cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Kandungan Proksimat Mayones dengan Variasi Minyak Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus) dan Minyak Jagung Putri Julia Mizulni; Ema Hastarini; Sri Purwaningsih; Sugeng Heri Suseno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.844

Abstract

Industri pengolahan ikan patin selama ini menghasilkan hasil samping yang tidak termanfaatkan dengan baik sehingga perlu dilakukan inovasi dalam memanfaatkan hasil samping, salah satunya yaitu mengolahnya menjadi minyak ikan. Pembuatan mayones dilakukan dengan mencampurkan minyak ikan dan minyak jagung dengan perlakuan yang diberikan yaitu konsentrasi minyak ikan dan minyak jagung yang berbeda. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan gizi mayones secara proksimat serta menentukan formulasi terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor, yaitu perbedaan konsentrasi penambahan minyak ikan dan jenis minyak ikan yang digunakan (belly dan trimming). Rasio penggunaan minyak ikan : minyak jagung yang digunakan terdiri atas empat formula, yaitu 45:55; 40:50; 35:65; dan 30:70 dari total minyak 65%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi proksimat mayones yang dibuat menggunakan minyak jagung yang dicampur dengan minyak ikan (belly dan trimming) dalam berbagai konsentrasimemberikan pengaruh terhadap air, abu, lemak, dan protein berturut-turut yaitu 8,60-16,26%, 1,23- 1,53%, 69-90-77,63%, dan 3,94-5,11% dan hampir seluruh parameter memenuhi SNI 4473-2018. Abstract The catfish processing industry has so far produced by-products that have not been utilized properly, so it is necessary to innovate in utilizing by-products, one of which is processing them into fish oil. Making mayonnaise is done by mixing fish oil and corn oil with the treatment given, namely different concentrations of fish oil and corn oil. This study aims to analyze the nutritional content of mayonnaise proximately and determine the best formulation. This research used a completely randomized design (CRD) factorial with 2 factors, namely differences in the concentration of the addition of fish oil and the type of fish oil used (belly and trimming). The ratio of the use of fish oil: corn oil used consists of 4 formulas, namely 45:55; 40:50; 35:65; and 30:70 of the total 65% oil. The results showed that the proximate composition of mayonnaise made using corn oil mixed with fish oil (belly and trimming) in various concentrations had an effect on water, ash, fat and protein, respectively 8.60 –16.26%, 1.23–1.53%, 69-90–77.63%, and 3.94–5.11% and almost all parameters meet SNI standards.
Keutuhan Talus Kappaphycus alvarezii saat Panen Memengaruhi Karakteristik Karaginan muhamad firdaus; Dwi Setijawati; Eka Puji Lestari; Suyono Suyono; Faizul Amam
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.910

Abstract

Kappaphycus alvarezii adalah alga merah yang memiliki kandungan karaginan. Pemutusan tali pengikat K. alvarezii dengan cara menarik saat pemanenan mengakibatkan talus patah. Talus yang patah akan mengeluarkan getah berkandungan karaginan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik karaginan K. alvarezii berdasar keutuhan talus yang dipanen. Talus utuh, patah dan campuran K. alvarezii diperoleh saat pelepasan rumput laut dari tali pengikat. Tahapan ekstraksi karaginan meliputi penimbangan, ekstraksi, netralisasi, perebusan, filtrasi, penjendalan, penirisan, netralisasi, pengeringan, dan penepungan. Karakteristik karaginan ditentukan berdasar kadar air, abu, abu tidak larut asam, sulfat, viskositas, kekuatan gel, dan spektrum infra merah. Analisis komponen utama pada spektra infra merah digunakan untuk membedakan karaktersitik karaginan talus. Hasil menunjukkan rendemen karaginan dari talus utuh lebih banyak dibanding patah atau campuran keduanya. Karakteristik karaginan dari ketiga talus masih memenuhi standar karaginan, yaitu: kadar air 9,91-10,87%, kadar abu 25,22-27,97%, kadar abu tidak larut asam 0,42-0,87%, kadar sulfat 19,91-24,24%, viskositas 47,11- 56,76 cP, dan kekuatan gel 376,62-457,92 g/cm². Gugus fungsional karaginan dari ketiga talus tersebut menunjukkan gugus fungsional penciri kappa karaginan yaitu ester sulfat, 3,6-anhidrogalaktosa dan galaktosa-4-sulfat. Berdasarkan analisis komponen utama spektra infra merah, talus utuh berbeda dengan talus patah atau campuran talus utuh dan patah. Kesimpulan menunjukkan karakteristik talus utuh berbeda dari talus patah atau campuran talus patah dan utuh. AbstractKappaphycus alvarezii is a red alga containing carrageenan. Termination of the K. alvarezii binding rope by pulling during harvesting resulted in a broken thallus. A broken thallus will release sap containing carrageenan. This study aims to obtain the characteristics of K. alvarezii carrageenan based on the integrity of the thallus harvested. Whole, broken and mixed thallus of K. alvarezii were obtained when the seaweed was released from the strings. The stages of carrageenan extraction include weighing, extraction, neutralization, boiling, filtration, coagulation, draining, neutralization, drying and flouring. Characteristics of carrageenan are determined based on water content, ash, acid-insoluble ash, sulphate, viscosity, gel strength, and infrared spectrum. Principal component analysis in infrared spectra was used to distinguish the characteristics of thallus carrageenan. The results showed that carrageenan yield from intact thallus was higher than broken or a mixture of both. The carrageenan characteristics of the three thalli still met carrageenan standards, namely: water content 9.91-10.87%, ash content 25.22-27.97%, acid insoluble ash content 0.42-0.87%, sulphate content 19.91-24.24%, viscosity 47.11-56.76cP, and gel strength 376.62-457.92 g/cm². The carrageenan functional groups of the three thalli showed the functional groups that characterize kappa carrageenan, namely sulphate esters, 3,6-anhydrogalactose, and galactose-4-sulphate. Based on the analysis of the principal component of the infrared spectra, an intact thallus is different from a broken thallus or a mixture of the intact and broken thallus. The conclusion shows that the characteristics of the intact thallus are different from a broken thallus or a mixture of the broken and intact thallus.
Penerimaan Konsumen dan Sifat Fisikokimia Cookies dengan Penambahan Tinta Loligo sp. Mudirta, Mudirta; Pamungkas, Bagus Fajar; Sulistiawati, Septiana; Rusdin, Ilmiani; Mismawati, Andi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.953

Abstract

Cookies adalah jenis biskuit dengan kandungan lemak tinggi sehingga adonannya lembut dan relatif renyah jika pecah dengan tekstur kompak, dan dapat divariasikan. Penambahan tinta cumi Loligo sp. pada cookies merupakan bentuk diversifikasi produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerimaan konsumen dan karakteristik fisikokimia cookies dengan penambahan tinta cumi. Rancangan Acak Lengkap merupakan metode yang dipilih untuk analisis data eksperimen pada penambahan tinta cumi sebanyak 0,25% (P1), 0,50% (P2), 0,75% (P3), dan 1% (P4) secara triplo (untuk proksimat). Komposisi proksimat (warna, kadar abu, lemak, air, protein, dan karbohidrat (by different) serta hedonik (aroma, tekstur, warna, rasa, dan keseluruhan) merupakan indikator yang diamati. Nilai proksimat dianalisis menggunakan ANOVA one way, sedangkan perbedaan perlakuan dianalisis lebih lanjut menggunakan uji Duncan Multiple Range (p0,5). Data hedonik dievluasi melalui uji Kruscal-Wallis, perbedaan perlakuan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney (p0,5). Formulasi terbaik berdasarkan penerimaan konsumen adalah P3 dengan nilai warna 6,89 (suka), aroma 6,86 (suka), rasa 7,31 (suka), tekstur 7,29 (suka), dan nilai keseluruhan 7,29 (suka). Nilai proksimat P3 terdiri dari warna L* sebesar 20,73; a* sebesar 0,52; b* sebesar 2,00; kadar air, abu, protein, lemak dan karbohidrat berturut-turut sebesar 3,86%; 1,58%; 6,80%; 24,21%; dan 63,98%.ABSTRACTCookies are a type of biscuit made from a soft dough, with high fat content, relatively crunchy when broken, have a dense texture, and can be diversified. The addition of Loligo sp. squid ink to cookies is a form of product diversification. This research aims to evaluate the consumer receptions and the physicochemical characteristics of cookies with the addition of squid ink. Completely Randomized Design is the method chosen for analyzing experimental data on the addition of 0.25% (P1), 0.50% (P2), 0.75% (P3), and 1% (P4) squid ink in triplicate (for proximate). The parameters observed were proximate composition (color, ash content, fat, water, protein, and carbohydrates (by different) and hedonic (aroma, texture, color, taste, and overall). Proximate data were analyzed using one-way ANOVA, where treatment differences were further analyzed using the Duncan Multiple Range test (p0.5). Hedonic data were analyzed using the Kruscal-Wallis test, treatment differences followed by the Mann-Whitney test (p0.5). The best formulation based on consumer acceptance is P3 with a color value of 6.89 (liked), aroma of 6.86 (liked), taste of 7.31 (liked), texture of 7.29 (liked), and overall value of 7.29 (liked). The proximate value of P3 consists of color L* of 20.73; a* of 0.52; b* of 2.00; water content of 3.86%; ash content of 1.58%; protein content of 6.80%; fat content of 24.21%; and carbohydrate content of 63.98%.
Karakteristik Fisikokimia dan Aktivitas Antioksidan Hidrolisat Protein Ikan Kakap (Lutjanus sp.) Skala Pilot Yuniarti, Tatty; Arrahmi, Nafa Ya’la; Dharmayanti, Niken; Sugiwati, Sri; Mulyono, Mugi; Hidayat, Taufik; Martosuyono, Pujoyuwono; Maulani, Aghitia; Alghany, Albar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i1.985

Abstract

Hidrolisat protein ikan (HPI) merupakan produk dari reaksi hidrolisis ikatan peptida menghasilkan pelepasan peptida aktif pendek dan lebih mudah diserap. Ikan kakap merupakan komoditas perikanan laut yang berlimpah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik fisikokimia dan kemampuan bioaktif HPI dari ikan kakap merah (Lutjanus sp.) pada skala pilot (biofermentor 120 kg). Pengujian bahan baku dan HPI yang dilakukan meliputi uji organoleptik, uji TVB, uji ALT, uji proksimat. pembuatan HPI dilakukan dengan menggunakan enzim alkalase 20.000 U/kg substrat saat suhu 55 °C dengan waktu hidrolisis pada jam ke-0 hingga jam ke-8. Pengujian derajat hidrolisis dan uji aktivitas antioksidan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dilakukan pada tiap jam. Hasil penelitian menunjukkan waktu hidrolisis mulai stabil pada jam ke-6 hingga jam ke-8. Derajat hidrolisis (DH) HPI pada jam ke-6 adalah sebesar 13,3% dan inhibisi antioksidan sebesar 6,75%. Bahan baku HPI merupakan ikan segar dengan nilai TVB 12,89%; kadar protein 21,41%; lemak 4,66%; air 72,36%; dan abu 0,95%. Komposisi kimia HPI memiliki kadar protein 19,20%; lemak 0,15%; air 0.06%; abu 1,15%. Rendemen HPI yang dihasilkan sebesar 15,75% dari bahan baku. Total mikroba dan organoleptik memenuhi standar SNI. Kandungan asam amino tertinggi dari bahan baku dan HPI merupakan asam glutamat dengan nilai masing-masing 3,3% dan 3,4%. Kandungan asam amino terendah pada bahan baku dan HPI adalah histidin dengan nilai masing-masing 0,43% dan 0,52%. Produksi HPI skala pilot menghasilkan HPI yang kaya asam amino esensial dan memiliki aktivitas antioksidan, sehingga berpotensi digunakan sebagai ingridient pangan fungsional.KATA KUNCI: AbstractFish protein hydrolysate (FPH) is a product of the hydrolysis reaction of peptide bonds resulting in the release of short active peptides and more easily absorbed. Fish protein hydrolyzate (HPI) is a product of the hydrolysis reaction of peptide bonds resulting in the release of short active peptides that are more easily absorbed. Snapper is an abundant marine fishery commodity in Indonesia. The aim of this study was to determine the physicochemical characteristics and bioactive capabilities of HPI from red snapper (Lutjanus sp.) on a pilot scale (120 kg biofermenter). Raw material and HPI testing includes organoleptic tests, TVB tests, ALT tests, proximate tests; HPI production uses the alcalase enzyme 20,000 U/kg substrate at a temperature of 55°C with a hydrolysis time of 0 to 8 hours. Tests for the degree of hydrolysis and antioxidant activity tests using the DPPH method are carried out every hour. The results showed that the hydrolysis time began to stabilize at the 6th to the 8th hour. The value of DH HPI at the 6th hour was 13.3% and antioxidant inhibition was 6.75%. The raw material is fresh fish with a TVB of 12.89%; protein content 21.41%; fat 4.66%; water 72.36%; ash 0.95%. The resulting HPI has a protein content of 19.20%; fat 0.15%; water 0.06%; ash 1.15%. HPI yield 15.75% of raw materials. Total microbes and organoleptics meet SNI standards. The highest amino acid content of raw materials and HPI is glutamic acid with values of 3.3% and 3.4% respectively. The lowest amino acid content in raw materials and HPI is histidine with values of 0.43% and 0.52% respectively. Pilot scale HPI production produces HPI which is rich in essential amino acids and has bioactive antioxidant capabilities, so it has the potential to be used as a functional food ingredient.
Karakteristik Fisikokimia Serbuk Tinta Cumi yang Dikeringkan dengan Oven Kristiningsih, Ari; Wittriansyah, Khoeruddin; Sodikin, Jenal; Fadlilah, Ilma
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.942

Abstract

Tinta cumi merupakan limbah sampingan dari cumi-cumi yang belum termanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan tinta cumi masih terbatas pada produk segar, yang mengakibatkannya tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama. Sehingga diperlukan olahan lanjutan untuk memperpanjang masa simpan seperti dijadikan dalam bentuk serbuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisikokimia tinta cumi yang telah diawetkan dalam bentuk serbuk. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan melakukan pengamatan pada serbuk tinta cumi. Pengamatan dilakukan dengan melakukan analisis proksimat, analisis SEM-EDX dan analisis FT-IR. Kandungan lemak dan protein serbuk tinta cumi memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan bagian tubuh lainya. Analisis SEM-EDX menunjukan bahwa serbuk tinta cumi memiliki bentuk yang tidak beraturan dengan unsur penyusun utama C, N dan O. Hasil analisis FT-IR menunjukan bahwa gugus fungsi yang terdapat di dalam serbuk tinta cumi adalah gugus fungsi fenolik (O-H) dan amina (N-H) yang berpotensi menjadi senyawa antibakteri dan juga antioksidan.Kata Kunci : ABSTRACTSquid ink is a byproduct of squid that has not been utilized properly. Despite its potential, the use of squid ink is still limited to fresh products, which means it cannot be stored for a long time. Therefore, further processing is needed to extend the shelf life, such as making it into powder form. The objective of this study is to determine the physicochemical characteristics of squid ink that has been preserved in powder form. The research method used is exploratory descriptive by observing the squid ink powder. Proximate analysis, SEM-EDX analysis, and FT-IR analysis were carried out to observe the powder. The fat and protein content of squid ink powder is lower compared to other body parts. SEM-EDX analysis shows that squid ink powder has an irregular shape with the main constituent elements of Carbon, Nitrogen, and Oxygen. The results of FT-IR analysis show that squid ink powder contains functional groups of phenolic (O-H) and amine (N-H), which have the potential to be an antibacterial compound and an antioxidant.
Potensi Ekstrak Daun Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Rahmawati, Rahmawati; Nurhayati, Tati; Nurjanah, Nurjanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.933

Abstract

Tanaman lindur (Bruguiera gymnorrhiza) merupakan salah satu jenis tanaman mangrove yang dapat tumbuh pada kondisi salinitas rendah dan aerasi yang baik. Ekstrak lindur memiliki kandungan senyawa fitokimia sehingga berpotensi diaplikasikan sebagai antibakteri pada bidang pangan maupun kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi potensi antibakteri dari ekstrak daun tanaman lindur terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 8739. Metode pengujian yang digunakan adalah ekstraksi bertingkat menggunakan proses maserasi dengan menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak yang diperoleh kemudian dilakukan uji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak n-heksana, ekstrak etil asetat, dan ekstrak etanol adalah sebesar 1,93%, 3,56%, dan 7,36%. Ekstrak n-heksana mengandung steroid, triterpenoid, dan flavonoid, ekstrak etil asetat mengandung steroid, triterpenoid, flavonoid, dan fenol hidrokuinon, dan ekstrak etanol mengandung steroid, flavonoid, saponin, fenol hidrokuinon, dan tanin. Hasil penelitian menunjukkan hanya ekstrak etil asetat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus ATCC 6538 dan bakteri E. coli ATCC 8739. Efektivitas tertinggi terdeteksi pada bakteri S. aureus ATCC 6538 yang tergolong ke dalam bakteri Gram positif, dengan diameter zona bening berkisar 3-8 mm, pada rentang jam ke-11 sampai jam ke-19. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etil asetat yang mengandung senyawa polar dan non polar dari tanaman lindur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri. AbstractLindur plant (Bruguiera gymnorrhiza) is one type of mangrove plant that can grow in conditions    of low salinity and good aeration. Lindur extract contains phytochemical compounds so that it has   the potential to be applied as an antibacterial in the food and health sectors. This study was aimed    at evaluating the antibacterial potency of lindur plant leaf extract against Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 8739. The test method used was stratified extraction using maceration with n-hexane solvents, ethyl acetate, and ethanol. The extract obtained was then carried out phytochemical tests as well as antibacterial activity tests with the agar diffusion method. The results indicated that the yield of n-hexane extract, ethyl acetate extract, and ethanol extract were 1,93%, 3,56%, and 7,36%. N-hexane extract contains steroids, triterpenoids, and flavonoids, ethyl acetate extract contains steroids, triterpenoids, flavonoids, and phenol hydroquinone, and ethanol extract contains steroids, flavonoids, saponins, phenol hydroquinone, and tannins. The result also depicted that only in ethyl acetate extract can inhibit the growth of S. aureus ATCC 6538 and E. coli ATCC 8739. The highest effectiveness was observed in the S. aureus ATCC 6538 which belongs to Gram-positive bacteria, with a clear zone diameter ranging from 3-8 mm, in the range of the 11th to the 19th hour. This study concluded that that ethyl acetate extract containing polar and nonpolar compounds from lindur plants are potential to be developed as an antibacterial.
Karakteristik Gluten Free Cookies Fortifikasi Hidrolisat Protein Ikan Lele Maulani, Aghitia; Poernomo, Achmad; Lisyana, Heni; Sumandiarsa, I Ketut
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i1.991

Abstract

Pada umumnya cookies yang biasa ditemukan terbuat dari tepung terigu. Tepung terigu mengandung 80% gluten dari total protein yang terkandung. Gluten harus dihindari oleh orang yang alergi gluten dan penyandang celiac disease. Penggantian penggunaan tepung terigu dengan tepung modified cassava flour (mocaf) merupakan salah satu cara agar konsumen yang sensitif terhadap gluten dapat mengonsumsi cookies. Namun demikian, tepung mocaf mempunyai kandungan protein yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan tambahan sumber protein lain seperti hidrolisat protein ikan (HPI) lele. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui formulasi penambahan HPI terbaik pada gluten free cookies. Sampel cookies dibuat dengan variasi bahan utama tepung terigu sebagai kontrol, tepung mocaf tanpa penambahan HPI, dan tepung mocaf dengan penambahan HPI 1%, 2%, dan 3%. Selanjutnya, dilakukan uji tingkat kesukaan (hedonik) oleh 30 panelis tidak terlatih, uji fisik, proksimat, dan mikrobiologi. Gluten free cookies terpilih yakni cookies dengan penambahan HPI 3%, dengan nilai tingkat kesukaan secara keseluruhan 7,30. Cookies ini memiliki kadar air 2,54±0,00%, abu 1,87±0,00%, lemak 30,55±0,01%, protein 4,38±0,00%, dan karbohidrat 60,66±0,02%. Nilai uji fisik cookies terbaik untuk parameter bake loss sebesar 17,07±0,52% dan spread ratio 7,09±1,01 cm, serta parameter mikrobiologi Angka Lempeng Total (ALT) 2.500 koloni/g.  AbstractCookies which are commonly found are made from wheat flour contains 80% gluten from the total protein contained. Additionally, gluten should be avoided by people with gluten allergies and celiac disease. Replacing the use of wheat flour with modified cassava flour (mocaf) is a way for consumers who are sensitive to gluten to consume cookies. The present research was conducted to find out the best Catfish Protein Hydrolysate (CPH) addition on gluten free cookies. The gluten free cookies were made with variations of the addition of CPH 1%, 2% and 3%, and then tested hedonically by 30 untrained panelists and characterized from the results of physical, proximate, and microbiological properties. Gluten free cookies with the addition of CPH 3% was the best formula with an overall liking value 7.30. Based on physical test for the bake loss of this cookies is 17.07±0.52% and spread ratio 7.09±1.01. Based on proximate test, the moisture content is 2.54±0.00%, ash 1.87±0.00%, fat 30.55±0.01%, protein 4.38±0.00%, and carbohydrates 60.66±0.02%, while the microbiological test showed ALT value of 2.500 colonies/g.
Karakteristik Crackers Hasil Fortifikasi Tepung Ikan Teri (Stolephorus sp.) dan Rumput Laut (Ulva lactucca) untuk Anak Usia Sekolah Simaremare, Perawati -; Ratnaningsih, Nani; Lastarawati, Badraningsih
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i1.940

Abstract

Ikan teri adalah salah satu sumber kalsium yang tinggi, namun pemanfaatannya dalam produk makanan masih sangat terbatas. Crackers komersial biasa dikonsumsi oleh berbagai kalangan usia dan kaya karbohidat sehingga perlu dilakukan fortifikasi pangan. Tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi terbaik crackers ikan teri dan rumput laut berdasarkan tingkat kesukaan dan berdasarkan kandungan gizinya. Desain penelitian ini adalah Research and Development rancangan 4D (define, design, development and disseminate). Analisis sampel pada produk acuan dan pengembangan terpilih diamati melalui analisis organoleptik, protein, lemak, air, abu, karbohidrat, energi dan kalsium. Formula terbaik pembuatan crackers ikan teri dan rumput laut adalah dengan substitusi tepung ikan teri sebesar 20% dan rumput laut sebesar 3%. Uji kesukaan produk acuan adalah 3,9 (disukai) dan produk pengembangan adalah 4,5 (sangat disukai). Kandungan gizi crackers ikan teri dan rumput laut terdiri dari lemak 12,55 g, karbohidrat 53,31 g, dan energi 425,39 kkal/100 g produk. Crackers ikan teri dan rumput laut dapat dikategorikan sebagai camilan sumber kalsium dan protein karena mengandung kalsium 360,44 mg dan protein 24,8 g/100 g. Oleh karena itu, crackers ikan teri dan rumput laut dapat direkomendasikan sebagai camilan sumber kalsium dan protein. AbstractAnchovies are one of the high sources of calcium, however its use in food products is still very limited. Commercial crackers are commonly consumed by various ages and are rich in carbohydrates so it is necessary to do food fortification. The purpose of this research is to determine the best concentration of crackers fortified by anchovy meal and seaweed powder based on the level of liking and its nutritional content. The design of this research is research and development with 4D design (define, design, development and disseminate). Sample analysis on selected reference and developed products was observed through analysis of organoleptics, proteins, fats, water, ash, carbohydrates, energy and calcium. The best formula of crackers fortified by anchovy meal and seaweed powder is by substituting anchovy meal of 20% and seaweed of 3%. The preference test for the reference product is 3.9 (preferred) and the development product is 4.5 (highly preferred). The nutritional content of crackers fortified by anchovy meal and seaweed powder consists of 12.55 g fat, 53.31 g carbohydrates, and energy of 425.39 kcal/100 g product. Crackers fortified by anchovy meal and seaweed powder can be categorized as snack sources of calcium and protein because they contain 360.44 mg calcium and 24.8 g protein in 100 g. Therefore, anchovy crackers and seaweed can be recommended as snack sources of calcium and protein.
Pengujian Organoleptik dan Deteksi Logam Berat pada Bahan Baku dan Produk Bakso Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) dari Selat Bali Dewi, Resti Nurmala; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Febrianti, Desy; Putrivenn, Dewi Fridolin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.973

Abstract

Ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan sumberdaya perikanan yang melimpah di Selat Bali dan memiliki nilai ekonomis yang rendah. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, ikan lemuru dapat diolah menjadi produk diversifikasi yang banyak digemari masyarakat yaitu bakso ikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bakso ikan lemuru dengan empat konsentrasi daging dan tepung tapioka (P0, P1, P2, dan P3). Tingkat penerimaan konsumen dianalisis melalui pengujian organoleptik menggunakan 30 panelis tidak terlatih. Pengujian logam berat sebagai salah satu jaminan keamanan produk dilakukan menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Hal ini dikarenakan wilayah penangkapan ikan lemuru di Selat Bali merupakan wilayah perairan yang mengalami banyak pencemaran akibat kegiatan penangkapan ikan dan industri. Hasil pengujian organoleptik pada bahan baku menunjukkan nilai rata-rata delapan untuk seluruh atribut yang menandakan bahwa ikan lemuru berada dalam kondisi segar. Kandungan logam berat pada bahan baku juga masih di bawah ambang batas menurut Standar Nasional Indonesia (SNI). Disamping itu, penambahan daging ikan lemuru dan tepung tapioka memberikan hasil yang signifikan terhadap nilai organoleptik dengan formulasi terbaik (P1) sebesar 7,34 (kenampakan), 7,92 (bau), 8,36 (rasa) dan 7,85 (tekstur) (p0,05). Konsentrasi logam berat pada bakso ikan tidak dipengaruhi oleh penambahan tepung dan berada di bawah ambang batas dengan konsentrasi (mg/kg) pada perlakukan terbaik (P1) sebesar 0,007±0,0010 (Hg) (p0,05), 0,0010±0,0010 (Pb) (p0.05) dan 0,0020±0,0013 (Cd) (p0,05). Dapat disimpulkan bahwa produk bakso ikan lemuru disukai oleh konsumen dan memiliki konsentrasi logam berat pada rentang yang aman.ABSTRACTLemuru fish (Sardinella lemuru) is one dominant commodity from the Bali Strait which has low economic value. To solve this issue, lemuru can be converted into a variety of widely-liked products, such fish balls. Therefore, this study aimed to produce fish balls with four concentrations of meat and tapioca flour (P0, P1, P2 ,and P3). The level of consumer acceptance was analysed through organoleptic testing employing 30 untrained panelists. The heavy metal of samples was also analysed using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). This is due the current fishing activities and industries in the Bali Strait contribute to heavy metals pollution in the water. The organoleptic testing of raw materials revealed an average value of eight for all aspects, which suggested that lemuru was in fresh conditions. The content of heavy metals in raw materials was below standards issued by Indonesian National Standard (SNI). Furthermore, the addition of lemuru meat and tapioca flour was significantly affected the quality of fish ball, with organoleptic scores obtained from the best treatment (P1) were 7.85 (texture), 8.36 (taste), 7.92 (smell), and 7.34 (appearance) (p0.05). The concentration of heavy metals in fish balls was not influenced by the addition of flour and was below the threshold with the concentrations (mg/kg) of 0.007±0.0010 (Hg) (p0.05), 0.0010±0.0010 (Pb) (p0.05) and 0.0020±0.0013 (Cd) (p0.05). In conclusion, lemuru fish ball was preferred by customers and had heavy metal concentrations that were within a safe limit.
Pengaruh Suhu Ekstraksi Terhadap Karakteristik Gelatin dari Sisik Ikan Lates calcarifer dan Oreochromis niloticus Hariyanti, Hariyanti; Nafi’ah, Khusnun; Azizah, Nur; Gantini, Sri Nevi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.918

Abstract

Indonesia merupakan produsen ikan terbesar dari produk kelautan dan budidaya air tawar. Sisik ikan merupakan limbah ikan yang telah banyak dipelajari pemanfaatannya, salah satunya untuk pembuatan gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi yang berbeda terhadap kualitas gelatin sisik ikan air laut (Lates calcarifer/kakap putih), dan ikan air tawar (Oreochromis niloticus/nila merah). Metode penelitian ini adalah membandingkan kualitas gelatin dengan ekstraksi menggunakan teknologi sonikasi dengan variasi suhu ekstraksi, yaitu 55, 60, dan 65 °C. Gelatin dari sisik kakap putih dengan suhu ekstraksi sonikasi pada 60 °C memiliki rendemen tertinggi sebesar 14,79%, dengan kadar air 10,61%, kadar abu 1,79%, pH 4,86, viskositas 4,41cps, dan kandungan Cu dan Zn masing-masing sebesar 4,61, dan 2,99 mg/kg. Gelatin dari sisik nila merah dengan suhu ekstraksi sonikasi pada 65 °C memiliki rendemen tertinggi sebesar 11,62% dengan kadar air sebesar 9,05%, kadar abu sebesar 2,70%, pH 5,09, viskositas 1,61cps, dan kandungan Cu dan Zn masingmasing sebesar 11,88 mg/kg dan 2,59 mg/kg. Hasil karakterisasi gelatin kedua sisik ikan tersebut mengikuti standar SNI dan GMIA. Rendemen gelatin sisik ikan air laut (14,79%) mempunyai nilai lebih besar dibandingkan gelatin sisik ikan air tawar (11,62%). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kedua jenis ikan tersebut menghasilkan gelatin yang memenuhi syarat standar dan suhu ekstraksimemberikan pengaruh rendemen terhadap hasil gelatin kedua ikan. AbstractIndonesia is the largest fish producer derived from marine products and freshwater aquaculture. Fish scales are fish waste that has been studied for its utilization, one of which is for gelatine manufacture. This study aims to determine the effect of different extraction temperatures on the quality of gelatine scales of seawater fish (Lates calcarifer/white snapper), and freshwater fish (Oreochromis niloticus/red tilapia). This research method compares gelatine quality with extraction using sonication technology with extraction temperature variations, namely 55, 60, and 65 °C. Gelatine from white snapper scales with extraction temperature by sonication at 60 °C has the highest yield of 14.79%, with water content of 10.61%, ash content of 1.79%, pH of 4.86, viscosity of 4.41cps, and content of Cu and Zn respectively of 4.61, and 2.99 mg/kg. Gelatine from red tilapia scales with extraction temperature by sonication at 65 °C has the highest yield of 11.62%, with water content of 9.05%, ash content of 2.70%, pH of 5.09, the viscosity of 1.61cps, and content of Cu and Zn was 11.88 mg/kg and 2.59 mg/kg, respectively. The results of this study can conclude that the two types of fish produce gelatine that meets the standard requirements, and the extraction temperature affects the gelatine yield of the two fish.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue