cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Karakteristik Fisiko-kimia Agar-agar dari Gracilaria verrucosa pada Lokasi yang Berbeda Siregar, Resmi Rumenta; Permadi, Aef; Wijaya, Virgian Mega
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i2.993

Abstract

Berbagai upaya mendapatkan agar-agar yang baik telah dilakukan seperti modifikasi penanganan hingga modifikasi proses pengolahannya. Namun mutu bahan baku yang masih rendah, masih menjadi permasalahan. Beberapa studi terkait mutu yang berkaitan dengan penanganan, metode dan waktu pemanenan serta teknik penanaman telah banyak dilakukan. Namun identifikasi terhadap mutu agar-agar yang dihasilkan dari Rumput laut Gracilaria verrucosa hubungannya dengan lokasi hidupnya belum dilakukan, sehingga penelitian ini diharapkan memberikan informasi lokasi perairan yang terbaik diantara tiga lokasi (Serang, Brebes, dan Pasuruan) dilihat dari mutu agar-agar yang dihasilkan. Metode penelitian dilakukan dengan observasi dan ekperimental laboratorium. Agar-agar diolah sesuai dengan metode di PT. Java Biocolloid, yang meliputi seleksi bahan baku, perlakuan basa, perlakuan asam 1, pemucatan, perlakuan asam 2, ekstraksi, filtrasi, penjendalan, pengepresan, pengeringan dan penepungan. Pengujian karakteristik agar-agar dilakukan di laboratorium milik PT. Java Biocolloid, meliputi uji kadar air, kadar abu, viskositas, gelling point, dan pH. Data dianalisis dengan ANOVA dengan taraf signifikansi 95%, dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Penelitan menunjukkan bahwa, agar-agar terbaik diperoleh dari Serang dengan viskositas 7,67 cP; gelling point 34,17oC; pH 7, 7; kadar air 20,15% dan kadar abu 4,35%. Nilai tersebut memenuhi standar PT. Java Biocolloid. Terdapat perbedaan yang nyata pada viskositas, gelling point, kadar air dan kadar abu pada ketiga lokasi, sedangkan pH tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Uji Tukey menunjukkan bahwa viskositas dan gelling point agar-agar dari Serang berbeda dengan viskositas dan gelling point agar-agar dari Brebes dan Pasuruan. Kadar air agar-agar dari Serang dan Brebes berbeda dengan agar-agar dari Pasuruan. Kadar abu berbeda pada ketiga lokasi.ABSTRACTSome techniques have been done to produced good quality of agars such as modifying handling and processing steps. In fact, quality of raw material was the main problem. Several studies on the quality of seaweed have been carried out. However, identification of the quality of agars produced from Gracilaria verrucosa in relation to the location has not been done. Thus, this research is expected to shown the best location (Serang, Brebes, and Pasuruan) in terms of the agars quality. Research was carried out by observation and laboratory experiments. Agars was produced based on PT. Java Biocolloid methode, include raw material selection, alkaline treatment, acid treatment, bleaching, extraction, filtration, densification, pressing, drying, and flouring. Physicochemical characteristics was tested at the PT. Java Biocolloid laboratory, include water content, ash content, viscosity, gelling point and acidity. Data were analyzed by one way ANOVA (95% of significance level), followed by Tukey. Result shown that the best quality of agars is from Serang which 7.67 cP of viscosity; 34.17oC of gelling point; 7.7 of pH; 20.15% of water content; and 4.35% of ash. These compositions meets the PT. Java Biocolloid requirements. Statistic analysis show the differencies on viscosity, gelling point, water content, ash of agars at three locations, while location did not have effect on pH. Furthermore, viscosity and gelling point of agars from Serang were different from Brebes and Pasuruan. While water content of agars at Serang and Brebes is different from agars at Pasuruan. Ash content was different at all locations.
Perbedaan Perlakuan Pengeringan Rumput Laut (Gracilaria sp.) Terhadap Kualitas Tepung Agar Irawan, Irman; Sulfandi, Mohammad Arif; Diachanty, Seftylia; Zuraida, Ita; Pamungkas, Bagus Fajar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578//jpbkp.v19i2.1039

Abstract

Gracilaria sp merupakan jenis rumput laut penghasil agar-agar. Gracilaria sp memiliki  kandungan agarosa dan agaropektin yang sangat bagus sehingga dapat menghasilkan agar-agar dengan kekuatan gel yang kuat dan kokoh. Sistem pengeringan yang tepat akan menghasilkan kualitas rumput laut yang baik dengan nilai jual yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia tepung agar yang dihasilkan dari perbedaan perlakuan pengeringan rumput laut Gracilaria sp dan perlakuan metode pengeringan rumput laut Gracilaria sp terbaik berdasarkan kualitas tepung agar. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan pengeringan secara langsung di bawah sinar matahari tanpa dan setelah perendaman air tawar, pengeringan sistem sauna tanpa dan setelah perendaman air tawar. Parameter yang diuji pada penelitian ini yaitu rendemen, proksimat (kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat), kadar serat kasar, viskositas, dan kekuatan gel.. Hasil uji karakteristik secara fisikokimia pada perbedaan pengeringan, kualitas tepung agar yang dihasilkan masih memenuhi standar SNI. Metode P1 (pengeringan secara langsung di bawah sinar matahari) adalah yang terbaik untuk kualitas tepung agar yang dihasilkan. Nilai P1 Rendemen (28,33%), kadar air (3,70%), , uji serat kasar (2,79%), viskositas (65,00 cP) dan kekuatan gel (304,44 g/cm2). ABSTRACTGracilaria sp is a type of seaweed that produces agar. Gracilaria sp contains very good agarose and agaropectin so it can produce agar with strong and sturdy gel strength. The right drying system will produce good quality seaweed with high selling value. This research aims to determine the physicochemical characteristics of agar flour produced from differences in the drying treatment of Gracilaria sp seaweed and the best drying method for Gracilaria sp seaweed based on the quality of the agar flour. This study used a completely randomized design (CRD) with direct drying treatment under sunlight without and after fresh water immersion, a sauna drying system without and after fresh water immersion. The parameters tested in this study were yield, proximate (water, ash, fat, protein, carbohydrate content), crude fiber content, viscosity and gel strength. The results of physicochemical characteristic tests on differences in drying, the quality of the agar flour produced still meets SNI standards. Method P1 (drying directly in the sun) is the best for the quality of the agar powder produced. P1 yield value (28.33%), water content (3.70%), crude fiber test (2.79%), viscosity (65.00 cP) and gel strength (304.44 g/cm2).
Pengaruh Penggilingan Menggunakan Planetary Ball Mill terhadap Struktur Morfologi, Kandungan Proksimat dan Foaming Properties Spirulina Bubuk Kumayanjati, Bayu; Nugraheni, Prihati Sih; Budhiyanti, Siti Ari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i2.999

Abstract

Ball milling biasa digunakan untuk memodifikasi ukuran partikel suatu bahan untuk meningkatkan sifat fungsional bahan tersebut. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggilingan menggunakan planetary ball mill terhadap karakteristik spirulina bubuk terutama pada struktur morfologi, proksimat, dan foaming properties. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan faktorial dengan dua faktor. Penggilingan dilakukan dengan variasi kecepatan yang berbeda (650, 550, 450 rpm) dan durasi penggilingan yang berbeda (20 30 menit). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap ukuran partikel, warna, kadar abu, protein, lemak, dan foaming capacity (p0,05), tetapi terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar air (p0,05). Spirulina bubuk yang dihasilkan dari penelitian ini memiliki rentang ukuran antara 11,929±0,051-12,323±0,016µm, Hasil pengukuran warna diperoleh nilai L berkisar antara 51,12±1,22-53,76±0,23. Hasil analisis proksimat spirulina bubuk meliputi kadar air berkisar antara 3,84±0,05-5,26±0,11%; kadar abu berkisar 6,11±0,08-6,21±0,07%; protein berkisar 47,06±0.72-48,61±0.75%; dan lemak berkisar 1,018±0,27-1,762±0,31%. Hasil analisis foaming properties yang meliputi foaming capacity (FC) berkisar 146,00±11,78-153,33±2,49% dan foaming stability (FS) setelah 90 menit berkisar 88,68±1,34-97,24±2,66%. Perlakuan durasi penggilingan yang lebih lama menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap FS setelah 60 dan 90 menit pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggilingan dengan kecepatan 450 penggilingan dinilai sudah cukup baik untuk menghasilkan spirulina bubuk dengan partikel yang halus, kandungan proksimat yang tetap stabil dan kemampuan foaming yang baik.ABSTRACTBall milling is commonly used to modify the particle size of a material to improve the functional properties of the material. The objective of this study was to determine the effect of milling using a planetary ball mill on the characteristics of spirulina powder especially on morphological structure, proximate, and foaming properties. The experimental design used was a factorial design with two factors; milling speeds (650, 550, 450 rpm) and milling durations (20 30 minutes). The results of the statistical analysis indicated that only moisture content exhibited a significant difference (p0.05), with the other particle size, colour, ash content, protein, fat, and foaming properties showing no significant difference (p0.05). The superfine particle size ranged from 11.929±0.051 µm to 12.323±0.016 µm. L values ranging from 51.12±1.22 to 53.76±0.23 were found for colour measurements. Moisture content ranged from 3.84 ± 0.05-5.26 ± 0.11%; ash content from 6.11±0.08-6.21±0.07%; protein from 47.06±0.72-48.61 ±0.75%; and fat content from 1.018±0.27-1.762±0.31%. The results of foaming properties analysis including foaming capacity (FC) ranged from 146.00±11.78-153.33±2.49% and foaming stability (FS) after 90 minutes ranged from 88.68±1.34-97.24±2.66%. The longer milling duration showed significant differences in FS after 60 and 90 minutes of observation. The results showed that milling at 450 mill speed was considered good enough to produce spirulina powder with fine particles, stable proximate content and good foaming ability.
Analisis Dosis efektif cemaran 210Po pada Krustasea dan Moluska di Lamongan dan Sukabumi Hombing, Angelina Br; Deswita, Elvira; Makmur, Murdahayu; Istanto, Istanto; Putra, Deddy Irawan Permana; Prihatiningsih, Wahyu Retno; Refinel, Refinel; Priasetyono, Yogi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i2.1005

Abstract

Penelitian ini menghitung 210Po pada beberapa spesies filum krustasea dan filum moluska secara purposive sampling di Lamongan dan Sukabumi. Aktivitas 210Po dari tujuh sampel yaitu 3 sampel krustasea asal Sukabumi dan 4 sampel moluska asal Lamongan di analisis menggunakan Spektrometer Alfa energi 5,305 MeV selama 48 jam. Dari hasil analisis, didapatkan aktivitas 210Po tertinggi pada Krustasea sekitar pada Udang kipas (23,28±3,33 Bq/Kg) dan terendah pada rajungan Rajungan (1,46 ± 0,34 Bq/Kg). Aktivitas 210Po tertinggi pada Moluska terdapat pada Cumi-cumi (25,71±3,66 Bq/Kg) dan terendah yaitu Kerang hijau (6,00±1,00 Bq/Kg). Dosis efektif tahunan tertinggi dari Lamongan pada bayi dengan konsumsi udang kipas (34,22 μSv/tahun), pada anak-anak (10,11 μSv/tahun) dan dewasa (4,67 μSv/tahun). Dosis efektif tahunan tertinggi dari Sukabumi pada bayi dengan konsumsi cumi-cumi (19,27 μSv/tahun), pada anak-anak (5,69 μSv/tahun) dan dewasa (2,63 μSv/tahun). Dosis efektif tahunan ini jauh lebih rendah dari kisaran dosis yang ditetapkan The United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR), menandakan bahwa Indonesia aman dari unsur radioaktif 210Po. Dosis konsumsi efektif tahunan sangat bergantung pada asupan makanan laut tahunan melalui makanan ditambah dengan kebiasaan masyarakat yang selalu memasak sebelum mengkonsumsi makanan laut. Fakta ini harus dipertimbangkan ketika membandingkan dosis efektif tahunan antar wilayah atau negara serta dalam melakukan perhitungan cemaran 210Po pada beberapa spesies di filum krustasea dan moluska yang di distribusikan dan dikonsumsi.ABSTRACTThis study calculated 210Po in several species of crustacean and mollusc by purposive sampling in Lamongan and Sukabumi. The 210Po activity of seven samples, as filum 3 crustacean samples from Sukabumi and 4 mollusc samples from Lamongan, was analyzed using an alpha spectrometer with an energy of 5.305 MeV for 48 hours. The highest 210Po activity was found in Crustacea in Fan shrimp (23.28 ± 3.33 Bq/Kg) and the lowest in Crab Crab (1.46±0.34 Bq/Kg). The highest 210Po activity in Molluscs was found in Squid (25.71±3.66 Bq / Kg) and the lowest was in Green mussel (6.00±1.00 Bq/Kg). The highest annual effective dose from Lamongan in infants with fan shrimp consumption (34.22 μSv/year), in children (10.11 μSv/year) and adults (4.67 μSv/year). The highest annual effective dose from Sukabumi in infants with squid consumption (19.27 μSvyear), in children (5.69 μSv/year) and adults (2.63 μSv/year). This annual effective dose is much lower than the dose range set by The United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR), indicating that Indonesia is safe from the radioactive element 210Po. The annual effective consumption dose depends on seafood intake through food plus the community’s habit of always cooking before consuming seafood. This fact must be considered when comparing the annual effective dose between regions or countries and in calculating 210Po contamination in several species of crustaceans and molluscs that are distributed and consumed.
Formulasi dan Karakteristik Fisik, Kimia, Organoleptik Masker Gel Peel Off Sargassum sp. Sipahutar, Yuliati Hotmauli; Maulani, S.T.P., M.P., Aghitia; Aminnuloh, Faisal
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i2.1013

Abstract

Terdapat tiga jenis rumput laut yang ada di Indonesia yakni rumput laut cokelat, rumput laut merah, dan rumput laut hijau. Tujuan penelitian ini membuat masker dalam bentuk gel peel off dengan penambahan rumput laut Sargassum sp. dalam bentuk bubur rumput laut pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15% dan mengidentifikasi mutu bahan baku dan bubur rumput laut, serta mutu masker gel peel off. Alur proses pembuatan bubur rumput laut terdiri dari pencucian, penirisan, perendaman dan pencampuran Sargassum sp. dengan akuades, dan penghalusan. Alur proses pembuatan masker gel peel off terdiri dari persiapan bahan baku, penimbangan, homogenisasi PVA, homogenisasi HPMC, pendinginan, homogenisasi propilen glikol dan pengawet (metil paraben dan propil paraben), dan penambahan bubur rumput laut. Hasil pengujian mutu organoleptik rumput laut basah diperoleh nilai 7, kadar air 88,76±1,21%, kadar abu 3,33±0,32%. Hasil pengujian mutu bubur rumput laut diperoleh kadar air 92,46±0,33%, kadar abu 2,96±0,07%, nilai pH 6,42±0,15. Masker gel peel off Sargassum sp. pada konsentrasi 5% memiliki nilai hedonik paling tinggi pada parameter tekstur dan aroma serta tidak berbeda nyata dengan kontrol pada parameter kenampakan dan warna. Masker gel peel off Sargassum sp. menghasilkan viskositas sediaan gel sebesar 57629- 74410 cP, pH sebesar 5,54-6,32 dan waktu mengering selama 16,47-17,80 menit, serta nilai Angka Lempeng Total (ALT) sesuai dengan SNI di bawah 105 koloni/gram. ABSTRACTThere are three types of seaweed in Indonesia, namely green algae, brown algae and red algae. This research aimed to make a peel off gel mask with the addition of Sargassum sp. seaweed in the form of seaweed pulp at concentrations 5%, 10%, 15% and identify the quality of raw materials and seaweed pulp, as well as the quality of the peel off gel mask. The process flow for making seaweed pulp consisted of washing, draining, soaking in distilled water, mixing Sargassum sp. with distilled water, and grinding. The process flow for making a peel-off gel mask consisted of preparing raw materials, weighing, homogenizing PVA, homogenizing HPMC, cooling, homogenizing propylene glycol and preservatives (methyl paraben and propyl paraben), and adding seaweed pulp. The results of organoleptic of wet seaweed obtained 7, moisture content 88.76±1.21%, ash content 3.33±0.32%. The results of quality of seaweed pulp water content was 92.46±0.33%, the ash content was 2.96±0.07%, the pH value was 6.42±0.15. Peel off gel mask with Sargassum sp. at concentration 5% had the highest hedonic value for texture and aroma parameters and was not significantly different from the control for appearance and color parameters. Peel off gel mask with Sargassum sp. produces good gel viscosity, pH and drying time, as well as appropriate Total Plate Count (TPC).
Evaluasi Mutu dan Keamanan Pangan Tuna (Thunnus Albacares) di Perairan Maluku Utara, Indonesia Achmad, M Djanib; Ramli, Husnul Khatimah; Aprianti, Eka; Abdurrahman, Nurindrasari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i2.1046

Abstract

Laut Maluku merupakan salah satu daerah tangkapan ikan tuna dengan produksi yang cukup tinggi, terutama di perairan Maluku Utara. Zona operasi penangkapan ikan tuna di Maluku Utara berada di perairan pulau Bacan, Tidore, Ternate, Obi, Sanana, dan Morotai. Isu pencemaran perairan yang berimplikasi terhadap perikanan karena beberapa jenis polutan bersifat persisten, akumulatif dan tidak dapat diuraikan, hal ini sejalan dengan isu keamanan pangan yang terjadi di Indonesia. Ikan tuna dapat menyebabkan permasalahan kesehatan pada manusia karena terjadinya kontaminasi mikroba dan kontaminasi kimia pada saat proses penangkapan, penanganan maupun pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas dan keamanan ikan Thunnus albacares dengan beberapa parameter uji yaitu Organoleptik, Angka Lempeng Total (ALT), uji Histamin dan Merkuri. Sample dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan dengan lokasi fishing ground di sekitar perairan Sanana, perairan Fala, Tobelo, Ternate, Pulau Obi dan Morotai. Evaluasi organoleptik dilakukan untuk melihat kondisi ikan keseluruhan (mata, insang, lendir, daging, bau, dan tekstur), kondisi ikan dalam keadaan segar dengan nilai rata-rata 7. Nilai ALT menunjukkan rata-rata 5x103 cfu/g, kandungan histamin 2,4 ppm dan akumulasi logam berat pada daging Thunnus albacares berada di bawah batas legal yaitu 1 ppm. Tidak ditemukan nilai uji diatas ambang batas legal. Thunnus albacares yang ditangkap di perairan Maluku Utara, Indonesia berkualitas baik dan aman untuk dikonsumsi.ABSTRACTMaluku Sea is one of the tuna fishing areas with quite high production, especially in the waters of North Maluku. The tuna fishing operation zone in North Maluku is in the waters of Bacan, Tidore, Ternate, Obi, Sanana, Morotai and Ambon islands. The issue of water pollution which has implications for fisheries is increasingly receiving world attention because several types of pollutants are persistent, accumulative and cannot be described, this is in line with the food safety issue that occurs in Indonesia. Tuna fish can cause health problems due to microbial contamination and chemical contamination during the catching, handling and processing processes. This study aims to evaluate the quality and safety of Thunnus albacares fish using several test parameters, namely Organoleptic, Total Plate Number (ALT), Histamine and Mercury tests. Samples were collected from fishermen’s catches at fishing ground locations around Sanana waters, Fala waters, Tobelo, Ternate, Obi Island and Morotai. Organoleptic evaluation was carried out to see the overall condition of the fish (eyes, gills, mucus, flesh, smell and texture), the condition of the fish was fresh with an average value of 7. The ALT value showed an average of 5x103 CFU/g, the histamine content was 2.4 ppm/g, and the accumulation of heavy metals in Thunnus albacares meat was below the legal limit, namely 1 ppm/g. No test values were found above the legal threshold. Thunnus albacares caught in the waters of North Maluku, Indonesia are of good quality and safe for consumption.Keyword: food safety, histamine, heavy metal
Aktivitas Antioksidan Kapang Endofit asal Rumput Laut Caulerpa lentilifera Septiana, Eris; Hardhiyuna, Mutia; Untari, Febriana; Bustanussalam, Bustanussalam; Rahmawati, Siti Irma
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v20i1.1040

Abstract

Aktivitas antioksidan dari ekstrak rumput laut telah banyak dilaporkan. Namun, belum banyak peneliti yang melaporkan aktivitas antioksidan dari kapang endofit asal rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi kapang endofit dari rumput laut C. lentilifera, mengevaluasi aktivitas antioksidan, serta profil senyawa kimia ekstrak terpilih. Isolasi kapang endofit dilakukan dengan metode sterilisasi permukaan dan ditanam pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Uji antioksidan menggunakan metode 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH), 2,2’-azino-bis (3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS), dan ferric reducing antioxidant power (FRAP). Penentuan kadar fenolik dan flavonoid total masing-masing berdasarkan pada reaksi reagen Follin-Ciocalteu dan aluminium klorida. Ekstrak dengan aktivitas antioksidan terbaik dilakukan profiling senyawa kimianya menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM). Hasil isolasi didapatkan lima isolat kapang endofit yaitu Cl.Tka.S1, Cl.Tka.S2, Cl.Tka.S3, Cl.Tka.R1, dan Cl.Tka.R2. Ekstrak kapang endofit Cl.Tka.S3 memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 17,65 ± 1,88 dan 37,07 ± 2,16 mg/L pada metode ABTS dan DPPH,serta uji FRAP dengan kadar setara Fe(II) sebesar 1654,15 ± 32,95 µmol/mg ekstrak. Kadar fenolik total tertinggi didapatkan dari ekstrak kapang endofit Cl.Tka.S1 sebesar 75,05 ± 8,46 mg setara asam galat/g ekstrak. Kadar flavonoid total tertinggi didapatkan dari ekstrak kapang endofit Cl.Tka.S3 sebesar 38,50 ± 1,55 mg setara kuersetin/g ekstrak. Profiling senyawa kimia menunjukkan ekstrak isolat Cl.Tka.3 sebagai isolat terbaik mengandung senyawa antioksidan berupa senyawa golongan fenolik, asam lemak, alkana, dan alkohol. KATA KUNCI: ABSTRACTThe antioxidant activity of seaweed extracts has been widely reported. However, reports on the antioxidant activity of endophytic fungi derived from seaweed are still limited. This study aims to isolate endophytic fungi from C. lentilifera, determine antioxidant activity and chemical profiles of selected extracts. Endophytic fungi were isolated by the surface sterilization method and planted on Potato Dextrose Agar (PDA) media. Antioxidant test using 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH), 2,2’-azino-bis (3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS), dan ferric reducing antioxidant power (FRAP) methods. Total phenolic and flavonoid content was based on the reaction of Follin-Ciocalteu reagent and aluminium chloride, respectively. Extracts with the best antioxidant activity were profiled for their chemical compounds using Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS). The isolation results obtained five isolates of endophytic fungi, namely Cl.Tka.S1, Cl.Tka.S2, Cl.Tka.S3, Cl.Tka.R1, and Cl.Tka.R2. Cl.Tka.S3 extract had the highest activities with an IC50 value of 17.65 ± 1.88 and 37.07 ± 2.16 mg/L on the ABTS and DPPH methods, as well as FRAP test values with Fe(II) equivalent levels of 1654.15 ± 32.95 µmol/mg extract. Cl.Tka.S1 extract has the highest total phenolic content of 75.05 ± 8.46 mg gallic acid equivalent/g extract. Cl.Tka.S3 extract has the highest total flavonoid content of 38.50 ± 1.55 mg quercetin equivalent/g extract. Profiling of chemical compounds showed that the Cl.Tka.S3, as the best extract, contained antioxidant compounds such as phenolic compounds, fatty acids, alkane, and alcohol.
Karakteristik Kimia Dan Organoleptik Produk Pabudu Telur Ikan Belanak (Crenemugil seheli) Di Kecamatan Pahunga Lodu Henggu, Krisman Umbu; Ndilu, Andreas Kahora
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v20i1.1045

Abstract

Pengolahan ikan belanak masyarakat pesisir Kecamatan Pahunga Lodu hanya memanfaatkan daging untuk dijadikan produk olahan. Sedangkan, bagian lain misalnya telur diolah menjadi pabudu. Pabudu merupakan jenis olahan produk perikanan tradisional yang melibatkan proses penggaraman, fermentasi dan pengasapan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kimia seperti proksimat, asam lemak dan asam amino pabudu. Penelitian ini diawali dengan mengumpulkan informasi pembuatan pabudu dengan wawancara mendalam terhadap masyarakat pesisir Kecamatan Pahunga Lodu. Tahap selanjutnya ialah pembuatan pabudu (penggaraman, fermentasi, pengasapan). Pabudu yang dihasilkan lalu dianalisis proksimat, asam lemak dan asam amino. Hasil penelitian menunjukkan kandungan proksimat pabudu yakni kadar air 39,39%, abu 12,52%, lemak 13,37%, protein 27,52%, dan karbohidrat 7,20%. Selain itu, pabudu juga teridentifikasi 30 jenis asam lemak yang terbagi atas 2 kelompok utama yakni asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) dengan persentase mencapai 5,64% dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid) 4,34%. Sedangkan monounsaturated fatty acid (MUFA) mencapai 1,89% dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) sebesar 2,44%. Produk terlur ikan pabudu mengandung 15 jenis asam amino yang terdiri dari asam amino esensial 10,25% dan asam amino non esensial mencapai 10,52%. Karakteristik organoleptik produk telur ikan pabudu yakni berkisar pada kategori “suka” hingga “sangat suka”. Adapun rerata skor pada masing-masing varibel organoleptik yakni warna telur ikan pabudu memiliki skor (nilai sensori) mencapai 6,13 (sangat suka), aroma 5,06 (suka), rasa 5,87 (suka), dan tekstur 6,27 (sangat suka).ABSTRACTThe coastal communities of Pahunga Lodu District, mullet fish processing primarily utilizes the meat for creating value-added products. Conversely, other parts, such as the eggs, are transformed into ‘pabudu,’ a traditional fishery product derived through age-old methods of salting, fermenting, and smoking. The objective of this study is to examine the chemical properties of pabudu, including its proximate composition, fatty acids, and amino acids. The research commenced with gathering insights on pabudu production through comprehensive interviews with the local coastal populace. Subsequent to information collection, the production of pabudu ensued, encompassing salting, fermentation, and smoking phases. Analyses conducted on the finished pabudu revealed a proximate composition of 39.39% water, 12.52% ash, 13.37% fat, 27.52% protein, and 7.20% carbohydrates. Additionally, the study identified 30 fatty acids in pabudu, categorized into two primary groups: saturated fatty acids (SFAs) at 5.64% and unsaturated fatty acids at 4.34%. Within these, monounsaturated fatty acids (MUFAs) constituted 1.89%, and polyunsaturated fatty acids (PUFAs) 2.44%. The pabudu fish egg product encompasses 15 amino acids, with essential amino acids making up 10.25% and non-essential amino acids 10.52%. Organoleptic evaluation of pabudu fish eggs ranged from ‘like’ to ‘very like’ categories. The average scores for the organoleptic attributes were as follows: color received a sensory value of 6.13 (liked very much), aroma 5.06 (liked), taste 5.87 (liked), and texture 6.27 (really liked)
Karakteristik Fisikokimia, Sensoris, Dan Mikrobiologis “Crisweed” Snack Olahan Rumput Laut Eucheuma cottonii Sumartini, Sumartini; Siregar, Fikri Al Khair; Dewi, Resti Nurmala; Maulani, Aghitia
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i2.1113

Abstract

“Crisweed” merupakan snack olahan rumput laut non MSG dengan komposisi kentang, rumput laut, dan nori dimana kombinasi bahan bahan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai nutrisinya terutama kandungan serat dan vitamin yang bersumber dari rumput laut. Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi terbaik pada rasio penambahan rumput laut pada snack dengan memfokuskan pada mutu tekstur dan kerenyahan produk. Parameter uji untuk seaweed snack dilakukan melalui uji hedonik terhadap rasa, aroma, tekstur dan kenampakan serta analisis kimia yang meliputi kadar air, abu, lemak, protein dan serat kasar. Uji parameter tekstur meliputi hardness, adhesiveness, cohesiveness, dan elasticity. Hasil uji hedonik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada atribut rasa, aroma, tekstur dan kenampakan. Nilai kadar air produk berada pada kisaran 3,67-7,49%, protein 7,54-12,23%, lemak 15,60-18,82%, abu 1,74-5,26% dan serat 15,78-16,71%. Berdasarkan uji pembobotan De Garmo terhadap semua parameter uji, ditemukan produk “Crisweed” perlakuan terbaik adalah pada formulasi 3 dengan nilai efektivitas 0,88.ABSTRACT“Crisweed” is a non-MSG seaweed snack with a composition of potatoes, seaweed, and nori where the combination of these ingredients is expected to increase its nutritional value, especially the fiber and vitamin content sourced from seaweed. This study aims to determine the best formulation of the ratio of seaweed addition to snacks by focusing on the quality of texture and crispiness of the product. Test parameters for seaweed snacks were carried out through hedonic tests on taste, aroma, texture and appearance as well as chemical analysis including water content, ash, fat, protein and crude fiber. As well as texture parameter tests including hardness, adhesiveness, cohesiveness, and elasticity. The results of the hedonic test showed significant differences in the attributes of taste, aroma, texture and appearance. The water content of the product was in the range of 3.67-7.49%, protein 7.54-12.23%, fat 15.60-18.82%, ash 1.74-5.26% and fiber 15.78-16.71%. Based on the De Garmo test on all test parameters, it was found that the best treatment for the “Crisweed” product was formulation 3 with an effectiveness value of 0.88.
Pencemaran Lingkungan dan Bioakumulasi Timbal (Pb) pada Perna viridis L. di Pantai Teluk Penyu, Cilacap Salsabilla, Nadia Amanda; Hartoyo, Hartoyo; Haryati, Ani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Teluk Penyu sebagai destinasi wisata di Kabupaten Cilacap yang berdekatan dengan kawasan industri pengilangan minyak, menghadapi risiko peningkatan akumulasi limbah berbahaya, termasuk logam berat Pb yang dapat mencemari perairan pantai. Selain tumpahan minyak, air ballast dari aktivitas kapal di perairan Teluk Penyu dapat menyumbangkan Pb ke perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cemaran logam berat Pb di lingkungan dan bioakumulasi kerang hijau (Perna viridis) di Pantai Teluk Penyu, dengan menggunakan alat Flame Atomic Absorption Spectometry (FAAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb air yaitu 0,007-0,009 mg/L, sementara kandungan Pb sedimen berkisar antara 12,44–29,95 mg/kg. Analisis statistika menunjukkan Pb air memiliki hubungan negatif yang cukup kuat dengan pH air, sedangkan Pb sedimen berhubungan kuat dengan liat. Perhitungan Indeks Pencemaran (PI) pada kolom air menunjukkan bahwa perairan Teluk Penyu dikategorikan tidak tercemar (PI≤1) hingga tercemar ringan (1PI≤2) dengan nilai PI rata-rata 1,00 dan pengukuran Indeks geoakumulasi (I-geo) ratarata memiliki nilai -0,57 yang menunjukkan bahwa sedimen perairan Teluk Penyu tidak mengalami pencemaran (I-geo1). Sementara itu, kandungan logam berat Pb pada kerang hijau adalah 0,20–0,54 mg/kg dan tergolong pada akumulator rendah (BCF100). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kerang hijau di Pantai Teluk Penyu masih tergolong aman untuk dikonsumsi sebagai produk pangan perikanan.AbstractTeluk Penyu Beach, as a touristm site in Cilacap Regency adjacent to the oil refining industrial area, faces the risk of increasing accumulation of hazardous waste, including heavy metal Pb, which can pollute coastal waters. In addition to oil spills, ballast water from maritime activities in the area may contribute to Pb contamination in coastal waters. This study aimed to analyze the content of heavy metal Pb in the aquatic environment and green mussels (Perna viridis) at Teluk Penyu Beach, using Atomic Absorption Spectrometry (AAS). The results showed that the concentration of heavy metal Pb in water was of 0,007-0,009 mg/L, while sediment Pb levels varied between 12,44–29,95 mg/kg. Statistical analysis showed a moderately strong negative correlation between Pb in water and pH (ρ = –0,717), and a strong positive correlation between Pb in sediment and clay (ρ = –0,833). Pollution Index (PI) for the water column indicated unpollution (average PI=1,00; PI≤1), and the Geoaccumulation Index (I-geo) average -0,57; signiflying an unpolluted sedimen status (I-geo1). Pb concentration in green mussels was 0,20–0,54 mg/kg and was categorized as a low accumulator. The results showed that green mussels on Teluk Penyu Beach are still considered safe for consumtionas fishery food products.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue