cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
KERAGAAN BEBERAPA AKSESI TANAMAN BUNGA MATAHARI (Helianthus annus L.) PADA CEKAMAN KEKERINGAN Noer Rahmi Ardiarini; Mochammad Roviq; Aniek Herwati
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i1.6867

Abstract

Tanaman bunga matahari (Helianthus annuus) adalah tanaman yang mempunyai potensi besar dikembangkan di Indonesia khususnya di lahan kering. Lahan kering mempunyai faktor pembatas berupa kurangnya air pada wilayah tersebut. Oleh karena itu sangat diperlukan informasi tentang tanaman bunga matahari yang toleran terhadap kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sifat-sifat anatomi, morfologi, dan agronomi 10 aksesi bunga matahari untuk digunakan sebagai penanda toleransi pada cekaman kekeringan. Aksesi bunga matahari yang digunakan adalah koleksi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) yang terdiri dari aksesi HA01, HA12, HA21, HA22, HA25, HA26, HA28, HA44, HA45 dan HA50. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Jatikerto Universitas Brawijaya Malang. Kebun ini berada pada ketinggian sekitar 300 m dari permukaan laut. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama: 100% Kapasitas Lapang (KL) dan Faktor kedua 40% Kapasitas Lapang (KL). Hasil penelitian menunjukkan  bahwa kondisi cekaman kekeringan mengakibatkan peningkatan kerapatan bulu daun, kerapatan stomata daun. Penurunan terjadi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun dan produksi biji. Aksesi yang memiliki tingkat toleransi tertinggi yaitu aksesi HA45. Aksesi ini ialah aksesi yang toleran terhadap cekaman kekeringan karena didukung oleh karakter penciri hasil yang toleran yaitu kerapatan bulu yang tinggi , diameter batang yang besar dan luas daun yang sempit serta mempunyai hasil biji bernas yang lebih tinggi dibandingkan aksesi yang lainnya.
Phenological Traits Of Soybean In Correlation With Seed Infection By Cercospora Kikuchii (Matsumoto And Tomoyasu) Gardner D. Ruswandi; R. M. Lantican; R. A. Hautea; M. P. Natural
Zuriat Vol 12, No 2 (2001)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v12i2.6690

Abstract

A study was conducted at Institute of Plant Breeding (IPB), University of thePhilippines at Los Ba~nos (UPLB) from February to July 1997 to determine any relationship among various phonological traits with purple seed stain on soybean caused by C. kikuchii. Thirty genotypes that showed different levels of resistance and susceptibility under the 1996 natural field experiment were used in the study. Results suggest that phonological traits in R7-1-R7-2, R7-1-R7-3, R7-1-R8, R7-2-R8 and R7-3-R8 can serve as selection criteria for developing resistance to C. kikuchii.
Korelasi Beberapa Karakter Morfologi dengan Ketahanan Tanaman Kedelai Terhadap Penyakit Karat Endeh Masnenah; Murdaningsih H. K.; R. Setiamihardja; Wenten Astika; A. Baihaki
Zuriat Vol 15, No 1 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i1.6822

Abstract

Penelitian untuk mengetahui korelasi antara karakter morfologi dengan ketahanan kedelai terhadap penyakit karat di lakukan di SPLPP Arjasari Faperta UNPAD dari bulan Januari sampai Juni 1995. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 92 genotipe sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter jumlah stomata, jumlah bulu daun, dan luas daun rata-rata korelasinya tidak nyata dengan intensitas penyakit karat kedelai. Semakin tinggi intensitas penyakit karat kedelai akan menurunkan jumlah polong pertanaman, bobot biji per tanaman dan jumlah biji bernas per polong serta meningkatkan jumlah biji tidak bernas per polong.
Uji Zuriat Pejantan Sapi Perah Fries Holland dan Pengaruh Inseminasi Buatan Terhadap Daya Produksi Susu Mochamad Makin; Made Nuraini; Adi Sudono
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6609

Abstract

Suatu pengujian keunggulan pejantan inseminasi buatan (IB) telah dilakukan pada 25 ekor pejantan Fries Holland pada lima perusahaan peternakan sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Penelitian ini didasarkan penilaian terhadap 2.232 catatan produksi susu sapi perah FH dari 1.219 ekor sapi perah betina dari tahun 1971 sampai tahun 1987. Uji zuriat dilakukan dengan metode Contemporary Comparison (CC).Hasil uji menunjukkan bahwa nilai CC 17 ekor pejantan positif dan delapan ekor pejantan negatif. Nilai tersebut berkisar dari ± 1.050,75 kg sampai  -330,33 kg.Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara daya produksi susu rata-rata sapi perah hasil IB sebesar 3.056,1 ± 621,5 kg dengan daya produksi susu rata-rata hasil non IB sebesar 2.991,50 ± 492,5 kg. Hal ini karena pada umumnya semen beku yang telah diimpor ke Indonesia berasal dari sapi-sapi pejantan yang produksi susu rata-rata anaknya di negara asalnya 3.500 kg per laktasi, sedangkan di Indonesia telah terdapat beberapa peternakan yang hasil produksi susu rata-ratanya 4.500 kg per laktasi.Tidak terdapat rank correlation yang nyata antara derajat keunggulan pejantan penghasil semen beku impor di negara asalnya dengan Indonesia (fs = 0,15).
Ketahanan 20 Genotip Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Terhadap Antraknos (Colletotrichum spp.) Pada Pertanaman Tumpangsari dengan Singkong Intan Pratiwi Y.B.S.; Winny Dewi W.; Meddy Rachmadi; Neni Rostini; R. Setiamihardja
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6749

Abstract

Pengujian ketahanan 20 genotip cabai merah terhadap penyakit Antraknos pada pertanaman tumpang sari dengan singkong telah dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dari bulan Februari 2005 sampai Mei 2005. Penelitian bertujuan untuk memperoleh genotip cabai merah yang memiliki ketahanan terhadap Antraknos dan penampilan hasil tinggi pada lingkungan pertanaman tumpangsari cabai merah singkong yang diperlakukan dengan defoliasi dan tanpa defoliasi. Percobaan disusun berdasarkan rancangan petak terbagi dengan 20 genotip cabai merah ditempatkan dalam anak petak dan pertanaman tumpangsari dengan defoliasi dan tanpa defoliasi singkong ditempatkan dalam petak utama. Percobaan laboratorium disusun berdasarkan rancangan acak lengkap dengan 20 genotip cabai merah sebagai perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan genotip RMCK II, RM08 X KRTRM, MuKRT, KRTSHATOL, MuRS 07, KRT II, RM08 IIA, Laris, Lado, CRMGT, KRTRM, UPG IIB, Prabu, Kresna, dan Gada lebih tahan terhadap Antraknos baik pada pertanaman tumpangsari dengan defoliasi dan tanpa defoliasi singkong, serta defoliasi singkong memberikan perubahan yang nyata terhadap ketahanan Antraknos, penampilan komponen hasil, serta karakter hasil 20 genotip cabai merah dibandingkan dengan pertanaman tunggalnya. Berdasarkan uji-LSInya genotip UPG IIB menunjukkan penampilan komponen hasil, serta karakter hasil yang baik pada pertanaman tumpangsari dengan defoliasi dan tanpa defoliasi singkong. Berdasarkan analisis perubahan penampilannya genotip KRT II memiliki toleransi yang baik pada lingkungan pertanaman tumpangsari dengan defoliasi singkong untuk karakter jumlah buah per tanaman dan bobot buah per tanaman. Tidak terdapat genotip yang memiliki nilai Kesetaraan Lahan lebih besar dibandingkan genotip Taro dan Tit Super, dan genotip Gada memiliki nilai Rasio Kompetisi lebih besar dibandingkan Tit Super.
Early Yield Testing and Selection of Upland Rice on Observational Study in Kebumen, Central Java Angelita Puji Lestari; Aris Hairmansis; Rini Hermanasari; Yullianida Yullianida; Suwarno Suwarno
Zuriat Vol 30, No 1 (2019): Latest Issue (April 2019)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.072 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v30i1.21249

Abstract

The use of upland rice variety is an effort to expand rice cultivation to dry land due to the decreasing of fertile land in Indonesia. To develop a high yielding rice line, a primary population with high genetic diversity is needed in character related to grain yield. This experiment aimed to study the genetic variability of some important characters of upland rice lines as primary data for the selected program. The research was carried out in the farmland of Mirit Village, Kebumen, Central Java. The genetic material consisted of 203 new promising lines and five varieties as a check, namely Inpago 6, Inpago 8, Limboto, Situpatenggang, and Situbagendit. This observation yield trial used an augmented design with five replicates of the check varieties, with a spacing of 30 x 15 cm. The data analysis showed that the rice lines, line vs. check, and block were significantly different in the number of productive tillers. The significant effects of lines with the check varieties were in plant height, flowering age, harvest age, and a number of productive tillers. The number of productive tillers had wide genetic variation, broad-sense heritability, and high genetic gain so that it can be utilized as selection criteria. Twelve lines were identified as a higher number of productive tillers, and three lines had a higher yield compared to the best varieties of Situbagendit.
Keragaman Galur-Galur Murni Elite Baru Jagung Unpad Di Jatinangor - Indonesia Y. Febriani; S. Ruswandi; M. Rachmady; D. Ruswandi
Zuriat Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i1.6713

Abstract

Informasi tentang keragaman galur-galur murni jagung DR unpad sangat diperlukan dalam program seleksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi variabilitas galur jagung DR, AR, dan BR serta menyusun kekerabatan antar galur- galur elit tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemulia dalam menyusun program pemuliaan untuk perakitan hibrida unggul baru. Percobaan lapang telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Padjadjaran Ciparanje Jatinangor. Percobaan disusun menggunakan tata ruang rancangan Acak Kelompok yang diulang dua kali dengan Galur-galur AR, BR, dan DR sebagai perlakuan. Variabilitas fenotipik dan genetik diestimasi berdasarkan nilai standar deviasi varians. Hubungan kekerabatan tiga puluh sembilan galur, ditentukan melalui analisis kemiripan genetik. Galur- galur tersebut dikelompokkan berdasarkan matriks kemiripan genetik melalui Unweighted Pair Group Method Using Arithmatic Average (UPGMA). Dendogram dikonstruksi dengan menggunakan Euclidian Coefficient. Jarak matriks dan dendogram dibentuk dengan menggunakan program NTSYSpc (Numerical Taxonomic System) versi 2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas genetik dan variabilitas fenotipik berbagai karakter dari populasi 39 galur- galur jagung adalah beragam. Berdasarkan dendogram hubungan kekerabatan terlihat bahwa galur yang memiliki kemiripan genetik yang dekat yaitu galur DR 8 dan DR 18.
ANALISIS SILANG DIALEL KARAKTER KETAHANAN LAYU BAKTERI PADA CABAI Izmi Yulianah; Niken Kendarini
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6858

Abstract

Layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Penyakit layu bakteri cukup berbahaya, karena pada tingkat serangan berat dapat menyebabkan kematian tanaman dan kegagalan panen. Upaya pengendalian yang efektif dan efisien adalah dengan menggunakan varietas tahan layu bakteri. Varietas yang tahan dapat diperoleh antara lain melalui persilangan. Pemilihan populasi F1 dan pasangan tetua dapat didasarkan pada nilai daya gabung dan heterosis. Tujuan penelitian 1) Menduga  daya gabung dan nilai heterosis karakter ketahanan cabai terhadap layu bakteri pada populasi F1. dan 2) Memilih populasi F1 yang memiliki daya gabung khusus tinggi dan heterosis baik pada karakter ketahanan cabai terhadap layu bakteri. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa Genotipe PBC 473, Jatilaba, dan 02094, memiliki daya gabung umum positif.Terdapat enam populasi F1 yang memiliki nilai DGK positif yaitu PBC 473 x PBC 67MC5, Jatilaba x Randu, Jatilaba x PBC 67MC5, 02094 x Randu,02094 x PBC 67MC5, dan Randu x PBC 67MC5. Pemilihan populasi F1 terbaik berdasarkan daya gabung umum, daya gabung khusus dan  heterosis baik.Terpilih empat populasi F1 sebagai calon varietas hibrida cabai yang tahan terhadap layu bakteri yaitu PBC 473 x PBC 67MC5, Jatilaba x randu, Jatilaba x PBC 67MC5, dan 02094 x Randu.
Penampilan Fenotipik dan Beberapa Parameter Genetik 16 Genotip Kentang pada Lahan Sawah Di Dataran Medium Noladhi Wicaksana
Zuriat Vol 12, No 1 (2001)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v12i1.6681

Abstract

Percobaan bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai penampilan fenotipik dan beberapa parameter genetic yaitu variabilitas genetik dan fenotipik, serta heritabilitas16 genotip kentang. Penelitian dilakukan di lahan sawah Jatinangor, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 16 genotip sebagai perlakuan dengan tiga kali ulangan. Perbedaan antar perlakuan diuji dengan uji F dan rata-rata perlakuan di uji dengan uji Least Significance Increase (LSI). Hasil penelitian menunjukan genotip J12 dan J12A mempunyai potensi hasil tertinggi. Genotip yang mempunyai penampilan yang baik untuk karakter tinggi tanaman, diameter tajuk dan kemampuan berbunga di dataran medium adalah J3, J8, J9 dan JXX. Variabilitas genetik dan fenotipik yang tinggi terdapat pada karakter bobot ubi per tanaman. Heritabilitas yang tinggi terdapat pada karakter tinggi tanaman, jumlah bunga per tanaman, persentase bunga yang menjadi buah, jumlah ubi per tanaman, dan bobot ubi per tanaman.
Analisis Variabilitas Genetik Manggis (Garcinia Mangostana L.) Di Jawa dan Sumatera Barat Menggunakan Teknik RAPD Ellina Mansyah; Achmad Baihaki; Ridwan Setiamihardja; Juliati S. Darsa; , Sobir
Zuriat Vol 14, No 1 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i1.6813

Abstract

Informasi tentang variabilitas genetic suatu tanaman penting untuk program pemuliaan karena merupakan dasar untuk pengembangan tanaman tersebut selanjutnya. Sampai saat ini diketahui secara luas bahwa tanaman manggis tidak memiliki variabilitas secara genetic karena mempunyai mekanisme reproduksi secara apomiksis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabilitas genotip manggis pada berbagai lingkungan tumbuh di Jawa dan Sumatera Barat melalui teknik RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). Observasi genetic dilaksanakan dengan menggunakan 23 sampel DNA yang mewakili populasi manggis dari berbagai lokasi tersebut. Lima praimer acak digunakan dalam analisis RAPD dan diperoleh 51 pita DNA yang terdiri dari 42 pita polimorfik dan 9 pita monomorfik. Pembuatan dendogram karakter genotip dilakukan dengan bantuan program NTSYSpc versi 2.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman manggis bervariasi secara genetik. Variasi genetiknya adalah sebesar 56.6% dengan koefisien kemiripan Dice 0.73–1.00. Koefisien korelasi antar pita DNA cukup tinggi yaitu r = 0.896, yang berarti dendogram berdasarkan pola pita DNA sangat baik.