cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
DHARMASMRTI: Jurnal Pascasarjana UNHI
ISSN : 16930304     EISSN : 2620827X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan (Dharmasmrti) Diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia Denpasar sebagai media informasi dan pengembangan Ilmu Agama dan Kebudayaan Hindu, terbit dua kali setahun yaitu setiap bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 274 Documents
STRUKTUR DAN AGENSI: ANALISA SOSIAL TERHADAP PERILAKU KORUPSI Cokorde Istri Kumara Dewi
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.5 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.147

Abstract

Korupsi kini makin marak di Indonesia, yang tertangkap tangan melakukan korupsi mulai dari pejabat tinggi negara sampai kepala desa. Pemberantasan korupsi semakin keras namun korupsi masih saja terjadi. Tulisan ini mencoba membaca korupsi dari sudut pandang sosiologi berangkat dari asumsi bahwa korupsi adalah pelanggaran terhadap norma sosial yang berkembang dalam masyarakat. Ketika pelanggaran norma sebagai pemicu korupsi, maka penguatan norma melaluijalan agama menjadi tawaran yang perlu dipertimbangkan. Pengumpulan data dengan cara studi dokumen, dianalisis dengan teknik deskripsif interpretatif.
NILAI ETIKA DALAM CERITA PEDANDA BAKA Ida Ayu Komang Arniati
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.058 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.148

Abstract

Artikel ini membahas tentang “Nilai Etika dalam Cerita Pedanda Baka Karya Pedanda Nyoman Pidadha dan Ketut Pidadha”. Cerita Pedanda Baka menggambarkan kehidupan sehari-hari khususnya cara orang mempertahankan hidupnya dengan cara kurang baik yakni dengan cara menyalahgunakankepandaiannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yakni dengan jalan menipu. Adanya penelitian tentang cerita atau satua “Pedanda Baka” dalam penyampaiannya lebih mudah dipahami serta menjadi inventarisasi dari cerita-cerita yang berkembang dalam masyarakat Bali. Sangat disayangkan bila sebuah karya sastra yang sarat akan makna dan dapat menjadi petuah hidup hilang dari perhatian masyarakat begitu saja. Di samping itu pengenalan nilai etika Agama Hindu melalui mesatua (bercerita) dari orang dewasa kepada orang yang belum dewasa lebih efektif, efisien dan mudah dihayati oleh masyarakat. Demikian juga di kalangan anak-anak sangat diperlukan agar orang tuanya bercerita, sehingga nilai etika dalam cerita Pedanda Baka dapat dijadikan rujukan atau tranformasi melalui sikap dan prilaku kehidupan sehari-hari.
ASTA KOSALA KOSALI, HIDROLOGI DAN IMPLEMENTASI A.A.A. Made Cahaya Wardani; I Putu Prana Wiratmaja
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.398 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.149

Abstract

Perkembangan pembangunan yang demikian pesat merupakan dampak dari perkembangan ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Dampak yang disebabkan oleh pembangunan ini dapat berakibat baik dan juga buruk. Pembangunan tanpa diringi dengan pertimbangan terhadap kelestarian lingkungan dapat membuat permasalahan tersendiri bagi keseimbangan siklus hidrologi. Konsep pembangunan pemukiman penduduk yang diterapkan di Desa Adat Legianadalah pemukiman tradisional dengan penduduk yang homogen yaitu beragama Hindu, dan pemukiman yang merupakan kawasan campuran, karena Desa Adat Legian merupakan daerah pariwisata. Walaupun demikian pola Tri Mandala di Desa Adat Legian masih diterapkan yaitu implementasi pengaturan ruang Tri Mandala berupa Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. Dari hasil survei menunjukkan hampir 90 % responden menyatakan mengetahui astakosala kosali dengan tingkat pemahaman asta kosala kosali secara umum dengan tingkat pemahaman filosofi tingkat sedang. Akan tetapi ada juga 10 % responden yang kurang memahami filosofi asta kosala kosali dan pemanfaatannya dalam pengaturan pekarangan rumah di desa Adat Legian.
FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT PEMIKIR HINDU I Gusti Agung Paramita; I Wayan Budi Utama
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.471 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.150

Abstract

Artikel ini ingin mengkaji tentang filsafat pendidikan menurut salah satu pemikir Hindu yakni S. Radhakrisnan. Artikel ini ingin menelusuri filsafat Pendidikan Radhakrisnan melalui kajian pemikiran. Beberapa buku Radhakrisnan yang dijadikan rujukan yakni Indian Philosophy, The Philosophy of Radhakrisnan, Eastern Religions and Western Thought. Pandangan Radhakrisnan mengenai pendidikan terletak pada tujuannya dalam mempertemukan pendidikan spiritual dansosial untuk merekonstruksi sebuah masyarakat ideal di mana orang-orangnya bebas dari kebodohan dan tabiat buruk. Pendidikan spiritual tidak meniadakan aspirasi sosial, namun ia menandakan cita-cita duniawi. Tujuan tertinggi dari pendidikan spiritual adalah moksa, namun ini mesti dicapai di dunia ini, bukan di akhirat kelak.
MEMBANGUN KARAKTER GENERASI PENERUS MELALUI PASRAMAN Ni Wayan Karmini
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.893 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.151

Abstract

Di antara gejala sosial destruktif mewarnai era globalisasi dewasa ini, adalah menguatnya faham Individualisme, merosotnya moralitas, dan budaya kosumerisme yang cenderung tidak menguntungkan bagi masa depan generasi penerus. Berbagai masalah ini bisa diantisipasi melalui penyelengaran pasraman. Makalah ini akan membahas (1) mengapa pasraman diperlukan dalam membangun karakter kepribadian generasi muda Bali? (2) bagaimana penyelenggaraan pasraman itu bisa efektif dalam membangun karakter kepribadian generasi muda Bali. Makalah ini merupakan hasil dari kajian evaluatif deskripstif yang datanya diperoleh dari studi dokumentasi dan wawancara dengan 12 informan peserta dan penyelengaraan Pasraman Yuana Bhuana Giri, di Perumnas Bukit Sanggulan, Tabanan. Hasil kajian membuktikan bahwa pertama, pasraman diperlukan untuk membentuk watak dan kepribadian generasi penerus yang memiliki budi pekerti (moralitas yang baik), tidak terjebak ke dalam budaya konsumerisme, memiliki etos kerja keras, dan memiliki motivasi untuk maju, siap bersaing dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Kedua, penyelanggaraan Pasraman Yuana Bhuana Giri Tabanan selama ini sudah dilengkapi dengan beberapa materi dasar yang diperlukan untuk generasi muda Bali, termasuk materi budaya dasar, kepemimpinan, nasionalisme, motivasi untuk maju, patologi sosial, kesehatan, dan peduli lingkungan. Beberapa kalangan memandang penting atas penyampaian beberapa materi untuk pendidikan pasraman tersebut, namun belum ada evalusi khusus tentang dampak penyelenggaraan pasraman. Untuk itu, upaya evaluative atas tujuan luhur penyelenggaraan pasraman amat diperlukan.
PENDIDIKAN AGAMA HINDU BERBASIS KEARIFAN LOKAL KAHARINGAN MELALUI MATA KULIAH TAWUR DI SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI TAMPUNG PENYANG PALANGKA RAYA I Komang Widyana
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.191 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.152

Abstract

STAHN-TP Palangka Raya memahami terhadap potensi kearifan lokal Kaharingan di Kalimantan, dalam merancang dan mengimplementasikan suatu kurikulum penciri (lokal) sebagai pendamping kurikulum umum seperti pada Perguruan Tinggi Hindu di Indonesia. Kurikulum penciri tersebut melahirkan tujuh mata kuliah lokal Kaharingan yang dilaksanakan pada pendidikan agama Hindu di STAHN-TP Palangka Raya. Isi dari muatan lokal di STAHN- TP Palangka Raya adalah mata kuliah yang berkaitan dengan kearifan lokal atau ajaran dan tradisi Dayak Kaharingan. Mata kuliah tersebut yaitu Panaturan, Tawur, Tandak, Bahasa Sangiang, Acara Agama Hindu Kaharingan, Bahasa Daerah (Dayak Ngaju), Dan Theologi Hindu Kaharingan.
TRI MURTI IDEOLOGI SOSIO-RELIGIUS MEMPERSATUKAN SEKTE-SEKTE DI BALI I Wayan Watra
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.733 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.153

Abstract

Agama merupakan sumber yang dapat menciptakan kedamaian di hati, kedamaian di dunia, dan kedamaian di akhirat. Tetapi demikian sebaliknya, agama juga merupakan sumber yang dapat menciptakan kehancuran manusia dan alam semesta. Salah satu konsep agama, yaitu “Tri Murti”, yang besumberkan pada Weda dengan menggabungkan Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Konsep Tri Murti ini dipraktekkan oleh Mpu Kuturan pada tahun 845 Masehi. Ajaran Mpu Kuturan yang mengangkat konsep Tri Murti menggabungkan 15 sekte atau agama kepercayaan seperti; 1). Siwa Siddhanta, 2). Pasupata, 3). Bhairawa, 4). Wesanawa, 5). Bodha (Sogatha), 6). Brahma, 7). Resi, 8). Sore, 9). Ganapatya, 10). Agama Sambhu memuja Arca, 11). Agama Brahma memuja Matahari/Api, 12). Agama Indra memuja Gunung dan Bulan, 13). Agama Wisnu memuja Hujan dan Banjir, 14). Agama Bayu memuja Bintang, dan Angin Ngelinus (Puting Bliung), 15). Agama Kala menyembah tempat-tempat yang keramat. Kelima belas sekte dan agama ini dipersatukan oleh ideologi “Tri Murti”.
AJARAN SIWA-BUDDHA DALAM LONTAR CANDRA BHERAWA PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU I Nyoman Ariyoga
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.239 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.198

Abstract

Lontar merupakan karya sastra klasik yang memiliki nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang sangat tinggi. Namun sayangnya masyarakat Bali kebanyakan hanya menganggap lontar sebagai warisan yang disakralkan dan tidak boleh sembarang dipelajari yang hanya disimpan dan diupacarai di hari-heri suci tertentu. Salah satu warisan agama Hindu berupa Lontar Parwa adalah Lontar Candra Bherawa. Kitab ini memiliki penanaman konsep, penanaman pengertian atau difinisi dan penanaman akan ajaran agama yang berbeda dalam jalinan peristiwa. Disamping hal tersebut, juga mempertegas dan memberikan kesan mendalam pada pembaca dan pendengar tentang manfaat yang didapatkan dari ajaran Siwa-Buddha. Bukan dalam konteks ini saja, pembaca dan pendengar akan diajak untuk masuk dalam alur prismatis yakni sebuah alur dimana pembaca dan pendengar sendiri yang akan menemukan kebijaksanaan lewat jabaran citra atau karakter yang ditampilkan dari setiap tokoh maharaja Yudistira dan Catur Pandawa serta tokoh maharaja Candra Bherawa. Oleh sebab itu, betapa penting dan istimewanya Lontar Candra Bherawa ini.
PERAPEN SIMBOL PENGUATAN IDENTITAS WARGA PANDE DI BALI A.A. Kade Sri Yudari
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 19 No 1 (2019): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.672 KB) | DOI: 10.32795/ds.v10i1.328

Abstract

Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa (Tri Murti) merupakan objek substansi yang dapat dijangkau oleh masyarakat Hindu untuk dipuja. Dari ketiga manifestasi Tuhan itu, leluhur warga Pande merupakan pemuja Dewa Brahma sebagai dewa utama. Hal ini terkait profesi yang dilakoninya yaitu ‘memande’di perapen (per- api-an) membuat alat rumah tangga dan berbagai senjata. Dewa Brahma yang disimbolkan sebagai api (agni) tentu saja dipandang paling dekat dalam memberikan sinar suci, perlindungan, limpahan rejeki dan kesejahteraan bagi Warga Pande dalam menjalankan profesinya. Pemujaan terhadap Dewa Brahma terlihat jelas pada saat perayaan hari suci Tumpek Landep yang jatuhnya setiap 210 hari. Tumpek Landep dijadikan media penghormatan terhadap Tuhan dalam wujud Brahma sebagai pencipta alam semesta termasuk unsur bumi yang berbahan baku logam, seperti besi, baja, emas, perak, dan tembaga. Oleh karena itu antara Tumpek Landep, dan Perapen sangat berkaitan bahkan menjadi simbol penguat identitas bagi eksistensi warga Pande di Bali.
AJA WERA, ANTARA LARANGAN DAN TUNTUNAN I Gusti Ketut Widana
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 19 No 1 (2019): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.739 KB) | DOI: 10.32795/ds.v10i1.330

Abstract

Umat Hindu dikenal taat dan disiplin dalam menjalankan ajaran agamanya, terutama yang berkaitan dengan ritual (yadnya). Sehingga, walaupun relatif tidak menguasai landasan tattwa- jnananya, seperti teologi dan filosofinya, umat Hindu merasa mantap dan penuh keyakinan melaksanakan kewajiban ritualnya. Penyebabnya adalah kepatuhannya pada adagium ‘gugon tuwon’, yang biasanya disertai anak kalimat ‘nak mulo keto’ (memang sudah demikian adanya). Sehingga umat tinggal melaksanakan kewajiban ritual itu tanpa perlu bertanya apalagi mempertanyakan landasan kebenarannya. Konsekuensinya, kebanyakan umat Hindu relatif “awidya” (awam pengetahuan) dalam hal pemahaman tattwa (filsafat), tetapi disiplin dalam hal melaksanakan ritual (upacara). Kondisi keawaman pengetahuan itu semakin ajeg dengan adanya sesanti Aja Wera, yang dipahami sebagai bentuk “larangan” mempelajari atau mendalami ajaran agama. Jika larangan itu dilanggar, konon katanya akan menyebabkan orang bisa “inguh” (galau), yang apabila dibiarkan lama-lama bisa “buduh” (gila). Padahal, jika diselami sejatinya Aja Wera itu adalah konsep pembelajaran yang memberikan tuntunan kepada umat Hindu bahwa jika belajar atau mendalami ajaran agama diwajibkan untuk tidak mabuk atau sombong lantaran merasa telah pintar menguasai ajaran agama. Inilah kondisi dilematis konsep Aja Wera, berada di anatara larangan dan tuntunan.

Page 8 of 28 | Total Record : 274