cover
Contact Name
Marselius Sampe Tondok
Contact Email
marcelius@staff.ubaya.ac.id
Phone
+622178881112
Journal Mail Official
psikologi@gunadarma.ac.id
Editorial Address
Jl. Margonda Raya, No.100, Depok, Jawa Barat. 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi
Published by Universitas Gunadarma
Jurnal Psikologi (JPUG) accepts manuscripts based on empirical research, both quantitative and qualitative. Priority is given to quantitative research of the multivariate type. Meanwhile, the Jurnal Psikologi also accepts meta-analysis or systematic review manuscripts that have advantages in terms of novelty or unique variables.
Articles 425 Documents
THE ROLE OF SPIRITUAL INTELLIGENCE FOR LEADERSHIP COMPETENCY IN GOVERNMENT COMPANY Arie Arumwardhani
Jurnal Psikologi Vol 11, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every organization has its goal to gain effectiveness. On the other side, without any supportsfrom competence leader, the goal will not be gained. The raise of leader’s competence should besupported by good knowledge, good skill and tha charisma to achieve something. In theglobalization era, Indonesia must prepare everything especially in human resource aspects tocompete with other countries. The aim of this study is to know how far the role of spiritualintelligence to leadership competency to fulfill the organization vision and mission in PT. JasaMarga (Persero). The participants of this study is 75 employees in different educationalbackground from diplome to doctor. From each independent and dependent variable, the studydevelops some supporting component such as spiritual inteligence and leadership competency.The result shows that spiritual intelligence has negative role to leadership competency. Theother results are personality has an effect to technical and humanism skills, and the leadershipability has an effect to conceptual skill.Key words: leadership competency, spiritual intelligence
KEBOSANAN KERJA PADA KARYAWAN PABRIK UNIT PELEBURAN Yudit Oktaria Kristiani Pardede
Jurnal Psikologi Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBanyaknya permasalahan yang muncul dalam dunia kerja, merupakan suatu tantangan bagipara pihak yang terkait. Salah satunya adalah orang yang berkecimpung di bidang psikologi,khususnya psikologi industri dan organisasi. Salah satu permasalahan yang dapat timbuladalah masalah kebosanan dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaahkebosanan pada karyawan pabrik unit peleburan. Digunakan pendekatan studi kasuskelompok, dan sampel penelitian ini adalah kelompok, yaitu karyawan pabrik peleburan,yang terdiri dari 2 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara danobservasi. Hasil menunjukkan bahwa terdapat kebosanan kerja pada karyawan pabrikpeleburan. Hal ini dapat dilihat dari aspek kebosanan kerja yang muncul, yakni hilangnyaminat dan semangat kerja, cenderung bercakap – cakap, dan cepat marah. Hal tersebutdiakibatkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi kebosanan kerja karyawan, yakni tidakcocok dengan pekerjaannya, pekerjaan tidak menarik atau tidak menantang, tidak memilikiotonomi, kemungkinan promosi yang kecil, lingkungan kerja yang tidak menyenangkan,pekerjaan yang monoton, kurang perhatian atas kesejahteraan karyawan, kurangnya umpanbalik dan imbalan karyawan, serta kurangnya motivasi dalam diri karyawan.AbstractNumber of problems that arise in the working area, is a challenge for all parties concerned. One ofparties is people who are in the field of psychology, particularly industrial and organizationalpsychology. Among the problems is work boredom. The purpose of this study is to examine workboredom of factory employees. Group case study approach was used, and samples of this study is thegroup which consists of two people. Data was collected by interview and observation. Results showedthat there was work boredom. It is shown from the aspect of the emerge of work boredom, ie loss ofinterest and morale, tend to talk, and quick-tempered. This is due to several factors that affectemployee boredom, such as incompatible with the job, the job is not interesting or challenging, do nothave autonomy, the possibility of a small campaign, an unpleasant working environment, monotonousjobs, less concern for the welfare of employees, lack of feedback and employee benefits, and lack ofmotivation in employees.
SELF-CONCEPT ON TEENAGE STREET CHILDREN Yudit Oktaria Kristiani Pardede
Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Street children phenomenon has grown old, but at this time into the world's attention, along with the increasing number of street children in many big cities in the world. This study aims to examine how the concept description Up the Streets Age Child and Adolescent why the concept of self can be created. The concept itself is a picture and descriptive evaluative individuals about themselves, or research on self-assessment, or how someone looked himself. According to Baldwin & Holmes (in Calhoun & Acocella 1995), the concept of self-forming factors is teenage parents, his contemporary, the community, and learning. The sample in this research is a street children who have dropped out of contact with their families, and participate fully in the streets, either social or economic. According to Patton (Poerwandari in 1998) a qualitative research could examine in depth the case of single (n = 1) is selected purposively. Based on the opinion, the research in this subject was one person. Techniques of data gathering is done by observation and interviews. According Poerwandari (1998), the interview is a discussion that focused on achieving a particular purpose. In this study, researcher uses non-participant observation method. According to Hadi (1986), observer does not perform consecutive observations at least in part the behavior of people - people who observed. From the results of the analysis of data, it is known that in general, the concept of self that the self is the subject of a negative self-concept. It can be seen from some of the subjects themselves who most look himself in the negative side. And it also can also be caused by several factors that shape self-concept to the negative direction, such as parents, friends of the, and the community.Key words: self-concept, street children
STRES DAN PERILAKU MAKAN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER DI UNIVERSITAS NEGERI X Ratri Ciptaningtyas
Jurnal Psikologi Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan gaya hidup mahasiswa dapat menyebabkan stres seperti kurang tidur danberolahraga. Stres ringan memang tidak berdampak sistemik namun bila stres berkelanjutanakan terjadi perubahan hematologi. Beberapa penelitian internasional menunjukkan mahasiswayang stres makan dengan porsi yang lebih banyak serta mengkonsumsi makanan yang tidaksehat. Apabila perilaku makan ini tidak dikontrol maka dapat meningkatkan risiko penyakit.Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan metode pengambilan purposive samplingyaitu seluruh mahasiswa program studi pendidikan dokter Universitas Negeri X yang masih aktifmengikuti perkuliahan. Stres dinilai dengan menggunakan General Health Questionnaire(GHQ), hasilnya ditemukan prevalensi stres pada responden angkatan 2009 merupakan yangtertinggi (53.3%) dibandingkan angkatan 2008 maupun 2010. Analisis hasil penelitianmenunjukkan stres berhubungan dengan diet ketat (p<0.05) dengan rata-rata konsumsi energilaki-laki sebesar 2108.15 kkal masih kurang dari rekomendasi angka kecukupan gizi (AKG) yaitu2550 kkal.Kata Kunci: Stres, Perilaku makan, Pendidikan dokter
HOMOPHOBIA AND US Wahyu Rahardjo
Jurnal Psikologi Vol 16, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Homophobia is an interesting topic to be discussed not only because of its universality but also its controversion. Homophobia grows among the condition of misunderstanding and prejudice from heterosexism hegemony. Homophobia is more impressive to be felt because the shallow understanding of religion. On the other hand, only few people who realize that human sexual attitudes and behaviors is constructed by the culture. Learning processes that supposed to be done by heterosexuals about how to see the existance of gay wisely would help to simplify the problems.Keywords: homophobia, heterosexism
KOHESIVITAS TIM PENDUKUNG SEPAKBOLA PERSIJA Bayu Wicaksono; Hendro Prabowo
Jurnal Psikologi Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepak bola adalah permainan yang sangat lekat dengan masyarakat Indonesia dan digemari oleh berbagai kalangan. Banyaknya tim sepak bola yang ada di setiap wilayah Indonesia menimbulkan antusias penduduk setiap wilayah untuk mendukung tim sepak bola dari wilayahnya sendiri. Hal ini pula yang melatar belakangi adanya tim pendukung sepak bola Persija, atau yang lebih dikenal dengan The Jakmania. Persija adalah tim sepak bola dari DKI Jakarta. Mengacu pada antusiasme pendukung sepak bola The Jakmania, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kohesivitas dan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas pada The Jakmania. Hasil penelitian menunjukkan adanya kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania. Kohesivitas terlihat dari aktifitas kelompok dalam komunitas, aktifitas kelompok kecil, proses pengambilan keputusan, identitas kelompok, kohesivitas kelompok di luar lapangan dan di lapangan.
NILAI MOTIVASIONAL PADA WIRAUSAHAWAN Muhammad Rudi Arifayusa; MM. Nilam Widyarini
Jurnal Psikologi Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, pilihan menjadi wirausahawan masih sangat diperlukan, namun tidaklah mudah menjadi wirausahawan. Untuk sukses diperlukan karakteristik mental yang tangguh. Di samping itu, nilai-nilai kehidupan juga penting. Berdasarkan pengenalan akan nilai-nilai yang dikukuhi individu ataupun kelompoknya dapat diketahui faktor-faktor positif apa yang ada dalam diri individu atau kelompok untuk dapat mendukung pengembangan perilaku kewirausahaan. Nilai-nilai tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai latar belakang individu, seperti etnis, jenis kelamin, usia dan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran nilai motivasional pada wirausahawan dengan latar belakang etnis, jenis kelamin, usia dan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan desktiptif-kuantitatif, yaitu menggambarkan sifat-sifat, keadaan dan gejala suatu individu atau kelompok tertentu berdasarkan data statistik diskriptif. Subjek penelitian ini adalah wirausahawan yang berdagang di wilayah Pusat Grosir Pasar Tanah Abang Jakarta. Alat ukur nilai-nilai motivasional yang digunakan merupakan adaptasi dan pengembangan dari Skala nilai-nilai motivasional dari Schwartz, berbentuk skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gambaran hierarki nilai motivasional pada subjek berturut-turut, dari yang tertinggi hingga yang paling rendah adalah conformity, achievement, security, benevolence dan universalism, dan hedonism. Penelitian ini juga mendiskripsikan nilai-nilai motivasional berdasarkan etnis, jenis kelamin, pendidikan, dan usia. Kata Kunci : Wirausahawan, Nilai Motivasional, Etnis 
TEMA-TEMA SUBKEPRIBADIAN DALAM PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL Hendro Prabowo
Jurnal Psikologi Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Rainwater (dalam Brown, 2000) subkepribadian mengorganisasikan dirinya di antara suatu kebutuhan di dalam jiwa (psyche). Menurut Rainwater kekuatan masing-masing menghasilkan keadaan yang merupakan kebutuhan awal yang muncul dan diyakini bahwa setiap orang adalah suatu campuran keberagaman dari subkepribadian individual. Rueffler (dalam Brown, 2000) memahami suatu subkepribadian menjadi suatu struktur dinamis adalah suatu yang saling berhubungan secara kompleks berkaitan dengan energi, pikiran, dan perilaku, pada suatu peristiwa tertentu, bergabung menjadi seperangkat pola yang berbeda. Suatu subkepribadian memiliki cirinya sendiri, kebutuhan untuk menjadi eksis dan pemenuhan kebutuhan dari kemauan, keinginan, dan kebutuhan pribadi. Jenis-jenis subkepribadian yang dapat eksis di dalam diri setiap orang dapat memiliki keragaman, yang dalam literatur Barat di antaranya adalah "inner child," "inner mother," "inner father," "biarawan," "korban," "mistik," "si penakut," dan lain-lain. Penelitian ini adalah hasil kajian empiris dalam mengidentifikasikan subkepribadian dalam sesi terapi. Beberapa jenis subkepribadian yang ditemukan ternyata berbeda dengan subkepribadian yang ada dalam literatur Barat.
KECERDASAN ADVERSITAS DITINJAU DARI PENGATASAN MASALAH BERBASIS PERMASALAHAN DAN EMOSI PADA ORANGTUA TUNGGAL WANITA Kenes Pranandari
Jurnal Psikologi Vol 1, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena orangtua tunggal bukan hanya terjadi di Indonesia sebagai negara berkembang, tetapi juga terjadi di berbagai negara maju. Bahkan di banyak negara maju dan industri, single parent merupakan gejala yang biasa. Karena kematian pasangan atau perceraian itu, individu menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga. Oleh karena itu ia harus menjalankan semua tugas yang dulu ia lakukan bersama pasangannya, seperti mengurus rumah dan memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Keadaan seperti ini menyebabkan orangtua tunggal dikenai banyak tuntutan (stresor) dalam kehidupan sehari-hari. Beban ini menjadi lebih berat bagi orangtua tunggal wanita karena di Indonesia sendiri, umumnya orang menganggap negatif status wanita sebagai orangtua tunggal. Untuk itu, diperlukan strategi untuk mengatasi situasi sulit tersebut, disamping itu, diperlukan juga ketangguhan tersendiri bagi orangtua tunggal wanita agar dapat melalui kesulitan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan adversity quotient ditinjau dari problem-focused coping dan emotion-focused coping pada orangtua tunggal wanita. Penelitian ini melibatkan 67 orangtua tunggal wanita. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji U Mann-Whitney diketahui bahwa nilai Z = -3,349 (p < 0.05). Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat Adversity Quotient yang signifikan antara orangtua tunggal wanita dengan strategi problem-focused coping dan orangtua tunggal wanita dengan strategi emotion-focused coping.
MOTIVASI PEREMPUAN BERKONTRASEPSI Inge Wattimena
Jurnal Psikologi Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan penggunaan kontrasepsi perempuan di Indonesia tidak terlepas dari kekuatanmotivasi untuk menggunakan. Tujuan studi ini adalah untuk meneliti secara kuantitatif perankasih pada keluarga dan kebersamaan antar perempuan pada motivasi. Hasilnyamenunjukkan bahwa kedua faktor berperan positif yang sangat signifikan pada motivasi,dengan peran kasih lebih besar daripada peran kebersamaan. Kasih kepada keluarga adalahhal yang menjadi fokus perempuan berkontrasepsi. Hasil ini dapat diaplikasikan padaPromosi Keluarga Berencana. AbstractThe success of female contraceptive use in Indonesia is connected with their motivation. Therelation of care to the family and conformity with motivation were quantitively studied. It wasshown that both factors were positively and significantly related, in which care was moreinfluencing than conformitity. The focus towards care to the family played an important rolein womens contraceptive use. These results can be applied in Family Planning Promotion.