cover
Contact Name
Wawan Eko Yulianto
Contact Email
wawan.eko@machung.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.klausa@machung.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra)
Published by Universitas Ma Chung
ISSN : 23014822     EISSN : 26203804     DOI : -
KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra) is a journal of linguistics, literature, and language teaching that was published for the first time in 2012 (in print) by the Faculty of Language and Arts, Universitas Ma Chung. The journal publishes research and review articles in the fields of linguistics, literature, and language teaching twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 123 Documents
GAYA BAHASA PADA PUISI SAJAK SEBATANG LISONG KARYA W.S. RENDRA DENGAN THE ROAD NOT TAKEN KARYA ROBERT FROST Diana, Ani; Pramesti, Dyah; Putri, Reni Anisa; Hasanah, Uswatun; Sudrajat, Bagus Aji
KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra) Vol 9 No 2 (2025): KLAUSA Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33479/klausa.v9i2.1342

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan gaya bahasa dalam dua puisi yang berasal dari latar budaya berbeda, yaitu Sajak Sebatang Lisong karya W.S. Rendra dan The Road Not Taken karya Robert Frost. Pemilihan kedua puisi tersebut didasarkan pada kesamaan peran stilistika dalam menyampaikan refleksi sosial, meskipun keduanya tumbuh dalam konteks sosial dan tradisi sastra yang berbeda. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif, penelitian ini mengidentifikasi serta membandingkan unsur gaya bahasa, seperti metafora, personifikasi, hiperbola, repetisi, metonimia, dan simbolisme, untuk melihat kontribusinya dalam membangun makna tematik masing-masing puisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rendra menggunakan gaya bahasa secara ekspresif untuk menegaskan kritik sosial terhadap kondisi moral dan politik di Indonesia. Sebaliknya, Frost memanfaatkan perangkat stilistika secara lebih halus untuk menggambarkan dilema pilihan hidup beserta implikasi filosofisnya. Perbandingan kedua karya tersebut menegaskan bahwa gaya bahasa tidak semata-mata berfungsi sebagai unsur estetika, melainkan juga sebagai sarana penting dalam penyampaian gagasan sosial dan refleksi tentang kehidupan manusia.
FLAMING AS VERBAL CYBERBULLYING ON TIKTOK COMMENTS TOWARDS RACHEL ZEGLER AS SNOW WHITE Simanjuntak, Juni Santa; Afandi, Fahri; Trifena, Atalya; Salim, Fahri; Putri, Dian Marisha
KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra) Vol 9 No 2 (2025): KLAUSA Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33479/klausa.v9i2.1344

Abstract

This study applied the Speech Act Theory by Austin and Searle to analyze verbal cyberbullying on TikTok comments toward Rachel Zegler, who took a role as Snow White and classified it into several categories and subcategories of illocutionary acts. This study utilised a descriptive qualitative approach to analyze linguistic forms of verbal cyberbullying in the data. The data collected through documentation and observation of several contents related to Rachel Zegler. The analysis result shows that the domination of expressive (insulting) acts occurred in the verbal cyberbullying data collected, with a total of 25 utterances (50%). Assertive (stating) acts became the second most dominant with a total of 7 utterances (14%), followed by assertive (asserting) with 4 utterances (8%), assertive (complaining) with 3 utterances (6%) and assertive (criticizing) with 2 utterances (4%). While the least dominant acts were assertive (predicting) and (comparing), directive (requesting/demanding) and commissive (committing), with each having a single utterance (2%). This study reveals that most people used expressive (insulting) acts in doing flaming as a form of verbal cyberbullying on TikTok. This research contributes to raising awareness among digital media users about the importance of the use of appropriate language in fostering constructive criticism and promoting healthier online interactions.
UNSUR APORIA DALAM NOVEL AIB DAN NASIB KARYA MINANTO TINJAUAN DEKONTRUKSI JAQUES DERRIDA Akhmad, Akhmad; Kholik, Kholik; Baiquni, M. Masykur
KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra) Vol 9 No 2 (2025): KLAUSA Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33479/klausa.v9i2.1345

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur aporia teori dekonstruksi Jacques Derrida yakni berupa makna-makna paradoks dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto. Jenis Penelitian ini adalah kualitatif. Data penelitian ini adalah narasi, pernyataan atau kutipan teks yang berisi kebenaran absolut, penangguhan kebenaran absolut, dan unsur aporia yang makna paradoks. Sumber data penelitian ini adalah novel Aib dan Nasib karya Minanto dengan tebal 263 halaman, diterbitkan pertama oleh Marjin Kiri, cetakan pertama 2020. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik baca dan teknik catat. Analisis data dengan mengidentifikasi kebenaran absolut dan penangguhan kebenaran absolut yang menimbulkan unsur aporia. Berdasarkan analisis yang dilakukan ditemukan kebenaran absolut dan penangguhan kebenaran absolut yang menimbulkan unsur aporia dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto. Kebanaran yang absolut “tokoh dia” digambarkan sebagai tokoh yang tokoh “dia” adalah sosok religius dan pekerja sosial yang taat, berbeda dengan tokoh yang bertentangan dengannya yakni “teks memberi kesan bahwa dia kelelahan, tertekan, atau dikasihani oleh masyarakat” yang digambarkan sebagai sosok pekerja sosial yang taat. Setelah penangguhan kebenaran absolut terdapat makna baru yakni tokoh “dia kelelahan, tertekan, atau dikasihani” yang sebelumnya digambarkan sebagai tokoh yang pekerja keras berubah menjadi tertekan karena dikasihani masyarakat. Unsur aporia yang terdapat dalam novel bermakna paradoks atau bertentangan antara sikap “dia” makna dalam teks bergeser dari pujian menjadi beban eksistensial; satu tindakan bisa ditafsirkan sakral sekaligus tragis.

Page 13 of 13 | Total Record : 123