cover
Contact Name
Rahmad Fani Ramadhan
Contact Email
rahmad.fani@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalilmuternak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Ternak
ISSN : 14105659     EISSN : 26215144     DOI : -
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran encompasses a broad range of research topics in animal sciences: breeding and genetics, reproduction and physiology, nutrition, feed sciences, agrostology, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, health, livestock farming system, socio-economic, and policy. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran published by twice a year, June and December
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2018): June" : 10 Documents clear
Kualitas Semen Segar Sapi Bali (Bos javanicus) pada Kelompok Umur yang Berbeda Sigit Prastowo; Pipin Dharmawan; Tristianto Nugroho; Aris Bachtiar; Lutojo -; Ahmad Pramono
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.241 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.17684

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas semen segar sapi Bali pada kelompok umur yang berbeda. Sampel yang digunakan berupa semen segar dari 8 pejantan sapi Bali di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Malang, Jawa Timur, terbagi menjadi 2 kelompok umur yaitu 4 dan 7 tahun. Rata-rata bobot badan sapi pada kelompok umur 4 tahun adalah 656,75±32,69 Kg, dan  lingkar skrotum 27,5±1,64 cm sedangkan pada kelompok umur 7 tahun adalah 615,5±72,59 Kg dan 27,93±0,74 cm. Kualitas semen segar diamati dari 10 kali penampungan menggunakan vagina buatan. Parameter yang diamati meliputi volume (ml), pH, konsentrasi (x106/ml), motilitas (%), persentase spermatozoa hidup (L/D; %), abnormalitas primer (%) dan abnormalitas sekunder (%). Untuk mengetahui perbedaan antar 2 kelompok umur, data kualitas semen dibandingkan menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok umur 4 dan 7 tahun masing-masing diperoleh volume 4,55±0,91 ml dan 5,18±1,58 ml, pH 6,51±0,06 dan 6,52±0,01, konsentrasi 962,30±390,50×106/ml dan 1079,00±90,56×106/ml, L/D 71,88±2,58% dan 72,02±1,35%, motilitas 68±3,11% dan 66,04±6,30%, abnormalitas primer 1,054±0,20% dan 0,93±0,14% serta abnormalitas sekunder 3,54±0,48% dan 4,24±0,31%. Volume dan abnormalitas sekunder secara statistik menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada kelompok pejantan sapi Bali umur 7 tahun menghasilkan volume semen dan abnormalitas sekunder lebih tinggi dibandingkan umur 4 tahun.Kata kunci: sapi Bali, pengaruh umur, kualitas semen segar
Pengaruh Waktu Inkubasi Pada Proses Sexing Sperma Berbasis Glutathione Terhadap Motilitas dan Membran Plasma Utuh Chilled Semen Domba Lokal Annisaa Yusrina; Nurcholidah Solihati; Nena Hilmia
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v18i1.17307

Abstract

The aim of this study was to examine the effect of incubation time on sexing process based on glutathione to the motility and Intact Plasma Membrane (IPM) of chilled ram semen. The separation of X and Y sperm conducted by using BSA method. This research was experimental research using completely randomized design (CRD) with three treatment namely, 45 minutes (T1), 60 minutes (T2) and 75 minutes (T3). Data were analyzed using Anova followed by Duncan's multiple range test. Material used in this research was the fresh semen from ram with sperm motility ≥ 70% and 5 mM of glutathione. The result of this research showed that the highest percentage of motility in upper and bottom fraction belong to T1 (69,7% dan 68,8%), followed by T2 (66,4% dan 64,5%) and T3 (57,9% dan 57,6%).  In addition, the result of this research that the highest percentage of IPM in upper and bottom fraction belong to T1(75% dan 71,3%), followed by T2 (69,9% dan 68,4%) and  T3 (66,9% dan 65,5%). It can be concluded that the incubation time of 45 minute is the optimum time on sexing process based on glutathione so that the motility and IPM of chilled ram semen can be maintained. 
Pengaruh Penggunaan Kombinasi Enzim Papain dan Jus Lemon Sebagai Koagulan Terhadap Kadar Air, Berat Rendemen, dan Nilai Kesukaan Fresh Cheese Bayu Sulistyo; Hartati Chairunnisa; Eka Wulandari
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.591 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.15299

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi enzim papain dan jus lemon sebagai koagulan pada pembuatan fresh cheese terhadap kadar air, berat rendemen, dan nilai kesukaan yang meliputi tekstur, rasa, warna, dan total penerimaan; serta menentukan fresh cheese yang paling disukai.  Penelitian dilakukan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan kombinasi enzim papain dengan konsentrasi tetap (0,1%) dan jus lemon dengan tiga tingkat konsentrasi 3%, 4%, dan 5%, dengan ulangan enam kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi enzim papain pada konsentrasi tetap (0,1%) dengan konsentrasi jus lemon sampai 5% pada pembuatan fresh cheese berpengaruh berbeda terhadap kadar air, dan menunjukkan penurunan kadar air dengan mengikuti pola regresi kuadratik Y = ; tetapi menunjukkan pengaruh yang sama terhadap berat rendemen.  Penggunaan kombinasi enzim papain pada konsentrasi tetap 0,1% dengan jus lemon 5% menunjukkan nilai kesukaan fresh cheese yang paling disukai secara organoleptik. 
Metode Analisis Biaya Potong Pada Rumah Potong Hewan di Kabupaten Bandung Rochadi Tawaf; Linda Herlina; Anita Fitriyani
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.045 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.18163

Abstract

Biaya pemotongan ternak sapi disetiap RPH ternyata berbeda-beda besaran nilai dan cara penetapannya. Pada umumnya, dasar yang digunakan adalah perbandingan terhadap harga yang berlaku di suatu wilayah. Sampai saat ini, belum diperoleh informasi yang lengkap mengenai cara analisis biaya potong yang dapat dipertanggung jawabkan.Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode analisis biaya potong di RPH kabupaten Bandung. Metode analisis biaya pemotongan hewan di RPH yang standar diperlukan guna dapat dipertanggungjawabkan dan menimbulkan iklim kondusif bagi para pihak, terutama bagi pelaku usaha dan kegiatan pelayanan RPH itu sendiri. Konsep “kontribusi minimal dari Nilai Tambah ternak” yang diterjemahkan sebagai “biaya potong sebesar 1% dari kenaikan nilai tambah ternak” kedalam bahasa matematikaSimpulan penelitian ini adalah : Konsep “biaya potong sebesar 1% dari kenaikan nilai tambah ternak” dengan metode “kontribusi minimal dari Nilai Tambah ternak”, dapat digunakan sebagai pedoman bagi penetapan retribusi RPH sapi potong. Metode ini dapat dikembangkan dan digunakan bagi ternak kerbau, kuda, kambing, domba juga Unggas dengan didahului oleh penelitian yang lebih spesifik bagi masing-masing komoditi ternak tersebut.
Pengaruh Silase Sinambung Jerami Jagung Terhadap Fermentasi Dalam Cairan Rumen Secara In Vitro Crhisterra Ellen Kusumaningrum; Irawan Sugoro; Pingkan Aditiawati
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.995 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.14460

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan silase sinambung jerami jagung terhadap, nilai pH, volatile fatty acid (VFA), amonia (NH3), produksi gas total dan produksi biomassa mikroba sebagai pakan ternak ruminansia secara in vitro. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 3x6 dengan 3 ulangan. Faktor pertama dalam rancangan penelitian ini adalah pakan perlakuan yaitu pakan kontrol (P1), jerami jagung (P2) dan silase sinambung jerami jagung (P3) dan faktor kedua adalah waktu inkubasi selama fermentasi in vitro yaitu 0, 2, 4, 6, 12 dan 24 jam (T1, T2, T3, T4, T5 dan T6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pakan perlakuan maupun waktu inkubasi tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap nilai pH, VFA, NH3, produksi gas total dan produksi biomassa mikroba serta tidak terdapat interaksi antara perlakuan pakan dengan waktu inkubasi. Secara numerik, kisaran pH perlakuan adalah 6,89 - 7,05; konsentrasi VFA sebesar 107–110 mM, konsentrasi amonia 23,92 – 29,88 mg/100 ml, produksi gas total sebesar 27,47 – 46,31 ml/200 mg dan produksi biomassa mikroba sebesar 40,60 – 56,80 mg/20 ml. Kesimpulan pada penelitian ini adalah baik jerami jagung maupun silase sinambung jerami jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak karena mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak ruminansia ditinjau dari produksi gas dan fermentasi pakan dalam rumen.Kata kunci: silase sinambung jerami jagung, amonia, VFA, produksi gas in vitro.
Effectiveness of Pineapple Waste (Ananas comosus) as Natural Disinfectant in Milk Cans Eulis Tanti Marlina; E. Harlia; Y. A. Hidayati
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.438 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.19429

Abstract

This study aims to study the effectiveness of pineapple fruit waste (peelsand hump) as a natural source of disinfectant in the disinfection process of milk can. The study was conducted descriptively with three treatments, namely  ethanol 96% (P1), pineapple peelsextract 100% (P2), and  pineapple hump extract 100% (P3). The parameters measured were bacterial inhibition zones, decrease of total bacteriaand Coliform.  The results showed that  ethanol 96%was very effective in reducing total and Coliform bacteria by producing a inhibition zone of 25.75 mm, while pineapple peelsand hump extracts were included in the medium category disinfectant by producing inhibition zones of 9.05 mm and 7.25 mm respectively. Decrease in the total number of bacteria in  ethanol 96%treatment (P1), pineapple peelsextract (P2), and pineapple hump extract (P3) respectively 90.43%, 66.15%, and 55.00%, while decreasing the number of Coliform 85.68% (P1), 52.94% (P2) and 51.45% (P3). These results illustrate that pineapple waste is effective to be used as a natural disinfectant in milk cans.
Performan Ayam Sentul Fase Developer yang Diberi Berbagai Tingkat Tepung Kunyit (Curcuma domestica, Val) Sebagai Imbuhan Pakan Rachmat Wiradimadja; T. Widjastuti; D. Rusmana; Abun .
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.567 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.18394

Abstract

 Penelitian ini dilaksanakan di kandang Test Farm Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit (Curcuma domestica Val)    dalam ransum sebagai feed aditif terhadap performan ayam Sentul Debu periode developer.  Penelitian ini mengunakan 60 ekor ayam sentul betina umur 16 minggu  yang di tempatkan kedalam 20  unit kandang dan tiap kandang terdiri dari 3 ekor.  Metoda percobaan adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap , terdiri atas empat perlakuan ransum dengan lima ulangan.   Perlakuan terdiri dari R0= Ransum basal, R1 = Ransum basal ditambah  tepung kunyit 0,1%, R2 = Ransum basal ditambah tepung kunyit 0,2% dan R3 = Ransum basal ditambah tepung kunyit 0,3%.  Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, umur pertama bertelur, dan bobot ayam saat pertama bertelur.   Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan  tepung kunyit dalam ransum memberikan pengaruh   yang   nyata terhadap konsumsi ransum,     bobot badan awal bertelur dan umur dewasa kelamin.  Kesimpulan dari penelitian adalah penambahan tepung kunyit hingga 0,3% dapat diberikan pada   ransum  ayam sentul periode developer  sebagai feed additive.
Performa Domba Lokal Jantan yang Diberi Ransum Hasil Pengolahan Tongkol Jagung dengan Filtrat Abu Sekam Padi Yogi Kriskenda; Denie Heriyadi; Iman Hernaman
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.652 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.15152

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui performa domba lokal jantan yang diberi ransum limbah tongkol jagung olahan. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Data yang terkumpul dilakukan analisis sidik ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan. Dua puluh ekor domba lokal jantan dialokasikan ke dalam empat ransum percobaan yaitu,  = 60% rumput segar + 40% konsentrat  = 30% tongkol jagung giling + 30 % rumput segar + 40% konsentrat  = 60% tongkol jagung giling + 40% konsentrat  = 30% tongkol jagung giling olahan + 30 % rumput segar + 40% konsentrat  = 60% tongkol jagung giling olahan + 40% konsentrat. Tongkol jagung olahan diperoleh dari hasil  perendam dengan filtrat abu sekam pada (FASP) 20% selama 3 jam. Domba yang diberi ransum percobaan menghasilkan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada konsumsi bahan kering harian, PBBH, dan lingkar dada, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap tinggi pundak, panjang badan, lingkar pinggang, konversi ransum, dan feed cost per gain. Ransum percobaan yang mengandung 30% tongkol jagung olahan menunjukkan PBBH dan lingkar dada yang paling tinggi (P<0,05) yaitu 84,41 g/hari dan 11,19 cm. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah penggunaan tongkol jagung olahan pada ransum sebanyak 30% menghasilkan performa yang terbaik.Kata kunci :  filtrat abu sekam padi, tongkol jagung, domba lokal jantan, performa
Pengaruh Pemberian Silase Campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah Pada Berbagai Rasio terhadap Kecernaan Serat Kasar dan BETN Pada Domba Garut Jantan Annisa Savitri Wijaya; Tidi Dhalika; Siti Nurachma
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.586 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.16499

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio terbaik Indigofera sp. dan Rumput Gajah dalam bentuk silase yang menghasilkan kecernaan serat kasar dan BETN tertinggi pada Domba Garut jantan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan lima perlakuan. Ransum perlakuan terdiri atas silase campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah dengan berbagai rasio yaitu T1 (0% dan 100%), T2 (10% dan 90%), T3 (20% dan 80%), T4 (30% dan 70%), dan T5 (40% dan 60%) serta pada tiap perlakuan ditambahkan Konsentrat dalam jumlah yang sama. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Data hasil penelitian diolah menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian pemberian silase campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah memberikan pengaruh terhadap kecernaan serat kasar, namun tidak memberikan pengaruh terhadap kecernaan BETN pada Domba Garut jantan. Silase campuran Indigofera sp. 20% dan Rumput Gajah 80% menghasilkan nilai kecernaan serat kasar tertinggi.
Viabilitas Oosit Pasca Vitrifikasi menggunakan Kombinasi Ethilen Glikol dan Dimetil Sulfoksida dengan Dua Level Konsentrasi yang Berbeda Tyagita Hartady; Rini Widyastuti; Mas Rizky Anggun Adipurna Syamsunarno
Jurnal Ilmu Ternak Vol 18, No 1 (2018): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.422 KB) | DOI: 10.24198/jit.v18i1.15329

Abstract

Vitrifikasi merupakan metode kriopreservasi untuk membekukan sel secara cepat, tanpa disertai terbentuknya kristal es. Vitrifikasi dilakukan dengan menggunakan krioprotektan yang memiliki toksitas. rendah sehingga oosit dapat mempertahankan viabilitasnya. Dimetil sulfoksida (DMSO) dan ethylene glycol (EG) merupakan krioprotektan intraseluler dengan toksisitas rendah sehingga kombinasi kedua krioprotektan tersebut diharapkan dapat meningkatkan viabilitas oosit pasca vitrifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi viabilitas oosit pasca vitrifikasi dengan menggunakan kombinasi dan DMSO dan EG pada konsentrasi yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Bioteknologi, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran periode September 2016-Desember 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua kelompok perlakuan,  yaitu media vitrifikasi dengan dua konsentrasi yang berbeda: 15% DMSO+15% EG dan media 17% DMSO+17%EG. Setelah seminggu penyimpanan, maka dilakukan proses warming untuk mengevaluasi viabiltias oosit pasca vitrifikasi. Hasil menunjukkan bahwa viabilitas oosit yang divitrifikasi dengan menggunakan 17% DMSO+17%EG nyata lebih tinggi apabila dibandingkan dengan 15% DMSO+15%EG. Kata kunci: vitrifikasi, Dimetil sulfoksida, Ethylen glikol, viabilitas oosit 

Page 1 of 1 | Total Record : 10