Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)"
:
11 Documents
clear
TINGKAT KEMISKINAN DAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETAMBAK GARAM BERDASARKAN STATUS PENGUASAAN LAHAN
Rizki Aprilian Wijaya;
Maulana Firdaus;
Andrian Ramadhan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (371.426 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1196
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan status penguasaan lahan dengan tingkat kemiskinan dan ketahanan pangan rumah tangga petambak garam. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Responden sebanyak 80 orang ditentukan melalui metode non proportional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada pemilik dan penyewa lahan tambak garam. Lokasi penelitian berada pada Kabupaten Sumenep dan Jeneponto. Analisa deskriptif kualitatif dan statistik kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan dan ketahanan pangan memiliki keterkaitan yaitu semakin rendah tingkat kemiskinan rumah tangga petambak garam maka semakin rendah pula ketahanan pangannya. Berdasarkan indikator tingkat kemiskinan, petambak garam di Kabupaten Jeneponto relatif kurang sejahtera dibandingkan di Kabupaten Sumenep. Berdasarkan indikator ketahanan pangan, masyarakat petambak garam pada kedua lokasi telah mampu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga secara cukup. Implikasi kebijakan yaitu berupaya untuk meningkatkan diversifikasi usaha rumah tangga petambak garam pada saat tidak adanya produksi garam.
Fronmatter
Front Matter
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1200.923 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1214
POLA ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM: Studi Kasus Nelayan Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
Ratna Patriana;
Arif Satria
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4534.343 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1191
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi dampak perubahan iklim pada aktivitas nelayan perikanan tangkap, dan (2) menganalisis pola adaptasi dan strategi ekonomi yang dilakukan oleh nelayan untuk mengatasi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif eksploratif yang dilengkapi dengan studi literatur. Pengambilan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan Focused Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perubahan iklim menyebabkan terjadinya perubahan wilayah dan musim penangkapan ikan, meningkatnya resiko melaut akibat gelombang ekstrim dan angin kencang, dan menghambat akses nelayan dalam melaut akibat pendangkalan muara sungai dan gelombang besar, (2) adaptasi yang dilakukan oleh nelayan antara lain adalah adaptasi iklim melalui “mengejar musim ikan”, adaptasi sumber daya pesisir, adaptasi alokasi sumber daya dalam rumah tangga yang meliputi optimalisasi tenaga kerja dalam rumah tangga dan pola nafkah ganda, dan keluar dari kegiatan perikanan (escaping from fisheries)
DIMENSI RELIGI DALAM PEMBUATAN PINISI
Nendah Kurniasari;
Christina Yuliaty;
Nurlaili Nurlaili
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (250.582 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1197
Pinisi merupakan salah satu contoh perwujudan pengetahuan masyarakat lokal dalam beradaptasi dengan lingkungannya secara harmonis. Pengetahuan ini, mencakup dimensi unsur religi yang sarat akan sejumlah makna, nilai dan simbol yang menjadi landasan membentuk harmonisasi dirinya dengan alam. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi religi dalam pembuatan pinisi serta dinamika yang menyertainya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam sebagai teknik pengambilan data dan deskriptif analitik sebagai metoda analisis. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2011 di Desa Ara dan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Sulawesi Tenggara. Pinisi sebagai bagiandari suatu budaya sarat akan sejumlah makna, simbol, dan nilai yang tertuang dalam setiap prosesi pembuatannya. Perubahan kondisi sumber daya dan intervensi modernitas pada setiap aspek kehidupan menyebabkan perubahan dalam aktivitas unsur religi yang terkandung dalam pembuatan pinisi. Panrita lopisebagai tokoh kunci dalam menjaga tradisi tersebut tidak bisa mengelak dari tuntutan perubahan peradaban, namun melalui berbagai kebijaksanaannya, mereka mencoba mengeliminir perubahan agar tetap berada dalam sendi-sendi keseimbangan antara unsur makrokosmos dan mikrokosmos yang diyakini sebagai syarat agar kehidupan tetap terjaga. Sinergitas program pelestarian sumber daya antar Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Perindustrian dan Kepolisian dalam melestarikan sumber daya guna mendukung pelestarian pinisi merupakan langkah yang harus segera direalisasikan.
ANALISIS FINANSIAL PENGEMBANGAN ENERGI LAUT DI INDONESIA
Estu Sri Luhur;
Rizky Muhartono;
Siti Hajar Suryawati
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (618.02 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1192
Krisis energi mengharuskan pemerintah untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, termasuk energi yang memanfaatkan arus laut, gelombang laut, pasang surut dan perbedaan suhu air laut. Energi laut mampu menghasilkan listrik yang dapat diakses oleh sektor industri dan rumah tangga perikanan secara luas. Untuk itu, kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara finansial terhadap pengembangan energi laut di Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan selama bulan Maret – November 2012. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode analisis yang digunakan adalah analisis finansial dengan menghitung biaya produksi dan biaya pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan energi laut. Hasil kajian menunjukkan bahwa jenis energi laut yang bernilai ekonomis adalah energi arus laut dengan biaya sebesar Rp1.268/kWh, energi gelombang laut dengan biaya sebesar Rp1.709/kWh dan enegri pasang surut dengan biaya sebesar Rp 2.048/kWh. Sementara itu, energi yang memanfaatkan perbedaan suhu air laut menunjukkan biaya yang sangat besar, yaitu mencapai Rp. 4.030/kWh. Jika dibandingkan dengan biaya produksi dari listrik konvensional yang dihasilkan PT (Persero) PLN yang sebesar Rp. 1.163/kWh maka pengembangan energi laut disarankan fokus pada energi arus laut, energi gelombang laut dan energi pasang surut.
ANALISA DIVERSIFIKASI PASAR EKSPOR KOMODITI UDANG INDONESIA
Bagas Haryotejo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (608.813 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1199
Komoditi udang adalah salah satu potensi sumber daya yang memainkan peranan penting dalam memberikan kontribusi di sektor ekspor bagi Indonesia. Setelah krisis keuangan, ada kecenderungan penurunan pangsa ekspor di pasar internasional. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor komoditas ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diversifikasi pasar ekspor, menganalisis daya saing komoditas udangdi pasar ekspor utama dan merumuskan implikasi kebijakan yang terkait dengan perkembangan pasar ekspor udang. Metodologi yang digunakan adalah Indeks Spesialisasi Agregat (SPE), Hirschman Index (HI), dan RCA (Revealed Comparative Advantage). Berdasarkan hasil analisis, pasar ekspor udang belum terdiversifikasi. Hal ini ditunjukkan dengan indeks dari SPE dan Hirschman Index. Indeks SPE menunjukan angka mendekati 1 (satu), yang berarti pasar tidak terdiversifikasi dengan baik. Sedangkan berdasarkan analisis RCA, komoditas udang Indonesia memiliki daya saing yang besar di pasar Amerika Serikat dan Jepang, hal ini ditunjukkan dengan nilai RCA yang jauh lebih besar dari 1 (satu). Sedangkan di pasar UniEropa, memiliki nilai RCA rata-rata mendekati nilai 1(satu), hal itu menunjukan bahwa daya saing komoditas udang Indonesia relatif jauh lebih lemah di pasar Uni Eropa.
PERANAN LEBUNG SEBAGAI SUMBER EKONOMI BAGI NELAYAN DAN SARANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN RAWA BANJIRAN DI SUMATERA SELATAN
Yoga Candra Ditya;
Aroef Hukmanan Rais;
Syarifah Nurdawati;
Ngurah Nyoman Wiadnyana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1512.595 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1193
Perairan rawa banjiran di Sumatera Selatan dikenal dengan Lebak Lebung. Pengelolaannya mengikuti sistem lelang dengan berdasarkan pada kearifan lokal yang disesuaikan dengan keadaan alam. Tujuan penulisan ini adalah menelaah peran lebung sebagai sumber ekonomi bagi nelayan dan menjadi sarana pengelolaan sumber daya ikan khususnya di rawa banjiran Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui survei dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebung memiliki kekhasan dari jenis-jenis ikan yang rata-rata tergolong ikan ekonomis penting dan beberapa diantaranya adalah gabus (Channa striata), tembakang (Helostoma temminckii) dan sepat siam (Trichogaster pectoralis). Selain itu, lebung juga berperan dalam meningkatkan pendapatan tambahan nelayan, ini terlihat dari nilai R/C Ratio yang diperoleh pada tahun 2009 sebesar 2,45 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 4,04. Hal ini mengindikasikan pengaruh positif keberadaan lebung terhadap sumber ekonomi masyarakat. Dilihat dari segi eksistensi pengelolaannya, keberadaan lebung harus tetap dijaga dengan sistem lelang yang selama ini dilakukan oleh masyarakat. Diharapkan dengan pola pengelolaan yang bijak dan bertanggung jawab, eksistensi lebung dapat terpelihara secara berkesinambungan.
ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS IKAN LELE KABUPATEN BOGOR
Lindawati Lindawati;
Rikrik Rahadian;
Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.661 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1200
Nilai daya saya saing suatu produk merupakan gambaran kemampuan suatu komoditas untuk berkompetisi di pasar. Setiap komoditas yang dijual di pasar, secara natural tentunya harus berdaya saing, baik dibandingkan dengan komoditas sejenis maupun komoditas substitusinya. Ikan lele merupakan salah satu komoditas unggulan bagi program Minapolitan di Kabupaten Bogor, sehingga memiliki nilai strategis bagi pemangku kebijakan di sektor Kelautan dan Perikanan. Hingga saat ini, kajian mikro usaha budidaya ikan lele telah banyak dilakukan, namun analisis daya saing komoditas ini masih terbatas. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis daya saing komoditas ikan lele Kabupaten Bogor, menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Lokasi pengumpulan data dilakukan di Kabupaten Bogor, serta Kabupaten Tulungagung – sebagai pesaing utama – untuk melihat nilai ekonomi (harga sosial) dari komoditas lele. Hasil analisis menunjukkan nilai Private Costs Ratio (PCR) sebesar 0,43, Domestic Resource Costs Ratio (DRC) sebesar 0,14, Nominal Protection Coefficient on Tradables Inputs (NPCI) sebesar 1,20 dan Nominal Protection Coefficient on Tradables Inputs (NPCI) sebesar 1,15. Keempat angka tersebut merupakan indikator dari rendahnya daya saing komoditas Lele di Kabupaten Bogor dibandingkan komoditas saingannya yang berasal dari Tulungagung. Dari hasil analisis tersebut, untuk meningkatkan daya saing komoditas ikan lele Kabupaten Bogor maka sangat diperlukan sebuah program peningkatan ketersediaan pakan yang disertai dengan program stabilisasi harga berbagai input produksi.
PENGELUARAN RUMAH TANGGA NELAYAN DAN KAITANNYA DENGAN KEMISKINAN: Kasus di Desa Ketapang Barat, Kabupaten Sampang, Jawa Timur
Maulana Firdaus;
Tenny Apriliani;
Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (406.333 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1195
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur pengeluaran rumah tangga nelayan yang dikaitkan dengan tingkat kemiskinannya. Penelitian ini dilakukan di Desa Ketapang Barat, Kabupaten Sampang pada tahun 2012. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini dan dikumpulkan dengan metode survei. Responden dipilih secara tidak acak dan sesuai tujuan. Data dianalisis secara kuantitatif dengan bantuan teknik tabulasi silang. Untuk menggambarkan kondisi kemiskinan rumah tangga nelayan yaitu dengan menggunakan pendekatan garis kemiskinan dan untuk indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula Foster-Greer-Thorbecke (FGT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran rumah tangga terbesar yaitu untuk pengeluaran pangan yang mencapai 72,88 persen dan non pangan sebesar 27,12 persen. Terkait dengan tingkat kemiskinan yang ditinjau berdasarkan nilai garis kemiskinan yang ditetapkan BPS, maka rumah tangga nelayan di Desa Ketapang Barat yang tergolong miskin sebanyak 15 persen, sedangkan untuk nilai indeks kedalaman kemiskinan (P1) sebesar 0,007 dan indeks keparahan kemiskinan (P2) sebesar 0,002. Rendahnya nilai P1 dan P2 menunjukkan bahwa besarnya nilai pengeluaran pada setiap rumah tangga tidak jauh berbeda antar satu dan lainnya.
ANALISIS KETERSEDIAAN GARAM MENUJU PENCAPAIAN SWASEMBADA GARAM NASIONAL YANG BERKELANJUTAN (SUATU PENDEKATATAN MODEL DINAMIK)
Sri Dharmayanti;
Suharno Suharno;
Amzul Rifin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2976.984 KB)
|
DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1201
Tercapainya swasembada garam nasional secara berkelanjutan merupakan kondisi ideal bagi Indonesia yang memiliki potensi alamiah sebagai produsen garam, namun hal tersebut hingga kini masih sulit terwujud. Kesenjangan antara kemampuan penyediaan dan kebutuhan garam masih cukup besar, sehingga impor masih terus dilakukan. Guna mempercepat terwujudnya swasembada garam nasional, di tahun 2011 pemerintah mengintervensi ketersediaan garam melalui kebijakan swasembada garam nasional. Terkait hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur ketercapaian keberlanjutan swasembada garam nasional dengan membangun model sistem ketersediaan garam nasional sebelum dan sesudah ada kebijakan swasembada, (2) Menyusun kebijakan alternatif agar swasembada garam nasional yang berkelanjutan dapat tercapai. Pendekatan dinamika sistem digunakan sebagai alat dalam menjawab tujuan penelitian. Dinamika ketersediaan garam nasional sebelum ada kebijakan swasembada dijadikan sebagai model dasar. Hasil validasi dengan menggunakan uji struktur dan uji kinerja model menunjukkan bahwa model yang dibangun valid. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sebelum ada kebijakan, Indonesia belum dapat mencapai swasembada garam secara berkelanjutan baik garam konsumsi maupun garam industri. Sedangkan setelah ada kebijakan, hasil simulasi menunjukkan bahwa swasembada yang berkelanjutan baru dapat tercapai pada garam konsumsi. Swasembada garam industri dapat tercapai apabila kebijakan alternatif skenario 8 diterapkan, yaitu dengan melakukan peningkatan kuantitas dan kualitas garam rakyat, dan konversi garam secara bersamaan.