari berbagai tumbuhan.Kata Kunci    : Formulasi, Effervescent granule. Tumbuhan-tumbuhan,AbstractEffervescent granule are a mixture of acid and base compounds when added with water will react to release carbon dioxide, resulting in a foam that gives the fresh effect and can mask unwanted flavors. One effort to increase the practicality and interest of the people to consume herbal medicine is by utilizing various plants which are formulated in the form of effervescent granule. The commonly used source of acid is citric acid, while the source of the base is sodium bicarbonate. This review is expected to provide information on the formulations used in effervescent granule from various plants.Keywords        : Formulation, Effervescent granule, Various plants

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue