cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Perakitan Tanaman Kedelai Tahan Penggerek Polong Melalui Transformasi Genetik Gen Cry1Ab dengan Vektor Agrobacterium tumefaciens , Liberty; M. Herman; G. A. Watimena
Zuriat Vol 20, No 1 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i1.6646

Abstract

Penelitian untuk merakit tanaman kedelai tahan penggerek polong dengan transformasi genetik gen cry1Ab dengan vector Agrobacterium tumefaciens, dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler dan Rekayasa Genetika dan di Laboratorium Fasilitas Uji Terbatas Balai Besar dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor pada bulan Agustus 2003 hingga Oktober 2004. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kedelai yang memiliki pertumbuhan dan regenerasi tinggi melalui tahap organogenesis pada saat transformasi dengan A. tumefaciens. Eksplan yang digunakan adalah kotiledon tua dari kecambah kedelai umur 7 hari kedelai varietas Sindoro dan Tidar. Pada penelitian ini digunakan higromisin sebagai agen penyeleksi tanaman kedelai didasarkan pada adanya gen ketahanan terhadap higromisin (gen hpt) pada vector pCambia 1301. Tanaman kedelai yang lulus seleksi dalam media higromisin diharapkan tanaman transgenik dengan pengujian histokimia akan ditunjukkan oleh adanya spot yang berwarna biru. Hasil Penelitian menunjukkan dalam pengujian histokimia dengan gen gus pada eksplan kotiledon tua tanaman kedelai varietas Sindoro dan Tidar tidak berhasil dilakukan yang dapat diketahui dengan tidak adanya eksplan yang tertansformasi yang ditunjukkan oleh spot biru.
MULTIVARIATE ANALYSIS OF MORPHOLOGICAL TRAITS IN YAM BEAN Pachyrhizus erosus Agung Karuniawan
Zuriat Vol 16, No 1 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i1.6781

Abstract

The objective of this study was to estimate the genetic diversity among yam bean landraces collected from different islands of Indonesia based on morphological traits. Thirty-six selected yam beans accessions from diverse ecological regions of Indonesia and six accessions from South and Central America were examined. Field trials were performed at two locations in Bogor, Indonesia, in a randomized block design with two replications. Genetic diversity between accessions based on morphological traits was determined by multivariate analysis. Time to flowering, first pod development, leaf length, leaf width, and internodes length played essential role in classification of the yam beans. A clear separation among the yam bean accessions collected from Indonesia, i.e., Sumatra landraces and the landraces collected from eastern Indonesia was detected. Furthermore, American accessions are not obviously separated from Indonesian yam bean materials.
Principal Component Analysis (PCA) Karakter-karakter Umbi Wortel (Daucus carota L.) Varietas Lokal Asal Sibayak Al Findy Yuhibba Fitriah; Meddy Rachmadi; Nono Carsono
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.19803

Abstract

Wortel merupakan salah satu tanaman sayuran yang populer dengan berbagai manfaat. Permintaan wortel dengan kualitas yang baik semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Varietas lokal Sibayak memiliki banyak keunggulan dengan beberapa karakter yang tidak diterima pasar modern.Upaya peningkatan kualitas wortel telah dilakukan dengan metode seleksi. Pada proses seleksi, banyak karakter yang harus diamati untuk efektifitas seleksi. Principal Component Analysis (PCA) dapat mengurangi sejumlah karakter. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi karakter penting yang dapat dijadikan sebagai karakter penciri wortel asal Sibayak berdasarka Principal Component Analysis (PCA). PCA memperoleh empat variabel baru berupa PC yang menggambarkan variasi populasi wortel lokal Sibayak. Keempat PC tersebut terdiri dari karakter panjang umbi, bobot umbi, tipe umbi, diameter umbi bawah dan warna umbi. Variabel baru yang terbentuk mampu menjelaskan 72,376% variasi total pada populasi wortel lokal Sibayak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa efektifitas seleksi dapat dicapai dengan menseleksi karakter panjang umbi, bobot umbi, tipe umbi, diameter umbi bawah dan warna umbi.
Kekerabatan Antar Genus Anggrek Sub Tribe Sarcanthinae Berdasarkan Data Fenotip dan Pola Pita DNA Suskandari Kartikaningrum; Nani Hermiati; Achmad Baihaki; Murdaningsih Haeruman K.; Nurita Toruan Mathius
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6704

Abstract

Kekerabatan genetik di antara tanaman anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae perlu diketahui untuk melakukan persilangan dalam program pemuliaan. Persilangan antara genus-genus dalam ‘sub tribe’ Sarcanthinae berkerabat dekat akan meningkatkan peluang keberhasilan persilangan. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan tingkat kemiripan dan jarak genetik di antara genus anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae berdasarkan pola pita DNA dan fenotip. Hubungan kekerabatan 13 genotip anggrek dianalisis menggunakan 39 data fenotip biner dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 praimer dekamer acak RAPD. Selanjutnya dilakukan analisis gerombol menggunakan koefisien Dice atau rumus Nei dan Li (1979). Dari hasil analisis diperoleh matrik kemiripan yang digunakan untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan antar genotip anggrek dan untuk membentuk dendrogram berdasarkan fenotip, pola pita DNA serta gabungan data fenotip dan pola pita DNA. Tingkat kemiripan berdasarkan fenotip berkorelasi positif (r = 0.5485) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Berdasarkan gabungan data fenotip dan pola pita DNA ditetapkan bahwa pada skala koefisien Dice ³ 0.38 merupakan batas kekerabatan yang dekat (pada jarak genetik £ 0.62). Hubungan kekerabatan diantara tanaman anggrek berdasarkan fenotip tidak konsisten dengan pola pita DNA. Berdasarkan fenotip hubungan kekerabatan anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae adalah dekat tetapi berdasarkan pola pita DNA dan gabungan keduanya adalah jauh. Semua genotip dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Renanthera dan Paraphalaenopsis merupakan genus yang berkerabat terjauh dengan genusgenus yang lain.
KERAGAAN DAN STABILITAS GALUR HARAPAN PADI AROMATIK, BERAS MERAH, DAN KETAN MERAH DAN HASIL TINGGI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Buang Abdullah; , Sularjo; Heni Safitri; , Cahyono
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6849

Abstract

Beras (Oryza sativa L.) merupakan bahan makan penduduk Indonesia sebagai sumber energi, protein, lemak, vitamin dan zat-zat lain yang mempunyai fungsi fisiologis yang berpengaruh dalam pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan manusia. Beras aromatik, beras merah dan ketan merah mempunyai nilai tambah dibanding dengan putih sehingga harganya lebih tinggi. Yogyakarta adalah kota budaya, wisata dan kota pendidikan sehingga membutuhkan beras tersebut. Pemilikan lahan petani Yogyakarta sempit, maka dengan menanam padi yang mempunyai nilai tambah akan dapat meningkatkan pendapatan petani baik dari peningkatan produktivitas maupun dari harga jual yang tinggi. Hasil uji adaptasi tiga galur harapan padi aromatik, dua galur beras merah, satu galur ketan merah dan dua galur potensi hasil tinggi di 3 lokasi dalam dua musim pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa keragaan dan hasil galur/varietas yang diuji bervariasi. Variasi hasil galur/varietas dipengaruhi oleh lokasi dan musim tanam.  Galur padi aromatik B11955-MR-84-1-4 mempunyai hasil GKG sepuluh persen lebih tinggi dibanding varietas padi aromatik Sintanur. Galur beras merah B11844-MR-7-17-3 mempunyai hasil GKG 13 persen lebih tinggi dibanding Aek Sibundong dengan penampilan tanaman lebih pendek. Galur ketan merah BP1002E-MR-2 mempunyai hasil 12 persen lebih tinggi dibanding varietas beras merah Aek Sibundong. Galur B11143D-MR-1-PN-3-MR-SI-2-3-PN-3 merupakan galur padi sawah berdaya hasil tinggi yang mempunyai hasil 12,6 persen lebih tinggi dibanding Ciherang. Galur B11953-MR-23-1-4, BP1002E-MR-2, dan B11844-MR-9-9-5 merupakan galur-galur yang mempunyai hasil stabil di tiga lokasi selama dua musim tanam. 
Identifikasi Jenis-Jenis Rotan Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo, Sulawesi Utara Hengky Novarianto; Elsje T. Tenda; H. F. Mangindaan; , Miftahurrachman
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6672

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis-jenis rotan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo, Sulawesi Utara. Observasi dilakukan di Kecamatan Suwawa yang merupakan kawasan cagar alam. Jenis-jenis rotan yang dijumpai dicatat dan diidentifikasi berdasarkan karakteristik batang dan daun. Frekuensi setiap jenis rotan ditentukan berdasarkan kepadatan populasi setiap jenis pada beberapa tinggi tempat. Informasi ini akan menggambarkan keadaan jenis dan po pulasi rotan di Kawasan Taman Nasional, dan menduga tingkat erosi genetis rotan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2000. Hasil eksplorasi dan identifikasi jenis-jenis rotan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dijumpai sebanyak 17 jenis rotan berdasarkan nama lokal. Beberapa diantaranya teridentifikasi dengan nama Latin. Dari 17 jenis rotan ini diperoleh delapan jenis rotan tumbuh berumpun, dan tujuh jenis tumbuh tunggal. Jenis rotan yang paling dominan penyebarannya adalah rotan Batang (Calamus zollingeri) dan rotan Susu (Daemonorops sp.). Keragaman karakter antar jenis rotan diperlihatkan oleh karakteristik batang yaitu panjang ruas buku dan diameter batang. Diameter batang terbesar ditemukan pada jenis rotan Batang (4.7 cm) dan Tikus (0.8 cm). Keragaman daun diperlihatkan oleh karakter panjang rachis dan petiole, jumlah pinak daun, dan panjang serta lebar pinak daun. Hasil penelitian jumlah dan jenis rotan pada beberapa tinggi tempat diperoleh bahwa pada 100 m dpl hanya ditemukan dua jenis rotan, yaitu rotan Batang dan Susu, kemudian pada 200 m dpl dijumpai empat jenis rotan, yakni rotan Batang, Susu, Tohiti, dan Topalo, dan di atas 300 m dpl. dijumpai lima jenis rotan, yaitu rotan Batang, Susu, Tohiti, Maneaku, dan Siombu. Keadaan ini memperlihatkan telah terjadi erosi genetis rotan di Kawasan Taman Nasional ini, dan perlu perencanaan serta tindakan pengembangan rotan kembali untuk konservasi in situ.
Partisipasi Petani dalam Pemuliaan Tanaman dan Konservasi Plasma Nutfah Secara ‘On Farm’ Nani Zuraida; , Sumarno
Zuriat Vol 14, No 2 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i2.6804

Abstract

Upaya dan naluri petani secara turun temurun untuk memilih tanaman yangmemiliki karakter unggul dari populasi alam telah menghasilkan kultivar-kultivar lokal yang memiliki karakter khusus dan beradaptasi dengan baik pada agroekologi setempat. Kultivar unggul lokal banyak digantikan dengan kultivar baru karena adanya anjuran penanaman kultivar unggul nasional, sejalan dengan berkembangnya revolusi hijau. Konsep usahatani modern yang mempersyaratkan keseragaman kultivar dalam hamparan luas sebenarnya lebih sesuai bagi usahatani berskala luas yang dikelola secara mekanisasi. Pertanian dengan skala usaha sempit seperti di Indonesia, memungkinkan bagi masingmasing petani untuk menanam kultivar yang berbeda, bahkan setiap petani dapat menanam dua atau lebih kultivar. Praktek penanaman multikultivar dalam satu hamparan berfungsi untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman guna meningkatkan daya tahan terhadap serangan hama penyakit, dan meningkatkan daya sangga genetik terhadap perubahan lingkungan, serta berfungsi untuk pelestarian kultivar lokal. Pelestarian kultivar-kultivar lokal akan lebih efektif apabila petani dilibatkan dalam berbagai model kegiatan, disertai peningkatan kesadaran dan pengetahuan petani akan pentingnya pelestarian sumberdaya genetik bagi keperluan usahatani generasi yang akan datang. Hak-hak petani terhadap kultivar lokal yang mereka lestarikan harus dihormati, sesuai dengan prinsip ‘Prior Informed Consent’ (PIC), yang telah ditetapkan dalam Convention on Bio Diversity (CBD). Pelestarian kultivar-kultivar lokal dan plasma nutfah harus menjadi kepentingan petani di seluruh wilayah Indonesia, bukan semata-mata menjadi tugas pemerintah. Konservasi plasma nutfah secara ‘onfarm’ dinilai memiliki peran yang nyata, dalam upaya pelestarian variabilitas genetic spesies tanaman yang dibudidayakan. Agar dapat diperoleh kultivar unggul yang sesuai dengan keinginan petani dan adaptif terhadap lingkungan spesifik, perlu dilakukan program pemuliaan partisipatif dengan melibatkan petani. Pelepasan kultivar disarankan bersifat regional berdasarkan kesesuain agroekologi setempat. Pemuliaan tanaman partisipatif telah banyak dilakukan pada Lembaga Penelitian Pertanian Internasional, dan sebaiknya juga diadopsi di Indonesia.
Pengaruh Pemberian Mutagen Sinar Gamma Pada Kultur Kalus Nenas In Vitro Erni Suminar; Agus Purwito; , Sobir
Zuriat Vol 20, No 2 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i2.6637

Abstract

Penelitian bertujuan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman nenas (Ananas comosus (L.) Merr.) melalui iradiasi sinar gamma pada kalus setelah beberapa kali subkultur. Media induksi kalus menggunakan media dasar MS dengan penambahan 1 mg L-1 benzylaminopurine (BAP) dan 0.05 mg L-1 2,4- dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D), selanjutnya diregenerasikan dalam media MS yang mengandung 1.5 mg L-1 kinetin dan 0.5 mg L-1 NAA. Kalus diradiasi dengan sinar gamma pada dosis 0, 15, 25 and 35 Gy. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 40 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi kalus. Dosis sinar gamma 15 Gy dapat mendorong terjadinya keragaman pada pertumbuhan dan penampilan fenotipik diantara regeneran.
VARIASI SOMAKLONAL DAN INDUKSI MUTASI IN VITRO GUNA MEMPERCEPAT PEMULIAAN TANAMAN PISANG Rita Megia
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6772

Abstract

Berbagai karakter biologi dangenetik pisang menyebabkan pemuliaan tanaman ini melalui persilangan sangat sulit, lama dan mahal untk dilakukan. Di lain pihak kebutuhan sangat mendesak akan kultivar pisang tripoid baru yang tahan terhadap penyakit, khususnya penyakit layu Panama dan Sigatoka. Teknik induksi mutasi in vitro dan variasi somaklonal bersifat langsung sehingga sangat efisien dalam mempercepat pengembangan tanaman ini. Perubahan karakter yang diperoleh melalui kedua teknik ini dapat meliputi hanya satu karakter saja tanpa merubah genotip, baik yang telah ada pada tanaman sebelumnya. Keberhasilan mendapatkan klon dan mutan baru dengan karakter yang menarik mempergunakan kedua teknik di atas tidak terlepas dari dukungan kemajuan metode kultur jaringan. Perubahan genetik yang terjadi dapat terfiksasi pada tiap tahapan subkultur − pada saat yang bersamaan − plantlet dapat diperbanyak untuk evaluasi. Karakter baru yang diperoleh juga terbukti stabil dan diwariskan pada generasi berikutnya. Tulisan ini mengulas latar belakang dan kemajuan pemuliaan pisang di dunia yang diperoleh melalui teknik induksi mutasi in vitro dan variasi somaklonal. Berbagai contoh keberadaan mutan dan klon pisang baru yang diperoleh disajikan beserta latar belakang pemuliaannya.
Seleksi Kacang Tanah Pada Berbagai Kerapatan Populasi Tanam Nani Hermiati; Achmad Baihaki; Giat Suryatmana; Toto Warsa
Zuriat Vol 1, No 1 (1990)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v1i1.6594

Abstract

Sembilan belas genotip kacang tanah ditanam dalam enam lingkungan kerapatan populasi tanam, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang diulang dua kali, dari Januari 1983 sampai dengan Mei 1983, dengan tujuan mendapatkan lingkungan kerapatan populasi tanam yang mendukung penampilan genotipe yang berhubungan dengan program seleksi pada pemuliaan tanaman kacang tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan tumbuh mempengaruhi penampilan sifat-sifat genotipe kacang tanah, juga antara genotipe dan lingkungan tumbuh saling berinteraksi. Heritabilitas dan kemajuan genetik dari sifat-sifat yang diamati pada setiap lingkungan tumbuh, juga nilai proporsinya dengan gabungan lingkungan tumbuh, mempunyai nilai yang berbeda. Dengan demikian seleksi untuk sifat tertentu membutuhkan lingkungan tumbuh tertentu. Pada kerapatan populasi 500.000 tanaman per hektar, empat dari delapan sifat yang diamati nilai heritabilitas dan kemajuan genetik masing-masing lingkungan, mendekati nilai heritabilitas dan kemajuan genetik gabungannya, maka kerapatan populasi tersebut dapat dianjurkan untuk seleksi sifat hasil dan beberapa komponennya.