cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2007)" : 9 Documents clear
POLA PEWARISAN AKTIVITAS NITRAT REDUKTASE PADA DAUN DAN PADA AKAR, SERTA KADAR N TOTAL TANAMAN SEBAGAI KARAKTER PENCIRI TOLERANSI KEDELAI TERHADAP GENANGAN Ai Komariah; Achmad Baihaki; Ridwan Setiamihardja; Sulya Djakasutami
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6754

Abstract

Penelitian untuk mempelajari pola pewarisan aktivitas nitrat reduktase pada daun, aktivitas nitrat reduktase pada akar, dan kandungan N total tanaman sebagai karakter penciri toleransi tanaman kedelai terhadap genangan telah dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang dari bulan April 2003 sampai Agustus 2003. Penelitian menggunakan populasi F2 yang berasal dari tanaman F1 hasil persilangan dari genotip terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter ANR daun dan ANR akar dikendalikan oleh sedikitnya sepasang gen inti (simple genic controlled) dengan aksi gen dominan sempurna. Kandungan N total tanaman dikendalikan oleh sedikitnya dua pasang gen inti (simple genic controlled) dengan aksi gen epistasis duplikat resesif.
PERUBAHAN ANATOMI DAUN PADA REGENERAN MANGGIS AKIBAT IRADIASI SINAR GAMMA IN VITRO Warid Ali Qosim; Roedhy Purwanto; G. A. Wattimena; , Witjaksono
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6745

Abstract

Tanaman manggis mempunyai laju fotosintesis rendah dan dapat diketahui secara tidak langsung melalui perubahan struktur anatomi daun manggis in vitro. Tujuan penelitian untuk mempelajari perubahan anatomi daun manggis in vitro akibat iradiasi sinar gamma. Sampel daun berasal dari 21 regeneran mutan dan satu kontrol yang sudah diseleksi. Struktur anatomi daun diamati dengan membuat irisan paradermal dan transversal. Irisan paradermal dibuat mengikuti metode sediaan utuh (whole mount) dan diwarnai dengan safranin 1%, sedangkan irisan transversal dibuat dengan mengikuti metode parafin. Daun disayat menggunakan mikrotom putar dengan tebal 10 μm, kemudian diwarnai dengan safranin 1% dan fastgreen 0.5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma dapat mempengaruhi perubahan anatomi daun baik pada irisan paradermal maupun transversal. Pada irisan paradermal, luas stomata regeneran mutan pada umumnya lebih besar dibandingkan regeneran kontrol. Regeneran mutan yang memiliki kerapatan dan indeks stomata yang lebih besar dibandingkan kontrol adalah regeneran R-5/2, R-5/3, R-5/4, R-10/4, R-15/3, R-25/1, R-30/1dan R-30/2. Pada irisan transversal, ketebalan kutikula adaksial regeneran mutan lebih tipis dibandingkan kontrol, kecuali regeneran R-5/1. regeneran R- 10/4, R-15/1, R-15/2, R-15/3 memiliki parenkim palisade, bunga karang dan lamina daun yang lebih tebal. Pada umumnya bunga karang dan jumlah berkas pembuluh lebih tebal dibandingkan regeneran kontrol.
SKRINING PENDAHULUAN UNTUK RESISTENSI TERHADAP HAMA GUDANG PADA HIBRIDA JAGUNG SILANG TUNGGAL DAN SILANG TIGA D. Ruswandi; M. Firman; , Sumeno; S. Robles-Ruswandi; N. Rostini; A. Susanto
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6750

Abstract

Kumbang bubuk jagung merupakan salah satu hama penting pada jagung di gudang terutama di daerah tropis. Penggunaan varietas resisten adalah suatu metode pengendalian kumbang bubuk jagung yang efektif, efisien serta bersahabat dengan lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat resistensi genotipegenotipe jagung Single cross dan Three way cross terhadap Sitophylus zea-mais Motch dan untuk mengetahui variabilitas dan heritabilitasnya pada karakter kerusakan benih dan kehilangan bobot benih. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dari bulan Agustus 2004 sampai November 2004. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok, terdiri dari dua set populasi percobaan yakni 27 genotip Single cross dan 34 genotip Three way cross. Genotip-genotip jagung pada tiap set sebagai perlakuan serta masing-masing dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dari populasi hibrida Single cross yang diuji diperoleh 2 genotipe sangat resisten yaitu Ki-3 dan MR-10, 12 genotipe resisten, 12 genotipe agak resisten dan 1 genotipe rentan. Adapun untuk genotipe-genotipe Three way cross diperoleh delapan genotipe resisten, 25 genotipe agak resisten dan satu genotipe rentan. Variabilitas fenotipik, populasi hibrida Single cross maupun Three way cross untuk karakter kerusakan benih dan kehilangan bobot adalah luas. Nilai duga heritabilitas untuk karakter-karakter yang diuji baik pada Single cross dan Three way cross adalah rendah.
Beberapa Faktor Determinan dalam Penyusunan Peta Genetik , Jamsari
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6742

Abstract

Peta genetik merupakan faktor penting dalam isolasi gen berdasar kloning. Beberapa faktor, seperti sistem skoring, nilai REC dan nilai LOD memberikan pengaruh nyata dalam penyusunan peta genetik. Skoring kodominan (LOD bernilai 0−25) terbukti memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan system scoring dominan (LOD bernilai 0−10). Disamping sistem skoring nilai parameter LOD yang digunakan juga terbukti mempengaruhi kestabilan peta genetic yang dihasilkan. Sistem scoring kodominan memberikan peluang penggunaan interval nilai LOD yang lebih luas dibandingkan dengan system scoring dominant.
STABILITAS KADAR BAHAN KERING UBI 16 GENOTIP BENGKUANG (Pachyrhizus erosus L. Urban) DI JATINANGOR JAWA BARAT BERDASARKAN MODEL AMMI Sosiawan Nusifera; Agung Karuniawan
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6756

Abstract

Penelitian yang bertujuan mengetahui stabilitas kadar bahan kering dari 16 genotip bengkuang (Pachyrhizus erosus L. Urban) di Jatinangor telah dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unpad, Jatinangor. Percobaan lapang dilakukan pada musim kemarau mulai Februari hingga Agustus 2006 dan musim hujan mulai November 2006 hingga Mei 2007. Percobaan terdiri dari empat set yang masing-masing set disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 16 genotip bengkuang yang dikoleksi dari berbagai wilayah Indonesia and genotip leluhurnya dari Amerika tengah dan selatan sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Empat set percobaan tersebut dibedakan berdasarkan kombinasi musim dan perlakuan pemangkasan sink reproduktif. Empat set tersebut dianggap representasi empat lingkungan yang berbeda. Karakter yang diamati adalah kadar bahan kering ubi (%). Data dianalisis dengan analisis model AMMI (additive main effect and multiplicative interaction) dengan parameter stabilitas AMMI stability value (ASV). Hasil menunjukkan bahwa genotip B-26/NS adalah genotip dengan kadar bahan kering tertinggi dan relatif stabil. B-10/EC550 adalah genotip dengan kadar bahan kering paling stabil. B-33/J, B-12/ECKew, B-80/ENT, dan B-61/EJ adalah genotip-genotip yang beradaptasi pada musim kemarau. Sebaliknya, B77/ENT, B-1/EC033, B-58/EJ, dan B-94/ENT beradaptasi dengan baik pada musim hujan. Genotip-genotip B-12/EC Kew, B-61/EJ, B-23/EC040, dan B-56/CJ lebih responsif terhadap perlakuan pemangkasan. Keempat lingkungan percobaan merupakan lingkungan yang discriminating.
PENGARUH BERMACAM-MACAM ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP EMBRIOGENESIS PADA JAHE Citra Bakti; G. A. Wattimena; , Witjaksono
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6752

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai macam zat pengatur tumbuh terhadap pembentukan dan regenerasi embriogenesis somatik jahe. Potongan membujur tunas in vitro yang mengandung meristem digunakan sebagai inokulum untuk  induksi kalus pada media dasar Murahige Skoog (MS) yang ditambahkan picloram, 2,4-D dan NAA dengan berbagai konsentrasi. NAA gagal menginduksi kalus, tetapi bisa digunakan untuk proliferasi tunas in vitro. Picloram dan 2.4-D dapat menginduksi pembentukan kalus dengan berbagai morfologi, tetapi kalus yang granular dan friabel diinduksi pada media dengan penambahan 10 mg/l−20 mg/l picloram. Kalus gagal beregenerasi menjadi planlet ketika dipindahkan ke media MS tanpa hormon atau pada media MS dengan penambahan BA atau thidiazuron. Meskipun begitu kalus granular secara individu dapat membentuk akar-akar sendiri yang mengindikasikan adanya satu kesatuan dari kalus tersebut. Pengamatan secara histologi membuktikan bahwa kalus yang terbentuk adalah embriogenik.
MENUJU SISTEM PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH TANAMAN SECARA ADIL DAN BERMANFAAT , Sumarno
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6757

Abstract

Kekayaan sumber daya hayati Indonesia yang tercermin oleh besarnya ketersediaan keanekaragaman spesies tanaman, sering diartikan  secara langsung sebagai tersedianya kekayaan plasma nutfah. Anggapan ini tidak tepat, karena untuk tanaman-tanaman penting, Indonesia termasuk negara yang miskin plasma nutfah. Pengelolaan plasma nutfah tanaman di Indonesia tersebar di berbagai instansi yang dilakukan secara terpisah dan sendiri-sendiri, belum ada koordinasi dan kebijakan pengelolaan secara nasional. Untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan plasma nutfah, disarankan dibentuk Pusat Pengelolaan Plasma Nutfah Tanaman, seperti halnya yang sudah dilakukan oleh negaranegara lain. Berkembangnya status hak kepemilikan plasma nutfah dan varietas tanaman secara eksklusif mengikuti ketentuan Perlindungan Varietas Tanaman dari UPOV, ketentuan National Sovereign Rights dan Prior Informed Consent dari Convention on Biodiversity (CBD), serta keharusan membuat Material Transfer Agreement (MTA) untuk mendapatkan materi plasma nutfah dari negara lain, diperlukan adanya Undang-undang Perlindungan Plasma Nutfah Tanaman Indonesia. Hak kepemilikan, hak perwalian dan hak memproduksi varietas lokal dan atau plasma nutfah tanaman tertentu bagi seseorang, masyarakat, suku, komunitas dan masyarakat adat yang telah berjasa dalam memelihara dan memanfaatkan secara turun-temurun perlu dilindungi oleh Undang-undang. Kini tiba waktunya kita mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan, melindungi, memperkaya, melestarikan dan memanfaatkan plasma nutfah tanaman secara penuh tanggung-jawab, adil, dan bermanfaat. Adanya instansi struktural-formal yang menangani pengelolaan plasma nutfah perlu diperjuangkan.
Analisis Dialel Ketahanan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Terhadap Penyakit Layu Bakteri Ralstonia solanacearum Novita N.; , Soemartono; W. Mangoendidjojo; M. Machmud
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6738

Abstract

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan penyakit penting di sebagian besar areal tanam kacang tanah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari genetika ketahanan terhadap R. solanacearum yang terdapat pada hasil silang dialel lengkap tiga genotip kacang tanah tahan (Turangga, lokal Pati, ICGV 93370) dan satu genotip kacang tanah rentan (Chico). Penelitian dilaksanakan di rumah kaca di Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian pada tahun 2004−2005. Enam belas genotip (empat tetua dan enam F1, dan enam F1r) ditata dalam rancangan acak-acak kelompok yang diulang tiga kali. Setiap genotip ditanam 30 pot, dua tanaman per pot. Tanah yang digunakan sebagaimedia tumbuh disterilisasi secara kimiawi dengan fumigant Dazomet. Inokulum diberikan pada tanah yang telah disterilisasi, kemudian diinkubasi selama tiga hari. Bakteri R. solanacearum yang digunakan adalah hasil isolasi dari tanaman kacang tanah terinfeksi asal daerah Pati, Jawa Tengah. Respon ketahanan diamati pada umur 21 hari menggunakan skor dalam skala 0−5 (0=tidak ada gejala layu, 5 ³ 90% daun layu). Data generasi F1 dan tetua dianalisis menurut metode Griffing (1956) dan Jinks-Hayman (1954). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh pengaruh resiprok maupun daya gabung khusus. Ketahanan pada generasi F1 ditentukan oleh daya gabung umum (DGU) tetua yang digunakan dalam silang dialel ini. Turangga mempunyai daya gabung umum terbaik karena mempunyai nilai pengaruh DGU negatif terbesar diantara tetua yang digunakan. Analisis grafis varians-peragam (Wr-Vr) menunjukkan bahwa gen ketahanan terhadap R. solanacearum bersifat aditif dan dominan tidak lengkap. Heritabilitas arti sempit maupun arti luas tergolong tinggi, masing-masing 91.0% dan 93.7%. Aksi gen aditif dan heritabilitas yang tinggi memberikan peluang keberhasilan untuk isolasi galur tahan bakteri layu di dalam populasi yang digunakan dalam penelitian ini melalui seleksi pedigri.
KEANEKARAGAMAN DAN HUBUNGAN GENETIKA PLASMA NUTFAH KELAPA DI KAWASAN MALESIA TIMUR BERDASARKAN PENANDA RAPD N. L. Mawikere; A. Hartana; E. Guhardja; , Suharsono; H. Aswidinnoor
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6758

Abstract

Keanekaragaman genetika yang tinggi dari suatu populasi tanaman sangat bermanfaat sebagai sumber genetika potensial untuk pogram pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman genetika plasma nutfah kelapa di kawasan Malesia Timur menggunakan penanda RAPD. Total bahan tanaman yang dianalisis adalah 265 pohon kelapa, yang berasal dari 27 populasi kelapa dari Papua, PNG, Sulawesi, dan Maluku. DNA total dari 265 pohon kelapa diamplifikasi menggunakan 10 primer acak (dekamer) yang diseleksi dari 60 primer acak RAPD. Sebanyak 234 fragmen DNA dapat diamplifikasi oleh 10 primer tersebut dan 100% adalah pita DNA polimorfik. Kemiripan genetika intra-populasi dan antar-populasi dari semua populasi kelapa yang diturunkan dari Koefisien Keselarasan Sederhana masing-masing adalah 74%−  84% dan 57%−77%. Analisis pengelompokan berdasarkan metoda UPGMA dapat mengelompokkan 14 populasi kelapa dari Papua menjadi 2 kelompok utama. Kelompok 1 adalah semua individu dari populasi kelapa Biak dan kelompok II adalah populasi-populasi kelapa dari daerah lain di Papua. Populasi kelapa Papua dan PNG mempunyai hubungan genetika yang sangat dekat, terutama dengan populasi kelapa dari Manokwari, Merauke, dan Jayapura. Analisis UPGMA ini juga dapat mengidentifikasi bahwa populasi kelapa Papua-PNG lebih dekat hubungan genetikanya dengan populasi kelapa Sulawesi dibandingkan dengan populasi kelapa Maluku.

Page 1 of 1 | Total Record : 9