cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Pengkajian Penerapan Cara Distribusi Obat Yang Baik Mengenai Obat Golongan Psikotropika Pada Salah Satu Pedagang Besar Farmasi di Kota Bandung Khoirunnisa, Arina; Husni, Patihul
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.50940

Abstract

Penggunaan psikotropika tanpa rekomendasi atau resep dokter merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan indikasi medis, dapat menyebabkan ketergantungan, dan mengakibatkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari karena penggunaan yang tidak semestinya, yang dapat menimbulkan kelainan. Oleh karena itu, pengawasan terhadap penanganan dan distribusi produk psikotropika diperlukan, salah satunya melalui peran Pedagang Besar Farmasi (PBF). PBF adalah badan hukum yang memiliki izin untuk melakukan pengadaan, penyimpanan, dan distribusi obat atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) adalah panduan yang mengatur proses penyaluran dan distribusi obat atau bahan obat untuk memastikan kualitas produk selama proses distribusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan dalam menerapkan CDOB sesuai dengan regulasi pemerintah dan aturan internal terkait penanganan dan distribusi produk psikotropika di salah satu PBF di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi deskriptif, dengan melakukan observasi langsung dan wawancara serta menggunakan kuesioner sebagai alat penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBF tersebut telah mematuhi semua aspek CDOB berdasarkan kuesioner yang terdiri dari 16 pertanyaan. Selain itu, hasil observasi dan wawancara langsung juga mengonfirmasi bahwa PBF di Kota Bandung telah menjalankan penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik dengan sangat baik.
Review Artikel: Nanoformulasi Untuk Pengobatan Penyakit Gerd Fadilah, Shafa Nurul; Herdiana, Yedi
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.47757

Abstract

GERD merupakan suatu gangguan yang ditandai dengan refluks isi lambung ke kerongkongan dan dapat menimbulkan gejala berupa heartburn, regursitasi, mual, nyeri ulu hati, odinofagia, serta disfagia. Pengobatan GERD yang biasa digunakan adalah obat golongan PPI dan H2RA. Namun, obat golongan ini masih memiliki bioavailabilitas, permeabilitas, dan kelarutan obat yang rendah, sehingga obat ini masih kurang efektif bagi sebagian besar penderita GERD. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan pengembangan teknologi formulasi obat baru. Salah satunya adalah nanoformulasi. Nanoformulasi merupakan suatu teknologi untuk pengobatan, diagnosis, atau pencegahan suatu penyakit dimana ukuran partikel yang digunakan adalah sekitar 10 -1000 mm. Teknologi nanoformulasi dapat digunakan untuk pengobatan GERD dan telah terbukti dapat meningkatkan efektivitas obat.
Review Artikel: Potensi Tanaman Herbal sebagai Agen Terapi Penyakit Alzheimer Fakhirah, Maitsa Alya; Husni, Patihul
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.54888

Abstract

Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang menyebabkan kerusakan sel-sel otak dan penyebab utama demensia, yang ditandai dengan penurunan kemampuan kognitif. Alzheimer terjadi karena adanya reduksi asetilkolin (ACh) oleh enzim asetilkolinesterase (AChE). AChE dengan cepat menghidrolisis ACh di celah sinaptik, melepaskan asetat dan kolin. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk memberikan informasi tentang beberapa tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif sebagai inhibitor AChE untuk Alzheimer karena terapi yang saat ini digunakan memiliki efek samping. Seluruh data diperoleh dari Scopus, PubMed, dan Google Scholar dengan melihat nilai IC50 yang diperoleh dari uji in vitro dengan metode Ellman. Selain itu, artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh sebanyak 14 tanaman herbal yang memiliki aktivitas sebagai inhibitor AChE yang diuji secara in vitro. Senyawa Columbamine yang diperoleh dari ekstrak metanol Dichocarpum auriculatum memiliki potensi terbaik sebagai inhibitor AChE dengan nilai IC50 sebesar 0.24 μM.
Review Artikel: Pengembangan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Sebagai Sun Protection Factor (SPF) Alami Gowrizki, Azahrah; Maharani, Aisha Putri
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.52497

Abstract

ABSTRAKPaparan sinar UV yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan berbagai permasalahan kulit. Untuk mengatasi hal ini, dibuatlah sediaan tabir surya yang dapat melindungi kulit dari paparan sinar UV. Namun. sebagian tabir surya berbahan kimia sintetik ternyata menghasilkan efek yang tidak diinginkan ketika diaplikasikan ke kulit sehingga dikembangkanlah tabir surya berbahan alami. Kulit buah manggis dianggap dapat dikembangkan menjadi tabir surya karena mengandung α-mangostin yang telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan  mampu mereduksi radikal bebas, menghambat hidrogen peroksida, dan juga mampu menangkal UVA dan UVB. Pada review artikel ini, akan dibahas mengenai hasil nilai Sun Protection Factor (SPF) dari penelitian-penelitian sebelumnya mengenai ekstrak kulit buah manggis.Kata Kunci: UV, Ekstrak Kulit Buah Manggis, α-mangostin, SPFABSTRACTContinuous exposure to UV rays can cause various skin problems. To overcome this, sunscreen preparations are made that can protect the skin from exposure to UV rays. However. Some sunscreens made from synthetic chemicals actually produce undesirable effects when applied to the skin, so natural sunscreens have been developed. Mangosteen peel is considered to be able to be developed into sunscreen because it contains α-mangostin which has been proven to have antioxidant activity and is able to reduce free radicals, inhibit hydrogen peroxide, and is also able to ward off UVA and UVB. In this review article, we will discuss the results of Sun Protection Factor (SPF) values from previous studies regarding mangosteen rind extract.Keywords: UV, Mangosteen Peel Extract, α-mangostin, SPF
Kajian Farmasi Klinis Kombinasi Pseudoefedrin HCl dan Guaifenesin Pada Obat Merk “X” Sebagai Penggunaan Obat Batuk dan Pilek Putri, Adinda Naswa; Lestari, Keri
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.46904

Abstract

Batuk dan hidung tersumbat merupakan refleks fisiologi untuk dapat melindungi saluran pernafasan dari rangsangan mekanik atau kimia atau masuknya benda asing untuk masuk. Anak merupakan usia yang rentang terkena penyakit saluran nafas akut dan rentan juga mengalami efek samping yang tidak diinginkan terhadap penggunaan obat. Obat batuk dan hidung tersumbat dalam bentuk siruk untuk anak terjual bebas di Indonesia salah satunya jenis ekspektoran dan dekongestan. Obat X ini memiliki kandungan Guaifenesin sebagai Ekspektoran dan Pseudoefedrin HCl sebagai deongestan. Artikel ini memuat tentang akjian farmasi klinis terkait obat X tersebut. Dan berdasarkan kajian farmasi klinis, obat X ini dapat dipergunakan sebagai obat batuk dan hidung tersumbat pada anak
Evaluasi Aspek CDOB Penanganan Produk Rantai Dingin Berdasarkan Checklist Inspeksi Diri di Salah Satu Pedagang Besar Farmasi di Bandung Kusuma, Clara Fernanda; Alfian, Sofa Dewi; Mulyasyari, Ade Irma
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51291

Abstract

Dalam keberlangsungan proses distribusi produk dari PBF ke berbagai outlet, perlu dipertimbangkan dengan baik prosesnya mulai dari penerimaan produk, penyimpanan, hingga pengiriman produk ke outlet. Hal ini sangat penting terutama untuk produk rantai dingin atau cold chain products (CCP) yang sangat sensitif terhadap temperatur sehingga harus dilakukan penyimpanan yang tepat dan sesuai dengan persyaratan yang tertera pada pedoman CDOB 2020. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi aspek CDOB penanganan produk CCP di salah satu PBF yang berada di Bandung (PBF X), berdasarkan checklist inspeksi diri BPOM RI. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2023 dengan metode observasional bersifat deskriptif serta evaluatif, dengan mengisi formulir inspeksi diri PBF, membaca SOP, instruksi kerja, dan wawancara dengan Apoteker penanggung jawab PBF. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa PBF X sudah memenuhi persyaratan (19 dari 19) dari aspek penanganan produk CCP terkait penerimaan, penyimpanan, serta pengiriman. PBF X sudah menjalankan aspek CDOB dalam praktiknya berdasarkan checklist inspeksi diri. PBF X diharapkan dapat tetap mempertahankan penanganan produk CCP yang sudah baik.
Artikel Review : Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Sebagai Obat Demam di Indonesia Rahman, Nazhmi Fauzan Fadhl; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.40048

Abstract

Demam merupakan sebuah gangguan kesehatan ditandai dengan peningkatan suhu tubuh sehingga suhunya diatas normal (36-37℃) dan hampir setiap orang pernah mengalaminya. Dalam penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan pemberian terapi farmakologi salah satunya obat antipiretik sintetik. Namun, seringkali muncul dampak seperti mual, muntah, nyeri, bahkan kerusakan organ akibat pemberiannya sehingga masyarakat mulai mengurangi penggunaannya dan mulai beralih ke tanaman obat.  Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan informasi mengenai tanaman obat yang memiliki aktivitas antipiretik. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi umum mengenai beberapa tanaman obat keluarga (TOGA) yang dapat digunakan sebagai obat demam. Penulisan dilakukan dengan pencarian literatur berbasis web yang meliputi pencarian artikel mengenai tanaman obat keluarga di Indonesia yang memiliki aktivitas antipiretik sebagai obat demam. Dari hasil pencarian diperoleh beberapa tanaman yang memiliki aktivitas antipiretik yaitu jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), kencur (Kaempferia galanga L.), kunyit (Curcuma domestica Val.), bawang putih (Allium sativum L.), bawang merah (Allium ascalonicum L.), pepaya (Carica papaya L.), kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis), jeruk nipis (Citrus aurantifolia).
Review Artikel: Efektifitas, Efisiensi, dan Kemudahan Penggunaan Aplikasi Mobile Health untuk Diabetes Mellitus Tipe-2 Yu'tika, Anugerah; Iskandar, Yoppi; Indarwati, Asti Yulia
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.53658

Abstract

ABSTRAKDiabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit tidak menular kronis dengan pravelensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. MHealth adalah salah satu intervensi kesehatan seluler berbasis teknologi yang dipakai sebagai upaya peningkatan pengobatan diabetes mellitus tipe 2. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan efektifitas, efisiensi, dan kemudahan penggunaan aplikasi mobile health pada pasien DM tipe 2. Metode penulisan ini menggunakan pencarian pada database Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci seperti, effectivity, efficiency, usability, mHealth dan DM tipe 2 dengan menggunakan 40 artikel yang relevan yang diterbitkan antara tahun 2018 sampai 2023. Penggunaan aplikasi mobile health dapat memberikan efikasi dengan penurunan kadar HbA1c, gula darah puasa 2 jam post prandial, dan profil lipid pada pasien DM tipe 2 dengan efisiensi dari segi klinis dan ekonomis. Selain itu terkait kemudahan penggunaan aplikasi diabetes bagi pasien DM tipe 2 bervariasi dengan didukung oleh latar belakang sosial dan pendidikan pengguna. Peran tenaga kesehatan professional sangat diperlukan untuk mempromosikan aplikasi mobile health sekaligus cara penggunaannya.Keywords: Efektivitas, efisiensi, mobile health, diabetes mellitus tipe-2ABSTRACTType 2 diabetes mellitus is a chronic non-communicable disease with increasing prevalence, including in Indonesia. MHealth is one of the technology-based cellular health interventions used as an effort to improve the treatment of type 2 diabetes mellitus. The purpose of this paper is to describe the effectiveness, efficiency, and ease of use of mobile health applications in type 2 DM patients. This writing method uses searches on the Pubmed and Google Scholar databases with keywords such as, effectivity, efficiency, usability, mHealth and DM type 2 using 40 relevant articles published between 2018 and 2023. The use of mobile health applications can provide efficacy with reduced HbA1c levels, 2-hour postprandial fasting blood sugar, and lipid profiles in type 2 DM patients with clinical and economical efficiency. In addition, the ease of use of diabetes applications for type 2 DM patients varies with the support of the user's social and educational background. The role of health professionals is very necessary to promote mobile health applications as well as how to use them.Keywords: Effectiveness, efficiency, mobile health, type-2 diabetes mellitus
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat Inap Non-Bedah Rumah Sakit X Di Bandung Periode Januari-Desember 2022 Menggunakan Metode ATC/DDD Puspitadewi, Nurhanifah; Halimah, Eli
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.47213

Abstract

Antibiotik merupakan suatu senyawa yang bekerja mengatasi dan mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada praktiknya banyak antibiotik yang masih digunakan secara tidak bijak maupun tidak rasional sehingga dapat menimbulkan resistensi bakteri. Untuk mengatasi hal tersebut upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan evaluasi penggunaan antibiotik sehingga dapat dilihat pola penggunaan antibiotik. Evaluasi penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap non-bedah di Rumah Sakit X di Bandung pada periode Januari-Desember 2022. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD). Selain itu dilakukan analisis terhadap Drug Utilization 90% (DU 90%). Hasil dari penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa terdapat 28 antibiotik yang digunakan. Antibiotik yang memiliki nilai DDD/100 hari rawat tertinggi adalah cefixime yaitu sebesar 4,78 DDD/100 hari rawat. Sementara antibiotik yang masuk kedalam segmen DU 90% adalah levofloxacin, cefixime, ceftriaxone, azithromycin, cefadroxil, amoxicillin, cefotaxime, metronidazole, dan thiamphenicol.Kata kunci: Evaluasi Penggunaan Obat, Antibiotik, ATC/DDD
Review: Alternatif Palatability Enhancer Sebagai Peningkat Palabilitas Formula Sediaan Pet Untuk Industri Obat Hewan Mulyanti, Mulyanti; Sopyan, Iyan
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.52452

Abstract

Sediaan pet merupakan jenis sediaan yang penggunaannya ditujukkan untuk hewan kesayangan atau hewan peliharaan, umumnya seperti kucing dan anjing. Pengembangan formula sediaan pet berkembang pesat seiring berkembangnya zaman. Hal ini didorong oleh kemajuan teknologi dan semakin tingginya kebutuhan pasar terhadap sediaan pet. Palatabilitas menjadi faktor yang sangat penting dan dapat menentukan keberhasilan formulasi sediaan pet. Tinjauan artikel ini bertujuan untuk melihat alternatif palatability enhancher yang dapat digunakan untuk meningkatkan palatabilitas sediaan pet. Metode penelitian ini yaitu studi pustaka terhadap artikel penelitian yang telah dipublikasikan yang diperoleh melalui pencarian di GoogleScholar dan ScienceDirect mengenai palatability enhancer untuk kucing dan anjing berupa artikel yang dipublikasi 10 tahun terakhir. Hasil tinjauan artikel diperoleh beberapa alternatif palatability enhancer yang dapat digunakan sebagai peningkat palatabilitas sediaan pet diantaranya hydrolized chicken liver powder, enzim phytase dan karbohidrase, Schizochytrium sp., minyak bunga matahari, serat singkong (cassava fibre), produk fermentasi Saccharomyces cerevisiae, tea poliphenols, corn fermented protein, pati kentang, yeast extract (Brewer’s yeast extract Saccharomyces cerevisiae), dried apple pomace, hati kambing dan sapi, dried yeast (Saccharomyces cerevisiae) dan medium chain triglyceride oil. Beberapa palatability enhancer tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif peningkat palatabilitas sediaan pet pada industri obat hewan.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue